Saturday, June 17, 2017

Ruler : Master Of The Mask Ep 17 Part 1

Sebelumnya...

  
Hwa Gun akhirnya menemui sang kakek setelah 5 tahun. Ia protes karena sang kakek mengirim pasukan untuk menyerang Kepala Pedagang. Dae Mok kecewa Hwa Gun datang menemuinya setelah 5 tahun hanya untuk menanyakan hal itu.

“Tolong jangan sentuh Kepala Pedagang. Aku… jatuh cinta padanya. Jika Kepala Pedagang sampai terluka, maka aku pun ikut terluka. Jika Kepala Pedagang terbunuh, aku pun akan bunuh diri.” Ancam Hwa Gun.

  
Seja sedang tertidur ketika Moo Ha datang. Moo Ha cemas, ia ingin tahu apa yang terjadi. Chung Woon yang setia menjaga Seja sejak tadi meminta Moo Ha tidak berisik. Chung Woon lantas memberitahu, kalau Pyunsoo-hwe mengirim pasukan untuk menyerang mereka. Moo Ha geram mendengarnya.

“Dasar para bajingan. Dae Mok itu...”

Tiba2, Ga Eun masuk dan mendengar kata2 Moo Ha. Ga Eun ingin tahu siapa Dae Mok. Chung Woon dan Moo Ha pun panic Ga Eun mendengar pembicaraan mereka. Ga Eun mendesak Moo Ha untuk cerita.

  
Moo Ha dan Ga Eun bicara diluar. Ga Eun terkejut mengetahui Chun Soo nya bertarung melawan Pyunsoo-hwe selama ini. Moo Ha bilang harusnya ia tidak boleh memberitahu Ga Eun. Ga Eun ingin tahu kenapa ia tidak boleh tahu.

“Kepala Pedagang pernah berkata, jika kau berhubungan dengan dia selama pertarungan berlangsung kau bisa dilukai mereka.” Jawab Moo Ha.

Ga Eun tertegun, aku mungkin akan dilukai?

“Ya, itulah sebabnya. Kau tidak akan mengerti betapa dia memedulikan dirimu.” Jawab Moo Ha.

  
Barulah Ga Eun mengerti kenapa Chun Soo nya berpura2 tidak mengenalinya selama ini. Itu karena Chun Soo nya ingin melindungi dirinya. Mata Ga Eun pun mulai berkaca-kaca.

  
Dae Mok kecewa. Ia tidak menyangka Hwa Gun akan datang menemuinya setelah 5 tahun hanya untuk mengancamnya seperti itu. Hwa Gun berkata, ia datang bukan untuk mengancam tapi untuk membuat kesepakatan.

“Sebagai ganti nyawa Kepala Pedagang itu, apa imbalan yang kau tawarkan?” tanya Dae Mok.

“Penerus Harabeoji, yang bahkan akan melampaui pencapaian seorang Dae Mok. Daepyunsoo (Kepala Pyunsoo-hwe) yang baru. Apa itu cukup?” jawab Hwa Gun.

Dae Mok pun tercengang mendengarnya.

“Aku akan menjadi Daepyunsoo baru.” Ucap Hwa Gun.

  
Tepat saat itu, Woo Jae masuk dan terkejut mendengarnya. Hwa Gun juga terkejut melihat kehadiran ayahnya. Namun ia kekeuh mau menjadi Daepyunsoo yang baru demi menyelamatkan nyawa Seja meski merasa tidak enak pada ayahnya.

“Aku menyuruhmu tetap di kamarmu. Ada apa kemari?” tanya Dae Mok.

“Ada hal penting yang ingin saya sampaikan.” Jawab Woo Jae masih dengan rasa terkejutnya.

“Apa darurat sekali?” tanya Dae Mok.

“Tidak. Sekalipun darurat, memang anda akan memercayai saya?” ujar Woo Jae.

“Kau boleh pergi.” Suruh Dae Mok.

Woo Jae pun pergi rasa kecewa. Sementara itu, Hwa Gun tampak menantikan jawaban Dae Mok. Dae Mok pun setuju Hwa Gun menjadi Daepyunsoo yang baru.

  
Dae Mok membawa Hwa Gun ke gua Pyunsoo. Ia memperkenalkan Hwa Gun sebagai Daepyunsoo yang baru. Hwa Gun mengenakan hanbok putih dan berdiri di tengah2 lilin yang menyala.

“Cucu dari Dae Mok seharusnya mengikuti keinginan Pyunsoo-hwe. Lalu, kenapa kau.. justru memihak Kepala Pedagang saat pertemuan saudagar digelar?” tanya salah satu anggota Pyunsoo-hwe.

“Sebagai pimpinan para saudagar tentu aku harus mengambil pilihan yang lebih menguntungkan.” Jawab Hwa Gun.

“Saat kita kehilangan tembaganya, rencana besar Pyunsoo-hwe menguap layaknya asap. Hari itu pun kau ada di sana.” Ucap mereka.

“Pyunsoo-hwe memang memiliki sumber informasi yang luas. Ya, aku memang di sana karena ada transaksi bisnis.” Jawab Hwa Gun.

“Sebelumnya kau meninggalkan Pyunsoo-hwe. Kenapa mendadak ingin kembali?” tanya mereka.


“Ini karena insiden di Waegwan. Kalian semua tidak bisa melindungi tembaganya dan menghancurkan rencana besar Pyunsoo-hwe kita. Kebodohan itu terlalu menyedihkan untuk disaksikan. Itu alasanku melangkah kembali memasuki Pyunsoo-hwe.

“Apa kebodohan menyedihkan? Kami? Pyunsoo-hwe?” ucap anggota Pyunsoo-hwe tidak terima.

Dae Mok tersenyum sinis mendengar jawaban Hwa Gun.

“Dibanding keluarga kerajaan Joseon, yang memiliki pengaruh lebih besar adalah kita, Pyunsoo-hwe. Kita tidak boleh hancur seperti ini, bukan begitu? Sekarang, aku harus menjadi Daepyunsoo baru dan menegakkan disiplin yang telah kendur.” Ucap Hwa Gun lantang.


Woo Jae meminta Tae Ho mendampinginya mengelola ladang poppi. Tae Ho tak setuju, ia bilang hal itu terlalu remeh untuk diurusi seorang Woo Jae. Woo Jae marah. Ia bilang kekuatan Pyunsoo-hwe awalnya bersumber dari ladang poppi.

“Jika aku mengendalikan ladang poppinya, maka suatu hari nanti aku akan menjadi sekuat Dae Mok. Kemudian, Hwa Gun tak akan menganggap ayahnya ini tidak kompeten.” Ucap Woo Jae kecewa.

  
Hwa Gun keluar dari gua Pyunsoo-hwe dengan langkah gontai. Tak lama kemudian, ia terjatuh dan terduduk lemas di tanah. Gon langsung mendekati Hwa Gun. Ia mencemaskan Hwa Gun. Tangis Hwa Gun pun langsung mengalir. Ia memohon agar Gon mengantarkannya menemui Seja.

“Aku takut dia belum juga sadarkan diri. Aku sangat mencemaskan dia.” ucap Hwa Gun.


Seja sendiri tengah berjalan2 dengan Ga Eun. Ga Eun mencemaskan Seja. Seja pun meyakinkan Ga Eun kalau dia baik2 saja dengan mengangkat sebelah tangannya yang terluka. Seja kemudian mengaku kalau ia cukup kuat untuk mengantar Ga Eun.

“Kalau begitu, antar saja aku sampai ujung jalan sana.” Jawab Ga Eun.

“Uh... aku tidak yakin... aku bisa.” ucap Seja.

  
Ga Eun pun menatap Seja bingung. Seja pun berkata kalau ia tidak ingin meninggalkan Ga Eun lagi. Seja menjelaskan, kalau 5 tahun yang lalu, ia hendak menemui Ga Eun. Namun lantaran berpikir demi kebaikan Ga Eun, ia berbalik pergi dan terus menyesalinya. Seja teringat saat ia melihat Ga Eun di Desa Chilpae. Saat itu, Seja ingin menghampiri Ga Eun, namun tak jadi demi kebaikan Ga Eun.

“Doryongnim, kenapa kau datang begitu terlambat?” tanya Ga Eun.


Seja tidak menjawab, tapi malah meletakkan kalung bulan dan bintangnya di tangan Ga Eun. Seja lantas menggenggam erat tangan Ga Eun, lalu meletakkan tangan Ga Eun di dadanya.

“Aku tak akan lagi meninggalkanmu sendirian.” Ucap Seja.

  
Tepat saat itu, Hwa Gun datang. Hwa Gun awalnya datang dengan penuh semangat, tapi senyumnya langsung menghilang saat ia melihat Seja dan Ga Eun saling bertatapan. Hwa Gun cemburu, tapi ia tetap mendekati mereka.

“Apa aku mengganggu?” tanyanya.

  
Ga Eun langsung menarik tangannya dari genggaman Seja, tapi Seja malah menggenggam tanganya semakin kuat dan tidak mau melepaskannya.

“Ada apa kau datang jauh-jauh kemari?” tanya Seja.
“Aku mencemaskanmu, tapi kelihatannya kau baik-baik saja, jadi syukurlah.” Jawab Hwa Gun.

“Maaf karena sudah membuatmu cemas.” Ucap Seja.

“Ya, tolong jangan membuatku cemas lagi. Rasa takut bahwa Doryongnim mungkin meninggalkanku juga membuat jantungku seakan berhenti berdetak.” Jawab Hwa Gun.

“Terima kasih sudah mencemaskan aku. Aku akan segera menemuimu lagi dalam rapat para saudagar.” Ucap Seja.

Hwa Gun lantas membungkuk, memberi hormat kemudian beranjak pergi dengan wajah kecewa.

  
Setelah Hwa Gun pergi, Ga Eun menarik tangannya dari genggaman Seja dan menatap Seja seolah meminta penjelasan. Seja panik dan langsung menjelaskan kalau diantara ia dan Hwa Gun tidak ada apa2. Ga Eun diam saja, bikin Seja makin panic. Barulah Ga Eun bicara.

“Memang aku mengatakan sesuatu?” tanyanya santai, lalu beranjak pergi.

  
Seja pun langsung menyusul Ga Eun sembari berusaha menjelaskan kalau diantara ia dan Hwa Gun tidak ada hubungan apapun. Seja menyebut kata kami sebagai pengganti namanya dan Hwa Gun. Ga Eun langsung berbalik mendengar Chun Soo nya menyebut kata kami.
“Aku mengira selama ini kau selalu memikirkan aku.” ucap Ga Eun.

“Memang aku selalu memikirkanmu.” Jawab Seja.

“Kalau begitu apa hubungan antara kau dengan dia?” tanya Ga Eun.

“Dia orang yang tidak masalah melihat kita bergandengan tangan.” Jawab Seja sembari menggandeng tangan Ga Eun. Ga Eun langsung tersenyum. Seja bertanya, apa Ga Eun cemburu.

“Tidak, aku hanya tanya karena penasaran.” Jawab Ga Eun, lalu pergi.

  
Seja mau menyusul Ga Eun, tapi tiba-tiba2 ia merasakan nyeri di tangannya yang terluka. Ga Eun langsung berbalik, menatapnya dengan cemas. Begitu ditatap Ga Eun, Seja pun langsung pura2 tidak sakit dan tersenyum lebar pada Ga Eun. Melihat senyuman Seja, Ga Eun pun ikut tersenyum dan melanjutkan langkahnya.

  
Gon menghampiri Hwa Gun. Ia bertanya, apa Hwa Gun ingin ia menyingkirkan Ga Eun. Hwa Gun pun dengan angkuhnya berkata bahwa ia berbeda dari Hwa Gun.

“Jeoha juga akan segera menyadari aku memiliki sesuatu yang tidak gadis itu punyai. Sesuatu yang Jeoha hanya bisa dapatkan dariku.” Ucap Hwa Gun.

No comments:

Post a Comment