Tuesday, June 13, 2017

Ruler : Master Of The Mask Ep 9

Sebelumnya...


Dae Mok menghujamkan pedangnya ke tubuh Raja. Seketika itu pula Raja jatuh tersungkur. Namun sebelum tersungkur, ia masih sempat menyuruh anaknya lari. Putra Mahkota menjerit melihat ayahnya yang sudah tidak bernyawa. Ia marah dan ingin membunuh Dae Mok, tapi anak buah Dae Mok menyerangnya. Tepat saat itu, Chung Woon datang membantu Putra Mahkota. Tak lama, Kepala Lee juga datang membantu mereka.

“Cepat larilah. Selamatkan Putra Mahkota.” Suruh Kepala Lee pada Chung Woon, anaknya.

Chung Woon pun langsung menyeret paksa Putra Mahkota keluar. Dae Mok dan anak buahnya tak tinggal diam. Mereka bergegas menyusul Putra Mahkota, namun Kepala Lee berusaha melindungi mereka. Putra Mahkota menjerit pilu, memanggil sang ayah.

“Yang Mulia Raja telah meninggal, sekarang, Putra Mahkota adalah Raja negeri ini. Anda harus tetap hidup dan kalahkan musuh serta mengakusisi tahta Anda.” Ucap Kepala Lee pada Putra Mahkota yang masih syok.

  
Kepala Lee lalu memberi perintah Chung Woon untuk melindungi Putra Mahkota bagaimana pun caranya. Chung Woon tak setuju. Ia tak mau meninggalkan ayahnya sendirian. Namun sang ayah memaksa. Terpaksa lah Chung Woon menuruti perintah ayahnya dan menyeret Putra Mahkota pergi.


Putra Mahkota menjerit pilu melihat Kepala Lee yang bertarung sendirian. Chung Woon juga sebenarnya ingin membantu ayahnya, tapi ia tak punya pilihan lain selain melindungi Putra Mahkota. Akhirnya, Chung Woon menyeret Putra Mahkota pergi.


Dae Mok keluar dari istana dan menyuruh anak buahnya mengejar Putra Mahkota. Kepala Lee tak tinggal diam. Ia bersiap menebas Dae Mok, namun sayangnya Gon lebih dulu menebasnya. Kepala Lee tewas di tempat.

“Bergerak! Bawakan padaku kepala Putra Mahkota!” perintah Dae Mok.

  
Putra Mahkota dan Chung Woon lari ke hutan. Chung Woon menyuruh Putra Mahkota lari duluan, sementara ia akan menghalau anak buah Dae Mok. Putra Mahkota tak mau. Ia takut kehilangan Chung Woon juga. Chung Woon pun menenangkan Putra Mahkota dengan berkata, mereka akan bertemu lagi nanti. Chung Woon menunjukkan arah kemana Putra Mahkota harus lari. Sebelum pergi, Putra Mahkota meminta Chung Woon berjanji padanya akan tetap hidup.

Setelah Putra Mahkota benar2 pergi, barulah Chung Woon keluar dari persembunyiannya dan memancing anak buah Dae Mok menjauhi jalan yang disusuri Putra Mahkota. Namun Gon yang datang belakangan memilih berlari ke arah jalan yang disusuri Putra Mahkota.

  
Di istana, Sun gemetar ketakutan melihat Dae Mok yang berdiri di hadapannya. Dengan tatapan sadis, Dae Mok melepaskan topeng Sun.


Gon beserta anak buah Dae Mok lainnya berhasil mendapatkan Putra Mahkota. Namun ketika anak buah Dae Mok bersiap menebas Putra Mahkota, Gon datang dan membantu Putra Mahkota. Namun sial, anak buah Dae Mok yang tadi ditebas Gon, malah terhempas ke jurang bersama Putra Mahkota.

  
Hwa Gun menyusuri hutan dan akhirnya menemukan tubuh Putra Mahkota. Putra Mahkota sekarat. Dengan tatapan pedih, ia berkata pada Gon kalau kakeknya tidak akan menyerah sampai melihat sendiri mayat Putra Mahkota.

“Gon-ah, beri aku ramuan untuk menyembunyikan detak jantungnya. Jika dia meminum ini, detak jantungnya akan menghilang selama setengah hari sebelum kemudian normal kembali, kan?” pinta Hwa Gun.

“Namun, seseorang dalam kondisi sehat saja sulit mengatasi efeknya. Jika dikonsumsi dalam keadaannya yang seperti ini, bisa saja ia tak pernah bangun lagi.” Jawab Gon.

“Kita tidak punya pilihan. Harabeoji harus dibuat percaya Putra Mahkota telah meninggal. Yang Mulia hanya bisa selamat dengan cara itu. Dia pasti bisa mengatasinya. Dia dikirim oleh Langit.” Ucap Hwa Gun.

  
Gon lantas membantu Hwa Gun meminumkan ramuan itu pada Putra Mahkota. Hwa Gun menangis dan meminta Putra Mahkota menahan rasa sakitnya. Tak lama kemudian, Dae Mok dan anak buahnya datang. Gon lekas membawa Hwa Gun pergi.


Dae Mok datang dengan Sun. Sun langsung berlari menghampiri tubuh Putra Mahkota yang sudah tidak bergerak itu. Anak buah Dae Mok memeriksa Putra Mahkota, lalu berkata Putra Mahkota sudah meninggal. Dae Mok senang mendengarnya. Sun terkejut. Ia tidak percaya Putra Mahkota sudah meninggal, namun saat ia memeriksa nafas Putra Mahkota, ia terduduk lemas.

“Yang Mulia!!!” teriak Sun.

  
Sun berhenti berteriak saat menyadari Dae Mok menatap sadis ke arahnya. Ia langsung gemetar ketakutan. Dae Mok menyuruh Sun memakai topeng Putra Mahkota. Sun jelas menolak. Namun Dae Mok memaksa. Ia bilang Sun sekarang sudah menjadi Raja Joseon.

“Namun, saat kau tidak lagi menjadi anjing peliharaanku, ketika kau coba menjadi Raja sesungguhnya, kau juga akan mengikuti jejak Putra Mahkota. Ada begitu banyak orang yang bisa kujadikan Raja di balik topeng ini. Jika kau ingin hidup, kau harus menjadi anjing peliharaanku. Selama kau tetap menjadi Raja bodoh di balik topeng, kau adalah Raja Joseon.” Ucap Dae Mok.

  
Dae Mok kemudian memakaikan topeng itu ke wajah Sun. Usai memakaikan topeng itu pada Sun, Dae Mok menyuruh orangnya mengubur Putra Mahkota. Hwa Gun sontak langsung berlari ke arah Putra Mahkota. Ia berusaha melindungi Putra dan menatap tajam kakeknya. Tapi sang kakek tidak peduli dan menyuruh Gon menyeret Putra Mahkota pergi. Hwa Gun meronta.

“Kakek! Aku membenci Kakek!” teriak Hwa Gun.

  
Tak lama, Hwa Gun jatuh pingsan. Dae Mok langsung menatap cemas cucunya yang pingsan. Ia lalu menyuruh Gon membawa pergi Hwa Gun. Setelah itu, anak buah Dae Mok mulai mengubur Putra Mahkota. Chung Woon yang melihat dari jauh pun juga tampak cemas.

  
Di istana, Ga Eun menyamar sebagai dayang istana agar bisa keluar dari istana. Ia mengaku pada pengawal bahwa ia harus mengantarkan obat pada keluarga Selir Young Bin. Pengawal percaya dan membiarkan Ga Eun pergi. Dayang Selir Young Bin mengawasi Ga Eun dari kejauhan. Setelah yakin Ga Eun keluar dengan selamat, barulah ia pergi.


Ga Eun kembali ke rumahnya dan terkejut melihat pesan yang ia tinggalkan untuk Tuan Chun Soo-nya sudah tidak ada. Ga Eun pun bergegas ke pondoknya, namun ia tak menemukan Chun Soo-nya di sana. Ga Eun lalu mendongak ke langit.

“Ada banyak sekali yang ingin kusampaikan. Kemana kau pergi?” ucapnya.

  
Keesokan harinya, Chung Woon menggali kuburan Putra Mahkota. Ia menjerit histeris sambil memeluk tubuh Putra Mahkota, namun beberapa saat kemudian ia merasakan denyut nadi Putra Mahkota.


Chung Woon langsung membawa Putra Mahkota pada Woo Bo. Woo Bo tak yakin Putra Mahkota bisa kembali sadar. Chung Woon bilang, kalau Putra Mahkota harus sadar karena Dae Mok ingin merebut tahta. Putra Mahkota harus sadar sebelum Putra Mahkota palsu dilantik sebagai Raja.

“Apakah orang yang dijadikan Dae Mok sebagai anjing peliharaan sungguh Lee Sun?” tanya Woo Bo.

“Sepertinya begitu.” jawab Chung Woon, membuat Woo Bo resah.

  
Di istana, Menteri Joo membawa Sun menghadap Ratu. Mereka mengenakan pakaian serba putih sebagai tanda berkabung. Begitu melihat Ratu, Sun langsung menunduk karena takut. Ratu menyuruh Sun bicara. Sun pun bicara. Sadarlah Ratu Sun di hadapannya bukanlah Sun putranya karena ia sangat mengenal suara Sun, namun ia tak bisa berbuat apa2.

  
“Yang Mulia Ratu, mengingat Paduka Raja telah wafat secara mendadak, kita harus lekas mengisi posisi Raja yang kosong. Tolong pertimbangkan situasinya, dan segera memberi kami perintah. Saya menanti perintah Anda, Yang Mulia.” Tekan Menteri Joo.

“Hal itu sebenarnya bukanlah wewenangku. Namun, menenangkan rakyatlah prioritas utama kita.” jawab Ratu sambil menatap tajam Sun.

  
“Pangeran Sun, aku memahami dukamu, tapi... pertimbangkan masa depan negeri ini. Cepatlah ambil alih tahta.” Ucap Ratu lagi.

“Saya... menerima perintah Anda.” Jawab Sun gemetar.


Woo Bo masih berusaha mengobati Putra Mahkota. Chung Woon dengan setia menemani Putra Mahkota. Tak lama kemudian, nafas Putra Mahkota kembali. Putra Mahkota mulai membuka matanya.

  
Di istana, Dae Mok kembali bertingkah. Ia menemui Ratu dan meminta Ratu memberinya otoritas pencetak uang. Dae Mok beralasan, mencetak uang adalah hal penting untuk perpajakan negeri dan saat ini tak ada otoritas pencetak uang.

“Hal itu dapat menimbulkan keributan antar pihak. Anda harus menegakkan otoritas pengadaan uang negara. Silakan hukum mereka yang mencetak uang tanpa izin.” Ucap Dae Mok.

“Kenapa aku harus memberi Departemen Pengadaan Air otoritas semacam itu? Departemen Perpajakan memegang otoritas keuangan negara.” Jawab Ratu sambil menatap tajam Dae Mok.

“Tolong limpahkan otoritas itu pada Departemen Pengadaan Air dan cukup pertahankan saja nilai tukar uangnya. Gelarlah rapat esok hari. Satu-satunya cara menyelamatkan rakyat adalah memberikan otoritas keuangan pada Departemen Pengadaan Air.” Ucap Dae Mok sembari tersenyum sinis.

  
Keesokan harinya, Sun tak punya pilihan lain selain menuruti kehendak Dae Mok. Namun tepat saat ia akan menstempel titahnya, Ratu datang. Kedatangan Ratu tentu mengejutkan semua pihak.

  
“Kalian semua pasti terkejut aku datang kemari. Namun, kepergian Raja sebelumnya amat mendadak. Tidak ada pilihan kecuali aku mengambil alih.” Ucap Ratu.

“Perdana Menteri, usia Yang Mulia baru 17 tahun. Dia belumlah dewasa. Apa aku salah? Wakil Perdana Menteri Heo, katakan kalau memang Raja telah dewasa.” Tegas Ratu.

“Tidak, Yang Mulia.” Jawab Wakil Perdana Menteri Heo gugup.

“Lalu, kenapa...?” marah Ratu.

  
Ratu lalu menoleh pada Sun.

“Yang Mulia, Departemen Pengadaan Air tidak boleh memiliki otoritas keuangan. Kau masih terlalu muda. Kau belum mengerti cara menjalankan pemerintahan. Sampai kau cukup dewasa, dan mampu menjalankan sendiri pemerintahan, aku akan mendampingimu, dalam pengambilan keputusan.” Ucap Ratu.


Dae Mok dan kroco2nya langsung menggelar rapat terkait Ratu yang mengambil alih kekuasaan. Perdana Menteri Joo berkata, bahwa kekuatan yang dimiliki Ratu cukup kuat karena Ratu berasal dari keluarga berpengaruh.

“Lebih dari separuh militer kerajaan memihak Ratu.” Ucap Perdana Menteri.

“Lalu, kau akan membiarkan dia mengasistensi Raja sekarang? Insiden hari ini benar-benar serius. Dia akan mengontrol pemerintahan tanpa kenal takut!” sewot Wakil Perdana Menteri.

  
“Dengar. Dengar. Hanya butuh tiga tahun saja. Setelah tiga tahun berlalu, Raja akan dinyatakan cukup dewasa. Begitu dinyatakan dewasa, Ratu pun akan mundur dengan sendirinya.” Ucap Menteri Choi.
“Kelihatannya, kau ini senang Ratu mengambil alih kekuasaan.” Tuduh Wakil Perdana Menteri Heo.

“Lalu, kau sendiri? Karena aku kerabat Ratu, kau curiga padaku!” sewot Menteri Choi.


Dae Mok akhirnya angkat bicara membuat pertengkaran itu terhenti.

“Biarkan saja ia mengasistensi Raja. Memiliki kekuatan militer tidak ada gunanya. Tidak ada gunanya kecuali ia pun memiliki otoritas atas keuangan negara. Tanpa uang, mana bisa dia mempertahankan kekuatan militer? Pada Ratu yang arogan akibat memiliki kuasa atas militer negara, aku akan tunjukkan padanya kekuatan dari uang yang kumiliki.” Ucap Dae Mok.

  
Dae Mok lalu memberi perintah pada Tae Ho bahwa mulai sekarang Departemen Pengadaan Air harus memberikan pinjaman tanpa bunga.

“Buat semua orang berbondong ke Departemen Pengadaan Air,untuk meminjam uang. Aku, Dae Mok, akan menunjukkan kekuatan militer pun akan tunduk pada uang.” Ucap Dae Mok.

  
Putra Mahkota akhirnya terbangun. Bersusah payah, ia bangkit dari tidurnya. Tepat saat itu, Chung Woon datang bersama Woo Bo. Chung Woon langsung mendekati Putra Mahkota. Woo Bo memarahi Putra Mahkota yang mau pergi dalam kondisi lemah seperti itu.

“Dae Mok telah membunuh ayahandaku. Aku harus pergi ke istana sekarang.” ucapnya lemah.

Woo Bo dan Chung Woon terdiam mendengarnya. Putra Mahkota langsung menanyakan ibunya. Chung Woon terpaksa mengatakan kalau Selir Young Bin juga sudah dibunuh Dae Mok.

“Itu tidak mungkin. Istana memiliki pasukan pelindung yang sangat banyak!” protes Putra Mahkota.

“Ayah hamba juga telah tiada.” Ucap Chung Woon.

Putra Mahkota syok. Terlebih saat mendengar apa yang terjadi pada Sun, tangisnya semakin mengalir.

  
Kondisi rakyat juga tak kalah menyedihkan. Departemen Pengadaan Air menyuruh mereka pindah ke Chilpae. Ibu Sun protes, di sana tanah tandus yang tak ada apa2. Tae Ho marah, ia mau mendamprat ibu Sun, tapi Ga Eun langsung menghalangi.

“Tempat ini adalah rumah mereka. Jika mereka dipindahkan secara mendadak, bagaimana mereka bisa bertahan hidup?” protes Ga Eun.

“Sekarang juga, kalau kau tidak lekas pergi, aku akan menghabisimu.” Ancam Tae Ho.

“Beraninya kau! Kau tidak takut pada kutukan Langit!” teriak Ga Eun.

Dan, PLAAAK! Tae Ho menampar keras Ga Eun hingga Ga Eun terjatuh.

“Kau itu hanya putri seorang criminal,beraninya menentangku? Aku tidak tahu bagaimana bisa kau tidak dijadikan budak, tapi kau harus sadar kalau kau itu bukan lagi bangsawan.” Ucap Tae Ho.

  
Seorang pria marah, ia berkata mereka tidak akan pergi kemana2. Tae Ho dan teman2nya pun langsung memukuli pria itu. Tae Ho lantas memberi perintah untuk mengosongkan rumah warga. Ga Eun hanya bisa menangis melihat kekacauan di depan matanya.

  
“Nona, apa kau ingat? Raja muda pernah menyelamatkan nyawa seseorang di ibukota.” Tanya pria itu.

Ga Eun membenarkan.

“Saat itu, aku begitu bahagia, berpikir saat Putra Mahkota menjadi Raja, keadaan negeri ini akan membaik. Aku mengira negeri ini akan menjunjung keadilan. Tapi kenapa... Kenapa keadaan saat ini justru menjadi semakin sulit saja?” ucap pria itu.

“Kenapa kita sampai diusir? Hidup kita menjadi lebih susah sepeninggal Raja sebelumnya.” Keluh warga.


Ga Eun seketika teringat pada ucapan ayahnya.

“Ayah pernah mengatakan tanaman tak akan tumbuh, kecuali ada yang menyirami, serta menyingkirkan gulmanya. Ya, aku mengerti maksudnya. Aku akan melindungi mereka semua.” Batin Ga Eun.


Ga Eun lalu mengajak mereka semua pindah ke Chilpae.

  
Putra Mahkota berniat kembali ke istana, ia mau menghabisi Dae Mok. Sontak, Chung Woon dan Woo Bo langsung menghalanginya. Woo Bo memberi nasihat bijak, persis seperti yang ia katakan pada Dae Mok dulu.

“Aku menyuruhmu menjadi Sang Tuan dengan caramu sendiri. Apa yang akan kau lakukan? Membunuh Dae Mok, lalu menjadi hewan buas tak kenal takut selanjutnya. Itukah caramu membalas dendam? Kau pikir semua orang itu meninggal agar kau bisa membalas dendam? Kau, pikirkan orang-orang yang telah berkorban untuk dirimu. Apakah kau berpikir mereka semua hanya ingin kau mengakhirinya dengan membunuh Dae Mok?”

  
Putra Mahkota pun terdiam mendengar nasihat Woo Bo. Ia terduduk lemas dan kembali menitikkan air mata.

  
Ga Eun dan rakyat miskin lainnya tiba di Chilpae. Rakyat mengeluh karena tidak ada apa2 di sana. Ga Eun menyemangati mereka dengan mengajak berbisnis.

“Chilpae ini, untuk Dermaga Mapo dan Seogang, adalah satu-satunya jalan menuju Gerbang Seoso. Sebab itu, kalau kita berbisnis di sini, kita pasti untung besar.” Ucap Ga Eun.

“Aku... memercayai Nona. Lalu, apa yang harus kita lakukan?” tanya ibu Sun semangat.

“Ayo... kita bangun tempat tinggal dulu.” Ucap Ga Eun.


Rakyat pun mulai membangun rumah mereka. Mereka mencari kayu dan air untuk keperluan membangun rumah.
  
Putra Mahkota bersujud di atas bukit. Chung Woon berdiri di belakangnya. Dari atas bukit itu, istana dan sekitarnya bisa terlihat dengan jelas.

“Ayahanda... Ibu... Maaf karena saya belum bisa datang sekarang. Saya... akan menjadi kuat, menggulingkan Dae Mok, kemudian menemui kalian. Tolong... tunggulah sampai saat itu.” batinnya.


Putra Mahkota lantas berdiri dan menatap ke arah istana.

“Guru, di sana ada Lee Sun. Menggantikanku, ia kini menjadi anjing peliharaan mereka. Lee Sun-ah, aku harus menyelamatkan mereka. Lee Sun-ah, Joseon. Aku akan menyelamatkan mereka.” Ucapnya.

Putra Mahkota lalu menatap Chung Woon.

“Maukah kau membantuku?” tanya Putra Mahkota.

“Anda tidak perlu bertanya begitu pada seorang pengawal seperti hamba. Anda hanya perlu memberitahu tujuan anda dan memerintahkan saya melindungi anda.” Jawab Chung Woon.

  
Rakyat bersuka cita karena berhasil menemukan sumber air. Tak lama kemudian, Putra Mahkota dan Chung Woon datang, namun mereka hanya melihat dari kejauhan. Putra Mahkota tersenyum melihat Ga Eun yang tersenyum. Tak lama, Putra Mahkota pun membalikkan badannya.

  
“Anda akan pergi begitu saja?” tanya Chung Woon.

“Aku melihat dia baik-baik saja. Sudah cukup. Ayah Ga Eun meninggal karena aku. Aku melihat dia menangis dan tidak bisa melupakannya. Ga Eun pernah bilang setiap kali melihatku, ia teringat ayahnya. Itu membuatnya tidak bahagia. Dengan aku menjaga jarak darinya, itulah yang terbaik untuk Ga Eun.” Ucap Putra Mahkota pedih.

  
Putra Mahkota lalu menoleh pada Ga Eun. Tepat saat itu, Ga Eun juga menoleh kepadanya.

No comments:

Post a Comment