Wednesday, January 11, 2017

I Have a Lover Ep 43 Part 2

Sebelumnya...


Tae Seok berusaha menyuap orang suruhan Hae Gang. Ia berjanji, akan memberikan 10% lebih tinggi dari harga di pasaran asalkan pria itu mau membantunya.

“Dalam kondisi sekarang, 100 ribu won per lembar saham, apa maksudmu dengan harga di pasaran? Kau tidak hanya memegang pisau, tapi kau adalah seorang perampok. Aku tidak terburu-buru, jadi aku akan duduk di sini dengan tenang sampai harganya naik, itu adalah tujuan dari pemilik uangku.” Jawab pria itu.

“Lalu kenapa kau datang kemari?” tanya Tae Seok.

“Kau pikir kenapa? Aku datang kemari karena berpikir kau memanjat pohon untuk memakan buahnya. Suaramu di telpon terdengar sangat putus asa, aku ingin meningkatkan nilai diriku.” jawab pria itu.

“Kalau begitu, 5% lebih tinggi dari harga pembelian.” Tawar Tae Seok.

“20%, bagaimana? Sekarang ini, saham farmasi ini adalah lotere. Kalau obat baru yang sekarang sedang dikembangkan diumumkan, maka harga saham akan membumbung tinggi. Saat kau terburu-buru memanjat pohon, bukankah kau seharusnya mempertimbangkan sebanyak itu?” ucap pria itu.

“10%.” Ucap Tae Seok.


Karena tak mencapai kesepakatan, pria itu pun minta diri.

“Kau bisa kapan saja memanggilku kemari, benarkan? Meski perjanjiannya tidak berhasil, kau berusaha supaya aku ditemukan oleh Do Hae Gang dan bekerja sama dengannya.”ucap pria itu.

“Kau tetap datang meski kau mengetahuinya?” tanya Tae Seok.

“Itu benar, aku datang karena tahu akan mendapatkan sesuatu yang besar, jadi kau tidak bisa merendahkan aku.” jawab pria itu.



Di tengah2 pembicaraan, Tae Seok mendapat berita dari Manajer Byeon. Manajer Byeon menyuruh Tae Seok membuka amplop yang sudah ada di meja Tae Seok sekarang. Dan Tae Seok pun membukanya. Betapa terkejutnya ia membaca surat yang ada di dalam amplop itu. Surat itu adalah surat pemberitahuan rapat pemegang saham dengan adegan permohonan pemberhentian Presdir dan Wakil Presdir.

Tae Seok pun emosi,  Choi Jin Eon, bajingan itu!


Di ruangannya, Hae Gang sedang menulis surat resign-nya.


Tae Seok dan pria itu akhirnya menemui kesepakatan!! Apakah ini artinya pria itu berkhianat pada Hae Gang atau pura2 berkhianat??


Jin Eon, Presdir Choi dan Hae Gang bertemu di kantor kejaksaan. Hae Gang mengaku bahwa dirinya lah yang membuat kejaksaan memanggil Presdir Choi lagi.

“Usahamu patut dipuji. Jadi, apa yang ada ditanganmu? Apakah harta kekayaan Jaksa Kim? Untuk menangkapku, kau dengan bodohnya bermain tipuan dokumen kekayaan para jaksa? Kau tanpa rasa takut telah mencuri sesuatu milikku. Bagaimana itu bisa berada di tanganmu?” tanya Presdir Choi.

Hae Gang pun terdiam, ia tak tega memberitahu Presdir Choi bahwa dokumen itu ia dapat dari Jin Eon. 


Tak lama kemudian, Jin Eon mengaku bahwa ia yang memberikan dokumen itu pada Hae Gang. Presdir Choi terkejut.

“Daftar jaksa yang kau suap, itu bukan Hae Gang, tapi perbuatanku ayah.” ucap Jin Eon.

“Apa? Kenapa kau memberikan itu padanya? Kau!” ucap Presdir Choi dengan suara gemetar.


Presdir Choi lalu memukuli Jin Eon dengan tongkatnya.

“Hentikan! Kumohon hentikan!” teriak Hae Gang yang cemas melihat Jin Eon dipukuli.


Lalu tiba2 saja, Presdir Choi jatuh. Jin Eon mau membantu ayahnya berdiri tapi tangannya malah ditampik oleh sang ayah.

“Apakah ini yang kalian berdua inginkan? Di depan matamu apa kau ingin aku diseret keluar dan membuat supaya aku tidak bisa berdiri lagi? Tanpa tongkat, membuat aku menghantam batu. Mengeluarkan isi perutku, mencabut hatiku dan menarik mataku keluar. Kau ingin mengawetkan aku dan menggantungnya di tempat dimana kau bisa melihatnya. Apa itu yang kau inginkan? Kecuali kita bertiga menjadi hancur, apa yang akan kau dapatkan? Balas dendam? Kebenaran? Kalau kau balas dendam, kalau kau tahu kebenarannya, apa ada yang akan berubah? Kalau kau mengirimku ke penjara, apakah akan ada perbedaan? Jawab aku! Sesuatu telah berubah kalau aku terus bergerak… Sesuatu menjadi lebih baik, aku sudah... Menyerahkan hidupku, supaya bisa memberikan seluruh hidupku untukmu.” Ucap Presdir Choi.


Presdir Choi lalu berdiri sendiri dan menatap kesal Hae Gang.


“Kalau kau tidak berubah, maka tidak akan ada perubahan. Kalau Presdir tidak berubah, tidak akan ada kemajuan. Semuanya berada di tanganmu, bagiku dan juga bagi dirinya. Ayah, ayahku bukan satu-satunya yang ada di gunung itu. Aku, dia dan kau ada di gunung itu dimana kalian berdua berada di sana pada tahun 1981. Tolong turunlah sekarang, ayah. Kalau kau tidak turun, baik dia maupun aku tidak bisa bergerak selangkahpun dari sini.” Ucap Hae Gang dengan suara lembut.


“Yang kami inginkan adalah kau, Ayah. Ayah yang tidak bisa kami lupakan. Ayah yang tidak bisa kami abaikan. Kami melakukan ini supaya kami tidak menelantarkanmu. Karena kami tidak bisa menelantarkan menutupi ataupun mengabaikanmu. Kami melakukan ini supaya kami tidak meninggalkanmu.” Ucap Jin Eon.


Presdir Choi diam saja, ia hanya menghela napas berat. Hae Gang lantas mengambil tongkat Presdir Choi yang masih tergeletak di lantai dan meletakkannya ke tangan Presdir Choi. Namun Presdir Choi masih saja keras kepala.


“Seperti tongkat ini, apa kau akan menggunakan aku sebagai senjata atau sebagai kakimu, itu adalah pilihan ayah.” ucap Hae Gang.


Presdir Choi terus mengunci mulutnya saat Jaksa Kim menanyakan keterlibatan Presdir Choi dalam beberapa kasus seperti yang dikatakan Hae Gang. Jaksa Kim pun mulai lelah dengan aksi tutup mulut Presdir Choi itu. Saat Jaksa Kim kembali menanyakan keterlibatan Presdir Choi dalam kasus Farmasi Mido, Presdir Choi tetap menutup mulutnya. Jaksa Kim pun mulai kesal. Ia pun memilih  menenangkan dirinya sejenak dengan beranjak keluar.


“Kasus Farmasi Mido, aku akan menanggungnya sendiri. Aku bahkan menyingkirkan filenya. Seperti yang tertera di dalam dokumennya, semuanya. Dilakukan oleh diriku sendiri, tidak masalah jika aku melakukan semuanya.” ucap Hae Gang.

Presdir Choi terkejut.

“Kalau kau tidak mengakuinya, maka tidak ada artinya sama sekali aku melakukan semua ini. Aku akan membiarkan kau tetap berada di sisi ibu, jadi, sekali ini saja. Sekali saja, kumohon katakan yang sebenarnya. Lalu aku tidak akan bertanya lagi. Aku hanya akan bertanya sekali ini saja lagi. Ayah, apa kau membunuh ayahku?” tanya Hae Gang.


Tapi Presdir Choi tetap bungkam. Hae Gang yang putus asa, akhirnya memilih pergi. Tapi saat ia baru bangkit dari duduknya, Presdir Choi mengakui bahwa dirinya lah yang membunuh ayah Hae Gang. Hae Gang syok. Ia sulit mempercayai kenyataan kalau Presdir Choi lah pembunuh ayahnya.

“Aku memotong tali ayahmu. Apa kau merasa lega sekarang? Kalau aku membuka pintu itu dan mengaku pada Jin Eon, apakah kita… apakah aku bisa memulai kembali dengan kalian berdua? Apakah kau akan menjadi kakiku dan membiarkan aku turun dari gunung?” tanya Presdir Choi.

Tangis Hae Gang pecah…

“Itu hanya bisa dalam pikiranmu saja. Tidak perlu menutupi dosa-dosaku. Aku akan membayar dosa-dosaku, aku akan menerimanya.” Ucap Presdir Choi.


Presdir Choi lalu beranjak pergi meninggalkan Hae Gang. Diluar, ia bertemu Jin Eon yang masih menunggunya.

“Aku akan segera didakwa. Sekarang, Farmasi Cheon Nyeon, Hae Gang dan aku tidak akan ada di sana, hanya ada kau saja. Hal yang sama juga berlaku bagi ibumu. Bisakah aku mempercayaimu? Bisakah aku mempercayaimu dan akan menerima balasan atas dosa-dosaku?” ucap Presdir Choi.

Jin Eon pun terpengarah…

“Terima kasih, karena tidak meninggalkan aku. Karena sudah menunggu di sini untukku. Aku ingin pergi dengan kakiku sendiri. Jangan ikuti aku dan masuklah ke dalam.” Ucap Presdir Choi.


Tangis Jin Eon pun pecah. Presdir Choi kemudian beranjak pergi. Jin Eon menatap kepergian sang ayah dengan mata basah.


Sementara itu, Hae Gang masih duduk di dalam. Tak lama kemudian, Jin Eon masuk dan menghampiri Hae Gang. Tangis Hae Gang pun pecah. Jin Eon memegang bahu Hae Gang, untuk menguatkan Hae Gang. Hae Gang pun menggenggam erat tangan Jin Eon di bahunya dan semakin kencang menangis.


Bersambung….

Preview Ep 44

No comments:

Post a Comment