Thursday, September 27, 2018

Live Up To Your Name Ep 16 Part 1 (END)

Sebelumnya...


Yeon Kyung mengajari Im cara melakukan CPR.

Sementara dibawah, Byung Ki menyangka Im dan Yeon Kyung sedang melakukan yang tidak-tidak. LOL LOL

"Kenapa aku harus mempelajari ini?" protes Im.

"Kau tidak tahu seberapa pentingnya ini? Mereka tidak punya ambulan di sana! Kau setidaknya harus mempelajari ini sebelum kau pergi dan menyelamatkan lebih banyak orang." jawab Yeon Kyung.

"Aku pandai menyelamatkan banyak orang tanpa harus melakukan ini." ucap Im.

"Arrayo, tapi..."


Cuup! Im mencium bibir Yeon Kyung, membuat Yeon Kyung berhenti bicara.

Im lalu mengingat apa yang dikatakan Yeon Kyung padanya di Namsan Tower.


Flashback...

"Kau harus kembali ke tempat asalmu. Kau melihat  bagaimana kehidupan orang di sini. Tidak ada perang disini dan kami punya banyak rumah sakit dan dokter. Kamu punya pelayanan darurat, obat-obatan dan makanan. Kami bisa hidup tanpa bantuanmu. Tapi Joseon sedang berperang. Dan tidak banyak rumah sakit maupun dokter. Mereka kekurangan obat-obatan dan makanan. Ada banyak orang yang memerlukan bantuanmu. Kau harus kembali ke Joseon dan melindunginya. Tapi sebelum itu, berikan aku waktu 3 hari. Hanya 3 hari saja." pinta Yeon Kyung.

Flashback end.... 


Yeon Kyung sibuk menulis sesuatu.

Im sibuk menggambar wajah Yeon Kyung di ponselnya.

Tak lama berselang, Yeon Kyung menyuruh Im memilih satu di antara dua kertas yang sudah ditulisinya.


Tapi dia langsung sewot saat melihat apa yang Im gambar. Ia pikir, Im sedang menggambar wanita lain.

"Bukan begitu. Lihatlah dengan baik." suruh Im.

Yeon Kyung pun melihatnya.

"Hidungnya pesek dan matanya sangat kecil. Dia tidak cukup cantik. Kau tidak pandai sama sekali, ini akan jadi masalah." ucap Yeon Kyung.

"Itu kau Yeon Kyung." jawab Im.


Mendengar itu, Yeon Kyung pun langsung memuji dirinya yang terlihat cantik.

Im lalu memerintahkan ponselnya untuk mengirimkan gambar itu ke Yeon Kyung.

Dan dalam sekejap, gambar itu sudah terkirim ke ponsel Yeon Kyung. Wuiiih, canggih ponselnya.

Mereka lantas berdebat, soal apa yang harus mereka lakukan duluan.


Malam harinya, mereka menghabiskan waktu dengan menonton televisi.


Paginya, mereka bersiap-siap pergi ke toko sayuran.

Mereka berdebat sambil memasang sepatu.

"Kenapa kau selalu kelaparan? Kita tidak perlu buru-buru ke toko sayuran." ucap Yeon Kyung.

"Cobalah hidup di Joseon." sewot Im.

"Aku biasanya tidak banyak makan, jadi tidak apa." jawab Yeon Kyung.


"Kalau bilang begitu di Joseon, orang Joseon akan marah padamu." ucap Im sambil menyikut Yeon Kyung.

"Kau sebaiknya memerintahkanku minum racun!" balas Yeon Kyung sambil menyikut Im juga.

Di belakang, Kakek Choi, Jae Sook dan Byung Ki terheran-heran melihat tingkah mereka.


Sampai di rumah, mereka masih saja mendebatkan hal tidak penting.

Yeon Kyung protes karena Im belanja banyak sekali. Im mengaku, bahwa dia yang akan memakan semuanya.

Yeon Kyung pun menyuruh Im menepati janji untuk menghabiskan semua makanannya.

Byung Ki, Kakek Choi dan Jae Sook lagi-lagi heran melihat tingkah mereka.


Im dan Yeon Kyung menyuruh kakek, Jae Sook dan Byung Ki makan.

Kakek, Jae Sook dan Byung Ki pun kaget melihat banyak sekali makanan.

Im beralasan, kalau mereka tidak pernah makan bersama-sama.

Lalu kakek mencicipi masakan yang mereka buat.

Kakek  pun berkata makanannya enak, tapi wajahnya menyiratkan kalau makanannya tidak enak sama sekali.

Jae Sook juga sama, bilang makanannya enak.

Tapi Byung Ki malah bertanya, apa makanan itu bisa dimakan manusia.

Jae Sook pun langsung memasukkan makanan ke mulut Byung Ki agar Byung Ki diam.


Yeon Kyung lantas menyendokkan sesendok penuh daging ke piring Im. Ia nampak sedih, tapi berusaha tersenyum.

Im pun juga sama.


Kakek juga ikut sedih melihat mereka.


Di kamarnya, Yeon Kyung tengah bersiap. Ia memakai gaun dan juga merias dirinya.

Diluar, Im yang sudah siap dengan stelan jas nya tampak tak sabar menunggu Yeon Kyung.


Tak lama kemudian, Yeon Kyung keluar dan Im terpana melihat Yeon Kyung.


Kakek Choi, Jae Sook dan Byung Ki juga sedang bersiap-siap.

Ternyata mereka berpakaian rapi untuk foto bersama.

Selagi sesi foto, Byung Ki mencium pipi Jae Sook membuat Jae Sook sebal dan langsung menggaplok kepala Byung Ki.

Setelah foto bersama, giliran kakek yang foto bertiga dengan Im dan Yeon Kyung.

Kemudian, Im dan Yeon Kyung mengambil foto berdua layaknya pasangan yang baru menikah.


Im tak bisa tidur memikirkan dirinya yang akan kembali ke Joseon sebentar lagi.

Tak lama kemudian, ia mendengar suara pintu yang dibuka dan menyadari Yeon Kyung yang keluar dari kamar.

Im memejamkan matanya, pura-pura tidur. Yeon Kyung mendekati Im, lalu tidur di belakang Im dan memeluk Im.

Tak lama berselang, Im membalikkan badannya. Ia menatap Yeon Kyung dan merangkul Yeon Kyung.


Besoknya, Im menemui Jae Ha di RS. Im mengaku, ia datang untuk mendapatkan akupuntur di bahunya yang sakit.

Jae Ha pun memberikan Im akupuntur, tapi Im tiba-tiba menjerit. Membuat Jae Ha melongo.

"Aku belum menusukkan jarumnya." ucap Jae Ha. Im terkekeh.

Im lalu berkata, kalau dia menjadi Jae Ha, dia akan melakukan akupuntur di titik yang berbeda.

"Apa kau mengejekku?"

"Bagaimana bisa anak cucu memperlakukan nenek moyangnya tidak sopan begitu? Apa kau akan memberikan akupuntur tanpa memberiku teh?" protes Im.

Jae Ha pun tersenyum geli.


Jae Ha membelikan Im kopi. Mereka minum kopi bersama di ruangan Jae Ha.

"Kau sepertinya seumuran denganku. sejak kapan kau pandai akupuntur?" tanya Jae Ha.

"Aku sudah bagus sejak memulainya." jawab Im asal membuat Jae Ha langsung memelotinya.

"Aku hanya bercanda. Aku tidak tahu. Aku merawat begitu banyak pasien sejak aku menjadi dokter. Aku tidak tahu kapan tepatnya." ucap Im.

"Berapa banyak yang kau rawat?" tanya Jae Ha.

"Lusinan, terkadang lebih dari 100 selama 10 tahun." jawab Im yang sontak membuat Jae Ha terkejut.

"Jadi kau tidak punya sidik jari di jempolmu dan telunjukmu karena itu?" tanya Jae Ha.

"Kau tidak bisa mendapatkan apapun secara gratis kan?" jawab Im.

"Sombong sekali." gumam Jae Ha.


"Jae Ha, kau baik sebagai dokter. Aku yakin kau akan baik-baik saja." ucap Im.

"Apa maksudmu?" tanya Jae Ha. Tak lama kemudian, Jae Ha pun sadar Im akan balik ke Joseon.

"Bagaimana dengan Yeon Kyung Noona kalau begitu?" tanya Jae Ha.

"Aku harap kau bisa memperlakukannya dengan sopan. Selain aku, kau adalah orang yang akan menjaganya sebagai adik." jawab Im.

"Kau kesini untuk menyuruhku menjaga noona?" tanya Jae Ha.

"Aku ada permintaan lain." jawab Im.


Yeon Kyung menangis di kamarnya.

Diluar, kakek mendengar tangisan Yeon Kyung.

Kakek lantas masuk ke dalam. Ia coba menghibur Yeon Kyung.

Yeon Kyung merengek, ingin ikut Im ke Joseon.

Kakek Choi pun memeluk Yeon Kyung. Ia sedih melihat cucunya seperti itu.


Im yang mendengar rengean Yeon Kyung di depan pintu juga menangis.

Tak lama, kakek keluar dan menyuruh Im menemui Yeon Kyung.


Im menenangkan dirinya sejenak, sebelum akhirnya ia masuk dan menemui Yeon Kyung.

Im menghapus air mata Yeon Kyung. Ia mengaku, akan melupakan air mata Yeon Kyung dan hanya akan mengingat senyum Yeon Kyung.

"Kalau kau memberiku apa yang tidak bisa kubawa kesana, tidak akan ada cukup tempat untuk apa yang seharusnya benar-benar aku bawa bersamaku." ucap Im.


Im lalu memegang tangan Yeon Kyung.

"Tanganmu yang memegang pisau bedah, jas doktermu, hatimu pada pasien-pasienmu, itu akan aku bawa bersamaku." ucap Im lagi.


Kemudian, Im meletakkan tangan Yeon Kyung di dadanya.

"Ingatlah ini, hatiku berdebar-debar karena dirimu." ucap Im.

Im pun kembali menghapus air mata Yeon Kyung.


Setelah itu, ia memberikan Yeon Kyung sebuah kecupan.

Tapi Yeon Kyung masih terus menangis.

Im pun memeluk Yeon Kyung.


Usai menenangkan Yeon Kyung, Im menatap ke sekeliling rumah dan teringat semua kenangannya dengan Yeon Kyung.


Im duduk diluar dan terus mengingat kenangannya dengan Yeon Kyung.

Tanpa Im sadari, Yeon Kyung menatapnya lirih dari depan jendela.


Akhirnya, tibalah saatnya untuk Im kembali ke Joseon.

Im berpamitan pada kakek, Byung Ki dan Jae Sook. Ia mengaku sudah membuat teh hijau, teh bunga kudzu dan ararut.

Ia menyuruh Jae Sook meminumnya setiap pagi.

Jae Sook pun berterima kasih.

Im lalu berkata, bahwa Jae Sook lebih cocok dengan Byung Ki ketimbang dengan pria bernama Cheol Soo yang belum pernah ia temui.

Ia juga meminta Jae Sook untuk sekali-sekali melihat nenek bunga.

Ia juga menyuruh Byung Ki untuk berterus terang pada Jae Sook.

Semula Byung Ki gak mengerti maksud ucapan Im tapi gak lama ia sadar, Im menyuruhnya 'menembak' Jae Sook.

Im lalu berterima kasih pada kakek. Ia juga membungkuk, memberi hormat pada kakek.

Kakek pun menyuruh Im menemui Yeon Kyung.

Jae Sook kemudian bertanya-tanya, kemana Im mau pergi.

"Melihat cara berpakaiannya, mungkinkah Joseon?" jawab Byung Ki.

Jae Sook pun langsung menggeplak kepala Byung Ki karena mengira Byung Ki bercanda.


Yeon Kyung berusaha melepas kepergian Im dengan senyuman.

Im mendekati Yeon Kyung. Ia mengancingkan sweater Yeon Kyung agar Yeon Kyung tidak kedinginan.

Im lalu berterima kasih karena Yeon Kyung sudah menjadi bagian dari takdir anehnya.

Ia juga minta maaf karena tidak bisa menepati janji untuk terus berada di sisi Yeon Kyung.

Yeon Kyung pun mengaku, bahwa mulai sekarang ia tidak akan menunggu Im lagi.

Im lalu menyentuh wajah Yeon Kyung.


Setelah itu, Im mengucapkan selamat tinggal.

Yeon Kyung pun memegang tangan Im. Tangisnya pecah lagi.

"Kau akan kesepian jika sendirian. Aku akan bersamamu." ucap Yeon Kyung.


Im mulai menusuk jantungnya dengan jarum yang paling panjang.

Yeon Kyung tampak membantu Im.

Im mulai kesakitan saat jarum itu menembus jantungnya.


Tak tahan melihat Im kesakitan, Yeon Kyung pun memeluk Im.

Tak lama berselang, Yeon Kyung melepaskan pelukannya.


Dan... Im pun menghilang seketika. Yeon Kyung terduduk lemas.


Yeon Kyung menangis.

Di Joseon, Im juga menangis sambil memegangi dadanya.


Esoknya, perang pun pecah di tanah Joseon.

Im yang berada di tengah-tengah peperangan pun berusaha menyelamatkan orang-orang yang terluka.

Kita lalu mendengar narasi Im.

"Dunia dimana aku meninggalkanmu sendirian."


Im kedatangan pasien luka tembak.

Kini ia sudah bisa mengoperasi pasien luka tembak.

Narasi Im : Tanah ini menjadi tanah yang penuh dengan kematian, sakit dan jeritan dimana-mana.


"Ada lebih banyak nyawa yang tidak bisa aku selamatkan daripada yang bisa aku selamatkan. Aku menghadapi kematian dan sakit. Seperti inilah takdirku. Aku lemah di hadapan perang."


Im duduk di bawah pohon, bersama rakyat Joseon lainnya. Musim dingin mulai melanda saat itu.

"Aku tidak bisa menghentikan perjalanan ini karena ada banyak orang-orang yang tidak menyerah dan menungguku. Saat aku kehilangan pasien dan bahkan tidak menangis, aku memikirkannya. Bisakah kami menyelamatkan banyak nyawa dengan teknologi pengobatan dari duniamu?"


Yeon Kyung sendiri juga sibuk di IGD.


Di ruang operasi, Yeon Kyung gagal menolong pasiennya.

"Pasien Lee Jae Woong meninggal tanggal 1 oktober 2017...." Yeon Kyung mengumumkan kematian pasiennya.

Narasi Yeon Kyung  : Masih ada banyak nyawa yang tidak bisa kami selamatkan di tempat ini dimana teknologi berkembang pesat. Terkadang keajaiban terjadi. Akan tetapi aku tahu kalau itu bukan keajaiban. Seperti kau bilang, hidup dan mati sudah ditakdirkan. Dokter telah melakukan yang terbaik, setiap hari untuk mencegah kematian.


Di tengah dinginnya salju, Im mengobati tentara Joseon yang terluka.

"Apa kau menangis hari ini di duniamu karena kau kehilangan seseorang yang harus kau selamatkan?" tanya Im.


Yeon Kyung yang baru keluar dari ruang operasi, duduk di koridor RS sambil menahan tangis.

"Berapa banyak kematian yang kau hadapi hari ini di duniamu?" tanya Yeon Kyung.


"Apa kau, baik-baik saja?" Im dan Yeon Kyung sama-sama bertanya.

Bersambung ke part 2...

No comments:

Post a Comment