Thursday, June 7, 2018

Ruby Ring Ep 38 Part 2

Sebelumnya...


Gilja pulang ke rumah. Chorim dan Soyoung pun lega mendengar Roo Bi yang sudah sadar. Chorim lalu bertanya, apa Roo Bi harus menginap di rumah sakit.

“Aku ingin membawanya pulang, tapi Roo Bi bersikeras. Roo Bi bilang, dia akan menemani Roo Na.” Jawab Gilja.

“Kita mengatakan Roo Bi banyak berubah, tapi dia masih menjadi kakak yang baik.” Ucap Chorim.

“Tentu saja, Roo Bi bukan gadis biasa.” Jawab Gilja, lalu pergi tidur.


“Eonni, bagaimana Roo Na bisa terluka?” tanya Soyoung.

“Dia jatuh dari tangga. Kakinya yang terluka karena kecelakaan itu masih belum sepenuhnya sembuh.” Jawab Chorim.

“Syukurlah tidak ada hal serius yang terjadi.” Ucap Soyoung.

“Hal mengerikan terus saja terjadi pada Roo Na dan In Soo. Itu menggangguku. Mungkin kita butuh pengusir setan untuk mengusir roh jahat.” Jawab Chorim.

*Setannya ya si Roo Na, siapa lagi. Gemes sy sama Gyeong Min. Pacaran bertahun-tahun, tapi kok gk bisa ngenalin pacarnya sendiri. Dia udah ngerasa, ada yg aneh sama ‘Roo Bi’ tapi diam aja dan menunggu Roo Bi kembali menjadi Roo Bi yg dulu... Sampai Upin Ipin nikah, Roo Bi nya gak bakal kembali menjadi Roo Bi yg dulu... karena dia Roo Na.


In Soo menyusul Roo Na ke parkiran. Dia yakin, Roo Na lah yang membuat Roo Bi jatuh dari tangga.

“Jadi semuanya salahku!” kesal Roo Na.

“Siapa lagi kalau bukan dirimu.” Jawab In Soo.

“Kau salah. Aku tidak perlu melakukan hal-hal seperti itu lagi. Alasannya? Karena kau akan segera menjadi suami adik perempuanku.” Ucap Roo Na.

“Dia kakakmu!” jawab In Soo.

“Terserah kau saja. Masalahnya adalah, ketika kau dan Roo Bi yang memulai pertama kali, aku takut. Jika kita menjadi keluarga, kau akan berhenti menggangguku. Aku benar-benar bahagia sekarang. Kau sudah jatuh cinta pada Jeong Roo Bi. Kau tidak mau kebenarannya terungkap dan menyakiti wanita yang kau cintai, kan?” jawab Roo Na.


Roo Na lalu menanyakan alasan In Soo mau menikahi Roo Bi. Roo Na yakin, In Soo setuju menikah dengan Roo Bi hanya untuk membalas dendam padanya.

“Kenapa kau menanyakan itu? Barusan kau bilang, kau tahu aku sudah jatuh cinta pada Roo Bi dan kau bahagia karena aku akan menikahinya.” Ucap In Soo.

In Soo lalu mengaku bahwa dia sangat bahagia. Saking bahagianya, dia sampai tidak bisa melukiskan kebahagiaannya dengan kata-kata.

“Siapa yang tahu akhirnya aku akan menikah dengan Roo Bi berkat dirimu. Aku tidak menyangka, perbuatan jahatmu menyamar sebagai Jeong Roo Bi adalah berkah bagiku. Gomapta Jeong Roo Na.” Ucap In Soo.

“Geojitmal. Geojitmal hajima. Kau masih mencintaiku. Kau menikahi kakakku agar bisa berada di dekatku selamanya.” Jawab Roo Na.

“Sarang? Jeong Roo Na yang tidak percaya cinta berbicara tentang cinta.” Ucap In Soo.

“Aku saja tidak cukup? Kau menginginkan tubuhku dan jiwa Jeong Roo Bi? Kebenaran tidak akan berubah sebanyak apapun kau menyangkal.” Jawab Roo Na.


“Tentu saja tidak. Dulu aku tertarik dengan wajah dan tubuhmu, tapi sekarang tidak lagi. Orang-orang sepertimu tidak akan paham. Di dunia ini, tidak ada yang lebih berharga daripada hati seseorang.” Ucap In Soo.

“Di dunia ini, tidak ada yang lebih mudah berubah daripada hati seseorang. Apa kau benar-benar berpikir cintamu bisa membuat kakakku bahagia? Mungkin itu hatimu, tapi bagaimana dengan kakakku? Apakah dia mencintaimu? Apakah dia benar-benar bahagia?” jawab Roo Na.

In Soo terdiam.


Roo Na kembali berada di ruangan gelap itu.

“Pernah kah kau melihat hati seseorang? Tidak, kan? Munafik. Hati mereka menginginkan uang dan ketenaran tapi mereka percaya cinta bisa memenangkan semuanya. Begitulah cara mereka menghibur diri. Pecundang menyedihkan.” Ucap Roo Na.


Gyeong Min teringat reaksi Roo Bi, setelah Roo Bi siuman.


Flashback...

“Cheo-je, bagaimana kepalamu? Apa kau masih merasa sakit?” tanya Gyeong Min.

“Cheo-je? Cheo-je?” gumam Roo Bi bingung.

Roo Bi juga tidak mau dipegang In Soo.

Flashback end...


“Ada yang aneh disini, tapi apa? Apa yang aneh?” tanyanya.


Nenek ke kamar Gyeong Min. Gyeong Min pun sudah bisa menebak apa yang mau dibicarakan neneknya. Nenek menasehati Gyeong Min, agar cepat memiliki momongan. Nenek bilang, tidak masalah memiliki banyak anak.

Lalu, nenek menanyakan Roo Na. Gyeong Min berkata, bahwa Roo Na ada di rumah sakit, menemani Roo Bi yang mengalami kecelakaan di tempat kerja.


Keesokan harinya, Nyonya Park menyuruh Se Ra menjenguk Roo Bi. Se Ra pun berkata, kalau ia memang sudah berencana menjenguk Roo Bi.

Se Ra lalu meminta ayahnya memberikan kompensasi pada Roo Bi. Se Ra bilang, Roo Bi jatuh karena lift kantor sedang rusak.

“Aku sudah memeriksanya, ada banyak perusahaan yang membuat pengumuman tentang lift. Dan itu di lantai tiga. Beberapa karyawan bahkan lebih memilih tangga darurat meski lift nya bekerja.” Jawab Tuan Bae.

“Tapi tetap saja dia sedang bekerja.” Ucap Nyonya Park.


Roo Bi memandang keluar jendela dengan tatapan kecewa.


Tak lama kemudian, Roo Na datang. Melihat Roo Bi yang masih terjaga, Roo Na pun menyuruh Roo Bi tidur.

Tapi Roo Bi diam saja. Roo Na lalu berusaha menjelaskan tentang kejadian sebelumnya.

“Kejadian sebelumnya?” tanya Roo Bi.

“Kau tidak ingat? Kau tidak ingat apapun, kan?” ucap Roo Na.

Roo Na lalu menarik napas lega dan memarahi Roo Bi karena tidak hati-hati. Roo Na berkata, lift di kantor rusak jadi Roo Bi menggunakan tangga darurat tapi Roo Bi kehilangan keseimbangan dan terjatuh.

“Apa aku benar-benar sendirian saat aku terjatuh?” tanya Roo Bi.

“Kau ingat sesuatu?” tanya Roo Na.

“Kupikir, aku bersamamu. Kita tidak membicarakan sesuatu, lalu bertengkar sampai aku jatuh kan?”

“Aku ada di sana, tapi aku naik lagi karena terjadi sesuatu. Lalu, setelah itu kudengar kau tidak sadarkan diri di bawah tangga.”


Roo Bi pun kembali memandangi jendela.

“Aku tidak ingat apapun. Kau tahu betul aku menderita amnesia. Sesuatu yang traumatis pasti terjadi, tapi aku tidak ingat.” Ucap Roo Bi.


Roo Na menghela nafas. Tak lama kemudian, ia menyentuh pundak Roo Bi.

“Kau tahu seberapa cemasnya aku? Aku lega kau baik-baik saja.” Ucap Roo Na.

Roo Bi pun kembali menatap Roo Na.

“Eonni, hentikan sandiwara ini. Kau ada di sana bersamaku dan aku jatuh karenamu. Aku tahu. Kau tidak mendorongku, aku jatuh sendiri.” Ucap Roo Bi.

“Jadi kau ingat?” tanya Roo Na.

“Eonni, jangan cemas. Aku tahu kenapa kau marah padaku. Kau harus minta maaf padaku.” Jawab Roo Bi.

“Mianhae, Roo Na-ya. Aku kehilangan kendali karena kau terus mendesakku.” Ucap Roo Na.

“Ara, dan aku kehilangan keseimbanganku.” Jawab Roo Bi.

Roo Na yang sudah tidak tahan lagi menghadapi Roo Bi pun menawari Roo Bi beberapa minuman. Roo Bi mengangguk dan mengatakan, dirinya benar-benar haus.


Setelah Roo Na pergi, Roo Bi pun terduduk lemas. Tangisnya pecah!


Lalu satu demi satu kenangannya bersama Gyeong Min terbayang di benaknya.


Ia juga ingat saat Roo Na merebut dress dan cincinnya.


Terakhir, dia ingat kecelakaan itu.


“Wajahku, wajahku, wajahku.” Tangisnya.


Sekarang, Roo Na sudah tertidur pulas. Roo Bi tak hentinya memandangi Roo Na.

“Roo Na-ya, apa yang kau lakukan padaku? Kau mencuri wajahku. Apa alasannya? Wae? Kenapa kau melakukan ini padaku? Apa salahku padamu? Apa yang harus kulakukan sekarang?  Bagaimana aku bisa hidup sekarang?” batinnya.


Lalu, kita melihat Roo Bi sedang menatap pantulan wajah Roo Na di cermin toilet.

“Ini bukan wajahku. Aku tidak menyukainya! Ini bukan wajahku. Gyeong Min-ssi, Gyeong Min-ssi. Apa yang harus kulakukan? Apa?”

Tangisnya pun kembali pecah. Ia menangis sambil memukuli kaca toilet.


Keesokan harinya, Roo Bi meninggalkan rumah sakit diam-diam.


Ia menyusuri sepanjang jalan sambil mengingat-ingat kenangannya bersama Gyeong Min.


Roo Bi terus berjalan dan berjalan sambil memikirkan semuanya. Ia ingat ketika Roo Na menamparnya saat ia masih kehilangan ingatan. Ia juga ingat saat berdiri di kapal pesiar bersama In Soo.


Ia ingat saat In Soo dirawat di rumah sakit. Terakhir, ia ingat ketika In Soo melamarnya.


Hingga akhirnya, langkahnya berhenti saat ia tak sengaja menatap wajahnya di kaca pintu sebuah kafe dengan mata berkaca-kaca.


No comments:

Post a Comment