Monday, July 17, 2017

Ruler : Master Of The Mask Ep 33 Part 1

Sebelumnya...


Sebelum kebakaran terjadi, Moo Ha dan Mae Chang menyusup ke ladang poppi untuk mengambil bunga poppi. Moo Ha berkata, seharusnya mereka bisa membuat obat penawarnya dengan bunga poppi namun Mae Chang tak yakin tapi mereka harus mencoba segala cara. Moo Ha seketika terpesona pada Mae Chang. Melihat Moo Ha yang terdiam sambil memandangi wajahnya, Mae Chang pun memarahi Moo Ha dan menyuruh Moo Ha terus menggali.



Bersamaan dengan itu, Seja dibantu Chung Woon membawa anak2 itu kabur. Gon mengawal mereka dari belakang. Tak lama kemudian, Tae Ho dan anak buahnya datang menghadang mereka. Gon ikut menghunuskan pedangnya ke arah Tae Ho. Sontak, hal itu membuat Tae Ho, Seja dan Chung Woon terkejut.


Tae Ho semakin terkejut melihat sosok Seja yang berdiri tegak di hadapannya. Ia tak menyangka Seja masih hidup. Tiba-tiba, terdengar teriakan para prajurit dari arah ladang poppi yang berteriak kebakaran. Kepulan asap mulai membumbung ke langit. Terpaksa lah Tae Ho dan anak buahnya meninggalkan Seja untuk menyelamatkan ladang poppi dari kobaran api.


Moo Ha dan Mae Chang juga terkejut melihat ladang poppi kebakaran. Mereka pun bergegas menyelamatkan diri.


Dae Mok terkejut mendengar ladang poppi nya kebakaran. Ditemani pengawalnya, ia memacu kudanya menuju ladang poppi.


Woo Jae syok melihat ladang poppi yang sudah rata dengan tanah. Woo Jae tak habis pikir dengan Hwa Gun yang berani bertindak senekad itu. Namun Hwa Gun sama sekali tidak menyesalinya.


Woo Jae cemas, ia menyuruh Hwa Gun melarikan diri. Tapi Hwa Gun tidak mau dan memberitahu Woo Jae perihal Seja yang masih hidup. Woo Jae makin terkejut. Woo Jae lantas menyuruh Hwa Gun merahasiakan hal ini dari Dae Mok.


Tak lama, Dae Mok datang. Ia murka melihat ladang poppi nya sudah rata dengan tanah. Tae Ho ketakutan dan menyuruh seorang pengawal bicara. Pengawal itu yang juga ketakutan memberitahu Dae Mok kalau ada seorang penyusup yang kabur bersama tawanan mereka dan membantu anak2 melarikan diri.

“Dan kalian membiarkannya pergi?!” teriak Dae Mok.


Dae Mok lantas mencabut pedang Tae Ho dan menebas si pengawal tanpa ampun. Kontan saja, semua yang ada disitu semakin takut dengan Dae Mok. Dae Mok kemudian menghampiri Woo Jae.


Woo Jae langsung berlutut ketakutan dan memohon nyawanya diampuni. Dae Mok tak habis pikir bagaimana bisa Woo Jae berhadap diampuni setelah gagal melindungi jantung Pyunsoo-hwe. Dae Mok pun bersiap menebas Woo Jae. Tak rela ayahnya terbunuh, Hwa Gun pun mengaku bahwa dirinya lah yang membakar ladang poppi.


Dae Mok syok mendengarnya. Sementara Woo Jae menatap cemas Hwa Gun. Tae Ho pun bergegas melindungi Hwa Gun dengan mengatakan Seja lah yang melakukannya. Dae Mok tidak menyangka Seja masih hidup.


Tak mau pria yang dicintainya terluka, Hwa Gun pun dengan lantang mengaku dirinya lah yang membakar ladang poppi. Dae Mok menatap Hwa Gun dengan tatapan murka. Sementara Woo Jae menatap Hwa Gun dengan cemas. Ia takut, Dae Mok akan melukai Hwa Gun.


Mae Chang dan Moo Ha yang berusaha melarikan diri malah bertemu dengan Seja dan Chung Woon. Mereka terkejut dan langsung terduduk lemas. Moo Ha langsung menangis dan memeluk Seja serta Chung Woon dengan erat. Mae Chang juga menangis. Ia tak menyangka Seja masih hidup.

“Sedang apa kalian disini?” tanya Seja.

“Untuk membuat penawarnya, kami kesini dan mencuri bunga poppi.” Jawab Mae Chang.


Chung Woon tidak menyangka mereka berani melakukannya. Tangis Mae Chang kian deras saat melihat anak-anak yang berdiri di belakang Seja. Chung Woon bergegas mengajak mereka kabur. Mereka pun bergegas kabur. Gon terus mengawal mereka sesuai perintah Hwa Gun.


Woo Jae menunggu dengan cemas dibawah. Sementara di menara, Hwa Gun disidang oleh Dae Mok. Tae Ho berdiri di belakang Hwa Gun. 



Dengan tatapan marah, Dae Mok menyanyakan arti Pyunsoo-hwe bagi dirinya pada Hwa Gun.

“Lebih berarti dibanding kehidupan itu sendiri. Bagiku, seperti itu juga lah arti Seja Jeoha.” Jawab Hwa Gun.

“Siapapun yang mengkhianati Pyunsoo-hwe, tidak akan diampuni, sekalipun itu cucuku sendiri.” Ucap Dae Mok.

“Aku telah memilih jalanku sendiri, jadi aku tidak menyesalinya.” Jawab Hwa Gun.

“Hanya itukah yang ingin kau katakan?” tanya Dae Mok.


Hwa Gun yang tahu dirinya akan dibunuh, langsung menatap ayahnya yang menunggunya dengan cemas dibawah. Tangisnya berjatuhan dan ia meminta Dae Mok menyampaikan permintaan maafnya pada sang ayah.


Dae Mok lalu menyuruh Tae Ho menebas Hwa Gun. Namun Tae Ho tidak sanggup melakukannya. Akhirnya, Dae Mok sendiri lah yang melakukannya. Ia merebut pedang Tae Ho dan menebas Hwa Gun.

“Hwa Gun-ah!!” jerit Woo Jae pilu melihat tubuh sang anak jatuh ke bawah.


Dalam pelukan sang ayah, Hwa Gun teringat pertemuan pertama nya dengan Seja di rumah kaca. 




Hwa Gun kemudian tersenyum. Ia menyebutkan nama Seja sebelum akhirnya menghembuskan napas terakhirnya.


Tangis Woo Jae pun pecah. Ia menyebut Dae Mok sebagai monster. Namun Dae Mok tidak peduli dan beranjak pergi begitu saja. Sebelum menaiki kudanya, Dae Mok menyuruh Woo Jae membunuh Seja. Ia mengancam akan membunuh Tae Ho jika Tae Ho gagal membunuh Seja.


Seja, Chung Woon, Gon, Moo Ha dan Mae Chang mengembalikan anak2 itu pada orang tua mereka. Anak2 yang tidak punya orang tua, diantarkan Seja dan Chung Woon ke kuil. Seja berjanji pada Wol, akan kembali secepatnya. Setelah itu, Seja ingin menemui seseorang terlebih dahulu, tapi Chung Woon menyuruh Seja datang lagi nanti karena orang2 sudah menunggu Seja.


Woo Bo dan Kwang Ryul sudah tidak sabar menanti kepulangan Seja. Mereka sudah tahu Seja masih hidup dari Moo Ha dan Mae Chang. Tak lama, Seja dan Chung Woon pulang. Woo Bo pun langsung memeluk mereka dengan erat layaknya seorang ayah.


Woo Bo menjelaskan pada Seja kenapa Seja bisa selamat setelah menenggak tiga pil poppi. Chung Woon pun berpikir kalau hal itu bisa membuktikan identitas Seja. Namun Woo Bo berkata, hal itu hanya akan berguna dengan tabung plasenta. Woo Bo menjelaskan, mendiang Raja menyembunyikan bukti di dalam tabung plasenta yang dapat membuktikan identitas Seja, namun ia tak tahu dimana Raja menyembunyikan tabung plasenta itu. Satu hal yang ia yakini, tabung itu disembunyikan di istana.

Namun Seja sepertinya tidak berniat mengakuisisi tahta karena fakta ayahnya yang bekerja sama dengan Dae Mok demi mendapatkan tahta.


Tiba-tiba, seorang pedagang menerobos masuk dan menyuruh mereka melarikan diri karena Tae Ho sedang menuju kesana.


Benar saja, tak lama setelah mereka pergi, Tae Ho dan anak buahnya menggeledah tempat itu.

  
Setelah memastikan Seja aman, Gon bergegas kembali pada Hwa Gun. Matanya seketika berkaca-kaca melihat Hwa Gun yang sudah terbujur kaku. Woo Jae tidak menyangka Dae Mok sanggup membunuh Hwa Gun demi Pyunsoo-hwe. Woo Jae lantas meninggalkan Gon sendirian.


Begitu Woo Jae pergi, tangis Gon pecah. Gon hendak memegang tangan Hwa Gun, namun pada akhirnya ia hanya mengepalkan tangannya di atas tangan Hwa Gun. Seketika, Gon teringat kata2 Hwa Gun yang meminta dirinya melindungi Seja sebagaimana dirinya melindungi Hwa Gun.


Di depan jasad Hwa Gun, Gon pun berjanji akan mematuhi perintah Hwa Gun sampai ia mati.


Menteri Joo terkejut mengetahui ladang poppi sudah terbakar habis. Dae Mok yang masih kesal, tak sanggup bicara apa-apa lagi. Menteri Joo mendesak Dae Mok mencari solusinya sekarang karena mereka tidak akan bisa menutupi hal itu setelah 15 hari.


Tiba2, Woo Jae menerobos masuk dan Menteri Joo langsung meninggalkan mereka.

“Apakah Pyunsoo-hwe begitu berharganya untukmu? Sebeharga itu sampai kau membunuh cucumu sendiri? Dibanding keluarga, sepenting itukah Pyunsoo-hwe?” tanya Woo Jae pelan.

“Ladang poppi adalah jantung Pyunsoo-hwe.” Jawab Dae Mok.

“Sekali saja!!! Bisakah kau memprioritaskan keluargamu dibanding Pyunsoo-hwe? Kau bilang, mengumpulkan kekuasaanmu untuk melindungi orang-orang yang kau sayangi.Bila kau tidak lagi memiliki keluarga untuk dilindungi, apa gunanya memiliki Pyunsoo-hwe?” ucap Woo Jae.


Woo Jae pun akhirnya memutuskan hubungannya dengan Dae Mok. Dae Mok pun terguncang melihat Woo Jae yang pergi meninggalkannya.


Di istana, Sun nampak senang Ga Eun datang menemuinya. Namun senyumnya langsung hilang saat Ga Eun memprotesnya karena ia memberikan hak mencetak uang pada Tae Ho. Sun tidak peduli meskipun Ga Eun bilang bahwa Tae Ho adalah orang yang sudah menebas ayahnya. Sun menatap tajam Ga Eun dan mengaku melakukan hal itu untuk mengumpulkan kekuasaan demi melindungi rakyat.


Ga Eun masih ingin protes, tapi Sun yang sudah tidak mau mendengar Ga Eun lagi malah mengusir Ga Eun. Ga Eun lantas meminta izin pergi ke kuil selama beberapa jam. Sun yang takut Ga Eun kabur pun melarang Ga Eun pergi. Ga Eun beralasan kalau hari itu adalah hari peringatan kematian ayahnya dan ia ingin pergi ke kuil. Untuk mengawasi Ga Eun, Sun meminta Ga Eun pergi dengan ibunya. Ga Eun ingin membawa serta Kko Mool. Sun yang bisa membaca pikiran Ga Eun, mengatakan dengan tegas kalau Kko Mool akan tetap berada di istana.

No comments:

Post a Comment