Saturday, November 19, 2016

Oh My Geum Bi Ep 1 Part 1


Seorang gadis kecil berwajah imut tampak masih terlelap meskipun sinar matahari sudah masuk melalui jendela kamarnya. Tak lama kemudian, gadis kecil itu membuka matanya. Ia lantas duduk di tempat tidurnya dan meletakkan bonekanya di depannya. Gadis kecil itu kemudian memejamkan matanya sembari menghapalkan nama2 daerah Seoul.

“Amsa, Cheonho, Gandong-gu, Mongchongtoseong, Jamsil, Seokchon, Sanseong, Bokjeong, Jangji, Munjeong, Garak Market, Songpa, Namhansanseong, Dandaeogeori, Sinheung, Sujin dan Moran.”


Gadis itu kemudian menoleh ke kertas yang tertempel di dinding. Ia tersenyum senang karena berhasil menghafal nama2 daerah itu tanpa melakukan kesalahan sedikit pun.


Gadis kecil itu kemudian keluar dari kamarnya. Ia mengambil makanan di atas meja dan memasukkannya ke dalam microwave. Gadis itu kemudian menegak sebotol air, lalu duduk di hadapan sang bibi yang sibuk memainkan tarot. Gadis itu bernama Yoo Geum Bi.

“Apa semuanya tidak berjalan baik antara bibi dan Paman Young Tae?” tanya Geum Bi.

“Berikan padaku pekerjaan rumahmu.” Jawab sang bibi, Kim Young Ji.

“Aku mengerjakan semuanya tadi malam.” Ucap Geum Bi.

“Lakukan saja apa yang kukatakan.” Jawab Young Ji.


Geum Bi pun terpaksa menyerahkan buku PRnya. Young Ji lantas meminta pensil Geum Bi. Geum Bi protes karena harus bolak balik ke kamarnya.Young Ji pun menuliskan sesuatu di buku PR Geum Bi.

“Apa kau pikir kau bisa menemukan jalan ke suatu tempat yang belum pernah kau datangi hanya dengan sebuah alamat?” tanya Young Ji.

“Seseorang yang seusia denganku dapat melakukannya. Aku bisa mencarinya dari ponselku.” Jawab Geum Bi.

Young Ji ternyata menuliskan nama daerah Jongno-gu di buku PR Geum Bi. Ia menyuruh Geum Bi datang ke tempat itu jika sesuatu yang buruk terjadi padanya. Geum Bi ingin tahu siapa yang tinggal di tempat itu. Mata Geum Bi pun langsung terbelalak saat Young Ji bilang kalau seseorang yang tinggal di sana adalah ayah Geum Bi.


Sementara itu di sebuah ruangan, Mo Hwi Chul bersama beberapa orang lainnya tampak berlutut di hadapan Bae Jong Won. Anak buah Jong Won berdiri di hadapan mereka sambil memegang sebuah kayu. Jong Won marah karena mereka sudah dibayar 1 milyar won tapi hanya membawa sebuah replica.


Jong Won lantas menunjukkan stempel yang ada pada lukisan itu. Ia berkata, stempelnya tidak menyatu dengan lukisan.

“Kalau kau ingin menipu seseorang setidaknya lakukan dengan benar. Sungguh menyedihkan. Setidaknya bekerja keraslah untuk menghasilkan pekerjaan yang memuaskan.” Ucap Jong Won.

“Seperti yang sudah kau ketahui, pembayarannya bahkan belum kami terima. Kami tertangkap di tengah2. Tolong pertimbangkan hal itu.” jawab Hwi Chul.

“Kau ingin kami melakukan apa agar kau merasa baikan?” tanya Go Gil Ho, rekan Hwi Chul.

“Bawakan yang asli padaku, sudah jelas kan? Jangan berpikir untuk melarikan diri. Orang2ku akan langsung menjadikan kalian donor organ.” Ancam Jong Won.


Bersamaan dengan itu, baaak! Seseorang terlihat sedang memotong2i daging di atas meja. Hwi Chul ngeri melihatnya. 




Adegan lalu beralih pada Geum Bi yang disuruh membuat diary berbentuk rekaman video yang direkam sendiri oleh gurunya sebagai pekerjaan rumah. Guru Geum Bi berkata, bahwa anak2 bisa membuatnya dengan tema yang mereka sukai, boleh tentang keluarga, perkenalan dengan teman2 atau aktivitas keseharian mereka dan videonya harus berdurasi satu menit.


Geum Bi langsung menoleh pada temannya, Hwang Jae Ha. Ia ingin tahu berapa kali Jae Ha bertemu ayah Jae Ha setelah orang tua Jae Ha bercerai. Jae Ha berkata, tahun lalu ia bertemu ayahnya dua kali tapi tahun ini ia belum bertemu ayahnya sama sekali.


Teman Geum Bi yang lain, Hong Sil Ra, cemburu melihat Jae Ha ngobrol dengan Geum Bi.

“Bagaimana rasanya bertemu lagi dengan ayahmu setelah sekian lama?” tanya Geum Bi.


“Awalnya terasa aneh tapi setelah memakan beberapa potong pizza bersama, kami kembali dekat.” Jawab Jae Ha.

“Pizza?” gumam Geum Bi.


Adegan kembali pindah pada Hwi Chul dan rekannya yang bingung harus melakukan apa. Heo Jae Kyung berkata ia tak mau menyerahkan ginjalnya atau organnya yang lain. Gil Ho menyahut kalau mereka tidak bisa mundur bahkan meski menjual harta benda mereka, mereka tetap tidak akan bisa membawa lukisan yang asli.

“Kenapa kau duduk di sini saja dan khawatir akan dilukai saat kau seharusnya menghajar si pelukis palsu itu!” sentak Hwi Chul pada Gil Ho.

“Ketua geng itu tampaknya akan melakukan apa saja saat marah.” Jawab Gil Ho.

“Sebelumnya kau mengatakan dia seperti orang bodoh. Orang bodoh macam apa yang bisa mengenali keaslian stempel!” ucap Hwi Chul.

“Bagaimana bisa ketua geng itu menjalankan bisnis pencucian uang dengan benda2 seni. Kita memang tidak boleh mempercayai siapa pun.” Jawab Gil Ho.


“Kita tidak bisa diam di sini saja, haruskah kita lari?” tanya Hwi Chul.

“Dia bilang akan menemukan kita sekali pun kita sembunyi di pelosok gunung Korea Utara.” Jawab Jae Kyung.

Jae Kyung lantas menatap galak Hwi Chul dan bertanya apa hanya ia saja yang mendengarkan kata2 si ketua geng.

“Lalu apa yang harus kita lakukan!” tanya Hwi Chul.


Seseorang tiba2 mengetuk pintu rumah mereka. Jae Kyung pun langsung membukakan pintu karena orang dibalik pintu mengaku mau melakukan inspeksi gas. Tapi setelah pintu dibuka, yang datang adalah polisi yang mau menangkap Hwi Chul atas tuduhan menjual benda seni palsu.

Hwi Chul terkejut, hanya aku?


Geum Bi yang baru pulang sekolah terkejut mendapati rumahnya yang sudah kosong. Ia hanya mendapati tas dan kartu tarot bibinya di atas meja. Bibi Young Ji pun juga tidak ada. Geum Bi kemudian mengambil makanan di meja dan memasukkannya ke dalam microwave.

Geum Bi lalu mengambil kartu tarot itu dan memainkannya.

“Tadi benar2 kartu perpisahan.” Ujarnya sedih.

Hwi Chul bersama para tahanan lainnya digiring masuk ke bus karena mereka akan dipindahkan. Tahanan yang duduk di belakang Hwi Chul memanggil Hwi Chul dengan nama Hee Chul dan berkata bahwa Hee Chul adalah bocah yang dihajarnya saat ia masih duduk di bangku sekolah dasar.

“Namaku Hwi Chul, bukan Hee. Hwi yang dalam bahasa China artinya bersinar.” Jawab Hwi Chul.

“Lalu bagaimana dengan Chul? Apa artinya batangan besi?” tanya si tahanan itu.


Hwi Chul kesal dan mau membalas tahanan itu tapi tahanan yang duduk sebangku dengannya pun langsung menambahkan ucapan tahanan tadi dengan berkata gelang besi yang bersinar. Tahanan yang sebangku dengan Hwi Chul pun berpikir kalau orang tua Hwi Chul memberikan nama yang benar untuk Hwi Chul.


Geum Bi duduk sendirian di halte sambil melihat alamat yang ditulis bibinya di buku PRnya. Alamatnya Hwi Chul!!


Begitu sampai di rumahnya Hwi Chul, Gil Ho dan Jae Kyung membelikan Geum Bi pizza dan sebotol soda. Geum Bi makan pizza dengan lahapnya, sementara Gil Ho dan Jae Kyung menatapnya bingung. Jae Kyung lalu menggeser botol sodanya ke dekat Geum Bi, tapi Geum Bi mengaku kalau pizza lebih nikmat disantap sambil minum green tea dingin, lagian minum soda bisa membuat gigi jadi sakit.

“Astaga, dia seperti nenek tua saja.” Sinis Jae Kyung.

“Kau bilang Hwi Chul adalah ayahmu? Kau yakin bibimu menuliskan nama dan alamat yang benar?” tanya Gil Ho.


Geum Bi pun mengangguk. Geum Bi lantas dengan polosnya bertanya apa pekerjaan ayahnya. Gil Ho dan Jae Kyung saling melirik, sebelum akhirnya Gil Ho mengaku kalau Hwi Chul itu seorang seniman. Gil Ho juga meminta dukungan Jae Kyung. Jae Kyung pun membenarkan perkataan Gil Ho. Tapi mereka langsung diam saat Geum Bi ingin tahu dimana Hwi Chul.


Di halaman penjara, Hwi Chul ngobrol dengan Jong Won. Jong Won bertanya, apa Hwi Chul pernah membunuh orang? Pertanyaan Jong Woon itu langsung membuat Hwi Chul terdiam dan menatap Jong Won.

“Aku pernah. Jika kita bertemu di luaran sana, mungkin kau sudah menjadi salah satu dari mereka. Meski begitu, bukan aku yang melakukannya. Aku tinggal memberi perintah dan semuanya pun beres.” Jawab Jong Won.

Hwi Chul diam saja… melihat reaksi Hwi Chul, Jong Won pun tertawa. Jong Won berkata bahwa semua itu sudah berlalu dan dirinya bukan seorang pendendam.

“Aku tidak akan memberikan perintah pada orang lain seperti dirimu. Dan aku, seorang pendendam. Kau tahu bagaimana rasanya saat menusukkan sebilah pisau di tubuh seseorang?” ucap Hwi Chul.


“Kau pintar membual rupanya.” Jawab Jong Won. Keduanya lalu tertawa…


“Aku seorang aktor yang handal.” Ucap Hwi Chul lagi. Keduanya kembali tertawa, namun saat Hwi Chul mengalihkan pandangannya, tawa Jong Won langsung lenyap.

Gil Ho mengunjungi Hwi Chul di penjara. Ia berkata bahwa ia merasa bersalah pada Detektif Mo saat melihat Hwi Chul berada di balik jeruji besi. Hwi Chul pun marah dan berkata kalau Gil Ho harusnya merasa bersalah pada dirinya, bukan mendiang ayahnya.

“Kita melakukannya bersama2, tapi hanya aku yang di penjara!” protes Hwi Chul.

“Bersabarlah sedikit. Aku akan mengeluarkanmu dari sini segera!” jawab Gil Ho.

“Bagaimana bisa kau mengatakan itu setelah kau memberiku pengacara public? Kita bekerja selama 15 tahun tapi kau tidak punya loyalitas padaku!” protes Hwi Chul.

“Kau bukan satu2nya yang ada di sana. Geng yang menyuruh kita mendapatkan lukisan aslinya sudah ditangkap semua. Kita tidak perlu lagi susah2 mendapatkan lukisan yang asli. Aku tidak percaya kita seberuntung ini.” jawab Gil Ho.

“Kau masih bisa bicara begitu dengan keadaanku sekarang? Beruntung apanya!” marah Hwi Chul.


“Kau akan segera bebas.” Jawab Gil Ho.

“Jelaskan padaku bagaimana caranya? Haruskah aku membuat kekacauan?” tanya Hwi Chul kesal.

“Putrimu datang mencarimu.” Jawab Gil Ho. Hwi Chul kaget, apa?

“Ini adalah kejahatan pertamamu. Sebelumnya kau tidak pernah memiliki catatan criminal. Jika kau mengatakan kau memerlukan uang untuk menghidupi putrimu, kau akan mendapat keringanan hukuman. Pengacara juga mengatakan hal yang sama.” Jawab Gil Ho.

“Apa kau sudah gila? Aku tidak punya anak!” ucap Hwi Chul.

Persidangan Hwi Chul pun digelar. Hakim bertanya pada pengacara Hwi Chul, apa pengacara Hwi Chul yakin putri Hwi Chul ingin hidup bersama Hwi Chul. Pengacara Hwi Chul pun berkata, kalau putri Hwi Chul ada bersama mereka saat ini. Hakim terkejut, dia datang??

Tak lama, masuklah Geum Bi. Geum Bi terus berjalan menuju bangku penonton sambil menatap ayahnya yang duduk di kursi terdakwa. Hwi Chul menatap heran sosok gadis kecil yang berjalan sambil menatapnya. Geum Bi kemudian membacakan surat yang ditulis oleh bibinya untuknya.


Geum Bi-ya, secara financial aku tidak mampu lagi menghidupimu. Jika kau datang ke alamat yang bibi tulis di buku PRmu, kau akan bertemu ayahmu. Lupakan bibi dan berbahagialah dengan ayahmu. Aku selalu mendoakan yang terbaik.

Hwi Chul langsung melotot melihat Gil Ho. Gil Ho nyengir lebar.

Hakim bertanya, kapan pertama kali Geum Bi bertemu dengan sang ayah. Geum Bi berkata kalau ia baru bertemu ayahnya hari ini. Semuanya terkejut. Hakim kemudian berkata, akan mengirimkan Geum Bi ke panti asuhan jika Geum Bi mau. Tapi Geum Bi kekeuh mau tinggal bersama ayahnya.

Hwi Chul terkejut. Ia kemudian berdiri dan mau mengatakan sesuatu pada hakim, tapi pengacaranya langsung menginjak kakinya. Hwi Chul pun langsung menatap tidak setuju ke arah rekannya.


Hwi Chul pun bebas, ia langsung menemui rekannya yang menunggu diluar.

“Bagaimana cara aku mengatasi kegilaan ini? Kau yang menulis surat itu, kan?” tuduh Hwi Chul pada Gil Ho.

“Dia yang menulisnya. Aku hanya mendiktekannya saja. Kau semestinya berterima kasih pada anak itu. Kau bebas karena dia.” jawab Gil Ho.

“Apa yang harus kulakukan dengan dia?” tanya Hwi Chul.

“Dia kan putrimu, kenapa kau tanya padaku?” ucap Gil Ho.

“Siapa ibunya?” tanya Hwi Chul.

“Apa maksudmu?” Gil Ho nanya balik.

“Cobalah untuk mengingatnya. Pasti ada seseorang yang mirip dengannya” jawab Jae Kyung.

“Dia tak mungkin ingat, dia kan menghabiskan waktu bersama dengan banyak wanita.” Ucap Gil Ho.

“Kau pasti senang kan punya putri semanis dia?” jawab Jae Kyung, tapi setelah itu Jae Kyung berubah marah. Ia bertanya kenapa tubuh Hwi Chul murahan sekali. Setelah marah2, ia langsung pergi.

“Kenapa kau jadi marah padaku? Akulah yang seharusnya gila di sini!” teriak Hwi Chul.

“Kau beneran tidak tahu?” tanya Gil Ho.

“Apa maksudmu?” Hwi Chul nanya balik.

“Sudah lupakan. Aku ada urusan bisnis yang harus kuselesaikan jadi aku pergi dulu.” Jawab Gil Ho, lalu pergi.

Hwi Chul berteriak, hei, kau mau kemana! Gil Ho-ya! Gong Gil Ho!


Hwi Chul lantas mendekati Geum Bi. Ia tanya, siapa namamu tadi? Eun Bi?

“Geum Bi.” Jawab Geum Bi.

“Baiklah, Geum Bi. Geum yang artinya emas, kan?” tanya Hwi Chul.

“Bukan, tapi sisik ular!” protes Geum Bi.

“Sisik ular? Baiklah. Astaga, sisik ular?” komentar Hwi Chul. Hwi Chul lalu menanyakan ibu Geum Bi.

“Aku tidak punya Ibu.” Jawab Geum Bi.

“Semua orang pasti punya Ibu, suka ataupun tidak. Beberapa bahkan sampai memiliki dua atau tiga Ibu.” Ucap Hwi Chul.

Geum Bi lantas menatap ke arah penjara.

“Apakah kau seorang penipu, Paman?” tanya Geum Bi.

"Paman? Kalau begitu, aku bukan ayahmu. Kau tahu di mana kita sekarang? Tempat di mana pembohong dikurung.” Jawab Hwi Chul, bermaksud nakut2in Geum Bi.

Geum Bi pun langsung beranjak ke arah penjara.

“Kau mau kemana?” tanya Hwi Chul.

“Kau bilang kalau kau bukan ayahku. Aku harus pergi dan mengatakan pada mereka kebenarannya karena aku tidak ingin dipenjara.” Jawab Geum Bi.

“Berhenti, Eun Bi.” Suruh Hwi Chul.

“Aku Geum Bi.” Ralat Geum Bi.

“Tunggu sebentar.” Ucap Hwi Chul sambil menarik  Geum Bi. Karena Geum Bi gak mau berhenti, akhirnya Hwi Chul menggendong paksa Geum Bi. Geum Bi pun langsung berteriak kalau Hwi Chul mau menculiknya.

“Baiklah. Aku mengerti. Kita sebaiknya... mendiskusikan hal ini. Kau ingin menemukan ayah kandungmu, kan? Baiklah. Mari kita mulai. Di mana kau tinggal?” tanya Hwi Chul.

Geum Bi pun membawa Hwi Chul ke rumahnya, tapi ia tak bisa membuka kunci rumahnya. Geum Bi pun berulang2 kali memasukkan kata kuncinya, tapi tetap tidak bisa dibuka (tanda demensia kah??). Melihat itu, Hwi Chul pun langsung mengira Geum Bi berbohong.

“Kau buruk dalam hal sekolah, kan?” tanya Hwi Chul.

“Passwordnya masih berfungsi sampai kemarin lusa.” Jawab Geum Bi.

“Tak apa. Kau tidak perlu malu. Sekolah memang tidak mengajarkan hal-hal yang berguna.” Ucap Hwi Chul.

“Paman juga buruk dalam hal sekolah, kan?” dengus Geum Bi kesal.

“Apakah kau merasa lebih baik jika aku mengaku seperti itu?” tanya Hwi Chul.

Geum Bi pun terus berusaha membuka kunci rumahnya.

“Sudah cukup. Membuka pintu itu tidak akan ada untungnya juga.Kau bilang kalau dia meninggalkanmu sendirian?” tanya Hwi Chul.

Hwi Chul pun akhirnya pergi ke kantor real estate.

“Rumah itu sudah sejak lama dilelang. Baru-baru ini baru terjual.” Ucap si pemilik kantor, seorang pria tua.

“Apakah kau tahu kemana pemilik sebelumnya pergi?” tanya Hwi Chul.

“Mana aku tahu?” jawab pria itu.

“Apakah kau mendengar rumor tentang dia?” tanya Hwi Chul.

“Sekalipun tahu, aku tidak bisa membagi informasi pribadinya denganmu.” Jawab pria itu.

Hwi Chul pun kesal dan mengancam akan melaporkan pria tua itu karena sudah merekrut pegawai illegal.Si pria tua ketakutan dan akhirnya berkata kalau pemilik rumah itu bertemu dengan seorang pria tua kaya raya. Tapi ada juga rumor yang mengatakan  kalau dia pergi ke Vietnam.

“Hanya itu saja yang kudengar.” Jawab pria tua itu.

Usai dari kantor real estate, Hwi Chul mondar mandir di jalan sambil memikirkan apa yang harus ia lakukan pada Geum Bi. Geum Bi mengaku lapar. Awalnya Hwi Chul tidak mau makan, tapi akhirnya ia setuju makan karena perutnya juga lapar.

Hwi Chul membawa Geum Bi ke restoran mewah. Mereka mengambil makanan sesukanya lalu duduk di meja. Hwi Chul mulai makan, tapi Geum Bi ragu apakah ia harus memakan makanan itu.

“Apakah aku sungguh boleh memakan ini?” tanya Geum Bi.

“Tentu saja, kan sudah ada di piringmu. Tidak boleh sampai terbuang percuma.” Jawab Hwi Chul.


Geum Bi pun mulai makan dengan lahapnya. Selesai makan, Geum Bi bertanya apa yang harus mereka lakukan sekarang. Hwi Chul yang asyik menyeruput kopi malah bertanya apa Geum Bi suka nonton drama?

“Kau pernah menonton karakter wanitanya pingsan, kan? Berpura-puralah kau keracunan makanan, lalu jatuh ke lantai saat kuberikan isyarat. Beraktinglah seolah kau sedang sakit. Kau bisa, kan?” ucap Hwi Chul.

“Tidak mau.” tolak Geum Bi.

“Kalau begitu, malang sekali. Itu berarti, polisi akan datang menangkapku, lalu mereka juga akan membawamu ke panti asuhan. Itukah yang kau mau?” ancam Hwi Chul.

Geum Bi pun terdiam.

“Jangan teriak berlebihan. Beraktinglah dengan benar. Akan lebih meyakinkan jika keningmu banjir keringat. Kau tidak perlu melakukannya kalau memang tidak mau. Mau kupercikkan air di keningmu?” ucap Hwi Chul.

Geum Bi diam saja sambil menatap sebal sosok ayah di hadapannya.

“Baiklah. Kau siap? Siap. Action. Jatuhkan dirimu.” Suruh Hwi Chul, tapi Geum Bi cuma bengong sambil menatapnya sebal.

“Jatuhkan dirimu ke lantai. Letakkan tanganmu di perut dan jatuhkan diri ke lantai. Action. Ayolah.” Bujuk Hwi Chul

Bukannya nurut, Geum Bi malah ngambil kartu tarot bibinya dan beranjak pergi. Geum Bi terus berjalan mencari seseorang yang bisa diramalnya. Dan saat ia menemukannya, ia pun langsung berjalan menuju meja sepasang kekasih.

“Aku akan membacakan kartu tarot untuk kalian.” Ucap Geum Bi.

“Tidak perlu. Kami baik-baik saja.” Jawab si pria.

“Bisa kau membacakan kartunya untuk kami?” tanya si wanita. Geum Bi pun mengangguk.

Sementara itu, Hwi Chul mulai berjalan mencari Geum Bi. Hwi Chul pun akhirnya menemukan Geum Bi yang sedang meramal dengan kartu tarot. Hwi Chul lantas pura2 ngambil makanan dan mengawasi Geum Bi. Dan ia terkejut melihat wanita yang diramal Geum Bi mulai menangis. Pacar wanita itu tampak kesal, ia lantas memberikan Geum Bi uang dan menyuruh Geum Bi pergi.

Geum Bi kemudian menghampiri Hwi Chul. Dan berkat uang itu, mereka bisa membayar makanannya.

Hwi Chul lantas menyeret Geum Bi keluar dan ingin tahu apa yang dibilang Geum Bi pada wanita itu.

“Kita tidak bisa makan sepanjang hari karena ayah sudah kehilangan pekerjaan dan tidak ada beras lagi di rumah. Terlebih, hari ini adalah ulang tahunku. Tapi kita bahkan tidak memiliki makanan. Aku juga mengatakan padanya bahwa kita mungkit akan ditangkap polisi tapi setidaknya kita ingin makan dulu meski sedikit.” Jawab Geum Bi.

Hwi Chuk pun syok.

“Paman marah?” tanya Geum Bi. Hwi Chul diam saja sambil menatap gemes Geum Bi.

“Aku bercanda. Aku tidak bicara seperti itu.” jawab Geum Bi kesal dan beranjak pergi.

“Hey, tunggu. Kau mengatakan pada wanita itu bahwa aku ini ayahmu?” tanya Hwi Chul

“Tidak.” Jawab Geum Bi.

“Baguslah.” Ucap Hwi Chul.

“Tapi dia melihat kita berjalan keluar dari sana bersama, maka mungkin dia berpikir begitu.” jawab Geum Bi, membuat Hwi Chul panik.

“Paman aneh. Kenapa juga peduli sekali? Dia bahkan mungkin tidak akan mengingat wajah Paman.” Ucap Geum Bi.

“Apa yang kau katakan padanya? Apa yang sudah kau katakan padanya  sampai dia meneteskan air mata begitu?” tanya Hwi Chul.

“Aku tidak perlu menjelaskannya pada Paman.” Jawab Geum Bi.

“Apa pekerjannya?” tanya Hwi Chul.

“Kenapa? Kau ingin memeras dia?” tanya Geum Bi.

“Dasar berandal. Kau bahkan tahu tentang pemerasan?” rutuk Hwi Chul.

“Aku tahu.  Pekerjaan sampah. Menghasilkan sesuatu hal, tidak lama kemudian, mengembalikannya ke keadaan semula. Benar, kan?" ucap Geum Bi menirukan ucapan Gil Ho tadi.

Hwi Chul pun makin frustasi dibuatnya.

“Kemana kita pergi?” tanya Geum Bi.

“Aku tidak tahu.” jawab Hwi Chul galak.

Hwi Chul kemudian pergi. Dan Geum Bi bergegas mengikutinya sambil bertanya kemana mereka akan pergi.


Sementara itu, wanita yang tadi diramal Geum Bi, baru saja tiba di rumahnya. Dia diantar pulang oleh kekasihnya. Wanita itu adalah Go Gang Hee, dan pacarnya bernama Choi Jae Jin.

“Kita seharusnya minum di tepi sungai Han. Lagi pula, sedang tidak ada orang di rumahmu, kan. Lihatlah, hari ini cerah sekali.” Ucap Jae Jin.

“Justru itu sebabnya aku harus lekas pulang.” Jawab Gang Hee.

“Oke. Mari kita pikirkan. Kau pasti sangat banyak pikiran sekarang. Kau akan berubah pikiran setelah beberapa saat. Benar, kan?” tanya Jae Jin.

“Terima kasih atas tumpangannya. Aku juga menikmati makan malam tadi.” Jawab Gang Hee, lalu turun dari mobil Jae Jin.

Setelah Gang Hee turun, Jae Jin menurunkan kaca mobilnya dan bertanya, peringatan kematiannya hari Sabtu, kan? Kau mau ke sana bersama?

Gang Hee menggeleng.

“Aku akan meneleponmu.” Jawab Jae Jin lalu beranjak pergi.

Sementara itu, Hwi Chul yang sudah tiba di rumahnya berkata pada Gil Ho kalau besok dia akan membawa Geum Bi ke rumah penampungan anak hilang. Gil Ho yang asyik nonton tv sambil ketawa ketiwi berkata kalau seharusnya Hwi Chul berterima kasih pada Geum Bi.

“Jika sampai ketahuan pengadilan, kau akan mendapat tambahan hukuman karena membuat testimoni palsu di persidangan.” Ucap Gil Ho.

“Kau tahu kan aku benci anak-anak. Apa yang sudah kau lakukan?” jawab Hwi Chul.

“Aku bisa melihat kemiripan antara dirimu dan anak itu.” ucap Gil Ho.

“Tidak masuk akal.” Jawab Hwi Chul sebal.

“Dia mirip denganmu saat masih muda dan polos.” Ucap Gil Ho.

“Kau yang merusak moralku.” Maki Hwi Chul.

“Itu benar.” jawab Gil Ho. Gil Ho lalu ketawa ngakak melihat tayangan televise, tapi berikutnya tawanya langsung lenyap.

“Kita luruskan dulu. Kau yang memintaku mengajarimu. Aku tidak pernah mengarahkanmu pada dunia kelam ini.” ucap Gil Ho.

“Lupakan saja. Tunggu sampai aku menangkap bibinya.” Jawab Hwi Chul sebal.


Sementara itu, di kamar, Geum Bi menangis mendengar percakapan Hwi Chul dan Gil Ho.

“Lihat itu. Pikirkan baik-baik. Dia benar-benar mirip denganmu.” Ucap Gil Ho.

“Diam kau, bisa?” jawab Hwi Chul.

“Aku lebih tua darimu.” Protes Gil Ho.

“Baiklah, pria tua. Hentikan.” Jawab Hwi Chul.

Di sisi lain, kita melihat Gang Hee yang teringat pada ramalan Geum Bi.

“Kau dapat melihat langkahmu, tapi tidak tahu kemana tujuanmu. Hatimu menyuruh untuk pergi, tapi kau tidak bisa melakukannya. Kau tidak yakin apakah kau memang ingin pergi, tapi tetap di sini dan menentang hatimu sendiri. Jika kau pergi, kau akan kehilangan sesuatu yang berharga. Jika tetap di sini, kau akan terus menangis.” Ucap Geum Bi.


Balik lagi ke Hwi Chul yang merebahkan dirinya di sofa. Hwi Chul kemudian teringat akan tangisan Gang Hee saat diramal Geum Bi. Ia pun penasaran apa yang dikatakan Geum Bi. Tak lama kemudian, Hwi Chul mematikan lampu dan bergegas tidur.


Geum Bi menangis dalam tidurnya.

Beberapa menit kemudian, kita melihat Geum Bi yang berdiri sambil memeluk bantal dan menatap Hwi Chul yang masih tidur pulas. Geum Bi kemudian mendekati Hwi Chul dan menatap wajah Hwi Chul secara detail. Tak lama kemudian, ia tersenyum. Saat mau menyentuh wajah Hwi Chul, tiba2 Hwi Chul bergerak dan itu membuat Geum Bi langsung berdiri karena terkejut.

Hwi Chul yang baru bangun, langsung nyariin Gil Ho. Tapi Gil Ho tak ada di rumah. Hwi Chul kemudian memeriksa Geum Bi di kamar tapi ia tak menemukan Geum Bi di sana.

“Dia sudah pergi? Mengecewakan sekali.” Gumam Hwi Chul.

No comments:

Post a Comment