Monday, November 20, 2017

My Golden Life Ep 22 Part 2

Sebelumnya...


Paginya, di kantor, Hyuk dapat telepon dari Boss Kang. Hyuk heran sendiri karena Boss Kang tahu dia mau ke Incheon.

“Kau bilang akan mengambil kayu berkualitas bagus dan membuatkanku papan roti.” Jawab Boss Kang.

Tak lama kemudian, Hyuk pun ingat mengatakan itu saat Boss Kang menggendongnya pulang.

“Aku akan mengambil beberapa kayu berkualitas. Akan kubuatkan satu untukmu.” Ucap Hyuk.

“Lupakan soal itu. Bantu aku saja. “ jawab Boss Kang.


Pas masuk ke toko roti, Boss Kang menyuruh Ji Soo mengambil garam di Incheon. Boss Kang pura-pura kehabisan garam. Ia mengaku, pria yang akan membawakannya garam tewas di jalan.  Boss Kang pura2 stress, tidak bisa memanggang roti karena kehabisan garam. Ji Soo pun berniat membeli garam di supermarket, tapi Boss Kang bilang ia tidak pernah memakai garam di supermarket. Boss Kang pun menyuruh Ji Soo ke Incheon bersama Hyuk.

“Aku akan pergi karena ada tugas lain. Pergi dan carilah udara segar. Hibur Pak Sun Woo juga.” ucap Boss Kang.

“Hibur dia untuk apa?” tanya Ji Soo.

“Aku kebetulan bertemu dengannya di bar beberapa hari lalu. Kurasa dia sedang berduka karena kehilangan cintanya.” Jawab Boss Kang.


Ji Soo pun pergi dengan Hyuk. Hyuk menjemput Ji Soo yang sudah menunggunya di depan toko roti. Selama perjalanan, mereka terlihat canggung. Untuk mengusir kecanggungan, Hyuk pun menawarkan Ji Soo memutar lagu. Saat lagu mulai mengalun, Ji Soo ingat saat Hyuk menyemangatinya kemarin.  Ji Soo pun menyemangati Hyuk dengan kalimat sama persis seperti yang diucapkan Hyuk kemarin. Hyuk pun tersenyum dan mengatakan kalau Ji Soo mengatakan hal yang ia katakan kemarin.


Hyuk kemudian bertanya, apa Ji Soo pernah merasa mengenal seseorang tapi sebenarnya tidak tahu apa-apa.

“Bahkan keluargamu tidak mengetahui segalanya.” Jawab Ji Soo dengan pandangan terluka.

“Kenapa aku mengambil kesimpulan tentang orang itu? Kenapa aku berpikir aku mengenalnya? Aku menyesali hal itu.” ucap Hyuk.

“Karena mereka tidak pernah memberitahumu. Kau tidak bisa mengetahui perasaan seseorang kecuali mereka memberitahumu. Kau tidak pernah bisa menebak pikiran orang lain.” Jawab Ji Soo.


Hyuk pun sontak menatap Ji Soo. Ia merasa aneh dengan jawaban Ji Soo. Ji Soo pun langsung meralat ucapannya, tapi belum sempat ia meralat, Hyuk sudah memujinya yang pintar berbicara.
“Aku memang agak cerewet.” Jawab Ji Soo.

“Maksudku bukan itu.” ucap Hyuk.

“Lantas, apa?” tanya Ji Soo.
“Aku pasti benar-benar memiliki sesuatu. Aku menjadi tulang punggung keluarga pada usia muda, jadi, harus mengambil keputusan untuk semuanya. Aku cepat berprasangka. Itu kebiasaan yang sangat buruk.” Jawab Hyuk.

“Aku tidak mengerti maksudmu.” Ucap Ji Soo.

“Akan kuberi tahu jika kita menjadi lebih dekat, Tetangga.” Jawab Hyuk.


Ji Soo lalu melongok keluar jendela, menikmati perjalanannya dengan Hyuk. Hyuk, sesekali menatap Ji Soo.


Ji Soo menemani Hyuk ke tempat pemotongan kayu. Saat Hyuk pergi untuk memotong kayu, Ji Soo pun menyentuh kayu itu dan teringat pada Ji An yang menyukai kayu.


Usai dari tempat memotong kayu, Hyuk membantu Ji Soo mengambil garam.

Setelah urusan mereka beres, mereka singgah membeli ikan. Disaat Hyuk sedang memilih-milih ikan, Ji Soo terus menatap ke arah para penjual ikan di tepi laut.

Hyuk lantas mengajak Ji Soo pergi. Saat hendak masuk ke mobilnya, Hyuk sekilas melihat sesosok wanita mirip Ji An yang sedang menjual ikan. Tapi Hyuk tidak menyadari sosok itu memang Ji An.

Barulah di tengah perjalanan, Hyuk merasa melihat Ji An. Hyuk pun menyuruh Ji Soo pulang dengan taksi, lalu bergegas kembali ke tempat tadi.


Singkat cerita, Hyuk akhirnya bertemu dengan Ji An. Tapi Ji An, dia menatap Hyuk seolah2 tidak mengenal Hyuk. 




Sementara itu, Ji Soo yang sudah di taksi dan sedang dalam perjalanan pulang, memutuskan untuk menyusul Hyuk.


No comments:

Post a Comment