Wednesday, January 10, 2018

My Golden Life Ep 36 Part 1

Sebelumnya...


Ji An terkejut bertemu Nyonya No. Sementara Nyonya No nampak senang. Ia bahkan masih memanggil Ji An dengan nama Eun Seok, walau kemudian meralatnya.

“Oraenmaniya. Kau, ada apa kemari? Kau mau menemui Ji Soo?” tanya Nyonya No.

“Tidak. Aku bekerja paruh waktu di dekat sini.” Jawab Ji An dengan suara gemetar.

“Bekerja paruh waktu? Apa pekerjaanmu? Kenapa kau bekerja paruh waktu?” tanya Nyonya No, tapi kemudian ia terdiam dan teringat kemarahan Ji Soo.


Flashback...

“Maaf sudah menjadi anak kandungmu.” Ucap Ji Soo sambil menangis.

Flashback end...


“Aku harus pergi.” Ucap Ji An.

“Kau hidup miskin seperti itu karena perkataanku? Kau sebaiknya bekerja di restoran ibumu.” Jawab Nyonya No.

Sontak Ji An kaget mendengar ibunya masih bekerja di restoran milik Haesung.

“Kau tidak mau bekerja disana? Katamu kau mau bekerja. Itu bukan salahmu, Ji An-ah. Cari pekerjaan normal dimana pun. Aku tidak akan menghentikanmu. Aku hanya terlalu marah saat itu. Sebaiknya kau pergi sekarang. Aku ingin menemui Ji Soo.” Ucap Nyonya No.


Setelah Nyonya No pergi, Ji An berjalan terburu-buru dan bersandar pada dinding untuk mengatur napasnya. Ji An lalu meraih ponselnya dan menanyakan dimana restoran sang ibu pada Ji Ho lewat SMS.


Ji Soo yang sedang melamun, mendengar suara pintu dibuka dan terkejut melihat sosok yang datang adalah ibunya.

Boss Kang, Hee dan Hyuk lantas keluar dari dapur. Hee menggandeng Boss Kang dan berkata tidak sabar ingin pindah ke rumah baru mereka. Hyuk menyuruh Ji Soo melihat kamar barunya Boss Kang dan Hee. Tapi Ji Soo bilang kalau mereka kedatangan pelanggan.

Hee lalu pamit. Boss Kang mengantarkan Hee dan Hyuk keluar.

“Sampai jumpa, Ji Soo-ya.” Ucap Hyuk sebelum pergi.


Ji Soo pun mendekati ibunya selagi mereka semua diluar. Ji Soo penasaran, kenapa sang ibu datang. Nyonya No mengaku ia datang untuk melihat putrinya bekerja. Nyonya No juga menjelaskan, tidak bisa mengatakan bahwa ia adalah ibunya Ji Soo karena takut Ji Soo tertekan. Nyonya No lantas mengajak Ji Soo makan malam, tapi Ji Soo menolak dengan alasan ada les Bahasa Perancis.


Boss Kang kemudian masuk dan Nyonya No memberikan satu buah roti untuk dibungkus.


Sekembalinya ke mobil, Nyonya No menghubungi Seketaris Min. Ia marah karena Seketaris Min tidak sekalian mengecek teman-temannya Boss Kang.

“Periksa teman-teman pemiliknya lagi. Dia punya ipar. Dia seumuran Ji Soo.” Suruh Nyonya No.


Do Kyung akhirnya mendapatkan kesempatan untuk mempresentasikan proposalnya.


Ji An ke restoran untuk menemui ibunya. Ia terkejut melihat sang ibu yang masih saja mengelola restoran itu. Nyonya Yang tersenyum melihat Ji An. Ji An mengajak ibunya bicara. Sang ibu membawanya ke ruangan khusus.

“Kenapa Ibu masih mengelola restoran ini? Aku tidak mengira Ibu mau bertahan di sini.” Ucap Ji An.

“Ibu di sini hanya sampai mereka menemukan pemilik baru. Mereka sudah tahu ibu tidak ingin ini sejak lama.” Jawab Nyonya Yang.

“Kenapa Ibu menunggu sampai mereka menemukan pemilik baru?” tanya Ji An.


“Ibu melakukannya untukmu. Nyonya No bilang dia akan menghancurkan masa depanmu. Jadi, ibu hanya melaksanakan perintahnya.” Jawab Nyonya No.

“Kenapa itu dijadikan alasan? Dari awal seharusnya ibu tidak menerima tempat ini.” Ucap Ji An.

“Ibu tahu. Jika melihat ke belakang ibu tahu ini akan menjadi bencana, tapi saat itu, ibu bukan diri sendiri. Kau tidak akan pernah tahu bagaimana perasaan ibu. Dia mengancam ibu dengan masa depanmu. Dia bahkan tidak menatap ibu saat ibu berlutut seharian.” Jawab Nyonya Yang.

“Jadi, kenapa? Sampai kapan ibu akan menyembunyikan kebenaran?” tanya Ji An.

Nyonya Yang pun mengaku kalau ia melihat Ji An di kantor polisi saat itu. Nyonya Yang berkata, ada yang mengiriminya sms bahwa Ji An di kantor polisi. Nyonya Yang cerita, kalau ia mengikuti Ji An selama sejam setelah Ji An bebas dari kantor polisi.

“Tapi kau bahkan tidak bisa berjalan lurus.” Cerita Nyonya Yang.


*Bagi yang lupa. Ji An terpaksa berurusan dengan polisi setelah memukuli Ha Jung. Ji An marah karena Ha Jung merebut posisinya sebagai pegawai tetap Haesung. Di kantor polisi, Ha Jung diam2 mengirim pesan ke Nyonya Yang kalau Ji An di kantor polisi. Ji An akhirnya dibebaskan dengan syarat ia harus membayar ganti rugi pada Ha Jung. Nyonya Yang melihat Ji An keluar dari kantor polisi. Nyonya Yang terpukul melihat Ji An yang bahkan tidak bisa berjalan tegak (Ep 2)*

“Kita sudahi saja. Aku sudah mengerti alasan ibu melakukannya. Tapi aku tidak bisa merelakan ini semudah itu.” Ucap Ji An.

“Ibu bertindak apatis, padahal ibu yang menyebabkan kekacauan ini. Karena itu sudah terjadi, ibu harus melepaskanmu. Saat itu, ibu ingin mengirimkanmu kepada mereka. Ibu tidak memikirkan konsekuensinya. Ibu kira itu akan berjalan lancar. Ibu meyakini itu. Ibu pikir tidak akan apa-apa jika kau ke luar negeri. Ibu pasti sudah gila.” Jawab Nyonya Yang.

“Alasanku tidak kemari sama seperti dahulu. Aku kemari karena mendengar ibu masih mengelola restoran ini. Aku sungguh ingin ibu berhenti.” Ucap Ji An.


“Ibu menunggu mereka menemukan pemilik baru. Ibu juga hanya mendapatkan gaji bulanan. Ibu berusaha yang terbaik untuk menebus perbuatan ibu.” Jawab Nyonya Yang.

Nyonya Yang lalu mengajak Ji An pulang. Tapi Ji An menolak. Dalam hati, Ji An berkata bahwa ia mengasihani dirinya sendiri saat melihat sang ibu.

“Lantas, kapan kau akan pulang? Ibu membayar perbuatan ibu dengan kehilangan Ji Soo. Dia tidak menelepon atau pun menjawab telepon ibu.” Ucap Nyonya Yang.
“Untuk apa? 25 tahun hidupnya hilang karena ibu, dan dia hampir kehilangan orang tuanya karena aku. Ibu kira dia mau bicara dengan ibu?” jawab Ji An.

Ji An lantas memberitahu ibunya kalau Ji Soo hidup dengan baik di rumah Haesung dan meminta sang ibu melupakan Ji Soo jika merasa bersalah pada Ji Soo.

“Jika Ibu merasa bersalah kepadanya, lupakan saja dia.

“Kau juga butuh pekerjaan segera.” Ucap Nyonya Yang.

“Berhentilah mengkhawatirkanku. Aku bisa menjalani hidup yang baik tanpa bekerja di perusahaan. Aku juga sudah mengatakan ini kepada Ayah. Aku tidak mau pulang untuk sementara waktu.” Jawab Ji An.


Sampai di rumah kos, Ji An melihat Do Kyung yang sedang kebingungan di depan laptop. Do Kyung yang menyadari Ji An sudah pulang, memberitahu Ji An kalau ia sedang menyiapkan proposal untuk presentasi di depan investor. Ji An awalnya senang, tapi ia terdiam begitu teringat kata-kata Nyonya No yang menyuruhnya bekerja di restoran Haesung.

“Maukah kau melihat presentasiku? Aku tidak pernah membuat presentasi di kantor. Aku selalu meminta para pegawai membuatkannya.” Ucap Do Kyung.

“Aku tidak bisa. Aku juga punya pekerjaan.” Tolak Ji An, lalu lari kamar.


Di kamar, Ji An menyelesaikan desainnya tapi gak bisa konsentrasi karena terus kepikiran Do Kyung. Ji An akhirnya keluar kamar dan membantu Do Kyung membuat proposal.

“Aku menyukai bahannya, tapi kurang mudah dibaca dan tersampaikan. Hurufnya terlalu kecil dan butuh lebih banyak foto. Katamu kau sudah membuat satu di kantor, bukan?”

“Aku tidak akan menggunakan yang dibuat pegawai Haesung. Tapi aku bisa menggunakan bahannya karena aku yang mencetuskannya.” Jawab Do Kyung.

“Lantas, gunakan huruf dan kerangka yang kumiliki. Jangan gunakan lebih dari tiga warna. Itu mengganggu. Pilih satu warna dan gunakan yang mirip dengannya. Serta ada situs web untuk foto tanpa hak paten. Aku akan memberikanmu tautannya. Serta saat kau memasukkan foto, jangan hanya salin dan tempel. Klik formula ini dan atur transparansinya. Itu akan membuatnya lebih trendi.” Ucap Ji An.

Do Kyung pun menatap kagum Ji An. Ji An yang tahu Do Kyung lagi menatapnya, menyuruh Do Kyung memperhatikan ke layar.

“Kau mau aku kembali, bukan?” tanya Do Kyung.

“Kau sudah tahu apa yang kuinginkan.” Jawab Ji An.


“Lantas, kenapa kau membantuku dengan ini?” tanya Do Kyung.

“Aku tidak mau kau kembali karena gagal. Selain itu, kau banyak membantuku di awal aku tinggal dengan keluargamu meski aku putri palsu mereka.” Jawab Ji An.

“Aku membantumu demi keuntungan keluargaku.” Ucap Do Kyung.

“Aku, Seo Ji An, benci berutang kepada orang lain. Karena sudah pindah, kau harus berusaha yang terbaik. “ jawab Ji An, membuat Do Kyung tersenyum.


Nyonya Yang tidak bisa tidur. Ia terus teringat pada Ji An yang tidak mau pulang. Nyonya Yang lantas memberitahu Tuan Seo kalau tadi Ji An menemuinya di restoran dan Ji An menolak pulang.

Perut Tuan Seo sakit lagi. Ia langsung berlari ke kamar mandi untuk muntah. Nyonya Yang cemas. Ia mau mengambilkan obat tapi Tuan Seo melarang dan mengaku punya obat sendiri.


Paginya, Ji Tae terbangun dan heran sendiri tidak mendapati Soo A disampingnya. Ia lantas mengambil ponselnya dan membaca pesan Soo A. Dalam pesannya, Soo A bilang, ia ke kantor lebih awal.


Tuan Seo pergi ke rumah lamanya.  Ia mengetahui bahwa orang yang mengambil rumahnya sudah meninggal dan sekarang rumah itu kosong, jadi ia berencana tinggal disana selama beberapa bulan.


Tuan Choi berkonsultasi dengan dokter yang disarakan teman dokternya.

“Aku menemui teman dokterku dan dia bilang aku mengalami menopause. Tapi aku tidak nyaman memberitahunya segalanya.” Ucap Tuan Choi.

“Kau kira hanya wanita yang bisa menopause, bukan?” tanya sang dokter.

“Katanya itu tidak benar. Beberapa pria juga bisa.” Jawab Tuan Choi.

“Kau salah. Banyak pria. Tapi pria tidak terbiasa mengungkapkan perasaannya. Banyak orang dicuci otaknya untuk tidak boleh mengungkapkan perasaan.” Ucap dokter.

“Cuci otak?” tanya Tuan Choi.


“Kau tidak harus dipaksa untuk dicuci otak. Kau diberi tahu mana yang benar dan salah. Saat kau terpapar budaya atau keyakinan seperti itu dalam waktu lama, kau akan menerimanya sebagai keyakinan. Jadi, bagaimana perasaanmu belakangan ini? Bisakah kau jelaskan secara detail?” jawab dokter.

“Aku merasa seperti ada bom di dalam tubuhku. Aku merasa tidak bisa melakukan apa pun. Aku merasa tidak kompeten. Aku tidak tahu kenapa aku hidup. Aku tidak tahu apa tujuan hidupku. Entah bagaimana aku menjalani sisa hidupku. Aku merasa jantungku akan meledak.” Ucap Tuan Choi.

“Tapi kau tidak bisa meledakkannya?” tanya dokter.


Tuan Choi pun menangis.


Tuan Seo mulai membersihkan rumahnya. Ia menyapu lantai, menempelkan koran sebagai penutup jendela dan mengganti alas lantainya.


Ji Ho dan Seohyun sedang men-survey lokasi restoran. Pemilik mengatakan, bahwa jalan dan area disana sangat ramai. Tapi Seohyun tidak suka tempatnya karena kumuh.

“Hentikan. Kau harus memikirkan finansial pacarmu.” Ucap si pemilik.

“Dia bukan pacarku.” Sangkal Ji Ho dan Seohyun bersamaan.

Ji Ho pun kesal dan menyuruh Seohyun tutup mulut.

“Saat apartemen itu selesai, kau tidak akan bisa mendapatkan harga yang sekarang.” Ucap pemilik.
“Kurasa juga begitu. Tapi mari lihat tempat lain dahulu.” Pinta Ji Ho.

“Kenapa kau tidak mulai bisnis baru?” tanya Seohyun.

“Ongkos mengambil alih bisnis yang sudah ada lebih murah daripada mulai dari nol.” Jawab Ji Ho.


Di kantor, Soo A bersiap pergi. Sepertinya untuk makan siang. Tapi Ji Tae menelponnya dan mengajaknya makan siang. Soo A menolak dengan alasan banyak pekerjaan. Soo A juga berbohong dengan mengaku sudah memesan makan siang dan makanannya baru saja tiba. Soo A lantas memberitahu Ji Tae kalau ia sudah menjadwalkan untuk operasi pekan depan di hari libur Ji Tae.

“Apa?” tanya Ji Tae yang ternyata sudah berada di hadapan Soo A.

Soo A pun terkejut melihat Ji Tae. Soo A lalu mengajak Ji Tae keluar.


Ji Tae mengajak Soo A pindah ke kota yang lebih kecil.

“Alasan terbesar kita tidak mau punya anak adalah kita tinggal di Seoul. Hampir mustahil membeli rumah atau mendidik anak. Serta kita terus dibandingkan dengan orang lain. Jika kita pindah dari kota ini, semua standar akan menjadi lebih rendah. Bukankah menurutmu kita bisa lebih bahagia seperti itu? Kita juga bisa tetap memiliki bayi.” Ucap Ji Tae.

Tapi Soo A menolak. Ia bilang, semua orang pindah ke Seoul jadi untuk apa mereka melarikan diri dari Seoul.

“Kita tidak melarikan diri. Ini bisa menjadi pilihan kita. Kita punya cabang di kota kecil.” Bujuk Ji Tae.


“Tidak.” Tolak Soo A.

“Kita memutuskan untuk tidak punya anak karena kau tidak akan hamil. Tapi kita membuat kesalahan dan kau hamil. Serta anak itu adalah manusia yang jantungnya berdetak. Bayi itu akan tumbuh menjadi seperti ini.” Jawab Ji Tae, lalu menunjukkan foto seorang bayi lucu pada Soo A.

Tapi Soo A malah ingin bercerai.


“Dilahirkan di keluarga miskin membuatku nyaris tidak bisa lulus kuliah. Saat aku tidak bisa mendapatkan pekerjaan yang pantas dan memutuskan untuk menerima posisi sementara, aku menyadari hanya aku orang yang bisa mengurus diriku sendiri. Setidaknya aku bisa menyediakan hidup yang baik untukku sendiri. Kau melihatnya di Kanada. Kau juga melihat toko saudaraku. Mereka nyaris tidak bisa menyokong orang tuaku. Kau kira aku tidak mau pergi dengan mereka? Saat orang tua miskin, mereka tidak bisa mencintaimu sebanyak yang mereka mau. Itu alasanku hanya mencintai diriku sendiri. Tapi aku malah mencintaimu juga. Maaf, tapi sudah cukup.  Di situlah cintaku berakhir.” Ucap Soo A.

Ji Tae syok, cerai?

“Pasal pertama kontrak pernikahan kita sudah dilanggar. Kita tidak seharusnya punya anak. Pasal ketiga adalah kita akan bercerai jika ingin punya anak.” Ucap Soo A.

*Kalau gitu kenapa kalian menikah! Harusnya sejak awal kalian tidak menikah! Gemes bener sy sama si Soo A ini. Dulu dia yang minta dinikahi, padahal Ji Tae sudah menjelaskan kondisinya. Tapi kekeuh mau dinikahin. Sekarang udah nikah, minta cerai karena gak sanggup hidup miskin. Aigooo...*

CEO No benar-benar mau menjegal Do Kyung agar Do Kyung kembali. Di kantor, ia menyuruh Nyonya No membawakannya semua proposal yang dibuat Do Kyung bersama tim perencana.

“Ayah kira Do Kyung sungguh memulai bisnisnya sendiri?” tanya Nyonya No.

“Kau harus mengurus keluarga Pak Jang dengan baik. Ayah akan melakukan segalanya untuk membawa Do Kyung kembali.” Jawab CEO No.

“Jika dia sudah menyiapkan uang seperti yang ayah duga, itu tidak akan mudah.” Ucap Nyonya No.


Do Kyung sendiri lagi mempresentasikan bisnisnya tentang industri mainan dan peralatan rumah tangga yang ramah lingkungan. Salah satu peserta rapat bertanya, apakah anggaran 8,7 milyar dolar itu tidak terlalu besar.

“Untuk membangun pabrik dan menjalankannya, kami butuh investasi awal besar. Tapi aku yakin itu bisa dikumpulkan. Di Eropa Utara, cakupan produk bioplastik dikembangkan hingga ke furnitur. Produk-produknya bisa dibuat melalui OEM.” Jawab Do Kyung.

“Kau sudah menemukan pabrik?” tanya peserta itu.

“Aku bisa menyuruh orangku mencarinya.” Jawab Do Kyung.

Dan ketika ditanya siapa mereka, Do Kyung tidak bisa menjawabnya.

Singkat cerita, proposal Do Kyung ditolak karena Do Kyung tidak punya pengalaman serta karena Do Kyung tidak mau memberitahu dimana ia bekerja sebelumnya.


Ji Ho masih bersama pria yang tadi. Mereka duduk di sebuah kafe dan Ji Ho ditawarkan untuk membuka toko sewa alat tapi Ji Ho menolak karena takut barang2nya akan hilang dan lebih memilih membuka bar.

“Kalau begitu, toko waffle saja. Pendapatnya sebulan bisa mencapai 3000 dollar.” Ucap pria itu.

“Hanya 3000 dollar?” gumam Seohyun.

“Katamu aku hanya butuh membayar biaya awal 5.000 dolar, bukan?” tanya Ji Ho.


Nyonya No menghubungi Nyonya Son sesuai perintah ayahnya untuk menjaga hubungan baik dengan Keluarga Jang. Nyonya No menanyakan kabar So Ra. Nyonya Son menjawab dengan gugup kalau So Ra sudah tiba dengan selamat di Amerika.

Nyonya No lantas bertanya, apa So Ra masih berhubungan baik dengan Do Kyung.

“Terjadi sesuatu pada So Ra. Aku akan menghubungimu lagi nanti No Daepyonim” jawab Nyonya Son.


Usai bicara dengan Nyonya No, Nyonya Son melihat foto pernikahan So Ra dan foto sertifikat pernikahan So Ra di ponselnya. Nyonya Son pun kesal.


Sementara Nyonya No heran sendiri kenapa Nyonya Son terdengar gugup saat bicara padanya.


Dan Gi Jae, menerima kabar dari temannya tentang pernikahan So Ra. Belum hilang keterkejutannya atas pernikahan So Ra, ia kembali dikejutkan dengan telepon dari Nyonya No.

Nyonya No terkejut melihat foto pernikahan So Ra.
“Aku tidak percaya ini. Dia punya kekasih?” tanya Nyonya No.

“Dia menikah di hadapan beberapa teman dan seorang pastor. Setelah itu, dia meninggalkan Chicago.” Jawab Gi Jae.

“Lantas, Do Kyung tahu rencana So Ra?” tanya Nyonya No.

“Aku tidak tahu soal itu. Dia tidak memberitahuku.” Jawab Gi Jae.


“Siapa kekasih Do Kyung?” tanya Nyonya No.

Gi Jae pun pura2 tidak tahu, tapi Nyonya No tidak percaya. Gi Jae berkata, kalau ia berusaha menghubungi Do Kyung setelah menerima kabar pernikahan So Ra tapi ponsel Do Kyung mati.

“Jadi, sudah lama kalian tidak mengobrol?” tanya Nyonya No.

“Ya, aku juga sibuk.” Jawab Gi Jae.

“Bisakah aku melihat riwayat panggilanmu?” tanya Nyonya No.

Gi Jae mengizinkan, tapi kemudian bibirnya bergetar karena khawatir. Nyonya No tidak jadi memeriksa ponsel Gi Jae. Gi Jae pun mengaku kalau ia juga cemas akan masa depan Do Kyung.

“Lantas, kau akan memberitahuku jika Do Kyung meneleponmu.” Tanya Nyonya No.

“Tentu saja. Aku akan menghubungi anda usai dia meneleponku.” Jawab Gi Jae.

“Fakta dia merencanakannya dengan So Ra menandakan dia memiliki seseorang. Di mana dia menemui gadis itu?” gumam Nyonya No.


Hyuk datang lagi ke toko roti untuk mendekor kamar Boss Kang. Ia juga meminta pendapat Ji Soo tentang rencananya menaburkan kelopak bunga di atas kasur. Tapi Ji Soo tidak terlalu menanggapi Hyuk.

“Ji Soo, apa ada yang tidak beres? Kau tampak tidak bahagia.” Tanya Hyuk.

“Ini karena aku sibuk di toko. Sampai jumpa. Semoga lancar.” Jawab Ji Soo, lalu pura-pura sibuk bekerja.


Ji An memaparkan konsep pernikahan Hee dan Boss Kang.

“Pernikahannya pukul 17.00. Hidangan harus siap pukul 16.00. Temanmu akan mengurus pengambilan foto, video, dan musik. Nona Yang dan Pak Go akan menyusun bangku. Mempelai pria dan wanita akan mengurus rambut dan riasan. Kita tinggal membeli bunga di pagi hari.” Ucap Ji An.

“Ji An-ssi, kelihatan sekali kau memang pernah bekerja di perusahaan besar.” Jawab Yong Gook.

“Aku harus membuang kebiasaan lamaku.” Ucap Ji An.

“Omong-omong, Hyuk, kenapa mereka berbulan madu di bulan Februari?” tanya Yong Gook.

“Saat berjanji untuk menikah dahulu, mereka ingin ke Paris untuk berbulan madu. Mereka ingin menghadiri pameran kue di Paris.” Jawab Hyuk.

“Itu bagus. Impian mereka akhirnya terwujud setelah 17 tahun.” Ucap Ji An.
“Butuh 17 tahun untuk mewujudkan impian?” kaget Do Kyung yang baru saja sampai di rumah.

“Hei, Tuan Melarikan Diri. Presentasimu berjalan dengan baik hari ini?” tanya Yong Gook.

“Kau tidak tahu itu usaha pertamaku? Butuh 17 tahun bagi seseorang untuk mewujudkan impiannya. Tidak adil bagiku jika bisa terwujud dalam 10 hari saja.” Jawab Do Kyung, lalu masuk ke kamar.


“Sepanjang hidupnya, dia sudah diberikan segalanya bahkan sebelum diminta. Pasti berat baginya.” Ucap Yong Gook.

“Dia bergadang untuk menyiapkan presentasinya.” Jawab Hyuk.


Ji An pun kaget, dia bergadang?

“Aku mengagumi semangatnya.  Dia sudah bekerja keras sejak meninggalkan rumah.” Ucap Hyuk.

“Hyuk-ah,  besok kita ada rapat dengan pemasok gorden ramah lingkungan. Kau harus hadir. Ayahku meneleponku. Kami ada sarapan keluarga besok.” Jawab Yong Gook.

“Benarkah? Kita harus bagaimana dengan bunganya? Vasnya terlalu berat untuk dibawa Ji An sendiri.” Ucap Hyuk.

“Aku bisa melakukannya sendiri. Katamu kau akan membayar bunganya sebagai hadiah, jadi, berikan saja uang untuk membeli bunganya.” Jawab Ji An.


Di kamar, Do Kyung yang baru selesai mandi, kembali memikirkan soal pabriknya. Tak lama kemudian, Yong Gook masuk ke kamarnya dan menghampiri Do Kyung.

“Baiklah, Pria Jahat. Aku akan membayarmu.” Ucap Do Kyung.

“Kau memperlakukanku seperti penagih hutang.” Protes Yong Gook.

Yong Gook lantas memberikan Do Kyung pekerjaan paruh waktu. Semula Do Kyung menolak karena ia sudah dapat job bagus besok. Yong Gook pun berkata, Do Kyung akan bekerja sama dengan Ji An. Mendengar itu, Do Kyung langsung tertarik.


Ji An berlari keluar rumah sambil merapatkan mantelnya. Tapi sampai diluar, dia terkejut melihat Do Kyung yang sudah berdiri disamping mobil yang akan dia pakai.

“Kau sedang apa disini?” tanya Ji An.

“Aku ingin berangkat kerja.” Jawab Do Kyung.

“Lalu, kenapa kau berdiri di sini?” tanya Ji An.

“Berikan kunci mobilnya. Ke pasar bersamamu adalah pekerjaanku.” Jawab Do Kyung.

“Tidak lucu.” Ucap Ji An.

“Ini benar. Jika melakukan ini, aku tidak harus membayar sewa selama dua hari. Tanya saja Yong Gook.” Jawab Do Kyung.

Do Kyung lantas meminta kunci mobilnya, tapi karena Ji An diam saja akhirnya Do Kyung mengambil sendiri kunci mobil itu dari tangan Ji An dan masuk duluan ke mobil.

No comments:

Post a Comment