Sunday, July 16, 2017

Ruler : Master Of The Mask Ep 30

Sebelumnya...


Sun datang menjemput Ga Eun. Ga Eun terkejut melihat Sun. Sun mengaku, ia datang untuk menyelamatkan Ga Eun. Namun Ga Eun menyuruh Sun menolong Seja terlebih dahulu. Sun pun terkejut, menolong siapa? Rona wajahnya mulai menyiratkan kekesalan saat Ga Eun menyuruhnya menolong Seja.

“Demi menyelamatkanku, Jeoha datang dan Dae Mok sekarang mengurungnya. Kumohon, kau harus menyelamatkan Jeoha.” Pinta Ga Eun.

Sun pun marah. Ia bahkan membentak Ga Eun dan mengingatkan Ga Eun bahwa Seja adalah seseorang yang telah membunuh Tuan Han. Ga Eun terkejut Sun membentaknya. Sun kemudian tersadar dan menurunkan sedikit volume suaranya. Ia mencoba menghasut Ga Eun dengan mengatakan bahwa Seja adalaha musuh Ga Eun.

“Jeoha tidak membunuh ayahku. Ayahku dibunuh oleh pria bernama Chung Woon itu. Jeoha tidak melakukannya.” Ucap Ga Eun.

Sun pun langsung terduduk lemas karena Ga Eun sudah mengetahui kebenaran dibalik kematian Tuan Han. Sementara itu, Ga Eun terus merengek meminta Sun membantunya menyelamatkan Seja.  Sun pun menjawabnya dengan gugup kalau ia akan menyelamatkan Seja dan meminta Ga Eun mempercayai dirinya.


Lalu apakah Sun benar-benar akan menyelamatkan Seja? Tentu saja tidak… karena setibanya diluar, wajahnya langsung berubah kesal.

  
Sekembalinya ke istana, Sun langsung menemui Daebi Mama. Ia meminta bantuan Daebi Mama untuk membebaskan Ga Eun. Sun pun berjanji, akan selalu mempercayai dan bergantung pada Daebi Mama.


Keesokan harinya, di balai istana, Sun mengumumkan keputusan Daebi Mama bahwa Yeon Joo lah yang terpilih menjadi Ratu. Tentu saja hal itu membuat Menteri Choi girang setengah mati, sementara kubu Dae Mok tak suka dengan keputusan Daebi Mama.

Beberapa menteri memberi selamat pada Menteri Choi yang akan menjadi mertua Raja. Kubu Dae Mok menatap mereka dengan wajah kesal. Kwang Ryul yang memperhatikan mereka dari jauh bersama dengan Moo Ha dan Woo Bo bersyukur karena bukan orang dari Pyunsoo-hwe yang diangkat menjadi Ratu. Namun sepertinya Woo Bo bisa mencium ada yang tidak beres di balik penunjukan Yeon Joo sebagai Ratu.


Hwa Gun mengantarkan makanan untuk Seja karena Seja belum makan sedikit pun sejak semalam. Sambil menatap Seja lirih, Hwa Gun memberitahu ritualnya akan dilakukan esok hari. Seja menanyakan keberadaan Chung Woon. Namun Hwa Gun juga tidak mengetahui dimana Chung Woon disekap. Seja semakin terluka saat Hwa Gun mengatakan kemungkinan Chung Woon akan buta.

“Setelah ritual besok, akan banyak yang berubah. Namun, aku akan melakukan apa saja untuk mendapatkan penawarnya.” Janji Hwa Gun.

  
Gon menghadap Dae Mok. Dae Mok mengancam Gon dengan mengatakan tidak akan memaafkan pengkhianat Pyunsoo-hwe sekali pun itu cucunya sendiri. Dae Mok minta Gon memikirkan kebaikan Hwa Gun.

  
Tak ingin Hwa Gun terluka, terpaksalah Gon membohongi Hwa Gun dengan mengaku bahwa ia sudah menemukan tempat dimana obat penawar itu biasa disimpan. Gon mengatakan ritualnya tidak akan dimulai sebelum pukul sebelas malam, jadi jika mereka berangkat sekarang, maka mereka bisa kembali besok sore. Hwa Gun yang memang berniat menolong Seja pun mempercayai kata-kata Gon begitu saja.

  
Keesokan harinya, Seja dan Ga Eun diseret ke gua Pyunsoo-hwe. Ga Eun menatap Seja dengan cemas, namun tekad Seja untuk menyelamatkan Ga Eun sudah bulat.

Dae Mok menyuruh Seja meminum anggur poppi. Ga Eun terkejut mendengar penjelasan Dae Mok soal anggur poppi. Dae Mok menjelaskan, kalau Seja tidak meminum anggur poppi setiap dua minggu sekali, maka Seja akan mati.

  
Untuk menekan Seja, Tae Ho mengancam Ga Eun dengan pedangnya sesuai instruksi Dae Mok. Seja yang takut Ga Eun terluka, akhirnya mengambil cangkir berisi anggur poppi itu. Tangis Ga Eun pun pecah.

“Tidak boleh! Kau hendak meminumnya lalu menjadi anjing setia mereka? Kumohon, jangan meminumnya. Tolong jangan meminumnya, terutama bila itu  demi menyelamatkanku. Kenapa kau peduli kepadaku? Gara-gara kau, ayahku tewas. Seumur hidup, kupastikan akan mencaci dan menyumpahimu!” teriak Ga Eun.

“Gara-gara aku kau kehilangan ayahmu. Maafkan aku.” jawab Seja dengan pandangan terluka.


Sementara itu, yang mengejutkan, Sun ternyata ikut menyaksikan ritual itu. Ia menyamar dan berdiri di tengah-tengah orang Pyunsoo-hwe yang mengenakan topeng.


Sebelum meminum anggur itu, Seja meminta Dae Mok berjanji untuk melepaskan Ga Eun setelah ia minum anggur itu. Dae Mok pun berjanji akan melepaskan Ga Eun setelah ritualnya selesai.

“Jangan! Jangan, Doryongnim! Jangan, Jeoha!” teriak Ga Eun, membuat Seja langsung menatap ke arahnya.

“Orang yang membunuh ayahku bukan Jeoha, aku sudah tahu. Jadi kumohon, tolong jangan meminumnya.” Rengek Ga Eun.

“Kecuali kau ingin melihatnya mati duluan, cepat minum anggur poppi itu!” ancam Dae Mok.

“Jeoha, kumohon.” Pinta Ga Eun.


Seja pun meminum anggur itu. Namun sebelum meminumnya, ia tersenyum pada Ga Eun. Seketika, Seja merasakan nyeri yang teramat hebat di dadanya. 




Tak lama kemudian, ia muntah darah.

“Khusus untukmu, aku memberi tiga pil poppi. Satu cukup untuk membuat orang ketergantungan, tapi tiga akan menghabisinya di tempat.” Ucap Dae Mok.


Ga Eun dan Sun sama-sama syok melihatnya. Seja pun kesal karena Dae Mok sudah menipunya. Dae Mok lalu jongkok di hadapan Seja. Ia berkata, bahwa dunia yang mereka tinggali merupakan pusaran api dan ia berusaha untuk bertahan.

“Sebuah negeri yang mendorong rakyatnya sendiri ke dalam jurang keputusasaan. Itulah yang melahirkan monster sepertiku.” Ucap Dae Mok.

  
Seja ingin membalas Dae Mok, namun Dae Mok dengan sekali tepis berhasil menjatuhkan Seja. Ga Eun langsung memeluk Seja. Ia meminta Seja bertahan. Seja terus batuk darah. Ga Eun pun semakin ketakutan. Sambil menahan sakit, Seja memegang wajah Ga Eun. Dengan napas tersengal-sengal, ia mengaku sudah jatuh cinta pada Ga Eun sejak pertama kali mereka bertemu.



Setelah mengatakan itu, Seja pun menghembuskan nafas terakhirnya. Tangis Ga Eun seketika pecah. Tangisnya kian besar saat melihat anak buah Dae Mok membawa tubuh Seja yang sudah tidak bernyawa itu.

  
Hwa Gun yang baru kembali ke rumahnya terkejut saat diberitahu sang ayah bahwa ritual Seja sudah selesai dilaksanakan. Woo Jae juga mengaku tak melihat Seja lagi setelah ritual berakhir.


Sementara itu, jasad Seja dibuang di sebuah lahan.

  
Hwa Gun ditemani Gon berlari ke tempat ritual. Hwa Gun marah besar karena Gon sudah membohonginya. Hwa Gun langsung mencabut pedang Gon dan ingin menebas leher Gon saat Gon mengatakan bahwa Dae Mok sudah membunuh Seja. Namun ia tak bisa melakukannya.

“Cepat temukan dia sekarang juga! Temukan Jeoha sekarang juga! Kalau kau tidak menemukannya, aku akan membunuhmu!” ancam Hwa Gun.

  
Istana sedang merayakan terpilihnya Yeon Joo sebagai Ratu Joseon. Daebi Mama memberitahu Menteri Choi bahwa Departemen Astrologi sudah menetapkan tanggal pernikahan Sun dengan Yeon Joo.


Sementara itu, Woo Bo, Moo Ha dan Kwang Ryul mencemaskan Seja yang masih belum kembali. Tak lama kemudian, Kwang Ryul pergi dan Sun menyuruh Woo Bo serta Moo Ha maju ke depannya.

“Kudengar, kalian telah mengasistensi proses seleksi dengan sangat baik. Sebab itu, aku akan menuang minuman untuk kalian.” Ucap Sun.



Sun lantas memberikan cangkirnya pada Woo Bo.

“Aku yakin kau masih ingat saran yang kuberikan padamu. Kau adalah abdi setiaku sekarang.” ucap Sun.


Seketika, Woo Bo teringat kata-kata Sun saat ia bicara di balkon istana.

Flashback…

“Jangan bertindak lebih jauh. Saya tidak ingin Anda terluka.” Ucap Sun.

Flashback end…

  
Woo Bo lantas menjatuhkan cangkirnya. Sun marah dan membentak Woo Bo. Ia menuduh Woo Bo sedang mabuk. Woo Bo pun langsung pura-pura mabuk dan menggeplak muka Moo Ha. Ia memarahi Moo Ha yang sudah berani menumpahkan anggur Raja.
  
Sun marah. Ia mengaku tak ingin melihat wajah Woo Bo lagi. Moo Ha pun langsung menyeret Woo Bo keluar. Diluar, mereka bertemu Kwang Ryul. Benar saja, Woo Bo memang pura-pura mabuk. Woo Bo menjelaskan, kalau sebaiknya mereka tidak mengikuti perayaan itu karena ia punya firasat buruk.


Firasat Woo Bo itu pun benar. Sun diam-diam menukar teko anggurnya dengan teko yang berisi anggur poppi dan dia menuangkan anggur poppi itu ke dalam cangkir semua yang hadir termasuk cangkir Daebi Mama. Daebi Mama pun terheran-heran melihat Sun yang tidak meminum anggurnya. Para menteri yang berpihak pada Dae Mok juga tak meminum anggur itu.

  
Tak lama, pelayan mengumumkan kedatangan Dae Mok. Tak lama setelah kedatangan Dae Mok, Daebi Mama dan para menteri serta dayang yang ikut mencicipi anggur poppi itu langsung roboh.

Menteri Choi yang sadar apa yang barusan mereka minum, langsung memohon ampun pada Dae Mok dan berjanji tidak akan mengkhianati Dae Mok lagi. Tapi Dae Mok malah mendorong tubuhnya dengan kasar. Dae Mok lalu memberitahu mereka semua bahwa mereka baru saja meminum anggur poppi.

  
Daebi Mama marah besar pada Sun. Sun berteriak, menyuruh Kepala Kasim membawa Daebi Mama kembali ke kediamannya dengan alasan Daebi Mama sedang kurang sehat.

  
Sun pun mengingat apa yang terjadi saat ia mendatangi kediaman Dae Mok untuk membebaskan Ga Eun. Setelah keluar dari kamar tempat Ga Eun dikurung, Sun langsung menemui Dae Mok. Dae Mok menyuruh Sun melakukan sesuatu. Dae Mok membawa Sun ke gua nya. Di sana, Dae Mok berkata bahwa Sun akan menjadi Raja yang sesungguhnya mulai sekarang. Sun pun membuka topeng hitamnya dan tertegun mendengar dirinya akan menjadi Raja.

  
Kembali ke masa sekarang—dimana Sun menundukkan kepalanya, memberi hormat pada Dae Mok.


Setelah itu, Sun mengasingkan Daebi Mama ke Istana Timur. Sun mengumumkan bahwa Daebi Mama berusaha menghimpun kekuasaan dengan menjadikan Yeon Joo sebagai Ratu. Karena itulah ia menghukum Daebi Mama dengan mengasingkan Daebi Mama.

  
Tak hanya itu, Sun juga mengangkat Tae Ho menjadi Kepala Biro Pengadaan, Pejabat tingkat dua. Selain berperan sebagai Kepala Yangsucheong, Tae Ho juga diberi kekuasaan untuk mencetak uang.

  
Sontak, Woo Bo, Kwang Ryul dan Moo Ha menentang titah yang Sun berikan. Akibatnya, Sun menghukum mereka dengan memecat mereka dan melarang mereka memasuki istana. Woo Bo sedih melihat Sun yang kini benar-benar memihak pada Pyunsoo-hwe.

  
Kepala Kasim berencana melakukan serangan terhadap Pyunsoo-hwe. Barulah, Kepala Kasim menanyakan keadaan Seja. Dengan mata berkaca-kaca, Mae Chang bilang mereka tidak akan bisa menemukan Seja dimana pun.


Ga Eun masih disekap Dae Mok. Tak lama Sun datang menjemputnya. Ga Eun langsung menanyakan kondisi Seja. Dengan wajah kecewa karena Ga Eun terus-terusan memikirkan Seja, Sun berkata bahwa Seja sudah meninggal. Tangis Ga Eun pun pecah seketika. Sun juga memberitahu bahwa istana sudah berada dalam kekuasaan Pyunsoo-hwe.

“Banyak... yang belum aku katakan padanya.” Tangis Ga Eun.

  
Sun pun langsung memeluk Ga Eun. Tanpa disadari Ga Eun, rona wajah Sun terlihat puas karena berhasil membunuh Seja dan mengontrol istana.

  
Lalu benarkah Seja sudah meninggal? Belum, Seja masih hidup! Hal ini terlihat dari luka di lengan Seja yang kembali muncul. Luka itu akan muncul jika Seja kembali diracuni dan menandakan Seja kebal terhadap racun apapun.

Bersambung…

No comments:

Post a Comment