Friday, March 23, 2018

My Golden Life Ep 51 Part 1

Sebelumnya...


Ji An menyebut, bahwa hal buruk yang dilakukan Do Kyung terhadapnya adalah membuatnya jatuh cinta pada Do Kyung, jadi Ji An tak bisa memaafkan Do Kyung, juga dirinya sendiri.

“Kau kembali ke Haesung sejak kakekmu jatuh sakit karenamu. Awalnya aku salah paham, tapi aku memahamimu. Kau tidak bisa sekedar pergi dari keluargamu karena kebencian dan kekecewaanmu. Jadi aku membantumu. Aku membantumu tanpa tahu perbuatan keluargamu terhadap ayahku. Serta ayahku menyelamatkan keluargamu demi diriku dan Ji Soo.” Ucap Ji An dengan mata berkaca-kaca.

“Aku tidak menyangka kakek berbuat seperti itu.” Jawab Do Kyung.

“Kau menyesal?” tanya Ji An.

“Sampai membuatku tidak bisa berkata-kata.” Jawab Do Kyung.

“Kalau begitu, lupakan aku sepenuhnya. Itu hal terakhir yang bisa kau lakukan untukku.” Ucap Ji An.

Do Kyung tak sanggup bicara.

“Jawab aku.” Pinta Ji An.

“Kau melupakanku sepenuhnya.” jawab Do Kyung.

“Aku akan melakukannya, tapi aku tidak mau tinggal di ingatanmu juga. Jadi kita bisa bersikap selayaknya orang asing walaupun saling berpapasan selagi kita melanjutkan hidup.” Ucap Ji An.


Lantas, Ji An mengembalikan kalung yang diberikan Do Kyung padanya. Ia menjatuhkan kalung itu di atas meja, lalu beranjak pergi.

Keduanya sama2 terluka.


Ji Tae dan Soo A datang menjemput ayah dan ibu. Semula ayah menolak pulang, karena itulah Ji Tae mengajak ibunya bicara agar Soo A bisa bicara berdua dengan ayahnya. Soo A berkata, jika ayah tetap berada di sana, maka ia dan bayinya akan khawatir. Soo A juga mengaku, kalau ia merasa sudah merampas waktu ayah bersama keluarga. Tuan Seo merasa tidak enak. Soo A mengajak ayah pulang. Ia bilang, ayah adalah kakek dari calon bayinya serta meminta ayah memberikan nama untuk bayinya.


Ji An ke rumah Seok Doo. Ia bermaksud mengembalikan 20 ribu dollar yang dipinjam ayahnya. Seok Doo pun mengaku, bukan ia yang meminjamkan uang itu pada Tuan Seo. Seok Doo menceritakan semuanya, bahwa uang itu didapat Tuan Seo dari perusahaan asuransi untuk kankernya. Seok Doo bilang, Tuan Seo mendaftarkan dirinya sebelum usahanya bangkrut.


Ji An syok, ia terduduk lemas di tangga apartemen Seok Doo saking syoknya.

Tangis Ji An lalu pecah, Appa... Appa...


Do Kyung curhat pada Gi Jae. Ia berkata, tentang dirinya yang tidak pernah melakukan apapun untuk Ji An sejak ia pergi dari rumah.

“Aku menyombong karena membelikannya kalung dengan bekerja paruh waktu. Aku membuatkannya sup rumput laut.” Ucap Do Kyung.

“Bagaimana dengannya? Dia sudah melakukan apa untukmu?” tanya Gi Jae.

“Dia membantuku pada rapat pemegang saham. Dia membantuku menyiapkan presentasi. Saat Kakek mencegahku meneken kontrak, dia menunjukkan pabrik kepadaku. Dia mencarikanku mesin bekas. Dia juga menunjukkan barang-barang pelet. Cara membersihkan kulkas dan menggunakan mesin cuci. Barang paket acara. Desain kertas pembungkus. Desain toilet hewan piaraan. Dia bahkan merawatku saat aku sakit. Dia membuatkanku bubur. Ayahnya membantu kami mencabut artikel soal ibuku. Serta dia menjadikanku pimpinan. Aku tidak percaya diriku sendiri.” Jawab Do Kyung.


“Choi Do Kyung, apa yang kau lakukan usai meninggalkan rumah?” tanya Gi Jae.

“Aku hanya mengeluh kepadanya untuk menerima hatiku dan mencintaiku. Kau tahu aku percaya diri bisa meraih hatinya. Walaupun aku pergi dari rumah, aku tidak pergi dari rumah. Aku masih Choi Do Kyung dari Haesung. Aku tidak melakukan yang dia inginkan. Aku tidak pernah membantunya. Dia malah membantuku. Walaupun menolakku, dia tetap membantuku.” Jawab Do Kyung.

“Kau merasa putus asa, bukan?” tanya Gi Jae.

“Aku bahkan tidak berhak merasa bersalah. Aku merasa dipermalukan. Aku tidak percaya diriku sendiri. Aku marah kepada diriku sendiri.” Jawab Do Kyung.


Do Kyung bicara sambil mengepalkan tangannya.


Tuan Seo yang sedang dalam perjalanan pulang bersama istri, anak dan menantunya dapat kiriman SMS dari Seok Doo. Seok Doo mengatakan soal Ji An yang sudah mengetahui uang asuransi Tuan Seo.


Tuan Seo menghela nafas. Ketika melihat Ji An di pinggir jalan, ia menyuruh Ji Tae berhenti.


Ji An duduk sendirian di toserba favoritnya. Tak lama kemudian, Tuan Seo datang dan mengomentari Ji An yang sama sekali tidak menyentuh kaleng birnya. Tuan Seo lantas duduk di hadapan Ji An dan menghibur Ji An. Tuan Seo bilang, ia tidak dioperasi bukan untuk memberikan Ji An uangnya.

“Benarkah?” tanya Ji An.

“Kau tidak dengar dokternya? Jika ada kesempatan, kenapa ayah tidak meraihnya? Ayah juga punya hasrat.” Jawab Tuan Seo.

“Kesempatan satu persen tetaplah kesempatan. Tapi ada kesempatan 10 persen.” Ucap Ji An.

“Lebih kecil dari itu.” Jawab Tuan Seo.

“Tepat sekali. Jadi, kenapa ayah melakukan itu? Kenapa ayah melakukan semua itu saat kondisi ayah seperti ini? Jika tidak dioperasi, ayah setidaknya dikemoterapi. Bagaimana bisa ayah berkeliaran dalam kondisi begitu untuk Haesung? Kenapa ayah bepergian untuk mencari bukti bagi mereka? Ayah sudah hilang akal? Ayah berjalan ke sana kemari di area itu selama berhari-hari. Kenapa ayah melakukan itu? Untuk apa semua itu?” tanya Ji An.

“Ayah melakukannya karena tahu akan pergi. Jika tidak, bagaimana bisa ayah melakukan itu? Jika ayah menganggap ayah sekadar sakit dan akan membaik jika diobati atau dioperasi, ayah tidak akan punya tenaga untuk melakukan semua itu.” Jawab Tuan Seo.

“Jadi, kenapa ayah memakai semua tenaga untuk itu? Ayah seharusnya menghemat setiap tenaga Ayah. Ayah seharusnya memikirkan kepentingan keluarga kita. Lagi pula, siapa orang-orang itu? Kenapa keluarga Haesung berhak menerima bantuan ayah? Karena ayah mengirimkanku, alih-alih Ji Soo, kepada mereka? Aku hanya tinggal dua bulan di sana. Karena ayah mengambil Ji Soo tanpa melaporkannya? Tapi ayah menyelamatkan Ji Soo karena mengambilnya. Ingat perbuatan mereka kepada ayah setelah mengetahui itu? Mereka memukul dan mengancam ayah. Siapa peduli jika mereka kehilangan kendali akan perusahaan mereka? Kenapa itu penting bagi ayah?” protes Ji An.


“Ayah hanya ingin membantu mereka.” Ucap Tuan Seo.

“Kenapa? Apa membuatku tidak khawatir dan menebus kesalahan ayah sepenting itu?” tanya Ji An.

“Kau sudah bertemu dengan kakak Ji Soo? Apa pria itu berkata seperti itu?” tanya Tuan Seo.

“Aku mengakhiri hubunganku dengannya.” Jawab Ji An.

“Jika kau bisa melakukan itu kini, kenapa tidak melakukannya lebih awal?” tanya Tuan Seo.

Ji An pun terdiam.


“Lantas, semuanya kini tidak masalah. Kau putus dengannya dan ayah menebus kesalahan ayah. Kita bisa menikmati waktu yang tersisa dan jalan masing-masing, bukan?” ucap Tuan Seo.

Tangis Ji An pecah, Appa! Appa, aku minta maaf.  Andai aku bilang kepada ayah bahwa ayah tidak menderita kanker dan itu hanya imajinasi ayah...

“Kau terus menyalahkan dirimu sendiri, bukan?” tanya ayah.

“Itu membuatku menggila.” Jawab Ji An.

“Kau tidak dengar dari Ji Tae? Berkat itu, ayah amat bahagia. Sekarang ayah tidak salah sangka atau pun kecewa. Begitulah cara ayah berdamai dengan diri sendiri.” Ucap Tuan Seo.

“Kuharap... Kuharap ayah bisa tinggal dengan kami lebih lama.” Jawab Ji An.

“Sampai kapan? Kapan kau akan berhenti sedih?” tanya Tuan Seo.

“Setidaknya sampai aku menjadi seorang ibu.” Jawab Ji An.

“Sampai ayah punya cucu? Lantas, ayah mau tinggal sampai melihat anakmu bersekolah SD. Berikutnya sampai SMP dan anakmu menikah. Astaga, jika itu berlanjut, akan terlalu sedih bagi ayah untuk pergi. Kematian selalu menyedihkan jika kau memikirkannya. Ayah puas sekarang. Semua orang menjalani hidupnya masing-masing atau akan mencapai tujuannya. Sebagai seorang ayah, hanya itu yang bisa ayah minta. Semua orang pada akhirnya akan meninggalkan dunia ini. Tidak ada yang bisa memperkirakan kapan itu akan terjadi. Untungnya, ayah bisa menyelesaikan urusan ayah. Ayah melakukan semua yang bisa dilakukan seorang ayah. Ayah hidup dengan baik, menimbang keadaannya. Hanya itu yang penting. Ji An-ah, jika ayah tidak masalah pergi, kau juga tidak apa-apa mengantarkan ayah sambil tersenyum.” Ucap Tuan Seo.

Tuan Seo lantas mengelus pipi Ji An.


Ji An pulang bersama ayah. Ia menggandeng lengan ayah, serta menyenderkan kepalanya di bahu ayah.


Saat hampir tiba di depan rumah, Ji Soo tiba2 datang dan menghambur memeluk ayah.

“Appa, saranghae.” Ucap Ji Soo, lalu menangis di pelukan ayahnya.


Tuan Choi yang baru pulang, terkejut saat diberitahu Seohyun tentang perkelahian Nyonya No dan Seketaris Min.

Tuan Choi langsung melihat keadaan istrinya di kamar. Nyonya No yang merasa malu, menutupi wajahnya dengan selimut dan menangis.


Paginya, Nyonya Yang memasakkan sup ikan untuk Soo A. Soo A minta maaf. Ia berkata, kemaren memang sangat ingin makan sup ikan tapi sekarang ia ingin makan hotteok dari stan dekat kantornya.

“Tidak apa-apa. Kedua gadis itu bisa memakannya.” Jawab Nyonya Yang.

Ji An lalu memanggil ayah. Tapi ayah tidak ada di kamarnya.


Tuan Seo ternyata sedang menyapu halaman. Ji An menyusul ayahnya keluar, tapi sang ayah menyuruhnya masuk karena cuaca sangat dingin.

Ji Tae dan Soo A lantas keluar dan pamit bekerja.


Do Kyung menemui kakeknya. Mereka membahas Ji An. Do Kyung marah, ia menuding kakeknya sengaja memanggil Ji An untuk meredam kemarahannya. CEO No pun berusaha menjelaskan, tapi Do Kyung tidak mau mendengar apa-apa lagi dari kakeknya. Ia menyuruh kakeknya pulang ke Hawaii dan memberikan tiketnya.

CEO No marah, tapi Do Kyung tak peduli dan beranjak pergi.


Ji Ho menyuruh ayahnya memeriksa proposal bisnis franchise nya.

Tuan Seo pun sewot.

“Bagaimana bisa kau membuatnya dengan amat ceroboh? Kau tidak pernah melihat harga mesin. Yang penting itu investasi totalnya. Kau harus pergi ke Pasar Bangsan dan meriset harganya, ya? Kirimkan data ini ke kakakmu dan buat menjadi presentasi PowerPoint. Menyusun idemu dengan baik juga penting.” Ucap Tuan Seo.


Ji Tae naik jabatan, ia dipromosikan menjadi manajer.


Nyonya No ke rumah Ji An dan melihat betapa dekatnya Ji An dan Ji Soo. Nyonya No seketika teringat pertengkarannya dengan adiknya.


Ji An dan Ji Soo akhirnya melihat Nyonya No. Nyonya No mendekati mereka dan mengaku ingin bicara pada orang tua Ji An. Ji An masuk duluan ke rumah agar Ji Soo bisa leluasa bicara dengan Nyonya No.


Ji Soo penasaran, ibunya mau bilang apa. Sang ibu mengaku, ingin berterima kasih pada orang tua Ji An. Ji Soo pun berkata, bahwa ayah dan ibunya sedang ada di pasar.

No comments:

Post a Comment