Friday, June 16, 2017

Ruler : Master Of The Mask Ep 13

Sebelumnya...

  
Lee Sun menyusup ke kamar Woo Jae. Namun, ia terkejut melihat penyusup lain yang hendak mencuri apa yang diincarnya. Lee Sun berusaha menghentikan si penyusup itu. Namun, si penyusup yang ternyata seorang wanita itu, malah menyerang Lee Sun. Lee Sun sempat melihat gelang penyusup wanita itu, sama seperti gelang yang dipakai gisaeng tadi. Penyusup itu kemudian mendorong Lee Sun, hingga Lee Sun terjatuh dan menabrak sebuah benda.

Woo Jae pun terbangun. Ia terkejut melihat ada dua penyusup di kamarnya dan langsung teriak memanggil pengawal. Penyusup wanita itu melemparkan beberapa satu ikat keping uang pada Lee Sun, kemudian melarikan diri. Lee Sun bergegas mengejar si penyusup wanita itu.


Chung Woon yang menunggu diluar pun terkejut. Tak lama kemudian, Tae Ho dan pengawal lainnya keluar dari kamar Woo Jae dan menemukan Chung Woon. Chung Woon bergegas melarikan diri. Pengawal langsung mengubernya.

  
Di dalam, Woo Jae panic karena tak menemukan petanya. Tak lama, Tae Ho datang. Awalnya Tae Ho berusaha menenangkan Woo Jae dengan berkata kalau anak buahnya sedang mengejar para penyusup itu, namun saat Woo Jae memberitahu si penyusup mencuri peta mereka, ia kaget.

Lee Sun terus mengejar si penyusup itu, namun sial ia kehilangan jejak. Sementara Chung Woon berlari ke arah berlawanan dari Lee Sun. Para pengawal menyebar mencari mereka.

  
Ternyata, Chung Woon bersembunyi dengan Moo Ha. Chung Woon membuka jubah hitam dan cadarnya. Moo Ha terkejut melihat Chung Woo. Ia mengenali Chung Woon sebagai pengawal Putra Mahkota.


Sekarang, mereka bertiga ada di dalam sebuah kamar. Moo Ha ingin tahu siapa Chun Soo sebenarnya. Chung Woon panic, ia berusaha menjelaskan kalau dulu dia memang bekerja sebagai pengawal Putra Mahkota, tapi sekarang tidak. Namun Chun Soo malah mengakui jati dirinya yang sebenarnya, kalau dia adalah Seja.  Moo Ha terkejut.

“Kalau kau memang Putra Mahkota yang sebenarnya, lalu siapa Raja yang sekarang duduk di tahta?” tanyanya.

“Dia temanku bernama Lee Sun yang menggantikanku. Di bawah kendali Kelompok Pyunsoo, kini dia berperan sebagai raja boneka.” Jawab Lee Sun.


Moo Ha marah, ia mencengkram baju Lee Sun. Chung Woon hendak marah, namun Lee Sun langsung menghentikannya.

“Bagaimana denganmu! Kau Ketua Pedagang Keliling yang bebas mengembara, bukan? Kau sama sekali belum berubah. Orang-orang mengorbankan nyawa demi dirimu, tapi kau tidak menghargainya! Demi pria payah seperti dirimu, Wakil Hakim Han mengorbankan nyawanya!”

  
Tangis Moo Ha mengalir. Lee Sun lantas berlutut, memohon maaf atas tindakan gegabahnya 5 tahun silam. Moo Ha jatuh terduduk. Ia menyesal sudah mendorong pemuda 17 tahun melawan Kelompok Pyunsoo yang tangguh. Moo Ha meraung, memanggil2 nama Tuan Han. Dan seketika, ia teringat permintaan Tuan Han. Saat itu, Tuan Han menyuruhnya membantu Putra Mahkota melawan Pyunsoo-hwe.


Tanpa mereka sadari, seorang gisaeng diam2 mencuri dengan pembicaraan mereka.

  
Moo Ha yang sudah mulai tenang bertanya, apa hubungan Pyunsoo-hwe dengan tembaga. Lee Sun pun memberitahu kalau Pyunsoo-hwe ingin mendapatkan hak untuk mencetak uang dengan merebut tembaga. Sebelum Dae Mok membuat onar, mereka harus bisa merebut tembaga dan menyerahkannya pada Menteri Keuangan. Moo Ha lantas menanyakan bagaimana caranya untuk merebut tembaga itu.


Dae Mok dapat laporan dari kroninya tentang Kepala Pedagang yang dulunya bekerja sbg asisten pedagang sebelum menjadi seorang ketua.

“Karena dia bangsawan yang cerdas, delapan ketua pedagang memanggilnya Kepala Pedagang.”

  
Dae Mok ingin tahu apa yg dilakukan Kepala Pedagang itu sekarang. Anak buahnya berkata, bukan hanya memimpin organisasi perdagangan di seluruh negeri, dia juga orang terpenting dalam organisasi perdagangan.

“Dimana orang itu sekarang?” tanya Dae Mok.


Anak buahnya berkata, tidak tahu. Dae Mok pun kesal dan menyuruh anak buahnya mencari Kepala Pedagang. Dae Mok kemudian berkata, Kepala Pedagang itu adalah satu dari dua hal baginya. Orang yang harus berpihak padanya atau dia bunuh. Dae Mok lalu tersenyum evil.


Dibantu oleh ibunya Sun, Ga Eun mengecek satu per satu kelengkapan obat-obat2an yang akan dipasoknya untuk istana. Ibu Sun tiba2 membicarakan rumor tentang ketampanan Kepala Pedagang. Ga Eun terdiam. Ingatannya langsung melayang ke saat dimana ia berkuda bersama Tuan Chun Soo nya setelah ia selamat dari Tae Ho. Chun Soo nya berpura2 tidak mengenalnya. Ia juga ingat kata2 terakhir Chun Soo, kalau Chun Soo tidak berniat membantu pedagang2 kecil itu sama sekali jadi mereka tidak perlu setia kepadanya.

Ga Eun yang kecewa pun berkata kalau si Kepala Pedagang itu terlihat biasa saja dan punya nama pasaran.


Ibu Sun kemudian mengeluarkan kotak obat dari dalam pot besar. Ga Eun melirik pot itu dan langsung teringat permintaan terakhir Youngbin Lee. Lamunan Ga Eun buyar karena Kko Mool tiba2 nyelutuk kalau menunggu itu merupakan sesuatu yang sulit.

“Kapan makan malamnya, aku lapar.” Ucap Kko Mool polos.

“Jadi menunggu itu sulit ya?” tanya Ga Eun sembari tertawa.

“Selain saat orang menungguku atau saat aku memakai toilet di malam hari.” Jawab Kko Mool.

Ga Eun tersenyum geli mendengar jawaban Kko Mool. Ga Eun lalu meminta bantuan ibu Sun.

  
Ga Eun menyamar sebagai dayang istana dan berjalan mendekati dua pengawal yang menjaga rumah hijaunya Putra Mahkota. Ga Eun membawa nampan berisi obat2an. Saat penjaga siap menghunus pedangnya ke arah Ga Eun, Ga Eun langsung menyodorkan obat-obatan itu dengan alasan kalau Raja yang mengirimkan obat2an itu untuk mereka. Sontak, kedua pengawal itu senang dan langsung memakan obat itu. Abis makan obat itu, mereka sakit perut.

  
Saat kedua penjaga itu pergi, Ga Eun menyusup ke rumah hijau Putra Mahkota. Namun baru membuka pintu, seseorang menghunuskan pedang padanya. Ga Eun pun beralasan kalau ia datang atas perintah Raja untuk membawakan obat. Namun betapa terkejutnya Ga Eun saat mendengar suara Raja yang marah dan menyuruhnya berbalik. Ternyata pengawal Raja lah yang menghunus pedang ke Ga Eun.

  
Ga Eun pun pasrah karena ketahuan. Ia perlahan2 berbalik, dan baik Raja mau pun pengawal Raja pun terkejut mengetahui dayang istana yang mencoba menyusup ke rumah hijau Putra Mahkota adalah Ga Eun.

  
Ga Eun menatap Raja dengan tatapan kecewa. Ia ingat bagaimana Raja dulu dengan kejamnya mengeksekusi ayahnya. Tak lama, dua pengawal yang tadi diberi obat sama Ga Eun pun datang dan langsung menangkap Ga Eun dan memaksa Ga Eun berlutut pada Raja. Namun Raja menyuruh mereka melepaskan Ga Eun dengan alasan dirinya lah yang memanggil Ga Eun. Ga Eun bingung sendiri karena Raja menyelamatkannya.

  
Ga Eun dan Sun bicara di rumah hijau. Sun ingin tahu kenapa Ga Eun menyusup ke rumah hijaunya. Ga Eun balik bertanya, kenapa Raja menyelamatkannya. Sun gelagapan, bingung mau jawab apa. Ga Eun bertanya lagi, apa Raja ingat padanya. Sun berkata tidak. Ga Eun pun terluka mendengarnya. Ia menangis dan mengaku kalau dirinya masih mengingat Raja.

  
Sun pun sadar kalau Ga Eun berpikir dia adalah Putra Mahkota yang sudah membunuh Tuan Han. Sun pun panic, ia mau menjelaskan semuanya dan bahkan nyaris melepas topengnya tapi tak jadi. Sun pun menyuruh Ga Eun pergi tanpa menjelaskan apapun.

Setelah Ga Eun pergi, Sun menyuruh pengawal setianya mencari tahu kenapa Ga Eun menyusup ke rumah hijau.


Ga Eun meninggalkan istana sambil menangis kecewa karena Raja tidak mengingatnya. Ia pun berpikir kematian ayahnya adalah hal sepele yang tak perlu diingat Raja.

  
Seseorang menyusup ke kamar Raja. Sun yang belum terlelap pun bertanya dengan mata terpejam, apakah itu kau Hyun Seok?

Hyun Seok membenarkan. Sun pun bangun dan bertanya alasan Ga Eun sampai menyusup ke rumah hijau. Pengawalnya bilang kalau Ga Eun bekerja sama dengan tabib untuk memasok obat ke istana. Sun penasaran, kenapa Ga Eun harus sampai menyamar seperti itu.

Hyun Seok pun menyarankan agar Sun menanyakannya langsung pada Ga Eun. Hyun Seok juga memberi saran agar Sun mengakui semuanya. Sun terdiam. Hyun Seok mengerti kalau Sun tidak bisa menjelaskan semuanya demi keselamatan Ga Eun dan juga keluarganya.

“Jika aku bisa bertemu dengannya lagi dan mengakui perasaanku, momen itu dapat membuatku bertahan seumur hidup.” ucap Sun sedih.

Sun lalu menyuruh Hyun Seok mencari cara agar dia bisa bertemu lagi dengan Ga Eun.


Seja yang asli tengah membahas soal bajak laut yang mencuri tembaga sambil mendengarkan nyanyian si gisaeng. Seja berkata, secara kebetulan Woo Jae muncul di sana. Chung Woon menambahkan tentang pria asing yang menyusup kamar Woo Jae malam itu.

  
Seja pun langsung melirik ke arah gisaeng yg sedang bernyanyi itu dan berkata, yang menyusup ke kamar Woo Jae bukanlah seorang pria. Kontan, yg lain pada terkejut.


Woo Jae dan Tae Ho sedang membahas soal peta yang hilang itu. Woo Jae cemas karena di peta itu tertera lokasi dan waktu pembelian tembaga. Tae Ho berkata, mereka tak perlu cemas karena ada pejabat tinggi di negara itu. Ia yakin, si pencuri adalah pencuri kelas teri yang ingin mendapatkan uang.

“Haruskah kita mengatur ulang jadwal barternya?” tanya Tae Ho.

“Jika kita melakukannya, kita tidak bisa memenuhi tenggat dari ayahku. Aku sudah membuat jebakan. Jika bukan pencuri tapi pengkhianat yang mencoba menghalangi kita, maka dia akan terjebak.” Jawab Woo Jae.

  
Setelah itu kita melihat, Seja dan Chung Woon bersama Moo Ha menyusup ke kamar Woo Jae. Moo Ha berjaga di depan pintu sementara Seja dan Chung Woon nampak mencari2 sesuatu. Mereka tak sadar sudah masuk perangkap Woo Jae. Seja lalu menemukan sebuah catatan. Dalam catatan itu tertulis bahwa tembaga mereka dirampas oleh bajak laut.

“Apa catatan mereka dirampok bisa dijadikan bukti?” tanya Chung Woon.

Seja lalu membuka catatan yang lain. Di sana tertulis bahwa para Pedagang Jepang yang diduga dirampok bajak laut membeli banyak ginseng dan ginseng merah.

“Jika uang dan tembaga mereka dirampok, dengan apa mereka membeli ginseng?” tanya Seja curiga.

  
Saat mereka hendak keluar, Moo Ha menahan mereka. Seja dan Chung Woon mengerti mereka ketahuan. Tae Ho bersama Woo Jae dan anak buah mereka sudah berkumpul diluar. Sial, Moo Ha tersandung dan terjatuh hingga membuat suara berisik. Tae Ho dan Woo Jae pun curiga.

  
Seja dan Chung Woon panic. Tepat saat itu, gisaeng yang bernama Mae Chang itu datang dan membantu mereka kabur. Ia bilang ada jalan rahasia menuju ke laut. Tak punya pilihan lain, mereka bertiga pun bergegas mengikuti Mae Chang.

  
Di tepi laut, Hwa Gun sudah menunggu. Hwa Gun tersenyum senang melihat mereka selamat. Seja bingung kenapa Hwa Gun ada di sana. Hwa Gun bilang, ia disuruh Mae Chang datang jika ingin bertemu mereka. Seja pun langsung menatap Mae Chang meminta penjelasan.


Sekarang mereka duduk di sebuah kamar. Mae Chang berkata, tadinya ia berpikir kalau Lee Sun hanyalah pencuri kelas teri. Ia tak menyangka Lee Sun adalah Kepala Pedagang.

“Aku pikir kau juga pencuri kelas teri, ternyata kau tahu situasinya seakan semua ini berada dalam kendalimu.” Jawab Lee Sun.

Mae Chang hanya tersenyum mendengarnya.

“Kau tahu rencana Kelompok Pyunsoo dan punya jalan rahasia untuk berjaga-jaga kalau terjadi sesuatu. Aku takjub.” Ucap Lee Sun.

“Begitupula denganku. Kudengar kau cermat dan sangat bijaksana. Melihatmu bertindak gegabah membuatku sedikit terkejut.” Jawab Mae Chang.

“Aku mengakuinya. Aku tergesa-gesa dan aku sungguh berterima kasih padamu.” Ucap Lee Sun.


“Biro Pengadaan Air telah menyamar sebagai bajak laut dan menjalin kesepakatan dengan para Pedagang Jepang. “ jawab Mae Chang.

“Sudah kuduga. Entah bagaimana mereka bisa terkait dengan bajak laut. Namun aku tidak tahu mereka menyeludupkan tembaga dengan cara ini.” ucap Lee Sun.

“Saat itu kamu tidak tahu mereka menyeludupkan tembaga. Menurutmu kenapa mereka menyeludupkan tembaga?” tanya Mae Chang.

“Kelompok Pyunsoo mendalanginya. Mereka berusaha mengancam istana dengan tembaga. Mereka sangat keji dan pemilik Biro Pengadaan Air yang sebenarnya.” jawab Moo Ha.

Hwa Gun mulai tenang. Mae Chang tanya lagi, apa yang akan terjadi jika mereka mendapatkan pasokan tembaga. Lee Sun bilang jika mereka mengirim tembaga ke pemerintah, rencana Pyunsoo-hwe akan hancur. Mae Chang pun menegaskan kalau mereka harus mendapatkan tembaga itu.

  
“Karena kini kau sudah tahu rencana kami, tolong beritahu rencanamu. Kenapa kau menyelamatkan kami? Siapa kau sebenarnya?” tanya Lee Sun.

“Kalau begitu bisakah kau mengatakan duluan siapa kau dan apa yang coba kau raih?” pinta Mae Chang.

Lee Sun terdiam. Mae Chang pun mengerti kalau itu belum saatnya. Ia lantas meyakinkan Lee Sun kalau ia hanya mencoba membantu mereka. Ia lalu memberikan peta Pyunsoo-hwe.

“Jika dugaanku benar, di peta ini harusnya tertulis waktu dan tempat penyeludupan tembaga mereka.” Jawab Mae Chang.


Lee Sun lantas menunjukkan peta itu pada Hwa Gun. Hwa Gun berkata, mereka akan bertemu di Haedongpi pukul 6 pagi.


Dae Mok tanya pada pelayannya, kapan barang2 itu akan tiba. Pelayannya bilang barang itu akan tiba pertengahan bulan ini. Dae Mok ingat kalau itu saatnya bagi Raja untuk minum anggur. Dae Mok pun senang karena di hari itu ia akan mendapatkan otoritas untuk mencetak uang.


Keesokan paginya, para pejabat berkumpul di balai istana. Menteri Joo berkata kalau rakyat menderita karena kurangnya uang di negeri ini. Sun dengan bodohnya bertanya, apa itu masalah gawat. Menteri Heo ikut berkata, tidak hanya terjadi di ibukota tapi juga Provinsi Gyeonggi dan karena kesulitan itu, rakyat sulit berdagang dan pasar mengalami kegagalan. Menteri Joo memohon agar Raja mencetak uang guna menstabilkan opini public.

  
Menteri Choi menyela, kalau mencetak uang sangatlah mahal. Jadi sebaiknya mereka menggunakan perak. Tapi kubu Dae Mok bilang rakyat miskin tak mampu membeli perak. Menteri Joo bilang mereka harus menyelesaikan masalah intinya dan meminta izin Raja agar Menteri Keuangan bisa mencetak lebih banyak uang. Menteri Choi pun terdiam.

  
Menteri Keuangan berkata, kalau mereka tidak bisa mencetak uang karena kekurangan tembaga. Raja ingin tahu apa masalahnya. Menteri Keuangan bilang, itu karena bajak laut yang merampas tembaga jadi mereka kesulitan mendapatkan tembaga.

“Jika itu karena bajak laut, maka penasihat ketiga negara harus memeriksanya karena dia adalah Kepala Kementerian Perang.” Jawab Menteri Joo sambil menatap curiga Menteri Choi.

Raja pun menyuruh Menteri Choi melakukannya.


Menteri Choi lalu melapor pada Ibu Suri kalau Menteri Keuangan kekurangan stok tembaga. Menteri Choi yakin Dae Mok punya siasat licik. Ibu Suri yakin Dae Mok masih belum menyerah untuk mendapatkan otoritas mencetak uang. Ia lalu menyuruh Menteri Choi mendapatkan pasokan tembaga gimana pun caranya.


Seja masih membahas soal siasat licik Pyunsoo-hwe itu. Chung Woon berkata mereka tak bisa menangkap orang2 itu karena kekurangan jumlah pasukan. Seja pun minta bantuan Mae Chang untuk menghadirkan tambahan pasukan laut.


Esoknya, Mae Chang bersama Hwa Gun dan Saudagar Jepangnya berjalan2 di pasar. Tak lama kemudian, Mae Chang melihat komandan pasukan laut ada di sana. Ia pun bergegas menghampirinya.

“Aku tak mengenal wanita itu. Kau mengenalnya?” tanya komandan pasukan laut sambil melirik Hwa Gun.

“Ya, aku belajar puisi bersamanya.” Jawab Mae Chang.

  
Mae Chang lalu berbisik, ia memberitahu komandan pasukan laut kalau Hwa Gun baru saja melihat pengawas kerajaan rahasia di dermaga. Ia juga menambahkan kalau Raja yang mengirimnya untuk sebuah misi. Komandan pasukan laut percaya dan minta Mae Chang mengenalkannya pada Hwa Gun.

“Karena pengawas kerajaan rahasia telah menyamarkan identitas, sulit untuk mendapat informasinya.” Ucap Mae Chang.

“Akan kulakukan apapun untuk membantumu.” Jawab si komandan.

“Kau tidak boleh memberitahukan lokasi dan caramu bertemu dengannya. “ ucap Hwa Gun.

Komandan pasukan laut setuju.

“Namanya Park Moo Ha. Dia penasihat negara ketiga, kerabatnya Ibu Suri.” Ucap Hwa Gun.


Mereka lalu melihat Moo Ha yang sedang bicara dengan saudagar Jepang ditemani Chung Woon dan Seja. Mereka mendengar Moo Ha fasih bicara Jepang. Chung Woon juga sedikit terkejut, ia pikir Moo Ha bisa bicara Jepang.

“Tentu saja…. tidak.” Jawab Moo Ha.

  
Seja dan Chung Woon lalu mengajak Moo Ha pergi. Si komandan pasukan laut bergegas mengikutinya, namun ia terkesiap karena ketahuan mengikuti mereka. Moo Ha berteriak marah.

“Siapa kau yang berani-beraninya mengikuti kami!” teriak Moo Ha.

No comments:

Post a Comment