Sunday, November 17, 2019

Graceful Family Ep 6 Part 2

Sebelumnya...


Seok Hee berjalan di lantai atas dan mendengar suara Wan Soo di bawah. Ia pun menghentikan langkahnya dan melihat Wan Soo sedang bicara dengan Wan Joon yang lagi makan ditemani Soo Jin.


Wan Soo : Sepertinya Tuhan telah memberimu semua keberuntungan. Sekarang lawan terkuatmu, Seok Hee, keluar dari permainan, kau lah satu-satunya pewaris.

Soo Jin : Kak Wan Soo, apa kau tidak tahu dia sangat sensitif? Dia terlambat makan malam.

Wan Soo : Sudah cukup sekarang. Makan malam bukan yang penting saat ini. Filmku hampir dibatalkan.

Wan Joon : Lalu?


Wan Joon berhenti makan.

Wan Joon : Apa yang kau inginkan?

Wan Soo : Berikan aku uang. Uang! Aku hampir kehilangan seluruh kru filmku sekarang! Kau sempurna. Tapi kupikir kau kurang dalam kemanusiaan. Apa pria dingin sepertinya tidak akan berdarah? Itu sangat kuno. Pemimpin selanjutnya harus lebih sensitif! Adik, tolong bantu aku menyelamatkan reputasiku. Tolong bantu aku, Wan Joon- ah!

Wan Joon : Kau tidak punya malu?

Wan Soo : Apa maksudnya?

Wan Joon : Akui saja bahwa kau tidak memiliki bakat. Hanya dengan pengakuan itu, kau akan menunjukkan bahwa kau memiliki nilai.

Wan Soo marah, kau bajingan berhati dingin!


Wan Joon lantas berdiri dan menghina Wan Soo.

Wan Joon : Jika kau menginginkan perusahaan, silakan ambil. Dapatkanlah kemampuan untuk mengambilnya. Atau diam saja.

Wan Soo : Apa katamu? Beraninya kau...!


Wan Soo yang udah gak tahan lagi, berniat memukul Wan Joon tapi dicegah Soo Jin.

Soo Jin : Kak Wan Soo! Kenapa kau bertingkah seperti ini?

Wan Soo : Kenapa aku bertingkah seperti ini? Sekarang kalian berdua bersikap dingin. Tidak heran kalian berdua sudah menikah!


Seok Hee pun datang.

Seok Hee : Indah sekali. Pertengkaran antar saudara.

Seok Hee duduk di meja. Wan Soo memarahi Seok Hee karena tidak hati-hati.

Wan Soo : Kau harusnya berusaha sebaik mungkin! Kau harapanku satu-satunya. Filmku hampir dibatalkan! Apa yang akan kau lakukan?

Seok Hee : Aku tahu. Maafkan aku. Kau harus mengurangi minum dan menggunakan uang itu untuk membuat film anggaran rendah.

Wan Soo : Bagaimana bisa tidak ada seorang pun di keluarga ini yang mengerti seni? Jika aku tidak bisa minum-minum sekarang, aku akan berakhir di rumah sakit jiwa.


Wan Soo pergi. Wan Joon juga mau pergi, tapi Seok Hee bersuara.

Seok Hee : Kak Wan Soo mungkin bukan sainganmu. Tapi kau tidak perlu memperlakukannya seperti itu. Lagipula kalian bersaudara. Kalian berdua rukun.

Wan Joon : Kenapa kalian berdua tidak bekerja sama? Kau adalah saudara tirinya.


Seok Hee : Saat terpojok, kau bisa menggigit dan mencabik-cabik seseorang.

Wan Joon : Sungguh? Hanya memikirkannya saja membuatku takut.

Wan Joon kemudian tertawa, lalu beranjak pergi. Soo Jin menyusul Wan Joon.

Seok Hee tertawa menatap kepergian Wan Joon, tapi hanya sebentar.


Di restoran, Yoon Do sedang makan malam bersama ayahnya dan Eun Ji.

Eun Ji : Internet dipenuhi berita tentang putri tunggal keluarga konglomerat. Bukankah dia wanita yang sebelumnya?

Pak Heo : Dia tampak begitu baik dan cerdas. Bagaimana dia bisa berakhir mengemudi sambil mabuk? Mengemudi sambil mabuk itu tidak berbeda dengan pembunuhan. Jangan pernah lakukan itu! Jangan pernah!

Yoon Do : Ayah, jangan percaya semua yang ada di berita.

Pak Heo : Jika aku tidak percaya dengan berita itu, lalu siapa yang aku percayai?

Yoon Do : Ada banyak berita palsu belakangan ini.


Eun Ji : Mereka mengatakan bahwa dia minum sepanjang malam sehingga dia masih mabuk di pagi hari. Dia pasti banyak minum hingga dia gagal dalam tes kesadaran di pagi hari.

Yoon Do marah, sudah kubilang itu tidak benar!

Eun Ji dan Pak Heo pun heran melihat Yoon Do marah.

Yoon Do lalu berhenti makan dan beranjak masuk ke dalam.


Seok Hee kini di kamarnya, sedang membaca buku puisi yang diberikan Yoon Do tadi.

Seok Hee : Pengacara Heo, kau memang berbeda. Aku menyukai puisi ini.

Di kamarnya, Yoon Do tak henti menatap ponselnya. Ia menunggu telepon Seok Hee.


Tapi karena Seok Hee gak kunjung menghubunginya, ia pun akhirnya menghubungi Seok Hee.

Yoon Do : Kau sudah membaca puisi itu?

Seok Hee : Apa kau tahu pukul berapa ini? Kau meneleponku hanya untuk menanyakan itu?

Yoon Do : Ini siang hari di New York.

Seok Hee : Jadi, kau mau membalasku?

Yoon Do : Tentu saja tidak. Aku hanya penasaran apa kau sudah membaca puisinya?

Seok Hee : Aku suka puisi ini.

Yoon Do : Sungguh? Hei, kita memiliki banyak kesamaan seperti saudara kandung!


Yoon Do lalu membacakan puisinya. Lalu Seok Hee melanjutkannya.

Yoon Do : Aku memikirkan kesedihanmu di dunia yang menyedihkan.

Seok Hee : Memikirkan kesedihanmu di dunia yang menyedihkan ini, suram seperti tanah yang kehilangan rumah.

Yoon Do / Seok Hee : dan sebagai rumah yang kehilangan penghuninya."


Yoon Do lalu minta Seok Hee bernyanyi lagi.

Seok Hee : Lupakan. Jika kau melewati batas lagi, aku akan menendangmu.

Yoon Do : Aku lega.

Seok Hee : Apa?

Yoon Do : Kau masih Mo Seok Hee yang aku kenal. Selamat malam.


Seok Hee tersenyum.


Besok paginya, Yoon Do membantu Wang Pyo menyiapkan surat gugatan. Setelah gugatannya selesai, Yoon Do menunjukkannya pada Pengacara Yoon dan Pengacara Yoon menunjukkannya pada Wang Pyo.


Setelah mendapat persetujuan Wang Pyo, Yoon Do dan Pengacara Yoon langsung pergi memasukkan surat gugatan itu.


Je Kook dan tim langsung membahas gugatan Seok Hee.

Pak Yoon : Nona Seok Hee baru saja mengajukan gugatan, bahwa kami memaksa para pemegang saham menandatangani surat kuasa. Kami dituntut karena pemaksaan.

Kyung A : Ada juga klaim bahwa kami melanggar hukum pasar modal. Mereka mengatakan kami menerima surat kuasa dari pemegang saham pada tanggal yang berbeda.

Pak Yoon : Pasal 153 Undang-Undang Pasar Modal dan Investasi Pasar Saham. Pelanggaran dan pengungkapan surat kuasa dan dokumen referensi.

Kyung A : Nona Seok Hee lebih teliti daripada penampilannya.

Je Kook : Itu berarti dia bertekad untuk menjadi CEO. Kita sudah menduga ini.


Pak Kwon : Pimpinan Senior juga sedang menghubungi para direktur saat ini.

Pak Yoon : Choi Kyung Ho, Sim Ho Chul, Baek Jong Heon. Bahkan hanya dengan tiga orang ini, mereka bisa mengadakan rapat darurat.

Je Kook : Bukankah Direktur Baek ada di pihak kita? Apakah ini informasi darinya?

Pak Yoon : Ya.

Je Kook : Mereka akan mengadakan rapat dewan darurat?


Joo Young : Dia berencana meyakinkan dewan untuk menyingkirkan Pimpinan Mo sebagai CEO dan mencobanya lagi?

Pak Kwon : Haruskah kita mengirim mereka bertiga ke luar negeri sebentar?

Je Kook : Tidak, tunggu. Jika mereka menghubungi Direktur Baek, maka itu berarti mereka cukup percaya diri dan tidak peduli jika informasinya bocor pada kita. Maka itu pasti berarti dua lainnya sudah bergabung dengan mereka. Cari tahu kapan dan di mana pertemuan itu akan berlangsung.

Tim : Baik.

Je Kook : Tidak, gunakan Direktur Baek untuk mengadakan pertemuan di rumah.

Pak Yoon : Kenapa?

Je Kook : Jika sesuatu yang buruk terjadi di luar, maka itu tidak akan baik untuk kita.


Je Kook bergegas menemui Cheol Hee.

Cheol Hee : Rapat dewan direksi darurat? Keserakahannya tidak pernah berakhir. Dia begitu gigih.

Cheol Hee mulai takut.

Je Kook : Pimpinan.

Cheol Hee menatap Je Kook.


Tiba-tiba, Wang Pyo datang. Wang Pyo datang diantar Bu Jung.

Melihat Je Kook, Wang Pyo menyuruh Je Kook keluar. Je Kook mengerti dan langsung keluar.


Wang Pyo minta Cheol Hee menyerahkan posisi CEO ke Seok Hee. Cheol Hee jelas menolak. Ia beralasan, tidak bisa mundur karena dewan direksi sudah menunjuknya.

Wang Pyo : Kau akan dihukum karena keserakahanmu. Jika kau mencoba menggangguku lagi, kau akan membayarnya. Ini masih rumahku.

Wang Pyo lalu meminta Bu Jung membawanya keluar.


Diluar,, ia bertemu Je Kook yang berdiri di depan pintu.

Wang Pyo : Kau seharusnya tetap menjadi hakim. Ini kesalahanku.

Je Kook tak menjawab. Ia hanya menatap dingin Wang Pyo. Setelah Wang Pyo pergi, Je Kook langsung kembali ke dalam.


Cheol Hee : Aku...tidak bisa menerimanya lebih lama lagi. Aku muak dan lelah.

Je Kook : Ini terjadi sudah lama, tapi aku pernah beruntung. Aku mulai dengan 100 dolar untuk bersenang-senang. Tapi aku hanya menyisakan 1 dolar dalam sekejap mata. Aku berpikir untuk membuangnya. Tapi aku memasukkan koin terakhir itu dan koin itu memberiku hadiah besar. Koin 1 dolar itu mengubah hidupku. Kau tidak boleh memberi satu dolar pun kepada seorang penjudi.

Cheol Hee mengangguk-ngangguk.

Cheol Hee : Usia tua adalah penghinaan bagi keluarga.


Je Kook mengerti apa maksud Cheol Hee.

Je Kook kemudian berdiri dan beranjak pergi.

*MC Group ini kn punya Wang Pyo ya,,, so Wang Pyo dong yg punya kekuasaan penuh tapi disini yg sy lihat yg punya kekuasaan penuh tu si Je Kook......


Je Kook hendak pergi,, tapi langkahnya berhenti. Ia lantas berbalik dan mendongak dan melihat sesuatu.


Je Kook lantas masuk ke kamar Seok Hee.

Je Kook : Maaf mengganggumu saat kau sedang beristirahat.

Seok Hee : Sopan jika tidak melakukan hal-hal yang membuatmu harus meminta maaf.

Je Kook : Menurutmu kau bisa mengubah hasilnya jika kau mengadakan rapat dewan darurat?

Seok Hee : Aku tidak tertarik untuk bermain jika tidak ada peluang untuk menang.

Je Kook : Ke mana perginya Nona Seok Hee yang polos di masa lalu itu?

Seok Hee : Entahlah. Dia mungkin meninggal di New York ketika dia berusia sekitar 20 tahun. Kau harusnya tahu itu. Kau dan MC Grup membunuh Seok Hee.


Je Kook : Nona Seok Hee, menurutmu berapa lama kau bisa mengandalkan Pimpinan Senior? Jika kau tidak melepaskan keserakahanmu, Pimpinan Senior mungkin akan berada dalam situasi yang sulit.

Seok Hee : Apa itu ancaman? Selama aku bisa mendapatkan MC Grup, tidak penting apakah kakek meninggal atau tidak. Lagipula, kakek memang sudah tua.

Je Kook sedikit terkejut dengan kata-kata Seok Hee.

Seok Hee : Kau tampak terkejut. Untuk melawan kalian, aku harus bertindak dan berpikir seperti kalian. Karena inilah caramu bertarung.

Bersambung ke part 3....

No comments:

Post a Comment