Wednesday, July 19, 2017

Ruler : Master Of The Mask Ep 38

Sebelumnya...


Sun masih mengklaim bahwa dirinya adalah Raja yg asli saat dijebloskan ke dalam penjara. Ia baru berhenti berteriak saat teringat tangisan Ga Eun. Ia pun terduduk lemas dan tangisnya seketika pecah.


Dengan langkah terburu-buru, Tae Ho menerobos masuk ke kediaman Dae Mok. Tae Ho memberitahu Dae Mok tentang Seja yang memberitahu seisi istana bahwa ladang poppi sudah terbakar habis serta memberitahu Dae Mok bahwa Seja memiliki daftar kematian itu. Dae Mok pun terkejut mendengarnya. Dae Mok lantas bertanya, apa yg terjadi pada Seja selanjutnya.

“Sebelum saya kabur dari istana, saya mendengar sorakan-sorakan nyaring. Orang itu, kelihatannya sudah resmi menjadi Raja.” Tangis Tae Ho.

“Seja akhirnya menduduki singgasana Raja. Mereka akan secepatnya datang menangkapku.” Jawab Dae Mok.

Dae Mok lalu menyuruh Tae Ho mengumpulkan seluruh pasukan Pyunsoo-hwe agar Seja tidak bisa menangkapnya.


Seja yang kini telah resmi memangku tahta, memberikan titah pertama nya. Ia mengajak semua pejabat bekerja sama untuk membuat penawar pil poppi selama lima hari mendatang. Seja juga mencopot jabatan Menteri Joo, Menteri Heo dan Menteri Choi dan mengangkat Woo Bo sebagai Perdana Menteri yg baru menggantikan posisi Menteri Joo, serta mengizinkan Woo Bo memilih sendiri wakilnya dan juga Menteri Perang.

Sementara Kwang Ryul diangkat menjadi Menteri Kehakiman dan Moo Ha akan bekerja sebagai bawahan Kwang Ryul.


Dan, Chung Woon? Dia diminta Seja untuk tetap menjadi pengawal pribadinya.

Setelah itu, Seja dengan tegas menyuruh para pengawal menangkap dan memenjarakan Menteri Joo, Menteri Heo dan Menteri Choi. Menteri Joo nampak kesal, sementara Menteri Heo dan Menteri Choi merengek-rengek, memohon ampunan Seja.


Pasukan Kerajaan mulai mengepung kediaman Dae Mok. Tae Ho dengan panic memberitahukan hal itu pada Dae Mok. Dae Mok menyuruh Tae Ho mengancam mereka dengan mengatakan akan membakar persedian pil penawar. Tae Ho pun terkejut dan tak setuju dengan rencana Dae Mok itu karena anggota Pyunsoo-hwe mereka masih membutuhkan pil itu. Ia tak yakin Seja akan menyelamatkan anggota Pyunsoo-hwe mereka.

“Orang itu, bisa melakukannya.” Jawab Dae Mok.

Tae Ho lalu berkata, akan membantu Dae Mok melarikan diri setelah memastikan penjagaan lengah. Namun Dae Mok menolak melarikan diri. Ia yakin Seja akan hancur dengan sendirinya karena cuma dia yang tahu resep penawarnya. Ia yakin para pendukung Seja akan memohon-mohon padanya jika Seja gagal meracik penawarnya. Dan saat itulah ia akan membalikkan keadaan.


Seja menunggu dengan cemas di istananya bersama dengan Chung Woon dan Kwang Ryul. Tak lama kemudian, Moo Ha datang memberitahu Seja tentang ancaman Dae Mok yg mau membakar persediaan pil penawar itu. Seja pun terkejut mendengarnya. Kwang Ryul dan Chung Woon langsung mendesak Seja untuk menangkap Dae Mok. Mereka cemas kalau2 Dae Mok akan melakukan perlawanan.

“Namun, bila kita kehilangan penawar di tangan Dae Mok, akan banyak sekali pejabat istana yang kehilangan nyawa mereka. Hanya demi menangkap Dae Mok, aku tidak bisa mengorbankan nyawa rakyatku.” Jawab Seja.

Kwang Ryul dan Chung Woon pun resah. Seja lantas menanyakan berapa banyak pasukan yg dimiliki Pyunsoo-hwe. Moo Ha berkata, sekitar 1000 orang sedangkan istana memiliki pasukan sebanyak 3000 orang.  Moo Ha juga mengingatkan Seja bahwa pasukan2 Pyunsoo-hwe adalah petarung2 yg handal.

“Apa yang akan kita lakukan, Yang Mulia?” tanya Kwang Ryul.

“Tetap siagakan pasukan kita di kediaman Dae Mok. Sampai kita berhasil membuat penawarnya, Dae Mok tidak boleh meninggalkan kediamannya walau hanya satu langkah sekali pun.” Jawab Seja.


Malam harinya, Seja menemui Sun di penjara. Seja menatap Sun dengan tatapan lirih. Namun Sun malah menuduh Seja sengaja datang untuk menghinanya. Seja pun menanyakan keadaan Sun. Tapi Sun malah marah2 dan menyalahkan Seja atas apa yang terjadi padanya.

“Kau memang benar. Ini memang salahku. Kau menjadi seperti ini, aku sungguh minta maaf.” Jawab Seja.

“Kau sekali lagi coba menipuku.” Tuduh Sun.

“Saat penawarnya berhasil dibuat, akan kuberikan satu padamu dan membebaskanmu. Jadi tunggu lah sampai saat itu.” ucap Seja.

“Kenapa? Kau ingin memberiku penawar palsu, lalu membunuhku? Sejak lama, itulah rencanamu. Agar bisa duduk di singgasana Raja, kau bermaksud menjadikanku domba sembelih pada Dae Mok.” Tuduh Sun.

“Tidak. Kau akan selalu kuanggap sebagai temanku. Tidak peduli bagaimana pun kau menilaiku, kau tetap temanku. Sebab itu, aku harus menyelamatkanmu. Aku harus membuat penawarnya. Tunggu lah.” Jawab Seja.


Seja lalu beranjak pergi. Saat Seja melangkah pergi, Sun meneriaki Seja pembohong dan munafik.


Ibu Sun, beserta Kko Mool dan juga Ga Eun berlutut pada Seja, memohon agar Seja mengampuni nyawa Sun. Seja pun dengan lembut berkata, bahwa ia selalu menganggap Sun sebagai temannya. Ibu Sun pun berterima kasih atas kemurahan hati Seja.


Ga Eun ikut berterima kasih karena Seja bersedia mengampuni nyawa Sun. Saat itulah, Seja melihat tangan Ga Eun yg terluka.


Seja mengobati luka Ga Eun. Ketika Seja sedang mengobati lukanya, Ga Eun pun menggenggam tangannya dan berterimakasih lantaran ia sudah mengampuni nyawa Sun. Seja pun bertanya, apa Ga Eun takut kalau2 ia membunuh Sun. Ga Eun pun menggeleng.


Seja lantas mengaku selalu merasa bersalah dan berterimakasih kepada Ga Eun. Seja kemudian memegang wajah Ga Eun dan berjanji tidak akan membuat Ga Eun menangis lagi. Seja lalu menarik Ga Eun ke dalam pelukannya.


Sun mendapat kunjungan dari ibu dan adiknya. Tapi Sun malah mengusir mereka. Ia semakin kesal saat sang ibu memberitahu tentang Seja yg sudah mengampuni nyawanya. Tangis ibu Sun seketika pecah. Ia memarahi Sun yang tidak mau ikut pulang bersamanya sejak awal. Sun pun teriak-terima menyuruh pengawal membawa ibu dan adiknya pergi.


Namun sebelum pergi, Kko Mool memberitahukan alamat rumah mereka pada Sun. Ia meminta Sun pulang demi dirinya dan juga ibu mereka. Tapi Sun malah memalingkan wajahnya. Kko Mool pun menahan tangisnya dan mengaku akan selalu menunggu kepulangan Sun. Setelah ibu dan adiknya pergi, barulah tangis Sun pecah.


Ga Eun bersama Woo Bo, Mae Chang dan para tabib serta perawat bekerja keras membuat obat penawarnya. Mereka bekerja sampai pagi, tapi mereka gagal meracik penawarnya. Tak lama kemudian, Seja datang memeriksa hasilnya. Woo Bo pun menjelaskan, kalau mereka masih membutuhkan waktu untuk meracik penawarnya.


Malam harinya, Menteri Choi dan Menteri Heo panic karena ruam2 itu sudah muncul di tubuh mereka. 



Sun pun terkejut melihat ruam2 di tangannya. 




Dan Daebi cemas menanti obat penawar itu.


Pasukan Dae Mok masih bersiaga di sekeliling kediaman Dae Mok. Dae Mok sendiri tengah menatap sisa2 pil poppinya sambil berpikir.


Seja, Chung Woon dan Kwang Ryul resah karena mereka masih belum bisa meracik penawar itu. Seja pun berencana menemui Dae Mok. Baik Kwang Ryul maupun Chung Woon tak setuju, namun Seja mengaku tidak punya pilihan lain selain meminta resep penawar itu pada Dae Mok demi menyelamatkan 75 nyawa menterinya.


Menteri Joo memberitahu Dae Mok bahwa Raja ingin bertemu Dae Mok secara pribadi. Menteri Joo mengaku, ia dibebaskan agar bisa menyampaikan pesan itu.


Keesokan harinya, Seja dan Dae Mok akhirnya kembali bertatap muka. Dae Mok ingin tahu alasan Seja yg ingin menyelamatkan 75 nyawa itu, sedangkan mereka berusaha membunuh Seja meski tahu siapa Seja sejak awal. Seja beralasan, karena mereka adalah rakyatnya.

“Astaga… kurasa dunia baru belum akan tercipta. Sekali pun kau ingin mengubah dunia, namun sekali kau mengikuti sistem yg ada, akhirnya kau akan mengikuti peraturan lama. Maka tidak akan ada yg dapat berubah. Bila kau memang ingin menciptakan sebuah dunia baru, pilihlah untuk membuang isi yg ada di dalam cangkir, lalu menuang yg baru atau sekalian saja mengganti cangkir baru.” Ucap Dae Mok.

“Seorang Raja memerintah rakyatnya karena rasa kasih yang ia miliki. Diantara rakyatku, siapa yg harus diselamatkan atau tidak, aku tidak ingin memilihnya. Berikan resep penawarnya padaku, selamatkan para pejabat yg ketergantungan pil poppi lalu badan yg telah mengeksploitasi masyarakat selama ini, Yangsucheong, harus kau bubarkan. Lalu dengan begitu, aku akan mengampunimu dari eksekusi mati.” Jawab Seja.

Dae Mok tersenyum sinis, eksploitasi? Kau sebut itu eksploitasi?

“Saat rakyat kesulitan untuk sekedar bertahan hidup, memang apa yang sudah kau lakukan? Confucius mengatakan bahwa jangan memaksa melangkah bila tak ada jalan. Buddha menyuruh berhenti bila itu akibat dari kesalahan masa lalu.Lalu apa yang sudah kau lakukan? Ketika rakyatmu hampir mati kelaparan, saat pejabat negeri ini bergeming, aku yang memberi makan kepada orang-orang miskin. Namun kau menyebutnya eksploitasi?” tanya Dae Mok tak habis pikir.


“Kau memberi makan rakyat negeri ini? Kau justru menyusahkan mereka dengan merebut air yang sebenarnya merupakan hak banyak orang. Kau juga membunuh banyak sekali nyawa untuk mengontrol pemerintahan. Beraninya kau bicara soal rakyat padaku?! Tidak peduli alasan apapun yang kau buat, tidak akan bisa membenarkan tindakan iblismu itu.” Seja marah.

“Hanya karena kau Raja, pikirmu kau memiliki segalanya? Kau pikir, ini Joseon, serta rakyatmu? Tidak. Kau salah. Bila kau tidak lekas mendapatkan penawarnya, para pejabat akan mencampakkan kau duluan. Bila kau menangkapku, maka rakyat yang akan mengabaikanmu.” Ucap Dae Mok.

Seja murka, Dae Mok!!!

Tae Ho pun bersiap mencabut pedangnya untuk menebas Seja. Chung Woon pun langsung menarik pedangnya untuk menghalangi Tae Ho.

“Kau ingin resep penawarnya, akan kuberikan bila kau turun dari tahta Raja.” Ucap Dae Mok.

Seja pun menatap geram Dae Mok. Sementara kubu Dae Mok menatap sinis Seja.


Woo Bo meminta maaf karena gagal membuat pil penawar. Ditambah lagi, pil poppi yang tersedia untuk eksperimen hanya tinggal sedikit. Seja makin resah.


Melihat itu, Gon pun bergegas pergi? Kemana kah Gon? Semoga saja dia menemui ayah Hwa Gun…


Dae Mok menyuruh Tae Ho mengumpulkan kurir air di lapangan. Ia berencana menggunakan mereka untuk memobilisasi rakyat Joseon. Dae Mok menyuruh Tae Ho menyebarkan rumor bahwa Seja akan menebas Tae Ho.

Menteri Joo langsung ngeh kalau Dae Mok berencana melakukan pemberontakan pada pemerintah. Dae Mok ingin rakyat sendiri lah yg menghabisi Raja.


Woo Jae masih berduka atas kematian Hwa Gun. Ia menyendiri dan minum2 di sebuah tempat. Tak lama Gon datang. Woo Jae pun heran kenapa Gon tidak marah pada Seja, padahal Hwa Gun adalah wanita yang ia cintai tapi mengorbankan nyawa demi Seja.

“Nona sangat bahagia. Saya melihat Aghassi, ketika dia meninggal, ia terlihat sebahagia itu.” jawab Gon.


Woo Jae pun terdiam dan teringat senyum putrinya sebelum menghembuskan napas terakhir.

“Melindungi Seja adalah perintah terakhir yang Aghassi berikan pada saya.” ucap Gon.


Gon lantas berlutut, meminta Woo Jae memberikan resep penawar itu pada Seja.


Woo Jae pun akhirnya menemui Seja. Seja terkejut Woo Jae tahu cara membuat penawar itu. Woo Jae mengaku, Dae Mok sama sekali tidak tahu bahwa ia tahu resep penawarnya. Dan ia pun berjanji akan memberikan resep penawar itu tapi dengan satu syarat.

Bersambung…..

Preview Ep 39

No comments:

Post a Comment