Saturday, May 13, 2017

Ruler : Master Of The Mask Ep 1 Part 2

Sebelumnya...

Dae Mok dengan senang hati menyampaikan pada kelompoknya, bahwa kelompok mereka akan bertanggung atas Biro Penyediaan Air. Biro Penyediaan Air akan dibangun di seluruh Joseon dan anak buahnya akan menjadi Kepala dari masing2 biro. Anak buah Dae Mok pun langsung bersorak gembira.


Sementara di istana, Raja menyuruh Kepala Prajurit Lee untuk menutup istana Pangeran dan tidak ada yang boleh masuk ke sana tanpa seizinnya. Youngbin Lee pun bingung dan bertanya kenapa Raja melakukan itu. Raja berkata, ia melakukannya demi keselamatan Pangeran sendiri.

“Kelompok Pyunsoo akan mencoba membuatnya bergabung dengan mereka. Mereka akan membunuhnya jika saya menolak.Bahkan jika dia ingin menjadi raja yang hebat, jika dia bergabung dengan kelompok tersebut, dia hanya akan berubah menjadi boneka seperti saya. Dia tidak boleh seperti saya. Anak ini... harus menjadi raja sejati. Untuk mencegahnya bergabung, kita harus menyembunyikan wajahnya. Namun, ada mata-mata di mana-mana dari Kelompok Pyunsoo. Saya membuat keputusan ini untuk menyelamatkan hidupnya. Mohon menerimanya.” Ucap Raja.


Youngbin Lee tampak terpukul dengan kenyataan itu. Raja lalu kembali menatap wajah anaknya dan berkata bahwa ia akan menemukan cara untuk melindungi anaknya apapun yang terjadi.

“Kepala Lee, mulai sekarang, satu-satunya orang yang tahu wajah Pangeran... hanya aku, Nyonya Yi dan kau. Jika ada orang lain yang melihat wajahnya, bunuh mereka.” Perintah Raja.


Kelompok Pyunsoo mulai mengawasi orang2 yang mereka pekerjakan. Sekarang, rakyat harus membayar untuk air. Air itu dihargai murah dan diantarkan dari rumah ke rumah sehingga rakyat merasa sangat terbantu. Namun yang jadi masalah, mereka juga mengambil pasokan air dari sumur yang tak pernah kering.


Beberapa wanita tampak menimba air dari sumur tapi sumur itu sudah kering dan mereka hanya bisa mengelus dada melihat anak buah Dae Mok menguasai sumur sebelah dan memberikannya pada orang2 yang mampu membeli air.

Raja sangat marah saat mendapat laporan tentang apa yang dilakukan Dae Mok itu, namun ia tak bisa berbuat apapun pada akhirnya. Kepala Lee lantas melaporkan bahwa ia sudah menyebar rumor kalau wajah Pangeran harus disembunyikan karena penyakit. Rakyat mempercayai hal itu. Kelompok Pyunsoo menganggap penyakit itu lantaran racun yang mereka berikan.

Namun saat Pangeran yang masih balita itu dimandikan, seseorang melubangi sekat pintu dan mencoba mengintipnya. Pangeran pun dengan polosnya menunjuk ke arah si pengintip. Si pengintip terkejut dan bergegas lari. Sementara Youngbin Lee langsung menutupi wajah putranya dengan badannya dan Raja langsung menyuruh Kepala Lee mengejar si pengintip.

Si pengintip ternyata seorang kasim. Dia berusaha meyakinkan kalau dia tidak melihat wajah Pangeran tapi Kepala Lee tidak peduli dan langsung menebasnya tanpa ampun.


Saat Pangeran tidur, Raja pun memakaikan sebuah topeng ke wajah Pangeran dan berharap Pangeran akan bertahan dari serangan Kelompok Pyunsoo.

“Kembangkan kekuatanmu untuk melawan mereka, lepaskan topeng ini suatu hari nanti, dan jadilah kaisar sejati.” Ucap Raja.

14 tahun berlalu…


Para pemain sandiwara sedang menampilkan pertunjukan dengan menggunakan topeng dan wajah Pangeran Lee Sun sebagai candaan.


Sementara di istana, beberapa dayang istana berkumpul di pojokan dan menggosipkan Dongungjeon, sebuah ruang rahasia yang hanya boleh dimasuki Pangeran. Jika sampai ada orang lain yang memasuki ruangan itu, maka harus dibunuh. Lagi asyik menggosip, kasim Pangeran pun datang dan langsung menghardik mereka. Sontak, ketiga dayang itu langsung kabur.


Kasim mau mengejarnya tapi Pangeran datang dan menegurnya karena ia sudah memberikan tugas yang lebih penting ketimbang menghardik dayang2 itu. Kasim pun langsung menunjukkan buku2 dibalik lengannya. Pangeran tersenyum melihat itu.


Di ruangannya, Pangeran membaca buku2 itu. Ternyata Lee Sun sedang mencari tahu alasan kenapa ia harus memakai topeng lewat buku2 itu dan ia pun bingung sendiri karena tidak ada catatan yang menunjukkan dirinya sakit. Namun ada catatan yang mengatakan kalau Tabib Park dan Woo Shim berusaha memeriksanya tapi kemudian ia diperiksa oleh seseorang yang bukan tabib dan orang itu diangkat menjadi tabib kerajaan.

Saat jalan2 mengelilingi istana, Raja memberitahu Pangeran tentang rencananya memilih Putri Mahkota dan menanyakan pendapat Pangeran. Pangeran pun tersenyum sinis dan bertanya bolehkah Putri Mahkota melihat wajahnya atau Putri Mahkota harus mengabdi padanya tanpa pernah melihat wajahnya.

“Putra Mahkota!” sentak Raja.


“Katakan sekarang, Ayah! Apa alasan sebenarnya saya harus memakai topeng ini? Jangan bilang itu karena penyakit saya. Aku tidak ingin mendengar kebohonganmu lagi.” Ucap Pangeran.

Pangeran lalu berusaha melepas topengnya. Sontak, Kepala Lee langsung mencabut pedangnya dan menghunus pedang ke arah kasim dan para dayang. Kasim dan para dayang pun langsung bersujud ke lantai. Pangeran terpukul dengan kenyataan itu.

“Jika saya melepas topeng ini, seseorang akan ada yang mati, kan?” ucapnya sedih.

“Sudah kukatakan bahwa kau menderita penyakit. Bila kau benar-benar pulih dari itu, aku akan membiarkanmu melepas topeng.” Jawab Raja yang membuat Pangeran semakin terluka.


Lee Sun bersedih di ruangannya. Tak lama kemudian, kasimnya datang menyerahkan buku lain tanpa berani melihat wajahnya. Lee Sun memukul pelan kepala kasimnya karena kecewa dan mengambil  buku itu. Lee Sun membaca buku itu. Dalam buku itu disebutkan, saat ia kritis, tabib istana bernama Woo Shim dan seorang pengajar Sungkyunkwan bernama Woo Bo datang.

Lee Sun pun langsung memanggil salah satu gurunya untuk menanyakan soal Woo Boo.

“Dia berpengalaman dalam setiap bidang studi termasuk pembelajaran Barat, Karakter Cina, sejarah, dan bahkan geografi.” Ucap gurunya.

“Apakah dia...seorang ahli kedokteran juga?” tanya Lee Sun.

“Tentu saja.Keterampilannya sama bagusnya dengan seorang tabib di Balai Pengobatan.” Jawab sang guru.


Di depan istana, Kim Hwa Gun keluar dari tandunya dan masuk ke istana bersama ayahnya. Ratu dan sang ayah kemudian membicarakan soal Hwa Gun yang menjadi salah satu kandidat Putri Mahkota. Disaat ayahnya dan Ratu sibuk membahas itu, Hwa Gun yang duduk di belakang sibuk memainkan jarumnya dengan wajah bosan. Pembicaraan ayahnya dan Ratu sempat terganggu karena Hwa Gun tanpa sengaja menjatuhkan jarumnya dan menimbulkan suara berisik.

“Saya minta maaf, Yang Mulia.” Ucap sang ayah.

“Tidak masalah. Dia pasti sudah bosan dengan percakapan orang dewasa.” Jawab Ratu.

Ratu lalu bertanya pendapat Hwa Gun yang menjadi salah satu kandidat Putri Mahkota.

“Saya tidak tertarik untuk menjadi Putri Mahkota.” Jawab Hwa Gun yang langsung kena semprot ayahnya. Namun Ratu malah menyukai kejujuran dan keberanian Hwa Gun itu.

Ratu lalu menyuruh Dayang Han membawa Hwa Gun berkeliling istana. Sang ayah komat kamit menasehati Hwa Gun agar Hwa Gun tak membuat masalah.

Saat berkeliling istana, mereka melewati ruang rahasia. Hwa Gun pun menanyakan soal kabar tentang banyaknya bunga langka di ruang rahasia itu. Dayang Han membenarkan dan berkata kalau hanya Putra Mahkota lah yang boleh masuk kesana.

“Bagaimana jika saya ingin masuk?” tanya Hwa Gun.

“Aku meninggalkan kantongku di Jungungjeon. Maukah kau mengambilkannya untukku?” tanya Hwa Gun.

Dayang Han mengangguk dan bergegas pergi. Begitu Dayang Han pergi, Hwa Gun pun langsung menyelinap masuk ke ruang rahasia itu.

Begitu masuk, ia melihat jubah Putra Mahkota. Tapi perhatiannya teralihkan karena banyaknya bungka langka di sana. Saat dirinya sedang terkagum2 melihat bunga langka itu, ia dikejutkan dengan suara pria. Ia menoleh ke belakang dan melihat seorang pria yang duduk membelakanginya sambil bicara sendiri.

“Saya yakin tentang ini. Orang ini bernama Woo Bo. Dia bukan pejabat pemerintahan Joseon, jadi dia mungkin bisa memberitahuku yang sebenarnya.” ucap Lee Sun pada topengnya.

Lee Sun kemudian berdiri dan terkejut melihat sosok Hwa Gun. Hwa Gun yang tak tahu pria di hadapannya adalah Putra Mahkota, malah menyuruh Lee Sun memindahkan bunga2 itu ke dalam pot.

No comments:

Post a Comment