Wednesday, March 1, 2017

Defendant Ep 1 Part 1

Seorang tahanan tampak melarikan diri di tengah malam. Ketahuan, dia pun langsung diburu oleh petugas polisi dan anjing pelacak. Tahanan itu terus berlari, hingga akhirnya ia berhasil mencapai jalan raya. Tepat saat itu, sebuah container melaju kencang ke arahnya. Wajah si tahanan terkena cahaya lampu. Tahanan itu, Park Jung Woo! Bukannya menghindari dari container yang melaju ke arahnya, tapi dia malah diam di tempatnya dan menatap tajam container itu.



Seorang pria berhenti di lampu merah. Ia kemudian menelpon seseorang yang bernama Shin Cheol Sik. Pria itu marah karena Cheol Sik sudah menusuknya dari belakang. Cheol Sik yang saat itu sedang menghabiskan waktu bersama para wanita di sebuah klub pun berkata bahwa ia tidak mengerti apa yang dibicarakan pria yang ia panggil bos itu.

“Aku mendengarmu menyuruh seseorang untuk menabrakku dengan truk atau menenggelamkanku!” ucap pria yang dipanggil Cheol Sik dengan panggilan bos itu.

“Aku mengatakan itu karena aku sedang marah. Kau mencoba mengambil semuanya.” jawab Cheol Sik.

“Apa kau benar2 berpikir kau akan mendapatkan jalanmu sendiri? Akulah satu2nya orang yang akan mendapatkan mereka semua dibawah sayapku!” ucap si boss, lalu membanting ponselnya karena kesal.



Sebuah mobil berhenti di belakang mobil si boss. Tak jauh dari kedua mobil itu, ada sebuah truk yang sedang memata2i mereka. Tak lama kemudian, truk itu melaju kencang ke arah dua mobil itu. Si boss awalnya tidak ngeh bahwa truk itu mau menabraknya, tapi saat ia menyadari truk itu benar2 melaju padanya, ia terkejut. Truk itu pun langsung menghantam kedua mobil. Si boss juga pemilik mobil yang berhenti di belakang mobil si bos terluka parah.



Keesokan harinya, kita melihat Jung Woo yang mengantarkan gadis kecilnya ke sekolah. Sang anak berkata, kalau ia ingin memelihara seekor kucing namun Jung Woo tidak mengizinkannya. Begitu tiba di depan gerbang sekolah, Jung Woo menurunkan anaknya dari gendongannya, kemudian berpesan agar si anak bersikap baik pada guru dan temannya. Si anak pun mengangguk. Jung Woo kemudian menyuruh anaknya menciumnya dan lalu mereka melakukan toss.



Setelah anaknya masuk ke sekolah, Jung Woo mendapat panggilan dari seorang detektif.



Cheol Sik datang ke pemakaman. Anak buahnya langsung keluar untuk menyambutnya. Salah seorang yang berlari untuk menyambut Cheol Sik terpaksa memakai sandal kecil karena tidak ada sepatu di sana. Cheol Sik pun masuk, ia langsung disambut anak buahnya. Pemakaman yang dihadarinya ternyata pemakaman Kim Yong Joo, pria yang dipanggil boss oleh Cheol Sik.


Pria yang memakai sandal tadi mengeluh karena sandalnya kekecilan. Tak hanya itu, ia juga melakukan peregangan ketika yang lainnya menunduk memberi hormat pada Cheol Sik. Pria yang berdiri disamping Jung Woo pun langsung menegur Jung Woo yang tidak bersikap hormat pada Cheol Sik. Jung Woo pun menjawab, haruskah seorang jaksa membungkuk memberi hormat pada orang2 seperti mereka?



Mendengar Jung Woo adalah seorang jaksa, Cheol Sik pun langsung menatap tak senang pada Jung Woo. Namun ketika Jung Woo menatapnya, ia langsung tersenyum ramah. Jung Woo pun bertanya pada Cheol Sik, haruskah ia menunggu Cheol Sik di dalam?


Cheol Sik kemudian melakukan penghormatan terakhir pada Yong Joo. Saat melakukan penghormatan terakhir, ia pura2 menangis. Selesai melakukan penghormatan terakhir, Cheol Sik pun langsung keluar menghampiri anak buahnya. Saat melihat Jung Woo, ia pun langsung memberikan tatapan tak senangnya.

“Kau ingin aku melakukan apa?” tanya anak buah Cheol Sik sambil menunjukkan senjata yang dibawanya.

“Belum terlalu terlambat. Bos besar sedang mengawasi kita. Kita lakukan semuanya secara perlahan.” Bisik Cheol Sik.



Cheol Sik kemudian menghampiri Jung Woo. Dengan ramah, ia berkata kalau Jung Woo berani juga menemui mereka sendirian. Jung Woo pun menjawab kalau mereka tidak akan datang ke tempat seperti itu secara berkelompok karena mereka adalah orang2 sibuk.

“Bos besar menderita bertahun2 karena dirimu. Kita lihat saja apa dirimu bisa keluar dari sini hidup2.” Jawab Cheol Sik, sambil menuang sojunya.

“Apa maksudmu menderita?” tanya Jung Woo, lalu menatap anak buah Cheol Sik satu per satu.

Jung Woo lalu kembali menatap Cheol Sik.
“Sayang sekali, aku sudah berjanji kalau aku akan pulang lebih awal hari ini.”

“Kalau begitu telpon lah ke rumah dan katakan kau tidak bisa pulang lebih awal.” Ucap Cheol Sik.


Cheol Sik kemudian mengupil. Tak lama, salah seorang anak buahnya datang membawakan sup untuk Jung Woo. Cheol Sik kemudian mencelupkan jempol bekas upilnya ke dalam sup Jung Woo, kemudian mencuci jempolnya ke dalam soju Jung Woo.


“Baiklah, kita lihat saja siapa yang akan menjadi pemenangnya. Coba sedikit, aku kesini minggu lalu dan rasa makanannya sangat enak.” Ucap Jung Woo kemudian melahap sup ‘upil’ Cheol Sik itu. Cheol Sik pun terkejut melihatnya, begitu juga seluruh anak buah Cheol Sik.

“Aku mengirimkan surat panggilan ini berkali-kali. Kenapa kau tidak datang?” ucap Jung Woo sambil memberikan surat panggilannya.

“Apa kau di sini untuk menemuiku?” tanya Cheol Sik, ia lalu tertawa dan merobek surat panggilan itu.


Tepat saat itu, seluruh anak buah Cheol Sik berdiri dan siap menghajar Jung Woo.

“Meskipun aku merasa kasihan kepadamu. Kau bisa datang ke sini kapan pun kau mau, tapi tidak akan menjadi seperti itu setelah kau pergi.” Ucap Cheol Sik lagi.

“Tunggu sebentar. Apa kau benar-benar akan melakukan hal seperti ini? Ikuti saja aku dengan tenang.” Jawab Jung Woo setengah berbisik.

“Hei, aku pikir aku melihat ruangan kosong di sini. Pergi antar dia ke ruangan itu.” suruh Cheol Sik pada anak buahnya.

“Astaga. Apa kau ingin menghajar seorang jaksa atau apa?” tanya Jung Woo.

“Bosku merawat mereka dengan sangat baik. Mereka bahkan tidak tahu apa itu jaksa.” Jawab Cheol Sik.


Anak buah Cheol Sik pun langsung mencengkram jas Jung Woo. Namun Jung Woo yang masih belum kelar bicara, langsung menghempaskan tangan anak buah Cheol Sik dari kerahnya. Jung Woo lantas mendekati Cheol Sik dan bertanya apa Cheol Sik tidak akan menyesal melakukan itu padanya. Cheol Sik tidak menjawab pertanyaan Jung Woo dan malah menyuruh anak buahnya membawa Jung Woo pergi.


Jung Woo pun diseret keluar oleh anak buah Cheol Sik. Saat itulah, Jung Woo mengeluarkan sebuah rekaman dan memutar rekaman itu. Rekaman itu berisi percakapan Cheol Sik yang menyuruh seseorang untuk menabrak atau menenggelamkan Yong Joo. Kita lalu diperlihatkan flashback, ketika Cheol Sik yang duduk di mobilnya memberi perintah pada seseorang melalui telepon untuk membunuh Yong Joo. Saat itu, Cheol Sik tak sadar ada alat perekam di mobilnya.



Mendengar itu, anak buah Cheol Sik pun marah pada Cheol Sik yang sudah membunuh Yong Joo. Cheol Sik pun menyangkalnya dan menyebut rekaman itu omong kosong belaka. Jung Woo pun langsung mengeluarkan surat perintah penangkapan Cheol Sik atas tuduhan pembunuhan Kim Yong Joo. Cheol Sik ketakutan, dan ia pun berbisik pada Jung Woo.

“Kau benar2 ingin melakukannya?” bisik Cheol Sik.

“Kau bilang kau melihat ruangan kosong di sini.” Jawab Jung Woo dengan suara pelan juga.

“Dan kau menyebut dirimu jaksa? Ikuti saja hukum yang ada.” Ucap Cheol Sik.

“Kau bilang mereka tidak tahu apa itu jaksa.” Jawab Jung Woo.

“Kau juga tidak akan lolos.” Ucap Cheol Sik.



Seluruh anak buah Cheol Sik pun sudah bersiap untuk menangkap mereka berdua. Jung Woo berkata, kalau Cheol Sik seharusnya mengatakannya lebih cepat. Cheol Sik bertanya, apa yang akan dilakukan Jung Woo sekarang. Jung Woo pun mulai berhitung. Tepat di hitungan ketiga, Jung Woo mendorong Cheol Sik dan berusaha kabur sendiri. Cheol Sik yang sudi mati di tangan anak buah sendiri, berusaha sekuat tenaga untuk meloloskan diri.


Jung Woo dan Cheol Sik berhasil kabur keluar. Sambil lari, Cheol Sik bertanya kenapa Jung Woo datang sendirian? Jung Woo bilang kalau ia datang dengan detektif, Cheol Sik pasti tidak akan datang. Cheol Sik lantas mengaku kalau ia tidak membunuh Kim Yong Joo. Cheol Sik berkata, sebelumnya ia sudah melihat tubuh Yong Joo dan… Jung Woo pun memotong perkataan Cheol Sik dengan berkata mereka bisa membicarakan hal itu nanti.


Jung Woo terus berlari menuju mobil yang ditunggui Tuan Go. Cheol Sik tampak mengekori Jung Woo. Jung Woo berteriak, menyuruh Tuan Go membuka pintu mobil agar ia dan Cheol Sik bisa langsung masuk ke mobil.



Cheol Sik dijebloskan ke dalam sel. Di dalam sel, Cheol Sik terus berteriak kalau bukan dia pembunuhnya. Ia juga menanyakan dimana jaksanya. Jung Woo sendiri sudah sampai di kantornya. Tuan Go berkata, kalau seharusnya mereka membawa pasukan karena itu sangat berbahaya. Jung Woo pun menjawab, kalau mereka tidak bisa menangkap Cheol Sik seperti itu karena Cheol Sik itu cerdas.


“Kalau begitu kau harus menelepon polisi. Itu sangat beresiko.” Ucap Tuan Go.

“Aku benar-benar baik-baik saja sekarang.” jawab Jung Woo.

“Kau tidak baik-baik saja. Dimana sepatumu?” tanya Tuan Go.

Dan Jung Woo pun terkejut menyadari dirinya berlari tanpa sepatu. Tuan Go pun protes, karena Jung Woo lagi2 melukai diri. Ya, kaki Jung Woo terluka.



Begitu tiba di ruangannya, Jung Woo ternyata sudah ditunggu oleh seorang tamu. Dia adalah, Yeo Seong Soo dari Firma Hukum Lee & Park.  Seong Soo mengajak Jung Woo bergabung ke dalam firma hukumnya. Ia berkata, kalau Jung Woo mau bergabung dengan firma hukumnya, maka kualitas hidup Jung Woo pun akan meningkat.

“Ini adalah keputusan yang cukup besar untuk aku buat sendiri. Biarkan aku menelepon dulu.” Jawab Jung Woo.


Jung Woo lalu menghubungi seseorang yang bernama Ji Soo. Siapakah Ji Soo? Dia adalah istri Jung Woo. Begitu Ji Soo menjawab panggilannya, Jung Woo pun me-loudspeaker pembicaraan mereka agar Seong Soo bisa mendengar jawaban Ji Soo.

“Sebuah firma hukum baru saja menawari aku pekerjaan. Dia mengatakan mereka akan membayar dengan gaji tahunan setiap bulannya.” Ucap Jung Woo.

“Uang? Kalau ini adalah tentang uang, aku juga bisa menghasilkan uang. Itu hanya sekadar jumlah uang. Aku menikah karena aku ingin menjadi seorang istri jaksa. Ini sama sekali bukan tentang uang. Kau terlihat fantastis saat kau berada di kantor kejaksaan. Bahkan jangan berpikir tentang hal itu. Benar. Jangan lupa untuk mengambil kue. dalam perjalanan pulang. Aku memesan satu dengan namamu. Sampai jumpa.” Jawab Ji Soo, lalu menyudahi pembicaraan mereka.

Ji Soo bekerja sebagai pelayan di sebuah supermarket. Begitu pelanggannya datang, Ji Soo pun bergegas melayaninya.

Kembali ke Seong Soo yang langsung beranjak pergi setelah mengetahui jawaban Jung Woo atas tawaran kerja samanya. Namun sebelum pergi, Jung Woo berkata pada Seong Soo kalau ia akan memeriksa kasusnya dengan hati2.


Kasus yang dimaksud Jung Woo adalah kasus Presdir Cha. Begitu keluar dari ruangan Jung Woo, Seong Soo langsung menghubungi Presdir Cha. Presdir Cha mengerti, kemudian mengakhiri pembicaraan mereka. Tak lama kemudian, Presdir Cha diberitahu seketarisnya kalau sudah waktunya dan Presdir Cha pun mengiyakan. Presdir Cha kemudian menghampiri seorang wanita, tapi wanita itu malah tegang melihat Presdir Cha.

“Kenapa kau tidak tersenyum? Ini adalah hari yang baik.” Ucap Presdir Cha.



Presdir Cha kemudian menggenggam erat tangan wanita itu. Di hadapan beberapa wartawan, wanita itu terpaksa menyunggingkan senyumnya. Presdir Cha dan wanita itu kemudian masuk ke sebuah ruangan dimana semua orang sudah berkumpul untuk merayakan resminya Cha Seon Ho menjadi seorang Presdir.  Presdir Cha lantas merangkul wanita itu, dan lagi2 wanita itu merasa tidak nyaman.


Sudah waktunya pulang dan semua pegawai Jung Woo pun menitipkan hadiah untuk Ha Yeon pada Jung Woo. Ha Yeon rupanya berulang tahun hari itu, dan pegawai Jung Woo merasa senang karena berkat Ha Yeon mereka bisa pulang tepat waktu setahun sekali.

“Tuan Park, apa kau memiliki rencana untuk memiliki anak kedua? Kau tahu pemerintah merekomendasikan keluarga dengan banyak anak.” Ucap Tuan Go.

“Haruskah aku mencobanya malam ini?” tanya Jung Woo.

Pegawai Jung Woo pun langsung heboh, mereka kemudian kompak meneriakkan fighting untuk Jung Woo.



Sebelum pulang, Jung Woo mampir ke toko kue untuk mengambil pesanan kue yang dipesan Ji Soo atas namanya. Si penjaga toko pun berkata kalau ia tak menemukan pesanan atas nama Jung Woo, yang ada di dalam daftar pesanan atas nama Park Bong Goo. Mendengar itu, Jung Woo pun langsung meralat kalau namanya adalah Park Bong Goo.



Jung Woo pulang ke rumah. Dan benar saja, Ji Soo memang memesan kue atas nama Park Bong Goo. Begitu Jung Woo pulang, Ha Yeon pun langsung menyambutnya dengan gembira. Di sana juga ada Tae Soo yang sengaja datang untuk memberikan hadiah ulang tahun pada Jung Woo.

“Kenapa kau menyebut dirimu Bong Goo sebelumnya?” tanya Ha Yeon pada ayahnya.

“Saat ayah dan ibu mulai berkencan, ibumu memanggilku Bong Goo.” Jawab Jung Woo.

“Kenapa?” tanya Ha Yeon.

“Karena ayah dulu terlihat kampungan.” Jawab Ji Soo.

“Itu tidak benar.” ucap Jung Woo.



Dan mereka pun akhirnya tertawa. Tae Soo kemudian pamit karena dia harus bekerja malam itu. Jung Woo mengajak Tae Soo makan kue dulu sebelum pergi, tapi Tae Soo menolak dan berkata ia akan memakan kuenya tahun depan. Sebelum pergi, Tae Soo berjanji akan membawa Ha Yeon jalan2 ke taman hiburan pada hari libur.



Mereka bertiga lalu menyanyikan lagu selamat ulang tahun untuk Ha Yeon. Ha Yeon pun langsung cemberut saat sang ayah salah menyebutkan umurnya ketika menyanyikan lagu ulang tahun untuknya. Ji Soo yang merekam, memberi kode pada Jung Woo kalau Jung Woo salah menyebutkan umur Ha Yeon. Jung Woo pun buru2 meralatnya. Rasa tak senang Ha Yeon makin bertambah saat melihat semua hadiahnya berupa boneka binatang termasuk hadiah dari ayahnya. Tapi ia langsung berseru senang saat diberi kode oleh sang ibu.


Jung Woo kemudian menemani Ha Yeon tidur dengan menyanyikan lagu nina bobo. Tapi Ha Yeon tak kunjung tidur. Saat Jung Woo bertanya, kenapa Ha Yeon masih belum tidur, Ha Yeon pun berkata ia akan tidur setelah Jung Woo selesai bernyanyi. Jung Woo pun terus bernyanyi, hingga akhirnya Ha Yeon mulai tidur.



Ji Soo masuk ke kamar Ha Yeon dan mendapati Jung Woo yang ketiduran dengan Ha Yeon. Ji Soo kemudian membangunkan Jung Woo. Jung Woo terbangun, dan keduanya lalu tersenyum menatap Ha Yeon yang sudah tertidur pulas. Jung Woo lantas membelai Ha Yeon, sebelum akhirnya ia dan Ji Soo kembali ke kamar mereka.



Di kamar, Ji Soo mengobati luka di kaki Jung Woo. Jung Woo pun meringis saat Ji Soo mengobati lukanya. Ji Soo pun meminta Jung Woo jangan cengeng. Ia berkata bagaimana Jung Woo bisa jadi jaksa kalau Jung Woo menjadi seorang yang pengecut.

“Kau ingat Tuan Joo? Dia menjadi jaksa karena dia mudah takut.” Jawab Jung Woo.


Jung Woo kemudian menanyakan apa ibu Ji Soo sampai dengan selamat? Ji Soo berkata bahwa ibunya sangat merindukan Ha Yeon saat ibunya berada di luar negeri. Jung Woo lalu mulai berbaring sambil berkata kalau mereka bisa pergi ke sana lain kali.

“Kapan itu?” tanya Ji Soo.

“Jangan berkata seperti itu. Sebuah firma hukum menawarkan pekerjaan hari ini. Haruskah aku menerima tawaran itu?” ucap Jung Woo.

“Pergilah tidur, Bong Goo-ssi. Kau harus bangun pagi besok.” Jawab Ji Soo, sambil menyelimuti Jung Woo.

“Itu benar. Aku ada pertemuan di pagi hari. Aku harus mengikuti aturan.” Ucap Jung Woo.

“Apa?” tanya Ji Soo.

“Tidak ada. Jam enam. Tolong bangunkan aku jam 6 pagi.” Jawab Jung Woo.


Jung Woo pun mulai tertidur. Saat Jung Woo mulai tertidur, Ji Soo mencium keningnya dan bergumam kalau suaminya itu terlihat sangat kelelahan.



Keesokan harinya, Jung Woo terbangun karena suara Ha Yoon dan Ji Soo. Namun begitu ia membuka mata, ia sudah mengenakan seragam tahanan nomor 3866 dan dikelilingi para napi lainnya. Jung Woo terkejut setengah mati. Seong Gyu pun diberi tugas oleh salah satu napi yang paling tua diantara mereka untuk mengawasi keadaan diluar.

“Dimana aku?” tanya Jung Woo.

“Kau ada di penjara. Ada apa, narapidana 3866? Kau tidak tahan berada di sini? kau terbiasa mengirim orang ke penjara.” Jawab napi lainnya.

“Aku seorang jaksa di...”

“Aku sudah tahu. Kau seorang jaksa pembunuhan di Distrik Pusat Seoul. Kau menempatkan cukup banyak orang di penjara ini.” jawab napi itu.

“Apa kau tahu siapa aku?” tanya Jung Woo.

“Mengecewakan sekali. Kita mandi bersama-sama kemarin. Apa kau tidak ingat? Aku bahkan menggosok punggungmu untukmu.” Jawab napi itu.


Jung Woo lalu teriak2 mencari istri dan anaknya. Napi itu pun berkata kalau Jung Woo sudah membunuh mereka. Napi yang tua pun marah dan menggeplak kepala napi yang mengatakan Jung Woo sudah membunuh Ha Yeon dan Ji Soo.

“Sudah aku katakan untuk tidak bercanda tentang hal itu. Apa kau tidak tahu kenapa penandanya berwarna merah? Belum diputuskan bahwa dia akan dieksekusi.” Ucap napi yang tua.

 

Jung Woo kebingungan. Ia berkata bahwa dirnya sedang tidur di rumah. Napi yang tadi memberitahu bahwa Jung Woo membunuh Ha Yeon dan Ji Soo pun berkata bahwa Jung Woo sudah dipenjara selama tiga bulan. Napi itu kemudian menyodorkan kaca pada Jung Woo. Jung Woo syok melihat penampilannya di kaca.



Tiba2, Seong Gyu teriak kalau polisi datang. Napi yang paling tua pun langsung menarik Jung Woo untuk duduk berbaris bersama mereka. Begitu melihat polisi, Jung Woo langsung berdiri dan menghampiri polisi. Ia meminta izin untuk menelpon, tapi polisi tidak mengizinkannya. Jung Woo memaksa. Seong Gyu yang tak mau Jung Woo dapat masalah lagi pun langsung menarik paksa Jung Woo untuk duduk bersama mereka. Ia mengingatkan kalau sipir yang akan melakukan absen malam ini. Ia meminta Jung Woo menjaga sikap agar tidak dihukum lagi.


Sipir pun datang dan mulai mengawasi pengabsesan narapidana. Mereka diabsen dengan cara berhitung. Tiba giliran Jung Woo, Jung Woo tak menjawab. Seong Gyu pun mengabsenkan Jung Woo. Ia menyebut lima untuk Jung Woo dan enam untuk dirinya. Sipir yang tahu Jung Woo tidak menjawab, langsung menyuruh petugas membuka pintu.


Sipir langsung menghampiri Jung Woo. Begitu sipir masuk, yang lain langsung berdiri memberi hormat namun tidak dengan Jung Woo. Jung Woo duduk di tengah kebingungannya sambil menyebut nama Ha Yoon. Sipir pun bertanya, apa Jung Woo hilang ingatan lagi? Jung Woo berkata kalau ia harus kembali ke rumahnya.

“Ini adalah rumahmu sekarang. Beritahu aku kalau kau membutuhkan sesuatu.” Jawab sipir.

“Aku perlu menelepon. Biarkan aku menelepon.” Pinta Jung Woo.

“Tapi kau tidak memiliki siapapun untuk ditelepon sekarang.” jawab sipir.

Namun sipir tetap meminjamkan ponselnya. Jung Woo pun bergegas menghubungi Ji Soo, namun ponsel Ji Soo tak bisa dihubungi meski ia mencobanya berkali2. Jung Woo terkejut. Sipir pun langsung mengambil ponselnya dan meminta Jung Woo menerima kenyataan mulai sekarang.


“Apa ini kenyataan?” gumam Jung Woo, lalu menerjang sipir.

“Ini tidak masuk akal. Aku tertidur di rumah kemarin. Aku bersama Ji Soo. Dimana Ji Soo dan Ha Yeon!” teriak Jung Woo.


Para petugas pun langsung menarik Jung Woo. Sipir menyuruh anak buahnya memasukkan Jung Woo ke ruangan lain. Sipir melihat Jung Woo yang diseret pergi dengan tatapan senang dan bergumam bahwa jaksa bukanlah sesuatu yang istimewa.



Jung Woo dimasukkan ke ruang isolasi. Jung Woo terus berteriak2 memanggil istri dan anaknya. Ia bahkan berusaha mendobrak pintu. Jung Woo lalu duduk dan mencoba mengingat2 semuanya. Dan dalam ingatannya kalau kemarin ia masih merayakan ulang tahun Ha Yeon bersama Ji Soo. Jung Woo lantas melihat luka di kakinya yang sudah sembuh.

“Tidak masuk akal. Omong kosong.” Gumam Jung Woo.


Tangis Jung Woo kemudian pecah. Dalam tangisnya, ia memanggil2 istri dan anaknya. Jung Woo kemudian berteriak, KENAPA!!!!

Lalu kita pun mendengar narasi Jung Woo…

“Rasanya seperti ulang tahun Ha Yeon baru saja kemarin, tapi ternyata sudah empat bulan lalu. Aku menjadi narapidana hukuman mati yang membunuh Ji Soo dan Ha Yeon. Dan aku tidak memiliki ingatan tentang itu... sama sekali.”


Fix, aku jatuh cinta sama drama ini…. asli penasaran gilaaak kenapa Jung Woo bisa dituduh membunuh Ha Yeon dan Ji Soo, tapi benarkah Ha Yeon sudah mati??? Melihat Jung Woo yang tidak ingat sama sekali kalau dia sudah membunuh istri dan anaknya, mengingatkanku pada serialnya Park Hae Jin, Bad Guys… di sana, Park Hae Jin (aku lupa nama perannya) dituduh sebagai pelaku pembunuhan berantai. Tapi kemudian terungkap, kalau pelakunya adalah Jaksa Oh (diperankan Kim Tae Hoon). Jadi Park Hae Jin ini dicekoki obat gitu, dalam pengaruh obat dia diminta membunuh seseorang tapi alam bawah sadarnya yang membuat dirinya tidak melakukan pembunuhan itu. Jadi dia hanya keliaran di sekitar calon korbannya tanpa membunuh korbannya, dan yang membunuh korbannya adalah Jaksa Oh…

Aku curiga sama Presdir Cha… Jung Woo kan lagi nanganin kasus Presdir Cha tuh, ditambah lagi Jung Woo juga menolak tawarannya Seong Soo atas perintah Presdir Cha… Bisa aja kan Presdir Cha yang ngebunuh Ha Yoon dan Ji Soo untuk menjebak Jung Woo. Tapi aku masih berharap, Ha Yeon masih hidup…

No comments:

Post a Comment