Friday, February 1, 2019

Blessing of the Sea Ep 3 Part 2

Sebelumnya...


Sampai di rumah, Hak Kyu langsung meletakkan Hong Joo di tempat tidur. Deok Hee dan Ji Na melihat Hong Joo. Deok Hee ingin tahu dimana Hak Kyu menemukan Hong Joo.

Hak Kyu tidak menjawab pertanyaan Deok Hee dan meminta Ji Na meminjamkan baju pada Hong Joo.

"Bajuku? Baiklah." jawab Ji Na, lalu pergi mengambil bajunya.

"Sulit kupercaya. Kenapa kau tampak serius dan membuatku gugup?" tanya Deok Hee.

"Diam. Dia sedang tidur." jawab Hak Kyu.

"Ada apa denganmu! Di mana kamu menemukannya!" teriak Deok Hee.

Tiba-tiba, terdengar suara seseorang yang memanggil Deok Hee.


Seorang wanita meminta Deok Hee menghentikan perilaku buruk suaminya. Wanita itu berkata, ia terus saja memecat para pelayan dan staf wanita karena suaminya mengencani mereka dan meniduri mereka satu per satu.

"Kau pasti sangat cemas. Aku bersumpah demi karierku sebagai dukun bahwa aku akan menghentikan suamimu yang bertingkah." jawab Deok Hee.

"Bisakah kau melakukan itu?" tanya wanita itu.

"Tentu saja bisa." jawab Deok Hee.


Tapi tiba-tiba, Hong Joo muncul di pintu dan mengatai wajah wanita itu gelap. Hong Joo bilang, ada awan hitam di sekitar wajah dan perut wanita itu.

Deok Hee pun kesal dan menyuruh Hong Joo pergi.

Tapi Hong Joo balik lagi dan meyakinkan wanita itu kalau wajah wanita itu gelap.

"HYAAA!" teriak Deok Hee. Hong Joo pun langsung menutup pintu dan pergi.

Wanita itu marah dan berniat pergi. Tapi sebelum pergi, ia mengingatkan Deok Hee soal uang jaminan rumah yang disewakannya.

"Jika tidak bisa hasilkan 5.000 dolar bulan ini, pindahlah. Aku bahkan tidak suka penyewa tempatku dukun." ucap wanita itu.


Hong Joo sedang menonton liputan tentang  Institusi Kebudayaan Silla yang  membawa krisan Siberia dari Byeonsanbando dua tahun lalu di TV.

"Banyak sekali warnanya. Sungguh memesona." ucap Hong Joo.

Hong Joo lantas bertanya pada Ji Na, bagaimana seseorang bisa masuk ke sana.

"Bagaimana bisa orang masuk TV? kau bodoh?" tanya Ji Na.

"Aku tidak bodoh. Aku akan mulai sekolah tahun depan." jawab Hong Joo.

"Itu bahkan lebih buruk. Bagaimana kau bisa bertahan jika hanya tahu sedikit sekali?" ucap Ji Na.

"Ji Na-ya." Hak Kyu menyuruh Ji Na berhenti.


Hak Kyu kemudian menyuruh Hong Joo makan. Hong Joo pun mulai makan, tapi baru sesuap, Deok Hee sudah datang dan marah-marah pada Hong Joo atas perkataan Hong Joo tadi pada pelanggannya.

"Bisakah kau berhenti! Haruskah kau membentaknya saat dia baru makan!" bentak Hak Kyu.

Hak Kyu lalu beranjak pergi. Deok Hee pun menyusul Hak Kyu.


Hong Joo terus mengikuti Ji Na sampai ke sekolah. Kesal, Ji Na pun meminta Hong Joo berhenti mengikutinya.

Seorang anak laki-laki tiba-tiba menempelkan kertas yang bertuliskan 'anak dukun' di tas Ji Na.

"Bisakah kamu membuatkan azimat untukku?" pinta anak itu.

Dan anak-anak yang lain pun ikut-ikutan mengolok Ji Na sebagai anak dukun palsu.

Si anak laki-laki tadi berkata, bahwa ibunya datang menemui ibu Ji Na dan semua tebakan ibu Ji Na salah.


Melihat itu, Hong Joo pun marah. Ia mencabut kertas di tas Ji Na dan menempelkannya pada jidat si anak laki-laki.

"Kau juga putri dukun?" tanya si anak laki-laki itu pada Hong Joo.

Hong Joo yang kesal, memukul hidung anak laki-laki itu dengan kepalanya. Si anak laki-laki terjatuh dan kaget menyadari hidungnya berdarah.


Anak laki-laki itu berniat membalas Hong Joo. Ia mau memukul Hong Joo, tapi Si Joon datang dan menghentikannya.

"Dia yang mengusikku lebih dahulu." ucap si anak laki-laki itu, lalu pergi dengan teman-temannya.

Si Joon lantas memarahi Ji Na karena berani melawan pemilik toserba.

Ji Na : Kapan aku minta bantuanmu?

Ji Na lalu beranjak pergi.


Si Joon menatap Hong Joo.

Si Joon : Kau baik-baik saja?

Tapi Hong Joo diam saja dan tertawa melihat Si Joon.


Di rumah, Deok Hee mengomel karena tidak bisa menemukan Hong Joo.

Tak lama kemudian, ia mendapat telepon dari seseorang yang memintanya melakukan sesuatu.


Di depan kediaman Deok Hee, orang-orang pada berkumpul.

"Dia sehebat itu?"

"Aku juga mendengarnya."

Orang-orang berkasak kusuk. Ternyata yang mereka maksud adalah Hong Joo. Wanita yang datang meminta bantuan Deok Hee untuk menghentikan perilaku suaminya datang lagi dan memuji-muji Hong Joo.

"Dia tahu bahwa leverku lemah. bahkan Dokter pun tidak tahu. Aku takjub. Jadi, aku memberi tahu tetanggaku. Jangan marah."


Sekarang, Deok Hee sedang menghitung uangnya yang dia dapatkan dari kemampuan Hong Joo. Deok Hee pun penasaran, bagaimana Hong Joo bisa tahu tapi berikutnya, ia yakin bahwa Hong Joo sedang beruntung saja dan berterima kasih karena Hong Joo membuatnya mendapatkan uang banyak.


Tak lama kemudian, Hak Kyu datang dan Deok Hee pun langsung menutupi uangnya dengan badannya.

Hak Kyu datang membawa bukti kalau Hong Joo bukan anaknya. Bukti itu berupa surat hasil tes golongan darahnya dan Hong Joo.

"Lihat ini. Sim Hak Gyu, golongan darah O. Chung Yi, golongan darah AB. Aku ke klinik dan memeriksanya. Dia bukan putriku. Percaya lah padaku."

"Chung Yi?"

"Anak yang datang ke rumah kita!"

"Kenapa menamainya Chung Yi? Itu terdengar sedih."

"Kita tidak bisa memberinya nama keluarga Sim. Aku tidak pernah membohongimu. Aku tidak bersalah."


Hak Kyu lantas mengajak Deok Hee merawat Hong Joo. Deok Hee tidak setuju, tapi saat melihat uangnya, ia pun tidak punya pilihan lain selain menerima Hong Joo. Ditambah lagi, ia menerima telepon dari pelanggannya yang ingin datang menemui Hong Joo 15 hari lagi.


Poong Do sudah berada di kamarnya bersama Pil Doo. Mereka baru saja memakamkan Sung Jae. Pil Doo memberikan sebuah surat dan jam milik Sung Jae. Pil Doo mengakui surat itu sebagai surat dari ibu Poong Do. Pil Doo berharap Poong Do bisa kuat melalui semua itu. Poong Do kian terluka, saat Pil Doo mengatakan, bahwa Hong Joo juga sudah meninggal.


Hak Kyu berjalan pergi, meninggalkan rumahnya, sembari menenteng kaleng cat dan sebuah kotak kayu.

"Aku akan menjaga lukisan dan putrimu. Aku akan membayar perbuatanku." ucap Hak Kyu dalam hati.


Di kamarnya, Poong Doo menangis mengingat kebersamaannya yang begitu singkat dengan Hong Joo.


Young In ada di rumah abu Sung Jae.

"Jangan memaafkan ibumu yang mengerikan yang bahkan tidak mengucapkan selamat tinggal. Sampai hari ibu mati, dan bahkan setelah ibu mati, ibu tidak bisa memaafkan diri ibu."


Hak Kyu sedang bekerja, mengecat dinding kayu sebuah studio foto dengan warna biru tosca.

Tak lama kemudian, Hong Joo datang membawakan makan siang.

Saat hendak turun dari tangga, Hak Kyu tak sengaja menjatuhkan kaleng catnya.

"Astaga, ayah harus bagaimana? Ayah sudah cocokkan warnanya." Ayah harus menggunakan warna yang persis sama. Bagaimana cara membuatnya?" panic Hak Kyu.

"Aku akan membantu ayah." jawab Hong Joo, yang sontak membuat Hak Kyu kaget.


Hak Kyu pun mencampurkan beberapa warna sesuai instruksi Hong Joo. Semula, Hak Kyu pesimis tapi saat ia mulai mencoba cat nya yang ia campur-campur sesuai instruksi Hong Joo agar mendapatkan warna yang sama, ia pun terkejut.

"Astaga. Ini persis sama. Bagaimana kau tahu? Menyamakan warna dengan mata sangat sulit. Chung Yi, matamu seperti permata."

"Permata? Apakah mataku permata?"

"Mereka jelas permata."


Seorang suster dari klinik tempat Hong Joo dirawat pun datang.

"Ini ada padanya saat dia ditemukan. Aku lupa mengembalikannya karena situasinya kacau." ucap suster itu, lalu menyerahkan sebuah botol kecil dan kekeran pada Hak Kyu.

"Ini seperti bibit." ucap Hak Kyu sambil melihat isi botol kecil itu.

"Ini kekeran. Ini mainanmu?"  tanya Hak Kyu sambil menyerahkan kekeran itu pada Hong Joo.

Hak Kyu lantas bertanya-tanya, bagaimana ceritanya Hong Joo bisa hanyut dan terbawa sampai ke daerahnya.


Tak lama kemudian, Deok Hee dan Ji Na datang. Deok Hee kesal melihat kedekatan Hak Kyu dan Hong Joo.

Deok Hee lantas menyuruh Ji Na bersikap hangat seperti Hong Joo.

"Kau akan disukai jika bersikap begitu." ucap Deok Hee.

"Astaga, lupakan." jawab Ji Na.


Deok Hee dan Ji Na mendekati mereka. Deok Hee berkata, akan pergi belanja dengan Ji Na.

Tepat saat itu, pemilik studio datang dan menyuruh mereka berfoto.

"Kameranya sangat bagus. Ada di dalam.  Ini gratis, jadi, foto saja." ucap pemilik studio.

Hak Kyu tertarik dan menyuruh keluarganya masuk ke dalam.


Saat di foto, Hak Kyu dan Hong Joo tersenyum. Berbeda dengan Ji Na dan Deok Hee yang cemberut.


Sekarang, Ji Na dan Hong Joo sudah SMA. Mereka kembali berfoto. Sama seperti dulu, hanya Hak Kyu dan Hong Joo lah yang tersenyum saat di foto.

Tahun 2010...


Hong Joo bersepeda mengelilingi lingkungannya. Di sepedanya, tergantung foto dirinya bersama Hak Kyu, Deok Hee dan Ji Na yang sudah menjadi keluarganya.

Sepanjang perjalanan, para tetangga menyapanya.

Hong Joo bersepeda sembari tersenyum lebar.


Sekarang, Hong Joo berada di teras sebuah rumah dan berbicara memakai pengeras suara.

"Good morning, Yongwang-ri! Warga Yongwang-ri, apa kalian bermimpi indah? Laut Yongwang-ri tampak tidak bersahabat hari ini. Angin akan bertiup kencang. Warna laut hari ini disebut biru Prusia. Ada lebih dari 100 jenis warna biru. Bukankah itu menarik?" ucap Hong Joo.


Lalu, ahjussi pemilik mic datang.

"Ini berfungsi dengan baik. Aku bisa mendengarmu keras dan jelas. Kau benar-benar MacGyver dari Yongwang-ri."


Ahjussi pemilik mic lantas menyuruh Hong Joo bernyanyi.

Hong Joo pun setuju dan mulai bernyanyi. Para warga Yongwang-ri tampak menikmati suara Hong Joo.

Bersambung ke part 3...........

No comments:

Post a Comment