Friday, June 30, 2017

Ruler : Master Of The Mask Ep 20 Part 1

Sebelumnya...


Kenapa Sun mendadak ingin bertemu Daebi Mama setelah memergoki Ga Eun berduaan dengan Seja? Ternyata, Sun ingin Ga Eun menjadi selirnya sekarang juga. Daebi Mama menolaknya dengan alasan Ga Eun baru memasuki istana dan harus menjalani pelatihan dulu sebagai dayang istana. Sun marah, ia menuduh Daebi Mama sengaja mengulur waktu.

“Jusang!” Daebi Mama marah.

Sun pun menyadari kelancangannya dan langsung minta maaf pada Daebi Mama.

“Aku mengerti kau ingin menyegerakan segala sesuatu, tapi pikirkanlah. Apa yang lebih penting dulu bagi anak itu? Memulihkan kehormatan ayah anak itu atau menjadikan dia selirmu? Bagaimana bisa anak seorang pengkhianat menjadi selir kerajaan?” ucap Daebi Mama.

“Memulihkan kehormatan harus didahulukan.” Jawab Sun dengan wajah kecewa.

“Kalau begitu jika dia, Han Gyu Ho, ayah dari anak itu, kehormatannya kupulihkan, menurutmu siapa yang akan menentang?” tanya Daebi Mama.

“Dae Mok.” Jawab Sun.

  
Sun seketika berlutut pada Daebi Mama. Ia bersikeras meminta Ga Eun menjadi selirnya. Ia mengaku punya alasan kenapa ingin Ga Eun cepat2 menjadi selirnya. Daebi Mama pun terkejut melihat sikap Sun.

  
Dae Mok membahas soal Raja yang sudah bertemu dengan Kepala Pedagang. Ia ingin tahu pendapat Hwa Gun soal itu. Menurut Hwa Gun, Daebi Mama sengaja mempertemukan Raja dengan Kepala Pedagang untuk membuat Raja memihak mereka.

“Kudengar, Daebi bahkan membawa seseorang masuk ke istana untuk melayani Raja. Pasti anak itu dan Kepala Pedagang dijadikan alat memenangkan hati Raja.” Ucap Hwa Gun.

“Jadi maksudmu, Kepala Pedagang berhubungan dengan Daebi?” tanya Dae Mok.

Hwa Gun mengiyakan.

“Itu berarti cucuku yang sangat pintar hanya akan melayani Daebi yang sebentar lagi kehilangan cakarnya dengan menjadi Daepyunsoo? Kau pikir itu masuk akal?” ucap Dae Mok.

Hwa Gun pun hanya bisa menelan ludahnya mendengar kata2 sang kakek.

“Ingatlah ini. Tidak peduli sepintar apapun seseorang, jika ada yang berusaha dia sembunyikan, maka mereka akan menjadi bodoh.” Ucap Dae Mok.

Dae Mok lantas bangkit dari duduknya. Ia menatap sinis Hwa Gun, lalu beranjak pergi.


Sementara itu, Seja kembali membahas soal peta itu dengan Woo Bo, Moo Ha dan Chung Woon. Seja berkata, Ga Eun memberitahu lokasi peta itu berada di Gyeonggi-do. Seja juga berkata kalau ia tak memiliki kesempatan bicara dengan Lee Sun.

“Sayang sekali. Menjadi Raja yang terus dimonitor oleh Pyunsoo-hwe, pastilah sangat berat rasanya.” Jawab Woo Bo.

Moo Ha lantas memberanikan diri bertanya soal Ga Eun. Woo Bo pun langsung menggeplak mukanya. Moo Ha membela diri dengan berkata kalau ia hanya penasaran. Beberapa saat kemudian, Moo Ha bilang kalau itu bukan sesuatu yang harus mereka takutkan, karena kalau Seja kembali menjadi Raja, maka Seja pasti akan bisa memiliki Ga Eun. Woo Bo pun kembali menggeplak wajah Moo Ha. Dan Chung Woon mengatai Moo Ha tidak punya otak.

  
Jenderal Jae Hon akhirnya menghadap Raja. Jae Hon memperkenalkan diri sebagai  Komandan Pasukan Hwanggil-dong. Raja pun berniat menghadiahkan 20 ekor kuda sebagai apresiasi atas kerja keras Jae Hon. Jae Hon menolak.

“Akan cukup bagi hamba...dengan dituangkan segelas minuman oleh Cheonha.” Ucapnya.

“Tentu, aku bahkan harusnya menggelar jamuan megah untukmu. Namun, malam ini, aku sudah memiliki janji lain. Kita lakukan dua hari mendatang.” Jawab Raja.

“Kami tidak menyangka kau sampai secepat ini, sebab itu kami belum merencanakan perjamuannya.” Sela Menteri Joo.
“Kau tidak lihat sekarang aku sedang bicara dengan Cheonha?” ucap Jae Hon ketus.

  
“Kami tahu kau adalah seorang Jenderal, tapi beraninya kau sekurang ajar itu pada Perdana Menteri?” jawab Menteri Heo.

“Aku memang emosional dan tidak tahan pada mereka yang menginterupsi perkataanku.” Ucap Jae Hon.

  
Woo Bo pun tertawa keras.

“Kelihatannya karena tidak bisa minum dengan Cheonha, kau begitu kecewa padahal sudah jauh-jauh kemari. Aku harus menyewa rumah gisaeng terbaik untukmu malam ini.” ucapnya.

Jae Hon pun terkejut melihat Woo Bo.


Menteri Choi langsung menghadap Daebi Mama. Daebi Mama heran kenapa Jae Hon tiba2 datang ke istana. Menteri Choi bilang karena pimpinan penjajah jatuh sakit, jadinya pihak mereka tengah berebut siapa yang akan menjadi penerus pimpinan dan pimpinan itu membutuhkan persetujuan Raja mereka untuk menentukan sang penerus.

“Aku tidak ingin jawaban semacam itu yang kau berikan pada Raja. Jenderal itu sangat mengerti soal Pyunsoo-hwe. Dia tidak suka Pyunsoo-hwe berulah, makanya tidak pernah kemari, tapi kenapa mendadak datang?” jawab Daebi Mama.
“Bukankah hal itu justru bagus? Dia Jenderal yang membawahi 10.000 pasukan. Tolong anda pikirkan bila ia mau memihak pada kita.” ucap Menteri Choi.

  
Jae Hon ingin tahu alasan Kwang Ryul menyuruhnya pulang. Kwang Ryul berkata karena ia mau menyampaikan sesuatu dan Kwang Ryul yakin Jae Hon akan terkejut mendengar alasannya.

“Aku adalah ksatria yang bertarung melawan penjajah seumur hidupku. Aku bahkan berhadapan dengan malaikat maut berkali-kali.” Jawab Jae Hon.

“Kau selalu setia pada negara ini. Tapi bagaimana bila rupanya kau telah setia kepada Raja palsu?” tanya Kwang Ryul.

Jae Hon pun terkejut.

“Raja yang bertakhta itu palsu. Dia tak lain hanyalah boneka Pyunsoo-hwe.” Ucap Kwang Ryul lagi.

  
Sun yang tengah berkeliling istana, bertemu dengan Woo Bo. Ia pun mengajak Woo Bo bicara berdua.

“Saat anda datang kemari dengan tembaganya, saya merasa terkejut sekaligus bahagia. Akhirnya ada seseorang di sisi saya, begitulah yang saya pikirkan.” Ucap Sun.

“Saya merasa terhormat bila seseorang serendah saya dapat membantu Cheonha.” Jawab Woo Bo.

“Anda bahkan bicara formal pada saya. Aku tahu mengenaimu dari rumor yang beredar.” Ucap Sun.

“Maksud Anda rumor bahwa tindak tanduk saya jauh dari sopan santun?” tanya Woo Bo.

Woo Bo lalu minta izin bicara non formal. Sun mempersilahkan.

  
“Cheonha harus mengutamakan rakyat, bila ada siapapun yang berkata demikian, hentikan omong kosongmu itu! Berpikirlah seperti itu. Hanya itu satu-satunya yang bisa kau lakukan sekarang. Sebelum kau mengendalikan Joseon ini, kontrol dan jaga dirimu dulu. Sebelum kau menjadi pemilik Joseon ini, kau harus menjadi pemilik dari dirimu sendiri dulu.” Ucap Woo Bo.

“Saya tidak akan pernah melupakan saran Anda. Saya juga ingin memberikan saran.” Jawab Sun.

“Ya, Cheonha.” Ucap Woo Bo.

“Jangan bergerak dulu. Tetaplah hati-hati dan bersikap tenang. Saya tidak ingin Anda terluka.” Jawab Sun.

  
Ga Eun menghadap Daebi Mama. Daebi Mama menyuruh Ga Eun melakukan sesuatu. Ga Eun pun bersedia melakukannya asalkan itu membantu dalam pelengseran tahta Raja. Ternyata Daebi Mama menyuruh Ga Eun mencari tahu apa yang diantarkan orang2 Pyunsoo-hwe pada Raja setiap 15 hari sekali.

  
Ga Eun menyelinap ke kamar Raja. Ia hendak mencari tahu apa yang dikirimkan Pyunsoo-hwe untuk Raja. Disaat ia menemukan batang bamboo dan hendak membukanya, tiba2 saja ia mendengar suara Kepala Kasim. Ga Eun pun kebingungan mencari tempat sembunyi, namun tepat saat Kepala Kasim masuk, Raja menarik Ga Eun ke balik tirai.

Kepala Kasim heran melihat tutup kotak kayu kiriman Pyunsoo-hwe sudah terbuka. Ia lalu menatap curiga ke arah Sun yang berdiri membelakanginya.

“Cheonha, hamba membawakan air minum untuk pengantar anda tidur.” Ucap Kepala Kasim.

“Aku mengerti. Kau boleh pergi.” Jawab Sun.


Setelah Kepala Kasim pergi, keduanya menarik napas lega. Namun Ga Eun langsung berlutut saat melihat topeng Raja di atas kasur. Ga Eun berkata, ia pantas mati. Namun Sun menyuruhnya berhenti bicara dan membantunya berdiri. Sun lalu menuntun Ga Eun keluar dari tirainya dan melarang Ga Eun berbalik menatapnya.

“Tapi, kenapa kau terus saja melakukan hal yang berbahaya?” tanya Sun setelah Ga Eun tiba diluar.

  
Ga Eun menoleh, menatap Sun. Namun sayang ia tak bisa melihat wajah Sun karena tertutup tirai. Ga Eun lantas beranjak pergi. Sun kecewa melihat Ga Eun pergi begitu saja meninggalkannya.

No comments:

Post a Comment