Thursday, November 14, 2019

The Great Show Ep 6 Part 3

Sebelumnya...


Seorang pria tua turun dari mobilnya setelah tiba di suatu tempat.


Sementara di restoran, Dae Han menunggu Pak Baek bersama Walikota Jung. Sambil menunggu Pak Baek, Walikota Jung membahas soal topic Debate pekan ini. Walikota Jung bilang, topic kali ini adalah apartemen upah rendah.

Dae Han : Siapa informanmu? Kau tahu segalanya.

Waliktota Jung : Lakukan dengan baik. Kang Joon Ho bukan lawan yang mudah. Menurutku dia lebih rumit daripada ayahnya.

Dae Han : Menangani anak laki-laki manja tidak sulit. Dia mungkin terlihat sangat mewah, tapi dia tidak sepadan denganku.


Tak lama kemudian, Pak Baek datang. Pria tadi.

Pak Baek menyapa Dae Han.

"Anggota Dewan Wi! Lama tidak berjumpa. Kau terlihat lebih baik setelah menjadi ayah."

"Terima kasih, Pak. Anda juga tampak jauh lebih baik. Apa Anda minum obat rahasia?"

"Benarkah?" Pak Baek memegangi kedua pipinya.

Pak Baek : Aku tahu kau tidak serius, tapi itu membuatku lebih baik.


Pak Baek lalu menyuruh mereka duduk.

Pak Baek lalu menuangkan minuman untuk Dae Han.

Pak Baek : Aku berharap banyak darimu. Tim tidak punya pemain bintang.

Dae Han : Terima kasih, Pak.

Dae Han lalu meminum minumannya.

Dae Han : Aku akan berusaha semampuku untuk membanggakan anda, Pak.

Pak Baek : Bagus.

Dae Han : Biar kutuangkan segelas, Pak.


Pak Baek lalu menyodorkan gelasnya dan menatap Walikota Jung.

Pak Baek : Wali Kota Jung, dukung dia.

Walikota Jung : Tentu saja, Pak.

Pak Baek : Harus kita tancapkan bendera partai di Jungang-gu suatu hari nanti!

Pak Baek : Tentu saja, kita harus. Anggota Dewan Kang sudah lama berkuasa.


Walikota Jung lalu tanya pada Dae Han soal rumor Joon Ho yang akan ikut pemilu. Dae Han pun berkata, ia mendengar itu langsung dari mulut Joon Ho.

Walikota Jung : Jika dia memikirkannya, apa artinya dia mencalonkan diri?

Pak Baek : Jika dia mencalonkan diri, itu akan menarik. Ini akan menjadi kompetisi antara Putra Rakyat dan Ayah Nasional. Ini akan menjadi distrik paling panas tahun ini. Jika kau menang kali ini, kita akan unggul selama pemilu.

Dae Han : Aku akan berusaha sebaik mungkin, Pak.


Hye Jin menyendokkan buah untuk ibunya Joon Ho.

Joon Ho yang tidak nyaman, minta ibunya berhenti memanggil Hye Jin ke rumah mereka. Joon Ho beralasan, Hye Jin sangat sibuk,

"Ibu tidak pernah melakukan itu. Hye Jin, apa aku melakukan itu?"

"Tentu saja tidak. Aku datang karena ingin bertemu dengan Ibu. Makan malam dan berbelanja bersama Ibu lebih menyenangkan daripada bergaul dengan teman-temanku." jawab Hye Jin.


"Kau dengar itu? Hye Jin dan ibu sangat akrab. Setelah tinggal dengan dua pria yang sangat membosankan, ibu selalu ingin punya anak perempuan. Setelah mengenalnya, ibu tidak memikirkannya lagi. Tidak perlu menunggu lagi. Kau harus menikah tahun ini."

"Dia benar. Seorang pria harus berkeluarga untuk meraih kesuksesan. Hye Jin akan menjadi istri yang baik."


Hye Jin jelas senang dipuji orang tua Joon Ho.

Joon Ho : Sudah kubilang. Hye Jin dan aku hanya teman dekat.

"Jika kalian begitu dekat, kita hanya butuh pernikahan."


"Aku menyukai seseorang." aku Joon Ho, membuat Hye Jin kaget. Hye Jin pun tanya siapa gadis yang disukai Joon Ho.

"Aku belum siap membicarakannya. Jika ingin membahas pernikahan, berhentilah meminta Hye Jin datang. Tidak sopan." ucap Joon Ho.


Ibu Joon Ho pun langsung menatap Hye Jin. Ia merasa tak enak pada Hye Jin.

Hye Jin : Itu biasa saja. Aku datang karena ingin. Aku penasaran dengan orang yang kau sukai.


Da Jung dan Soo Hyun ketemuan di taman. Da Jung curhat, soal Jung Woo yang tidak menjawab panggilannya dan membalas pesannya. Da Jung berkata, ia sangat cemas karena Jung Woo tidak pernah seperti itu sebelumnya.

Soo Hyun : Itulah yang dilakukan pria. Mereka semua masuk ke gua saat menghadapi tantangan. Beri dia ruang. Pada akhirnya dia akan keluar.

Da Jung lantas menatap Soo Hyun.

Da Jung : Tidakkah Kakak berpikir aku menyedihkan?

Soo Hyun : Da Jung, begini. Aku tidak akan bilang menyedihkan tapi kau ceroboh.

Da Jung : Tapi kenapa Kakak tidak menghentikanku?


Soo Hyun : Jika aku menghentikanmu, apa kau akan mendengarkanku?

Da Jung nyengir, tidak.

Soo Hyun : Aku yakin Dae Han akan berusaha menghentikanmu. Aku berencana tetap di sisimu. Jadi, kau bisa mengandalkanku.

Da Jung terharu mendengarnya.

Da Jung : Pria dari atas yang membawa ibuku pergi begitu cepat membiarkanku bertemu dengan Kakak.

Soo Hyun tersenyum mendengarnya.


Tak tiba2 datang. Ia menatap Da Jung dan tanya, apa Da Jung hamil. Sontak, Soo Hyun dan Da Jung kaget mendengar pertanyaan Tak.


Pak Baek menerima telepon dari seseorang dan terlihat kecewa.

Melihat reaksi Pak Baek, Walikota Jung dan Dae Han saling berpandangan.


Usai bicara di telepon, Pak Baek tanya berapa usia Da Jung.

Dae Han : Dia kelas 10. Kenapa anda bertanya tentang Da Jung?


Pak Baek : Sebuah artikel diterbitkan yang menyatakan dia hamil.

Sontak Dae Han kaget mendengarnya dan Walikota Jung langsung menatap Dae Han.


Joon Ho, ibunya dan Hye Jin sedang membaca artikel Da Jung.

Ibu Joon Ho tidak habis pikir bagaimana bisa Da Jung hamil.

Hye Jin berkata, yang menghamili Da Jung adalah calon idol.


Ibu Joon Ho kemudian berkata, sejak pertama lihat Da Jung di TV, ia sudah tahu Da Jung bukan gadis baik.

Joon Ho membela Da Jung.

Joon Ho : Kita tidak tahu apakah itu benar atau tidak. Ini artikel yang hanya disalin dan ditempel dari tabloid.

"Kau pikir tabloid menyebar rumor tanpa alasan? Wi Dae Han berbicara tentang aborsi adalah dosa." ucap ibu Joon Ho. Ibu Joon Ho kemudian penasaran apa yang akan terjadi selanjutnya.


Hye Jin : Jika tidak mau menjadi penjahat, dia harus mempertahankan bayinya.

"Kalau begitu, Wi Dae Han akan menjadi kakek? Wi Dae Han adalah seorang kakek?" ucap ibu Joon Ho. Ibu Joon Ho kemudian tertawa.


Joon Ho kesal, sudah cukup!

"Kenapa? Apa yang ibu lakukan?"

"Jika artikel itu benar, sebuah keluarga berantakan. Apa itu lucu bagi Ibu?"

Ibu Joon Ho langsung diam.


Di luar, Kyung Hoon bicara dengan asistennya. Kyung Hoon : Apa kau yang membocorkan rumor itu?

"Ya. Kita harus membalas perbuatannya hari ini."

"Kau sudah memastikan dia aborsi?"

"Belum."

"Kenapa terburu-buru? Mungkin aku berharap terlalu banyak darimu."


Joon Ho kemudian datang dan mengajak ayahnya bicara. Dan Kyung Hoon pun langsung menyuruh asistennya pergi.

Joon Ho : Artikel itu ulah ayah?

Kyung Hoon : Ya. Ayah tiba-tiba menemukan informasi itu. Ayah melaporkannya demi kebaikan bersama.

Joon Ho : Apa hubungannya urusan pribadi dengan kebaikan bersama?

Kyung Hoon : Informasi penting untuk mengukur kepribadian seorang politisi. Orang-orang berhak tahu.

Joon Hoo : Apa ayah harus bertindak sejauh ini?

Kyung Hoon : Hanya jika ayah bisa menang. Ayah bisa melakukan lebih dari ini. Ini politik yang ayah pelajari dan lakukan.


Joon Ho : Dan cara politik ayah telah membuat orang membenci politisi.

Kyung Hoon marah.

Kyung Hoon : Siapa pun bisa mengkritik siapa pun! Jika kau tidak suka cara ayah, kenapa tidak kau saja? Jangan membentak ayah! Tunjukkan kepada ayah bagaimana sikap konservatif yang sehat!

"Dunia berubah, tapi ayah masih sama seperti 20 tahun lalu." jawab Joon Ho kecewa. Joon Ho lalu pergi.


Kyung Hoon menatap kesal kepergian Joon Ho.

Kyung Hoon : Sungguh anak yang lemah.


Walikota Jung dan Dae Han mengantar Pak Baek ke mobil.

Pak Baek : Meskipun itu tidak benar, tidak baik terlibat rumor.

Dae Han : Tentu saja, Pak. Aku akan mengurusnya.


Setelah Pak Baek pergi, Walikota Jung tanya, apa rumor itu benar?

Dae Han : Ini bukan kali pertama kita melihat artikel berdasarkan rumor tabloid.

Walikota Jung : Kau harus menjaga anak-anakmu. Saat anak seorang politisi terlibat masalah, orang-orang tidak mengkritik anak itu. Mereka mengkritik politisi yang membesarkan anak itu. Kau bisa berubah menjadi orang yang paling dibenci dalam sekejap.

Dae Han : Kau pikir aku tidak tahu itu? Belum lama ini, aku adalah Putra Durhaka Nasional.


Walikota Jung kemudian pergi. Tinggal lah Dae Han dan Bong Joo berdua. Dae Han berbicara dengan reporter di telepon.

Dae Han : Ada alasan kenapa tabloid memiliki reputasi buruk. Itu benar-benar bohong! Jangan khawatir. Dia masih SMA! Menurutmu itu mungkin. Tentu saja, itu laporan palsu. Kenapa kau bersikap seperti ini? Aku akan menuntutmu atas penyebaran informasi palsu dan pencemaran nama baik jika kau tidak segera menghapus artikel itu. Jangan bilang aku tidak memperingatkanmu!


Si reporter bernama 'Heo' itu memutus panggilan Dae Han.

Dae Han kesal, dasar brengsek!


Bong Joo : Apa yang akan kau lakukan?

Dae Han : Apa lagi yang bisa kulakukan? Kita harus terus menyangkalnya dan membuatnya melakukan aborsi di tempat pribadi.

Bong Joo : Kurasa kau tidak akan bisa menemukan privasi saat ini. Kang Kyung Hoon mungkin menyewa paparazi untuk mengikutinya. Kenapa kau tidak membiarkan dia melahirkan?

Dae Han : Apa katamu?

Bong Joo : Kau sudah mengurus empat. Satu lagi tidak ada bedanya.

Dae Han : Apa kau sudah gila?

Bong Joo : Jika orang tahu kau menyuruh Da Jung aborsi, itu akan merusak reputasimu sebagai Ayah Nasional. Kau bahkan berteriak sekeras mungkin di TV bahwa aborsi adalah dosa.

Dae Han : Aku tetap tidak akan membiarkannya. Aku menerima yatim piatu karena kita bisa untung dan aku bisa mengatasinya. Melahirkan itu cerita yang berbeda. Jika kau melahirkan bayi tanpa persiapan, bayi dan orang tua akan mengalami jalan yang buruk. Itu tidak boleh terjadi. Tidak akan pernah!


Song Yi sudah tidur. Da Jun masih terjaga. Ia duduk di lantai dan membaca komentar orang2 di internet tentang kehamilan dirinya.

"Jadi, yang lebih muda menjadi bibi dan paman? Kasihan mereka."
"Aku akan terlalu malu untuk meninggalkan rumah."
"Jadi, Wi Dae Han akan menjadi kakek?"
"Kurasa kehamilan pranikah mengalir dalam keluarga."
"Aku tahu itu akan terjadi sejak dia muncul di TV. Dia perundung terkenal di sekolahnya."
"Dia pantas mendapatkannya karena memanfaatkan putrinya untuk politik."

Da Jung menangis.

Tiba2, terdengar suara Dae Han yang mengajaknya bicara. Da Jung langsung menghapus tangisnya.


Dae Han menyuruh Da Jung membungkam Tak, agar Tak tidak bicara kemana-mana soal Da Jung yg hamil.

Dae Han : Jika ada yang bertanya, katakan itu tidak benar.

Da Jung : Kita bisa menyembunyikannya untuk saat ini, tapi bagaimana nanti?

Dae Han : Nanti?

Da Jung : Jika perutku membesar.

Dae Han : Mari kita lihat perkembangannya selama beberapa hari, lalu mari lakukan aborsi.

Da Jung : Aku sungguh minta maaf, tapi aku tidak akan melakukannya.


Dae Han : Aku bertemu dengan bos Jung Woo siang ini. Jika tidak, dia akan menagih uang tiga kali dari jumlah yang dihabiskan untuk Jung Woo. Bisa lebih dari satu juta dolar.

Da Jung menangis : Bukankah yang Anda lakukan kepada kami terlalu kejam?

Dae Han : Tidak. Begitulah cara kerja kontrak. Mungkin awalnya tampak bagus, tapi saat kau harus melanggarnya, salah satu dari keduanya menjadi kacau.

Da Jung kecewa, syukurlah. Bahwa ibuku tidak tinggal dengan orang seperti Anda.

Da Jung kemudian pergi.


Da Jung menangis di taman. Tak lama, ponselnya berbunyi. Telepon dari Jung Woo.

Da Jung : Kenapa kau tidak menjawab?

Jung Woo : Maafkan aku. Hari ini sangat sibuk. Kau khawatir?

Da Jung : Tentu saja. Kau baik-baik saja?

Jung Woo : Tentu saja!

Da Jung : Jangan berbohong. Kudengar Pak Wi memberi tahu bosmu.

Jung Woo : Segalanya menjadi lebih baik berkat dia. Aku bertanya-tanya bagaimana aku harus memberitahunya.

Da Jung : Bukankah dia bilang kau harus membayar penalti?

Jung Woo : Aku kesulitan membujuk dia, tapi semua berjalan lancar. Jangan cemaskan aku dan beristirahatlah.


Jung Woo sendiri menggeret kopernya, menyusuri jalanan. Ia diusir dari agensinya.

Jung Woo : Kau juga harus memikirkan bayi itu. Omong-omong, jangan baca komentar di artikel berita, ya? Itu hanya akan merusak matamu.


Di sekolah, Da Jung diejek temen2nya.

Tak pun kesal dengan Da Jung. Tak yg malu, akhirnya pergi meninggalkan Da Jung, masuk duluan ke kelas.


Da Jung masuk kelasnya dan mendengar teman2nya mengejeknya.


Da Jung berusaha tidak peduli tapi kemudian, dia terganggu saat melihat tulisan ejekan di mejanya.

"Kursi untuk Wanita Hamil"


Begitulah bunyi tulisan di mejanya. Da Jung berusaha tidak peduli dan duduk di mejanya. Teman2nya pun semakin membicarakannya.

Bersambung ke part 4....

No comments:

Post a Comment