Thursday, August 3, 2017

The Legend Of The Blue Sea Ep 14 Part 1

Sebelumnya...


Perlahan-lahan, Joon Jae membuka matanya setelah melihat tragedi Dam Ryung dan Sae Wa. Tangisnya pecah karena merasa tak bisa melindungi Sae Wa. Saat teringat Sae Wa yang menusuk dirinya sendiri dengan tombak yang sudah menewaskan Dam Ryung, Joon Jae langsung memegangi dadanya yang terasa ngilu. Tangis Joon Jae kian deras. Tak lama kemudian, Joon Jae teringat janji Dam Ryung yang akan mencari Sae Wa, mencintai dan melindungi Sae Wa saat mereka terlahir kembali.

“Setelah mengatakan itu, setelah janji seperti itu, aku lupa tentang itu. Meski dia dilahirkan kembali dan mencariku, bertemu denganku, dan mencintaiku, aku tidak bisa ingat apa pun. Aku hanya membuatnya menangis. Aku tidak dapat melindungi semuanya.” sesal Joon Jae.


Sementara itu, Dae Young sedang menuju ke ruangan Profesor Jin. Ia membuka pintu dan mendengar Joon Jae bercerita pada Profesor Jin.

“Pria itu berusia 27 tahun. Sama denganku saat ini. Gadis itu terperangkap dalam jaring. Pria itu tewas saat berusaha menyelamatkan dia. Dan gadis itu menikam dirinya sendiri dengan tombak yang menikam pria itu, lalu tewas bersamanya. Itu adalah akhir cerita mereka.” Cerita Joon Jae.


“Itu adalah takdir yang menyedihkan.” Jawab Profesor Jin.

“Kenapa kami dilahirkan kembali dan kenapa kami bertemu lagi?” tanya Joon Jae.

“Bagi seseorang untuk dilahirkan kembali, bukankah itu berarti ada mimpi yang belum terpenuhi? Mimpi itu bisa jadi cinta yang tidak terpenuhi atau bisa jadi keserakahan.” Jawab Profesor Jin.

“Mengapa nasib buruk berulang?” tanya Joon Jae.

“Dari kedua hal itu, yang manakah nasib buruk yang sebenarnya? Nasibmu dan orang yang berusaha menyakitimu atau nasibmu dan orang yang kau cintai? Kalau kau tidak mencintainya, dan dia tidak mencintaimu, maka tidak akan ada akhir yang tragis seperti itu. Cinta kalian akhirnya membuat kalian terbunuh. Apa ada nasib yang lebih buruk dari itu?” ucap Profesor Jin.

“Apa kau pikir semua ini akan terulang?” tanya Joon Jae.

“Jika kau berhenti di sini dan mengirimnya kembali ke tempat asalnya, bukankah kau akan bisa menghindari akhir yang tragis itu?” tanya Profesor Jin.

“Tidak. Fakta bahwa semuaya telah terulang bukanlah kutukan, tapi peluang. Peluang untuk mengubah akhir cerita.” Jawab Joon Jae.


Dae Young pun menutup pintu ruangan Profesor Jin. Ia lalu menyeringai sebelum akhirnya beranjak pergi.


Joon Jae yang melajukan mobilnya teringat percakapannya dengan Profesor Jin tadi.

“Apa kau yakin kau bisa mengubah takdir?” tanya Profesor Jin.

“Pasti ada alasan untuk mengingat semuanya. Kali ini... aku akan melindunginya. Aku pasti akan melindunginya.” Jawab Joon Jae.


Nam Doo yang lagi asyik dengan laptopnya dikejutkan dengan kedatangan Joon Jae. Datang2, Joon Jae langsung menanyakan Chung. Nam Doo berkata, Chung baru saja keluar dan tak tahu Chung pergi kemana. Setelah mendengar jawaban Nam Doo, Joon Jae pun langsung pergi dengan wajah panic.

“Wah, ketika seorang pria dibutakan oleh wanita, dia jadi seperti itu. Dia tadinya normal.” Ujar Nam Doo.


Chung sendiri sedang dikerumuni anak-anak di mesin pencapit boneka. Ia berusaha keras mengambil boneka gurita pink dari sana, namun selalu berakhir dengan kegagalan. Tak lama kemudian, Joon Jae datang dan langsung menarik Chung ke dalam pelukannya.

“Heo Joon Jae, apa kau mimpi buruk?” tanya Chung heran.

“Mimpi buruk itu... Sekarang aku sudah selesai dengan itu. Aku tidak akan mimpi buruk lagi.” Jawab Joon Jae.


Joon Jae lantas melepas pelukannya dan menatap wajah Chung. Bayangan wajah Sae Wa seketika menari-nari di otaknya. Joon Jae lalu bertanya, apa ada yang mau Chung lakukan.

“Heo Joon Jae, apa sebaiknya kita melakukan kegiatan tanpa makna?” tanya Chung.

Joon Jae pun bingung, apa?

“Sebenarnya, ada tiga tingkat cinta: cinta romantis, cinta panas, dan cinta kotor. Yang kita akan lakukan adalah cinta romantis.” Jawab Chung.

“Apa itu cinta romantis?” tanya Joon Jae.


“Minum teh, nonton film, makan bersama, merencanakan acara spesial, menyatakan cinta, hal-hal seperti itu. Tapi semua itu mengarah ke cinta kotor.” Jawab Chung.

“Kotor?” tanya Joon Jae.

“Aku juga sangat penasaran soal itu, tapi katanya itu hanya untuk para ahlinya. Dia bilang kalau kita tidak hati-hati, ini bisa berakhir dengan buruk. Jadi, kita harus hati-hati. Jadi, kita harus menikmati kegiatan formalitas dulu.” Jawab Chung.

“Baiklah, mari kita lakukan. Apa yang dilakukan orang lain, mari kita lakukan semuanya.” ucap Joon Jae.


Joon Jae lalu menggenggam tangan Chung dan mengajak gadis itu pergi. Mereka menikmati kencan romantic mereka. Berjalan-jalan, makan saling menyuapi sampai membuat orang lain iri, bermain DDR di pusat permainan sambil terus berpegangan tangan. Saat melewati permainan tinju, Chung meninju bantalannya hingga mendapat skor 999 dan mesin permainan tersebut berasap. Melihat itu, Joon Jae pun cepat-cepat membawa Chung kabur.


Mereka lalu menonton bioskop, Film Titanic. Para penonton lain merasa terganggu karena Chung menangis dengan tersedu-sedu saat melihat adegan sedih. Usai menonton dan setelah bioskop kosong, ada ahjumma yang menyapu lantai bioskop dan menemukan butiran mutiara yang asalnya dari tangis Chung.


Kencan mereka berlanjut di kedai kopi. Wajah Joon Jae pun berubah serius dan berkata bahwa ia hanya berandai-andai jadi Chung tidak perlu serius menjawabnya dan meminta Chung menjawab dengan cepat.

Joon Jae lalu menyebutkan adegan saat Jack menyelamatkan Rose dengan memberikan Rose papan kayu agar Rose tetap terapung, namun pada akhirnya Jack sendiri mati kedinginan dan tenggelam.

“Maksudku, tidak mungkin itu akan terjadi tetapi kalau aku mati seperti itu, apa yang akan kau lakukan?” tanya Joon Jae.

“Aku akan mengikutimu.” Jawab Chung dengan cepat.

Joon Jae pun langsung sewot mendengarnya.

“Hei! Apa maksudmu akan mengikutiku? Apa kau gila? Dan kau perlu berpikir sebelum merespon.” Ucap Joon Jae.


 “Kau bilang untuk segera menjawab tanpa berpikir.” Jawab Chung.

“Tapi tetap saja, siapa yang menjawab seolah-olah mereka sedang diminta untuk pergi ke toko kelontong?” ucap Joon Jae.

“Kalau kau hidup, aku harus hidup denganmu dan kalau kau mati, aku harus mati denganmu.” Jawab Chung.

“Apa kau bodoh?” sewot Joon Jae.


Joon Jae lalu bertanya, apa arti kematian Jack kalau begitu? Jack mengorbankan diri demi Rose. Jack meminta Rose berjanji untuk tetap hidup dan tidak menyerah, bertahan hidup dan menemukan orang baik dan hidup sampai tua dengan bahagia.

Chung pun balik bertanya, kalau dia mati apa Joon Jae akan hidup bahagia dengan orang lain.

Joon Jae terdiam sejenak, sebelum akhirnya menjawab iya.

“Kau benar-benar akan melakukannya?” tanya Chung.

“Jadi kau lakukan lah hal yang sama. Jika sesuatu terjadi padaku kau teruslah hidup dengan baik. Jangan menyerah. Hal baik, hal bagus. Miliki semuanya.” jawab Joon Jae.

“Ada apa, Heo Joon Jae? Kau bilang kau hanya mengatakan ini, tapi ada apa dengan nada serius ini? Apa sesuatu akan benar-benar terjadi padamu?” tanya Chung.


“Aku hanya berandai-andai. Berjanjilah padaku. Kalau terjadi sesuatu, kau tidak akan memikirkan hal-hal aneh. Berjanjilah itu sampai akhir, kau akan hidup dengan baik.” Jawab Joon Jae.

“Aku tidak bisa.” ucap Chung.

“Kenapa?” tanya Joon Jae.

“Aku merasa kalau aku berjanji, sesuatu yang buruk seperti itu akan terjadi.” Jawab Chung.

“Aku hanya berandai-andai.” Ucap Joon Jae.

“Aku tidak mau!” jawab Chung.


Kencan mereka hari itu akhirnya berakhir dengan pertengkaran. Dalam perjalanan pulang, Joon Jae diam saja dan tak mau bicara dengan Chung. Joon Jae juga tak lagi menggenggam tangan Chung. Ya, Joon Jae tak mau bicara sebelum Chung berjanji padanya. Chung masih kekeuh gak mau janji. Joon Jae makin kesal. Melihat sikap Joon Jae itu, Chung pun memutuskan juga tak mau lagi bicara dengan Joon Jae.


Sampai di rumah, Joon Jae langsung mengajak Tae Oh bicara di ruangan lain, sedangkan Chung menatap Joon Jae dengan sebal lalu duduk di dekat Nam Doo. Nam Doo yang bisa merasakan atmosfir ketegangan diantara Joon Jae dan Chung pun langsung bertanya pada Chung, apa Chung dan Joon Jae sedang bertengkar.

“Dia terus mengatakan hal-hal aneh.” Jawab Chung.

“Hal aneh apa?” tanya Nam Doo.

“Seperti mengatakan itu, kalau terjadi sesuatu padanya, teruslah hidup dengan baik sendirian. Itu aneh, kan?” jawab Chung.

Nam Doo pun langsung tertawa heran. Chung heran melihat tawa Nam Doo.

“Sudah tiba saatnya.” Jawab Nam Doo.

“Apanya?” tanya Chung.


“Periode berlakunya cinta adalah tiga bulan. Ini sudah tiga bulan bagi kalian. Kau harus bisa mengatasi ini dengan baik, atau kereta cepat menuju ke perpisahan kalian akan segera datang.” jawab Nam Doo.

“Heo Joon Jae bukan orang seperti itu.” ucap Chung.

“Heo Joon Jae khususnya orang seperti itu. Aku sudah kenal dia selama sepuluh tahun, dan dia tidak pernah punya pacar lebih dari tiga bulan. Mereka semua putus sebelum itu.” jawab Nam Doo.

Chung yang kesal mendengarnya, lantas bangkit dari duduknya dan mengibaskan jaketnya ke wajah Nam Doo dan pergi menuju kamarnya.


Joon Jae menyuruh Tae Oh meningkatkan keamanan rumah semaksimal mungkin. Ia ingin bisa memonitor semua tempat dalam radius 100 meter setiap waktu. Jika ada usaha pembobolan dari luar, ia harus segera tahu.

“Apa ini karena Ma Dae Young?” tanya Tae Oh. Joon Jae pun terdiam.


Dae Young menemui Profesor Jin. Profesor Jin terkejut melihat Dae Young. Dae Young berkata, sudah 9 bulan mereka tidak bertemu dan ia tahu tadi Joon Jae datang menemui Profesor Jin. Profesor Jin terdiam.

“Jangan berpikir untuk bohong karena aku melihat semuanya.” ucap Dae Young.

Dae Young lalu baringan di bangku dan menyuruh Profesor Jin menghipnotisnya seperti yang dilakukan Profesor Jin pada Joon Jae tadi karena ia juga mau melihat akhir mimpinya.

“Jadi aku bisa tahu kenapa hidupku berubah. Mulai dari saat aku lahir aku selalu berpikir kalau aku sedang dihukum. Aku ingin bertanya kenapa hidupku berubah seperti itu. Aku tidak tahu kenapa, tapi aku berpikir jawabannya terletak di kehidupan itu.” ucap Dae Young.

Profesor Jin pun mulai menghipnotis Dae Young. Dan pada saat tersadar, Dae Young nampak terkejut.

“Itu bukan aku.” ucap Dae Young.

“Lalu siapa itu? Yang membunuh mereka?” tanya Profesor Jin.


Adegan lantas berpindah pada sosok Chi Hyun yang dengan penampilan barunya memimpin rapat direksi perusahaan CEO Heo. Ia mengumumkan bahwa untuk selanjutnya ia yang memegang kekuasaan akhir setiap pengambilan keputusan.
"Kalian mungkin sudah mendengarnya. Ke depannya, aku akan menjadi pemegang wewenang untuk persetujuan akhir. Direktur yang nampak ragu pun bertanya pada CEO Heo sedang sakit."

“Tidak, dia sedang liburan untuk bersantai dan pemulihan. Meski setelah kembalinya dia, ingin mundur dari perusahaan. Kalau ada yang disampaikan padanya, kau bisa memberitahuku.” Jawab Chi Hyun.

“Tapi masih ada hal yang perlu secara langsung dilaporkan padanya.” Ucap direktur yang lain.


Dan Chi Hyun pun langsung menatapnya dengan tajam.

“Kenapa? Apa kau takut kalau aku mengubah sesuatu? Kau tidak memercayaiku? Kalau kau di pihak ayahku dan tidak bisa bekerja di bawahku, kau bisa pergi sekarang.” ucap Chi Hyun.

Para direktur pun langsung diam. Diamnya para direktur dianggap Chi Hyun mereka setuju dengan keputusan Chi Hyun. Chi Hyun lalu bertanya, bisakah rapatnya dimulai.


CEO Heo membuka matanya dan langsung melihat Chi Hyun di depannya. Chi Hyun berkata, bahwa tadi ia sudah bertemu dokter dan dokter mengatakan kondisi kesehatan CEO Heo sudah membaik. Chi Hyun lalu meminta ayahnya itu untuk menginap di rumah sakit beberapa hari lagi.

“Mataku semakin memburuk seiring berjalannya waktu. Ini masalah besar.” Jawab CEO Heo.

“Oh, tapi karena baru saja di operasi untuk pendarahan akan sulit untuk melakukan operasi untuk mata Ayah. Untuk sekarang, minum obat ayah dan berhati-hatilah agar tidak memperburuk kondisi. “ ucap Chi Hyun.

“Chi Hyun-ah, kau bisa menghubungi Joon Jae?” tanya sang ayah.

Wajah Chi Hyun langsung berubah saat CEO Heo menyebut nama Joon Jae, tapi meskipun kesal ia berusaha bersikap setenang mungkin. Chi Hyun mengaku ia langsung menghubungi Joon Jae begitu sang ayah ambruk, tapi sepertinya Joon Jae sibuk. CEO Heo percaya. Sementara Chi Hyun, ia mengepalkan tangannya dan terlihat sangat marah.


Joon Jae dan Chung masih perang dingin. Chung memaki Joon Jae dalam hatinya, tanpa ia sadar kalau Joon Jae bisa mendengarnya.

“Dasar picik! Dia cemberut akan hal itu dan tidak mau berbicara denganku? Aku pasti sudah dibutakan oleh cinta. Aku kemudian menjadi lugu. Aku tinggal di dalam air sepanjang hidupku dan datang ke daratan untuk pertama kalinya. Jadi, apa yang aku tahu? Satu-satunya pria yang kebetulan aku temui adalah Heo Joon Jae itu. Jadi aku pikir dia adalah yang terbaik. Jika Seoul sangat jauh, seharusnya dia katakan padaku. Dia terbang dengan pesawat. Tapi hanya untuk dia, aku butuh waktu tiga bulan dan sepuluh hari  untuk berenang ke sini dan aku pikir tulang ekorku akan putus! Mengapa dia memintaku untuk membuat janji yang tidak masuk akal seperti itu?”


Joon Jae yang udah gak tahan lagi mendengar makian Chung, akhirnya mendekati Chung dan menyuruh Chung berhenti bicara.

“Apanya?” tanya Chung heran.

“Aku bilang hentikan. Kau memakiku di dalam hatimu sekarang.” jawab Joon Jae.

“Heol! Bagaimana dia tahu? Dia pasti punya indera tajam atas apa yang sedang terjadi.</i> Aku pikir Heo Joon Jae adalah satu-satunya pria tampan di dunia, tetapi ternyata begitu banyak pria tampan di TV. Apa dia pikir dia satu-satunya pria yang tampan? Dia menderita Sindrom Pangeran dan berpikir semua orang tertarik padanya!” maki Chung lagi.

“Hei!” protes Joon Jae.

“Kenapa?!!” Chung balas berteriak.


Nam Doo pun keluar dan menyarankan mereka untuk putus kalau tidak cocok. Joon Jae melarang Chung keluar rumah tapi Chung menolak dan berkata kalau ia sudah ada janji. Joon Jae bertanya, siapa yang mau ditemui Chung. Chung balik bertanya, siapa yang mau ditemui Joon Jae. Joon Jae pun langsung terdiam.

“Lihat, kan? Kau bahkan tak dapat memberitahuku.” Ucap Chung dengan wajah cemberut.

“Benar. Seharusnya adil.” Tambah Nam Doo.

“Kalau begitu, kau pergi bersamanya, Hyung.” Suruh Joon Jae.

“Kenapa aku harus ikut dia?” tanya Nam Doo.


“Aku tidak mau. Itu adalah pertemuanku. Aku tidak butuh siapapun.” Jawab Chung.

“Baiklah! Lakukan semaumu.” Ucap Joon Jae kesal, lalu beranjak pergi.

Setelah Joon Jae pergi, Nam Doo memuji Chung. Ia berkata, Joon Jae sudah menyatu dengan Mimi. Chung bertanya, apa itu Mimi?

“Penderitaan gila! Mereka yang menjadi seperti obsesif dan terkurung.” Jawab Nam Doo.

“Tapi aku tidak keberatan dengan hal itu.” ucap Chung.

“Karena kau seperti ini, dia jadi lelah karenanya. Teguhkan hatimu dan jadilah kuat!” jawab Nam Doo.


Joon Jae pergi menjenguk Sopir Nam. Sopir Nam sudah sadar, tapi masih belum bisa menggerakkan tubuhnya.Joon Jae pun bercerita, di kehidupan sebelumnya Sopir Nam adalah sahabatnya yang selalu berada di sisinya. Tapi di kehidupan sekarang, Sopir Nam lahir lebih awal dan selalu ada untuknya saat ia masih kecil.

“Sekarang, siapapun yang membuatmu seperti ini aku akan menemukan dia.” ucap Joon Jae.


Joon Jae lantas menunjukkan foto Dae Young dan meminta Sopir Nam mengedipkan mata dua kali jika Dae Young pelakunya. Sopir Nam pun mengedipkan matanya dua kali. Joon Jae lalu bertanya lagi, apa Sopir Nam menduga ada orang dalam yang berhubungan dengan Dae Young. Dan Sopir Nam pun kembali mengedipkan matanya. Namun Joon Jae tak sempat bertanya lebih banyak karena Chi Hyun keburu memanggilnya.

“Waktu itu aku sangat mabuk. Kau pasti terkejut setelah menerima panggilan telepon.” Ucap Chi Hyun.

“Mengatakan bahwa kau akan melindungi ibumu, dan aku harus melindungi ayahku, adalah sesuatu yang kau katakan karena kau mabuk?” tanya Joon Jae heran.


“Oh, apakah aku mengatakan itu? Aku pasti benar-benar mabuk.” Jawab Chi Hyun.

“Bagaimana dengan kesehatan ayah yang memburuk?” tanya Joon Jae.

“Oh, dia sekarang sudah lebih baik. Hei, ayah kita menyerahkan semua pekerjaan padaku dan pergi berjalan-jalan bersama teman-temannya. Juga, cepat atau lambat kau akan tahu ini... Dia sudah mengesahkan wasiatnya di notaris. Dia meninggalkan hampir semua asetnya kepadaku dan Ibu. Aku sudah katakan padanya untuk mempertimbangkan berulang kali. Setelah bertemu denganmu terakhir kali, dia pasti patah hati.” Ucap Chi Hyun.

Tapi Joon Jae sama sekali tidak terpengaruh dan bertanya sejak kapan Chi Hyun jadi seramah ini.

“Aku akan membenci ayahku dengan caraku sendiri. Kau tak perlu mendesakku untuk membencinya. Kalau kau terus melakukan ini, sepertinya kau punya beberapa motif tersembunyi.” Ucap Joon Jae.

Chi Hyun tersenyum sinis. Joon Jae yang malas meladeni Chi Hyun, memutuskan pergi. Namun langkahnya terhenti saat Chi Hyun menanyakan kabar Chung. Ia menyuruh Joon Jae menyampaikan salamnya pada Chung. Joon Jae nampak kesal. Melihat kekesalan Joon Jae, Chi Hyun pun berkata, Joon Jae tak perlu melakukan itu kalau tidak mau melakukannya. Chi Hyun lalu menepuk pundak Joon Jae dan beranjak pergi.


Si A sangat galau. Ia berniat mengirimkan pesan pada Joon Jae tentang ibu kandung Joon Jae, tapi ia tak sanggup mengirimkannya. Tak lama kemudian, Yoo Ran datang membawakan makanan untuk Si A. Si A pun langsung melompat dari tempat tidurnya dan berdiri dengan sopan.

“Aku dengar kau sakit. Kau bahkan tak dapat pergi bekerja. Cobalah makan bubur.” Ucap Yoo Ran

Si A pun merasa tidak enak karena sudah merepotkan Yoo Ran.

“Tidak apa2. Panggil aku setelah kau selesai makan.’ Jawab Yoo Ran.

“Setelah aku selesai, aku akan membersihkan sendiri. Tolong jangan pedulikan aku sama sekali.” Ucap Si A.


Yoo Ran yang malas berdebat akhirnya memutuskan pergi. Tapi saat mau melangkah pergi, Si A tiba2 saja memeluknya dari belakang, membuatnya terkejut.

“Aku ingin melakukan ini sekali saja.” Ucap Si A.

“Maafkan aku, tapi aku merasa sedikit tidak nyaman.” Jawab Yoo Ran.

Si A pun cepat-cepat melepaskan pelukannya dan meminta maaf.


Yoo Ran langsung memberitahu Jin Joo soal Si A. Ia berkata, kalau Si A sepertinya sakit karena sikapnya aneh. Tapi Jin Joo malah menganggap kalau Si A bukan manusia normal. Yoo Ran lalu hendak pergi, tapi ia langsung berbalik ketika Jin Joo menggerutu soal Seo Hee yang lagi2 mengabaikan teleponnya.

“Anak mereka...” Yoo Ran menggantung kalimatnya.

“Anak? Anak kandung Presdir Heo?” tanya Jin Joo.

“Iya, apakah kau tahu sesuatu tentang putranya itu?” tanya Yoo Ran.

“Kenapa kau penasaran, ahjumma?” tanya Jin Joo.


Yoo Ran pun tidak tahu bagaimana harus menjawab pertanyaan Jin Joo. Tapi meskipun begitu, Jin Joo tetap menjawab. Jin Joo berkata, kalau yang mengurus semua bisnis CEO Heo adalah Chi Hyun.

“Anak kandungnya kabur dari rumah sepuluh tahun yang lalu, dan tak seorangpun yang tahu di mana dia berada.” Ucap Jin Joo.

“Dia kabur dari rumah? Dia tidak belajar ke luar negeri?” tanya Yoo Ran kaget.

“Belajar ke luar negeri? Aku rasa tidak. Aku jelas mendengar bahwa dia kabur saat dia masih SMA. Pada keadaan itu, jika anak Kang Seo Hee menerima semua harta warisan, hanya orang-orang asing akan mendapatkan manfaat dari rumahnya. Presdir Heo tidak terlalu cerdas. Ayah macam apa dia itu? Kenapa dia harus membuang anaknya sendiri dan mendedikasikan dirinya pada anak orang lain? Ah, benar-benar. Tidak peduli berapa banyak dia jungkir balik atas seorang wanita, bagaimana mungkin dia begitu?” jawab Jin Joo.

Yoo Ran pun langsung gusar. Melihat sikap Yoo Ran, Jin Joo pun terheran-heran. Yoo Ran lalu minta izin keluar sebentar. Jin Joo gak mengizinkan karena anak-anaknya sebentar lagi akan pulang dan Yoo Ran harus menyiapkan cemilan.


Tapi Si A yang turun untuk membawa piring kotornya gak sengaja mendengar percakapan mereka dan langsung memberi izin Yoo Ran pergi. Ia bahkan memanggilan Yoo Ran dengan panggilan ibu-jumoni.

“Aku akan mengurus anak-anak. Aku akan menyiapkan kudapan anak-anak dan mengantar mereka les.” Ucap Si A.


Dan Yoo Ran pun langsung pergi. Jin Joo ngomel2. Si A membela Yoo Ran dengan berkata, Yoo Ran pasti punya keperluan penting. Si A juga protes karena Jin Joo memanggil Yoo Ran dengan sebutan Ajumma.

“Aku harus memanggil seorang ahjumma, ahjumma. Apa lagi aku harus memanggil dia?” jawab Jin Joo.

“Sekarang ini siapa yang memanggil pembantu rumah tangganya ahjumma? Tren sekarang adalah eommonim.” Ucap Si A.

“Bibi, perbedaan usia antara ahjumma itu dan aku tidak sebesar itu untuk aku memanggilnya eommonim.” Jawab Jin Joo.

“Eommonim tidak lebih dari berbagi makanan yang sama dan tidur di bawah atap yang sama. Dia menyiapkan makananku dan bahkan mencuci pakaianku.” Ucap Si A.

Namun tiba-tiba saja, Si A berteriak membuat Jin Joo kaget.

“Aku bahkan membiarkan Ibu mencuci pakaian dalamku! Oh, aku bisa gila!” ucap Si A panik.


Sementara itu, Yoo Ran akhirnya tiba di kediaman CEO Heo. Ingatannya langsung melayang ke masa lalu, ke saat2 ia pergi meninggalkan kediaman CEO Heo.

Kilas Balik!


Yoo Ran nampak menggeret kopernya keluar dari kediaman CEO Heo. Bersamaan dengan itu, Seo Hee pun datang bersama Chi Hyun. Mereka bertemu di depan pagar. Seo Hee yang tak mau Chi Hyun mengetahui apa yang terjadi, menyuruh Chi Hyun masuk duluan dan menyapa CEO Heo. Chi Hyun mengerti dan ia masuk ke dalam dengan wajah ceria.

”Kau akan pergi sekarang? Aku sengaja datang terlambat, agar tiba setelah kau pergi.” Ucap Seo Hee.

“Apa kau puas?” tanya Yoo Ran.

“Maafkan aku. Meskipun kau mungkin tidak percaya, aku tidak melakukannya dengan sengaja.” Jawab Seo Hee.


“Oh, benarkah? Aku percaya padamu. Aku perlu memercayai itu.  Kau harus membesarkan Joon Jae-ku sekarang. Aku berharap kau adalah orang yang baik lebih dari orang lain.” Ucap Yoo Ran.

“Itu benar. Aku yakin suamiku sudah mengatakan padamu, tapi tolong jangan muncul sampai Joon Jae kita menjadi dewasa.  Dengan cara itu dia dapat terbiasa tumbuh dengan keluarga baru.” Jawab Seo Hee.

Seo Hee lalu memegang tangan Yoo Ran dan meyakinkan Yoo Ran kalau dia akan membesarkan Joon Jae dan mencintai Joon Jae lebih dari dia mencintai Chi Hyun, putranya sendiri.

Kilas Balik End!


Yoo Ran memberanikan diri memencet bel. Seo Hee yang melihat wajah Yoo Ran dari layar intercom pun kesal. Ia tak habis pikir dengan keberanian Yoo Ran datang ke rumahnya. Begitu masuk, Yoo Ran langsung menatap Seo Hee dengan emosi.

“Di mana Joon Jae-ku?”

“Di mana dia? Kenapa kau bertanya tentang anakmu padaku? Dia kan anakmu.”

Yoo Ran terkejut, apa?!


“Tampaknya kau datang karena mengetahui bahwa anakmu tidak ada di rumah kami. Kenapa kau tanyakan itu padaku? Aku tak pernah mengusirnya. Dia pergi atas kemauan sendiri. Dan suamiku tidak benar-benar mencari dia, itulah mengapa jadi seperti ini. Aku pikir kalian berdua masih saling berhubungan, tapi aku rasa tidak.” Jawab Seo Hee.

“Kau bilang kau akan membesarkan dia dengan baik.” Protes Yoo Ran.

“Rencanaku begitu, tapi apa yang bisa kulakukan sejak dia pergi?” jawab Seo Hee.

Emosi Yoo Ran pun akhirnya meledak…

“Inikah mengapa kau melarang kami bertemu? Untuk membuat anakku jadi milikmu, suamiku jadi milikmu, dan posisiku jadi milikmu. Inikah sebabnya!” tanya Yoo Ran.


“Kau sungguh lucu. Hei! Jangan berpura-pura baik. Kau sebaiknya menyerah saja. Kalau aku, aku tak akan menyerah. Aku tak akan lari, meninggalkan anakku. Hanya karena aku bilang padamu untuk jangan bertemu, kau benar-benar tidak menemui dia? Apa kau bodoh?” ucap Seo Hee.

Yoo Ran tak habis pikir, apa?

“Jika kau tidak mau teh, bisakah kau pergi sekarang? Aku benar-benar lelah.” Ucap Seo Hee.

“Kang Ji Yeon!” sentak Yoo Ran.

“Namaku Kang Seo Hee.” Jawab Seo Hee sambil menatap tajam Yoo Ran.

“Tidak, namamu Kang Ji Yeon. Anakku. Aku pasti akan menemukan dia dan membawa kembali ke tempat di mana dia seharusnya berada. Kau, juga. Aku akan membawamu kembali ke posisi aslimu.” Ucap Yoo Ran.


Setelah mengatakan itu, Yoo Ran beranjak pergi. Seo Hee yang ketakutan dengan ancaman Yoo Ran pun langsung menghubungi orang suruhannya.


Yoo Ran melangkah gontai menyusuri jalanan sampai tak sadar ada mobil yang hendak menyerempetnya dari belakang. Untung saja, ada Chung yang dengan sigap langsung menarik Yoo Ran ke pinggir. Mobil yang mau menyerempet Yoo Ran tadi pun langsung pergi. Yoo Ran tersenyum saat tahu Chung lah yang menyelamatkan nyawanya sekali lagi.

“Kau harus berhati-hati dengan mobil. Perhatikan mobil yang datang. Dia bilang jangan melamun.” Ucap Chung.

 “Siapa yang bilang?” tanya Yoo Ran.

“Seseorang yang aku suka. Kami mengatakan kami akan pergi berbelanja bersama-sama.” Jawab Chung sambil menggandeng lengan Yoo Ran.

“Oh, itu benar. Apa dia menunggu lama?” tanya Yoo Ran.

“Tidak apa-apa. Ini janji satu-satunya yang aku punya hari ini.” jawab Chung, lalu mengajak Yoo Ran pergi.


Setelah mereka pergi, mobil itu datang lagi dan mengawasi mereka berdua. Untunglah Tae Oh langsung datang dan memotret si pengendara mobil itu. Si pengendara mobil? Dia langsung melajukan mobilnya dengan terburu-buru begitu Tae Oh datang. Setelah mobil itu pergi, Tae Oh teringat kata2 Joon Jae.

Kilas Balik!


“Aku tidak bisa mengatakan padanya untuk tinggal di rumah sepanjang hari. Ikuti dia dengan baik, tanpa ketahuan.” Suruh Joon Jae.

Tae Oh senyum2 diberi tugas seperti itu. Melihat ekspresi Tae Oh, Joon Jae pun langsung mengomeli Tae Oh.

Kilas Balik End!


Saat berbelanja, Yoo Ran memberitahu Chung bagaimana caranya membedakan ikan segar. Chung pun berkata, ikan2 di supermarket itu tidak segar. Chung mengaku ia belum pernah menemukan ikan segar.

“Tempat kau berasal pasti punya banyak ikan yang bagus. Apakah kau tinggal di dekat laut?” tanya Yoo Ran.

“Sesuatu seperti itu.” jawab Chung.

“Kau pasti merindukannya.” Ucap Yoo Ran.

“Tapi ada banyak makanan enak di sini, jadi tidak apa-apa. Haruskah kita makan es krim sebelum kembali?” jawab Chung.

“Ya, aku merasa benar-benar tertekan, tapi aku merasa lebih baik sekarang karena aku bertemu denganmu.” Ucap Yoo Ran.


Mereka lalu kembali bergandengan menuju kasir. Tae Oh pun diam2 memotret mereka dan mengirimkan fotonya ke Joon Jae. Sayangnya pada foto tersebut, tidak terlihat wajah Yoo Ran. Tapi Joon Jae merasa tidak asing dengan sosok tersebut.


Joon Jae sendiri lagi di kantor polisi, menemui Mimi aka Detektif Hong. Detektif Hong memberikan laporan psikologis Dae Young. Ia kemudian bertanya, apa Joon Jae pernah mendengar seorang wanita yang bernama Kang Ji Yeon. Joon Jae berkata, ia tak pernah mendengar nama itu.


“Dia adalah satu-satunya wanita yang terlibat dengan Ma Dae Young, tapi aku tidak bisa menemukannya. Pendaftaran penduduknya dibatalkan karena keberadaannya tidak diketahui. Kami mencurigai mereka punya anak.” Ucap Detektif Hong.

“Kemudian, mereka masih bisa membantu dia untuk melarikan diri, entah itu si wanita atau si anak.” Jawab Joon Jae.

“Itu mungkin.” ucap Detektif Hong.

“Berikan aku informasi itu juga. Nam Doo Hyung menemukan orang lebih baik dari seorang polisi yang khas.” Jawab Joon Jae.


Detektif Hong yang kesal mendengarnya nyaris saja menjitak kepala Joon Jae.

“Bagaimana bisa aku terlibat dengan penipu ini?” gerutu Detektif Hong.

Joon Jae seketika teringat di kehidupan sebelumnya, Detektif Hong sangat baik padanya. Joon Jae lalu tersenyum dan menepuk bahu Detektif Hong.

“Polisi kami,  Petugas Hong adalah orang yang jauh lebih baik dari yang kukira.” Ucap Joon Jae.

“Orang ini! Apa kau gila ?! Memangnya aku terlihat seperti temanmu!” protes Detektif Hong.


Joon Jae kemudian melihat laporan medis Dae Young dan menemukan nama Profesor Jin di sana. Detektif Hong berkata, sejak 2009, Profesor Jin menterapi Dae Young paling sering setiap beberapa bulan.


Mereka pun langsung menemui Profesor Jin. Profesor Jin mengakui kalau Dae Young adalah pasiennya. Detektif Hong bertanya, apa Dae Young sering menemui Profesor Jin akhir2 ini. Profesor Jin terdiam sesaat sebelum akhirnya berkata kalau Dae Young tidak pernah menemuinya belakangan ini. Detektif Hong percaya, namun tidak dengan Joon Jae. Joon Jae tahu Profesor Jin berbohong saat melihat Profesor Jin yang mengetuk-ngetuk jarinya.


Chung mengantar Yoo Ran ke rumah Si A. Chung akhirnya menyadari kepanikan Joon Jae dan Nam Doo saat itu karena mereka baru tahu kalau itu rumah Si A. Chung lalu beranjak pergi padahal Yoo Ran mau mengajaknya mampir. Setelah Chung pergi, Tae Oh pun memotret Yoo Ran yang hendak masuk rumah.

Selesai memotret Yoo Ran, Tae Oh bergegas menyusul Chung tapi tiba2 saja, Si A muncul di hadapannya. Si A menatap galak Tae Oh.

“Noona, tidak seperti itu.” ucap Tae Oh.


“Apanya yang tidak?” tanya Si A.
“Apapun yang kau pikirkan, tidak seperti itu.” jawab Tae Oh.

Tae Oh mau cepat2 pergi karena Chung makin menjauh tapi Si A malah menahannya.

“Mau kemana? Kau benar-benar memiliki gejala yang serius! Apa yang akan kau lakukan dengan gambar pintu rumahku? Apakah kau ingin merasakan kehadiranku sampai sejauh itu?” tanya Si A.

“Aku akan gila.” gumam Tae Oh.

“Aku akan gila juga! Kepalaku akan meledak, hanya dengan masalahku sendiri! Fakta penting adalah bahwa tidak ada ruang untukmu dalam hatiku.” Jawab Si A.

“Tidak apa-apa kalau tidak ada ruang, sungguh.” Ucap Tae Oh.

Tae Oh lantas panic menyadari Chung yang sudah hilang dari pandangannya. Dan ia pun buru-buru pergi tapi Si A mengira Tae Oh pergi karena tegurannya.

“Apa aku terlalu keras? Cinta memang merepotkan.” Ucap Si A.


Chung sudah ada di dekat rumah. Ponselnya lalu berbunyi dan ia menjawab teleponnya dengan gembira karena mengira telepon itu dari Joon Jae tapi ternyata itu dari Chi Hyun. Chi Hyun bilang ia ada di depan rumah Joon Jae. Chi Hyun lalu melihat Chung. Wajahnya langsung berseri2 begitu melihat Chung. Chi Hyun pun langsung mendekati Chung dan membantu Chung membawakan belanjaan.


Joon Jae dan Detektif Hong keluar dari ruangan Profesor Jin. Tak lama kemudian, Joon Jae menyuruh Detektif Hong ke mobil duluan karena ada yang mau ditanyakannya pada Profesor Jin. Joon Jae lalu masuk ke ruangan Profesor Jin seorang diri.

“Dia datang kemarin.” Ucap Profesor Jin.

“Kenapa dia datang?” tanya Joon Jae.

“Jika dia tidak minum obatnya, dia tidak bisa mengendalikan kejahatan alaminya.” Jawab Profesor Jin.


“Dia seseorang yang membunuh Dam Ryung dan Sae Wa. Dia mengejar kita bahkan di sini juga.” ucap Joon Jae.

“Dia juga melihat akhir dirinya sendiri kemarin, dan mengatakan bahwa bukan dia yang membunuhnya.” Jawab Profesor Jin.

Joon Jae kaget, apa? Dia tidak membunuh? Lalu siapa?

“Dia tidak bilang padaku jadi aku juga tidak tahu.” jawab Profesor Jin.

Joon Jae pun terdiam.

“Aku sudah bilang kan,  kamu tidak bisa mengubah takdir semudah itu. Bahkan sekarang, kirim orang ke tempat dia berada.” Ucap Profesor Jin.

“Apakah Ma Dae Young kembali lagi ke sini?” tanya Joon Jae.


“Aku sudah bilang padanya bahwa aku akan menyiapkan obatnya. Dia akan segera datang.” jawab Profesor Jin.

“Saat dia datang, bisakah kamu menghubungiku?” pinta Joon Jae.

“Pasti.” Jawab Profesor Jin.

Setelah itu, Joon Jae menerima pesan dari Tae Oh. Tae Oh meminta maaf karena kehilangan jejak Chung.


Joon Jae panic. Ia langsung mencari Chung bersama Detektif Hong. Detektif Hong yang juga panic bahkan sampai melanggar lampu lalu lintas dua kali. Joon Jae menyuruh Detektif Hong bertanggung jawab kalau sampai Chung bertemu dengan Dae Young. Detektif Hong protes, tapi Joon Jae gak peduli. Joon Jae lantas berusaha menghubungi Chung tapi tidak diangkat.


Chi Hyun duduk di meja restoran seorang sendiri. Di atas meja ada ponsel Chung. Ponsel Chung terus-terusan berdering. Chi Hyun yang tahu itu dari Joon Jae pun langsung mematikan ponsel Chung. Tak lama kemudian, Chung kembali. Chung tak tahu kalau Joon Jae sedang mencarinya. Chung mau ikut dengan Chi Hyun karena Chi Hyun berkata akan mentraktir Chung.


Setelah makanan disajikan, Chung bertanya Chi Hyun lebih suka disiram (saus disiram ked aging) atau dicelup (daging dicelup ke saus). Chi Hyun yang dengan ragu2 menjawab dicelup. Chung pun mengaku kalau ia juga lebih suka dicelup tapi Joon Jae suka disiram makanya mereka suka bertengkar saat makan. Mendengar nama Joon Jae, Chi Hyun pun langsung berubah kecewa.

“Berapa lama kau tinggal dengan Joon Jae?” tanya Chi Hyun.

“Tiga bulan.” Jawab Chung.

“Oh, tiga bulan. Hanya kalian berdua?” tanya Chi Hyun.

“Tidak, dengan teman-teman Heo Joon Jae juga.” jawab Chung.

“Itu melegakan.” Ucap Chi Hyun sembari tersenyum lega.

“Apa yang melegakan?” tanya Chung.

“Bukan apa-apa.” Jawab Chi Hyun.


Dae Young kembali mengingat akhir mimpinya saat ia dihipnotis oleh Profesor Jin. Dalam mimpinya, ia melihat Bangsawan Yang melemparkan tombak sekuat tenaga ke arah Sae Wa. Seseorang diatas perahu juga ikut melemparkan tombak. Tepat saat itu, Dam Ryung menceburkan diri ke laut dan memeluk Sae Wa. Tombak kedua itulah yang menewaskan Dam Ryung dan Sae Wa. Si pelempar mengenakan cincin logam, namun Dae Young tak bisa mengingat wajah si pembunuh dengan jelas.

No comments:

Post a Comment