Monday, July 2, 2018

Ruby Ring Ep 47 Part 2

Sebelumnya...


Gilja melamun, memikirkan pertengkaran Roo Bi dan Roo Na tadi.

Di depannya, Soyoung terus mengelap meja sambil beberapa kali melirik Gilja.

Tapi di dapur, Dongpal dan Chorim malah bercanda. Gilja yang merasa terganggu pun, masuk ke kamarnya.


Dongpal dan Chorim merasa mereka pernah hidup bersama di kehidupan masa lalu. Chorim berkata, di kehidupan masa lalu, dirinya adalah seorang putri sementara Dongpal pangeran kodok. Dongpal pun kesal, ia tidak mau jadi pangeran kodok.

"Bagaimana kalau Raja Euija dari Baekjae?" tanya Chorim.

"Yang memiliki 3000 wanita? Aku suka itu. Itu masuk akal."  jawab Dongpal.

Chorim pun kesal dan langsung menjejalkan handuk ke wajah Dongpal.

"Semua laki-laki sama saja. Darimana kau mendapatkan kepercayaan dirimu itu?" sewot Chorim.

"Kau pikir darimana? Tentu saja dari wajahku yang sempurna ini." ucap Dongpal.


Chorim pun kembali memukuli Dongpal dengan handuk. Mereka lalu tertawa. Tapi begitu Soyoung datang, mereka langsung diam. Soyoung memarahi mereka yang tidak tahu situasi dan kondisi. Chorim balik memarahi Soyoung. Ia tidak terima dimarahi Soyoung tapi Dongpal membela Soyoung. Ia merasa, kata-kata Soyoung ada benarnya.


Dongpal lantas beranjak keluar dari dapur dan pergi ke kamar Gilja. Ia berdiri di depan kamar Gilja dan minta diri. Tapi Gilja tidak menyahut. Dongpal pun mengira Gilja sudah tidur. Dongpal pamit pada Chorim dan Soyoung. Setelah itu, ia beranjak pergi.


Chorim pun menggerutu karena Gilja hanya mengantarkan Gyeong Min dan In Soo keluar, tapi tidak dengan Dongpal. Ia merasa, Chorim tidak menganggap Dongpal sebagai bagian dari keluarganya. Soyoung membela Gilja. Ia berkata, Gilja mungkin sedang tidur. Tapi Chorim balik memarahi Soyoung.


Gyeong Min kumpul2 dengan keluarganya. Nenek bertanya, apa Roo Na sakit?

"Aku pikir dia hanya lelah. Dia merasa pusing." jawab Gyeong Min.

"Pusing? Apa lagi?" tanya nenek.

"Dia merasa mual, seperti mabuk." jawab Gyeong Min.

"Mungkin kah dia...?" tanya nenek.

"Aniyo, halmeoni. " jawab Gyeong Min.

"Bagaimana kau tahu? Bisa saja dia memang hamil." ucap Nyonya Park.

"Aniyo, dia tidak hamil. Jika dia hamil, kami akan tahu duluan. " jawab Gyeong Min.

"Aku hanya khawatir. Aku mungkin membuatmu stress, jadi aku tidak mengatakan apa-apa. Tapi aku benar-benar mengandalkanmu." ucap nenek.

"Halmeoni, kau mengaku tidak mengatakan apa-apa tapi bukan itulah yang kami rasakan.

Sepanjang hari, kau mengatakan, 'cucu, cucu' setiap ada kesempatan." jawab Se Ra.


"Dalam kasus ini, suara tangis bayi akan membuat keluarga ini semakin dekat." ucap nenek.

"Ibu mertuamu baik-baik saja, kan? Dia mengatakan sesuatu tentang pernikahan Roo Na?" tanya Nyonya Park.

"Tidak." jawab Gyeong Min.

"Dia pasti merasa kesepian setelah Roo Na menikah." ucap Tuan Bae.

"Adik Roo Bi akan segera menikah tapi lihatlah Se Ra, tidak ada yang melamarnya." jawab nenek.


Di kamarnya, Roo Na stress memikirkan kata-kata Roo Bi tadi.


In Soo pun juga memikirkan kata-kata Roo Bi, bahwa Roo Na sudah menghancurkan hidupnya. Bahwa dirinya tidak bisa memaafkan Roo Na. In Soo curiga, ingatan Roo Bi sudah kembali.


Gilja menghela nafas. Ia masih sedih mengingat pertengkaran Roo Bi dan Roo Na tadi.

Lalu, Gilja teringat saat Gyeong Min memakan olahan kepitingnya dengan lahap.

"Haruskah aku mengirimkan itu untuknya?" tanyanya.


Di dapur, Chorim sedang menyiapkan olahan kepiting untuk Dongpal. Tapi tiba-tiba saja, Gilja datang dan sewot karena Chorim mau memberikan kepiting itu untuk Dongpal. Chorim berkata, itu karena Dongpal sangat menyukai kepiting.

"Aku yang memasak ini jadi akulah yang berhak memutuskan mau kuberikan pada siapa. Lagipula,

Dongpal menghabiskan semua kepiting. In Soo tidak sempat mencicipinya karena harus mengejar Roo Na." jawab Gilja.

Gilja lalu menyuruh Chorim memberikan mie nya saja pada Dongpal

"Kau tidak adil! Kami mungkin belum menikah tapi Dongpal tetaplah yang paling tua. Kenapa kau mendiskriminasikannya? Apa karena dia tidak punya yang dan hanya tukang cuci piring di restoran kita jadi kau memandang rendah dia?" sewot Chorim.

"Aku tidak pernah merendahkannya." ucap Gilja membela dirinya.

"Kau merendahkannya. Dongpal akan segera menjadi paman Roo Bi dan Roo Na tapi kau meremehkannya di depan kedua menantumu dan kau bahkan tidak mengatakan apapun saat dia pergi! Aku pikir kau akan sangat baik tapi kau picik dan dangkal!" jawab Chorim.

"Komo!"

"Kita semua bilang, Roo Bi berubah tapi bukan cuma dia yang berubah. Kau lah yang berubah, bahkan lebih parah!"

Setelah mengatakan itu, Chorim pun mengambil kotak makanan berisi mie dan beranjak pergi.

Gilja pun kesal. Ia bilang, Chorim lah yang berubah karena dibutakan oleh cinta.


Di kamarnya, Roo Na masih gelisah memikirkan Roo Bi. Ia yakin, Roo Bi menyembunyikan sesuatu. Tak lama kemudian, ia cemas. Ia takut jika ingatan Roo Bi benar-benar pulih. Untuk memastikannya, Roo Na menghubungi Roo Bi. Roo Bi pun meminta Roo Na mendoakannya, agar ingatannya cepat pulih. Setelah itu, ia memutuskan panggilan begitu saja dengan alasan mengantuk.


Roo Na pun tambah stress.


Dongpal menatap Jihyeok yang hanya menyantap ramen sebagai makan malam dengan perasaan bersalah. Ia ingat makanan yang disantapnya di rumah Chorim tadi. Lagi asyik2 makan, Chorim tiba2 datang. Jihyeok pun mengerti. Ia langsung berhenti makan dan bersembunyi di dalam lemari.


Dongpal membukakan pintu. Ia senang saat tahu Chorim membawakannya mie. Tapi Dongpal hampir saja keceplosan, mengatakan kalau Jihyeok sangat menyukai mie. Tapi untung dia buru-buru sadar. Setelah mengambil apa yang dibawa Chorim, Dongpal langsung menyuruh Chorim pulang tapi Chorim tidak mau dan mengajak Dongpal minum teh dulu.


Di dalam, Chorim mengaku ingin minum teh hijau sambil memajukan bibirnya. Chorim lalu mendekati Dongpal dan berulang kali mengatakan ingin teh hijau. Mengerti apa yang ada di pikiran Dongpal, Dongpal pun mendorong Chorim dan langsung ke dapur membuatkan Chorim teh.


Sambil minum teh, Chorim bertanya kapan mereka akan melakukannya. Dongpal pun berkata, mereka harus menikah terlebih dahulu baru bisa melakukan itu. Chorim tertawa, lalu menjelaskan kalau maksudnya pernikahan mereka. Kapan mereka akan menikah. Chorim takut Dongpal berubah pikiran.

"Kau anggap aku ini apa?" tanya Dongpal.


Ponsel Chorim tiba-tiba berdering. Pesan dari Gilja yang menyuruhnya pulang jika tak ingin gosip aneh beredar di lingkungan mereka.

Chorim pun kesal Gilja memperlakukannya seperti itu. Mengetahui itu pesan dari Gilja, Dongpal menyuruh Chorim pulang. Tapi Chorim minta diantar. Dongpal pun menolak dengan alasan sakit perut dan harus ke kamar mandi.


Begitu Chorim pergi, Dongpal pun bergegas mengeluarkan Jihyeok dari lemari.

Dongpal menyuruh Jihyeok makan mie yang dibawa Chorim karena mie instant yang tadi dimakan Jihyeok sudah dingin. Tapi Jihyeok mengaku sudah tidak lapar.

"Apa kau akan menikah dengan wanita itu?"

"Aku akan meminta persetujuanmu dulu."

"Aku baik-baik saja. Kau harus bahagia. Aku baik-baik saja, jadi jangan cemas." jawab Jihyeok, membuat Dongpal terdiam.


Roo Na sudah mulai kembali ke kantor. Di lift, para karyawan sibuk bergosip soal dirinya. Begitu pintu lift terbuka, Roo Na buru-buru keluar dari lift. Ia tak tahan dengan omongan seisi kantor.

Bersambung...

No comments:

Post a Comment