Wednesday, January 11, 2017

I Have a Lover Ep 44 Part 2

Sebelumnya...


Yong Gi dan Woo Joo sudah tiba di airport. Yong Gi ngomel2 karena tak ada satu pun yang mengantar mereka.
 
“Ada banyak orang di sana dan di sana. Apa ibu benar-benar tidak melihat seorangpun? Ibu benar-benar tidak bisa melihat seorangpun? Kalau begitu, apakah ibu buta seperti Shin Bong Sa? Kalau begitu, haruskah aku pergi ke dasar lautan dan menukarnya dengan 300 karung beras?” ucap Woo Joo cemas.


“Tidak, bukan itu maksud ibu. Kita pergi tanpa seorang pun yang mengantarkan kita. Lupakan saja tentang aku, mereka seharusnya tidak melakukan ini padamu. Padahal semua orang menyukai dan menyayangimu. Ini adalah pengkhianatan tingkat tinggi. Bagaimana bisa mereka memperlakukan seorang anak seperti ini? Bagaimana bisa mereka menghancurkan mimpi seseorang seperti ini? Apakah semua orang jarinya sudah patah? Bagaimana bisa mereka tidak menelpon? Bahkan tidak ada satu pesanpun.” Jawab Yong Gi.


“Kalau begitu, ibu telpon saja dan minta mereka untuk segera datang kesini.” Ucap Woo Joo.

“Bagaimana bisa ibu melakukan itu? Ibu yang menyuruh mereka untuk jangan datang.” jawab Yong Gi.

“Kalau begitu, haruskah aku mencobanya?” tanya Woo Joo.

“Lupakan saja. Memangnya kita ini pengemis?” ucap Yong Gi, gengsi tuh.


Tiba2 saja, ponsel Yong Gi berdering. Yong Gi tersenyum senang. Woo Joo mengatakan pesan itu pasti dari Gyu Seok. Yong Gi pun buru2 membaca pesannya, tapi ternyata dari pesan itu adalah iklan penawaran supir pengganti. Senyum Yong Gi pun langsung hilang. Yong Gi kemudian mengajak Woo Joo pergi.


Saat mau mengantri di depan ruang tunggu, Yong Gi melihat ada passport yang jatuh. Passport milik ajumoni di depannya. Yong Gi pun memungut passport itu dan langsung mengembalikannya pada si pemilik passport. Namun ia terkeju saat si ajumoni pemilik passport membalikkan badan. Ajumoni itu ternyata Nyonya Kim.

“Eomma…” ucap Yong Gi.

“Eomma? Bukan ajumoni?” tanya Nyonya Kim.


“Nenek!” seru Woo Joo.

Dan Nyonya Kim pun langsung memeluk erat Woo Joo.

“Ini bukan karena kau. Ibu tidak bisa melepaskan Woo Joo dari pandangan ibu. Jadi ibu pergi tanpa membawa apapun, jadi jangan mengatakan apapun. Berikan paspor ibu.” Ucap Nyonya Kim.


Namun, Nyonya Kim terkejut saat melihat passportnya. Nyonya Kim pun lekas memanggil seorang pria di depannya dan berkata kalau passport mereka tertukar. Pria itu berbalik. Dan dia, Gyu Seok. Yong Gi tertegun. Woo Joo langsung menghambur ke pelukan Gyu Seok. Woo Joo menangis.

“Kenapa Woo Joo menangis?” tanya Gyu Seok

“Karena aku merindukan Profesor.” Jawab Woo Joo.

“Aku juga. Karena aku merindukanmu, aku berlari tanpa membawa apapun.” Jawab Gyu Seok.


Gyu Seok lalu menggendong Woo Joo dan berkata pada Yong Gi.

“Aku peringatkan kau. Aku datang bukan karena kau, tapi karena Woo Joo. Jadi jangan coba-coba memisahkan kami berdua.” Ucap Gyu Seok.

Yong Gi pun langsung tersenyum haru.


Hae Gang masuk ke kamarnya yang super duper berantakan sambil bicara dengan sang ibu di telepon.

“Jangan khawatir. Aku baru sampai dan menutup katup gas. Aku akan bersih-bersih di kamar. Aku akan mencuci piring dan membersihkan kamar mandi. Khawatirkan saja diri ibu sendiri. Sebelum ibu tinggal di sini, ini adalah rumahku. Aku lebih tahu tempat ini daripada ibu, jadi jangan khawatir. Suruh Yong Gi menelponku kalau sudah sampai.” Ucap Hae Gang.



Seol Ri menunjukkan foto seorang gadis di ponselnya pada Seok.

“Bukankah dia terlihat percaya diri? Dan dia memberikan kesan anggun yang disukai para pria.” Ucap Seol Ri.

Tapi Seok terlihat ogah2an.


“Dia pemain biola senior di orkestra symponi Seoul.” Ucap Seol Ri.

“Wanita ini adalah masalah besar. Aku tidak suka musik klasik, biola adalah suara yang paling tidak aku sukai di dunia ini.” jawab Seok.

“Oppa!” sentak Seol Ri.

“Apa?” tanya Seok.

“Aku sudah berjanji, jadi kau harus menemuinya hari ini, harus, mengerti?” ucap Seol Ri.

“Aku benar-benar tidak bisa, aku ada wawancara pengacara sore ini.” jawab Seok.

“Apa kau benar-benar akan seperti ini?” tanya Seol Ri.

“Kalau begitu kenalkan aku pada wanita yang membuat aku tertarik.” Jawab Seok.


Seol Ri pun gondok. Tiba2, Tuan Baek datang dan menyuruh mereka menyalakan TV. Seok dan Seol Ri pun terheran2. Tuan Baek mengatakan ada berita soal kematian Tae Seok. Seok dan Seol Ri kaget. Tuan Baek menyuruh mereka menyalakan televise.


“Presdir Min dari Farmasi Cheon Nyeon meninggalkan catatan dan melompat ke sungai Han hari ini. Meski polisi mencari jasadnya di lokasi kejadian, jasadnya belum ditemukan. Karena mengembangkan Pudoxin, obat utama dan asli dari Famasi Cheon Nyeon, Presdir Min Tae Seok menjadi topik utama pembicaraan beberapa tahun lalu dan sekarang sedang diselidiki atas pembunuhan karyawan yang mengungkapkan efek samping dari Pudoxin, dan sedang dalam penyelidikan kepolisian.”

Dan, klik! Tuan Baek mematikan TV-nya.



“Kenapa kau mati? Kau pikir semuanya berakhir kalau kau mati? Bukan begini seharusnya. Betapa tidak bertanggung jawabnya dia?” ucap Tuan Baek sebal.


“Kenapa aku tidak mempercayainya? Dia mati? Aku tidak mempercayainya Aku akan mempercayainya kalau jasadnya ditemukan. Secara hukum, kalau jasadnya tidak ditemukan, maka dianggap sebagai orang hilang, benarkan?” jawab Seol Ri.

“Benar, selama 5 tahun.” Ucap Seok.


Presdir Choi sudah dibawa ke rumah sakit. Dokter menjelaskan, karena Presdir Choi terlambat ditemukan, maka sirkulasi darah Presdir Choi berhenti. Karena itu, sebagian besar dari otot jantungnya mati dan Presdir Choi bisa terkena serangan jantung kapan saja

“Dan juga, ini bukanlah situasi luar biasa meski terjadi infark miokard akut karena pembuluh darahnya terhalang.” Ucap dokter.

“Tidak ada satupun yang bisa kumengerti. Tolong jelaskan supaya aku bisa mengerti.” Jawab Nyonya Hong sambil menatap lirih suaminya.

“Persiapkan saja untuk yang terburuk... Meski dia tidak sadar, dia bisa mendengar dengan hatinya, jadi bicaralah padanya hal yang tidak bisa kau katakan padanya. Dan beritahu pada keluarga sehingga setidaknya mereka bisa memegang tangannya sekali lagi.” Ucap dokter.

“Apa kau bilang? Dia sudah dioperasi. Dia baik-baik saja sampai tadi malam, apa yang kau katakan? Aku tidak siap, bagaimana aku harus bersiap-siap?” jawab Nyonya Hong.


Nyonya Hong lalu menatap suaminya yang terbaring tak berdaya di ranjang.

“Dia akan bangun, dia adalah orang yang kuat. Dia bukan orang yang mudah pingsan.” Ucap Nyonya Hong.
 
Nyonya Hong lalu meminta Jin Eon menghubungi Dokter Lee karena ia tidak mempercayai dokter di rumah sakit itu. Jin Eon diam saja. Ia berdiri mematung sambil menatap sedih sang ayah.


“Yeobo, kenapa kau seperti ini? Kenapa kau melakukan ini padaku? Apa ini yeobo? Kau tidak bisa melakukan ini padaku yeobo! Kenapa kau seperti ini pada akhirnya? Bagaimana kau bisa berharap akhir seperti ini? Sangat egois, tidak bisa dipercaya Bangun, bangunlah yeobo! Cepatlah bangun yeobo!” pinta Nyonya Hong sambil mengguncangkan tubuh Presdir Choi.


Tangis Nyonya Hong kemudian pecah. Dan Jin Eon, dia memeluk erat ibunya.

“Aku ingin berdua saja dengan ayah, bisakah kau pulang dan kembali lagi besok pagi? Karena kami tidak pernah berdua saja. Meskipun aku tidak baik pada ayah, aku rasa aku tidak bisa kalau seseorang menyaksikannya. Aku takut dia akan pergi tanpa aku bisa berbuat apapun untuknya.” Ucap Jin Eon.

Tangis Jin Eon pun pecah.


Hae Gang yang menyendiri di ruang baca, berniat menghubungi Jin Ri. Namun ia urung melakukannya dan memilih menghubungi Jin Eon.

“Aku khawatir, bagaimana keadaan semuanya?” tanya Hae Gang.

“Karena masih dalam penyelidikan, kami masih menunggu, kau benar-benar terkejut, benarkan?” jawab Jin Eon.

“Pasti berat bagimu. Bagaimana keadaan ibu? Bagaimana dengan ayah?” tanya Hae Gang.

Jin Eon diam saja, namun matanya terus menatap lirih sang ayah.

“Kau harus mempersiapkan pemakaman, apa kau punya rencana? Haruskah kita melakukannya di perusahaan?” tanya Hae Gang.

“Tidak, aku ingin melakukannya diam-diam.” Jawab Jin Eon.


“Sulit kalau melakukannya sendirian, biarkan aku membantumu. Ada banyak hal yang harus disiapkan untuk pemakaman, jangan mengerjakannya sendirian. Aku akan mengurus pekerjaan di perusahaan sampai kau kembali, jadi kau tidak perlu khawatir. Dan juga, meski kau tidak berselera, jangan melewatkan makan.” Ucap Hae Gang.

Jin Eon diam saja, dan tangisnya… kembali pecah.

“Akan kututup.” Ucap Hae Gang.

“Jangan ditutup.  Mari kita bicara sebentar. Maukah kau berbicara, tentang apa saja? Woo Joo, dia pasti sudah naik pesawat.” Jawab Jin Eon.


Hae Gang membenarkan.

“Woo Joo, aku benar-benar merindukannya.” Ucap Jin Eon.

Hae Gang menangis.

Jin Eon yang tak sanggup menahan rasa sedihnya pun akhirnya memilih mengakhiri pembicaraan mereka.


Jin Ri dengan emosi masuk ke ruangan Hae Gang. Seketaris Shin mengekori Jin Ri dengan wajah sedikit panic. Jin Ri menyuruh Seketaris Shin menghubungi Hae Gang, namun Seketaris Shin diam saja. Jin Ri pun emosi.

“HUBUNGI DIA!” bentak Jin Ri.

Hae Gang yang masih berada di rumah terkejut saat Seketaris Shin menghubunginya, memberitahu  tentang Jin Ri yang ada di kantor dan ingin menemui Hae Gang.


Jin Ri masih menunggu Hae Gang. Tak lama kemudian, Hae Gang datang dan Jin Ri langsung menatapnya dengan penuh kebencian.

“Apa yang kau lakukan pada suamiku, cobalah pikirkan kalau aku berbuat yang sama pada Jin Eon. Apa kau bisa memaafkan aku?” tanya Jin Ri.


Hae Gang terdiam.

“Jawab aku, aku bilang jawab aku. Jawab!” Jin Ri emosi.

“Tidak.” Jawab Hae Gang.

“Itulah maksudku. Apakah kau yang melaporkan ke polisi?” tanya Jin Ri.

“Ya, itu adalah aku.” jawab Hae Gang.



Dan, PLAAAAK!! Jin Ri menampar Hae Gang.

“Kembalikan suamiku, hidupkan kembali orang itu, kembalikan bajingan itu! Bawa dia kembali, aku bilang! Karena kau yang menempatkannya di air, kau yang harus mengeluarkannya. Keluarkan dia dari air sekarang, mereka tidak bisa menemukannya, mereka bilang tidak bisa menemukannya. Mereka bilang tidak bisa melihat kemana dia pergi!” teriak Jin Ri.


Jin Ri lalu memukul Hae Gang dengan tasnya.

“Kau keluarkan dia, cepat dan setidaknya carilah mayatnya! Aku bilang keluarkan dia dari air! Kembalikan dia!” teriak Jin Ri.


Jin Ri lalu mendorong Hae Gang ke pintu.

“Aku bilang kembalikan dia! Keluarkan dia dari air!” teriak Jin Ri sambil mengacak2 ruangan Hae Gang.


Hae Gang pun merasa bersalah (Loh, wae?)


Lantas dimanakah Tae Seok? Sesuai dugaan, dia belum mati. Dia tidak bunuh diri. Dia terlihat di sebuah restoran sedang menyantap makanannya dengan lahap. Ia tersenyum mencemooh saat menyaksikan berita tentang dirinya yang meninggalkan catatan bunuh diri di Sungai Han.



Hae Gang terduduk lemas di kursinya. Tak lama kemudian, Seok datang sedikit bingung melihat ruangan Hae Gang yang berantakan. Seok lantas duduk di hadapan Hae Gang.

“Aku ingin tahu apa yang sebenarnya kulakukan. Tidak ada yang berubah, tidak ada yang membaik. Karena semuanya berbeda dari yang aku inginkan, beberapa orang kakinya terikat.” Ucap Hae Gang dengan wajah tertekan.

“Apa mereka sudah menemukan tubuhnya?” tanya Seok.

“Belum.” Jawab Hae Gang lirih.


“Aku tahu ini tidak membantu, tapi sebelum mereka menemukan tubuhnya, itu belum bisa dianggap kematian, tapi orang hilang.” Ucap Seok.

Hae Gang terkejut, Apa?

“Kami menonton berita dan Seol Ri terkejut, dia mengatakan tidak bisa mempercayainya. Dia bilang tidak akan percaya sebelum mereka menemukan tubuhnya dan itu mengingatkan aku pada abu palsumu. Aku tahu kemungkinannya kecil, tapi Min Tae Seok adalah orang yang mampu melakukan hal seperti itu.” ucap Seok.

Hae Gang mulai paham maksud Seok.

“Kau tidak boleh ditusuk dari belakang, jadi tubuhnya harus ditemukan.” Ucap Seok.

“Aku tidak bisa mempercayainya.” Jawab Hae Gang

“Kemungkinannya 10.000 kali, dia berpura-pura bunuh diri dan kemudian melarikan diri maka mungkin dia berusaha melarikan diri keluar negeri karena dia punya banyak uang.” Ucap Seok.



Tae Seok meminjam ponsel pemilik restoran dengan alasan ia lupa membawa ponsel dan ingin menghubungi istrinya. Si pemilik restoran tak curiga dan meminjam ponselnya pada Tae Seok.


Jin Ri yang baru keluar dari kantor polisi terkejut menerima panggilan dari Tae Seok. Ia pun buru2 menjauhi kantor polisi.

“Ada apa ini? Apakah semuanya pura-pura? Pura-pura bunuh diri?” tanya Jin Ri.

“Bukan pura-pura, aku benar-benar akan melakukannya. Tapi aku tidak bisa.” jawab Tae Seok.

“Dimana kau sekarang?” tanya Jin Ri.

“Setelah aku selamat di suatu tempat, aku akan menelponmu lagi. Ambilkan uang dan taruh di loker di Stasiun Bulgang. Loker nomor 15 dan kodenya adalah hari ulang tahun Hyeok. Aku tahu aku seharusnya tidak melakukannya, tapi tidak ada yang bisa kuhubungi selain kau.” jawab Tae Seok.

“Baiklah.” Ucap Jin Ri.

Usai berbicara dengan Tae Seok, Jin Ri berterima kasih pada Tuhan yang sudah menyelamatkan suaminya.


Hae Gang masih mengurung dirinya di ruangannya. Tak lama kemudian, Hyun Woo datang mengunjunginya. Hae Gang terkejut saat Hyun Woo memberitahunya tentang Presdir Choi yang collapse.

“Ayahnya, ibu, kau dan bahkan Min Tae Seok. Kau tidak bisa mengatakan apakah bajingan itu mati atau hidup. Itu juga sama bagimu. Meski kalian berpisah, itu sama saja, lalui saja semuanya bersama-sama. Kalau kau akan menjadi hancur, hadapi saja bersama-sama.” Ucap Hyun Woo.


Jin Eon masih terus menunggui sang ayah. Ia mengajaknya ayahnya berbicara.

“Apa ayah tidur? Hari ini adalah waktu terlama kita bersama-sama, apa kau tahu itu? Tidak ada banyak yang bisa dibicarakan, benarkan? Kita hanya marah setiap hari, kita tidak pernah mengobrol. Kau benar-benar tidak akan seperti ini kan? Aku ingin mengobrol denganmu. Apa kita akan bertengkar lagi?” ucap Jin Eon.


Hae Gang pun datang. Jin Eon tidak menyadarinya dan masih terus mengajak ngobrol sang ayah.


“Bertengkar juga tidak apa-apa.” Ucap Jin Eon. Tangis Jin Eon pun pecah.

“Bicaralah padaku ayah.” pinta Jin Eon.


Hae Gang terdiam sembari menatap lirih Jin Eon. Tak lama kemudian, ia pun masuk. Jin Eon masih menangis. Tangisnya baru berhenti saat mendengar suara Hae Gang.

‘Haruskah kita gantian berjaga? Carilah udara segar dan renggangkan kakimu sedikit. Bagaimana keadaannya?”


Jin Eon menyuruh Hae Gang mendekat. Tangis Hae Gang pun pecah saat dirinya berada di depan Presdir Choi yang masih tergolek tak sadarkan diri. Jin Eon lantas pergi meninggalkan mereka berdua. Setelah Jin Eon pergi, Hae Gang duduk disamping Presdir Choi.


“Ayah… Ayah…” panggil Hae Gang.

Seketika Presdir Choi bereaksi. Ia terbatuk, lalu membuka matanya.

“Ayah?” ucap Hae Gang.

“Aku bersalah.” Jawab Presdir Choi lemah.


Tangis Hae Gang pun kembali berjatuhan mendengarnya.

“Aku juga. Aku juga bersalah ayah.” ucap Hae Gang.

“Jin Eon….” jawab Presdir Choi.

“Katakan padanya itu bukan kau. Katakan padanya bahwa itu bukan kau, bahwa kau tidak melakukannya. Kumohon.” Pinta Hae Gang.

“Sesuai keinginanmu, aku akan memberitahunya sesuai dengan yang kau inginkan.” jawab Presdir Choi.

“Aku akan membawanya kemari, tunggu sebentar, tunggulah sebentar saja ayah.” ucap Hae Gang.


Hae Gang pun bergegas memanggil Jin Eon. Begitu mendengar ayahnya sudah sadar, Jin Eon langsung berlari ke sisi ayahnya.


“Aku tidak membunuhnya. Aku tidak melakukannya.” Ucap Presdir Choi.

Jin Eon pun langsung tersenyum lega. Begitu pula Hae Gang. 



Namun tiba2 saja mesin pendeteksi detak jantung memberi tanda bahwa detak jantung Presdir Choi sudah berhenti. Tangis Hae Gang pecah. Dan, Jin Eon terhenyak!!



Preview Ep 45

2 comments: