Thursday, March 15, 2018

My Golden Life Ep 48 Part 1

Sebelumnya...


Tuan Seo terkejut saat dokter memvonisnya mengidap kanker stadium empat.


Tuan Seo lantas mengingat kebahagiaannya bersama keluarganya saat mereka makan di restoran. Dengan wajah malu-malu, Tuan Seo berkata kalau hari itu adalah hari ulang tahun pernikahannya. Nyonya Yang terharu, ia tidak menyangka Tuan Seo mengingat hari ulang tahun pernikahan mereka.


Disaat mereka sedang tertawa bahagia, tiba-tiba saja Tuan Seo merasakan sakit lagi di perutnya. Tak ingin keluarganya tahu, ia pun buru-buru pamit ke toilet. 

Soo A mengira Tuan Seo merasa malu, padahal Tuan Seo sedang menahan sakit di perutnya.


Di toilet, Tuan Seo muntah darah. Ia terkejut, lalu mengingat kalau belakangan ini ia memang sering muntah.


Saat muntah di rumah lamanya dan menahan sakitnya ketika tidur.


Serta saat bersama Seok Doo.


“Kanker stadium empat.” Batin Tuan Seo sambil berjalan meninggalkan rumah sakit dengan wajah lesu. Ia juga mengingat kata-kata dokter, bahwa kankernya sudah menyebar dan ultrasound sudah tidak bisa mendeteksinya lagi.

“Menimbang kondisi Anda sekarang, kurasa sudah cukup lama sejak penyebarannya dimulai.” Ucap dokter.


Tuan Seo marah, ia merasa dipermainkan. “Kejam sekali. Kenapa bermain-main denganku seperti ini? Aku akhirnya berdamai dengan diriku sendiri. Kau membuatku meninggalkan dunia ini, tapi mengacaukanku agar waktuku di sini lebih lama. Kini saat aku sudah berniat menjalani hidupku, Kau ingin aku pergi lagi? Aku salah apa?”

Orang-orang yang lalu lalang di sekitar Tuan Seo, menatap Tuan Seo heran, karena Tuan Seo berteriak sendiri.


Ji An tidak percaya barang-barang buatannya ada yang membeli. Ia berkata, itu berkat Hyuk karena Hyuk adalah pebisnis yang kompeten. Hyuk memberitahu Ji An, bahwa banyak pelanggan yang lebih menyukai barang buatan tangan. Ji An pun memukul bahu Hyuk dengan bahagia dan berkata, kalau dia menghasilkan lebih banyak uang daripada bekerta paruh waktu.

Hyuk juga memperlihatkan toilet kucing yang sudah habis terjual sehingga mereka harus membuatnya lagi.

“Seketaris Yoo pasti bekerja amat keras. Dia memesan cukup banyak.” Jawab Ji An.


“Ji An-ah, kenapa Do Kyung kembali?” tanya Hyuk.

“Mungkin karena harus.” Jawab Ji An.

“Kau baik-baik saja?” tanya Hyuk.

“Terkadang aku baik-baik saja, tapi terkadang tidak.” Jawab Ji An.

Ji An lantas buru-buru pergi dengan alasan harus merakit toilet kucingnya sebelum ia pulang ke rumah. Hyuk pun hanya bisa menatap kepergian Ji An dengan wajah cemas.


Di toko roti, Ji Soo mengaku bahwa ia paling suka bagian menguleni adonan seperti yang sedang dilakukannya saat ini bersama Boss Kang. Dengan wajah murung, Boss Kang memuji Ji Soo yang sudah bisa menguleni adonan dengan baik.


Ji Soo lalu mengeluarkan rotinya dari oven. Ia senang karena akan mulai menjual roti buatannya sore ini.

Hee kemudian datang. Ji Soo pun langsung memamerkan roti buatannya pada Hee.

Tapi Hee yang kali ini merasa tidak enak pada Ji Soo pun tidak terlalu menanggapi Ji Soo dan langsung masuk ke dalam.


Ji Soo salah paham, ia pikir Hee masih marah padanya. Ia ingin membahasnya dengan Boss Kang, tapi belum sempat bicara, Boss Kang langsung menyuruhnya fokus bekerja. Boss Kang juga bilang kalau Hee tahu apa yang akan ia lakukan hari ini.

“Aku sudah melatihmu selama seminggu sekarang. Aku sudah mengajarimu semua hal soal membuat adonan.” Ucap Boss Kang.

“Lantas, akankah Anda mengajariku air rahasianya?” tanya Ji Soo.

“Aku tidak bisa melakukan itu. Jika kulakukan, rahasia dapurku ketahuan.” Jawab Boss Kang.

“Saat Anda merasa tidak enak badan dan tidak bisa menyiapkan airnya, aku bisa...”

“Itu tidak akan terjadi karena aku akan memecatmu.” Jawab Boss Kang.

Ji Soo terkejut, apa?


CEO No dirawat di rumah. Dokter berkata, bahwa CEO No hanya pingsan. Dokter juga melarang CEO No kembali bekerja dan memberitahu mereka bahwa CEO No akan sadar sebentar lagi.


Setelah dokter pergi, Nyonya No dikejutkan dengan kedatangan Tuan Jung dan Jin Hee. Nyonya No pun marah. Tuan Jung meminta maaf dan mengaku tidak akan mengambil keuntungan dari pingsannya CEO No.


Jin Hee lalu bertanya pada Do Kyung, apa CEO No baik-baik saja.

“Tidak perlu khawatir, Jin Hee-ya.  Ayah baik-baik saja.” Sahut CEO No yang ternyata sudah bangun.

CEO No lantas menyuruh mereka pergi. Tapi Jin Hee yang cemas dengan kondisi ayahnya, tidak mau pergi. Nyonya No pun merapatkan giginya, menahan amarahnya. Ia menyuruh Tuan Jung dan Jin Hee pergi.

Flashback...

Saat CEO No pingsan, Tuan Choi dan Do Kyung langsung menolongnya. Nyonya No dan Jin Hee sama2 khawatir menatap sang ayah. Nyonya No menyuruh mereka memanggil ambulance. Do Kyung bersiap menggendong sang kakek di punggungnya. Ia ingin membawa kakeknya ke rumah sakit.

Tapi....


“Jika kalian pergi sekarang, apa artinya kalian mau merelakan suara kalian?” tanya direktur 1

“Bawa dia ke rumah sakit. Aku akan segera menyusul.” Jawab Nyonya No kesal.


Setelah CEO No dibawa pergi, rapat pun kembali dilanjutkan. Jin Hee ingin Tuan Choi dan Nyonya No dipecat. Ia mengemukakan banyak alasan yang mengharuskan Tuan Choi dan Nyonya No dipecat.

Moderator menyuruh yang setuju untuk berdiri.


Jin Hee lah yang pertama berdiri, lalu diikuti oleh Tuan Jung dan para direktur.


Nyonya No terkejut. Sementara Jin Hee menatap Nyonya No dengan senyum puas.


Dan Do Kyung menatap orang tuanya dengan wajah cemas.

Flashback end...


Do Kyung mengejar paman dan bibinya. Ia mengajak paman dan bibinya bicara. Mereka pun bicara diluar.

“Kalian menerbitkan artikel untuk mengambil alih perusahaan. Kalian berencana mengusir kedua orang tuaku.” Ucap Do Kyung.

“Itu demi kebaikan perusahaan.” Jawab Tuan Jung.

“Pimpinan sudah terlalu lama menjabat.” Ucap Jin Hee.

“Kakekku mendirikan perusahaan. Yang kita bahas ini ayah dan kakak Bibi!” jawab Do Kyung.

“Saat dia mendirikannya, perusahaan ini miliknya, tapi setelah berkembang, bukan hanya dia pemiliknya.” Ucap Jin Hee.

“Semua orang turut berkontribusi pada perkembangannya, Do Kyung-ah.” Jawab Tuan Jung.

“Paman benar. Aku tahu betapa giatnya Paman bekerja untuk perusahaan. Jika merasa tidak dihargai, Paman seharusnya menyampaikannya kepada Kakek.” Ucap Do Kyung.

“Kau kira itu akan membuat perubahan?” tanya Tuan Jung.


“Do Kyung, kenapa kau marah kepada kami? Kau berpikir sudah pasti akan melanjutkan setelah ayahmu. Kau merasa dijahati karena kami campur tangan? Ibumu hanya menikmati keuntungan menjadi putri sulung. Ayahmu selalu setengah hati.” Jawab Jin Hee.

“Tolong jaga mulut Bibi. Ayahku yang membangun hotel dan anak perusahaan.” Ucap Do Kyung.

“Dia melakukan semua yang diperintahkan, tapi tidak mau melakukan lebih dari itu.” Jawab Tuan Choi.

“Itu tidak membenarkan tindakan Bibi yang menghancurkan Kakek dan orang tuaku. Aku tidak akan pernah menerima situasi yang kalian berdua ciptakan ini. Cara kalian terlalu murahan.” Ucap Do Kyung.

“Kau kira ini murahan? Paman mempelajarinya dari kakekmu. Tapi dia tampaknya tidak menyadari itu. Berarti sudah waktunya dia turun.” Jawab Tuan Jung.

“Itu bukan keputusan Anda, Pak Jung, Kepala Kantor Eropa.” Ucap Do Kyung


Tuan Choi meminta penjelasan pada Direktur Kim dan Direktur Woo. Ia heran, kenapa bisa mereka menunjuk Tuan Jung.

“Kami sudah memutuskan. Kami tidak ingin lagi berada di posisi tidak nyaman.” Jawab Direktur Woo.

“Kenapa kau bisa dipengaruhi Bu No dan Pak Jung?” tanya Tuan Choi.

“Do Kyung menolak menerima posisinya di Eropa dan pergi, tapi Pimpinan No bilang Do Kyung sedang berlibur. Itu menunjukkan bahwa dia tidak bijak.” Jawab Direktur Kim.

“Sekarang kau tidak bisa mewarisi perusahaan hanya karena sedarah dengan CEO. Disamping mendapatkan lahan untuk resort di Eropa, Pak Jung meluncurkan tiga merek lagi sebagai presdir Haesung Apparel dan semua proyeknya sukses.” Ucap Direktur Woo.

“Artikel tentang masa lalu putriku pasti memengaruhi keputusan kalian juga.” Jawab Tuan Choi.

“Itu menunjukkan moral manajemen. Serta kau tidak menjelaskan saat timbul kecurigaan. Tahukah kau betapa besar dampaknya terhadap saham kami?” ucap Direktur Kim.


CEO No tidak terima dengan cara Jin Hee dan Tuan Jung. Ia yakin, Jin Hee dan Tuan Jung sudah lama ingin menggulingkannya.

“Dari rumor soal Do Kyung sampai artikel soal ditemukannya Eun Seok serta kecurigaan soal insiden di masa lalu, kurasa itu semua menargetkan Ayah. Kurasa mereka menyalahkan Ayah karena tidak mengurus anak-anak dengan benar. Maaf, Ayah.” Jawab Nyonya No.

“Jika kau meminta maaf, pertahankan posisimu! Kau harus berusaha sekeras mungkin untuk menjaga posisimu agar ayah bisa memanggil dewan, menjatuhkan dia, dan mengambil kembali milik ayah!”

“Kami akan melakukan itu. Jadi, tolong beristirahatlah. Kakek harus tenang.” Ucap Do Kyung.

“Kakek tidak boleh meninggal seperti ini. Kakek mengorbankan segalanya untuk membangun Perusahaan Haesung. Jika kau tidak mengalihkan perhatian kakek, kakek pasti sudah memergoki mereka.” Jawab CEO No.

“Maaf.” Ucap Do Kyung.

“Jika ayah dan ibumu dipecat dari dewan, kau berikutnya, Do Kyung-ah.” Jawab CEO No.


Sambil menunggu lift terbuka, Do Kyung berkata pada ibunya bahwa yang terjadi 25 tahun yang lalu, sudah menghancurkan mereka.

“Haruskah kau mengatakan itu pada situasi seperti ini?” protes Nyonya No.

“Kecurigaannya belum mereda. Apa menurut Ibu, Ibu dan Kakek bisa memulihkan citra kalian?” jawab Do Kyung.

“Kebenarannya adalah keluarga kita harus aman. Ibu mengikuti kakekmu dan mengurusnya dengan cara keluarga kita. Mari urus masalah besarnya dahulu.” Ucap Nyonya No.


Tuan Choi, Nyonya No dan Do Kyung kembali membahas Jin Hee di ruangan Tuan Choi. Tuan Choi berkata, kalau Jin Hee dan Tuan Jung sudah merencanakan semua itu sejak awal. Nyonya No kesal karena tidak menyadari bahwa Jin Hee memata-matai mereka selama ini.

“Saham Kakek sebesar 7,5 persen. Bagaimana bisa mereka memecat Kakek? Ibu, Ayah, Kakek, dan Bibi... Saham kita semua sama. Sama denganku dan Ji Soo. Saham Seo Hyun tidak sebesar itu.” Ucap Do Kyung.

“Setelah membeberkan semua, mereka pasti mendapatkan dukungan dari orang-orang. Mereka pasti membeli saham dengan nama pinjaman juga.” Jawab Nyonya No.

“Kita harus menghubungi pemegang saham utama dan mengamankan saham mereka dahulu. Jika kalian disingkirkan dari dewan direksi, posisi kalian sebagai CEO dan wakil pimpinan akan dicabut secara otomatis.” Ucap Do Kyung.

  
“Pemegang saham minoritas bisa berperan juga. Skandal itu pasti merusak kredibilitas kita. Di samping itu, kita tidak tahu sebanyak apa saham atas nama orang lain yang sudah mereka kumpulkan.” Jawab Tuan Choi.

“Periksa daftar pemegang saham. Mereka tidak punya cukup saham untuk memecatnya. Jadi, mendapatkan sebanyak mungkin saham seperti yang Kakek miliki tidak akan mudah.” Ucap Nyonya No.

“Kami akan memeriksa saham orang-orang yang memihak kita.” Jawab Tuan Choi.

Tuan Choi lalu menyuruh istrinya menghubungi pemegang saham utama.

“Lebih penting lagi Do Kyung mengamankan posisinya. Kita harus mengonsolidasi posisimu di kantor. Jangan abaikan tugasmu. Jangan sampai para pegawai ikut bergunjing.” Ucap Nyonya No.


Ji Soo memberitahu Hyuk bahwa hari itu ia menjual roti buatannya untuk yang pertama kalinya. Hyuk senang mendengarnya. Ia pikir, Ji Soo akan menjadi penerus Boss Kang. Ji Soo pun menggeleng dan memberitahu Hyuk bahwa ia dipecat. Hyuk terkejut.

“Aku terlalu sering membolos kerja. Kukira dia merasa aku akan terus begini.” Jawab Ji Soo.

“Tapi tetap saja, bagaimana bisa dia memecatmu tanpa peringatan?” kesal Hyuk.

“Tidak apa-apa. Dia tidak memperingatkanku karena baik. Sepanjang sepekan, dia memberikan pelajaran khusus soal membuat adonan. Aku sedih, tapi tidak kecewa. Aku memang terlalu sering membolos.” Jawab Ji Soo.


Hyuk pun menyemangati Ji Soo. Ia memegang tangan Ji Soo dan menyuruh Ji Soo membuat roti sendiri.

“Aku senang ini terjadi. Ini artinya aku bisa pergi ke acara penghargaan Ji An.” Jawab Ji Soo.

“Aku juga senggang besok. Aku akan ikut.” Ucap Hyuk. Keduanya pun tersenyum.


Boss Kang merasa bersalah karena sudah memecat Ji Soo. Hee pun takut kalau2 Ji Soo berpikir dia lah yang menyuruh Boss Kang memecatnya. Boss Kang menenangkan Hee. Ia bilang kalau ia butuh seseorang yang bisa memprioritaskan toko rotinya.

“Aku sebaiknya membantumu sampai kau mempekerjakan orang lain. Haruskah aku berhenti bekerja di kafe dan bekerja denganmu?” tanya Hee.

“Kau tidak boleh melakukan itu. Tidak baik jika pasangan bersama setiap saat.” Jawab Boss Kang.

“Kurasa akan menyenangkan jika bersama setiap saat.” Sewot Hee.

“Bukan begitu. Maksudku...”

“Aku bercanda. Aku suka mengelola kafe. Aku tidak mau berhenti dari sana.” Jawab Hee.

Boss Kang pun kembali menenggak sojunya. Hee menghela nafas dan menatap Boss Kang. Ia tahu, Boss Kang merasa bersalah pada Ji Soo meski Boss Kang tidak mengakuinya.


Ji An yang sedang bekerja di studio, dikejutkan dengan kedatangan Do Kyung. Do Kyung berkata, tadinya ia penasaran apa Ji An ada di sana, dan ternyata benar Ji An memang ada di sana. Do Kyung membawakan kopi untuk Ji An. Do Kyung bilang, ia hanya ingin melihat Ji An saja selama lima menit. Sampai kopinya habis.


Ji An pun kembali bekerja. Ia mengamplas kayunya. Dan Do Kyung berdiri menatap Ji An sambil minum kopi. Sorot mata Do Kyung nampak sedih.


Setelah beberapa saat, Do Kyung menghela nafas. Helaan nafas Do Kyung membuat Ji An berhenti bekerja dan meminum kopi Do Kyung.

“Kau amat menyukai kayu, bukan? Kau sampai lupa waktu.” Ucap Do Kyung.

“Ini pekerjaan paruh waktuku. Aku mendapatkan keuntungan. Aku mendapat 70 persen dan mereka 30 persen.” Jawab Ji An.

“Kau bekerja di malam hari juga? Kenapa?” tanya Do Kyung.

“Aku berusaha menghasilkan lebih banyak uang.” Jawab Ji An.

“Uang? Kau tampaknya menikmatinya.” Ucap Do Kyung.

“Apakah ada yang tidak beres?” tanya Ji An.

“Sejak dipromosikan, pekerjaanku banyak. Jadi, aku kemari untuk melepaskan penat.” Jawab Do Kyung.


Do Kyung pun beranjak pergi. Ji An pura2 tidak peduli dan terus sibuk dengan pekerjaannya. Barulah setelah Do Kyung benar-benar pergi, Ji An berhenti mengamplas kayunya dan memikirkan Do Kyung.


Ji Tae dan Soo A berencana menjemput sang ayah, akhir pekan, setelah mereka pulang liburan. Soo A bilang, bahwa ibu harus memberitahu ayah yang sebenarnya setelah ayah pulang.

“Ibu juga mau melakukan itu, tapi kata Ji An, kita harus membiarkannya menyadarinya sendiri. Serta kau hamil. Dia pasti merasa pasien tidak boleh berada di rumah.” Jawab Nyonya Yang.

“Itu tidak masuk akal. Walaupun begitu, aku tidak masalah dia di sini.” Ucap Soo A.

“Itu tidak benar. Kau harus gembira agar bayinya gembira.” Jawab Nyonya Yang.

Soo A lantas mengelus perutnya dan meminta ibu membesarkan bayinya.

“Ji Tae bilang Ibu tidak pernah menghukum anak-anak Ibu. Jika Ibu membesarkan anak kami, aku bisa bekerja tanpa khawatir.” Ucap Soo A.

“Ibu tidak masalah. Serta itu juga bayi Ji Tae. Ibu mau melakukannya untuk kalian. Tapi apakah kau sungguh ingin ibu mengasuh anak kalian?”

“Siapa yang bisa mencintainya melebihi neneknya sendiri?” jawab Soo A.

“Membayangkannya saja membuat ibu bahagia. Bayinya nanti seperti apa, ya? Bayangannya saja sudah manis.” Ucap Nyonya Yang gembira.



Begitu kembali ke kamar, Ji Tae bertanya, apa Soo A sungguh-sungguh ingin pindah?

“Dahulu kita tidak berencana punya anak. Tapi aku tidak tahu apa Ibu akan pindah ke luar kota.” Jawab Soo A.

“Ke luar kota?” tanya Ji Tae.

“Kau menyarankan kita pindah ke luar Seoul agar bisa bersantai.” Jawab Soo A.

“Tapi kau tidak mau.” Ucap Ji Tae.

“Saat itu aku membangkang melawanmu. Saat kita menikah, aku bilang begini. Aku tidak akan membandingkannya dengan orang lain. Kami akan berusaha menemukan kebahagiaan kami sendiri. Aku memutuskan memulai baru.” Jawab Soo A.

Soo A lalu mengajak Ji Tae pindah dari Seoul. Ia juga mengaku sudah mencari2 lowongan pekerjaan dan menemukan pekerjaan sebagai pustakawan.

“Lantas, kenapa kau meminta Ibu mengasuh anak kita? Maksudmu, kau mau tinggal dengan orang tuaku?” tanya Ji Tae.



“Aku butuh Ibu. Serta Ayah sudah biasa bekerja di provinsi. Jadi, bukankah dia akan menemukan pekerjaan di sana?” jawab Soo A.

“Tunggu. Ini tidak semudah kedengarannya.” Ucap Ji Tae.

“Aku sudah memikirkannya matang-matang. Kurasa mereka berbeda dari mertua teman-temanku. Mertuaku selalu merasa bersalah kepada anak-anak mereka. Ini tidak pantas dikatakan kepada orang tua, tapi mereka punya rasa malu. Serta mereka pengertian.” Jawab Soo A.

“Mereka melakukan sesuatu yang tidak seharusnya dilakukan. Tapi ibuku baik. Dia terutama baik kepada anak-anaknya.” Ucap Ji Tae.



Di kamarnya, Ji An sedang mempelajari Bahasa Finnish.


Do Kyung yang masih di kantor, sedang melihat daftar pemegang saham utama.


Lalu, Gi Jae datang menemui Do Kyung. Do Kyung meminta bantuan Gi Jae. Tapi Gi Jae tak yakin karena image Haesung sudah keburu hancur.

“Aku tahu. Itulah alasan kita harus membatalkan ajuan penunjukan Pak Jung sebagai CEO dan mengembalikan posisi itu kepada kakekku. Lagi pula, aku yang membuatnya kolaps.” Jawab Do Kyung.

“Walaupun bukan kau, kau tetap harus berbuat sesuatu. Ini penggulingan. Dilakukan dengan buruk pula.” Ucap Gi Jae.

“Aku tidak akan pernah membiarkan mereka dapat keinginan mereka.” Jawab Do Kyung.

“Apa dia mendapatkanmu kembali dengan kolaps? Dia amat menentang Ji An dan membuatmu kerepotan. Tapi kau bekerja amat keras untuknya.” Ucap Gi Jae.

“Meski aku amat membencinya, dia keluargaku. Walaupun kecewa dengannya, aku tidak bisa membuang 30 tahun yang kami habiskan bersama. Dia amat menyayangiku saat aku masih kecil. Hanya karena aku putra sulung.” Jawab Do Kyung.

“Kau tidak akan menemui Ji An lagi?” tanya Gi Jae.


“Selama kami berjalan ke arah yang berbeda.” Jawab Do Kyung.

“Apa maksudmu? Kalian selalu berjalan ke arah yang berbeda.” Ucap Gi Jae.

“Aku akan memberitahumu setelah rapat dewan.” Jawab Do Kyung.



Keesokan harinya, Hyuk menemui Ji An di studio. Hyuk bilang, kalau dia ada rapat jadi tidak bisa mengantarkan toilet kucing ke pabrik Do Kyung. Hyuk minta Ji An mengantarkan toilet kucing sebelum pergi ke upacara. Ji An setuju dan mengaku kalau ia penasaran dengan kabar Seketaris Yoo.

“Omong-omong, kenapa kau datang ke upacaranya?” tanya Ji An.

“Aku tidak ke sana karenamu. Aku mengikuti Ji Soo untuk menyapa orang tuanya.” Jawab Hyuk.



Ji An ke pabrik, mengantarkan toilet kucing. Seketaris Yoo pun langsung memanggil pekerjanya untuk menurunkan toilet kucing dari dalam mobil.

Melihat penampilan Seketaris Yoo, Ji An pun bertanya apa Seketaris Yoo mau pergi.

“Aku ada rapat di suatu tempat.” Jawab Seketaris Yoo.

Seketaris Yoo kemudian bertanya, Ji An mau kemana karena Ji An sangat rapi. Ji An berkata, kalau ia ada rapat keluarga.

“Tampaknya kalian sibuk.” Ucap Ji An lagi.

“Ya. Ternyata ada banyak pencinta kucing.” Jawab Seketaris Yoo.

“Aku senang bisnisnya lancar. Pasti berat mengelolanya sendiri setelah Do Kyung pergi.” Ucap Ji An.

“Itulah alasannya memujiku. Dia kemari untuk memeriksa. Dia pasti penasaran.” Jawab Seketaris Yoo.


Tuan Seo sudah menunggu di depan sekolah desain. Tak lama, ia melihat Nyonya Yang datang sambil berlari. Tuan Seo pun berteriak, menyuruh istrinya jalan pelan-pelan. Langkah Nyonya Yang terhenti sejenak, tapi kemudian ia kembali berlari ke arah suaminya.

“Jika jatuh, kau akan berada dalam masalah besar.” Ucap Tuan Seo.

“Aku terlambat pergi dari toko, jadi, tergesa-gesa.” Jawab Nyonya Yang.



Kemudian, Ji An datang dan menyapa orang tuanya. Tuan Seo pun mengajak mereka masuk dan mulai berjalan duluan.

Nyonya Yang lalu memberitahu Ji An kalau Ji Soo akan datang bersama kekasihnya. Ji An pun memberitahu kalau pacarnya Ji Soo adalah teman sekelasnya dan ibu sudah pernah bertemu dengannya.

“Kapan?” tanya ibu.

“Nyonya Yang, saat seorang pria datang mencariku, anda bilang kepadanya aku sudah pindah, bukan?” jawab Ji An.

“Astaga. Apa yang harus ibu lakukan? Ibu bisa berbuat apa sekarang?” tanya ibu cemas.

“Ibu sudah melakukannya, jadi, tanggung rasa malunya.” Jawab Ji An.

Ji An lantas menenangkan sang ibu dengan mengatakan bahwa Hyuk sudah tahu semuanya. Tapi Nyonya Yang tetap merasa malu.


Tuan Seo lalu memanggil mereka karena Ji Soo ternyata sudah datang duluan.


Di dalam gedung, Ji Soo merapikan baju Hyuk. Ia lalu melambaikan tangannya begitu melihat keluarganya datang. Ji Soo pun memperkenalkan Hyuk pada ayah dan ibunya. Suasana seketika berubah canggung.

Hyuk pun memberi salam pada ayah dan ibu, serta memperkenalkan dirinya. Ayah menyambut uluran tangan Hyuk dan mengenalkan dirinya sebagai ayah Ji Soo. Hyuk memberitahu ayah bahwa mereka pernah bertemu beberapa kali saat saat ia masih SMA. Hyuk bilang, ia ada di kelas perkayuan.

Setelah itu, Hyuk menyapa ibu dan ibu meminta maaf atas apa yang ia lakukan terakhir kali.

“Hei, Ji Soo. Ini upacaraku, tapi kau malah seperti memperkenalkannya.” protes Ji An.

“Kau tidak gugup?” tanya Ji Soo.


“Tentu saja. Aku amat berani sampai jantungku seakan-akan mau copot.” Jawab Ji An.



Di panggung, Ji An menerima penghargaannya sebagai juara ketiga. Ayah dan Ji Soo langsung berlari ke panggung untuk memberikan bunga pada Ji An. Ayah memeluk erat Ji An, begitu pula Ji Soo.



Ibu melambaikan kedua tangannya dari kursi penonton. Dan Hyuk mengacungkan dua jempolnya pada Ji An.


Di kantor, Do Kyung mengaku sudah mengecek daftar pemegang saham utama tapi ia tidak bisa menghubungi CEO Gil Min Ah dari Funny Factory yang sedang dalam perjalanan bisnis ke Rusia, serta Yang Joon Ho yang sedang berada di Spanyol.

“Yang Joon Ho punya 1,5 persen, bukan? Dia akan meneleponmu. Dia putra teman Kakek.” Ucap Nyonya No.

“Funny Factory punya satu persen. Walaupun mereka berpihak kepada Jung Myung Soo...” kata Tuan Choi.

“Kita punya 0,5 persen lebih.” Jawab Nyonya No.

“Bibi Jin Hee mungkin sudah memikirkan ini. Agar Jung Myung Soo menjadi CEO, dia harus mendapatkan tambahan 1,2 persen selain saham Kakek yang sebesar 7,5 persen.” Ucap Do Kyung.

“Sembilan persen. Dia bahkan tidak bisa membayangkannya.” Jawab Nyonya No.

“Itulah alasan dia menyebarkan kabar itu.” Ucap Tuan Choi.

“Yang Joon Ho dan Gil Min Ah sudah menjadi suara penentu. Walaupun mereka memihak kita, kita tidak bisa bergantung kepada mereka.” Jawab Do Kyung.

Tuan Choi dan Nyonya No pun kompak menyuruh Do Kyung menghubungi pemegang saham minoritas.

Do Kyung setuju, tapi ia khawatir karena mereka tidak tahu sebanyak apa saham yang dimiliki Jin Hee dengan nama pinjaman. Tapi Nyonya No percaya diri, ia bilang Jin Hee tidak akan memilikii saham melebihi yang mereka punya.


Setelah upacara penghargaan selesai, Ji An dan keluarganya makan bersama di sebuah restoran. Ji Soo memuji Ji An yang luar biasa. Hyuk ikut menambahkan, ia bilang hasil karya Ji An di studio sudah diakui.

Ayah lalu bertanya, apa Hyuk belajar desain interior. Ji Soo yang menjawab, kalau Ji An dan Hyuk bertemu di kelas perkayuan dan keduanya berjanji akan masuk universitas seni bersama.

“Berapa biaya tinggal di Finlandia?” tanya Nyonya Yang.

“Aku akan mengurusnya. Aku sudah punya rencana. Ayah mengenalku. Aku putri Ayah. Aku orang Korea dengan tekad yang kuat.” Jawab Ji An.

“Kelasnya dalam bahasa Finlandia. Untuk memahami kelasnya, dia harus belajar bahasanya di Finlandia sesegera mungkin dan tinggal di sana.” Ucap Hyuk.


Lalu, ponsel Hyuk berbunyi.  Sebuah pesan dari Yong Gook. Hyuk pun kaget membacanya.

“Ini darurat.  Akan ada rapat pemegang saham untuk memecat Pak No dari Haesung dan mencopot orang tua Do Kyung dari posisi eksekutif.” Tulis Yong Gook.


Hyuk pun langsung memberitahu Ji Soo. Ia memperlihatkan ponselnya pada Ji Soo.

“Perkelahian Saudari di Manajemen Perusahaan Haesung" baca Ji Soo heran.


Ji An yang juga ikut membacanya langsung sewot.


Ji Soo cemas, ia takut memikirkan nasib orang tua kandungnya dan Do Kyung.


Ji An lalu pamit ke toilet. Di belakang, dia menghubungi Do Kyung.

“Aku sudah membaca artikelnya. Bisakah aku membantumu?” tanya Ji An.

“Apakah kau bersedia?” tanya Do Kyung balik.

“Jika aku bisa.” Jawab Ji An.


No comments:

Post a Comment