Tuesday, June 13, 2017

Ruler : Master Of The Mask Ep 10 Part 1

Sebelumnya...

  
Ga Eun menoleh pada Lee Sun, tepat saat Lee Sun beranjak pergi. Ga Eun yang tak sadar, sosok yang dilihatnya adalah Tuan Chun Soo yang dirindukannya, melanjutkan suka citanya bersama rakyat karena berhasil menemukan sumber air.

  
Lee Sun menemui Woo Bo ketika Woo Bo mengeluh soal dirinya yang tidak bisa makan apa2, tapi minuman bisa masuk dengan mudahnya. Lee Sun meminta Woo Bo mengajarinya cara menyingkirkan Kelompok Pyunsoo.

“Aku tidak pernah menjadikanmu muridku.” Jawab Woo Bo.

“Cara untuk menyingkirkan Dae Mok, tolong ajari aku.” pinta Lee Sun.

“Dasar bodoh. Kau masih saja belum menyadari, bahwa kalau kau gegabah, akan banyak orang yang mati.” Jawab Woo Bo.

“Lalu, aku harus bagaimana lagi? Tanpa mengorbankan nyawa siapa pun lagi, aku ingin menyingkirkan Dae Mok. Aku akan melakukan segalanya, jadi tolong beritahu caranya.” Pinta Lee Sun.

  
Woo Bo langsung bangun dari tidurnya dan menatap tajam Lee Sun. Ia melarang Lee Sun melakukan apapun sampai Lee Sun menyadari hal yang perlu Lee Sun lakukan.


Moo Ha menemui Ga Eun yang sibuk berdagang di pasar dengan ibunya Sun. Moo Ha prihatin dengan nasib Ga Eun yang dicap sebagai putri seorang pengkhianat. Terlebih lagi, tak ada satu pun kerabat Ga Eun yang muncul membantu Ga Eun.

“Orang-orang di sini adalah keluarga sekaligus temanku. Tidak usah mencemaskan aku, Paman. Aku suka di sini. Kami berencana membuka pasar dan berdagang.” Jawab Ga Eun tegar.

“Apakah ada yang bisa paman bantu?” tanya Moo Ha.

“Paman, apa ada cara agar aku bisa masuk istana? Begini, aku ingin menjual obat herbal pada para kasim.” Ucap Ga Eun.

“Aku mengerti. Aku akan mencoba mencari jalan, meski mungkin butuh waktu lama.” Jawab Moo Ha.

  
Lee Sun berlutut di hadapan Woo Bo yang tertidur pulas. Bahkan, dengkuran Woo Bo sampai terdengar. Chung Woon kasihan melihatnya. Tak lama kemudian, seorang pedagang datang dan berteriak membangunkan Woo Bo. Woo seketika terbangun. Ia terkejut dengan teriakan pedagang itu. Sambil menatap aneh Lee Sun, pedagang itu menanyakan alasan Woo Bo memanggilnya.

  
“Kau lihat anak muda yang berlutut itu? Bawa dia bersamamu dan pekerjakan dia.” suruh Woo Bo.

“Kenapa aku harus membawa pemuda lemah sepertinya? Jelas dia hanya akan jadi beban.” Sinis pedagang itu.

“Dia lebih berguna dari yang terlihat, jadi bawa saja dia.” ucap Woo Bo.

“Tidak sampai dua minggu pasti dia sudah kabur.” Jawab pedagang itu yakin.

“Kita taruhan saja. Bagaimana?” tanya Woo Bo.


Akhirnya pedagang itu membawa Lee Sun bersamanya. Lee Sun tampak kesusahan membawa beban di pundaknya. Ditambah lagi, ia harus berjalan cukup jauh. Hal yang tak pernah ia lakukan selama ini, kini ia terpaksa lakukan. Di pasar, mereka bertemu para pedagang lainnya.

“Siapa dia?” tanya para pedagang itu sambil melirik ke arah Lee Sun.

“Dia beban yang dititipkan Tuan Woo Bo padaku.”  Jawab pedagang itu.

“Beban?” pedagang2 itu keheranan sendiri.


Pedagang itu seketika menggeplak kepala Lee Sun karena Lee Sun tak menyapa pedagang2 yang lain. Lee Sun pun menyapa mereka, tapi kembali digeplak pedagang itu karena ia tak menyebutkan namanya. Dengan wajah cemberut, Lee Sun berkata ia tak punya nama.

“Kalau begitu kau kupanggil Beban saja!” galak pria itu.


Pria itu lalu menyuruh teman2nya memberi Lee Sun pekerjaan, setelah itu ia beranjak pergi. Teman2 pria itu tak yakin Lee Sun bisa bekerja karena Lee Sun terlalu tampan. Salah seorang dari mereka lalu mengalungkan ikan segar ke leher Lee Sun dan menyuruh Lee Sun mengeringkan ikan itu. Lee Sun  menatap ikan itu dengan tampang jijik.

  
Malam harinya, Lee Sun tidur desak2an dengan puluhan pedagang lainnya. Namun karena tak terbiasa membaur seperti itu, Lee Sun pun turun dari tempat tidur dan beranjak keluar. Ia duduk diluar dan teringat kata2 Woo Bo.

“Pergilah bersama dia, jadilah pedagang dan kembalilah lebih kuat. Pedagang memiliki organisasi yang kuat. Jika kau menyatukan mereka semua dan mengumpulkannya di Joseon, pasti jumlahnya lebih dari 300 ribu anggota. Jika kau bisa memanfaatkan mereka dengan baik, kau akan memiliki sumber informasi serta akomodasi terbaik di Joseon.” Ucap Woo Bo.

  
Keesokan harinya, saat Lee Sun sedang bekerja di pasar mengangkat kotak2, seorang wanita berlari histeris menangisi jasad suaminya. Lee Sun terkejut melihatnya, terlebih lagi wanita itu memiliki seorang anak yang masih bayi.

“Kita bisa apa memangnya? Jalanan memang berbahaya. Para pedagang banyak yang mati karenanya. Aku tidak bisa berbuat apa-apa untuknya.” Ucap pria itu.


Hati Lee Sun tergerak. Ia ingin memberikan sedikit uang untuk biaya pemakaman suami wanita itu, namun apa daya ia hanya punya dua keping saja. Lee Sun lantas meminta gajinya dibayar lebih awal. Pria itu yang tahu Lee Sun mau memberikan uang pada wanita itu, langsung menggeplak kepala Lee Sun. Lee Sun sewot. Pria itu juga tak kalah sewot. Ia berkata, mana bisa Lee Sun membantu semua orang begitu. Pria itu lantas menyuruh Lee Sun menagih uang sewa dari para pedagang.

“Uang sewa?” tanya Lee Sun.

“ Setiap selesai berdagang, mereka memilah uang untuk kebutuhan hidup dengan uang sewa lahan. Kemudian mereka akan berkumpul dan minum bersama.” Jawab pria itu.


Lee Sun pun pergi menagih uang sewa dari para pedagang. Ia hanya bisa mengelus dada, bersabar saat para pedagang itu mencacinya karena menagih uang sewa. Lee Sun akhirnya berhasil mendapatkan sekantong penuh uang dan tiba2 saja, muncul ide di kepalanya.


Malam harinya, Lee Sun dan pria itu saling memperebutkan kantong uangnya. Lee Sun ingin membantu wanita tadi, tapi pria itu tak setuju dan berusaha merebut kantong uangnya tapi gagal. Mereka lalu kejar-kejaran hingga Lee Sun naik ke atas meja.

“Ayo kita tabung uang ini daripada dibuat minum-minum. Maka kita bisa membantu orang lain sewaktu-waktu.” Ajak Lee Sun.


Pria itu mengumpat kesal dan berusaha merebut uangnya tapi Lee Sun berhasil menghindar.

“Tolong, kali ini saja. Uang yang ini saja. Kita bantu dia secukupnya dan nanti kalau ada yang terluka atau meninggal lagi, kita bisa gunakan sisanya.” Ucap Lee Sun.

Pedagang lain setuju, tapi tidak dengan pria itu. Pria itu lantas menyuruh pedagang lain menangkap Lee Sun. Lee Sun langsung kabur, tapi ia terjatuh hingga kantong uang itu terlepas dari tangannya.


Tapi keesokan harinya, kita melihat pria itu mendapatkan ucapan terima kasih dari wanita itu.Ternyata, pria itu setuju membantu wanita itu menggelar ritual pemakaman. Tak lama kemudian, Lee Sun dan pedagang lainnya datang. Wanita itu langsung berterima kasih pada mereka semua.

“Kau harus berterima kasih pada anggota termuda (maknae) kami.” ucap salah seorang pedagang sembari melirik Lee Sun.

  
Lee Sun tersipu malu mendapat ucapan terima kasih dari wanita itu. Lee Sun kemudian bertanya, apa ini artinya dia naik peringat dari beban menjadi maknae? Pria itu pun langsung memberikan tatapan sebalnya pada Lee Sun. Sementara Lee Sun, dia malah senyum2.

  
Mereka lalu mulai membawa barang dagangan mereka melintasi jalan pegunungan yang berliku. Lee Sun yang sebelumnya tidak pernah menempuh perjalan sesulit itu, langsung kelelahan. Beberapa kali ia terjatuh, namun ia tak menyerah hingga pria itu tersenyum melihat usahanya.

  
Musim demi musim berlalu. 5 tahun kemudian, tanah tandus itu sudah berubah menjadi pemukiman padat penduduk dan pasar yang sibuk. Ga Eun yang tengah jalan2 di pasar tanpa sengaja melihat Tuan Chun Soo nya. Ga Eun tentu saja langsung mengejarnya tapi saat ia menepuk bahu pria itu, pria itu bukanlah Chun Soo nya. Ga Eun pun berpikir, kalau tadi ia sedang berkhayal melihat Chun Soo.


Saat berbalik, dia mendapati Kko Mool yang sudah berdiri di belakangnya. Kko Mool mendesah dan bertanya apa Ga Eun masih belum menyerah mencari Chun Soo.

“Cinta pertama itu lupakan saja dan berkencanlah dengan orang lain.” Suruh Kko Mool.

  
Akibatnya, dia langsung dijitak Ga Eun. Ga Eun lantas mengajak Kko Mool pulang. Tapi sampai di rumah, mereka mendapati ibu Kko Mool yang sedang termenung dengan wajah sedih memikirkan Sun. Ga Eun pun mengaku kalau ia juga merindukan Sun.

“Kenapa nona merindukan berandal berhati dingin itu? Aku akan buat perhitungan kalau dia kembali.” Jawab ibu Sun.

“Lalu, kenapa Bibi selalu membiarkan pintu depan terbuka?” tanya Ga Eun.

“Itu... Karena dia tidak bisa masuk kalau pintunya terkunci. Juga bila ia ingin langsung pergi lagi.” Jawab ibu Sun.


Ibu Sun akhirnya menangis. Ga Eun juga nampak sedih dan Kko Mool ikut menangis.

Sun sendiri duduk di singgasana Raja. Para pejabat tampak berdemo, menuntut Ratu mundur sebagai wali Raja karena Raja sudah memasuki usia dewasa. Ratu terlihat kesal, tapi ia tak bisa berbuat apa2 selain menyerahkan stempel kerajaan pada Sun.

No comments:

Post a Comment