Thursday, May 18, 2017

Ruler : Master Of The Mask Ep 3 Part 2

Sebelumnya...

  
Dalam perjalanan pulang, duo Lee Sun saling berbicara. PM Lee Sun heran Lee Sun tak bisa ikut ujian pemerintah tapi masih suka belajar.

“Faktanya bahwa aku hari ini akan berbeda dengan aku hari esok. Dan perasaan bahwa belajar meningkatkan kepribadianku membuat jantungku berdegup kencang.” Jawab Lee Sun.

“Itu...membuat jantungmu berdegup kencang?” tanya PM Lee Sun heran, lalu tertawa.

“Aneh sekali.” Ucap PM Lee Sun, yang langsung dibalas oleh tatapan tajam Lee Sun.


Pembicaraan keduanya terhenti karena mereka sudah tiba di rumah Lee Sun. Namun PM Lee Sun hanya menunggu diluar. Melihat ke arah Ga Eun dan Lee Sun, PM Lee Sun berkata bahwa memiliki hubungan dengan seseorang adalah sesuatu yang membuat jantungnya berdebar. Namun tiba-tiba, terdengar teriakan panik Ga Eun dan Lee Sun.


Ibu Lee Sun hendak melahirkan, namun ia dehidrasi dan itu bisa membahayakan nyawa ibu dan si bayi. Ibu Lee Sun meyakinkan kalau ia baik2 saja dan bidan akan segera datang jadi Ga Eun tak perlu cemas. Ga Eun pun berteriak pada duo Lee Sun yang menunggu diluar kalau ia butuh air.

  
Lee Sun panik karena mereka tak punya air. PM Lee Sun mengajak Lee Sun mengambil air. Lee Sun berkata, petugas Biro Persediaan Air menutup sumur, jadi tak ada tempat bagi mereka bisa mendapatkan air. Tak lama kemudian, Ga Eun keluar dan mengajak Lee Sun membeli air.


PM Lee Sun tercengang, mereka tidak bisa mendapatkan air darimanapun kecuali dari Biro Persediaan Air?


Di istana, Raja lagi memarahi Chun Soo dan terus menyuruh Chun Soo memanggilnya dengan sebutan abamama. Chun Soo yang ketakutan, tak bisa menyebut kata itu dengan benar, sehingga Raja menyuruhnya berulang2 mengucapkan kata itu.

“Tidak ada yang perlu kau takutkan! Kau adalah Lee Sun yang sebenarnya!” bentak Raja.


Seseorang diam2 mengintip mereka dan melaporkannya pada salah satu orangnya Dae Mok. Orang itu menyebut kalau Raja menyembunyikan Putra Mahkota dibawah tanah. Tidak ada pergerakan yang mencurigakan dari Putra Mahkota tapi kasimnya  Putra Mahkota menghilang. Orangnya Dae Mok pun terkejut.



Ketiganya sampai di sumur, tapi penjaga menghalangi mereka masuk. Ga Eun mencoba bernegosiasi. Ia berkata, ini sangat mendesak karena nyawa ibu dan adiknya Lee Sun yang akan lahir dalam bahaya.

“Apapun situasi kalian, kami tidak menjual air pada jam segini. Jadi pergilah sekarang juga!” tolak penjaga.

“Dia bilang nyawa seseorang sedang dipertaruhkan!” sentak PM Lee Sun.

PM Lee Sun berusaha menerobos masuk, tapi penjaga menghalanginya dan berusaha memukulnya. PM Lee Sun marah, apa kalian tahu siapa aku? Aku adalah Putra Mahkota dari negeri ini!

Tepat saat itu, Lee Chung Woon lewat dan terdiam mendengar ucapan PM Lee Sun. PM Lee Sun terdiam menyadari ia keceplosan. Ia pun buru2 meralat ucapannya dengan mengaku sebagai temannya Putra Mahkota. Chung Woon terus memperhatikan PM Lee Sun. Pengawal pun menegur Chung Woon dan berkata mereka harus bergegas karena Raja bilang ini situasi darurat.

“Jika kau teman Putra Mahkota, aku adalah saudaranya Raja!” ucap penjaga meledek PM Lee Sun.

“Ini sungguh mendesak. Tolong ijinkan kami 1 ember air saja.” Bujuk Ga Eun.

“Jika begini, ibuku dan adikku akan mati!” teriak Lee Sun.

“Aku akan memberimu harga 10 kali lipat. Tidak, aku akan memberimu harga 100 kali lipat. Aku akan membayar berapapun harga yang kau minta, tolong buka pintunya!” perintah PM Lee Sun.
“Jika kau tidak pergi sekarang, kami akan menghukummu!” ancam penjaga.

Tak lama kemudian, ayah Lee Sun datang dan memaksa penjaga membiarkannya masuk. Ia juga menyelipkan uang ke tangan penjaga. Penjaga pun mengizinkan ayah Lee Sun masuk. Lee Sun hanya bisa melongo melihat aksi sang ayah. Sementara PM Lee Sun mendesis sebal.

Hwa Gun, Woo Jae dan Tae Ho melintas di sana tepat saat ayah Lee Sun keluar membawa air. Penjaga pun mau mengejar ayah Lee Sun, tapi duo Lee Sun langsung menghalanginya sampai ayah Lee Sun pergi cukup jauh.


“Kita harus memberi tahu ayah bahwa penjagaan Biro Persediaan air sangat buruk.” Desis Woo Jae sebal.

Setelah yakin ayah Lee Sun sudah pergi cukup jauh, duo Lee Sun dan Ga Eun pun bergegas pergi. Hwa Gun menoleh ke arah mereka dan terkejut melihat luka titik di belakang telinga PM Lee Sun.

“Putra Mahkota?” gumamnya.


“Aku akan pastikan bahwa hal seperti ini tidak akan terjadi lagi. Jadi tolong, jangan katakan pada Tuan Dae Mok.” Pinta Tae Ho.

Ayah Lee Sun langsung menggendong putrinya yang baru lahir. Ibu dan bayinya selamat. Ayah Lee Sun memberinya nama Kko Mool. Lee Sun protes, nama apa itu? Terlebih untuk anak gadis…

“Apa salahnya dengan nama itu?” jawab ayah Lee Sun membela diri.


Ayah Lee Sun lalu menawari Ga Eun menggendong Kko Mool. Ga Eun pun langsung mengangguk antusias dan menggendong Kko Mool. Begitu Kko Mool berada di gendongan Ga Eun, duo Lee Sun kompak memandangi Kko Mool. PM Lee Sun bahkan menyentuh wajah si mungil.

“Aku paham kalian terburu-buru tapi kalian telah mencuri air dari Biro Persediaan air. Apa kau akan baik-baik saja?” tanya Woo Bo cemas.

“Apa kau tidak mengenalku Tuan? Aku akan baik-baik saja.  Aku bekerja sebagai penjaga air di sana. Yang harus aku lakukan adalah minta maaf atas kesalahanku, dan membayar dua kali lipat pada mereka.” Jawab ayah Lee Sun.

Namun Woo Bo tak bisa menampik rasa cemasnya. Sama hal nya dengan Lee Sun.


Chung Woon berlutut pada Raja dan meminta maaf karena ia tak tahu bagaimana wajah PM Lee Sun. Di ranjang, Chun Soo tertidur dengan jubah dan topeng PM Lee Sun. Raja pun berbalik, ia menatap Chung Woon dan menyuruh Chung Woon melakukan apa yang dia minta, ditambah lagi Chung Woon adalah guru sekaligus teman dekat PM Lee Sun.

“Tidak ada yang mengenalnya lebik baik dari kau. Kau harus menemukannya tanpa diketahui siapapun.” Ucap Raja.

“Cari ke semua tempat yang mungkin dia datangi.Kita hanya bisa berharap bahwa Putra Mahkota akan mengenalimu lebih dulu atau kau yang mengenali suaranya.” Jawab Kepala Lee yang tak lain adalah ayah Chung Woon.

“Suaranya…?” gumam Chung Woon, lalu teringat pada pemuda yang mengaku temannya PM Lee Sun.

“Aku tidak begitu yakin, tapi ada 1 tempat yang harus aku cari lebih dulu.” Ucap Chung Woon pada Raja.


Chung Woon langsung menemui penjaga air. Ia mencengkram baju si penjaga air. Penjaga air ketakutan. Chung Woon menanyakan soal pemuda yang datang mengambil air 6 jam yang lalu. Si penjaga air dengan wajah ketakutan berkata kalau ia tak kenal pemuda itu tapi ia kenal dengan si pembawa air.

“Dimana rumahnya?” tanya Chung Woon.

“Di... Di daerah Seosomun.” Jawab penjaga air terbata2.

Tepat saat itu, Woo Jae dan Hwa Gun keluar dari Biro Persediaan Air dan melihat Chung Woon. Woo Jae penasaran dengan apa yang dilakukan putra Panglima Kerajaan di jam segitu.

“Putra Panglima Kerajaan?” tanya Hwa Gun.

“Ya, dia cukup dekat dengan Putra Mahkota.” Jawab Woo Jae.

Dae Mok menanyakan soal PM Lee Sun pada ketiga menterinya. Menteri Heo berkata, bahwa Putra Mahkota disembunyikan di ruang bawah tanah untuk waktu yang lama.


“Tapi berdasarkan informasi yang kami peroleh... ada dua Lee Sun yang tinggal di Jongmyo. Bagaimana jika kita menangkap mereka bertiga dan membuat mereka menghilang selamanya?” ujar Menteri Joo.

“Oh, aku juga dengar salah satu kasim Putra Mahkota telah menghilang dan Panglima Kerajaan mencarinya sepanjang malam.” Ucap Menteri Heo, membuat Dae Mok terkejut.

Hwa Gun tiba2 datang dan langsung menanyakan keberadaan Putra Mahkota. Dae Mok karuan saja kaget. Ia heran kenapa cucunya mendadak tertarik dengan Putra Mahkota. Menteri Joo berkata, Putra Mahkota ada di Jongmyo untuk melakukan ritual.

“Apa kau yakin orang yang ada di Jongmyo yang memakai topeng adalah dia?” tanya Hwa Gun, membuat mereka semua tercengang.

Hwa Gun lalu menyuruh kakeknya mencari tahu kebenarannya.

“Dan kenapa kau berpikir Pangeran yang ada di Jongmyo itu palsu?” tanya Dae Mok.

Hwa Gun pun tersenyum jahil. Dae Mok mengerti. Ia tahu kalau cucunya bukan gadis yang asal bicara dan langsung menyuruh Gon mencari tahu.

PM Lee Sun terus mendesak Woo Bo cerita alasan kenapa Putra Mahkota harus memakai topeng. Ia berkata, tidak punya banyak waktu menyelesaikan teka teki Woo Bo, jadi Woo Bo harus mengatakannya sekarang juga.

“Apa kau tahu arti dari "yongnim"? tanya Woo Bo.

"Yongnin? Um, sisik di bagian bawah dagu naga?” tanya PM Lee Sun.

“Kau mungkin bisa mengendarai naga, tapi kau tidak bisa menyentuh sisik itu. Dan jika kau menyentuh sisik naga itu, mereka akan mencabik-cabikmu. Dan bagi Raja, sisik naganya adalah Putra Mahkota. Itulah kenapa dia menyembunyikan dan melindunginya. Tapi apa itu sungguh penting bagi Putra Mahkota untuk mengetahui alasannya? Saat Raja berusaha untuk melindunginya? Akan sangat sulit untuk hidup dengan melepas topengnya lalu kenapa dia harus melepas topengnya?” jawab Woo Bo.

“Karena dia adalah Putra Mahkota. Seorang Putra Mahkota tidak bisa hanya duduk terdiam dan menerima segalanya. Dia harus melindungi rakyatnya!” ucap PM Lee Sun.

“Emosi tanpa tindakan, semua itu tidak lebih dari omong kosong! Melindungi rakyat? Apa kau pikir Putra Mahkota memiliki kekuatan untuk melakukannya? Dia tidak lain adalah bunga lembut yang selalu dimanja seumur hidupnya! Terlebih lagi, kau mengatakan pemuda bodoh seperti dia... yang tidak tahu apapun tentang dunia luar akan melindungi rakyatnya!” teriak Woo Bo.

PM Lee Sun pun terpukul. Woo Bo lalu beranjak pergi. Sambil berjalan pergi, ia berkata…

“Jika kau melepas topengmu hanya untuk menikmati kebebasan, lebih baik pakai kembali topengnya.”

PM Lee Sun pun terkejut karena Woo Bo tahu siapa dirinya.


Gon melapor pada Dae Mok kalau Putra Mahkota yang ada di ruang bawah tanah adalah seorang kasim. Gon bilang dia memakai bantalan di lututnya. Menteri Heo pun curiga bahwa Putra Mahkota telah ditukar.

“Jika dia masih memakai bantalan lutut, dia pasti terburu-buru. Tidak mungkin Raja yang sempurna membuat kesalahan.” Jawab Dae Mok.

“Aku yakin bukanlah Raja yang melarikan diri, tapi Putra Mahkota.” Ucap Hwa Gun.

“Putra Mahkota melarikan diri?” tanya Dae Mok.

Hwa Gun tersenyum dan meninggalkan ruang pertemuan dengan wajah girang. Dae Mok tertawa, lalu berkata kalau Putra Mahkota memang melarikan diri, maka itu kesempatan emas bagi mereka. Mereka harus menemukan Putra Mahkota lebih dulu. Dae Mok pun memberi perintah pada Gon.

Diluar, Hwa Gun memanggil Gon. Gon muncul di atap. Hwa Gun menyuruh Gon menemukan keberadaan Chung Woon.

Chung Woon menemui ayah Lee Sun. Ia beralasan sedang mencari adiknya. Ayah Lee Sun langsung ngeh. Ia pikir pemuda yang bersama Ga Eun tadi lah yang dicari Chung Woo. Tak jauh dari sana, Gon menguping pembicaraan mereka.


PM Lee Sun dan Ga Eun berdebat soal ayam. PM Lee Sun mau makan ayam, tapi Ga Eun malah mengatai PM Lee Sun serakah.

“Kau menuai yang sudah kau tabur. Jika kau menabur bibit yang baik, kau akan selalu diberkahi. Jadi tidak perlu pelit, dan berikan padaku.” Jawab PM Lee Sun.


Ayah Ga Eun pun keluar dari dalam rumah sambil tertawa.

“Sepertinya putriku membawa tamu penting. Wajar jika kita menyembelih ayam dan menyajikannya. Aku tidak bisa membiarkan rumor tersebar tentang betapa tidak ramahnya anggota Hangsungu.” Ucap ayah Ga Eun, lalu beranjak pergi.

Begitu Tuan Han pergi, PM Lee Sun langsung berdehem dan menatap Ga Eun sambil tersenyum puas. Ga Eun pun membuka kandang ayamnya dengan sebal dan si ayam langsung terbang keluar kandang menabrak wajah PM Lee Sun.

Mereka berdua masak ayam bareng. PM Lee Sun tiba2 bertanya, apa akan lebih menjalani hidup dengan memakai topeng. Ga Eun heran sendiri mendengar pertanyaan PM Lee Sun.

“Maksudku, seekor ayam akan tetap aman jika berada di dalam kandangnya. Tapi itu tidak bebas. Tapi akan sangat berbahaya jika dia meninggalkan kadangnya untuk mencari kebebasan.” Ucap PM Lee Sun.

“Apakah sungguh baik bagi ayam untuk tetap berada di kandang meski tempat itu aman dan bagus? Meskipun tidak tahu kapan ayam itu akan dimakan... hidup mungkin memang berat, tapi mereka hanya akan bebas jika mereka meninggalkan kandangnya.” Jawab Ga Eun.

PM Lee Sun pun menatap wajah Ga Eun seolah terpesona dan puas dengan jawaban Ga Eun.

“Apa kau tahu ajaran apa yang aku suka dari guru? Jika kau tidak bisa menahan kesakitanmu dan mencoba yang terbaik, kau tidak akan pernah memperoleh kebebasan yang sejati. Jika itu adalah aku, aku tidak akan menjadi ayam yang tidak bisa bebas dari kandangnya, tapi burung yang bisa terbang tinggi ke awan, meskipun hidupnya akan lebih sulit.” Ucap Ga Eun lagi.

“Seorang wanita yang berbicara tentang kebebasan yang sejati. Keren sekali.” Puji PM Lee Sun.


Keduanya lalu saling bertatapan dalam diam. Tak lama, PM Lee Sun memecah keheningan dengan bertanya, apa Ga Eun punya pacar. Ga Eun tidak mau menjawab, hingga PM Lee Sun pun menanyakannya sekali lagi. Ga Eun tersenyum malu sambil menundukkan wajahnya. PM Lee Sun mengerti dan tersenyum bahagia.


Tae Ho marah-marah saat penjaga membangunkannya tengah malam. Tapi begitu melihat ada Hwa Gook disana, ia buru-buru menghampirinya dan menjilatnya habis-habisan. Hwa Goon tanya apakah Tae Ho akan membiarkan orang yang mencuri air tetap bebas?

Di sisi lain, PM Lee Sun bicara dengan menggebu-gebu pada Tuan Han.

“Nyawa seseorang yang dipertaruhkan, tapi kenapa mereka tidak menjual air karena sudah malam? Apa itu masuk akal?” protesnya.

“Tepat sekali, sesuatu yang mengerikan bisa saja terjadi.” Jawab Tuan Han.

“Maksudku, jika rakyat bodoh dan pengecut dan tidak bisa mengatasi kesulitannya sendiri, lalu-bukankah orang sepertimu harus lebih berani untuk menghadapi mereka, Tuan?” ucap PM Lee Sun.

“Aku mengerti, tapi bukan itu masalahnya.” Jawab Tuan Han.

“Apa kau tidak punya keberanian?” tanya PM Lee Sun.

“Dengarkan. Apa kau pikir rakyat tidak berani bertarung demi hidup mereka karena mereka kurang pendidikan dan kurang berani sepertimu?” jawab Tuan Han, yang membuat PM Lee Sun terdiam.

Tak lama, Ga Eun masuk membawa nampan makanan. Begitu Ga Eun datang, PM Lee Sun langsung cengengesan menatapnya dan Ga Eun hanya tertunduk sembari tersenyum menahan malu. Tuan Han yang mengerti perasaan keduanya pun meledek Ga Eun dengan berkata tumben2an Ga Eun tidak menggosongkan ayamnya.

Tuan Han lantas mengambilkan sepotong ayam untuk PM Lee Sun dan menyuruh PM Lee Sun sering main ke rumahnya. PM Lee Sun pun melahap ayamnya sambil cengengesan.

 Diluar, Lee Sun berlari dengan panic memasuki halaman rumah Ga Eun.

“Wakil Hakim Han!” teriaknya. Sontak, Tuan Han langsung keluar bersama PM Lee Sun dan Ga Eun.

“Tuan Han! Tolong selamatkan ayahku, Tuan Han! Ayahku ditangkap oleh Biro Persediaan Air karena telah mencuri air. Mereka mengatakan mereka akan memotong tangannya! Tolong selamatkan dia!” ucapnya panik.

“Tunggu, mereka akan memotong tangannya karena telah mencuri satu ember air?” tanya PM Lee Sun heran.

“Aku tidak bisa ikut campur dengan urusan Biro Persediaan Air karena mereka lembaga independen.” Jawab Tuan Han.

“Hidup rakyat sedang dipertaruhkan! Bukan saatnya untuk memikirkan tentang yuridiksi!” ucap PM Lee Sun.

No comments:

Post a Comment