Monday, July 30, 2018

Live Up To Your Name Ep 8 Part 2

Sebelumnya...


Ddak Sae mengaku pada Doo Chil kalau ia membawa makanan yang tadi Doo Chil tinggalkan  dan memberikan makanan itu pada Doo Chil. Doo Chil pun kesal dan meminta kakaknya tidak melakukan itu lagi. Ia juga mencampakkan makanan itu ke tanah.

"Aku ingin memberikannya kepadamu. Kamu menyukainya saat masih bayi." ucap Ddak Sae, lalu memungut makanan itu.

"Memang aku terlihat seperti bayi?" protes Doo Chil.

Doo Chil lantas menyuruh kakaknya berhenti melakukan itu. Ia tak mau kalau kakaknya sampai dipukuli lagi.

"Lihat tangan Kakak. Astaga." ucap Doo Chil, lalu membersihkan tangan kakaknya.


Saat itulah, Ddak Sae melihat Im yang diseret pengawal istana. Ddak Sae pun berseru dan Doo Chil langsung menyuruh Ddak Sae pulang. Ia sempet kesal melihat Ddak Sae cengar cengir saja saat ia memberitahu arah pulang.


Im dijebloskan ke penjara oleh pengawal istana. Ia pun panic dan bertanya-tanya, untuk apa Tabib Yoo membawa Yeon Kyung.

"Apa kau akan kabur lagi?" tanya seseorang tiba-tiba. Im menoleh dan terdiam melihat sosok Heo Jun.

"Kau selalu memikirkan cara untuk kabur dari masalahmu." ucap Heo Jun.


Doo Chil berdiri di depan gerbang istana dan berusaha mengintip ke dalam. Ia yakin, Im sudah melakukan kejahatan besar sehingga diseret ke penjara. Lalu, ia bertanya-tanya apakah Im akan dibunuh. Ia tak rela, Im mati di tangan orang lain.


Tak lama kemudian, seorang pria datang dengan napas terengah-engah dan menyuruh Doo Chil pulang.


Di penjara, Im dan Heo Jun berbicara.

"Jika dilihat dari rambutmu, kau pasti tidak kembali secara sukarela." ucap Heo Jun.

"Kenapa anda dikurung di sini?" tanya Im.

"Aku membawa tabib gadungan tidak berpengalaman kepada Raja. Aku mendapat ganjarannya." jawab Heo Jun.

Im pun berusaha menjelaskan kalau itu adalah sebuah kesalahan. Heo Jun tertawa sinis, kesalahan siapa? Wadah jarummu?

Im terkejut Heo Jun membahas wadah jarumnya.

"Anggap saja itu memang kesalahan. Kau tidak tahu tabib istana ditakdirkan harus menyerahkan segalanya jika melakukan satu kesalahan? Bukankah aku sudah memperingatkanmu? Bahwa kau harus mempertaruhkan nyawamu. Kini kau akan membayar kesalahanmu. Baguslah." ucap Heo Jun lagi.

"Anda pasti marah. Karena tabib gadungan ini, semua kerja keras anda sia-sia." jawab Im.

"Kau tidak muak membicarakan latar belakangmu? Makanya kau mendapatkan harga dirimu dengan mengobati pejabat menggunakan jarummu? Rasa frustrasimu hilang saat menimbun harta yang bahkan tidak bisa kau habiskan?" tanya Heo Jun.

Im pun marah, Yeonggam!

"Jadi bagaimana rasanya  dunia tanpa kelas sosial? Berbeda dari tempat ini? Pikirmu kau bisa melakukan apa yang tidak bisa lakukan disini? " tanya Heo Jun.


"Bagaimana anda tahu?" tanya Im kaget.

"Kau masih tidak mengerti?  Pemikiranmu yang salah terhadap dunia membawamu ke jalan yang salah sebagai seorang tabib." jawab Heo Jun.


Lalu, paman Tabib Yoo memerintahkan pengawal istana membebaskan Heo Jun karena Raja ingin Heo Jun ikut dengannya lari dari Hanyang. Ia juga mengatai Im dengan mengatakan bahwa Im adalah bedebah yang tidak beruntung dan menyuruh pengawal mengawasi Im. Puas mengatai Im, paman Tabib Yoo pun pergi.


Heo Jun berusaha menyadarkan Im, bahwa Im menjadi seorang tabib karena bakat Im bukan karena jarum akupuntur Im.

Mendengar kata-kata Heo Jun, Im seolah tersadar.


Makgae mengintip ke dalam rumah Tabib Yoo. Ia bertanya-tanya, siapa sebenarnya Yeon Kyung. Lalu ia melihat seorang pelayan wanita menuju sebuah kamar membawa makanan. Tak lama kemudian, ia juga melihat Tabib Yoo menuju ke kamar itu.


Yeon Kyung mencoba kabur. Ia berusaha membuka pintu, tapi gagal. Lalu, ia mengambil taser nya namun alat itu sudah tidak berfungsi.


Tak lama, si pelayan datang membawakannya makanan. Ia pun heran sendiri. Kemudian, Tabib Yoo masuk.

"Apa yang mau kau lakukan?" tanya Yeon Kyung.

"Aku tidak berusaha melakukan apapun. Aku ingin meminta maaf atas sikap kasarku padamu waktu itu dan ingin mengobrol denganmu sedikit, jadi aku membawamu kesini." jawab Tabib Yoo.

"Apa kau tidak sadar sudah berbuat kasar?" tanya Yeon Kyung.

"Benar, kukira kau ditahan beberapa penjahat. Jika aku tahu siapa keluargamu, aku akan meminta tandu untuk membawamu kembali." jawab Tabib Yoo.


"Aku tak butuh tandu. Cukup beritahu dimana pintu keluarnya. Aku harus segera pergi..." Yeon Kyung terdiam karena menyadari sesuatu. Lalu tiba-tiba, ia bersikap manis pada Tabib Yoo dan memutuskan istirahat sebentar.

Tabib Yoo tersenyum dan menuangkan minuman untuk Yeon Kyung.

Lalu, Yeon Kyung menanyakan soal maksud perkataan Tabib Yoo tadi. Tabib Yoo pun dengan senang hati bercerita kalau Im adalah orang rendahan yang sombong karena punya kemampuan mengobati seseorang.

"Ia mencoba mengobati sakit migrain Raja tapi tangannya gemetar saat melakukannya." Tabib Yoo lantas tertawa.

Tabib Yoo juga menceritakan tentang Im yang mencoba menyerang pengawal istana. Tak hanya itu, ia juga bilang kalau Im akan segera dihukum mati.

Mendengar itu, Yeon Kyung pun cemas setengah mati.


Tabib Yoo lalu mengembalikan sepatu Yeon Kyung yang tertinggal. Ia bertanya, terbuat dari bahan apa sepatu Yeon Kyung dan apa kegunaannya.

"Kegunaannya untuk ini sialan!" jawab Yeon Kyung lalu menampar Tabib Yoo dengan sepatunya.


Setelah itu, ia kabur. Tabib Yoo pun bergegas mengejar Yeon Kyung tapi ia terjatuh di terasnya.

Melihat itu, Makgae pun tertawa. Ia tidak menyangka, Yeon Kyung bisa membuat Tabib Yoo kelimpungan.


Pengawal Tabib Yoo mengejar Yeon Kyung. Yeon Kyung berlari. Di tengah jalan, ia bertemu Makgae yang menyuruhnya bersembunyi.

Pengawal Tabib Yoo pun kehilangan jejak Yeon Kyung.


"Apa yang terjadi? Kenapa dia berusaha menangkapmu?" tanya Makgae.

"Aku tidak tahu. Dia orang asing." jawab Yeon Kyung.

Yeon Kyung lalu memberitahu Makgae kalau Im dibawa ke istana dan dia harus pergi ke sana. Makgae pun menyuruh Yeon Kyung ikut dengannya karena dia juga mau ke istana.


Tapi saat mau pergi, seorang pengawal menghampiri mereka.

Nugu? Pengawalnya Heo Jun! Yeon Kyung dibawa ke tempat Heo Jun.


"Selamat datang, Choi Yeon Kyung Sonsaeng." ucap Heo Jun.

"Kau mengenalku?" tanya Yeon Kyung kaget.

"Kau menyebut tabib sebagai dokter di duniamu, bukan? Sebutan mereka berbeda di sini." ucap Heo Jun.

"Bagaimana kau tahu?" tanya Yeon Kyung.

Heo Jun tidak menjawab dan mengembalikan tas Yeon Kyung.

"Aku mengambil permen di tasmu tanpa seizinmu. Rasanya menyenangkan makan sesuatu yang sangat kurindukan. Itu sangat membantuku menjalani hidup di penjara." ucap Heo Jun.

"Siapa anda?" tanya Yeon Kyung.

"Kita akan bicara soal hubungan kita saat waktunya tiba. Jika ramalanku benar, kurasa kita akan segera bertemu lagi." jawab Heo Jun.


Heo Jun lantas mengingatkan Yeon Kyung soal Im. Yeon Kyung terkejut pria di hadapannya juga mengenal Im.

"Pria itu... setelah kupikir sudah cukup lama aku tidak memakai kata itu. Itu juga sebutan bersahabat untuk memanggil orang lain, kan?" ucap Heo Jun lagi.

Yeon Kyung tambah bingung.


Di penjara, Im memikirkan kata-kata Heo Jun.

"Pemikiranmu yang salah terhadap dunia membawamu ke jalan yang salah sebagai seorang tabib." ucap Heo Jun.


Lalu ia teringat saat Heo Jun menyuruhnya bekerja di Haeminseo.


Setelah bertahun-tahun, ia melihat sebuah daftar dan tidak menemukan namanya di sana.

"Dia sudah lama sekali menjadi tabib kepala di Haeminseo. Itu pasti karena latar belakang kelas keluarganya yang rendah. Ini seperti pohon yang bahkan tidak bisa dia panjat." ucap tabib lain.

Kita lalu mendengar narasi Im.

"Meski semua itu terjadi, aku tidak putus harapan."


Im kemudian mendengar kabar bahwa istana sedang mempertimbangkan untuk mempekerjakan dirinya. Tapi lagi- lagi ia harus menerima kenyataan pahit, bahwa orang rendah sepertinya tidak akan pernah bisa mengobati keluarga Raja.


"Apakah salah jika aku menjadi seperti ini? Lalu bagaimana dengan peristiwa dua tahun silam?" ucap Im.


Heo Jun bercerita, kalau Im sudah melalui banyak peristiwa yang menyakitkan dan tidak ada yang bisa menghiburnya.

"Dulu dia tabib yang baik. Dunia jelas membutuhkannya. Tapi tidak akan mudah mengubahnya kembali. Hanya kau yang bisa mengubahnya." ucap Heo Jun.

"Kenapa anda mengatakan hal ini kepadaku?" tanya Yeon Kyung.

"Kau sudah berada dalam takdirnya. Pasti ada alasan kalian sampai bertemu dan pergi kemari bersama. Memang akan sulit, tapi kuharap kau bisa menjadi teman pria itu. Kita akan bicara panjang lebar saat bertemu lagi." jawab Heo Jun.


Malam pun tiba. Di penjara, Im teringat saat Heo Jun tiba-tiba saja membahas wadah jarumnya.

Lalu, ia mengambil wadah jarumnya dan teringat saat ia menemukan wajah jarum itu di kamarnya sebelum pergi mengobati Raja.

"Ini bukan punyaku." ucap Im.

Setelah itu, ia ingat ketika wadah jarumnya mengikutinya sampai ke Seoul.

"Ternyata kau." ucap Im setelah menyadari sesuatu soal wadah jarumnya.


Seorang penjaga datang, memberitahu Im kalau ada perintah untuk memindahkan Im besok pagi ke Provinsi Chungchung dan tempat itu sudah hancur karena serangan Jepang. Im pun kaget. Lalu ketika penjaga hendak pergi, Im memanggilnya dan menanyakan wanita yang datang bersamanya.

"Mana mungkin aku tahu?" jawab si penjaga.

Im panic, ia cemas memikirkan nasib Yeon Kyung.


Kemudian, Doo Chil datang bersama penjaga lain. Penjaga memberitahu Im, kalau menteri perang memberi perintah untuk membebaskan Im selama semalam.

Lalu, penjaga bicara dengan Doo Chil. Menyuruh Doo Chil mengembalikan Im sebelum pagi datang.


Setelah itu, Doo Chil membawa Im pergi. Pengawal Heo Jun diam-diam mengikuti mereka.


Im tidak percaya kalau menteri pertahanan ingin bertemu dengannya. Langkah Doo Chil tiba-tiba saja berhenti. Im pun langsung bersikap waspada. Pengawal Heo Jun juga siap dengan pedangnya. Ketika Doo Chil berbalik, Im yang mengira Doo Chil akan menyerangnya, sudah siap membela dirinya dan pengawal Heo Jun juga siap dengan pedangnya. Tapi Doo Chil... pria itu justru berlutut, bukan menyerang Im.

"Tolong bantu aku, Tabib Heo!" pinta Doo Chil, membuat Im keheranan setengah mati.


Yeon Kyung keluar dari rumah Heo Jun. Makgae bertanya, bagaimana Yeon Kyung bisa mengenal Heo Jun.

Yeon Kyung pun kaget, Heo Jun?

"Kau tidak boleh memanggil orang yang lebih tua dengan nama saja." ucap Makgae.

"Heo Jun yang menulis Prinsip dan Praktir Pengobatan dari Timur?" tanya Yeon Kyung.

"Tulis apa?" tanya Makgae bingung.

"Ini konyol." jawab Yeon Kyung.

"Dengar. Kita tidak punya banyak waktu. Kita harus menemukan Tabib Heo." ucap Makgae.

"Dimana dia? Apa yang terjadi padanya?" tanya Yeon Kyung.

Makgae pun meminta Yeon Kyung ikut dengannya.


Doo Chil membawa Im ke bangsal pelayannya. Im terkejut melihat Ddak Sae yang terbaring lemah penuh luka.


Makgae mengomel karena Yeon Kyung berjalan sangat lambat. Yeon Kyung berkata, kalau ia tidak menyangka akan menempuh perjalanan sejauh itu. Lalu, Yeon Kyung mengajak Makgae istirahat.

Makgae pun bertanya. Ia mengaku sudah lama penasaran dengan hubungan antara Yeon Kyung dan Im. Tapi Yeon Kyung malah balik bertanya. Ia juga mengaku penasaran, kenapa Makgae selalu memakai baju laki-laki.

"Aku laki-laki." jawab Makgae.

"Aigoo." ucap Yeon Kyung, lalu memukul pelan bahu Makgae.

"Matamu sangat tajam." jawab Makgae.

"Apa Tabib Heo tahu kau perempuan?" tanya Yeon Kyung.

"Hanya Tabib Heo yang tahu." jawab Makgae.

Yeon Kyung pun tertegun mendengarnya. Makgae lalu berdiri. Ia meminta tas Yeon Kyung yang satunya, lalu menyandangnya dan mengajak Yeon Kyung pergi.


"Beberapa hari yang lalu, Tuanku membawa seorang selir muda. Dia mudah marah. Dia keluar membeli kudapan. Dia pasti mencuri kudapan itu. Hal ini pasti membuat selir itu kesal. Tuanku marah sekali. Kakakku yang malang. Hal ini terjadi hanya karena dia mencuri ini." ucap Doo Chil.

Doo Chil lantas memohon agar Im menyelamatkan kakaknya. Tapi Im bilang, Ddak Sae tetap akan mati jika ia mengobatinya. Dan Doo Chil juga bisa terluka. Mendengar itu, Doo Chil marah. Ia bersumpah, akan membunuh Im kali ini jika Ddak Sae sampai mati.

"Aku tahu ibuku tidak memiliki kesempatan untuk hidup meski kau memberinya pengobatan akupunktur hari itu. Aku masih ingin membalas dendam untuknya. Aku menyuruhnya pulang sendiri karena berusaha menemukanmu. Dia seperti ini karena aku. Bahkan jika ibuku mati seperti itu, aku tidak bisa membiarkan kakakku mati begitu saja. Dia terlahir agak cacat dan diabaikan semua orang. Dia tidak pernah diperlakukan seperti manusia." ucap Doo Chil.

Doo Chil terus merengek agar Im mengobati Ddak Sae.


Yeon Kyung dan Makgae mengintip ke dalam rumah menteri pertahanan. Mereka lalu mendengar kata-kata salah satu pelayan yang mengatakan bahwa Im sedang mengobati Ddaksae.

"Dia tidak bisa melakukan itu. Tabib Heo tidak boleh mengobatinya." ucap Makgae.

"Apa maksudmu? Siapa orang yang di dalam itu dan kenapa dia tidak boleh mengobatinya?" tanya Yeon Kyung.

"Tabib Heo banyak berubah setelah kejadian itu. Jika hal seperti itu terjadi lagi, dia tidak akan pernah... tidak akan pernah..."

"Katakan padaku. Apa yang akan terjadi kepadanya?" pinta Yeon Kyung.


Di dalam, Im mengobati Ddak Sae setelah teringat kata-kata Yeon Kyung kalau dokter tidak boleh meninggalkan pasien yang sekarat.


Diluar, Makgae bercerita kalau Im dulunya tabib yang baik. Im selalu menolak mengobati para bangsawan tapi tidak pernah menolak mengobati rakyat miskin.


Makgae pun menangis. Ia memberitahu Yeon Kyung, kalau suatu hati Im mengobati seorang budak wanita yang sudah tua. Tapi ketahuan oleh majikan wanita itu yang dulunya pernah ditolak oleh Im. Karena hal itu, Im pun dihukum hingga nyaris meninggal sementara si budak wanita yang diobati Im dengan sepenuh hati, meninggal dunia.


Putri si budak itu berusaha membalaskan dendam ibunya tapi dicegah oleh Im.


Yeon Kyung pun menggenggam tangan Makgae. Ia sadar, bahwa putri si budak wanita itu adalah Makgae.


Ddak Sae yang diobati Im mulai siuman, tapi hal yang dulu terjadi pada Makgae berulang kembali. Mereka ketahuan oleh menteri pertahanan.

"Kau ingin mati karena mengobati budakku di rumahku ini tanpa seizinku. Kau adalah penjahat yang sedang diburu karena menghina Raja. Lancang sekali dirimu. Aku sudah tahu kau berasal dari kelas rendahan, tapi aku tidak tahu kau sekonyol ini. Kau tidak tahu diri hanya karena bangsawan korup memujimu dengan mengatakan kemampuanmu bagus. Kau tidak tahu, kau hanya anjing yang makan makanan yang kami berikan dan menggoyangkan ekormu untuk kami." hina si menteri pertahanan.

Menteri pertahanan lantas menyuruh orangnya membunuh Ddak Sae.


Ddak Sae pun dibunuh dengan cara yang kejam. Setelah Ddak Sae tewas, menteri pertahanan juga menyuruh orangnya membunuh Doo Chil.


Melihat itu, Im pun terpaksa merendahkan harga dirinya.

"Daegaaam, aku melakukan dosa besar! Aku darah rendah yang tak tahu kedudukan! Aku selalu mengecewakan tuan! Tuan selalu benar! Seperti kata anda, aku hanyalah seekor anjing yang diberi makan oleh bangsawan dan menggoyangkan ekorku untuk mereka. Aku lebih buruk daripada anjing dan babi. Aku rela mati berulang kali untuk meredakan rasa marah Anda. Tapi tangan a nda akan kotor jika anda membunuh orang rendahan dan hina seperti kami." ucap Im.

Tangis Im sudah pecah. Ia lantas meminta ampun pada menteri pertahanan.


Doo Chil juga menangis disamping jasad kakaknya.


Menteri pertahanan lalu menyuruh orangnya memenjarakan Im dan Doo Chil. Ia berjanji, akan mempertimbangkan permintaan Im jika Im dan Doo Chil masih hidup beberapa hari lagi.

Menteri pertahanan juga menyuruh orangnya membuang tubuh Ddak Sae ke gunung.

Orang2 menteri pertahanan pun mulai menyeret Im dan Doo Chil ke penjara.

Yeon Kyung menangis melihat Im. Im pun juga menatap Yeon Kyung dengan lirih.

Bersambung..........

1 comment:

  1. Mewek dah, kasian banget sama Ddak Sae...
    Km semangat...

    ReplyDelete