Thursday, March 15, 2018

My Golden Life Ep 47

Sebelumnya...


Artikel baru diterbitkan. Dalam artikel itu, dituliskan bahwa Tuan Seo melakukan penipuan dengan mengakui putri kandungnya sebagai Choi Eun Seok yang hilang 25 tahun lalu. Ji Ho pun marah, ia heran kenapa bisa ada artikel semacam itu. 


Sementara Ji An dan Nyonya Yang syok. Saking syoknya, mereka tidak sanggup mengatakan apapun dan masuk ke kamar masing-masing.


Di rumah sakit, Tuan Seo berlutut pada CEO No. Ia memohon, agar CEO No tidak membuat anak-anaknya menjadi anak dari seorang kriminal. Tapi CEO No tidak peduli, ia berkata akan memberikan Tuan Seo uang sebagai gantinya.


Tuan Choi masuk dan langsung membantu Tuan Seo berdiri. CEO No marah, tapi Tuan Choi tidak peduli dan tetap menyuruh Tuan Seo berdiri. Tuan Choi lalu minta maaf pada CEO No karena baru datang sekarang. Ia juga mengaku, lega karena CEO No baik-baik saja dan akan menangani masalah mereka.

Lalu, Tuan Choi mengajak Tuan Seo bicara diluar.


“Sudah kuduga. Kau tidak akan melepaskan posisimu sebagai Wakil Presdir. Lalu, kenapa kau pergi jika ujung-ujungnya kau kembali lagi.” Sinis CEO No.


Setibanya diluar, Tuan Choi menunjukkan artikel itu pada Tuan Seo. Tuan Seo terkejut dan langsung menjelaskan kalau pelakunya bukan Ji An dan Ji Soo.

“Aku tahu.” Jawab Tuan Choi.

“Seperti yang dikatakan Pimpinan No, aku akan mengakui ini sebagai kesalahanku. Tapi bagaimana caranya menarik berita ini? Jika orang-orang tahu aku menukar putriku, Ji An tidak akan bisa bertahan. Aku tidak rela melihatnya dipermalukan karena kesalahanku. Apa yang harus kulakukan?” tanya Tuan Seo.


“Seperti yang sudah kukatakan, aku tidak akan membiarkanmu melakukan apa yang diperintahkan Pimpinan No. Aku akan mencari jalan keluarnya.Pulanglah dan tunggu berita dariku. Selain itu, kurasa Ji An dan Ji Soo harus bersembunyi untuk sementara waktu. Aku akan mencarikan tempat untuk mereka dan segera mengabarimu.” Jawab Tuan Choi.
Tuan Choi pun beranjak pergi. Tuan Seo nampak berpikir. Tak lama kemudian, dia memanggil Tuan Choi lagi.


Seketaris Min memberitahu CEO No, bahwa Tuan Seo akan melakukan apa yang diperintahkan CEO No. Ia juga bilang, Tuan Choi yang akan menentukan tanggal konferensi pers nya.


Tuan Jung curiga, istrinya lah dalang dibalik munculnya artikel soal Ji An dan Ji Soo yang ditukar. Jin Hee pun menyangkal. Ia bilang, artikel itu hanya akan mempermalukan Tuan Seo dan tidak akan menghancurkan Nyonya No.

“Tapi kenapa Myung Hee diam saja?” tanya Tuan Jung.

“Entahlah. Dia selalu menjadi kesayangan ayah. Aku tidak bisa menebaknya. Aku pikir, dia akan kesini untuk menarik rambutku atau semacamnya.” Jawab Jin Hee.


Tuan Choi sudah duduk di ruangannya. Ia nampak memikirkan sesuatu. Tak lama kemudian, Do Kyung datang. Tuan Choi minta maaf sudah membuat Do Kyung cemas. Mereka lalu membahas soal artikel itu. Do Kyung mengaku sudah meminta bantuan dari seorang reporter.

“Tabloid dan ketiga artikel itu, semuanya dicetak hari ini.” Ucap Tuan Choi.

“Tapi sumbernya berbeda. Dan artikelnya juga dari berbagai agensi.” Jawab Do Kyung.

“Kau ditunjuk sebagai Presdir. Kenapa kau menerimanya? Bagaimana dengan pabrikmu?” tanya Tuan Choi.

“Aku memberikannya pada Seketaris Yoo.” Jawab Do Kyung.

“Ayah pikir, kau bagian dari Haesung juga karena kau menerima posisi itu dan kau tidak akan bisa meninggalkan perusahaan lagi.” Ucap Tuan Choi.

“Kakek sakit karena aku.” Jawab Do Kyung.

Do Kyung lalu menanyakan lalu menanyakan alasan sang ayah mengundurkan diri. Tuan Choi pun berkata, akan menjelaskannya nanti setelah masalah mereka selesai.

“Ayah pernah bilang padaku bahwa aku tidak akan bisa membuat Ji An bahagia dan ayah tidak bahagia dengan keluarga Haesung. Diantara penyebab ketidakbahagiaan ayah, apakah hilangnya Eun Seok salah satunya?” tanya Do Kyung.


Do Kyung terkejut mendengar cerita ayahnya. Sang ayah mengaku lega karena sudah menceritakan kisahnya. Do Kyung tidak menyangka, ayah dan ibunya punya masalah sejak awal pernikahan.Tuan Choi berkata, Do Kyung tidak perlu terkejut seperti itu karena Do Kyung dibesarkan di keluarga Haesung sejak awal.


Ponsel Do Kyung kemudian berdering. SMS dari Seketaris Yoo yang memberitahunya soal artikel Ji An dan Ji Soo. Seketaris Yoo berkata, ia hanya ingin memastikan bahwa Do Kyung sudah mengetahui hal itu.

“Ayah, ada artikel baru tentang Ji An dan Ji Soo.” Ucap Do Kyung.

“Kau belum tahu?” tanya Tuan Choi.

Do Kyung pun langsung mencari beritanya. Ia kesal setelah membaca beritanya.


Ji An yang sedang menyendiri di kamarnya, dihubungi Do Kyung. Do Kyung menyuruh Ji An bersiap-siap. Do Kyung bilang, akan lebih baik bagi Ji An dan Ji Soo tinggal di tempat lain untuk sementara waktu.

“Aku akan segera menjemputmu. Kita tidak boleh bertemu di rumahmu. Temui aku di gereja 30 menit lagi.” Ucap Do Kyung.

Tapi Ji An menolak. Ia tidak mau meninggalkan keluarganya. Do Kyung pun memohon, ia mengaku punya firasat buruk soal ini. Do Kyung juga bilang tidak akan ada yang terjadi tapi Ji An tetap harus pergi.

“Aku akan pergi setelah menemui ayahku.” Jawab Ji An.


Tepat setelah Ji An selesai bicara dengan Do Kyung, Tuan Seo menghubunginya. Tuan Seo menyuruh Ji An stay di rumah lamanya untuk sementara waktu.


Ji An pun langsung pergi dari rumahnya dengan memakai masker dan hoodie hitam.


Ji Soo sendiri juga sedang di perjalanan bersama Hyuk. Hyuk merasa, Ji An akan lebih nyaman bersama mereka ketimbang bersama Do Kyung. Lalu, Hyuk berkata kalau dia ingin berduaan saja dengan Ji Soo karena mereka tidak akan bertemu untuk beberapa hari. Tapi Ji Soo malah balik membahas Ji An. Ji Soo bilang, ia ingin Ji An dan Do Kyung menghabiskan waktu bersama.

Hyuk terkejut, apa?

“Bahkan meski mereka tidak saling bicara atau pun bertengkar, aku ingin mereka bersama-sama karena mereka saling mencintai.” Ucap Ji Soo.

“Choi Do Kyung kembali ke Haesung. Membayangkan bagaimana kecewanya Ji An, aku merasa hancur.” Jawab Hyuk.

“Kekecewaan tidak akan menghapus perasaanmu. Kau pasti akan merasa kehilangan dan ingin bersama orang itu. Itu sesuatu yang tidak bisa dikontrol. Kau tahu, berapa keras aku berusaha tidak menyukaimu?”

“Kau melakukannya?” tanya Hyuk.

“Tapi aku tidak bisa.” Jawab Ji Soo.

“Aku takut dia akan terluka jika menuruti perasaannya.” Ucap Hyuk.

“Tapi aku yakin dia membutuhkan Kak Do Kyung sekarang.” Jawab Ji Soo.


Do Kyung terkejut melihat penampilan Ji An. Ji An membuka maskernya dan terus menatap Do kyung. Do Kyung penasaran, kenapa Ji An menatapnya seperti itu. Ji An bilang, Do Kyung tampak berbeda dari sebelumnya dan seperti itulah Do Kyung saat pertama kali mereka bertemu.

“Kau tidak akan pernah mengerti diriku.” Ucap Do Kyung.

“Tidak. Aku sedih karena aku memahamimu dengan baik.” Jawab Ji An.

Do Kyung lalu menyuruh Ji An masuk ke mobil.


Di kamar, Nyonya Yang terus menangis. Sesekali, ia memukuli dadanya yang terasa sesak. Tuan Seo akhirnya datang. Ia menyalakan lampu kamar, lalu duduk disamping Nyonya Yang.

“Yeobo, berhentilah menyalahkan dirimu sendiri. Apapun yang terjadi, kita akan melewati ini bersama-sama. Kita ini keluarga.” Ucap Tuan Seo lembut.

Tuan Seo lalu menggenggam tangan Nyonya Yang. “Karena kita keluarga, kita harus memaafkan kesalahan satu sama lain. Kesalahanku, kesalahanmu. Mari kita hadapi bersama, Mi Jung-ah.”


Tuan Seo kemudian menarik Nyonya Yang ke dalam pelukannya. Nyonya Yang menangis lagi. Tuan Seo tampak menahan tangisnya.


Tuan Choi masuk kamarnya dan melewati istrinya begitu saja. Nyonya No marah karena Tuan Choi hanya mengirimkan pesan kepada Seketaris Min saja soal kepergiannya.

“Apa kau pergi hiking? Pasti menyenangkan melihat pemandangan sendirian.” Sindir Nyonya No.


Tuan Choi membenarkan. Ia mengakui, bahwa itu menyenangkan tapi ia sadar bahwa itu hanya sebuah mimpi yang singkat. Tuan Choi juga bilang, ia sudah membaca artikelnya dan sudah menemui CEO No. Nyonya No penasaran dengan yang dikatakan ayahnya. Ia yakin, ayahnya sudah punya rencana.

“Jangan mengandalkannya. Aku menipu ayahmu sebelum kembali.” Jawab Tuan Choi.

“Kau menipu ayah? Apa yang kau lakukan? Kenapa?” tanya Nyonya No.

“Dia mengancam Seo Tae Soo untuk menerima kesalahannya.” Jawab Tuan Choi.

“Mengancam Seo Tae Soo?” tanya Nyonya No.


“Ayahmu memintanya untuk hadir di konferensi pers dan mengatakan kalau dia menyaksikan kecelakaan itu, menculik Eun Seok, menjual berliannya dan membesarkannya. Jika itu terjadi, semua akan terselesaikan.” Jawab Tuan Choi.

“Apa ayah setuju?” tanya Nyonya No.

“Kau ingin Seo Tae Soo melakukannya?” tanya Tuan Choi.

“Jika dia melakukannya, itu adalah solusi yang terbaik.” Jawab Nyonya No.

“Hanya ada satu solusi, kau harus melakukan konferensi pers.” Ucap Tuan Choi.

“Kau pikir, aku bisa hidup tenang setelah mengakuinya? Kenapa kau tidak menyuruhku mati saja.” Jawab Nyonya No.

“Kurasa kau belum melihat artikelnya.  Ada artikel soal Eun Seok yang ditukar. Foto Ji An dan Ji Soo juga ada di sana meski wajah mereka diblur.” Ucap Tuan Choi.


“Kita harus mencabut artikelnya. Sebelum identitas Ji Soo diketahui. Semua jurnalis akan berkumpul seperti lebah.” Jawab Nyonya No.

“Jika kau mencabutnya, mungkin Seo Tae Soo akan bertanggung jawab. Tapi wajah dan identitasnya akan diketahui semua orang.” Ucap Tuan Choi.

“Jadi, kau berbohong soal ini kepada Ayah. Dia kira Seo Tae Soo akan mengadakan konferensi pers, benar?” tanya Nyonya No.

“Jantungnya bermasalah. Tapi putri keduanya memanfaatkan itu dan putri sulungnya berusaha mendapatkan pertolongannya. Kita tidak akan memanfaatkan Seo Tae Soo. Aku berbohong kepadanya karena dia sakit. Bukan karena takut dengannya. Jadi, kini kau bisa memilih. Pilih caramu menangani ini. Akankah kau mengakui semua kesalahanmu dahulu atau akankah kau mendengarkan orang-orang bicara di belakangmu seumur hidupmu?” ucap Tuan Choi.

Tangan Nyonya No gemetaran. Ia bingung harus bagaimana. Tuan Choi berkata lagi, bahwa dirinya akan tetap menjadi Wakil Presdir sampai masalahnya selesai. Nyonya No bertanya, apa yang harus ia lakukan.

“Jika kau akan mengadakan konferensi pers, kau harus mengajak Jo Soon Ok. Jika kau melakukan itu, Tae Soo akan terungkap. Soon Ok mengenal Tae Soo. Lantas, identitas Ji Soo juga akan terungkap. Aku tidak bisa membiarkan itu terjadi, jadi, kau tidak akan mengadakan konferensi pers.” Jawab Tuan Choi.


“Lantas?” tanya Nyonya No.

“Cari tahu sendiri.” Jawab Tuan Choi, lalu masuk ke kamar mandi.

Nyonya No pun menghela napasnya.


Beralih ke Do Kyung dan Ji An yang masih di perjalanan. Do Kyung bertanya, apa Ji An sudah makan. Ji An memang lapar, tapi ia bilang pada Do Kyung kalau dirinya sudah makan. Do Kyung yang tahu Ji An belum makan, mengajak Ji An mampir ke restoran. Do Kyung beralasan dirinya lapar. Tapi Ji An memilih tetap di mobil.


Do Kyung lantas mengambil bungkusan berisi makanan di kursi belakang dan memberikannya pada Ji An.  Ji An pun mengambil roti di dalamnya, lalu membuka kertas pembungkusnya dan memberikannya pada Do Kyung.  Setelah itu, barulah Ji An mengambil roti untuk dirinya sendiri.

“Aku akan berusaha menanganinya secepat mungkin. Tapi jika dan hanya jika, tidak berjalan dengan lancar, apa yang akan kau lakukan?” tanya Do Kyung.

Ji An pun langsung menoleh pada Do Kyung, tapi ia diam saja,

“Kau sedang tidak bisa berpikir, ya?” ucap Do Kyung lagi.


Ji An ingat malam itu, malam sebelum identitasnya yang bukan Choi Eun Seok terungkap.  Saat ia dan Do Kyung bertemu di restoran.  Do Kyung mengaku, sudah menemukan pekerjaan untuk Ji An.

“Inilah alasannya aku mencarikanmu pekerjaan.” Ucap Do Kyung saat itu.

Flashback end...


“Ini anehnya menarik dan lucu. Kurasa memang benar posisi membentuk jati dirimu. Sejak kembali, kau seperti dulu lagi. Kenapa? Kali ini, kau mau mencarikanku pekerjaan di luar negeri?” sahut Ji An.

“Kau pasti amat takut.” Jawab Do Kyung.

“Ya, aku takut. Aku amat takut. Ini pasti datang dari keluargamu. Aku akan menjadi penonton yang terluka di perkelahian. Semuanya akan ditanggalkan dariku dan aku akan menjadi bahan tertawaan semua kenalanku. Ji Soo tidak akan bisa hidup sebagai Ji Soo lagi. Serta aku tidak akan bisa hidup juga sebagai diriku. Orang-orang di dunia bahkan tidak akan mengakuiku dan Ji Soo sebagai adik-beradik. Aku akan menjadi putri pelaku dan Ji Soo korbannya. Kami  Tidak akan sekadar menjadi orang asing. Ji Soo dan aku tidak akan menganggap masing-masing saudari juga. Tidak peduli bagaimanapun nanti, Ji Soo akan menjadi korban dan ditukar denganku. Aku harus menenangkan atau meminta maaf kepadanya? Ini juga membuatku stres.” Ucap Ji An.

“Kami jahat. Keluargaku jahat, bukan?” tanya Do Kyung. Do Kyung lantas meminta maaf.


Ji An lalu bertanya, bagaimana bisa kakak beradik saling menyakiti. Ji An bilang, satu-satunya orang yang tahu dia adalah Eun Seok adalah orang-orang di galeri, keluarganya, keluarga Haesung, Seketaris Yoo dan keluarga Hyuk. Ji An juga bertanya-tanya, siapa yang memotret dirinya diam-diam.

“Kau mencurigai Bibi Jin Hee? Kenapa?” tanya Do Kyung.

“Saat insiden galeri, dia membuat Nyonya Jin membocorkan kabar soal menemukan Eun Seok.” Jawab Ji An.

“Benar juga.” Ucap Do Kyung.


“Kau pasti sibuk di kantor dan di rumah. Kenapa kau mengantarkanku? Aku bisa pergi dengan Hyuk.” sahut Ji An.

“Aku bilang pada Ibu kau tidak ke luar negeri atau pun menikahiku. Kurasa dia tidak sungguh-sungguh.” Ucap Do Kyung.

“Aku sudah menduga kau akan melakukan itu.” Jawab Ji An.

“Bagaimana kau tahu?” tanya Do Kyung.

“Aku tahu saja.” Jawab Ji An.

“Kau sudah pernah berada di dalam keluargaku. Dalam jangka waktu yang singkat itu, kau melihat banyak hal.” Ucap Do Kyung.


Di rumahnya, Tuan Seo mencoba menelaah semua rumor. Ia bahkan mencatatnya dalam agendanya.

“Rumor pertama adalah soal Do Kyung memakai narkotika, mengencani para wanita, kabur, dan menghilang. Yang kedua soal menemukan Eun Seok. Nona Seo, putri Pak Seo dari Daebang-dong. Penyebab kecelakaannya direkayasa. Ini dimulai dari kiriman yang ditulis Pak Han pada tahun 1992.”


Tuan Seo pun menyadari sesuatu.


Hyuk dan Ji Soo tiba di rumah lama Tuan Seo. Hyuk tidak bisa percaya, Tuan Seo tinggal di rumah seperti itu.


Tak lama kemudian, Do Kyung dan Ji An tiba. Ji Soo bertanya pada Do Kyung, apa Do Kyung bisa mencabut artikel itu. Do Kyung pun berjanji, akan melakukan semua cara. Setelah itu, Do Kyung mengajak Hyuk pergi. Hyuk enggan, ia takut terjadi sesuatu dengan Ji An dan Ji Soo.

“Tidak apa-apa jika kami bersama. Ini tempat tinggal Ayah, jadi, orang-orang tidak tahu bahwa kami di sini.” Ucap Ji Soo.

“Aku akan melindungi Ji Soo.” Jawab Ji An.


Hyuk lantas menuju mobilnya, tapi Do Kyung langsung memarahinya. Do Kyung bilang, Hyuk harus meninggalkan mobilnya untuk dipakai Ji An dan Ji Soo. Do Kyung kemudian mengambil kunci mobil Hyuk dan memberikannya pada Ji An. Setelah itu, ia menyuruh Hyuk masuk ke mobilnya.


Hyuk yang canggung semobil dengan Do Kyung pun memilih tidur. Tapi Do Kyung lagi-lagi menegurnya. Do Kyung bilang, kalau dia kakaknya Ji Soo. Hyuk lalu bertanya, apa Do Kyung punya rencana.
“Artikelnya ditayangkan sore ini.” Jawab Do Kyung.

“Apa yang bisa kubantu?” tanya Hyuk.

“Tolong lindungi Ji Soo juga.” Jawab Do Kyung.


Ji An sedang membaca catatan ayahnya. Tak lama kemudian, Ji Soo yang baru habis mandi pun masuk ke kamar dan Ji An langsung meletakkan kembali catatan ayahnya di atas meja.

“Ibu amat menyesal, bukan?” tanya Ji Soo.

Ji An pun mengalihkan pembicaraan dengan mengajak Ji Soo tidur. Ji Soo kesal, ia tak suka Ji An menjauhinya. Ji An pun menatap Ji Soo.

“Kau khawatir, merasa terlalu bersalah saat identitasku terungkap, bukan? Khawatirkan dirimu saja. Kau yang akan paling menderita jika kabar soal penukaran kita terungkap.” Ucap Ji Soo.

“Kau tidak takut? Para jurnalis akan mendatangi toko roti. Mereka akan mencari tahu tempat tinggalmu juga. Bahkan Hyuk mungkin terkena masalah.” Jawab Ji An.

“Bukankah Ayah dan Kak Do Kyung akan mengatasinya?” tanya Ji Soo.

“Kuharap begitu.” Jawab Ji An.


Ji Soo lalu memeluk Ji An dan membaringkan tubuh Ji An.  Ia memeluk Ji An dan berkata, “Sebagai yang lebih tua darimu, aku akan berkata tidak akan ada hal buruk yang terjadi. Percayalah pada kakakmu.”
“Apa? Lebih tua?” tanya Ji An.

“Aku sebenarnya lebih tua darimu, bukan? Kau sembilan bulan lebih muda dariku.” Jawab Ji Soo.
“Aku tahu, tapi... Astaga, kau tidak bisa dipercaya.” Ucap Ji An.

“Ji An-ah, kakak disini untukmu. Jadi tidurlah.” Jawab Ji Soo.

“Hentikan.” Ucap Ji An geli, lalu mengubah posisinya membelakangi Ji Soo. Ji Soo terus memeluk Ji An.

“Jadi, begini rasanya. Setelah berpura-pura menjadi kakakmu, aku kasihan kepadamu. Kau tampak amat lemah. Aku bisa bersimpati lebih baik denganmu.” Ucap Ji Soo.


“Lantas, akankah kau terus menjadi kakakku?” tanya Ji An. Air matanya mulai jatuh.

“Tidak. Aku suka kau menjadi kakakku. Jadilah kakakku seumur hidupku.” Ucap Ji Soo.

“Baik.” Jawab Ji An.

“Kau takut, bukan?” tanya Ji Soo.

“Ya, aku takut. Kali ini sedikit menakutkan.” Jawab Ji An.


Ji Soo lalu menyelimuti Ji An. Tapi tiba-tiba ia mencium selimutnya dan berkata selimutnya bau ayah. Ji An pun berbalik dan ikut mencium selimutnya.

“Kita lupa soal Ayah karena khawatir. Bagaimana perasaan Ayah sekarang?” tanya Ji An.


Mereka lalu saling berpelukan.


Tuan Seo sedang mencari tahu tentang reporter yang bernama Nam Jung Soo di internet. Ia menemukan foto-foto Nam Jung Soo, serta mencatat nomor plat mobil Nam Jung Soo.


Pagi2 sekali, Tuan Seo sudah keluar rumah. Ia pergi ke suatu tempat dan membaca informasi bahwa kantor berita Ymoa ada di gedung utama nomor 312. Tuan Seo lantas mengecek ponselnya. Masih jam 6.15 pagi. Ia lalu pergi dan melihat dari luar ke tempat yang ia cari sebelumnya.


Para reporter langsung mengerubungi Tuan Choi, Nyonya No dan Do Kyung begitu mereka tiba di Haesung.


Tuan Seo masih menunggu di luar gedung. Ia melirik ponselnya, melihat jam. Sudah jam 8.50. Tak lama kemudian, para karyawan mulai berdatangan. Dan yang ditunggu-tunggu Tuan Seo pun muncul. Ia melihat mobil Reporter Nam datang.


Setelah Reporter Nam masuk ke dalam kantor berita, Tuan Seo mendekati mobil Reporter Nam dan melihat kartu nama yang ada di dashboard. Langsung saja, Tuan Seo mencatat nomor ponsel Reporter Nam.


Do Kyung masuk ruangannya dan membaca informasi rapat di web Haesung. Agenda rapatnya, "Pemecatan CEO".

Sontak ia kaget.

Begitu pula dengan Nyonya No.

"Apa ini? Jung Myung Soo?" gumamnya.


Tuan Choi, Nyonya No dan Do Kyung langsung membahas hal itu di ruangan Tuan Choi.  Nyonya No bilang, Tuan Jung dan Jin Hee sengaja menerbitkan artikel buruk soal ayahnya untuk membujuk para direktur.
Do Kyung heran, kenapa paman dan bibinya melakukan itu.

“Mereka berencana melakukan ini saat Ayah kolaps.” Ucap Nyonya No.

“Tidak. Mereka sudah menyiapkannya jauh sebelum itu. Ini kebetulan teraneh. Kolapsnya Ayah hanya membuat mereka makin berani.” Jawab Tuan Choi.

“Kita harus menerbitkan artikel soal rumornya. Lalu kita harus menghubungi para direktur. Ini artikel soal Eun Seok. Bibi dan Paman bodoh jika berpikir Kakek akan kalah di wilayahnya sendiri.” Ucap Do Kyung.

“Aku akan rapat dengan tim legal. Kau dan Do Kyung harus menghubungi para direktur.” Ucap Tuan Choi.
“Aku akan menemui Jin Hee dahulu.” Jawab Nyonya No.


Nyonya No pun melabrak Jin Hee.



Tuan Seo masih menunggu di area parkir kantor Reporter Nam. Tak lama kemudian, Seok Doo datang. Seok Doo mengenakan setelan jas. Ia juga membawa kartu nama palsu  yang bertuliskan Park Sung Yong, Manajer Bank Sanga, sesuai permintaan Tuan Seo.


Nyonya No menghubungi para direktur. Ia berusaha membujuk para direktur. Ada yang memberikan respon positif tapi ada juga yang nomornya tidak bisa dihubungi.


Do Kyung juga melakukan hal yang sama. Ia menghubungi Direktur Kim dan meminta Direktur Kim untuk tidak mengkhawatirkan kondisi sang kakek.


Tuan Choi sendiri sedang bersama tim hukumnya. Mereka berencana mengeluarkan artikel tanggapan terkait rumor yang beredar.

“Memang benar kami menemukan putri kami. Dia dibesarkan dengan bahagia oleh keluarga Pak Kami tidak akan merespon rumor tidak berdasar lainnya atau pun gosip.”


Di area parkir, Seok Doo memperhatikan mobil Reporter Nam. Setelah itu, ia naik ke mobilnya sendiri, lalu memundurkan mobilnya dengan sengaja sampai menarak mobil Reporter Nam.

Reporter Nam sendiri baru saja keluar dari sebuah kedai ketika teleponnya berbunyi.


Tuan Seo lah yang menelpon. Ia menelpon sambil mengamati Reporter Nam tak jauh dari kedai itu.

“Ini aku Seo Tae Soo! Bagaimana bisa kau mendapatkan foto kedua putriku!” labrah Tuan Seo.

“Anda Pak Seo Tae Soo?” kaget Reporter Nam.

“Aku di depan kantormu sekarang. Temui aku 10 menit lagi. Jika tidak, akan kulaporkan kau ke polisi.” Perintah Tuan Seo.

“Mohon tunggu. Sayangnya aku tidak bisa 10 menit lagi. Tolong berikan aku 30 menit. Omong-omong, Anda sungguh Seo Tae Soo?”
“Kau brengsek! Beraninya kau menanyakan itu! Kemarilah dan lihat wajahku!”
“Tapi aku di luar kantor untuk meliput berita. Butuh 30 menit.” Ucap Reporter Nam.
“Kemarilah dalam 20 menit!”suruh Tuan Seo.


Reporter Nam kebingungan. Tak lama kemudian, ia menerima telepon dari Seok Doo yang mengaku tidak sengaja menabrak mobilnya. Reporter Nam kesal dan langsung berlari menuju mobilnya.

Reporter Nam sangat terkejut melihat keadaan mobilnya. Ia makin panic karena harus buru-buru pergi. Seok Doo meminta maaf dan memberikan kartu namanya. Ia juga menawarkan untuk memanggilkan taksi dan memperbolehkan Reporter Nam menggunakan mobilnya juga jika mau.

Melihat kartu nama palsu Seok Doo, Reporter Nam pun merasa sedikit lega. Seok Doo lebih lanjut berkata akan membawa mobil Reporter Nam ke bengkel dan membayar seluruh biaya perbaikannya.


Dan, berhasil! Reporter Nam memberikan kunci mobilnya serta kartu namanya pada Seok Doo. Seok Doo juga memberikan kunci mobilnya pada Reporter Nam. Lalu, Reporter Nam pergi menggunakan mobil Seok Doo.


Di perjalanan, Reporter Nam menghubungi Jin Hee untuk memberitahukan bahwa Tuan Seo baru saja menelponnya. Reporter Nam bertanya, bisakah ia mewawancarai Tuan Seo dan menerbitkan artikelnya?

“Lebih menyenangkan jika dia melakukan sesuatu sendiri.” Jawab Jin Hee.

“Anda tetap akan memberikanku berita lanjutan, bukan?” tanya Reporter Nam.

“Tentu saja. Hubungi aku usai kamu bertemu dengannya.” Jawab Jin Hee.

Tanpa ia sadar, blackbox mobil Seok Doo merekam pembicaraannya!!


Tuan Seo sedang mengambil kartu memori dari blackbox mobil Reporter Nam.

“Tae Soo, kau jenius.” Puji Seok Doo.

“Kenapa orang genius melakukan ini? Kebutuhan membuat orang telanjang berlari.” Jawab Tuan Seo.

“Bagaimana bisa kau mencetuskan ide itu?” tanya Seok Doo.

“Saat aku mulai berbisnis dahulu, pria dari perusahaan saingan menyebarkan rumor bahwa produkku mengandung zat-zat berbahaya saat aku mendapatkan pesanan dari Guatemala. Dia bahkan membuat selebaran palsu dan membagi-bagikannya. Tentu saja pesanannya dibatalkan. Jadi, aku mencari tahu dia tinggal di mana untuk menangkapnya. Mobilnya di tempat parkir, tapi dia tidak pernah menjawab panggilanku. Setelah menunggu setengah hari, aku menggores mobilnya. Saat aku mengutus sekuriti ke rumahnya setelah itu, dia langsung turun.” Jawab Tuan Seo.

“Kau mau melakukan apa pun untuk mencapai tujuanmu. Kau melakukan ini lagi untuk menyelamatkan para putrimu.” Puji Seok Doo.


Nyonya No kembali berdiskusi dengan suami dan anaknya. Ia menduga, Direktur Jung dan Direktur Han menjauh dari mereka. Tuan Choi mengatakan bahwa Direktur Park juga tidak menjawab telepon darinya. Nyonya No cemas, ia takut ayahnya benar-benar akan dipecat dan Tuan Jung lah yang menggantkan posisi sang ayah. Tuan Choi menenangkan Nyonya No. Ia bilang, masih ada waktu sampai rapat tiba.

Nyonya No berdiri, ia mau memberitahu ayahnya.

“Kau mau menghancurkan hatinya? Kita harus berusaha sebisa kita dahulu. Ini bukan situasi serius.” Ucap Tuan Choi.

“Ayah benar. Aku akan terus menghubungi Direktur Park.” Jawab Do Kyung.

“Kenapa aku tidak tahu bahwa Jin Hee akan bertindak sejauh ini?” gumam Nyonya No.


Hyuk dan Yong Gook sedang membaca artikel yang dikeluarkan Tuan Choi.

“Memang benar kami menemukan putri kami. Kami menghargai pilihannya yang ingin hidup normal, jadi, kami tidak akan memberikan komentar apa pun soal ini. Kami akan menindak keras rumor tidak berdasar.”


CEO No juga membaca artikel itu. Ia marah. Do Kyung bilang, itu hal terbaik yang bisa mereka lakukan. Tapi menurut CEO No, yang terbaik adalah memanfaatkan Tuan Seo. Jika itu tidak berhasil, mereka bisa memanfaatkan Ji An.


“Kita tidak boleh melakukan itu.” Jawab Do Kyung.
“Kenapa? Karena Seo Ji An?” tanya kakek.

“Itu alasan pertama. Dia juga ayah Ji Soo. Serta ada lagi. Aku tidak mau melakukan itu. Aku tidak bisa memanfaatkan orang tidak bersalah. Aku akan mencari cara lain.” Jawab Do Kyung.

“Bagaimana jika kakek dipecat?” tanya kakek, membuat Do Kyung kaget.

“Kau kira kakek tidak memeriksa keadaan setiap harinya? Ayah dan ibumu sibuk memperbaiki keadaan sekarang.” Ucap CEO No.

“Bu No Jin Hee dan Pak Jung Myung Soo sudah melakukan beberapa hal di belakang layar.” Jawab Do Kyung.

“Lagipula, mereka bukan siapa-siapa. Mereka tidak akan bisa pergi jauh dari lingkungan kecilnya itu.” Ucap CEO No.

CEO No lalu memberitahu bahwa ia akan menghadiri rapat dewan.


Tuan Choi baru mendapatkan nomor Reporter Nam. Ternyata saat Tuan Seo memanggilnya di luar rumah sakit, untuk meminta nomor Reporter Nam. Tuan Choi pun menghubungi Tuan Seo, tapi Tuan Seo menghubunginya lebih dulu.


Mereka bertemu di kafe. Tuan Seo memperdengarkan rekaman pembicaraan Reporter Nam dan Jin Hee di mobil Seok Doo. Tuan Choi terkejut. Tak hanya itu, ia juga memperdengarkan rekaman yang ia ambil dari blackbox mobil Reporter Nam.

“Apa Anda yakin salah satu dari para wanita ini adalah putri No Myung Hee?” tanya Reporter Nam.

“Kau mau memeriksanya setelah menerima panjar?” jawab Jin Hee.

“Kapan Anda akan memberikan kabar selanjutnya? Skandal Choi Do Kyung dengan putri palsu itu. Anda punya bukti untuk itu?” tanya Reporter Nam.

“Kau hanya menunjukkan bahwa kau amatir. Kita sepaham dan aku sudah membayarmu. Diamlah dan lakukan perintahku. Kau akan mendapatkan infonya pekan depan. Aku akan membayar sisanya saat artikelnya terbit, paham?” jawab Jin Hee.


Tuan Seo lantas memberikan flashdisk yang berisi rekaman tadi pada Tuan Choi. Tuan Choi penasaran bagaimana Tuan Seo bisa melakukan itu. Tuan Seo tersenyum, lalu berkata bahwa yang putus asa melangkah lebih dulu.

Tuan Choi tersentak. Ia lalu mengingat saat Tuan Seo memanggilnya di luar rumah sakit.


Flashback...

“Kurasa seseorang sengaja mengambil fotonya. Itu disengaja. Kurasa itu orang dekatmu.” Ucap Tuan Seo.

“Apa maksudmu?” tanya Tuan Choi.

“Aku kacau sekarang, tapi 10 tahun lalu, aku pebisnis. Aku melalui banyak hal. Hal-hal mencurigakan tidak pernah sekadar kebetulan.” Jawab Tuan Seo.

“Aku setuju, tapi pertukaran putri kita... Tidak ada yang untung.  Artikel lainnya mungkin ya, tapi tidak dengan pertukaran.” Ucap Tuan Choi.

“Ya, aku tahu itu. Dari skandal awal sampai artikel itu. Aku juga mencari tahu semuanya dari 25 tahun lalu. Artikel soal masa lalu sudah jelas menyasar kepada keluargamu, tapi tidak dengan artikel soal pertukaran anak. Aku yang jahat karena sudah menipu keluargamu. Sebagai korban, artikel itu tidak merugikanmu. Jadi, kenapa mereka menerbitkannya? Dengan foto pula.” Jawab Tuan Seo.


“Itu yang tidak kumengerti.” Ucap Tuan Choi.
“Pasti ada dalangnya. Pertukaran putri dan keluargamu kesamaannya adalah Ji An.”  Jawab Tuan Seo.

“Ji An?” tanya Tuan Choi.

“Aku yakin mereka akan menerbitkan artikel lain yang membeberkan hubungan putramu dan Ji An.” Jawab Tuan Seo.

“Targetnya Do Kyung?” tanya Tuan Choi.


“Tidak ada alasan lain bagi mereka untuk melakukan ini. Tidak mungkin hanya untuk mempermalukan keluarga. Skandal awal menyebutkan wanita, narkotika, dan kabur dari rumah. Bahannya sudah ada.” Jawab Tuan Seo.

“Kurasa kau hanya asal menyimpulkan. Tidak ada yang tahu soal mereka dan ini hanya menantang Pimpinan.” Ucap Tuan Choi.

“Tolong berikan nomor Nam Jung Soo. Akan kulakukan sebisaku.” Jawab Tuan Seo.

Flashback end...


Tuan Seo beranjak meninggalkan kafe. Sementara Tuan Choi menatap kepergian Tuan Seo dari dalam kafe. Tuan Seo kemudian menoleh pada Tuan Choi. Dan kedua ayah Ji Soo ini saling tersenyum tipis.


Tuan Choi pun langsung mendengarkan rekaman itu pada Tuan Jung.

“Agendanya adalah menyingkirkan No Yang Ho dan menunjukmu sebagai CEO. Untuk melakukan itu, kau merusak citra keluarga.” Ucap Tuan Choi.

“Kukira itu untuk yang terbaik.” Jawab Tuan Jung.
“Tapi apa kau harus menghancurkan Do Kyung agar tujuanmu tercapai? Saat kau ingin menjadi CEO!” sentak Tuan Choi.

“Kau tidak akan percaya, tapi aku tidak tahu.” Jawab Tuan Jung.

“Cabut semua artikel soal Eun Seok dan masa lalu kita. Jika mereka mendengar Do Kyung dijelek-jelekkan bibinya sendiri, akankah para pemegang saham memilihmu?” ancam Tuan Choi.

“Aku tidak akan membatalkan rapat. Pemecatan Pimpinan No adalah yang terbaik bagi perusahaan.” Jawab Tuan Jung.

“Kau dan istrimu sudah melompat ke dalam api. Kau sudah bersiap menerbitkan artikel lain.” Ucap Tuan Choi.

Tuan Jung pun tidak bisa berkata apapun lagi.


Jin Hee terkejut mengetahui Reporter Nam batal menemui Tuan Seo. Lalu, Jin Hee curiga kalau yang menghubungi Reporter Nam bukanlah Tuan Seo. Tuan Jung masuk ke ruangannya. Ia pun langsung menyudahi pembicaraannya dengan Reporter Nam.

“Kenapa kau memberikan reporter informasi soal penukaran itu? Bukan itu rencana kita.” Ucap Tuan Jung.

“Aku ingin menghancurkan mereka.” Jawab Jin Hee.

“Kenapa kau tidak menghancurkan seluruh perusahaan saja? Do Kyung yang membuat Haesung masih berjalan. Dia ahli waris sulung Pimpinan. Dia harus berdiri kukuh agar Haesung bisa berjalan. Itulah alasanku bilang kita sebaiknya tidak menyentuhnya.” Ucap Tuan Jung.

“Kau tidak tahu. Do Kyung adalah ancaman terbesar. Kita akan aman jika dia tidak ada.” Jawab Jin Hee.
“Itu masalah nanti. Kita bisa mengatasinya nanti. Yang aku inginkan adalah mengembangkan Haesung sendiri. Aku tidak mau keluargamu disingkirkan semua. Artikel soal menghilangnya Eun Seok cukup untuk menjatuhkan Myung Hee dan Jae Sung.” Ucap Tuan Jung.

“Tapi bagaimana kau tahu soal semua itu?” tanya Jin Hee.

“Cabut semuanya. Semua soal menghilangnya Eun Seok.” Suruh Tuan Jung.


Tuan Seo pergi ke warnet dan membuka halaman yang memuat foto Ji An dan Ji Soo. Ia terus meng klik tombol refresh sampai akhirnya artikel itu tidak muncul lagi. Tuan Seo pun lega.


Ji An dan Ji Soo masih di Jeongseon. Mereka sedang mendengarkan musik bersama melalui earphone. Ji Soo ingin menghubungi Tuan Seo, tapi Tuan Seo menghubungi Ji An lebih dulu.


Tuan Seo memberitahu bahwa artikel itu sudah dicabut. Ji An penasara, bagaimana bisa artikelnya dicabut. Tuan Seo pun menyuruh kedua putrinya kembali ke Seoul agar mereka bisa makan bersama.


Ji An dan Ji Soo langsung pulang ke Seoul. Dalam perjalanan pulang, Ji Soo mengecek seluruh artikelnya yang sekarang sudah tidak ada. Ia pun penasaran, apa yang terjadi.

Lalu, Ji An menerima telepon dari Do Kyung.

“Ayahmu sudah mencabut semua artikelnya.  Dia amat membantuku.” Ucap Do Kyung.

“Dia membantumu?” tanya Ji An kaget.


Nyonya Yang yang baru mendengar kabar itu, juga bernafas lega.


“Sayang, artikelnya sudah hilang.” Kata Soo A melalui SMS.  Ji Tae pun tersenyum lega.


Ji Ho juga terlihat senang mendengar kabar itu dari Ji An. Ji An lalu mengajaknya makan malam.


Di toko roti, Boss Kang senang bisa bekerja sama dengan istrinya. Hee pun berkata, semua itu berkat Ji Soo dan mereka harus mengucapkan terima kasih padanya. Tapi Boss Kang berniat memecat Ji Soo. Boss Kang bilang, Ji Soo harus memilih salah satu diantara cinta dan karir.

Boss Kang juga bilang, niatannya memecat Ji Soo tidak ada hubungannya dengan Hee.

“Toko roti ini amat berarti bagiku. Jika terjadi dua kali, selalu bisa terjadi lagi.” Ucap Boss Kang.

“Hyuk akan kesal.” Jawab Hee.

“Aku butuh seseorang yang bekerja sepenuhnya untukku.” Ucap Boss Kang.


Sementara itu, Seohyun sedih karena dikeluarkan dari gengnya. Penyebabnya, karena artikel soal keluarganya yang terlanjur menyebar.


Tak lama kemudian, ia dihubungi Ji Ho. Ji Ho mengajak Seohyun bertemu. Ji Ho bilang, ia akan membantu Seohyun mengusir rasa stress Seohyun.


Mereka lantas bertemu di arena baseball otomatis. Ji Ho mengajari Seohyun cara memegang pemukulnya.

Tapi saat Seohyun mencoba mengayunkan tongkat pemukulnya, ia malah membuat Ji Ho hampir terjatuh. Seohyun tertawa, sedangkan Ji Ho menyuruh Seohyun hati2 sambil ngomel2.

Ji Ho kemudian mengambil tongkat pemukulnya dan menyuruh Seohyun melihatnya.


Seohyun memasukkan uang ke dalam mesinnya, lalu mesinnya mengeluarkan bola. Seohyun bertepuk tangan gembira melihat Ji Ho berhasil memukul bolanya dengan baik.

Seohyun lalu mencoba memukul bolanya dan dia juga berhasil.

“Bagaimana? Stressmu hilang?” tanya Ji Ho.

Seohyun pun menoleh ke arah Ji Ho. “Satu ronde lagi, tolong.” Pintanya.

Ji Ho pun terpesona.


Tuan Seo menunggu kedua putrinya di depan restoran. Tak lama kemudian, kedua putrinya datang.

Ia melihat Ji An dan Ji Soo berlari sambil bergandengan tangan.

Tuan Seo pun langsung ingat masa lalunya, saat kedua putrinya masih duduk di bangku sekolah.

Flashback...


Ia membuka tangannya lebar, siap menyambut kedua putrinya di tempat yang sama.

“Di mana Ibu?” tanya Ji An.

“Ayah menyuruhnya masuk karena di luar dingin.” Jawab Tuan Seo.

“Ayah, kita bisa makan sebanyak apa hari ini?” tanya Ji An.


“Kita mengantarkan Ji Tae wajib militer. Kenapa mau makan kenyang? Kalian bisa makan dua porsi.” Jawab Tuan Seo.

Ji An merengek.

“Baiklah, tiga porsi.” Ucap Tuan Seo.

“Bolehkah aku makan empat?” tanya Ji Soo.

“Hanya satu porsi.” Jawab Tuan Seo.


“Hanya satu porsi.” Goda Ji An sambil menarik kepangan Ji Soo.

Flashback end...


Dan sekarang, Tuan Seo juga melakukan hal yang sama.

Ji Soo lalu melepas pelukannya dan bertanya, apa mereka bisa makan bulgogi. Tuan Seo berkata, hanya tiga porsi. Mereka bertiga lalu kembali berpelukan.


Keluarga Seo makan bersama di restoran setelah sekian lama. Dengan bangganya, Ji An menceritakan bagaimana sang ayah bisa mendapatkan rekaman itu. Ji Ho penasaran, bagaimana ayahnya bisa memikirkan cara itu.

“Dari pengalaman ayah saat menjadi pebisnis.” Jawab Tuan Seo.

“Bagaimana kau tahu ayah melakukannya?” tanya Soo A. Ji An pun tidak bisa menjawabnya.

Ji Soo pun berbohong dengan mengatakan ayah kandungnya yang menceritakan semua itu.

Ternyata, di restoran itu Tuan Seo melakukan banyak hal istimewa untuk keluarganya. Merayakan ulang tahun Nyonya Yang, merayakan ulang tahun anak2nya, serta melamar Nyonya Yang. Ji An ingat semua itu.

Tuan Seo lalu berkata, kalau sebenarnya hari itu adalah hari ulang tahun pernikahan mereka.

Nyonya Yang menangis terharu. Ia tidak menyangka, Tuan Seo mengingatnya.

Mereka semua lalu tertawa bahagia.


Keesokan harinya, forum diskusi antar pegawai dipenuhi komentar tentang agenda voting untuk pemecatan kakek.


Sementara itu, kakek masuk ke ruangan rapat bersama Do Kyung. Kakek juga melambaikan tangannya pada peserta rapat.

“Kalian menduga aku datang dengan kursi roda? Aku keluar dari rumah sakit kemarin.” Ucap CEO No.

Rapat pun dimulai. Moderator rapat membuka rapat dan membahas agenda yang pertama yaitu pemecatan CEO No dengan alasan kelalaian dalam menjalankan tugas karena kondisi kesehatan yang buruk serta gaya manajemen bisnis yang tidak terbuka.

Moderator bertanya, apa CEO No akan membela diri. CEO No bilang tidak.

Moderator berkata, mereka akan memulai votingnya.Ia meminta yang setuju CEO No dipecat untuk berdiri.

Yang pertama berdiri adalah Jin Hee dan suaminya, lalu diikuti jajaran komisaris lainnya.

Moderator mengatakan, bahwa dari 20 orang yang hadir, 12 diantaranya setuju CEO No dipecat.

Moderator lalu berkata, bahwa CEO No akan dikeluarkan dari kantor.

Sontak, hal itu membuat kakek, Tuan Choi, Nyonya No dan Do Kyung kaget.

Moderator lantas berkata, bahwa sesuai permintaan pemegang saham, satu2nya kandidat yang akan menjadi CEO selanjutnya adalah Tuan Jung.


Jin Hee pun mengangkat tangannya.

“Aku mau wakil pimpinan Choi Jae Sung dan FNB Haesung No Myung Hee disingkirkan dari dewan.” Ucap Jin Hee.


Nyonya No terkejut. Dan kakek, collaps lagi!


Tuan Seo menemui seorang dokter di rumah sakit. Dokter itu bertanya, apa Tuan Seo tidur nyenyak. Tuan Seo bilang tidak, lalu menanyakan hasilnya.

“Anda memang menderita kanker perut. Ada beragam tipe kanker perut. Kau lihat ini.”

Dokter lalu menunjukkan hasil pemeriksaan perut Tuan Seo di monitornya.

“Ini Bormann tipe empat. Ini menyebar dari bawah. Jadi, terkadang tidak ditemukan di biopsi.” Ucap dokter.


“Apa artinya aku salah didiagnosis?” tanya Tuan Seo.

“Bisa dibilang begitu.” Jawab dokter.
“Lantas, berapa lama lagi sisa waktuku?” tanya Tuan Seo. Ia nampak terpukul.

No comments:

Post a Comment