I Have a Lover Ep 32 Part 1

Sebelumnya...


Jin Eon terpaku kala melihat Hae Gang menerima bunga dari Seok dengan wajah sumringah. Hae Gang mempersilahkan Seok masuk. Dengan langkah gontai, Jin Eon beranjak mendekati kamar Hae Gang. Ia bahkan menjatuhkan jaketnya ke lantai.


Sementara di dalam, Seok termenung melihat nama Seol Ri di dalam daftar peserta yang mengikuti tes klinis Pudoxin. Tak lama kemudian, Hae Gang datang dan memberikan catatan pribadi Kim Sun Yong.

“Jadwal harian dan kekhawatirannya selama tes klinis semuanya tertulis dengan singkat. Kalau kau membacanya, kau tahu bagaimana harus memproses tuntutan. Saat kita memulai tuntutan efek samping dari Pudoxin dan memunculkan pertanyaan tentang kematian Kim Sun Yong, kita bisa membuat ini menjadi tuntutan kejahatan.” Ucap Hae Gang.

Seok pun langsung membaca catatan Kim Sun Yong itu..

“Aku menerima kompensasi dari perusahaan…” tulis Kim Sun Yong di sana.


Seok langsung menatap Hae Gang. Hae Gang pun mengangguk, membenarkan kalau dirinya mengambil kasus itu. Hae Gang juga mengaku bahwa ia dan tim nya sudah menjebak Kim Sun Yong dengan tuduhan penggelapan dana dan perjudian.


“Kalau aku mengatasi beberapa lubang, aku bisa memenangkan kasus dengan mudah. Setelah aku menerima sebuah kasus, itulah yang aku pikirkan. Di masa lalu, melebihi fakta yang ada dari sebuah kasus, aku berpikir bahwa menang dengan segala cara demi klienku adalah tugas dari seorang pengacara. Menang atau menjadi pemenang adalah kode etik pengacara, melebihi nurani dan kebenaran. Tanpa mengetahui bahwa dia adalah kekasih adikku, aku dengan kejam menekannya dan menginjak-nginjakny. Aku melakukan itu pada Kim Sun Yong. Dari Presdir Min Tae Seok aku mendengar kalau dia bunuh diri, dan mengatakan, " Pembersihan sudah selesai." Aku melakukan itu, Seok.” Ucap Hae Gang dengan mata berkaca2.

“Dalam masa 100 tahun perkembangan hidup, kau bisa melakukan kebaikan sekarang, dimulai dari sekarang, 60 tahun kemudian, kalau kau baik, maka tidak apa-apa.” Jawab Seok.

Hae Gang pun mengangguk, masih dengan matanya yang berkaca…


Sementara itu, diluar. Dengan tangan bergetar, Jin Eon berusaha menyentuh bel. Namun tiba2 saja Jin Eon limbung. Wajahnya pucat dan basah oleh keringat.


Di dalam, Seok dan Hae Gang masih membahas soal Kim Sun Yong.

“Apa kau melihat catatan terakhirnya, 'Stasiun Imjingang, jam 7 malam?” tanya Seok.

“Dengan catatan itu, stasiun Imjigang bukan tempat untuk bunuh diri tapi tempat untuk perjanjian. Dia bahkan tidak bermimpi bahwa ini ada, jadi sembunyikan. Kalau kau mengungkapkan ini di persidangan, Presdir Min Tae Seok tidak akan bisa lolos.” Jawab Hae Gang.

“Setelah mendapatkan ijin dari orang tua Kim Sun Yong, mari kita periksa catatan kematiannya.” Suruh Seok.


“Pengacara Baek, kau harus menang.” Ucap Hae Gang.

“Kenapa kau, itu seharusnya kita.” jawab Seok.

“Baik, mari kita menangkan ini, Seok.” Ucap Hae Gang.

“Yeah! Ayo!” teriak Seok sambil membuat kepalan tangan.

“Ayo, ayo, ayo!” teriak Hae Gang yang juga membuat kepalan tangan.


Diluar, Jin Eon berkata dengan pelan.

“Keluarlah. Cepatlah keluar. Tidak, usir saja dia keluar. Beraninya di tempat seperti ini. Dikamar, ini hotel. Cepat keluarkan dia. Jadi, keluarkanlah dia. Apa yang kau lakukan di dalam? Apa yang kalian berdua lakukan? Apa yang kau lakukan sekarang?”


Jin Eon lantas memukul2kan dahinya ke pintu. Seok terkejut mendengar suara di pintu, sementara Hae Gang terhenyak. Seok ingin tahu suara apa itu. Hae Gang pun berkata pelan, bahwa suara itu berasal dari Jin Eon. Seok bingung.

“Choi Jin Eon membenturkan dahinya.” Ucap Hae Gang lagi.


Di luar, Jin Eon terus membenturkan dahinya. Hae Gang yang mendengarnya di dalam pun tampak terluka. Seok lantas bertanya, apa yang Hae Gang inginkan?

“Kalau aku berpura-pura tidak tahu dan membuka pintu, maukah kau melihat wajahnya? Kalau dia terus melakukannya, kepalanya akan pecah.” Ucap Seok.


Hae Gang terdiam sejenak. Matanya terlihat jelas berkaca2. Tak lama kemudian, Hae Gang menyimpan berkas2 Kim Sun Yong di laci, kemudian mengambil wine dan dua gelas. Seok diam saja melihat Hae Gang menuangkan wine itu ke dalam gelas, namun wajahnya tampak iba. Sementara Jin Eon masih terus membenturkan dahinya ke pintu.


“Maafkan aku Seok-ah.Tapi dia tipe orang yang akan melakukan itu sepanjang malam.” Ucap Hae Gang.

Seok pun meminum wine nya, kemudian beranjak membukakan pintu.


“Apa-apaan ini? Do Hae Gang bilang dia sudah selesai denganmu.” Ucap Seok.

“Apakah dia putus dariku atau apalah itu, lebih baik kau pergi dari sini.” Jawab Jin Eon ketus.
 
Namun Seok diam saja dan menatap Jin Eon dengan iba.

“Apa yang kau lakukan? Apa kau tidak mendengar aku menyuruhmu pergi?” tanya Jin Eon.

“Menyedihkan sekali! Apa kau benar-benar tidak tahu siapa tamu yang tidak diundang? Kalau kau bergerak satu langkah saja, dia akan memanggil polisi lagi. Apa kau tahu? Kalau terjadi kasus yang sama kedua kalinya, kau tidak bisa bebas hanya dengan menulis perjanjian.” Jawab Seok.

“Apa-apaan! Biarkan saja aku menjadi narapidana. Panggilah polisi, lebih baik aku masuk penjara.” Ketus Jin Eon.


Jin Eon kemudian menerobos masuk ke dalam. Ia terhenyak melihat botol wine dan dua gelas di atas meja, serta jaket Seok dan Hae Gang yang tergeletak di kursi. Hae Gang sendiri duduk di meja rias. Jin Eon menghampiri Hae Gang, ia terdiam melihat Hae Gang yang sedang merias diri.


Jin Eon kemudian mendekati Hae Gang. Hae Gang yang sedang merias dirinya tertegun melihat Jin Eon dari cermin.

“Panggil polisi, lebih baik bagiku pergi ke penjara.” Ucap Jin Eon.


Hae Gang diam saja. Jin Eon yang sudah tak bisa lagi menahan dirinya pun melepaskan ikatan rambut Hae Gang. Tak hanya itu, Jin Eon juga menghapus paksa lipstick di bibir Hae Gang.

“Hapus ini, jangan dipakai! Kenapa kau memakai riasan, dimana kau memakainya? Untuk siapa kau memakainya? Jangan pakai riasan, jangan pakai apapun! Aku bisa gila, aku benar-benar bisa gila karenamu! Kau benar-benar ingin melihat aku menjadi gila?” ucap Jin Eon.


“Kenapa kau mempermalukan dirimu sendiri seperti ini? Berhentilah ikut campur dan pergilah!” ketus Hae Gang.

“Ikut campur?” tanya Jin Eon heran.


“Tidak bisakah kau melihat siapa dihadapanmu? Apa kau tidak melihat aku sedang bersama siapa?” jawab Hae Gang.

“Jadi kau tidak melakukannya dengan sengaja supaya aku melihatnya?” tanya Jin Eon.

“Apa kau sudah kehilangan akalmu? Apa kau sudah gila?” ucap Hae Gang.

“Membawa orang asing ke kamar hotel dan minum anggur? Aku mungkin sudah gila sekarang, tapi kau juga! Bukan aku yang balas dendam, tapi kau! Kau bilang tidak ingat, kau tidak kenal pria itu. Sejak kapan Do Hae Gang minum alkohol bersama pria yang tidak dikenalnya?” jawab Jin Eon.

“Dia bukan orang asing! Dia pria yang tinggal bersamaku selama 4 tahun. Saat aku bersamanya aku merasa damai, jelas sekali dia bukan orang asing. Bukan karena pria itu, tapi aku yang terasa asing, itu aku!” ucap Hae Gang.

Jin Eon terkejut, Apa?

“Aku menerima lamaran. Itu adalah lamarannya yang ke-999. Apakah itu masuk akal? Dia bilang dia melamarku setiap hari. Dia bilang akan melakukannya sampai 1,000 kali. Setelah ini, setelah 1000 kali, kalau aku masih tidak menerimanya, dia akan menyerah. Aku bilang padanya untuk memulai dari awal. Aku bilang mulai dari sekarang, kami akan mulai dari awal.” Jawab Hae Gang.

Jin Eon syok, Apa?

“Pengacara Baek, kemarilah daripada kau di sana.” Pinta Hae Gang.

“Aku hanya menunggu kesempatan yang tepat untuk bergabung dengan kalian.” Jawab Seok sambil beranjak mendekati mereka.


Seok lantas menggenggam erat tangan Hae Gang.

“Sebelum Choi Jin Eon datang, kami hidup seperti ini, kami berpegangan tangan bersama, dan hati kami menyatu. 24 jam sehari, kami hidup seperti itu. Bagiku, ini bukan awal yang baru, tapi memulai apa yang telah kami miliki. Hidup yang kau curi dariku, aku mendapatkannya kembali.” Ucap Seok.

Jin Eon emosi. Ia pun melepaskan pegangan tangan itu dengan paksa. Seok menahan tubuh Jin Eon. Hae Gang tampak ingin menangis. Seok pun menyuruh Hae Gang pergi. Hae Gang pun pergi. Setelah Hae Gang pergi, Jin Eon terduduk lemas. Seok pun mengajak Jin Eon bicara.


Diluar, tangis Hae Gang pun pecah. Hae Gang lantas memungut jaket Jin Eon di lantai. Ia menggenggam kuat jaket itu dan menempelkan jaket itu di wajahnya. Beberapa menit kemudian, Hae Gang tersadar. Ia mencoba menguatkan hatinya, sebelum akhirnya beranjak pergi.


Jin Eon dan Seok duduk di bar.

“Daripada di sini, aku seharusnya pergi ke ring tinju. Kita seharusnya bertarung. Tidak masalah siapa yang menang, kita seharusnya bertarung sampai kelelahan hari ini. Bagus sekali kalau kau melepaskannya. Kalau kau benar-benar perduli padanya, supaya dia bisa terbebas dari situasi ini, supaya dia bisa terbebas dari rasa sakit dimasa lalunya. Akan bagus sekali, kalau kau bisa melepaskannya. Ikuti keputusannya. Kalau dia meninggalkanmu, kau akan berhenti. Kau yang mengatakan itu padaku. Ini bukan keputusan kita, tapi keputusannya. Aku tahu ini berat untuk diterima, karena aku juga merasakannya. Tapi kau harus menerimanya. Kau menghormati kata-kata itu, kata-kata yang kau ucapkan padaku.” Ucap Seok.

Jin Eon semakin emosi, tapi ia diam saja dan memilih melampiaskan emosinya dengan minum2.


“Mungkin akan berbeda kalau kau sendirian. Tapi bagimu, kau memiliki farmasi Cheon Nyeon, ayahmu dan kakak iparmu. Pikirkanlah apa yang telah mereka lakukan pada dua bersaudara itu. Bagaimana dia bisa kembali pada orang yang berusaha membunuhnya dan adiknya? Dengan orang itu, bagaimana dia bisa menjadi keluarga lagi? Apa kau benar-benar berpikir itu bisa? Sekali saja, buanglah keinginanmu. Dan keegoisanmu, dan pikirkanlah kebahagiaan wanita itu? Tidakkah kau pikir kau menjadi berani? Betapa sombongnya ini?” ucap Seok lagi.

“Aku merasa Hae Gang bersikap aneh. Dia bukan orang yang tergesa-gesa, tapi sekarang dia terburu-buru. Dia tidak pernah bertingkah berlebihan. Dia bersikap berlebihan setiap kali dia melihatku. Dia menantang. Berteriak, mendorong, dan menolak, emosinya tidak seperti itu. Aku hanya bisa merasakan kebulatan tekadnya. Apakah itu kebencian ataukah cinta, aku belum tahu. Aku tidak tahu apakah dia benar-benar ingin balas dendam atau dia berpura-pura balas dendam untuk menjauhkan aku. Aku merasa Hae Gang berada di tepi sesuatu. Aku harus tahu kenapa Hae Gang seperti ini. Kalau aku terus mengawasinya, aku yakin aku akan melihat pikiran Hae Gang yang sebenarnya. Setelah aku menemukan jawabannya dan aku memahaminya aku akan menyingkir tanpa sepatah katapun. Kalau dia benar-benar mengabaikan aku, Kalau dia benar-benar lebih memilihmu daripada aku, aku akan melepaskan Hae Gang saat itu. Akan tetapi, sampai saat itu, aku akan berusaha dengan semua kekuatan yang aku miliki. Aku akan berusaha sampai aku menjadi gila. Aku tidak mampu melakukan apapun untuknya. Tidak ada.” Jawab Jin Eon.


Seok pun kembali menatap Jin Eon dengan iba.


Nyonya Hong teringat perkataan suaminya tentang suaminya yang mencuri Ssanghwasan milik Ji Hoon. Tak lama kemudian, Hae Gang datang. Begitu menginjakkan kaki di kediaman Presdir Choi itu, Hae Gang langsung menghadap Nyonya Hong dan membungkukkan kepala memberi hormat. Lalu tanpa berkata apapun, ia pergi menuju ruangan Presdir Choi. Tapi baru sampai di depan pintu, Nyonya Hong mengajaknya bicara.

“Apa kau sudah lupa? Eun Sol, kau melakukan hal buruk pada kami dan anakku. Yang kau lakukan lebih mengerikan. Apa kau pernah sekalipun meminta maaf pada anakku? Bahwa kau menyesal, kau salah, bahwa itu adalah salahmu, apa kau sudah meminta maaf? Tidak, kau tidak melakukannya, lalu kenapa? Kau tidak pernah memohon ampunan dari anakku, lalu kenapa? Kenapa kau tidak memikirkan luka yang kau sebabkan, tapi hanya memikirkan luka yang kau terima? Kau seharusnya menebus dosa-dosamu dulu. Setelah kembali dari kematian, bukankah seseorang harus bertobat dan bukan balas dendam? Apa? Pewaris farmasi Cheon Nyeon? Tidak bisa melepaskan orang sepertimu, cinta yang tidak berubah terhadap iblis sepertimu. Kenapa kau tidak berubah? Tidak bisakah kau berubah? Kenapa?” ucap Nyonya Hong.


“Apa sebenarnya yang tidak kau sukai dariku? Apakah masa laluku, masa sekarang atau masa depanku? Kau harus memperjelas dirimu sendiri.Baru aku bisa memberikan respon yang kau inginkan.” Jawab Hae Gang.


“Menghilanglah, aku ingin kau pergi dari kehidupan anakku.” Ucap Nyonya Hong.

“Akan kulakukan.” jawab Hae Gang.
 
Nyonya Hong terkejut,  Apa?

“Aku akan pergi dari kehidupan anakmu. Aku punya pria lain, ibu.” Jawab Hae Gang.

Nyonya Hong semakin terkejut, Apa?


“Pria lain selain anakmu, aku menyukai pria lain. Anakmu tidak ada dalam pikiranku, jadi jangan khawatir. Anakmu yang masih menempel seperti lintah. Sebelum datang kemari, aku telah menolaknya dengan kejam. Anakmu yang seperti lintah itu.” ucap Hae Gang.

“Ap-ap-apa? Lintah?” Nyonya Hong terkejut.

“Ya, itu benar. Berlutut, membuat alasan, memohon. Aku bahkan melaporkannya ke polisi, tapi dia tetap datang mengangguku. Bahkan di depan pria yang aku kencani dia menyentuhku seperti aku ini masih isterinya. Anakmu benar-benar terobsesi denganku.” Jawab Hae Gang.


“Ap--ap--apa? Kau bahkan melaporkannya ke polisi?” tanya Nyonya Hong kaget.

“Itu tidak ada gunanya. Itu seperti berbicara dengan dinding, dia membuatku gila. Mantan suamiku yang aku ceraikan datang setiap hari dan melakukan itu,. Pria macam apa dia? Aku ingin berjalan baik dengan pria itu, ibu. Aku akan membuat dinding baja, tapi nasehatilah juga anakmu. Anakmu menganggu.” Jawab Hae Gang.

“Tapi kau berkencan dengan siapa? Siapa dia? Apa pekerjaannya?” tanya Nyonya Hong.

“Kau juga mengenalnya, dia pengacara Baek Seok.” Jawab Hae Gang.

“Ah, Anaknya direktur Baek?” tanya Nyonya Hong. Hae Gang mengiyakan.

“Apa dia menarik di matamu?  Apa dia cukup baik untukmu?” tanya Nyonya Hong.

“Standarku tidak terlalu tinggi. Aku juga hidup dengan anakmu.” Jawab Hae Gang.


Nyonya Hong kaget, Apa??


Jin Eon yang duduk sendirian di bar, bertanya2 apakah yang dialaminya adalah mimpi? Tak lama kemudian, Jin Eon berkata kalau ia harus bangun dari mimpinya itu. Jin Eon lantas menjatuhkan wajahnya ke meja.

“Ini adalah kebohongan. Kau berbohong padaku, Hae Gang-ah. Do Hae Gang-ah.” Ucap Jin Eon.


Presdir Choi ingin tau alasan Hae Gang menginginkan posisi Jin Eon. Hae Gang berkata, itu sebagai ganti dari perceraiannya.

“Kalau begitu, kau memilih posisi karena perasaan pribadimu, benarkan?” tanya Presdir Choi.

“Tidak, kalau aku harus mengambil alih farmasi Cheon Nyeon, aku harus membaca masa depan. Kekuatan pertumbuhan di masa depan ditentukan dari penelitan dan pengembangan obat di divisi R&B.” jawab Hae Gang.

“Ini bukan untuk balas dendam?” tanya Presdir Choi.

“Aku harap dia menganggapnya sebagai balas dendam.” Jawab Hae Gang.

“Kenapa?” tanya Presdir Choi.

“Karena aku terluka karena dia.” jawab Hae Gang.


“Kalian berdua menikahlah, lalu aku akan mengirim dia ke bagian penelitan.” Ucap Presdir Choi.

“Kapasitasku terlalu kecil untuk menerima orang yang mengkhianati aku. Itu sudah hancur, bagian yang hancur mungkin akan menjadi senjata untuknya. Kami akan berjuang di pertempuran yang sama.” Jawab Hae Gang.

“Kalau begitu, biarkan dia memelukmu kali ini. Kalian harus kembali bersama.Tubuh dan pikiran bersama-sama, jagalah farmasi Cheon Nyeon.” Ucap Presdir Choi.

“Selama 4 tahun, cintaku padanya telah lenyap.” Jawab Hae Gang.

“Cintanya berlebihan, kau terima saja cintanya.” Suruh Presdir Choi.

“Tidak bagiku. Aku penuh dengan kebencian, yang terbaik adalah berpisah. Aku ingin aku diterima karena kemampuanku. Kalau aku dipilih karena aku adalah isterinya maka aku akan menolaknya.” Jawab Hae Gang.

“Apa?” tanya Presdir Choi.

“Aku akan mempertimbangkan kembali untuk kembali ke perusahaan.” Jawab Hae Gang.

“Hae Gang-ah.” Bujuk Presdir Choi.

“Kalau kau memerlukan aku, tolong singkirkan dia.” pinta Hae Gang.

“Ibu mertuamu menderita Alzheimer.” Ucap Presdir Choi.


Nyonya Hong yang menguping pembicaraan itu pun kaget. Ia tidak menyangka suaminya sudah mengetahui penyakitnya.


“Dia minum obat sekarang, jadi dia baik-baik saja. Tapi ke depannya akan jadi masalah. Semakin hari dia akan bertambah parah.” Ucap Presdir Choi.

“Apakah orang itu juga tahu?” tanya Hae Gang cemas.

“Dia tahu, dia berlatih dengan ibunya setiap hari meskipun dia sibuk. Dan dia berbincang-bincang dengan ibunya, tidak seperti dulu. Dia dan aku sangat terkejut. Aku akan menyerahkan perusahaan dan menghabiskan waktu bersama ibu mertuamu. Itu sebabnya aku memerlukanmu. Berada di sampingnya, berada di sampingku, apa kau tidak bisa? Aku mohon padamu.” Jawab Presdir Choi.

“Maaf, tapi itu adalah pilihanmu. Aku tidak pernah berpikir untuk menjadi isterinya lagi.” Ucap Hae Gang.


Nyonya Hong kembali duduk di ruang tengah. Ia baru menyadari kenapa Presdir Choi mengintilinya sepanjang hari. Kenapa Jin Eon setiap pagi mengajaknya bicara. Tak lama kemudian, Tae Seok dan Jin Ri datang.

“Oh, kau sudah pulang? Kalian datang bersama, senang sekali melihatnya.” Ucap Nyonya Hong.


“Bersama apanya? Segera setelah melihatku di pintu depan dia berteriak, "ahh, seperti aku sakit kolera dan cacar saja. Kalau kau tetap seperti itu, aku akan meminta pria lain untuk membawaku bersamanya.” Cerocos Jin Ri asal.

“Itu Santa. Santa Claus.” Jawab Tae Seok menatap istrinya jahil.

“Apa?” tanya Jin Ri sambil menatap tajam suaminya.

“Kalau seseorang mencuri isteriku, balas dendam terbaik adalah... membiarkan dia menahan isteriku.Bawa pria itu kesini, jadi aku bisa memberinya kompensasi atas penderitaannya dan bonus setahun.” Jawab Tae Seok.

“Kenapa aku repot-repot bicara?” ucap Jin Ri kesal.


Jin Ri lantas mengalihkan pandangannya pada Nyonya Hong dan bertanya alasan ayah memanggil mereka. Nyonya Hong terkejut, dia memanggilmu?

“Ya, dia mau makan malam bersama kalau kami tidak sibuk.” Jawab Tae Seok.

“Ada apa?” tanya Jin Ri.

“Hae Gang ada di ruang belajar.” jawab Nyonya Hong.


“Benarkah? Kalau begitu ayah memanggil kami untuk makan malam bersama Hae Gang. Ayah seharusnya memeriksa pikiran buruknya, kenapa kami?” ucap Jin Ri.

“Bagaimana dengan adik ipar?” tanya Tae Seok cemas.

“Aku tidak tahu, entah dia dipanggil atau diikut sertakan, siapa yang tahu?” jawab Nyonya Hong kesal.


Hae Gang minta diri. Presdir Choi menyuruh Hae Gang makan dulu sebelum pergi. Hae Gang menolaknya. Presdir Choi pun berkata kalau itu adalah makan malam terakhir Hae Gang bersama dengannya. Hae Gang terkejut.

“Bukan Jin Eon, aku akan membuangmu, kau tidak perlu kembali ke kantor. Bagiku dan ibu mertuamu yang menderita alzheimer, sepertinya ini adalah makan malam terakhir bersamamu. Kita akan memberitahu keluarga supaya tidak ada kesalahpahaman. Bahwa takdir kami bersamamu benar-benar akan berakhir hari ini. Mari kita panggil Jin Eon, juga. Mari kita perjelas juga untuknya.” Ucap Presdir Choi.

Hae Gang terkejut…


Hae Gang sedang makan malam bersama keluarga Jin Eon (minus Jin Eon).

“Aku yakin alasan kita berkumpul bukan hanya untuk sekedar makan, ada apa? Apa yang ingin kau katakan sampai gagap seperti itu.Kami menunggu lama leher itu akan patah, jadi nasinya akan masuk ke hidung ke arah yang berlawanan.” Ucap Jin Ri.


“Berhentilah membuat pertunjukan dan katakan apa yang kalian berdua diskusikan.” Pinta Nyonya Hong.

Nyonya Hong lantas menatap sinis Hae Gang.

“Katakanlah pada kami, janji apa yang kau terima? Apa kau setuju kembali ke perusahaan? Posisi apa? Kau mendapatkan posisi apa?” tanya Nyonya Hong.

Hae Gang diam saja dan menatap sedih Nyonya Hong.


Jin Eon pulang dalam keadaan setengah mabuk. Langkahnya terhenti saat mendengar Jin Ri berkata kalau Hae Gang menginginkan posisi Jin Eon. Hae Gang diam saja dan menatap Tae Seok. Wajah Hae Gang seketika berubah tegang saat menyadari ada Jin Eon di hadapannya. Hae Gang lantas memberi kode pada Tae Seok tentangg kehadiran Jin Eon.

“Aku memutuskan untuk tetap membiarkan Presdir Choi berada di bagian R&B, seperti yang kau inginkan.” Ucap Tae Seok.

“Begitukah?” tanya Hae Gang.

“Kita bisa mendiskusikan detailnya nanti.” Jawab Tae Seok.

“Tentu.” Ucap Hae Gang.


“Hae Gang menemukan pria lain selain Jin Eon, sayang. Dia memintaku untuk menasehati Jin Eon karena dia ingin berjalan baik dengan pria itu. Untuk itu, sadarlah dan jangan salah menilai sayang.” Ucap Nyonya Hong pada Presdir Choi.

“Apakah itu benar?” tanya Presdir Choi.

Hae Gang terdiam sejenak, sebelum akhirnya mengiyakan kata2 Nyonya Hong.


“Selamat.” Ucap Presdir Choi.

“Apa? Selamat? Apa kau bilang? Selamat? Apa kau bersungguh-sungguh?” tanya Nyonya Hong.

“Bukankah kau menginginkan dia dan Jin Eon kembali bersama?” tanya Jin Ri.

“Dia menolaknya, dia tidak menginginkannya. Dia sudah menyerah dengan Jin Eon.” Jawab Presdir Choi.


“Jadi dia bukan menantu kita dan akan menjadi menantu orang lain. Aku rasa aku tidak perlu mendengar bahwa kau akan menyerahkan Farmasi Cheon Nyeon kepadanya.” Ucap Nyonya Hong.

“Akan kutanya untuk yang terakhir kalinya, perjelaslah keinginanmu sebelumnya pada keluarga. Membiarkan Jin Eon di posisi R&B. Apakah kau menerima posisinya?” tanya Presdir Choi.

Hae Gang terkejut, begitupula dengan Tae Seok dan Jin Ri.


“Tidak bisa. Jangan Hae Gang, jangan bawa dia masuk ke perusahaan ayah. Aku tidak mengijinkannya ayah, berikan posisimu kepadaku. Aku akan mengambil alih, aku akan menggunakan keringatku, tubuhku, darahku, aku akan melakukannya ayah.” ucap Jin Eon sambil menatap tajam Hae Gang.

“Jawab aku, apa kau akan masuk kembali ke perusahaan sebagai wakil Presdir?” tanya Presdir Choi.

“Ayah!” bujuk Jin Eon.


Aku akan masuk kembali ke perusahaan.” Jawab Hae Gang dengan tatapan penuh arti.

Semua terkejut….

“Aku mengerti, mari kita siapkan kalau begitu.” jawab Presdir Choi.

Hae Gang mengangguk.

“Berjuanglah untuk perusahaan!” suruh Presdir Choi pada Jin Eon.


“Tolong temui aku sebelum kau pergi, wakil Presdir Do Hae Gang. Ada yang ingin kutanyakan padamu, aku tidak bercanda, jadi setelah kau makan, sebelum kau pergi, tolong datang ke kamarku.” Ucap Jin Eon syok.

Jin Eon lantas beranjak pergi.


Setibanya di kamar, Jin Eon melemparkan jaketnya ke kasur dengan emosi.

“Apakah ini masuk akal? Ada aku dan Jin Eon.Bagaimana bisa dia memberikan jabatan itu pada seseorang yang tidak ada hubungan darah dan musuh abadi.Sekarang, Do Hae Gang adalah pimpinanku dan Jin Eon.” Ucap Jin Ri kesal.

“Aku akan menghancurkannya.” Jawab Nyonya Hong.

“Ayah menaruh pasak sekeras ini, apa yang bisa kita lakukan?” ucap Jin Ri.


“Aku tidak tahu, aku juga tidak tahu. Kepalaku seperti mangkuk anjing. Aku tidak bisa memikirkan yang lain selain menghancurkannya. Darahku mengering, darah anakku mengering, aku harus mengeringkan darahnya juga.” jawab Nyonya Hong.

“Bergabunglah bersamaku ibu. Seperti drakula, kita gigit dia dan biarkan darahnya mengalir.Mari kita tunjukkan padanya rasanya darah.” Ucap Jin Ri.

Nyonya Hong pun setuju…


“Bagaimana aku bisa menahannya untuk tidak melaporkanku pada jaksa dengan dokumen yang diambilnya dari komputerku? Secara mengejutkan, adik ipar sudah berubah. Siapa yang menyangka dia akan mencurinya. Pengacara Do dan aku akan sakit kepala. Adik ipar akan menghalangi semua yang akan kita lakukan.” ucap Tae Seok pada Hae Gang.

“Kalau begitu, kita harus mengeluarkan rintangan itu sebelum kita jatuh dan terluka.” Jawab Hae Gang.

“Tapi, apa kau akan pergi begitu saja? Dia bilang ingin bertanya padamu, jadi kau harus datang?” tanya Tae Seok.

“Tidak perlu mengantarku.” Jawab Hae Gang.


Hae Gang membuka pintu keluar, namun langkahnya terhenti di depan pintu. Ia teringat kata2 Presdir Choi tadi tentang Nyonya Hong yang terkena Alzheimer. Tak hanya itu, Hae Gang juga teringat kata2 Jin Eon yang tidak setuju ia masuk perusahaan.

Aku akan mengambil alih, aku akan menggunakan tubuhku, keringatku, darahku, aku akan melakukannya.” Ucap Jin Eon.

Hae Gang pun tidak jadi pergi. Ia ingin menemui Jin Eon. Namun langkahnya terhenti saat ia menyadari Jin Eon telah berdiri di hadapannya.

“Kau bilang ingin bertanya padaku, langsung saja.” Ucap Hae Gang.

“Naiklah, itu tidak bisa dikatakan di sini.” Jawab Jin Eon.


Namun langkah Hae Gang terhenti tepat di samping Jin Eon. Hae Gang terdiam sejenak, sebelum akhirnya ia menyuruh Jin Eon mengambilkan obat sakit kepala untuknya. Jin Eon langsung pergi mengambil obat dan air untuk Hae Gang. Setelah Jin Eon pergi, Hae Gang tampak menahan tangis.


Hae Gang melangkah gontai ke kamar Jin Eon. Ia mengedarkan pandangannya menatap sekeliling kamar Jin Eon dengan tatapan sedih. Tak lama kemudian, Hae Gang masuk ke ruang kerja Jin Eon. Hae Gang tertegun saat melihat bola kaca di meja Jin Eon. Bola kaca yang dulu pernah membuatnya tertegun saat ia dan Jin Eon bertemu kembali setelah 4 tahun, namun dirinya dalam keadaan amnesia.


Tangis Hae Gang baru pecah saat melihat foto2 dirinya di kamera Jin Eon.


Tanpa disadari Hae Gang, Jin Eon sudah berdiri di belakangnya. Jin Eon  pun tersenyum melihat apa yang dilakukan Hae Gang.


“Hae Gang-ah.” Panggil Jin Eon, membuat Hae Gang terkejut. Jin Eon lantas mendekati Hae Gang. Hae Gang membeku karena kepergok Jin Eon.

“Maukah kau melihatku? Angkat kepalamu.” Pinta Jin Eon.


Perlahan2, Hae Gang pun berbalik dan menatap Jin Eon. Tangis Jin Eon pecah begitu melihat tangisan Hae Gang. Perlahan2, Jin Eon pun mengusap air mata Hae Gang. Untuk sesaat, Hae Gang menikmati sentuhan tangan Jin Eon di pipinya. Beberapa menit kemudian, ia melangkah mundur.


“Aku berbau alkohol, benarkan? Aku tahu kau tidak menyukainya. Aku tahu. Daerah terbatas. Aku tahu, aku tidak akan mendekat, ambillah obat pereda sakitnya.” Ucap Jin Eon.

“Itu adalah kebohongan.” Jawab Hae Gang, membuat Jin Eon terhenyak.


“Foto itu. Aku di foto itu. Orang-orang di foto selalu berbohong. Kebahagiaan, bersenang-senang, bergembira. Kalau kau hanya melihat foto itu, aku yang berdiri di sini, kelihatan memalukan dan gila. Kita berbahagia. Kita sangat berbahagia, dan tidak ada yang bisa menggantikannya di dunia ini. Kita pernah memiliki masa bahagia. Aku bersyukur. Kalau kau tidak ada di sana, aku tidak akan memiliki kebahagiaan di dalam hidupku. Tapi penderitaanku hilang dari kameramu. Kau tahu apa perbedaan antara kau dan aku? Apa kau tahu alasan kita tidak bisa bersama lagi? Kau hanya mengingat aku yang ada di dalam kamera ini. Tapi, aku ingat aku yang tidak ada di dalam kameramu. Kau tidak tahu kan? Saat kau tidur, aku membayangkan menamparmu dan mencekik lehermu berulang kali. Aku memberimu air minum yang aku ambil dari toilet dan menaruh lemon di dalamnya. Aku melakukan itu, aku melakukannya saat aku hidup bersamamu. Aku tidak bisa kembali. Ini seperti jam mati. Itu sudah berlalu. Itu adalah jam Choi Jin Eon dan Do Hae Gang yang berhenti. Kalau aku menatap jam setiap hari seperti dirimu, itu tepat dua kali sehari. Tapi, itulah kita. Aku akan menghapus fotonya.” Ucap Hae Gang.


Hae Gang pun mulai menghapus fotonya di kamera Jin Eon.

“Siapa kau yang sudah maju ke depan untuk menghentikan waktu? Siapa kau yang berjalan menuju ke farmasi Cheon Nyeon lagi tanpa rasa takut? Jangan masuk ke perusahaan, bahkan jangan berada di dekatnya. Maka aku tidak akan mengganggumu.” Jawab Jin Eon.

“Aku akan memutuskan hidupku sendiri.” Ucap Hae Gang.


“Hidup itu, hidupmu, bahkan beberapa hari yang lalu, kau akan menyesalinya. Kau takut.” Jawab Jin Eon.

“Aku tidak ingat. Tidak, itu saat aku tidak bisa mengingat diriku. Karena aku tidak mengenal diriku sendiri, aku tidak yakin siapa diriku.” ucap Hae Gang.

“Jadi kau mau jadi anjing pemburu lagi di farmasi Cheon Nyeon?” tanya Jin Eon.

“Tidak, aku akan menjadi pemiliknya.” Jawab Hae Gang.

“Kau tidak akan bisa.” ucap Jin Eon.


“Kenapa tidak?” tanya Hae Gang.

“Karena aku yang akan jadi pemiliknya.” Jawab Jin Eon.

“Kau akan menang dariku?” tanya Hae Gang sinis.

“Ya, aku akan mengalahkanmu, Hae Gang-ah.” Jawab Jin Eon.

“Baiklah, mari kita lihat.” Ucap Hae Gang.

“Serahkan jurnal dan videonya.” Pinta Jin Eon.

Hae Gang kaget, apa?

“Yang kau ambil dari tasnya tanpa sepengetahuannya. Jurnal dan video Kim Sun Yong.” Ucap Jin Eon.

“Kau mendengarnya dari siapa?” tanya Hae Gang.

“Dari Profesor Min Gyu Seok.” Jawab Jin Eon.

“Siapa?” tanya Hae Gang kaget.

“Berbahaya bagimu kalau kau menyimpannya. Berikan padaku, aku akan menyimpannya, aku mohon padamu.” Pinta Jin Eon.

“Aku memberikannya pada Presdir Min Tae Seok.” Jawab Hae Gang.

Jin Eon kaget, Apa?

“Dengan syarat dia melepaskanmu.” Jawab Hae Gang.

Jin Eon terhenyak. Hae Gang lalu beranjak pergi.


Seok yang baru kembali ke rumah terkejut melihat Seol Ri yang sedang sibuk memasak di dapur. Seok pun teringat kata2 Hae Gang tentang Seol Ri yang mengikuti tes klinis Pudoxin.


“Oppa!” teriak Seol Ri, membuyarkan lamunan Seok.

“Ada apa? Apa yang barusan kau pikirkan? Kau memikirkan wanita itu lagi kan? Kalau kau terus begitu, aku akan menenggelamkanmu.” Ucap Seol Ri.

“Dan kau?” tanya Seok.

“Kau mau aku mengatur makan malam untukmu? Kalau kau mau, aku akan sangat berterima kasih. Taruh tasmu dan cuci tanganmu, aku akan mengaturnya dengan cepat. Menu malam ini adalah sup tahu.” jawab Seol Ri.


Tapi bukannya makan, Seok melamun lagi di depan makanannya.

“Kenapa kau tidak makan? Apakah itu hobi barumu? Melamun setiap saat.” Ucap Seol Ri.

“Aku akan menikmati makanannya.” Jawab Seok.

“Kau berbau seperti alcohol. Bukan bir, bukan soju. Anggur? Liquor?” tanya Seol Ri.

“Liquor?” jawab Seok.


“Dengan siapa?” tanya Seol Ri.

“Choi Jin Eon.” Jawab Seok.

Seol Ri terdiam mendengar nama Jin Eon.

“Setelah kau selesai makan, taruh saja di bak cuci dan aku akan mencucinya setelah memeriksa PR anak-anak.” Ucap Seol Ri kemudian.


Seol Ri lantas beranjak pergi. Setelah Seol Ri pergi, Seok kembali melihat catatan peserta yang ikut tes klinis Pudoxin. Di sana juga tertulis, peserta yang mengikuti tes klinis Pudoxin menerima pembayaran sebesar 990 ribu Won.


Seol Ri kembali ke kamarnya. Ia menyalakan laptopnya, namun ia tidak bisa konsentrasi karena Hae Gang. Ya, ia teringat ucapan Hae Gang waktu itu.

“Apa saja yang kau lakukan selama 4 tahun ini? Apa yang kau lakukan setelah kau mencurinya dariku? Kenapa pria itu masih saja datang kepadaku dan berlutut memohon cintaku? Kenapa dia menggangguku? Kenapa dia masih menyiksaku? Ambillah dia, aku akan membuangnya untukmu.Aku menyuruhmu untuk mengambilnya. Singkirkan dia dari pandanganku, kumohon.” Ucap Hae Gang.

Seol Ri menghela napas teringat kata2 Hae Gang. Ia lantas melirik ponselnya. Tak lama kemudian ia mengambil ponselnya dan berniat menghubungi Jin Eon, namun ia kembali teringat kata2 Hae Gang.

“Kenapa? Kau tidak bisa melakukannya?” tanya Hae Gang.


Seol Ri pun memilih mematikan ponselnya ketimbang menghubungi Jin Eon. Tak lama kemudian, terdengar suara Seok yang menyuruhnya keluar.

“Ini teh krysantium buatan ayah, minumlah.” Suruh Tuan Baek.

“Aku benar-benar pulang ke rumah, aku bisa minum teh buatan ayah.” jawab Seol Ri.


Seol Ri tertegun saat minum teh buatan sang ayah. Seol Ri bahkan sampai menangis.

“Ayah membuat tehnya sangat enak, sampai-sampai dia menangis. Mari kita beli saja daripada membuatnya, itu lebih murah.” Ucap Seok.

“Apa yang mau kau katakan?” tanya Tuan Baek.

“Aku telah menjadwalkan tes kesehatan.” Jawab Seok.

“Kenapa tiba-tiba kau mau menjalani tes kesehatan?” tanya Tuan Baek heran.


“Ini bukan tiba-tiba. Semua orang sudah melakukannya kecuali keluarga kita. Jangan katakan apapun dan lakukan saja, kau juga.” jawab Seok.

“Oppa, apa kau menerima uang suap? Aku masih berumur 20 tahunan kenapa aku harus menjalani tes kesehatan?” ucap Seol Ri.

“Seminggu lagi kau akan berumur 30.” Jawab Seok.

“Apa? Aku masih berumur 20 tahunan sampai awal maret kalau aku menghitungnya dengan kalender Cina.” Ucap Seol Ri.

“Hei, memangnya kenapa umur 30? Meski kau berumur 30 tahun, pikiranmu tetap berumur 20 tahunan. Dengan kata lain, kalian harus menjalaninya, mengerti?” jawab Seok.

“Biayanya tidak hanya ₩1 atau 2.” Gumam Tuan Baek dan Seol Ri kompak.


Yong Gi masih stress memikirkan jurnal Kim Sun Yong yang hilang. Kata2 Gyu Seok bahwa bukan Tae Seok pencurinya terngiang2 di telinganya. Yong Gi pun menyesal. Ia berkata, seharusnya ia menitipkan jurnal itu pada Seok. Tak lama kemudian, Woo Joo masuk dan mengajak Yong Gi makan, tapi Yong Gi mengaku tidak lapar.

“Kenapa? Tadi juga ibu tidak makan. Nenek khawatir.” Ucap Woo Joo.

“Nenek khawatir?” tanya Yong Gi.

“Nenek maju mundur, maju mundur dan terus melakukan ini, whooooo, whoooooo.. nenek begitu.” jawab Woo Joo.


“Apa gunanya? Dia tidak berbicara.” Ucap Yong Gi.

“Berbicara tentang apa?” tanya Woo Joo.

“Ibu. Ibu ini Hong Gil Dong. Aku tidak bisa memanggil ayahku ayah Aku tidak bisa memanggil ibuku ibu. Aku ini Hong Gil DDONG. Ddong [kotoran], kotoran anjing, sembelit. Aku berhenti sembelit sekarang.” jawab Yong Gi.

“Apa ibu harus buang air besar? Kalau begitu lakukanlah biar ibu bisa makan.” Ucap Woo Joo.


“Ini tidak akan berhasil, ayo kita laporkan. Mari kita panggil polisi dan memintanya untuk menangkap dan memukuli pencuri yang mengambil barang milik ibu.” Jawab Yong Gi.

“Hmmm? Polisi? Menangkap dan memukulinya? Tidak boleh, tidak boleh ibu!” ucap Woo Joo.

“Hmm? Ada apa denganmu? Ada apa? Kau tahu sesuatu, benarkan? Kau tahu siapa pencurinya, benarkan? Siapa? Siapa pencuri jahat itu?” tanya Yong Gi.

“Bibi. Bibi cantik yang mirip dengan ibu.” Jawab Woo Joo.

Yong Gi terkejut..

“Ulang tahun... Si jahat itu...dia... Bisa-bisanya dia? Bisa-bisanya dia padaku?” protes Yong Gi.


Yong Gi pun langsung melabrak Nyonya Kim.

Bersambung ke part 2....

0 Comments:

Post a Comment