Monday, June 5, 2017

Ruler : Master Of The Mask Ep 7 Part 1

Sebelumnya....

  
Episode ini dibuka Ga Eun yang menembus kerumunan bersama Sun dan Woo Bo. Tuan Han yang sudah berada di panggung eksekusi pun terkejut melihat putrinya. Chung Woon yang menggantikan posisi Putra Mahkota pun mengumumkan kesalahan yang sudah dilakukan Tuan Han dan berkata dia sendiri yang akan mengeksekusi Tuan Han. Chung Woon mencabut pedangnya. Tepat saat itu, Ga Eun pun merangsek maju dan berlutut pada Chung Woon.

“Yang Mulia,  mohon ampuni nyawa ayah hamba. Ayah hamba tidak bersalah. Ampunilah dia, Yang Mulia.” Pinta Ga Eun.

Para pengawal berusaha menyeret Ga Eun pergi. Takut Ga Eun terluka, Sun pun maju berusaha menghalangi pengawal tapi dia malah didorong dan ditendangi. Moo Ha berusaha menghentikan pengawal memukuli Sun tapi apa daya, ia tak berdaya dan pengawal pun menyeret mereka minggir.


Rakyat ingin tahu kesalahan apa yang sudah dilakukan Tuan Han. Tuan Han pun terpaksa mengaku kalau ia telah berpura-pura menjalankan perintah Putra Mahkota dan melakukan pengkhianatan berat sehingga ia layak membayar dengan nyawanya. Ga Eun pun menangis mendengar pengakuan sang ayah.

  
Chung Woon mulai mencabut pedangnya, namun ia nampak tak tega melakukannya. Ga Eun takut luar biasa. Rakyat juga cemas, tapi tak bisa melakukan apapun untuk menyelamatkan Tuan Han. Woo Bo yang sudah tak tahan lagi, akhirnya beranjak pergi dari kerumunan. Sementara itu, Putra Mahkota yang asli masih memacu kudanya menuju tempat eksekusi.

Chung Woon mengangkat pedangnya, namun ia berat melakukannya. Tuan Han yang sadar Putra Mahkota berat mengeksekusinya pun menasehati Putra Mahkota untuk tetap kuat. Bersamaan dengan itu, PM Lee Sun tiba di tempat eksekusi. Sambil berlari menembus kerumunan, ia berteriak menyuruh menghentikan eksekusi.

  
Moo Ha memutar tubuh Ga Eun supaya Ga Eun tak melihat eksekusi Tuan Han. Daan… Chung Woon mengayunkan pedangnya tepat saat PM Lee Sun tiba di barisan depan. Ia membeku melihat Tuan Han sudah selesai dieksekusi. Ga Eun berbalik, melihat jasad sang ayah. Seketika itupula, ia histeris.

  
Chung Woon menatap ke arah Ga Eun yang masih berteriak histeris dengan penuh rasa bersalah. PM Lee Sun pun sama. Ia merasa bersalah pada Ga Eun. Sun dan Moo Ha terus memegangi Ga Eun. Ga Eun jatuh pingsan karena tak kuat menerima kenyataan ayahnya tewas dengan cara seperti itu. Saat itulah, Sun melihat ke arah PM Lee Sun. Ia tertegun menyadari bukan PM Lee Sun lah yang mengeksekusi Tuan Han.

  
Dae Mok menerima laporan dari pelayannya tentang Tuan Han yang sudah dieksekusi sendiri oleh Putra Mahkota. Ia senang mendengarnya. Pelayannya juga melapor kalau seorang pria bernama Woo Bo ingin bertemu dengannya. Bersamaan dengan itu, Woo Bo memaksa masuk ke kediaman Dae Mok, namun dihalangi pelayan. Dae Mok menyuruh pelayannya bersikap sopan pada Woo Bo.


Keduanya duduk berhadapan. Dae Mok sengaja meletakkan gelasnya di hadapan Woo Bo agar Woo Bo mengisinya. Namun Woo Bo malah menyodorkan gelas miliknya pada Dae Mok. Dae Mok heran, tapi ia tak peduli dan setuju menggunakan gelas yang dipilih Woo Bo. Woo Bo mulai menuang air, tapi gelasnya bocor.

“Cangkir ini tak bisa terisi penuh.” Ucap Woo Bo.

Woo Bo sempat heran, tapi tak lama kemudian ia tertawa menyadari maksud dibalik kata2 Woo Bo.  Dae Mok berkata, ucapan Woo Bo membuatnya kuat sekali lagi. Dae Mok lalu mengingatkan Woo Bo kalau dulu ia pernah menemui Woo Bo.


Flashback…

Dae Mok berlutut, ia menangis di hadapan Woo Bo yang masih menjadi professor saat itu. Ia mengaku telah setia mengabdi pada tuannya, tapi tetap saja orang2 tak bersalah mati karenanya.

“Agar tak lagi menjadi anjing peliharaan mereka, aku harus bagaimana? Harus bagaimana agar aku bisa melindungi orang-orangku?”tanya Woo Bo.

“Saat dimana kau menyadari kekuatanmu sesungguhnya, kau tak lagi menjadi anjing peliharaan, namun Sang Tuan. Orang bisa menendang dan merendahkan anjing peliharaan mereka. Namun, mereka takut akan anjing liar. Kira-kira, apa alasannya?” ucap Woo Bo.

“Apalagi selain takut digigit?” jawab Dae Mok.

“Jadilah Sang Tuan. Jika kau meyakini dirimu adalah Sang Tuan dan bersikap seperti itu, mereka tak mungkin merendahkanmu lagi.” Ucap Woo Bo.

Flashback end…


Dae Mok mengklaim, bahwa kini dirinya bukan lagi seekor anjing peliharaan tapi seorang pria yang ditakuti semua orang. Woo Bo bergetar marah, ia berkata bukan itu maksud ucapannya. Tapi Dae Mok yakin itulah arti ucapan Woo Bo.

“Jika kau menyiksa orang-orang lemah dengan kekuasaanmu, lalu apa bedanya kau dengan mereka yang dulu kau hujat?” tanya Woo Bo.

“Aku tak pernah berkata akan menjadi berbeda dari mereka. Kenapa? Kau tidak menyangka akhirnya aku lebih kuat dari Raja?” ucap Dae Mok.


Woo Bo pun meledak. Ia membalikkan meja dan mengatai Dae Mok anjing. Sontak saja, para pengawal Dae Mok langsung mengamankan Woo Bo. Dae Mok berkata santai, kalau jawaban Woo Bo sekali lagi telah menguatkannya.

“Aku akan memaafkan perbuatanmu kali ini. Namun ingatlah ini. Mulut yang pintar dapat menyelamatkan atau justru membunuh banyak orang.” Ucap Dae Mok.


  
Ga Eun jatuh sakit dan Sun dengan setia merawat dan menunggui Ga Eun.


PM Lee Sun tengah duduk bersimpuh ditemani Hwa Gun. Tak lama, Woo Bo datang dengan tatapan kosong. Ia bahkan sempat tak menyadari kehadiran PM Lee Sun. Dengan tatapan pedih, PM Lee Sun bertanya apa yang harus ia lakukan agar orang2 tak lagi mati karenanya.


“Aku tidak sanggup menahannya. Aku tidak tahan lagi karena merasa aku ini monster. Kelompok Pyunsoo... Bagaimana agar aku bisa melenyapkan mereka? Sesulit apapun, aku akan melakukannya meski begitu menyakitkan.” Ucap PM Lee Sun.

“Aku tidak tahu. Dari sudut pandangmu saat ini, tak akan ada solusi sama sekali. Pergilah ke tempat lain untuk mendapatkan pencerahan pandangan. Dengan begitu, baru kau akan menemukan solusi.” Jawab Woo Bo, lalu pergi.


Setelah Woo Bo pergi, PM Lee Sun berdiri namun kakinya terlalu lemas untuk dibawa berjalan. Hwa Gun pun langsung memegangi PM Lee Sun dan bertanya apakah masih ada yang bisa ia bantu. PM Lee Sun menatap Hwa Gun lirih.

“Kau tahu siapa aku?” tanya PM Lee Sun.

“Anda telah menyelamatkan saya saat itu. Nama saya... Hwa Gun. Saat kita bertemu lagi nanti maukah anda memanggil nama saya?” pinta Hwa Gun lirih.

“Aku akan mengingatnya.” Jawab PM Lee Sun, lalu pergi.

  
Setelah PM Lee Sun pergi, Hwa Gun bergegas menemui kakeknya. Saat itu, kakeknya sedang bicara dengan ayahnya. Dae Mok berkata, ia akan menggelar inisiasi untuk Putra Mahkota setelah 3 hari.

“Apa yang akan ayah lakukan pada Putra Mahkota? Saya akan meneruskan kepemimpinan ayah. Namun, ayah selalu merahasiakan segala hal dari saya.” ucap Woo Jae.

“Kapan aku mengatakan kau adalah penerusku?” tanya Dae Mok sinis.


Pembicaraan mereka terhenti ketika Hwa Gun datang. Hwa Gun ingin tahu nasib Putra Mahkota selanjutnya. Dae Mok bilang ia akan menggelar inisiasi untuk Putra Mahkota. Hwa Gun bertanya, adakah sebuah cara untuk menghentikannya.

“Tolong berikan aku waktu lagi. Aku yakin pasti memenangkan hatinya.” Pinta Hwa Gun.

“Maksudmu, ingin menyelamatkan Putra Mahkota? Bergabung atau mati. Putra Mahkota tak punya pilihan lain.” Jawab Dae Mok.


Di istana, Raja panic karena Putra Mahkota belum ditemukan. Ia yakin, bukan Kelompok Pyunsoo yang membawanya. Raja lalu menyuruh Kepala Lee mencari seorang anak yang bernama Lee Sun sebelum 3 hari.

“Hal itu akan sulit. Terlebih, tidak cukup waktu untuk membinanya. Jika ia ditanyai nama usai dihipnotis oleh Dae Mok, kebenarannya akan terungkap. Jika terjadi, tidak akan ada jalan keluar lain.” Jawab Kepala Lee.

“Waktunya sudah tiba. Namun, kita tidak boleh mengirim Putra Mahkota. Temukan seseorang yang dapat menggantikan Putra Mahkota.” Suruh Raja.


PM Lee Sun sendiri ada di kediaman Tuan Han. Namun, ia hanya berani berdiri di halaman saja. Di dalam, Ga Eun masih berduka. Ia terus-terusan memeluk baju sang ayah. Sun, Woo Bo dan Moo Ha tak tega melihat Ga Eun.


Tak lama, Woo Bo dan Moo Ha keluar dan melihat PM Lee Sun yang hanya berdiri diluar. Beberapa saat kemudian, Ga Eun juga keluar bersama Sun. Melihat PM Lee Sun, Ga Eun pun langsung berlari menghampirinya dan memanggilnya dengan nama Chun Soo.

“Tuan Chun Soo, kau bilang Putra Mahkota adalah temanmu. Tolong aku agar bisa bertemu Putra Mahkota.” Rengek Ga Eun.

  
“Aku...” PM Lee Sun ingin mengaku kalau dialah Putra Mahkota. Tapi Ga Eun keburu memotong kalimatnya. Sun, Woo Bo dan Moo Ha nampak tak tega melihat keduanya.

“Aku akan menemuinya dan bertanya alasan dia mengeksekusi abdi setianya. Jika Putra Mahkota adalah keadilan yang diperjuangkan ayahku, bagaimana bisa ia dibunuh karenanya? Aku ingin tanya keadilan macam apa yang ia maksud!”


Ga Eun pun histeris lagi. Tak lama kemudian, ia kembali jatuh pingsan. Sun dan Moo Ha langsung memapah Ga Eun ke dalam. PM Lee Sun semakin merasa bersalah. Ia jatuh berlutut dan menangis.


Hingga malam tiba, PM Lee Sun masih berlutut di halaman rumah Ga Eun. Tak lama kemudian, Sun keluar dan berlutut di depan PM Lee Sun. Sun bilang, ia tahu bukan PM Lee Sun yang membunuh Tuan Han. Ia bertanya, siapa yang membunuh Tuan Han dan apa alasannya.

“Kematian Tuan Han bukan salah orang lain, tapi salahku. Aku sungguh minta maaf. Aku tak bisa membantu dalam kasus kematian ayahmu, lalu kini Tuan Han pun meninggal karena aku. Telah menjadi Putra Mahkota yang lemah, aku sungguh minta maaf.” Jawab PM Lee Sun.

“Jika ada yang dapat hamba bantu, meskipun hamba dari kaum rendahan, hamba akan lakukan apa saja.” Ucap Sun.

“Terima kasih.” Jawab PM Lee Sun.


“Yang Mulia, kenapa Raja mencari anak lain yang bernama Lee Sun?” tanya Sun.
“Dari yang kudengar Raja menginginkan anak itu menggantikanku dalam sebuah inisiasi.” Jawab PM Lee Sun.

“Hamba akan melakukannya. Hamba memang tidak berasal dari keluarga bangsawan, namun nama hamba juga Lee Sun.” ucap Sun.

“Terima kasih. Namun, tak ada gunanya menghindar sementara hanya dengan memakai pengganti.” Jawab PM Lee Sun.


Tiba2 saja, PM Lee Sun teringat kata2 Woo Bo tadi kalau segala sesuatu di dunia ini tak akan berjalan sesuai keinginannya, jadi Woo Bo menyuruhnya berdiri di tempat ia bisa memandang hal secara berbeda, lalu mempertimbangkan sesuatu dengan pemikiran baru yang jernih.

PM Lee Sun seperti dapat pencerahan. Ia tersenyum, kemudian menggenggam tangan Sun dan bertanya bisakah Sun menggantikan tempatnya. Sun balas menggenggam tangan PM Lee Sun dan mengangguk. Tak lama kemudian, terdengar suara Kepala Lee dari arah belakang Putra Mahkota.

“Namamu... Lee Sun?” tanya Kepala Lee.


PM Lee Sun langsung menghadap Raja bersama Sun. PM Lee Sun menceritakan rencananya untuk bertukar identitas agar bisa serta mengalahkan Kelompok Pyunsoo. Ia mau hidup membaur dengan rakyat agar bisa mengetahui pandangan rakyat akan Kelompok Pyunsoo.

Raja tak setuju

“Kau ingin menemukan cara melawan serta mengalahkan Kelompok Pyunsoo dengan menyerahkan identitasmu pada anak miskin ini!” ucapnya.

“Saya dibesarkan dengan memakai masker agar bisadigantikan orang lain, bukankah Raja yang merencanakannya?” balas PM Lee Sun.

“Aku mengerti alasanmu begitu bersemangat, namun dia tidak akan bisa lagi menjadi penggantimu setelah inisiasi.” Ucap Raja.

“Saya akan menghadiri sendiri inisiasi itu.” jawab PM Lee Sun.

“Pangeran Sun! Kau tidak sadar betapa berbahayanya rencanamu itu?” tanya Raja.


“Saya akan menghadapinya. Saya sedang mencoba menemukan solusi permasalahan. Saya tidak akan melarikan diri.” Jawab PM Lee Sun.

“Anak ini asal usulnya darimana dan apa dia akan berhasil, kita tidak tahu!” ucap Raja.

“Dia tahu bahwa para pengganti saya yang lain mati dibunuh, tapi dia tetap menawarkan dirinya. Dia pintar dan dapat dipercaya. Saya percaya dia akan berhasil, Yang Mulia.” Jawab PM Lee Sun.


“Panglima Lee. bawa anak itu dan interogasi dia mata-mata Kelompok Pyunsoo bukan.” suruh Raja.

No comments:

Post a Comment