Thursday, May 16, 2019

Different Dreams Ep 5-6 Part 1

Sebelumnya...

Tangan sy gatel juga pengen nerbitin ini... Habis ini, sy lanjut Unknown Woman lagi....


Episode ini diawali dengan Won Bong yang disekap di sebuah ruangan.

Diluar jendela, tampak Nam Ok yang mengarahkan senjatanya pada Won Bong. Nam Ok kemudian menarik pelatuknya.


Peluru melubangi jendela tepat di depan Won Bong, tapi Won Bong baik-baik saja.


-Different Dreams Episode 5, Shanghai-


Tae Joon ada di Manchuria Utara. Ia menghuni kawasan sebuah pergudangan, bersama seorang pria yang menjadi mata2nya, bersama Kim Seung Jin.

Sambil menunggu air yang direbusnya matang, Tae Joon tanya, apa Seung Jin sudah siap ke Shanghai.

Seung Jin berkata, ia hanya tinggal pergi saja.

Tae Joon lantas duduk di depan Seung Jin. Ia menuangkan air panas ke dalam gelas Seung Jin. Seung Jin menatapnya intens.

"Kenapa menatapku begitu?" tanya Tae Joon.

"Begini... kelihatannya terjadi sesuatu di Gyeongseong. Terkait Kim Esther." jawab Seung Jin dengan hati-hati.

"... kudengar dia sudah melakukannya. Tapi pembunuhan itu gagal. Dia langsung tewas dibunuh." ucap Seung Jin lagi.


Tae Joon syok. Ia tak jadi minum dan langsung berdiri menghadap keluar.

Seung Jin berkata lagi, bahwa ada dokter lain di tempat kejadian dan dokter itu selamat. Tae Joon tambah syok ketika Seung Jin memberitahunya bahwa Young Jin lah dokter itu. Seung Jin bilang, Young Jin sempat diinterogasi tapi disudah dibebaaskan dan kini berada di Shanghai.


Fukuda menemui Oda. Oda menawari Fukuda kopi tapi Fukuda menolak dan mengaku sudah minum 3 gelas kopi hari itu.

Oda mengerti dan langsung menyuruh seketarisnya pergi.


Oda : Kudengar belakangan ini kau sibuk jalani kencan buta.

Fukuda : Meski kutolak, orang tuaku tidak mau mendengar.

Oda : Seorang jaksa harus tahu cara menolak dengan kuat. Suatu hari kau harus mengambil alih posisiku.

Fukuda : Akan kuingat, Pak.

Oda lantas menyuruh Fukuda ke Shanghai. Fukuda yang tahu Young Jin di Shanghai, terkejut. Oda tanya, kenapa Fukuda terkejut. Fukuda tersenyum dan berkata, tidak apa-apa. Fukuda kemudian tanya, ada apa di Shanghai. Oda bilang, ini tentang Tae Joon. Dana komintern yang dikelola Tae Joon lebih dari 6.000 dollar.

Oda : Nilai cukup besar untuk dirinya sendiri. Karena itulah fraksi pemerintah sementara menggila. Mereka menginginkannya. Uang itu tidak boleh jatuh ke tangan pemerintah sementara atau Korps Pahlawan.


Fukuda : Dia di Shanghai?

Oda : Tidak. Dia di suatu tempat di Mongolia atau Manchuria. Sulit melacaknya. Dia punya seorang kaki tangan bernama Kim Seung Jin. Aku mendapat informasi dia sering ke Shanghai. Cari dia dan interogasi dia untuk tahu lokasi Yoo Tae Joon. Konsulat akan memberikanmu orang dan informasi yang kau perlukan.

Fukuda kaget. Melihat reaksi Fukuda, Oda sontak bertanya, ada apa. Apa terlalu sulit untuk Fukuda.

Fukuda : Ya, Pak.


Oda : Kau lebih ingin duduk di belakang meja dan menulis permohonan banding? Kalau memang itulah yang harus kau lakukan, aku tidak akan menerimamu.

Fukuda : Aku menyadarinya, Pak.


Seketaris Oda menemui Matsuura yang menunggunya di taman. Wanita itu memberikan informasi pada Matsuura.

"Itu dokumen resmi yang dikirim dari konsulat di Shanghai. Kim Seung Jin menuju ke sana." ucap wanita itu.


Wanita itu lantas meminta bayarannya. Matsuura mengeluarkan amplop berisi uang. Wanita itu langsung menyambar amplopnya, tapi Matsuura tidak mau memberinya.

Wanita itu menghela nafas dan memberitahu Matsuura kalau Fukuda juga ditugaskan ke sana. Barulah, Matsuura membayarnya.

Matsuura kesal karena harus berhadapan dengan Fukuda lagi.


Seorang wanita, bernama Ma Young Sung, menyuruh Young Jin makan dulu sebelum pergi. Young Jin yang buru2, mengatakan kalau ia harus segera pergi.

Youung Sung pun berkata, akan menaruhnya di kamar Young Jin.

Young Jin bergegas keluar. Young Sung menyusul Young Jin dan tanya, apa Young Jin akan pulang terlambat. Young Jin berkata, akan tahu pulang jam berapa setelah tiba disana.



Young Jin pun pergi. Ia melintasi perkampungan yang padat penduduk.


Burung2 beterbangan di langit Shanghai. Sinar matahari pagi menyinari bumi.

Young Jin tiba di kampusnya, Universitas Fudan.


Bersama timnya, ia membedah mayat dan mulai melakukan penelitian.


Setelah itu, Young Jin dan tim nya tampak mengobrol di halaman kampus. Tak lama kemudian, mereka berpisah.


Sekarang, Young Jin duduk di kereta. Ia teringat kata2 Won Bong padanya, saat mereka sama2 di kapal menuju Shanghai. Saat itu, Won Bong bilang, tidak mau bertemu dengan wanita seperti Young Jin lagi.

Kereta berhenti. Young Jin bergegas turun.


Young Jin kemudian menyusuri jalanan.

Dari seberang jalan, Won Bong memperhatikan Young Jin. Saat Young Jin menoleh ke arahnya, ia buru2 menundukkan kepalanya dan menyembunyikan wajahnya di balik topinya.


Young Jin lantas melihat penjaja makanan favoritnya.

Ia berseru senang dan tersenyum menikmati jajanannya.

Won Bong nampak terpesona dengan senyum Young Jin.


Tak lama, terdengar bunyi petasan di dekat Won Bong.

Young Jin menoleh. Won Bong langsung menyembunyikan dirinya.


Setelah cemilan favoritnya habis, ia berniat pergi, tapi Seung Jin muncul dan menghalangi langkahnya.

Young Jin berusaha menghindar tapi Seung Jin terus saja menghalangi langkahnya.

Young Jin kemudian pergi. Seung Jin mengikutinya.

Won Bong menatap curiga ke arah mereka.


Fukuda tiba di Shanghai. Dua orang pria yang merupakan agen khusus Konsulat Jepang di Shanghai, langsung menjemputnya. Salah satu pria bernama Maru. Mereka berjalan melewati dua pria yang duduk di salah stan makanan.

Fukuda : Sudah temukan lokasinya?

Maru : Ada yang memesan 500 dosis Salvarasan. Kami sedang mencari alamat penerimanya.

Fukuda : Kalau benar Kim Seung Jin, dia pasti tahu kita mengawasinya sebelum dia pergi. Tetap jaga jarak. Buntuti pedagang perantaranya yang akan menemuinya.

Maru : Bapak akan langsung ke konsulat?

Fukuda : Tahu tempat untuk membeli umeboshi dan arak plum?

Maru : Tentu saja.

Fukuda : Kalau begitu, kita mampir ke sana.


Begitu mereka pergi, si penjual makanan menganggukkan kepalanya pada dua pria itu. Dua pria itu mengerti dan bergegas pergi.


Young Jin dan Seung Jin duduk di sebuah restoran.

Seung Jin memberitahu Young Jin bahwa Tae Joon menyesal tidak bisa menolong Esther.

Seung Jin : Dia bilang kematiannya yang gegabah adalah kesalahannya.

Young Jin : Di mana Tae Joon sekarang?

Seung Jin : Tidak bisa kuberi tahu.

Young Jin : Pada akhirnya, dia akan menyesal dan menyalahkan diri sendiri dalam persembunyian.

Seung Jin : Dia sekarang hadapi ancaman. Kalau kau mau menyampaikan sesuatu...

Young Jin : Tidak, terima kasih. Jangan pernah lagi mencariku.

Young Jin lantas pergi.


Malam harinya, Fukuda menuju suatu tempat.


Bersamaan dengan itu, Young Jin baru kembali ke penginapannya. Ia terus masuk ke kamarnya tapi kemudian, ia kaget melihat sosok yang duduk di kamarnya yang gelap.

Young Jin buru2 menyalakan lampu. Ia marah melihat sosok itu yang ternyata adala Won Bong.

Won Bong tanya soal pria tadi. Young Jin tak mengerti. Won Bong pun menjelaskan, kalau ia harus bertemu dengan Tae Joon.

Young Jin kesal.

"Aku tahu siapa kau. Kau si pembawa kematian. Kau Kim Won Bong, pemimpin Korps Pahlawan. Pergilah dari hadapanku kalau kau tidak mau ditahan. Kalau kau datang lagi, aku akan melaporkanmu pada Konsulat Jepang."


Dan kini, Young Jin duduk termenung di ranjangnya. Won Bong sudah pergi. Young Jin kemudian berdiri. Ia membuka laci meja riasnya dan mengeluarkan sebuah foto. Fotonya bersama Esther dan Tae Joon. Ia terpaku memandangi foto itu.

Tak lama, suara ketukan di pintu kamarnya membuat ia terkejut.


Young Jin pun membukanya. Ternyata Fukuda yang datang. Fukuda tersenyum dan menunjukkan buah plum yang dibawanya. Young Jin pun tersenyum.

Bersambung ke part 2....

No comments:

Post a Comment