Thursday, December 22, 2016

I Have a Lover Ep 37 Part 2

Sebelumnya...


Hyun Woo memberitahu hasil penyelidikannya pada Jin Eon tentang kecelakaan yang dialami Presdir Choi dan Dokgo Ji Hoon di gunung yang menewaskan Ji Hoon. Hyun Woo berkata, seorang pendaki mengatakan bahwa itu adalah kecelakaan misterius. Entah karena kerusakan tali atau kesalahan pendaki. Dan karena itu bukan kecelakaan biasa, banyak orang dari Taman Nasional Bukhansan yang mengingatnya.

“Kalau memang kesalahan pendaki, kesalahan seperti apa?” tanya Jin Eon.


Hyun Woo pun menunjukkan sebuah artikel tentang kecelakaan kerusakan tali pada Jin Eon.

“Pada saat itu, tali sangat terkikis, itu artinya talinya terkikis karena menghantam batu berulang kali. Ayahnya Hae Gang mendaki setelah sebelumnya minum alcohol. Itulah yang ditetapkan sebagai kesalahan pendaki, dan mungkin itu sebabnya dia terus menghantam bebatuan.” Ucap Hyun Woo.

“Apa? Saat dia mendaki, dia minum?” gumam Jin Eon ragu.


Sementara itu, kita melihat Hae Gang yang duduk sambil menatap tajam ke kursi Presdir Choi.


Kembali ke Hyun Woo yang melanjutkan penjelasannya…

“Karena talinya terbuat dari nilon, itu membuat ujungnya tajam dan memotong bagian ujungnya berulang kali, kemudian mengelupas. Secara teori ada kemungkinan besar rusak atau terpotong. Perusahaan tali bersikeras bahwa tidak akan rusak sebanyak itu hanya dengan tergesek, jadi mereka tidak menjaga talinya dengan baik, biasanya. Dan mereka bilang itu adalah kasus yang tidak biasa. Tapi tali itu kurang dari 6 bulan dipasarkan. Itu sebabnya para pendaki bersikeras bahwa itu bukan karena produknya tidak diatur dengan baik, tapi karena rusak. Meski mereka berargumentasi ini dan itu, satu hal yang pasti adalah, benar dia memang memotong talinya pada saat-saat terakhir.” Ucap Hyun Woo.


Jin Eon lantas membaca artikel yang diberikan Hyun Woo tadi.

“Ada banyak penyebab kenapa tali bisa rusak. Saat tali digerakkan, benda asing seperti kotoran atau kerikil masuk ke dalam pelindung tali. Dan memotong seperti pisau bagian nilonnya menjadi serpihan. Kalau kau merusak tali dengan rantai eisen atau dengan kapak kecil, kau bisa melihat kerusakannya tapi bagian dalam tali mungkin saja rusak.”


Hyun Woo pun bertanya, apa menurut Jin Eon ada seseorang yang memotong tali itu dengan sengaja. Jin Eon tidak menjawab pertanyaan Hyun Woo, tapi menanyakan saksi yang melihat kejadian itu.

“Belum ada saksi mata. Tapi aku bisa mencari tahu pekerja yang bekerja pada saat itu. Karena itu terjadi sebelum adanya komputerisasi, dia tidak bisa memeriksa daftar pekerja yang bekerja di tahun 1981 sekarang. Tapi memeriksanya melalui kelompok pribadi atau kelompok pensiunan. Dia meminta satu sampai dua hari.” Ucap Hyun Woo.

Jin Eon pun gemetaran. Ia takut kalau ayahnya benar2 menjadi pelaku pembunuhan ayah Hae Gang.


Hae Gang masih menatap tajam kursi Presdir Choi. Namun begitu, Presdir Choi datang ia berusaha meredam amarahnya dan bersikap biasa saja. Presdir Choi ingin tahu apa yang membuat Hae Gang datang mencarinya.

“Aku mendengar tentangmu dan ayahku dari adik kembarku.” Jawab Hae Gang.


Sontak, wajah Presdir Choi pun sedikit berubah saat Hae Gang menyingung hal itu. Hae Gang ingin tahu dimana makam ayahnya. Presdir Choi berkata tidak ada makamnya. Hae Gang terkejut.

“Kami terjatuh di gunung, dia sangat menyukai gunung.” Ucap Presdir Choi dengan sedikit gugup.

“Ayahku, apa kau menebarkan kremasi ayahku dengan tanganmu sendiri?” tanya Hae Gang.

“Karena tidak ada orang lain selain aku.” jawab Presdir Choi.


“Apa kata-kata terakhir ayahku? Aku dengar dia yang memotong talinya duluan. Sebelum dia memotongnya, dia pasti mengucapkan kata-kata terakhirnya. Biasanya pada situasi seperti itu, orang-orang akan mengucapkan sesuatu untuk keluarganya. Apa kata-kata terakhir ayahku?” tanya Hae Gang.

“Untuk menjaga kalian berdua. Dia memintaku untuk menjaga Yong Gi dan Hae Gang.” jawab Presdir Choi.

“Hae Gang? Ayahku tidak tahu namaku, Presdir. Nama yang diberikan ayah padaku adalah Ong Gi.” ucap Hae Gang.

Presdir Choi pun bergegas meralat ucapannya.

“Ah, ah, dia bilang Ong Gi. Malam itu, dia memintaku untuk menjaga Yong Gi dan Ong Gi. Aku terbiasa memanggilmu Hae Gang, maka itulah yang terucap.”


“Itu adalah kata-kata pertama dan terakhir dari ayahku? Aku datang untuk mendengar kata-kata itu darimu, Presdir.” Ucap Hae Gang dengan tatapan kecewa mengarah pada Presdir Choi.

“Pasti sulit bagimu. Tentu saja, karena dia adalah ayahmu.” jawab Presdir Choi.

“Aku pasti bertambah tua, karena ini semakin sulit dari yang aku pikirkan. Pikiran itu sangat menyedihkan, ayahku dan hidup singkat ayahku, pikiran itu sangat menyedihkan.” Ucap Hae Gang.


Hae Gang lantas menanyakan foto ayahnya pada Presdir Choi. Saat Presdir Choi mengambil foto ayahnya, ia pun kembali menatap Presdir Choi dengan tajam. Tapi begitu Presdir Choi kembali, ia segera merubah tatapannya itu. Hae Gang terdiam menatap foto ayahnya.


Di ruangannya, Jin Eon menatap sertifikat hak paten Ssanghwasan. Kata2 Tae Seok pun kembali terngiang di telinganya bahwa hanya ayahnya lah yang mengetahui kebenarannya. Apakah sang ayah membunuh temannya atau menyaksikan temannya menemui ajal, hanya ayahnya lah yang mengetahui kebenaran itu.

“Apa kau benar2 membunuh ayah Hae Gang?” gumam Jin Eon.


Jin Eon lantas menghubungi seseorang bernama Dokter Lee. Pada Dokter Lee, Jin Eon menanyakan tentang keadaan kaki ayahnya. Jin Eon beralasan bahwa sang ayah tidak pernah memberitahunya soal itu. Jin Eon kemudian meminta Dokter Lee mengirimkan hasil rontgen ayahnya. Jin Eon juga meminta Dokter Lee agar tidak mengatakan apapun pada ayahnya bahwa ia menelpon Dokter Lee.


Di ruangannya, Tae Seok baru menyadari bahwa Hae Gang adalah sosok yang mengerikan. Tae Seok memberitahu Produser Kim, bahwa Produser Kim dipecat bukan karena melakukan korupsi, tapi karena mengkhianati Yong Gi. Tae Seok juga berkata bahwa Song In Baek yang namanya muncul di dalam catatan Kim Sun Yong juga dipecat Hae Gang.

Produser Kim terkejut, maksudmu manajer kepala dari pusat penelitian Choon Won?

“Saat memotong tangan dan kakiku, dia juga balas dendam untuk adiknya. Membunuh dua burung dengan satu batu.” Ucap Tae Seok.


“Seperti yang kau katakan, aku bisa keluar dan pergi ke perusahaan lain, bagaimana denganmu? Tuntutannya sekarang mengarah kepadamu, bukan hanya Pudoxin. Segeralah tuntut Wakil Presdir Do besok.” Jawab Produser Kim.

“Tidak. Do Hae Gang tidak bisa berkata apapun di pengadilan. Seperti yang kau katakan, itu melanggar undang2 hukum dan hukum kriminal, masalahnya adalah Baek Seok. Dia memliki salinannya, dan salinan itu sama dengan yang asli dan bisa digunakan sebagai bukti. Kita harus menghentikannya. Kita harus memastikan pengacara Baek Seok tidak bisa hadir di persidangan.” Ucap Tae Seok.


Di ruangannya, Jin Eon berusaha menghubungi Hae Gang, tapi ponsel Hae Gang sibuk terus.


Hae Gang sendiri lagi telponan sama adik kembarnya. Pada Yong Gi, ia bercerita bahwa ia sudah melihat foto ayah mereka. Hae Gang mengaku hatinya sedih setelah melihat foto ayah mereka.

“Wow, kau juga bisa bersedih. Baguslah.” Ledek Yong Gi.

“Eonni, kau harus memanggilku Eonni.” Ucap Hae Gang.

“Kau benar-benar ingin dipanggil begitu? Kalau aku memikirkanmu, kau sangat membosankan dan tukang perintah, eonni 3 menit. Kenapa kau berbicara dengan nada memerintah? Karena kau memiliki kekuasaan dan posisi elit di dalam kehidupanmu?” cerocos Yong Gi.


Yong Gi pun mengunyah sesuatu, sampai menimbulkan suara.

“Tapi kau makan apa sampai bersuara begitu?” tanya Hae Gang.

“Somyul.” Jawab Yong Gi.

“Apa? Somyul? Maksudmu menghilang?” tanya Hae Gang.

NOTE : Dalam Bahasa Korea, somyul artinya menghilang.


“Apa kau bilang? Kau benar-benar tidak tahu apa-apa tentang kehidupan, benarkan? Aku rasa begitu, bagaimana mungkin orang yang hanya minum anggur tahu tentang minum dalam airmata.” Ucap Yong Gi kaget.

“Jadi apa sebenarnya somyul itu?” tanya Hae Gang.

“SOju dan MYULchi (ikan teri). Bukankah sudah jelas? Aku mengirimkan pesan telepati, tapi apa?” gerutu Yong Gi.

“Apa yang kau kirimkan kepadaku lewat telepati?” tanya Hae Gang.

“Karena kau sudah bekerja keras, mari kita minum, telepati seperti itu.” jawab Yong Gi.

“Mari kita makan somyul saat persidangannya selesai.” Ucap Hae Gang.

“Untuk merayakan kekalahan?” tanya Yong Gi.

“Untuk merayakan kekalahan dalam persidangan.” Jawab Hae Gang.


“Baiklah, setuju. Tapi, tadi aku bertemu dengan ayah mertuamu, dan ahjusshi itu ingin mendirikan gedung pusat penyakit yang tidak bisa disembuhkan untuk Woo Joo dan aku. Dia bilang itu adalah hadiah dari ayah dan memintaku untuk mengelolanya. Berapa banyak uang yang dia punya sampai sedermawan begitu? Kalau aku punya uang sebanyak itu, akankah aku juga dermawan seperti dia? Yah, kalau kau memiliki 2- 3 milyar won, berapa banyak yang dimiliki Presdir Choi?” ucap Yong Gi.

Hae Gang pun geram mendengarnya.


Gyu Seok keluar dari kamarnya dan terdiam sejenak melihat Yong Gi yang menenggak soju. Tak lama kemudian, ia beranjak ke lemari es dan mengambil air putih. Yong Gi mengajak Gyu Seok minum bersamanya, tapi Gyu Seok menolak. Yong Gi pun dengan sebal berkata bahwa ia sudah menduga kalau Gyu Seok akan menolaknya.

“Bisakah kau mengajari aku?” tanya Yong Gi lagi.

“Maksudmu belajar Bahasa Inggris?” tanya Gyu Seok.


“Bahasa inggris dan juga pelajaran tentang penyakit yang tidak bisa disembuhkan. Dan kau yang terbaik di bagian itu.” jawab Yong Gi.

“Itu benar.” ucap Gyu Seok memuji dirinya sendiri dengan santainya.. LOL LOL

“Jelaskan secara cepat tentang penyakit yang tidak bisa disembuhkan sebelum kau kembali ke kamarmu.” Pinta Yong Gi.

“Ada sekitar 6 - 8 jenis penyakit, dan sekitar 5-6% orang di seluruh dunia menderita penyakit itu. Sekitar 80% adalah karena keturunan, 50-75% terjadi pada anak-anak. Sekitar 30% pasien meninggal sebelum berusia 5 tahun, obat yang tersedia dipasaran kurang dari 5%. Ada sekitar 350 pasien di seluruh dunia, dan sekitar 500 penderita di Korea.” Ucap Gyu Seok.


Gyu Seok lantas mengajak Yong Gi minum bersama. Yong Gi mau mengambilkan gelas, tapi Gyu Seok berkata tidak usah dan malah mengambil gelasnya yang tadi. Yong Gi terkejut menatap Gyu Seok yang malah minum soju dengan gelas yang berukuran lebih besar.

“Aku kira kau tidak bisa minum.” Ucap Yong Gi.

“Bukannya tidak bisa, tapi tidak mau.” jawab Gyu Seok.

“Kenapa tidak?” tanya Yong Gi.

“Bagiku, alkohol sama dengan air. Jadi aku lebih memilih minum air yang lebih sehat.” Jawab Gyu Seok.


“Jadi saat kau minum air, kau meminumnya seolah-olah itu alkohol?” tanya Yong Gi.

“Kadang-kadang aku melakukannya. Aku melakukannya setiap kali aku mengisi penuh gelas ini.” jawab Gyu Seok.

“Oh, yang barusan tadi juga?” tanya Gyu Seok.

Gyu Seok pun membenarkan.

“Kau itu alien, benarkan? Kau berasal dari bintang yang mana?” tanya Yong Gi.

“Aku datang dari luar angkasa (Woo Joo). Kita semua.” Jawab Gyu Seok.


Yong Gi lalu memandangi wajah Gyu Seok. Gyu Seok yang tak nyaman dipandangi begitu pun bertanya kenapa Yong Gi memandanginya seperti itu.

“Karena kau mengagumkan. Kau luar biasa sekarang ini. Kalau saja aku bukan seorang ibu, aku pasti berdebar-debar untukmu.” Jawab Yong Gi.

Yong Gi pun kembali menuangkan soju ke dalam gelasnya.


“Berdebar-debar itu, kau bisa melakukannya. Lakukanlah. Maksudku, mari kita lakukan, mari kita coba.” Ucap Gyu Seok.

“Kenapa? Kenapa dengan orang seperti aku?” tanya Yong Gi.

“Karena kau adalah ibunya Woo Joo.” Jawab Gyu Seok.


Jin Eon masuk ke ruangan sang ayah dan terdiam menatap kursi sang ayah. Kata2 sang ayah di masa lalu pun terngiang di telinganya.


“Matamu, itu bukan tatapan pada seorang ayah. Itu adalah tatapan kau menyembunyikan cakarmu dari musuhmu dan menunggu kesempatan, datanglah padaku sesukamu, datanglah kapan saja. Datanglah kepadaku kalau kau mau, karena aku akan mencabut semua kuku-kukumu. Meski kau punya kesempatan, kau tidak akan bisa menang dariku. Kau tidak pernah bertarung meski sekalipun. Kau tidak pernah mempertaruhkan semuanya. Untuk hidup atau mati, orang yang tidak pernah mempertaruhkan segala yang dimilikinya. Tidak akan pernah bisa menang melawanku.”


Hae Gang berniat menjual semua property miliknya untuk membeli saham.




Keesokan harinya, Seol Ri tampak sibuk mengurusi anak2. Sementara Seok lagi di dapur bersama sang ayah. Sang ayah tampak sibuk membuat bekal karena ia akan membawa anak2 ke sauna. Seok berkata, kalau ayahnya akan mendapat teguran jika membawa telur dan minuman dari rumah.

“Hei, disana dua telur harganya 1.000 won. Berapa banyak mulut yang harus diberi makan? Ayah tidak sanggup. Kami akan menyembunyikannya dan memakannya.” Jawab Sang ayah.


Tak lama kemudian, Seol Ri datang memanggil Seok. Seok pun bergegas mengikuti Seol Ri ke kamar. Setibanya di kamar, Seol Ri menyuruh Seok memakai krim pelembab. Saat Seok tengah mengoleskan krim pelembab itu ke wajahnya, Seol Ri menyinggung soal persidangan.

“Apakah lebih baik untuk memanfaatkan pendapat publik?” tanya Seol Ri.

“Mereka akan memblokir artikelnya sebelum diterbitkan, dan mereka akan menutupinya dengan artikel gossip. Meskipun berjalan lambat, aku akan berusaha bertarung keras. Pelan-pelan, aku akan membuat kemenangan.” Jawab Seok.

“Apakah tidak ada cara supaya tidak diblokir?” tanya Seol Ri.

“Aku tidak punya waktu untuk memikirkannya.” Jawab Seok.

“Baiklah, fokus saja pada persidangan, aku akan mencari tahu.” ucap Seol Ri.


Di kantor, Jin Ri geram karena sang ayah memberikan saham pada Hae Gang.

“Pemegang saham nomor satu adalah Choi Jin Eon, kedua Do Hae Gang dan ketiga Hong Se Hee! Bagaimana bisa dia tidak memberiku satu sahampun? Aku adalah putrinya! Bukan Do Hae Gang, akulah putrinya!”

“Aku bisa mengumpulkan dan membeli saham, strateginya kita merilis saham di pasaran dan membelinya. Kita bisa membeli dengan memakai nama orang lain tanpa sepengetahuan siapapun.” Jawab Tae Seok.

“Aku akan memberitahu Do Hae Gang tentang Ssanghwasan.” Ucap Jin Ri.

“Biarkan adik ipar yang memberitahunya. Jumlah saham mereka berdua totalnya lebih dari 28%, kita harus memisahkan mereka. Kalau kita terlibat, mereka akan memperhitungkannya secara berbeda, biarkan saja dulu mereka memperhitungkannya.” Jawab Tae Seok.

“Apakah Jin Eon akan memberitahunya?” tanya Jin Ri.

“Adik ipar akan melakukannya.” Jawab Tae Seok.


Hyun Woo berada di ruangan Hae Gang. Ia terkejut saat Hae Gang berencana mempekerjakan pegawai kontrak. Hyun Woo lantas menanyakan nasib para peneliti. Apa Hae Gang mau memecat mereka semua?

“Pemasukan dari bagian R & D memang banyak, tapi pengeluaran yang sia-sia juga banyak. Pekerjakan 70% pegawai kontrak untuk pengembangan obat baru. Hanya itu satu-satunya cara untuk menghemat waktu dan uang.” Ucap Hae Gang.

“Apakah Presdir Choi Jin Eon juga mengetahuinya?” tanya Hyun Woo.

“Beritahu dia, dan buatlah daftar proyek mana yang direncanakannya yang memerlukan kontraktor. Dan juga, katakan padanya kita harus menyimpan untuk impor jangka pendek dan aku ingin mengatur kembali biaya atas barang-barang yang tidak begitu penting.” Jawab Hae Gang.


Pembicaraan mereka pun terhenti lantaran mendengar teriakan Jin Ri di luar. Hyun Woo pun bergegas pergi. Bersamaan dengan itu, Jin Ri menerobos masuk ke dalam dan hampir saja Hyun Woo menabrak pintu yang dibuka Jin Ri dengan kasar dari luar.

Aku minta maaf Wakil Presdir.” Ucap Seketaris Shin.

“Kenapa kau yang meminta maaf sekretaris Shin? Yang berbuat salah yang seharusnya meminta maaf.” Jawab Hae Gang.

“Apa kau bilang?” ucap Jin Ri kesal.

“Kau boleh pergi, tidak perlu menyajikan teh, Sekretaris Shin.” Ucap Hae Gang.

“Kenapa kau memecat Kim Moon Shik dan Yoon Seok Cheol?” tanya Jin Ri begitu Seketaris Shin keluar.

“Kenapa aku memecat mereka?” tanya Hae Gang sambil bangkit dari duduknya dan berdiri di depan Jin Ri.


“Yeah, kenapa kau memecat mereka? Apa kau memecat mereka karena mereka adalah bawahanku? Kau tidak bisa memotong kepalaku, jadi kau memotong tanganku dan berani untuk menguasai perusahaan?” protes Jin Ri.

“Setiap departemen atau cabang yang melakukan korupsi harus diberhentikan tidak perduli siapa pemimpinnya. Itu adalah prinsip restrukturisasi kita sekarang.” jawab Hae Gang.

“Apa? Prinsip? prinsip apa? Prinsip apa? Prinsip untuk membunuh suamiku dan aku? Kau berbuat curang. Kau hanya berusaha untuk melenturkan ototmu dihadapan para karyawan sekarang ini. Kau berusaha menginjak-nginjak kami dengan sengaja sekarang ini! Kenapa kau tidak menaruh pisau guillotine diluar perusahaan? Taruhlah dan gantung kepala suamiku dan kepalaku setelah kau memenggalnya. Beraninya kau? Kau pikir kau siapa?” teriak Jin Ri.

“Apa kau sudah selesai? Kalau begitu silahkan pergi sebelum aku memanggil keamanan dan menggunakan kekerasan.” Ucap Hae Gang.


Mendengar itu, emosi Jin Ri memuncak. Ia mengangkat tangannya dan hendak menampar Hae Gang. Hae Gang pun langsung menangkisnya dan menatap Jin Ri dengan tatapan lasernya.

“Aku rasa tanganku lebih kuat, kau harus menghentikannya. Kalau kau melakukannya sekali lagi, aku akan menampar wajahmu. Tolong jaga sikapmu denganku, jagalah ucapanmu.” Ucap Hae Gang.


Jin Eon pergi menemui Presdir Lee, yang dulu pernah bekerja di Taman Nasional Bukhansan. Presdir Lee lantas mengajak Jin Eon bicara di tempat yang lebih nyaman.

“Apa kau ingat pada kecelakaan itu?” tanya Jin Eon.

“Tentu saja, itu adalah kedua kalinya aku dikirim setelah selesai pelatihan. Saat itu aku tidak tahu apa yang terjadi. Helikopter terdengar sangat menakutkan.” Jawab Presdir Lee.

“Apa penyebab dari kecelakaan itu?” tanya Jin Eon.

“Ada banyak perdebatan apakah karena talinya rusak atau tidak. Bagi kami, setelah tugas penyelamatan selesai, itu saja, jadi kami tidak tahu kesimpulannya. Saat mendaki bersama, salah seorang dari mereka terpeleset, jadi mereka saling bergantung pada tali temannya. Berapa banyak dia berjuang supaya tidak mati?.” Jawab Presdir Lee.

“Aku dengar dia memotong talinya demi temannya.” Ucap Jin Eon.


“Dengan gunung yang berbahaya seperti itu, kau memerlukan cerita yang menyentuh. Dengan begitu, orang bisa memiliki pengharapan dan mengikutinya.” Jawab Presdir Lee.

“Lalu?” tanya Jin Eon.


“Dia terluka parah dan mengalami pendarahan. Ada banyak darah di salah satu kakinya. Bukan yang meninggal, tapi yang hidup. Sebelum memutuskan apakah kau harus hidup, setidaknya kau harus hidup, mereka mungkin mengatakan, kau mati, aku tidak bisa mati.” Jawab Presdir Lee.

“Kalau begitu ada pertarungan fisik.” Gumam Jin Eon.

“Apakah artinya ada banyak darah?” tanya Jin Eon lagi.

“Karena dia menghantam dinding berulang kali, cukup untuk menghancurkan tulangnya. Yang menunjukkan dia berjuang untuk hidupnya. Itu bukan musim salju, tapi hari hangat di bulan Mei, tidak ada angin yang bisa menyebabkan dia menghantam jurang. Cerita menyentuh dibuat oleh orang yang hidup, dan hanya mereka berdua yang tahu kebenarannya. Aku baru sebulan bekerja dan hanya mengikuti perintah para senior. Aku hanya ingat sampai di situ. Para sunbae yang melakukan penyelamatan.” Jawab Presdir Lee.

“Kalau begitu, mereka adalah rekan sekerja dulu?” tanya Jin Eon.

“Mereka berdua sudah meninggal.” Jawab Presdir Lee, yang membuat Jin Eon menghela napas karena tidak menemui titik terang.


“Tapi kenapa kau ingin tahu kecelakaan dari 30 tahun yang lalu? Tadi kau bilang di telpon itu adalah karena kecelakaan ayahmu. Yang mana ayahmu? Yang meninggal? Yang selamat?” tanya Presdir Lee.

“Mereka berdua adalah ayahku.” Jawab Jin Eon, membuat Presdir Lee bingung.


Tae Seok memanggil Hae Gang ke ruangannya. Ketegangan pun langsung terasa begitu mereka seruangan. Tae Seok melarang Hae Gang duduk, ia menyuruh Hae Gang tetap berdiri selagi mereka bicara. Hae Gang pun kesal, tapi ia masih berusaha untuk sabar.

“Kim Hak Soo, Lee Se Jong, Shin Jong Beom, Kim Woo Reuk, Cho Eun Taek, Song In Baek. Kau berani mengeluarkan semua organ dalamku? Maka seharusnya kau memegang pisau bedah, bukan kapak. Kau seharusnya tidak menghinaku dalam skala besar dimana semua orang melihatnya, Wakil Presdir Do. Kembalikan mereka kepadaku. Aku tidak menyetujuinya, jadi pekerjakan kembali orang-orangku.” Ucap Tae Seok.

“Aku tidak bisa melakukannya. Kau bersikap bodoh sekali bagiku untuk menutupi semuanya. Korupsi dan kelalaian pekerjaan bisa dimaafkan, tapi kejahatan UU farmasi, suap, korupsi obat dan pemalsuan. Kau seharusnya merasa beruntung karena tidak dikirim ke penjara.” Jawab Hae Gang.

“Apa? Penjara? Aku rasa kau tidak berada dalam posisi untuk mengatakan itu. Kenapa kau bersikap seperti kau menjadi orang yang berbeda? Apa kau benar-benar sudah membuka lembaran baru, Pengacara Do?” tanya Tae Seok.

“Aku berusaha yang terbaik pada tugas yang diberikan kepadaku. Tidak seperti kau, Direktur Eksekutif, aku belum memiliki orang-orang yang setia padaku. Jadi itu berkah bahwa aku diberi wewenang untuk menyingkirkan lawanku. Apa kau akan tetap berkata begitu kalau situasinya dibalik? Tempatkan orang baru di sekitarmu. Kalau kau membiarkan orang busuk berada di sekitarmu. Kau bisa mendapat masalah besar karena mereka.” Jawab Hae Gang.


“Kim Sun Yong. Dia tidak melakukan bunuh diri, Pengacara Do. Itu adalah pembunuhan.” Ucap Tae Seok.

Hae Gang terkejut.

“Ketahuilah itu untuk sidang kedua, dan persiapkan dengan baik. Aku bertemu Pengacara Baek Seok kemarin dan dia berusaha menyeldiki aku untuk strategi pertahanan di sidang kedua. Aku rasa kau harus membuat pertahanan spesial untuk melindungi aku. Berdasarkan pasal 307 undang-undang kriminal : berbagi rahasia. Kalau kau membocorkan rahasia yang kau dapatkan dari klienmu, kau bisa dipenjara setidaknya 3 tahun dan ijinmu akan dicabut selama 10 tahun, atau harus membayar denda 7 juta won, ingatlah itu Pengacara Do.” Ucap Tae Seok.


Setelah mengatakan itu, Tae Seok menyuruh Hae Gang pergi. Namun saat langkah Hae Gang tiba di depan pintu, Tae Seok kembali berbicara.

“Tapi ini aneh. Bukankah Kim Sun Yong adalah tunangan adikmu? Dia bilang ayah dari anaknya tidak bunuh diri, tapi dibunuh, tapi kenapa kau diam saja? Karena itu ada hubungannya denganmu, meskipun kau tidak marah, kau setidaknya merasa sedikit kesal, aneh sekali kau hanya diam saja.” Ucap Tae Seok.


Hae Gang kesal, tapi ia masih berusaha menahan dirinya agar tidak meledak.

“Dengan 50 juta yang aku terima, setidaknya 10 darinya mengatakan padaku untuk tidak marah lagi. Kalau aku mulai marah, aku tidak bisa menang melawanmu. Tujuanku bukanlah Min Tae Seok, tapi menjadi pemilik dari Farmasi Cheon Nyeon.” Ucap Hae Gang.


Hae Gang masuk ke sebuah ruangan. Tapi bukan ruangannya, melainkan ruangan Jin Eon. Hae Gang menyentuh papan nama Jin Eon. Setelah itu, ia duduk di kursi Jin Eon dan menyentuh meja Jin Eon. Ingatannya kemudian melayang pada kata2 Jin Eon.

“Sekarang ini, aku hanya harus menahannya dan terus menahannya. Tidak ada yang mustahil saat aku bersamamu. Apakah kau mengijinkan atau tidak. Itu adalah keputusanmu.”


Hae Gang juga ingat kata2 Jin Eon saat mereka makan siang bersama tadi.

“Aku mungkin tidak akan pernah bisa lagi memakan masakanmu, benarkan? Aku seharusnya memakannya saat kau memasak untukku, memakannya yang banyak. Haruskah kita hidup bersama selama satu bulan? Selama satu bulan, apapun yang kau inginkan dariku, apapun yang kau inginkan. Bisakah aku pergi dari hidupmu setelah itu?”


Hae Gang sekuat tenaga menahan kesedihannya. Tak lama kemudian, ia bangkit dari kursi Jin Eon. Bersamaan dengan itu, Jin Eon masuk ke ruangannya dan tertegun melihat sosok Hae Gang. Kata2 Jin Eon kembali terngiang di telinga Hae Gang.

“Hanya satu bulan saja. Maka aku akan hidup dengan kenangan itu.”

“Apa yang akan kau lakukan malam ini?” tanya Hae Gang.

“Memikirkanmu.” Jawab Jin Eon, yang membuat Hae Gang tersenyum.

“Kenapa? Apa kau suka di sana? Haruskah kita bertukar tempat? Aku akan jadi Wakil Presdir dan kau akan jadi Presdir bagian R&D.” ucap Jin Eon.


Hae Gang tidak menjawab. Ia diam saja, ia tersenyum sembari melangkah mendekati Jin Eon. Hae Gang kemudian menggenggam tangan Jin Eon dan mengajak Jin Eon pergi.

“Aku akan memasakkan makan malam untukmu, ayo kita pergi.” Ajak Hae Gang.


Jin Eon tertegun, apa?

“Aku juga akan membuatkanmu sarapan besok. Ayo kita pergi.” Jawab Hae Gang.

Jin Eon berkaca2 mendengarnya….


Bersambung…….

Preview Ep 38

No comments:

Post a Comment