Saturday, June 17, 2017

Ruler : Master Of The Mask Ep 17 Part 2

Sebelumnya...

  
Seja kembali menggelar rapat dengan para saudagar. Seja mengaku sudah mengetahui alasan dibalik penarikan pinjaman yang dilakukan Yangsucheong secara mendadak. Semua itu karena mereka ingin mendapatkan otoritas pencetakan uang. Para saudagar pun langsung ricuh, sementara Hwa Gun tersenyum bangga.

“Syukurlah, mantan pengajar Sungkyukwan, Woo Bo, serta Petugas Hanseongbu berhasil menghentikan mereka. Ia kini menjadi Menteri Personalia.” Ucap Seja.

  
Woo Bo dan Moo Ha mulai masuk ke istana. Raja senang melihat Woo Bo. Tapi tidak dengan kubu Dae Mok.

“Mantan Pengajar Sunkyunkwan, Woo Bo, dilantik secara resmi sebagai Menteri Personalia. Masalahnya, Yangsucheong tidak akan menyerah begitu saja.” Lanjut Seja.

Para saudagar itu pun setuju.

  
“Untuk mencegah muslihat licik semacam itu terulang lagi semua pedagang keliling, para saudagar, maupun pedagang pasar, harus bekerja sama sebagai tim. Kalian semua akan memercayaiku dan bekerja sama?” tanya Seja.

Mereka pun setuju bekerja sama dengan Seja.

“Kalau begitu, aku akan menyetabilkan Departemen Penjaringan Pegawai, Kantor Perekrutan serta Kantor Pelayanan Umum. Aku akan mengumpulkan kekuataan melawan Pyunsoo-hwe.” Ucap Seja berambisi.

  
Apa yang dilakukan Seja akhirnya sampai ke telinga Raja. Raja heran bagaimana seorang Kepala Pedagang Keliling bisa menghentikan Dae Mok. Hyun Seok berkata, dia adalah pria yang luar biasa dan mendapatkan kepercayaan penuh dari Daebi Mama dan para saudagar.

“Kepala Pedagang itu didukung oleh Daebi Mama?” tanya Sun kaget.

“Memang belum pasti, tapi mengingat dia berhasil menghentikan Dae Mok, Daebi Mama pun memercayai dia.” jawab Hyun Seok.

  
Tak lama kemudian, Kepala Kasim mengumumkan kedatangan Daebi Mama. Sun pun segera memakai topengnya. Daebi Mama kemudian masuk dan sempat menatap sinis Hyun Seok sebelum akhirnya ia duduk di hadapan Sun.

“Terima kasih, Jusang. Berkatmu, kita bisa menghentikan Dae Mok. Sebagai hasilnya, banyak kesengsaraan yang berhasil diangkat dari rakyat.” Ucap Daebi Mama.

“Itu bukan berkat saya, tapi Kepala Pedagang Keliling.” Jawab Sun.

“Apa maksudmu itu? Kau memercayai ibumu ini dan berhasil menahan rencana Dae Mok selama empat hari. Jusang telah melakukan pekerjaan hebat bagi rakyat. Untuk itu, ibumu ini akan berusaha keras memenuhi janji. Lain waktu saat aku kembali ke Daejon ini lagi, aku akan membawa serta Ga Eun.” Ucap Daebi Mama.

Sun pun terkejut mendengarnya.

  
Usai bicara dengan Daebi Mama, Sun menenangkan diri di rumah hijau. Ia nampak tidak senang mendengar Ga Eun akan masuk istana sebagai dayang. Pada Hyun Seok, ia bertanya, jika Seja yang asli masih hidup, apakah dia akan bisa menjadi Raja yang hebat.

“Tolong jangan berpikir demikian. Seja Jeoha sesungguhnya sudah meninggal.” Jawab Hyun Seok.

“Itu benar. Dengan kedua mataku, kusaksikan kematiannya.” Ucap Sun sembari mengingat kematian Seja.

“Dengan begitu, anda memang Raja Joseon.” Jawab Hyun Seok sembari menatap Sun.


Sun tersenyum dan balas menatap Hyun Seok.

“Kau menatapku seakan aku sungguh seorang Raja. Jika kau terus menatapku seperti itu, aku akan menjadi serakah. Aku membayangkan seandainya aku Raja sesungguhnya, aku menyelamatkan rakyat dan bisa memenangkan hati Ga Eun Aghassi.” Jawab Sun.

“Itu bukan sekedar mimpi. Hal itu mungkin terjadi. Cheonha adalah Raja. Jangan memiliki keraguan maupun ketakutan.” Ucap Hyun Seok.

  
Woo Bo pergi menemui seorang temannya yang mengalami penurunan jabatan. Teman Woo Bo itu mengaku kaget karena Woo Bo tiba2 berhenti mengasingkan diri dan masuk lagi ke istana. Woo Bo tertawa mendengarnya, kemudian berkata ingin memperkenalkan temannya itu pada seseorang.

  
Orang yang ingin diperkenalkan Woo Bo pada temannya itu siapa lagi kalau bukan Seja. Teman Woo Bo itu pun kaget melihat sosok si Kepala Pedagang Keliling.

“Dengarkan, Kwang Ryul. Aku berencana mengunjungi setiap departemen. Aku juga berencana mengisi Departemen Penjaringan Pegawai.” Ucap Woo Bo.

“Tolong tempatilah posisi seperti sebelumnya. Kami akan merekomendasikan Yeonggam pada Daebi Mama.” jawab Moo Ha.

“Kalian akan merekomendasikan aku pada Daebi Mama?” tanya Kwang Ryul tak percaya.

“Ya. Tolong pimpin Departemen Penjaringan Pegawai lagi.” Jawab Moo Ha.

“Maafkan aku. Aku bukanlah orang yang cerdas. Aku tidak bisa bekerja untuk Daebi Mama. Hanya Raja yang memiliki otoritas untuk menominasikan pejabat. Bila Daebi rupanya memiliki otoritas serupa, hal itu hanya akan memecah belah negeri ini.” ucap Kwang Ryul.

  
Mendengar itu, Seja yang sedari tadi diam saja, akhirnya angkat bicara.

“Kalau begitu, bila Jusang Cheonha yang merekomendasikan, anda mau menempati posisi itu? Anda membicarakan Jusang Cheonha. Sejujurnya, Yeonggam... tidak ingin memihak sisi yang lain kan? Apa sekarang ini anda tidak lagi melihat harapan di dalam Kerajaan?” ucap Seja.

Kwang Ryul pun terdiam. Ia hanya memandangi Seja sambil memikirkan sesuatu.

“Izinkan saya bertanya satu hal. Jika Anda memang tidak ingin lagi bekerja untuk istana, mengapa anda menerima saja mutasi ke posisi serendah itu?” tanya Seja.

“Kau sedang mengolokku?” tanya Kwang Ryul kesal.

“Pyunsoo-hwe berusaha mendapat otoritas atas keuangan negara. Apa anda belum menyadarinya juga? Sekalipun dimutasi ke jabatan yang rendah, anda menerimanya karena ingin sedikit berusaha menghentikan mereka, bukan begitu?” ucap Seja.

Kwang Ryul pun tercengang mendengarnya.

“Anda telah mengerjakan sesuatu tanpa pengakuan sekian lama. Pasti begitu berat bagi Anda rasanya. Saat ini, Kerajaan membutuhkan sosok seperti Yeonggam.” Ucap Seja.

  
“Aku melihat kau bukanlah Kepala Pedagang biasa. Kau membuatku teringat pada seseorang. Aku mengira sedang berimajinasi saat merasa kau mirip dia di masa muda, namun bukan hanya wajahmu yang mengingatkanku padanya. Ucapan serta tindakanmu. Segala sesuatu yang kau lakukan membuatku teringat padanya.” Jawab Kwang Ryul.

Mendengar itu yang lain langsung tegang. Moo Ha pun berusaha mengalihkan perhatian dengan mengatakan banyak sekali orang yang terlihat mirip di dunia ini. Namun Kwang Ryul tidak percaya dan meminta Seja berkata jujur siapa Seja sebenarnya.

  
Seja beserta rombongan mulai meninggalkan kediaman Kwang Ryul. Chung Woon cemas, ia takut terjadi sesuatu pada Seja karena bertambah lagi satu orang yang tahu Seja masih hidup.

“Itu benar. Agar dapat melawan Pyunsoo-hwe, aku harus mempertaruhkan nyawaku. Hal yang dapat kutawarkan pada mereka yang mempertaruhkan nyawa demi aku, hanyalah kesungguhanku.” Jawab Seja.

Woo Bo yang berjalan di depan mereka pun tersenyum mendengarnya.


Di kediamannya, Kwang Ryul menangis lega karena Seja masih hidup. Ia yakin, masih ada harapan untuk Joseon. Kwang Ryul kemudian menuliskan surat untuk seseorang yang bernama Jae Hon. Ia minta Jae Hon untuk kembali ke ibukota sekarang juga. Kwang Ryul lalu menyuruh pelayannya mengirim surat itu ke Kepala Jeo Han di Provinsi Hamgil.


Seorang anak berjalan tertatih-tatih di tengah pasar. Tak lama kemudian, anak kecil itu jatuh pingsan. Para warga pun langsung mendekatinya.

  
Di tokonya, sambil menggenggam kalung bulan dan bintang Seja, Ga Eun memikirkan kata2 Ibu Suri yang memintanya jadi dayang istana. Tak lama kemudian, Kepala Dayang datang dan meminta jawaban Ga Eun atas permintaan Ibu Suri. Tiba2, seorang pria datang. Dengan panic, pria itu memberitahu Ga Eun sudah terjadi sesuatu.

Moo Ha menemani Mae Chang berjalan2 di pasar. Mae Chang memuji kehebatan Ga Eun yang merubah tanah tandus menjadi pasar. Moo Ha pun berkata, karena itulah Kepala Pedagang jatuh cinta pada Ga Eun. Obrolan mereka terhenti saat Mae Chang melihat kerumunan warga. Mereka pun bergegas mendekati kerumunan itu.


Ga Eun berusaha membangunkan gadis kecil bernama Yang itu. Tak lama, Moo Ha datang. Ia pun menyuruh Ga Eun menaikkan Yang ke punggungnya. Setelah itu, mereka bergegas membawa Yang pada Woo Bo.

  
Saat tengah memeriksa Yang, Ga Eun menemukan sesuatu di genggaman Yang. Ia mengambilnya dan memberikannya pada Woo Bo. Woo Bo bilang itu racun. Seja pun langsung menanyakan apa yang terjadi pada Yang.

“Ibu mengirimku ke kuil agar aku tidak kelaparan. Tapi tempat para biksu dimana aku dibawa bukanlah sebuah kuil.” Jawab Yang lemah.

“Lalu, tempat apa itu?” tanya Seja.
“Sebuah ladang bunga di dalam hutan. Anak-anak sebayaku memetik bunga setiap hari lalu membuat pil bersama para biksu.” Jawab Yang.

“Kau ingat berapa banyak anak yang ada di sana?” tanya Seja.

“Sekitar 20 orang, tapi mereka semua sedang sakit.” Jawab Yang.

“Jangan-jangan semua anak itu kecanduan obat tersebut?” ucap Ga Eun.

“Bisa kau katakan pada kami dimana tempatnya?” tanya Seja.


Tapi baru mau mulai menuliskan sesuatu, Yang tiba2 saja batuk darah.

  
Woo Bo bilang jika mereka tidak mendapat penawarnya, maka Yang tidak akan selamat. Seja bertanya, tidak adakah cara untuk menyelamatkan Yang. Woo Bo lantas memeriksa racun itu. Ia berkata, racun itu bukan racun alami tapi racun yang sengaja diproduksi. Woo Bo curiga, Pyunsoo-hwe ada dibalik semua itu. Woo Bo bilang, orang2 yang menentang Pyunsoo-hwe, ditemukan mati bersimbah darah karena diracun Pyunsoo-hwe, namun rumor itu lenyap seketika. Tidak seorang pun yang bisa melenyapkan rumor itu dalam sekejap. Seja pun terkejut mendengarnya.

No comments:

Post a Comment