Saturday, September 22, 2018

Live Up To Your Name Ep 15 Part 2

Sebelumnya...


Direktur Ma yang baru tiba di RS, langsung dikeburungi wartawan.

Mereka meminta penjelasan Direktur Ma terkait penyuapan yang dilakukan Direktur Ma untuk memalsukan catatan medis.

"Kau dikenal sebagai Heo Jun modern, tolong berikan pernyataan untuk publik yang kecewa." pinta wartawan.


Di ruangannya, Direktur Ma menghubungi Presdir Yang dan Presdir Park. Tapi mereka tidak mau membantu Direktur Ma.

Harapan Direktur Ma yang terakhir adalah Presdir Min. Tapi Presdir Min malah pura-pura tidak mengenalnya.

Presdir Min juga memberitahu, bahwa dewan direksi akan segera mengumumkan sesuatu.


Kesal, Direktur Ma membanting ponselnya. Ia berniat membunuh Im.

Tepat saat itu, Jae Ha datang dan memberitahu kakeknya bahwa Im sudah balik ke Joseon.

Direktur Ma kesal, Im datang dan pergi seenak jidat.

*Ngapa elu yg kesal, suka2 dia dong mau datang dan pergi seenak jidat.

Jae Ha memberitahu kakeknya bahwa Im kembali ke Joseon untuk menyelamatkan nyawa seorang pasien.

"Dia sudah menahan rasa sakitnya dengan menusuk jantungnya sendiri." ucap Jae Ha.


"Dia melakukan hal gila sekarang!" umpat Direktur Ma.

"Apa kakek pernah melakukan hal seperti itu sebagai seorang dokter? Apa kakek pernah menahan rasa sakit demi menyelamatkan satu orang saja?" tanya Jae Ha.

"Apa yang mau kau bilang sebenarnya?"

"Saat orang kepercayaan kakek berpaling, saat kakek merasa sendirian, panggil aku saat itu. Hanya aku yang kakek punya saat ini." jawab Jae Ha.

Jae Ha lalu beranjak pergi.


Pagi harinya, Im memeriksa nadi Yeon Yi. Ia pun tersenyum.

Yeon Yi lantas terbangun.

Im berterima kasih karena Yeon Yi sudah bertahan.

Ayah Yeon Yi terbangun. Melihat putrinya sembuh, ia berterima kasih pada Im.

Ia kemudian mengaku, jika terjadi sesuatu pada putrinya, ia akan ikut dengan putrinya. Tapi Im sudah menyelamatkan nyawa putrinya yang berarti juga menyelamatkan nyawanya.


Im beranjak keluar dan melihat orang-orang yang terluka.

Lalu, ia melihat Heo Jun yang tengah meracik obat.


"Kenapa kau tidak mengikuti Raja? Berada di samping Raja adalah tempat teraman untuk saat ini." ucap Im.

"Kau sendiri kenapa kembali ke sini? Dunia itu lebih aman."

Im tersenyum sinis karena Heo Jun membalikkan pertanyaannya.

"Kenapa Yeon Yi tinggal di tempatmu?"

"Kau marah karena aku yang merawat anak yang kau telantarkan? Setelah kau pergi, aku mengetahui apa yang terjadi dan mencari anak itu. Aku berpikir, kau tidak akan bisa hidup sebagai dokter waktu kau kembali ke sini jika terjadi sesuatu padanya."

"Kau masih berpikir aku akan kembali?"


"Itu sesuatu yang harus kau tanyakan sendiri." jawab Heo Jun.

Im kemudian mengeluarkan wadah jarumnya.

"Kudengar ini punyamu." ucap Im.

"Itu bukan punyaku. Aku tidak tahu apa rahasia benda itu, bagaimana asal mulanya dan bagaimana bisa berakhir pada seseorang tapi aku juga mendapatkan kesempatan menjadi dokter lagi berkat benda itu. Itu saja yang kutahu. Aku rasa itu karena aku harus melindunginya." jawab Heo Jun.

"Melindungi?" tanya Im.

"Dokter jarang pada saat seperti ini  terutama dokter yang berbakat. Pasti ada sebabnya jarum itu memilihmu terutama saat kita berperang. Jika tebakanku benar, kau pasti tahu arti dan nilai kemampuanmu." jawab Heo Jun.


Sontak, Im teringat kata-katanya pada Heo Jun saat Heo Jun menunjuknya mengobati Raja.

"Diatas semua itu, pengobatan sulit didapatkan dan biasanya mahal tapi akupuntur hanya memelurkan moksa dan jarum. Itu adalah perawatan sempurna untuk orang miskin."


Heo Jun berkata lagi.

"Kau bilang tidak akan membawa kenangan apapun di sini kesana. Tapi kau kembali dengan kemauanmu sendiri dan menyelamatkan anak itu di saat berbahaya seperti ini. Pilihan itu tidak salah."

"Ini pola apa?" tanya Im.

"Kau pasti sudah melalui banyak hal. Itu adalah pencerahan yang kau temukan dan perkembangan kesempatanmu sebagai dokter." jawab Heo Jun.


Im lalu memperhatikan pola di wadah jarumnya.

"Aku belum pernah melihat ini." ucap Im.

"Ini pasti tentang waktu." jawab Heo Jun, mengagetkan Im.


Kakek sudah siuman. Yeon Kyung menggenggam tangan kakeknya dan mengaku, sulit baginya melakukan operasi pada kakek.

"Jadi hiduplah yang lama dan sehatlah denganku." pinta Yeon Kyung.

"Aku pikir cucuku yang berharga pandai dalam menyelamatkan orang. Tapi aku salah. Dia dokter yang juga pandai menyembuhkan pikiran orang." jawab kakek.

Yeon Kyung tersenyum mendengarnya.

Yeon Kyung lalu bertanya, apa Im juga tahu penyakit kakek?

Yeon Kyung memberitahu kakek kalau Im menyuruhnya menjaga kakek sebelum pergi.

"Kyung-ah, kau bilang mau menjadi dokter oriental tapi saat kau mengaku ingin masuk sekolah medis, kakek tidak sedih sama sekali. Kau tidak perlu bekerja disamping kakek, tapi berada di samping orang-orang yang membutuhkan mereka. Aku sekarang tahu kalau tempat ini adalah tempat dimana seharusnya kau berada. Orang-orang bersinar dan menjaga diri mereka sendiri di tempat seharusnya mereka berada." ucap kakek.

Yeon Kyung tersenyum.


Diluar, Suster Jung lagi membahas Im bersama Man Soo dan Min Jae. Ia penasaran kemana Im pergi. Man Soo juga mengaku penasaran. Ia berkata, seharusnya kekasih Yeon Kyung ada di situ. Min Jae bertanya-tanya, apa mereka sudah putus.

Sontak, ucapannya itu membuat Suster Jung berniat mengeplaknya.

Yeon Kyung keluar dan mendengar pembicaraan mereka. Ia sendiri juga merindukan Im.


Im masih memperhatikan wadah jarumnya.


Ia teringat omongannya dengan Heo Jun tadi.

"Maksudmu aku tidak akan bisa kembali ke dunia itu jika waktunya tiba?" tanyanya.

"Apakah kau memilih untuk tinggal disini atau disana, kau sendiri yang harus menentukan. Jalan mana yang akan kau pilih itu akan segera berakhir." jawab Heo Jun.

Im pun menghela nafas.


Kemudian terdengar suara Yeon Yi yang memanggil Im.

Im menoleh. Ia tersenyum ke arah Yeon Yi yang keluar ditemani Makgae.


"Kenapa kau menungguku?" tanya Im.

"Karena ahjussi sudah berjanji." jawab Yeon Yi.

"Dan kau percaya pada janji itu?" tanya Im.

Yeon Yi mengangguk.

Im pun senang ada yang mempercayainya.


Yeon Yi lalu berkata, kalau ia mau jadi dokter seperti Im agar bisa merawat anak-anak yang sakit seperti dirinya.

"Aku tahu sekarang sedang terjadi perang. Dan banyak anak-anak yang sakit. Akan lebih bagus kalau aku bisa jadi dokter sekarang." ucap Yeon Yi.


Im tersenyum mendengarnya.

Makgae yang memperhatikan mereka juga tersenyum.


Yeon Kyung terus menunggu Im.

Ia teringat kata-kata Im. Im berkata, bahwa ia akan segera kembali dan meminta Yeon Kyung menghitung sampai 200.


Im sedang memikirkan kata-kata Heo Jun.

"Sekarang sedang terjadi perang. Pasti ada alasan kenapa wadah jarum itu memilihmu."


Ia lalu teringat kata-kata Doo Chil dan Yeon Yi yang ingin menjadi dokter.


Im dan Yeon Kyung lalu sama-sama berbaring di halaman.

"Ada banyak bintang di langit joseon." ucap Yeon Kyung.

"Ada bintang di langit Seoul." ucap Im.

Mereka lalu sama-sama menoleh.


Keesokan paginya, Yeon Kyung yang hendak pergi mendengar suara berisik dari dapur.

Ia pikir itu Jae Sook. Tapi begitu tiba di dapur, ia terkejut melihat sosok di hadapannya yang sedang membuat nasi kepal.

"Kau sudah bangun? Aku sedang membuat nasi kepal karena kau sangat menyukainya. Seharusnya aku membuatnya lebih awal. Jadi tunggulah sebentar." ucap Im.

Yeon Kyung membeku.

Tak lama kemudian, ia berlari ke arah Im dan memeluk Im. Tangisnya keluar.

"Apa Yeon Yi sudah sembuh?" tanya Yeon Kyung.

"Sudah sembuh, berkat kau." jawab Im.

"Syukurlah." ucap Yeon Kyung.

Yeon Kyung lalu bertanya, siapa lagi yang diselamatkan Im.


"Aku merawat Doo Chil dan pasukannya berkat dirimu." jawab Im.

"Doo Chil sekarang jadi tentara?" tanya Yeon Kyung.

"Dia mengayunkan pedangnya dengan ceroboh waktu melawan Tentara Jepang." jawab Im.

Yeon Kyung semakin menguatkan pelukannya. Im memegang tangan Yeon Kyung.

"Kau bertemu Tentara Jepang lagi? Bagaimana dengan Makgae? Kabar Makgae bagaimana?" tanya Yeon Kyung.

"Dia berpakaian laki-laki lagi. Dia lebih nyaman dengan itu." jawab Im.

"Bagaimana kabar Heo Jun?" tanya Yeon Kyung.

"Heo Yeonggam, dia pasti sangat mengkhwatirkanmu tapi tidak pernah menampakkannya." jawab Im.


"Lalu?" tanya Yeon Kyung.

Tangis Yeon Kyung pecah.

Im lantas berbalik. Ia menatap Yeon Kyung dan memeluk Yeon Kyung.

"Aku merindukanmu." ucap Im.


Im menjenguk kakek. Kakek mengadu pada Im, kalau Yeon Kyung terus membuat keributan. Ia yakin, Yeon Kyung akan jadi lebih tenang jika ada Im bersama mereka.

"Dia pasti sangat menderita." jawab Im.

"Dasar brengsek. Kau mengkwatirkan dia, bukan aku?" protes kakek.

"Sudah jelas dia prioritas utamaku." jawab Im.

"Tapi aku yang memberimu tempat tinggal dan makan." balas kakek.

"Aku bekerja tanpa bayaran." jawab Im.

"87 dollar ku, apa kau tidak mau mengembalikannya?" tanya kakek.

Tak lama kemudian, mereka tertawa.


Kakek lalu menyuruh Im menghibur Yeon Kyung.

"Dia pasti lelah karena mengkhawatirkanku." ucap kakek.

Im memegang tangan kakek. Ia berkata, bahwa kakek sudah membuat keputusan yang benar untuk operasi.

Kakek membalas memegang tangan Im. Ia berkata, bahwa Kyung nya sangat kuat.

"Kau yang harus menjaga dirimu. Melihatmu sekarang, aku yakin kau sudah menyelesaikan urusanmu di sana." ucap kakek.


Im berkeliaran di RS, mencari Yeon Kyung. Tak lama kemudian, ia melihat Yeon Kyung yang mengajaknya makan nasi kepal bersama.


Mereka lalu makan nasi kepal di taman RS.


Selesai makan nasi kepal, Yeon Kyung menanyakan kabar Joseon.

"Terntara Jepang sudah mencapai Hanyang." jawab Im.

"Bagaimana dengan orang-orang di sana?" tanya Yeon Kyung.

"Aku melihat orang-orang yang tidak bisa melarikan diri dibunuh dengan kejam. Tapi aku tidak bisa melakukan apapun. Hanya bisa melihatnya seperti orang bodoh." ucap Im.

"Kau pasti merasa sakit, di hatimu." jawab Yeon Kyung.

"Disaat aku hanya bisa melihat saja, seorang dokter memilih melalui jalan yang sulit daripada jalan yang mudah. Seorang budak menarik pedangnya untuk melindungi orang lain. Seorang anak lebih mencemaskan anak yang lain daripada dirinya. Tapi disini, orang-orang tetap sibuk dan masih ada debu baik disini. Dua dunia itu sangatlah berbeda." ucap Im.

Im lantas mengaku, ingin mengatakan sesuatu.


Tapi tepat saat itu, Yeon Kyung mendapatkan telepon dari IGD.


Setelah Yeon Kyung pergi, Im menatap wadah jarumnya dan teringat kata-kata Heo Jun.

Flashback...


"Kau mau pergi?" tanya Heo Jun.

"Ada seseorang yang harus kutemui." jawab Im.

"Kau sudah membuat keputusan? Kalau kau pergi, kau tidak akan bisa kembali." ucap Heo Jun.

Im pun mengangguk.

Flashback end...


Sampai di IGD, Yeon Kyung langsung memeriksa pasien.

Tak lama kemudian, Im datang dan melihat-lihat keadaan di IGD.

Selesai memeriksa pasien, Yeon Kyung pun menemukan Im yang sedang melihat-lihat ke dalam IGD.

Keduanya sama-sama terlihat galau.


Malamnya, Yeon Kyung berputar-putar di depan RS.

Ia mengingat semua kenangan yang dilaluinya bersama Im.

Tak lama kemudian, tangis Yeon Kyung pecah.


Setibanya di rumah, Yeon Kyung mendapati Im yang tertidur di kursi pemijat.


Yeon Kyung lalu menatap wadah jarum Im dan teringat kata-kata Im.

"Aku tidak tahu apa yang masih tersisa. Tapi benda ini masih berada di tanganku. Aku ingin tahu apa yang menungguku di akhir takdir aneh ini." ucap Im.


Tak lama kemudian, Im pun bangun. Dan Yeon Kyung langsung mengajaknya pergi.


Yeon Kyung mengajak Im naik kereta gantung. Im meloncat-loncat seperti anak kecil saking senangnya.


Mereka lalu menyusuri jalanan kota Seoul sambil menikmati jajanan.


Setelah itu, mereka berdiri di depan Namsan Tower.


Mereka lalu singgah ke sebuah toko dan memakai bando dengan antena love.


Setelah itu, mereka menjajal sebuah permainan.


Kemudian, mereka berdiri di sebuah tempat yang dipenuhi dengan gembok, di Namsan Tower.

Yeon Kyung menuliskan namanya dan Im di sana.


Im lantas mengatakan sesuatu pada Yeon Kyung. Ia meminta maaf.

Yeon Kyung yang mengerti maksud Im pun mencoba ikhlas.

Ia lalu berterima kasih karena sudah Im kembali dan memgizinkannya mengucapkan selamat tinggal.

"Sekarang kau harus kembali ke tempat dimana kau seharusnya berada. Aku akan melindungi Seoul dan kau harus melindungi Joseon. Mari kita berpisah sekarang. Kita sungguh." ucap Yeon Kyung.

Bersambung..........

No comments:

Post a Comment