Skip to main content

The Great Show Ep 6 Part 2

Sebelumnya...


Joon Ho tiba2 datang, mendekati Soo Hyun dan Penulis Ma. Joon Ho tanya, kenapa helaan nafas Soo Hyun terdengar berat?

Soo Hyun : Pak Kang, ada apa kemari?

Joon Ho : Aku hanya lewat dan datang untuk menghiburmu.

Penulis Ma kemudian melihat bungkusan di tangan Joon Ho.

Penulis Ma : Pak Kang, kau bawa apa?

Joon Ho : Aku membawa tteokbokki sebagai suap agar aku tampak baik.

Joon Ho membuka bungkusannya. Penulis Ma langsung mengambil bungkusannya.


Soo Hyun : Astaga, aku baru saja mau menelponmu.

Joon Ho : Kau punya subjek untuk pekan ini?

Soo Hyun : Ya, Anggota Dewan Wi mengusulkannya untuk pekan ini.

Joon Ho : Apa itu?

Soo Hyun : Kurasa itu soal memperbanyak keberadaan apartemen upah rendah.

Joon Ho : Kedengarannya bagus. Aku juga ingin berdebat soal itu.


Di balai kota, ibu2 itu yang hidungnya mau diratakan Pak Jung, sedang berdemo di depan para pendukungnya.

"Kami keberatan jika dibangun sekolah internasional! Batalkan keputusan yang dibuat di Apartemen Upah Rendah Purun!" Jika Apartemen Upah Rendah Purun masuk, Jungang-gu akan jatuh!"


Pak Jung tak mau kalah. Ia juga berorasi di depan para pendukungnya.

Pak Jung : Anak muda harus maju agar Jungang-gu maju!

"Untuk mengembangkan Jungang-gu, kita butuh sekolah internasional!"

"Jika dapat 2.000 unit baru, kita dapat 2.000 pelanggan baru!" balas Pak Jung.


Kyung Hoon kemudian datang. Ibu2 itu langsung memberikan mic nya pada Kyung Hoon.

Kyung Hoon : Aku putra Inju, Kang Kyung Hoon. Biar kukatakan sesuatu yang singkat. Apartemen upah rendah untuk anak muda? Ya, kita butuh. Namun, ada prioritas dalam segala hal. Ada alasan kenapa orang tua pindah untuk menemukan distrik sekolah yang bagus. Tempat terbaik untuk membesarkan anak dengan baik ada di dekat sekolah bagus!Kita harus membawa masuk sekolah internasional. Mari jadikan distrik kita distrik terbaik yang membuat setiap orang tua iri dan ingin pindah!


Dae Han kemudian datang dan membalas kata2 Kyung Hoon. Kyung Hoon sontak kaget melihat Dae Han..

Dae Han : Anggap sekolah internasional itu masuk ke distrik kita dan semua orang tua pindah ke Jungang-gu. Tapi bahkan anak- anak pintar tidak bisa bersekolah di sekolah internasional yang dekat. Kalian tahu kenapa tidak bisa? Itu karena uang sekolahnya sangat mahal.


Pak Jung : Kudengar uang sekolah SMA puluhan ribu dolar! Anak- anak kita bahkan tidak bisa bersekolah di Sekolah Internasional! Siapa di antara kita yang bisa mengirim anak-anak kita ke SMA itu? Tidak ada!

Dae Han : Jika sekolah internasional masuk, itu hanya akan memperparah konflik di antara kelas dan mendorong pendidikan swasta. Tapi jika apartemen upah rendah untuk anak muda dibangun itu akan memberikan harapan bagi anak muda yang mengatakan negara ini neraka tempat mereka sulit bertahan, dan melalui energi para pemuda, Jungang-gu bisa berubah menjadi lingkungan yang ceria dan energik!


Walikota Jung dan Bong Joo datang.

Walikota Jung : Tidak ada yang bisa mengalahkan Dae Han dalam adu kata-kata.

Bong Joo : Tidak ada cendekiawan hebat yang bisa bersaing.


Mendengar itu, emak2 pendukung Kyung Hoon, mengungkit simbol putra durhaka Dae Han.

Dae Han : Ya, aku seorang putra durhaka. Aku membenci ayahku, jadi, aku mengucilkannya. Itu benar. Namun, seorang putra durhaka tetaplah manusia. Aku menyesali kesalahanku dan bertobat. Setelah ayahku meninggal, aku pergi ke studionya untuk mengumpulkan barang-barangnya.


Flashback, saat Dae Han ke studio ayahnya dan menemukan kliping yang isinya pertarungan Dae Han dan Kyung Hoon.


Dae Han : Saat itulah aku sadar. Baginya, aku yang jahat ini merupakan seorang putra yang dia banggakan. Sepanjang perjalanan dukaku, aku berjanji kepada ayahku bahwa aku akan menjadi politisi yang memihak orang lemah sepertinya. Bahwa aku akan menjadi putra yang bisa dibanggakan. Karena itulah aku datang hari ini! Berdiri di samping orang-orang muda yang mungkin dari generasi yang berbeda dari ayahku, tapi tinggal di studio dan menjalani hidup yang sulit!

Para pendukung Dae Han mulai bersorak, mengelukan nama Dae Han.


Kyung Hoon dan asistennya kini sudah dalam perjalanan.

Kyung Hoon kesal karena tidak diberitahu soal kehadiran Dae Han.

"Maaf. Aku akan berhati-hati dan lebih teliti."

"Beginilah rasa percaya. Sulit untuk mendapatkannya, tapi mudah untuk kehilangannya." ucap Kyung Hoon.

"Aku akan mengingatnya. Namun, ada hal baru yang akan menguntungkan kita. Pria yang kusuruh mengikuti Dae Han mengirimiku foto menarik."


Asisten Kyung Hoon menunjukkan foto2 Dae Han, Da Jung, Jung Woo dan Soo Hyun di klinik aborsi.

"Sudah kuperiksa dan dia hamil 12 pekan. Dia yang bilang sendiri bahwa aborsi adalah dosa, tapi dia mungkin tidak akan membiarkannya." ucap asistennya.

"Lucu sekali." jawab Kyung Hoon, lalu tersenyum licik.


Dae Han dan Walikota Jung lantas bicara di ruangan Walikota Jung.

Walikota Jung : Kang Kyung Hoon, dia sungguh luar biasa. Kau lihat, bukan? Dia bahkan tidak peduli.

Dae Han : Musuhnya harus kuat agar kau bersinar.

Walikota Jung : Kita kini unggul, jadi, teruslah maju.

Dae Han : Pasti.

Walikota Jung : Kau senggang malam ini, bukan?

Dae Han : Malam ini? Kenapa?

Walikota Jung : Pak Baek ingin makan malam.

Dae Han :Baiklah.


Dae Han berjalan keluar bersama Bong Joo.

Bong Joo : Jika ketua partai menyukaimu, nominasi itu menjadi milikmu.

Dae Han : Terlalu dini untuk mengetahuinya. Pemilu masih lama.

Bong Joo : Itu benar. Siapa yang tahu kapan dan di mana variabel bisa muncul? Seperti masalah Da Jung.

Dae Han : Itu akan beres hari ini.

Dae Han kemudian beranjak pergi.


Di kelasnya, Da Jung merebahkan kepalanya di meja.

Teman2nya mulai membicarakannya.

"Dia membolos sekolah dan tidur seharian. Hidup yang indah."


Jung Woo sendiri sedang latihan.


Lalu tiba2, ia berhenti menari dan ingat kata2 Da Jang yang mau mempertahankan bayi mereka.


Teman segrup Jung Woo datang dan menyuruh Jung Woo ke ruangan boss. Ia bilang, bos mau menemui Jung Woo.


Jung Woo mempersiapkan dirinya sebelum masuk ke ruangan boss nya.

Tapi saat masuk, ia kaget melihat Dae Han bicara dengan boss nya.

Dae Han kemudian pamit.

Dae Han : Terima kasih sudah meluangkan waktu untukku.

"Waktumu lebih berharga daripada waktuku. Mari bermain golf bersama kapan-kapan." jawab boss Jung Woo.


Dae Han kemudian menatap Jung Woo.

Dae Han : Dia sangat keren. Kau diberkati dengan orang baik. Kau akan menjadi besar jika menuruti perintahnya.


Setelah Dae Han pergi, Jung Woo dimarahi boss nya.

"Kenapa kau melakukan itu dua bulan sebelum debutmu?"

"Maafkan aku."

"Diam. Aku akan membuat janji. Buat dia aborsi besok. Buat dia aborsi dan singkirkan dia dari hidupmu."

Jung Woo menolak dan memutuskan melindungi bayinya.


Jung Woo : Aku sungguh minta maaf kepada anda dan anggota lainnya, tapi aku ingin melindungi Da Jung dan bayi kami.

"Kau orang baik. Karena kau sepenuhnya bersalah, bayar tiga kali lipat dari panjar penalti dan tinggalkan agensi."

Jung Woo sontak kaget mendengarnya.

Bersambung ke part 3...

Kok kesel ya ama si Dae Han ini,,, cuma mentingin diri sendiri.... Nyuruh si Da Jung aborsi karena takut gagal lagi dalam pemilu.... Bukan karena peduli sama Da Jung atau Jung Woo....

Comments

Popular posts from this blog

I Have a Lover Ep 50

Sebelumnya.... “Aku rasa aku jatuh cinta lagi padamu.” Ucap Jin Eon begitu Hae Gang menghampirinya. “Aku sudah tahu.” jawab Hae Gang. “Berikan tasmu.” Pinta Jin Eon. “Tidak mau, tas melambangkan harga diri seorang wanita.” Jawab Hae Gang. “Berikan padaku. Tas wanitaku melambangkan harga diriku.” ucap Jin Eon. Hae Gang pun tersenyum, lalu memberikan tas alias keranjangnya yang berisi peralatan mandi pada Jin Eon. Jin Eon kemudian menyuruh Hae Gang menggandeng lengannya. Hae Gang pun menggandeng lengan Jin Eon, dan selanjutnya keduanya beranjak pergi menuju sauna dengan senyum terkembang. “Kau akan memakai itu?” tanya Hae Gang saat melihat Jin Eon sedang memilih2 baju sauna. “Aku pernah memakainya dulu.” Jawab Jin Eon. “Tak bisa kubayangkan…” dan Hae Gang pun tersenyum geli, “… tapi entah bagaimana tampaknya akan lucu.” “Awas ya kalau kau jatuh cinta padaku.” Ucap Jin Eon.   Ajumma penjaga sauna kemudian memberitahu bahwa Jin Eon...

I Have a Lover Ep 29 Part 2

Sebelumnya... Seok sedang galau di kamar yang dulu ditempati Hae Gang. Tak lama kemudian, sang ayah datang. Seok mengaku bahwa mungkin dia harus keluar dari rumah untuk sementara waktu karena ia tidak bisa mengendalikan dirinya. “Berusaha melupakan dengan putus asa akan membuatmu bertambah putus asa. Tidak bisakah putus asamu berkurang sedikit?” tanya sang ayah. “Aku punya penyesalan. Aku menyesal dan itu membuatku gila. Aku seharusnya menikahinya saat kau menyuruhku tahun lalu. Maka dengan begitu, dia akan berada di sampingku selamanya. Setidaknya, aku bisa mengatakan padanya untuk tinggal, untuk memohon padanya untuk tinggal. Aku rasa aku tidak bisa melepaskannya. Aku rasa tidak bisa membiarkan itu terjadi. Aku rasa aku tidak akan pernah bisa melepaskannya.” Jawab Seok. “Hanya kau menahan seseorang, hanya karena kau menyukainya, itu hanya akan membuat tanganmu sakit.   Tanpa bisa merasakan kehangatan, kau akan berteriak kesakitan. Itu sebabnya cinta bertepuk sebelah ...

I Have a Lover Ep 17 Part 2

Sebelumnya <<< Hae Gang di rumah sakit, menunggui Moon Tae Joon yang sedang di operasi. Wajahnya tampak cemas. Tak lama kemudian, Jin Eon datang. Dua staf keamanan Jin Eon yang sudah duluan tiba di sana, langsung menemui Jin Eon begitu Jin Eon datang. "Bagaimana dengan Moon Tae Joon?" tanya Jin Eon. "Dia sedang di operasi." jawab salah satu staf keamanan Jin Eon. "Lalu Do Hae... ah, maksudku Nona Dokgo Yong Gi?" tanya Jin Eon. "Dia menunggu di depan ruang operasi." jawab staf keamanan itu lagi. "Kau sudah mendapatkan nomor platnya?" tanya Jin Eon. "Sudah." Staf keamanan Jin Eon pun memberikan nomor plat kendaraan yang menabrak Tae Joon pada Jin Eon. Jin Eon menatap nomor plat itu dengan wajah cemas. Ia lalu menyusul Hae Gang ke ruang operasi. Keluarga Moon Tae Joon menyalahkan Hae Gang atas kecelakaan yang menimpa Tae Joon. Kakak Tae Joon berkata, jika saja Tae Joon mendengarkannya untuk m...