Tuesday, December 18, 2018

The Promise Ep 19 Part 2

Sebelumnya...


Se Jin heran melihat sang ayah datang bersama Tae Joon. Kyung Wan pun berkata, ia bertemu Tae Joon diluar.

"Tae Joon membawakan kue untukmu." ucap Kyung Wan.

Se Jin lantas melihat bunga yang dibawa Tae Joon.

"Itu bunga untukku?" tanya Se Jin.

"Ini bukan untukmu." jawab Tae Joon.

Tae Joon lalu memberikan bunga itu pada Yoo Kyung dan berterima kasih karena sudah mengundangnya.

"Berikan saja pada Se Jin. Kau harus berterima kasih padanya. Aku mengundangmu bukan karena menyukaimu tapi karena Se Jin."

"Aku selalu berterima kasih pada Se Jin tapi aku juga berterima kasih padamu karena sudah membesarkan Se Jin menjadi sebaik ini." jawab Tae Joon.

"Eomma, ambil lah sebelum aku mengambilnya." suruh Se Jin.

Terpaksalah Yoo Kyung menerima bunga Tae Joon. Tak lupa, ia juga menegaskan bahwa ia menerima bunga Tae Joon demi Se Jin.


Kyung Wan lalu menatap Tae Joon sambil memikirkan sesuatu.


Se Jin meletakkan lauk di mangkuk Tae Joon. Tae Joon yang tidak enak pada Yoo Kyung menyuruh Se Jin berhenti. Se Jin pun membela diri. Ia mengatakan, ibunya juga sering melakukan itu.

"Berhentilah melakukan itu sebelum aku menghancurkanmu. Bagaimana bisa kau melakukan itu di depan orang tua?" Yoo Kyung menegur Se Jin.

"Aku suka melihatnya." jawab Kyung Wan sembari tertawa.

"Apa yang tidak kau sukai." balas Yoo Kyung.

"Ngomong-ngomong, siapa yang menyiapkan makan malam ini? Semuanya keren. Pemilihannya, rasanya dan cara penataannya." ucap Kyung Wan.

"Kau sengaja mengatakan itu padaku?" sewot Yoo Kyung.

"Apa gadis tadi yang menyiapkan semua ini? Dia sepertinya sepantaran denganku." ucap Se Jin.

"Usianya sama denganmu. Dia belajar memasak dari ibunya. Ibunya mendirikan restoran atau sesuatu seperti itu." jawab Yoo Kyung.

"Kita harus memintanya memasak untuk pernikahanku. Kau setuju?" tanya Se Jin pada ibunya.

"Lakukan sesuka hatimu! Kapan kau pernah mendengarkanku?" jawab Yoo Kyung.


Tae Joon yang tahu si gadis penjamu adalah Na Yeon, tidak nyaman mendengarnya.

Kyung Wan pun kembali menatap Tae Joon dengan tanda tanya di kepala.


Na Yeon berjalan, menyusuri sepanjang jalan, dengan sorot mata sedih.


Sampai di rumah, Na Yeon terus masuk ke kamarnya dan menatap Sae Byeol yang sudah terlelap.

Na Yeon pun menangis lagi.

Selang beberapa menit, Na Yeon naik ke tempat tidurnya yang letaknya bersebelahan dengan tempat tidur Sae Byeol.


Ia mengambil sebuah kotak berwarna pink. Kemudian membukanya. Ada berbagai macam syal boneka milik Sae Byeol di sana.

Na Yeon mengambil gumpalan plastik putih dari balik syal-syal Sae Byeol. Ia membuka gumpalan itu yang isinya anting Yoo Kyung.

"Tidak mungkin. Ini pasti hanya kebetulan yang menakutkan dan memalukan. Tapi aku penasaran, kenapa ibuku menggenggam anting ini sampai dia menemui ajalnya? Ini bukan anting ibuku. Wae?" Na Yeon bertanya-tanya.


Man Jung menenggak soju sambil mengingat kemarahan Tae Joon semalam.

Ia lantas menghubungi Na Yeon dan mengundang Na Yeon makan siang di rumahnya.

Dari wajahnya, Man Jung terlihat seperti akan melakukan sesuatu yang buruk pada Na Yeon.

*Poor Na Yeon.. ibarat kata pepatah, habis manis sepah dibuang. Na Yeon udah berkorban banyak hal. Dia sampe gak kuliah dan pontang panting nyari duit buat ngebiayain kuliah Tae Joon dan ngebayarin sewa rumah Tae Joon. Dia juga ngasih kehormatannya ke Tae Joon. Pas dia keluar negeri pun, Na Yeon masih ngurusin emaknya. Tapi apa yang didapat Na Yeon? Dia malah dilepeh segampang itu.


Kyung Wan akhirnya mendapatkan informasi tentang si pengirim sms.

"Seorang reporter? Dari majalah Femme Fatale?" tanyanya kaget.


Joong Dae membuang semua obat herbal dari dalam kulkas. Eun Bong yang melihat itu, langsung memarahi Joong Dae.

"Kau bilang ibumu membeli ini di Jecheon." ucap Eun Bong sambil melindungi obat-obat herbal itu.

"Itulah kenapa aku tidak membutuhkannya! Ibuku berkencan dengan pria muda dan menyogokku dengan ini!"

Eun Bong pun memukul Joong Dae dan meminta Joong Dae berhenti bersikap kekanak-kanakan.

Tapi Joong Dae tidak mau mendengarnya.

Eun Bong yang kesal, akhirnya melemparkan semua obat herbal itu ke tong sampah dan berniat membantu Joong Dae membuangnya.

Tapi Joong Dae malah marah.

"Siapa kau beraninya membuang obat herbal ibuku! Akulah yang berhak membuangnya!"


Joong Dae lantas masuk ke kamarnya membawa semua obat herbal itu.

Di kamarnya, Joong Dae menangis sambil menatap semua obat-obatan itu.

Eun Bong mengintip dari balik pintu dengan tatapan geli.


Tak lama kemudian, ponsel Eun Bong berdering. Telepon dari Kyung Wan dan Eun Bong pun langsung balik ke kamarnya.

"Kau butuh waktu lama menghubungiku ternyata daripada yang aku bayangkan. Benar, aku yang mengirimi sms." jawab Eun Bong.


Dan sekarang Kyung Wan duduk di dapur sambil memutar-mutar gelas bir nya dan memikirkan kata-kata Eun Bong tadi.

"Jika kau ingin tahu, tanyakan sendiri pada Tae Joon. Aku orang ketiga, jadi aku tidak berhak memberitahumu. Tanyakan langsung pada Tae Joon.


Se Jin kemudian datang. Ia langsung mengakhiri pembicaraannya dengan Tae Joon di telepon saat melihat sang ayah.

"Kenapa ayah minum liquor sendiri?"

"Ini akan membantuku untuk tidur."

Mereka lantas membicarakan Tae Joon. Kyung Wan bertanya, apa Se Jin bahagia.

"Jika aku bilang bahagia, mungkin ayah akan cemburu. Aku hanya bersyukur karena ibuku akhirnya membuka hati untuknya."

"Ayah senang kalau kau senang."

Se Jin lalu merangkul manja lengan sang ayah.

"Ayah, bujuk ibu untuk menetapkan tanggal pernikahan kami. Perutku akan semakin membesar dan aku juga suka mual-mual di pagi hari."

"Baiklah, ayah akan bicara pada ibumu."


Se Jin senang mendengarnya. Ia lalu beranjak ke kamarnya.

Begitu Se Jin pergi, senyum Kyung Wan langsung hilang dan berganti dengan ekspresi marah.


Besoknya, Hwi Kyung makan siang dengan temannya di gudang.

Begitu Hwi Kyung datang, teman-temannya langsung membahas kondisi sebelum dan setelah AP Food diakuisisi Baekdo.

"Tidakkah kalian berpikir ini untuk kelancaran distribusi? Pemasaran terkadang berlebihan, tapi hasilnya cukup memuaskan." jawab Hwi Kyung.

"Park Hwi Kyung-ssi, kau ini bodoh atau naif? Kau pikir Bakedo melakukan itu untuk AP Food? Itu untuk diri mereka sendiri. Mereka memainkan sandiwara."

"Tapi mereka tidak akan melepaskan AP Food begitu saja. Kau tidak berpikir itu karena mereka melihat potensi dan peduli pada AP Food?"

"Apa yang kau tahu? Karena kau berhubungan langsung dengan pemilik perusahaan, berhentilah mengatakan hal bodoh seperti pemimpi!"


Di rumah sakit, Pimpinan Park menyuruh Young Sook bicara lagi pada Hwi Kyung. Young Sook meyakinkan Pimpinan Park kalau Hwi Kyung tidak akan macam-macam. Tapi Pimpinan Park tidak percaya dan menyuruh Young Sook menghubungi Hwi Kyung.


Hwi Kyung yang bekerja, menghela nafas saat mendapat telepon dari ibunya.

"Aku akan menemuinya jam tujuh nanti. Tapi jangan lupa, aku hanya berpura-pura jadi jangan mengharap lebih."

"Jangan hancurkan reputasi ayahmu."

"Aku tahu. Ngomong-ngomong, aku sedang sibuk, Bu." ucap Hwi Kyung.


Usai bicara dengan ibunya, Hwi Kyung dihubungi Do Hee. Do Hee mengaku, ingin bertemu Hwi Kyung lebih awal.

Do Hee lalu memutuskan panggilannya.


Tak lama kemudian, Do Hee muncul di belakang Hwi Kyung.

"Park Hwi Kyung-ssi." panggil Do Hee.

Hwi Kyung menoleh dan sontak terkejut melihat sosok Do Hee.

Melihat Do Hee, Hwi Kyung teringat saat bertabrakan dengan Na Yeon di bandara.


Saat itu, rok Na Yeon sobek karena tersangkut di kopernya. Hwi Kyung pun langsung mengikatkan jaketnya di pinggul Na Yeon untuk menutupi sobekan rok Na Yeon.

Hwi Kyung salah paham. Ia fikir, Do Hee adalah Na Yeon.

Bersambung ke part 3............

No comments:

Post a Comment