Thursday, December 8, 2016

I Have a Lover Ep 34 Part 1

Sebelumnya...


Hae Gang yang hendak masuk ke mobilnya dikejutkan dengan kedatangan Shin Il Sang. Shin Il Sang mengajak Hae Gang bicara di suatu tempat. Hae Gang tak gentar, ia mengajak Shin Il Sang pergi dengan mobilnya. Tepat saat itu, Jin Eon datang dan mengajak Shin Il Sang bicara dengannya juga. Shin Il Sang langsung terdiam.

Lalu tiba2… Hae Gang memanggil Jin Eon, Yeobo. Jin Eon terkejut.


Sekarang, Jin Eon, Hae Gang dan si pembunuh Eun Sol duduk bertiga di ruangan Hae Gang. Jin Eon berkata, 9 tahun. Kalau Eun Sol masih hidup, maka usinya 9 tahun sekarang. Hae Gang memandang tajam ke arah Shin Il Sang.

“Puteri kami akan segera berumur 10 tahun. Aku tidak bisa membayangkan. Puteri kami akan berumur 10 tahun, waktu telah... Waktu telah berhenti di keluarga kami, sejak hari itu. Kami bahkan tidak memiliki rumah tangga itu lagi. Kami hanya putus asa berpegang pada kenangan itu dan tetap disana.” Ucap Jin Eon.


Jin Eon lantas menatap tajam Shin Il Sang.

“Kau bukan satu-satunya yang berada di penjara. Kau dan aku... dan isteriku telah hidup dalam penjara. Sejak hari itu, kami tidak pernah menyebut nama anak kami. Kami masih tidak bisa... isteriku tidak bisa... Kami tidak bisa menyebut nama anak kami dengan keras.” Ucap Jin Eon.

“Tidak ada yang ingin kukatakan kepadamu. Aku tidak pernah sekalipun melupakan ekspresimu sejak hari dimana kita berbicara.” Jawab Shin Il Sang.

“Lalu kau seharusnya tidak melakukan ini, apa rencanamu setelah kau dibebaskan? Aku tahu kau lebih cepat dibebaskan dari penjara dan dalam masa percobaan. Aku peringatkan kau, tapi kalau kau menghampiri isteriku lagi, kau akan langsung kembali ke penjara.” Ucap Jin Eon.

“Lakukan sesukamu, lagipula aku tidak punya tujuan. Selain isterimu, tidak ada lagi yang bisa kutemui.” Jawab Shin Il Sang.

“Temui aku, temui aku saja.” Ucap Jin Eon.


“Maukah kau meninggalkan kami?” pinta Hae Gang.

“Tidak.” Jawab Jin Eon.

“Kumohon.” Pinta Hae Gang.

“Tidak.” Jawab Jin Eon.

“Sayang, kumohon, ada sesuatu yang ingin kukatakan padanya.” Pinta Hae Gang.

Jin Eon tetap keberatan, namun karena Hae Gang terus memohon, Jin Eon pun dengan berat hati meninggalkan Hae Gang berdua dengan pembunuh anak mereka. Setibanya di luar, Jin Eon berpikir sejena tentang apa yang akan dilakukan Shin Il Sang. Tak lama kemudian, ia berbalik, mau masuk ke ruangan Hae Gang tapi ruangan Hae Gang terkunci. Ya, Hae Gang yang menguncinya.


“Buka pintunya. Buka pintunya, Hae Gang-ah! Buka pintunya sekarang!” teriak Jin Eon.

Tae Seok yang mendengar teriakan Jin Eon langsung keluar dari ruangannya.

“Shin Il Sang, dengar! Dengar, Shin Il Sang! Buka pintunya! Hei, buka pintunya. Buka pintunya sekarang. Dengar! Dengar, Shin Il Sang! Buka pintunya!” teriak Jin Eon.


Hae Gang yang berdiri di depan pintu diam saja mendengar teriakan Jin Eon. Tak lama kemudian, Hae Gang berjalan ke arah Shin Il Sang dengan sorot mata yang tajam.


“Kau bilang akan membayar kejahatanmu? Kepada siapa? Polisi? Jaksa? Kalau bukan, kepada hukum Korea? Atau pada Tuhan yang kau yakini?” tanya Hae Gang geram.

“Untukku, untuk puterimu.Tidak seperti kau, setiap hari aku bertobat atas dosa-dosaku, tidak pernah sekalipun aku melewatkannya.” Jawab Shin Il Sang.


“Jadi... apa kau sudah memaafkan dirimu sendiri? Siapa yang bilang? Siapa yang bilang kau boleh memaafkan dirimu? Puteriku belum memaafkanmu, aku juga tidak. Suamiku juga tidak, jadi bagaimana bisa kau memaafkan dirimu? Siapa yang bilang kau boleh memaafkan dirimu?! Kenapa kau bisa memaafkan dirmu sendiri?! KENAPA?!” teriak Hae Gang.


“Kau pikir kau orang yang baik dengan segala perbuatanmu? Apa kau tidak ingat apa yang telah kau lakukan padaku? Karena dirimu, aku kehilangan segalanya, obatku, keluargaku. Semua yang aku investasikan, pengakuan orang-orang padaku! Semua yang aku miliki! Obat yang aku kembangkan selama 15 tahun, aku telah mengeluarkan uang banyak! Setelah itu, semuanya lenyap dalam semalam. Kau mencuri uangku, dan mengambil semua kekuatanku dan melimpahkan semua kesalahan padaku! DAN KAU MENYEBUT DIRIMU MANUSIA?!” jawab Shin Il Sang sambil terus berjalan mendekati Hae Gang.

Hae Gang mundur ketakutan.


“Anak-anakku harus bersembunyi dariku. Mereka menganggap aku kejam, mereka bilang tidak tahan bahwa aku adalah ayah mereka! Kembalikan, kembalikan hidupku seperti yang dulu. Kembalikan anak-anakku padaku!”

Shin Il Sang mulai menangis…

“Tapi mereka masih hidup, anak-anakmu masih hidup. Puteriku sudah mati, puteriku sudah tidak ada di dunia ini lagi. Aku tidak bisa melihatnya lagi, aku tidak bisa menyentuhnya, aku bahkan tidak bisa memarahinya lagi. Aku tidak bisa mengatakan bahwa aku menyesal, bahwa aku bersalah, aku bahkan tidak bisa mendapatkan maaf darinya. Kau membunuhnya. Tepat di depan mataku, padahal aku yang bersalah, kau membunuhnya! Kalau kau ingin membunuhku, kau seharusnya membunuhku, kenapa kau membunuh anakku? Kenapa? kenapa?”

Hae Gang menangis…

“Benar, kau yang seharusnya mati. Aku seharusnya membunuhmu dan aku seharusnya mati bersamamu. Maka semuanya akan berakhir! Maka tidak akan ada kesedihan seperti ini!” jawab Il Sang.


“Benar, kau harus membunuhku, maka aku bisa memaafkanmu.Tapi bukannya aku, kau malah membunuh anak yang tidak berdosa. Kau membunuh anakku yang tidak melakukan kesalahan apapun! Harga dari kesalahan itu bukannya empat atau lima tahun. Jadi jangan katakan kau sudah membayar dosa-dosamu! Jangan mengatakan kau bertobat semudah itu! Jangan mengatakan bahwa kau berhak untuk dimaafkan!” balas Hae Gang.

“Benar, mari kita akhiri ini, ini akan menjadi akhir bagiku.” ucap Il Sang.


Il Sang mulai mencengram kerah baju Hae Gang.

“Ini juga akan menjadi akhir bagimu, hari ini kita akhiri bersama-sama, kau mengerti?” ancam Il Sang.

“Apakah itu yang kau inginkan dariku? Aku mengerti, aku akan mati. Baiklah, aku akan mati ditangan yang sama yang telah membunuh anakku. Aku akan mati dan menemui anakku dan bertanya apakah dia memaafkanmu atau tidak. Sebagai balasannya, ini terakhir kalinya aku harus bertemu denganmu, jadi pastikan kau membunuhku!” tantang Hae Gang.

“Baik, matilah, matilah!” ucap Il Sang, sembari mencekik Hae Gang!!


Diluar, Jin Eon panic. Ia berusaha mendobrak pintu. Tiba2, Tae Seok dengan cool nya datang membawa kunci. Jin Eon pun langsung menerobos masuk dan menjauhkan Il Sang yang masih mencekik Hae Gang.

“Apa kau baik-baik saja?Apa kau benar-benar akan tetap seperti ini? Menyisihkan aku dan melakukannya sendirian? Apa sebenarnya yang kau lakukan?” sewot Jin Eon.

Hae Gang pun terduduk lemas…


Sementara itu, Tae Seok mengikuti Il Sang ke lift. Tae Seok mengajak Il Sang minum bersama dan memperkenalkan dirinya sebagai Presdir dari Farmasi Cheon Nyeon. Entah apalagi yang direncanakan Tae Seok kali ini.


Jin Eon memberikan segelas air pada Hae Gang yang masih syok.

“Setelah tahu semuanya... Kau masih berpikir untuk memulai kembali denganku? Bagaimana mungkin? Bagiku, itu mustahil.” Ucap Hae Gang pelan.


“Apa kau tahu perbedaan antara kau dan aku? Kau kehilangan Eun Sol, tapi aku kehilangan Eun Sol dan kau. Tapi kau hidup kembali. Eun Sol kita... aku tidak bisa bersamanya. Tapi denganmu, aku punya kesempatan memulainya kembali. Saat bersamamu,tidak ada yang mustahil. Apakah kau mengijinkan atau tidak, semua adalah keputusanmu.” Jawab Jin Eon.


Tangis Hae Gang pun pecah. Ia menggeleng sembari menatap Jin Eon.


Sementara itu, Seok baru saja selesai memasak spaghetti untuk dirinya dan Hae Gang. Seok lalu mengirimi Hae Gang SMS.

Kau ada dimana? Kalau dekat rumah, masuklah. Spaghetti...


Jin Eon membujuk Hae Gang pulang bersamanya. Hae Gang menolak. Jin Eon terus membujuk Hae Gang namun Hae Gang tetap keras kepala. Jin Eon yang mengkhawatirkan keadaan Hae Gang pun akhirnya merebut kunci mobil Hae Gang dan nyelonong masuk ke mobil Hae Gang. Hae Gang menghela napas sembari menatap Jin Eon. Jin Eon menyuruh Hae Gang masuk ke mobil. Hae Gang pun tak punya pilihan selain menuruti Jin Eon.


“Apa kau tidak akan memasang sabuk pengamanmu? Apa kau ingin aku yang memasangnya untukmu, wakil presdir?” tanya Jin Eon.

Hae Gang menghela nafasnya, ia lalu memasang sendiri sabuk pengamannya.

“Kalau begitu, aku berangkat.” Ucap Jin Eon, lalu melajukan mobil Hae Gang.


“Kau mau kemana sekarang?” tanya Hae Gang.

“Aku juga tidak tahu.” jawab Jin Eon.

“Bagaimana seseorang yang memegang setir tidak tahu tujuannya?” protes Hae Gang.

“Alasan dan instingku berada di tenggorokan orang lain, yang sedang bersama dengan orang yang memegang setir.” Jawab Jin Eon.

“Apa kau benar-benar akan tetap seperti ini? Kenapa tiba-tiba kau melakukannya? Kenapa kau seperti ini lagi?” tanya Hae Gang.

“Karena sekarang malam natal. Mari kita habiskan malam ini dengan tenang. Karena sekarang natal.” Jawab Jin Eon.

Hae Gang pun tertegun mendengarnya.


Jin Eon membawa Hae Gang ke sebuah villa. Hae Gang bertanya, kenapa Jin Eon membawanya ke sana. Jin Eon berkata kalau mereka kehabisan bahan bakar. Hae Gang mengira Jin Eon berbohong. Hae Gang pun mengeceknya sendiri. Ia melirik ke indicator bahan bakar yang menyala. Ia menarik napas kesal karena mereka memang kehabisan bahan bakar.


“Apa maksudmu "lagi"? Apa hal seperti ini pernah terjadi sebelumnya?” tanya Jin Eon.

“Tidak, tidak sama sekali. Aku salah bicara karena aku marah.” Jawab Hae Gang.

“Ah, aku mengerti. Ayo kita keluar, wakil presdir.” Ucap Jin Eon.

“Aku tidak mau.” jawab Hae Gang.

“Tanpa bensin, aku tidak bisa menyalakan penghangat. Makanya kau harus mengisi penuh bensinnya, gangguan macam apa ini? Kau tidak sengaja menghabiskan bensinmu kan?” tanya Jin Eon, yang membuat Hae Gang langsung menatapnya.

“Oh, dingin, dingin sekali. Kalau kau tidak mau mati beku, keluarlah, dingin begini, meski kita saling berpelukan, kita akan tetap mati.” Ucap Jin Eon.

“Kita hanya harus menelpon perusahaan asuransi.” Jawab Hae Gang.

“Ah, itukah yang kau inginkan? Kalau begitu pergilah, sendirian, duluan, tanpa kesetiaan. Aku akan masuk sendirian dan memanggil taksi besok pagi setelah malam ini tidur nyenyak.” Ucap Jin Eon.

Jin Eon lalu turun dari mobil Hae Gang dan bergegas masuk ke villa. Namun tak lama, Jin Eon berbalik dan melambaikan tangannya pada Hae Gang. Hae Gang terpengarah melihatnya. Usai melambaikan tangannya pada Hae Gang, Jin Eon kembali berjalan menuju villa.


Hae Gang berpikir sejenak, sebelum akhirnya ikut turun dan menyusul Jin Eon. Jin Eon yang sudah berdiri di teras tersenyum mendengar suara pintu mobil yang ditutup.


Jin Eon tampak sibuk merapikan kasur, sementara Hae Gang menunggu di ruang tengah dengan wajah cemberut. Usai merapikan kasur, Jin Eon pun menghampiri Hae Gang.

“Aku akan menaruh selimut dan tidur dengan nyaman di lantai. Wakil presdir, kau bisa memakai tempat tidur sendirian dengan nyaman.” Ucap Jin Eon.


Jin Eon lantas menyajikan cemilan untuk Hae Gang.

“Kalau kau tidak lapar, makan saja kentang manis dengan makgeolli. Pemiliknya mengatakan ini adalah hari yang special. Jadi dia berusaha agar kita menghabiskan malam natal. Dia pikir kita adalah pasangan. Dia bilang isteriku cantik dan mengharapkan yang terbaik untukku.” Ucap Jin Eon.


Hae Gang tetap diam. Jin Eon kemudian duduk disamping Hae Gang. Begitu Jin Eon duduk, Hae Gang langsung menggeser posisi duduknya. Jin Eon lantas berkata kalau ia akan menggeser mejanya.

“Kenapa?” tanya Hae Gang.

“Apa maksudmu "kenapa"? Aku juga perlu tidur, aku perlu ruang untuk menaruh selimutnya. Tidak ada banyak tempat di tempat tidur.” Jawab Jin Eon.


Jin Eon lantas menggeser meja di depan Hae Gang. Setelah menggeser meja, ia mulai menggelar selimut di lantai. Hae Gang yang tidak nyaman berpindah tempat duduk ke ruang makan. Jin Eon menghela napas dan menghampiri Hae Gang.

“Tidak perlu berlebihan, mari kita mandi lalu tidur, aku yakin kau juga lelah. Apa kau mau mandi duluan?” tanya Jin Eon, namun yang ditanya malah diam saja.

“Aku akan mandi duluan.” Ucap Jin Eon, lalu masuk ke kamar mandi.


Hae Gang cemas, ia takut tidak bisa mengontrol perasaannya. Tiba2, ponselnya berdering. Ia menerima panggilan dari Seok. Seok cemas, ia pikir Hae Gang mengalami kecelakaan. Hae Gang berkata kalau ia sedang bersama Jin Eon dan meminta Seok menjemputnya. Seok pun segera berangkat menjemput Hae Gang.


Tak lama setelah berbicara dengan Seok, Jin Eon keluar dari kamar mandi. Ia menyuruh Hae Gang mandi. Namun Hae Gang menolaknya tanpa sedikit pun menatap Jin Eon.

“Aku bukan kotoran anjing. Kau kelewatan dengan mengabaikan aku, lihatlah aku. Lihatlah aku, lihat saja aku, Do Hae Gang.” ucap Jin Eon.

“Baik, aku lihat Kenapa? Apa? Apa yang akan kau lakukan? Apa yang kau inginkan dariku?” tanya Hae Gang.

“Aku tidak tahu apa yang kau harapkan, tapi aku tidak akan melakukan apapun, tidak akan. Aku tidak akan menyentuhmu. Kita ini rekan kerja, dan kau wanita milik orang lain. Aku merasa tidak nyaman dan tidak menyukai situasi ini. Aku tidak punya perasaan ataupun emosi sekarang ini. Dimataku, kau seperti pohon mati. Kau seperti  boneka plastik yang hanya mengedipkan matanya.” Jawab Jin Eon.

“Apa? Pohon mati? Boneka plastik yang hanya mengedipkan matanya?” ucap Hae Gang kesal.

“Makanya aku menyuruhmu untuk tenang.” Jawab Jin Eon.


Jin Eon lalu menatap wajah Hae Gang dari jarak dekat.

“Jadi, hentikanlah.” Pinta Hae Gang.

Hae Gang yang mulai merasa gugup mengalihkan pembicaraan dengan mengomeli Jin Eon karena Jin Eon meneteskan air dimana2.

“Aku selalu menyuruhmu untuk mengeringkan diri didalam setiap kali kau mandi.” Ucap Hae Gang.

Hae Gang kemudian tertegun setelah mengatakannya. Sementara Jin Eon tersenyum mendengar omelan Hae Gang. Ingatan keduanya lalu melayang ke masa lalu, saat mereka masih bersama.


Flashback…

Saat itu, Jin Eon keluar dari kamar mandi tanpa mengeringkan diri sehingga airnya menetes kemana2. Hae Gang yang baru saja selesai membersihkan rumah pun kesal. Ia langsung mengomeli Jin Eon.

“Aku selalu menyuruhmu untuk mengeringkan diri sebelum keluar. Keringkan dengan benar di dalam dan keringkan rambutmu. Berapa kali aku sudah mengatakannya padamu? Berapa kali? Apakah itu sulit? Aku sudah berulang kali mengatakannya, kenapa kau tidak mendengarkan?” sewot Hae Gang.

Tapi yang disewotin malah senyum2.

“Aku seharusnya dibunuh, aku adalah orang yang tidak bisa ditinggalkan sendirian. Kau tidak perlu menahannya dan bunuh saja aku sekarang. Jangan menahannya dan bunuh aku. Dengan cintamu.” Ucap Jin Eon.

“Berikan handuknya padaku.” Pinta Hae Gang.


Hae Gang pun mengeringkan tubuh Jin Eon. Ia mengelap tangan dan wajah Jin Eon sambil mengomel. Tapi yang diomelin malah menggodanya.

“Ini seperti berbicara dengan dinding. Bohong saja kalau kau pintar. Ingatan buruk begitu, setiap kali kau mandi. Aku sudah muak, sungguh.” Omel Hae Gang.

“Seperti berbicara dengan dinding. Bohong saja kalau kau pintar. Ingatanmu seperti ikan emas, oh! aku sangat lelah!” balas Jin Eon.


“Kenapa kau meniru aku? Apa kau berhak untuk meniruku?” protes Hae Gang.

“Apa kau bertanya karena kau benar-benar tidak tahu?” tanya Jin Eon.

“Apa yang tidak aku tahu?” tanya Hae Gang balik.

“Kenapa aku masih basah setelah aku mandi.” Jawab Jin Eon.

“Apa itu? Maksudmu kau sengaja melakukannya? Kenapa?” tanya Hae Gang.

“Karena kau mengeringkan aku, karena Do Hae Gang mengeringkan aku.” jawab Jin Eon.


Hae Gang pun kesal mendengarnya dan menyuruh Jin Eon mengeringkan diri sendiri.

“Aku seharusnya tidak memberitahumu. Siapa yang bilang kejujuran adalah kebijakan terbaik? Siapa? Dasar bodoh.” Ucap Jin Eon.

“Lincoln.” Jawab Hae Gang, membuat Jin Eon bengong.

“Dia sudah tidak ada lagi, jadi pastikan kau mengelap semua air yang ada dilantai dari sini kesana.Cepat.” ucap Hae Gang.

Dan Jin Eon pun langsung mengerjakannya. Hae Gang tersenyum melihat Jin Eon yang mengelap air yang berceceran di lantai.

Flashback end…


Hae Gang yang sudah tak sanggup menahan perasaannya akhirnya berkata kalau dia akan pergi. Hae Gang memberitahu Jin Eon bahwa tadi ia menghubungi Seok dan meminta Seok menjemputnya. Mendengar itu, Jin Eon kecewa.

“Aku akan meninggalkan kunci mobilku, jadi bawa mobilku besok.” Ucap Hae Gang, lalu pergi.


Diluar, Seok memang sudah menunggu Hae Gang. Begitu melihat Hae Gang, Seok tersenyum dan melambaikan tangannya ke arah Hae Gang. Namun sayang, Hae Gang tidak menyadari kehadiran Seok, karena tepat saat Seok melambaikan tangan pada Hae Gang, Hae Gang berbalik dan menatap ragu ke arah villa.


Di dalam, Jin Eon berharap kalau Hae Gang akan kembali.

“Dengan kakimu sendiri, dengan keinginanmu sendiri, kembalilah.” Ucap Jin Eon sambil menghadap ke pintu.

Diluar, Hae Gang masih ragu untuk masuk. Seok yang mengerti akhirnya mengirimi pesan ke Hae Gang bahwa ia tidak bisa datang menjemput Hae Gang. Setelah membaca pesan Seok, Hae Gang pun kembali ke villa.


Hae Gang membuka pintu, ia mendapati ruangan yang sudah gelap. Hae Gang terus berjalan masuk, sampai akhirnya ia menyadari bahwa Jin Eon berdiri di belakangnya. Jin Eon menghampiri Hae Gang. Keduanya saling bertatapan, sebelum akhirnya Hae Gang berkata hanya untuk hari ini, karena hari ini adalah hari natal.

“Aku tidak mau. Karena natal selalu ada setiap tahun. Karena natal selalu ada sampai aku mati. Aku tidak mau seperti ini hanya hari ini saja.” Jawab Jin Eon.


Dan, cuuup! Hae Gang yang sudah tidak tahan pun mengecup bibir Jin Eon. Jin Eon terkejut. Keduanya lalu bertatapan kembali. Tak lama kemudian, Hae Gang kembali mengecup Jin Eon. Beberapa menit kemudian, Hae Gang melepaskan kecupannya. Jin Eon memegang kedua pipi Hae Gang, lalu mengecup bibir Hae Gang.


“Tolong hentikan dan katakan bahwa kau mencintaiku. Selamanya. Masih, bahkan sampai sekarang. Benar begitukan? Katakan padaku bahwa itu cinta, Do Hae Gang. Katakan padaku bahwa kau mencintaiku.” Pinta Jin Eon.

“Maafkan aku. Aku salah. Aku berpikir tentang masa lalu, jadi aku merindukanmu. Tidak lebih dan tidak kurang dari itu.” jawab Hae Gang.

“Begitukah? Aku tidak menyadarinya. Aku hampir membuat kesalahan lagi Yang tidak bisa aku perbaiki. Aku lelah, aku akan tidur duluan.” Ucap Jin Eon kecewa.


Begitu Jin Eon pergi, Hae Gang pun memejamkan matanya karena merasa bersalah pada Jin Eon. Hae Gang kemudian membuka matanya dan menatap ke arah perginya Jin Eon.

Bersambung ke part 2...........

4 comments:

  1. Yess ... Semangat terus mbk..💪💪😁😁😁

    ReplyDelete
  2. Yeass...semangaaat ya mbak..aku tungguuu Lanjutannyaaaaa 😍😍😍😍

    ReplyDelete
  3. Makasih mbak dah dilanjutkan lgi nulis sinopsisnya.....ditunggu kelanjutanya ea#semangattt :-)

    ReplyDelete
  4. Makasih mbak dah dilanjutkan lgi nulis sinopsisnya.....ditunggu kelanjutanya ea#semangattt :-)

    ReplyDelete