The Great Show Ep 7 Part 2

Sebelumnya...


Jung Woo sedang menatap foto hasil USG bayinya.

Tak lama, SMS Da Jung masuk.

Da Jung : Karena kita memutuskan untuk tidak saling mengasihani, aku tidak akan meminta maaf. Aku akan bersyukur seumur hidupku. Terima kasih sudah melindungi bayi kita bahkan dengan mempertaruhkan debutmu.

Jung Woo : Akulah yang seharusnya berterima kasih.


Jung Woo lalu mendongak, menatap langit. Ia tersenyum getir.

Jung Woo : Tapi kenapa aku sangat takut?

Jung Woo ternyata masih di halte dekat rumah Dae Han.


Pak Jung membawakan ayam dan bir untuk Soo Hyun. Pak Jung : Makan lah.

Soo Hyun : Ayah, kenapa pelanggan di sana lebih sedikit daripada biasanya? Biasanya, saat ini, aku bahkan tidak bisa menemukan tempat duduk.

Pak Jung langsung celingukan.

Pak Jung : Kau benar. Apa ada masalah hari ini? Anehnya sepi.

Soo Hyun : Ayah sudah menonton acaranya?

Pak Jung : Tentu saja. Harus ayah katakan Wi Dae Han sungguh unik.

Soo Hyun : Kenapa?

Pak Jung : Apa yang orang lain rahasiakan, dia akui di TV! Itu tidak mudah. Maksudku, namanya sudah enak terdengar. Dia pasti akan menjadi terkenal.


Bu Yang yang dari tadi duduk di deket meja kasir, langsung mendekati suami dan putrinya.

Bu Yang : Terkenal? Tidak mungkin. Dia akan mendapat masalah besar. Meski menginginkan bayi itu, dia hanya anak sekolah. Apa yang akan dia lakukan setelah melahirkan?

Pak Jung : Kau benar. Bukankah dia punya adik untuk diurus? Setelah kupikir-pikir. Dae Han cukup gegabah.

Soo Hyun : Ayolah, Da Jung tidak sendirian. Ada juga ayah bayi itu. Kita tidak perlu khawatir.


Mendengar itu, Pak Jung dan Bu Yang terdiam. Soo Hyun pun sadar sudah salah ngomong. Bu Yang lalu kembali ke meja kasir.

Pak Jung pun bicara lagi.

Pak Jung : Sekarang sudah hampir sepuluh tahun sejak Ji Hyun meninggal.


Bu Yang meneriaki Pak Jung.

Bu Yang : Kau hanya akan duduk di sana dan tidak bekerja? Masuk dan goreng ayam.

Pak Jung : Tentu saja. Aku akan melakukannya. Aku dalam perjalanan.

Pak Jung beranjak ke dapur.

Ponsel Soo Hyun berdering. Telepon dari Hye Jin.


Soo Hyun pun langsung menemui Hye Jin di kafe. Soo Hyun tanya, kenapa Hye Jin mengajaknya ketemuan selarut itu?

Hye Jin : Ada yang ingin kukatakan, tapi kupikir membicarakannya di telepon tidak pantas.

Soo Hyun : Jika tidak bisa bicara di telepon, ini bukan soal pekerjaan.

Hye Jin : Kau sudah tahu aku menyukai Pak Kang, bukan?

Soo Hyun : Lalu?

Hye Jin : Aku ingin tahu apa kau juga menyukainya.

Soo Hyun : Ini terasa seperti interogasi.

Hye Jin : Maaf. Aku tidak pandai berbasa-basi.

Soo Hyun : Kalau begitu, aku juga akan berterus terang kepadamu. Kau benar. Aku tertarik kepada Pak Kang. Jika ini alasanmu ingin menemuiku, aku harus pergi. Ini membuatku merasa sangat tidak nyaman.

Hye Jin : Lalu bagaimana dengan Dae Han? Bukankah kalian berdua dekat saat kuliah? Kalian berdua juga tampak akrab belakangan ini. Secara fisik dan emosional.


Soo Hyun : Kau benar. Kami dekat. Kami tetangga dan juga bekerja sama. Tapi itu saja.

Hye Jin : Begitukah? Kau pikir dia merasakan hal yang sama?

Soo Hyun : Tanyakan saja kepadanya. Kenapa kau bertanya kepadaku? Imajinasimu luar biasa. Mencoba menjodohkanku dengan orang yang akan menjadi kakek. Aku harus pergi.

Soo Hyun pergi. Hye Jin kesal.


Di jalan, Soo Hyun menerima pesan dari Joon Ho.

Joon Ho : Apa kita masih akan memancing malam besok?

Soo Hyun : Tentu saja. Kita sudah berjanji. Meski ini kali pertamaku memancing, jadi, aku tidak yakin.


Di taman,, Dae Han sedang bersama Bong Joo. Bong Joo mengecek internet.

Bong Joo : Peringkat kata kunci langsung, Wi Dae Han, Debat, Putri. Kata kunci yang paling banyak dicari adalah Wi Dae Han. Diikuti oleh putri Wi Dae Han. Popularitasmu sebagai Ayah Nasional tadinya mulai memudar. Bayi itu jimat keberuntunganmu.

Dae Han : Tingkat kelahiran rendah adalah masalah serius. Memiliki anak adalah tindakan patriotisme. Orang sepertiku harus terpilih sebagai Anggota Dewan Nasional. Aku akan punya empat anak dan satu cucu sebelum menikah.


Bong Joo tiba2 terbelalak dan menunjuk ke punggung Dae Han.

Dae Han melihat punggungnya dan kaget melihat bayi di punggungnya sedang menangis.

Dae Han panic.


Tiba2, Dae Han terbangun. Dae Han lega itu cuma mimpi.


Paginya, para reporter berkumpul di depan kediaman Dae Han.

Si kembar mengintip dari jendela.


Song Yi : Kenapa orang-orang itu ada di sini?

Tak yang berdiri di belakang si kembar bersama Da Jung, menyahut.

Tak : Menurut kalian kenapa? Berkat ayah dan putri yang hebat Apa yang akan Kakak lakukan? Semua orang akan tahu siapa aku karena Kakak.

Da Jung : Pakai saja masker di luar. Kau bisa berpura-pura menjadi bintang besar.


Dae Han datang.

Dae Han : Lupakan mereka dan bersiaplah ke sekolah. Aku akan mengusir mereka.


Dae Han keluar. Reporter bertanya, kapan Da Jung memutuskan mempertahankan bayi itu. Mereka juga tanya, rasanya menjadi kakek dan apa Da Jung putus sekolah?

Dae Han : Kalian pasti kesulitan bekerja pagi-pagi sekali. Aku akan mengadakan konferensi pers, jadi, tolong jangan datang ke rumah kami seperti ini. Aku tidak masalah, tapi anak-anakku masih muda dan bukan tokoh masyarakat. Tolong bantu melindungi privasi anak-anakku.


Dae Han membungkuk. Reporter minta Dae Han menjawab satu pertanyaan mereka soal ayah si bayi seorang idol trainee atau bukan?

Dae Han pun teringat kata boss agensi Jung Woo saat mereka bicara di telepon.

"Itu bagus untuk kami, tentu saja. Itulah yang kusebut situasi sama-sama menguntungkan. Kami mendapat publisitas, dan Jung Woo tidak perlu membayar penalti."


Dae Han : Jika kujawab pertanyaan itu, apa kalian akan pergi?

"Tentu, kami akan melakukan itu."

"Dia siswa latihan idola. Dia anggota grup bernama Chaos, yang akan segera debut."

Para reporter langsung heboh.


Dae Han mengantar Da Jung ke sekolah.

Dae Han : Aku menyelesaikan masalah denda, jadi, jangan khawatir.

Da Jung : Baiklah. Terima kasih.

Dae Han : Kau harus berhenti sekolah.

Da Jung : Tidak. Aku akan tetap sekolah. Aku ingin menyelesaikan semester ini.

Dae Han : Seluruh sekolah akan tahu kau hamil, dan anak-anak dan orang tua mereka tidak akan membiarkanmu.

Da Jung : Aku harus menghadapinya. Aku ingin menjadi ibu yang bangga atas bayiku. Aku tidak ingin bersembunyi seperti penjahat.



Dae Han : Aku paham perasaanmu...

Da Jung : Aku sudah mencarinya semalaman, dan murid hamil juga berhak untuk pendidikan.

Dae Han : Tapi bagaimana dengan hak orang lain yang dilanggar karenamu? Bukankah sudah kukatakan kemarin? Kau harus menjalani kehidupan yang berbeda. Berhentilah sekolah. Kepala Sekolah akan mengatakan hal yang sama.


Dae Han pun berbicara dgn KepSek Da Jung.

KepSek : Kita harus membiarkannya sekolah jika dia ingin. Pendidikan adalah hak dasar manusia yang dijamin oleh konstitusi.

Dae Han : Ya. Benar, Pak.

KepSek : Aku tersentuh oleh keberanianmu dan putrimu kemarin di acara ini. Tentu saja, mungkin ada orang tua yang menentang adanya murid hamil di sekolah.

Dae Han : Ya, Pak. Itu maksudku. Sebagai orang tua, aku sangat memahami perasaan mereka.

KepSek : Tapi itu sebabnya Kepala Sekolah harus menyelesaikan konflik ini. Aku akan mencoba membujuk para orang tua, jadi, jangan khawatir.

Dae Han terkejut mendengarnya.


Di kelas, wali kelas mencoba memberi pengertian pada murid2 yg lain soal Da Jung.

"Beberapa dari kalian mungkin sudah tahu, tapi sekolah sudah membahasnya dan Da Jung akan terus belajar dengan kalian. Bapak harap kalian bisa perhatian terhadap Da Jung."

Pak Guru juga berkata, Da Jung ingin menyelesaikan semester ini dan KepSek sudah setuju.


"Apa dia gila? Ada apa dengan sekolah kita?" ucap salah satu murid kesal.

"Ini kasus khusus, tapi dia berhak belajar, sama seperti kalian."

"Pak, ini berbeda. Bagaimana jika dia menabrak orang dan tidak sengaja keguguran? Siapa yang akan bertanggung jawab?"

"Karena itulah kalian harus pengertian. Jangan berlarian di kelas dan bicara dengan tenang jika bisa."

"Kenapa kami harus berhati-hati di sekolah karena dia? Hamil bukanlah sesuatu yang bisa dibanggakan, bukan? Kenapa kita harus menjadi korbannya?"


Da Jung yg merasa tidak enak, meminta Pak Guru tetap memperlakukannya seperti murid lain.

Da Jung lalu meminta maaf pada teman2nya.


"Jika kau menyesal, keluarlah dari sekolah."

"Go Min Ji, sudah cukup." ucap Pak Guru.

"Kenapa Bapak terus memarahiku? Dia yang hamil dan menyebabkan masalah!" jawab Min Ji.


Dae Han berjalan keluar dari gedung sekolah sambil bicara dgn Walikota Jung di telepon.

Walikota Jung : Kau bintang terkenal sekarang. Kau mungkin akan segera menjadi presiden.

Dae Han : Astaga, kenapa anda memujiku? Anda menonton debat soal apartemen upah rendah kemarin?

Walikota Jung : Secara isi, kau kalah.

Dae Han : Tentu. Aku tidak bisa menyiapkan banyak hal karena Da Jung.

Walikota Jung : Siapa yang peduli? Orang hanya mengingat citra itu dan bukan logikanya. Mungkin kau kalah pertarungan, tapi kau menang perang.

Dae Han : Bagaimana opini publik?


Walikota Jung : Sebelum kau ikut campur, 70 persen untuk sekolah dan 30 persen untuk apartemen, tapi kini kita sudah mencapai 50-50. Kita harus meraih hati para ibu dan naik ke 70 persen.

Dae Han : Anda tahu itu bagian tersulit, bukan?

Walikota Jung : Tentu saja. Tapi siapa Wi Dae Han? Kau Ayah Nasional.

Walikota Jung tertawa. Walikota Jun lalu tanya, apa yg akan terjadi pada Da Jung di sekolah?

Dae Han : Seharusnya itu respons alami, tapi mereka melakukan sebaliknya.


Asisten Kyung Hoon memberitahu Kyung Hoon bahwa KepSek Da Jung menelpon.

Kyung Hoon : Apa dia akan tetap bersekolah?

"Tampaknya Wi Dae Han ingin dia berhenti, tapi dia berhasil membujuknya untuk tetap sekolah sesuai perintah."

"Saat mereka mengungkap kehamilannya dan bilang dia akan melahirkan, orang-orang akan menyukainya. Tapi saat anak-anak menghadapi masalah karena dia itu tidak akan sama." ucap Kyung Hoon.

Kyung Hoon lantas tersenyum licik.

*Jadi karena Kyung Hoon gaes KepSek Da Jung ngizinin Da Jung tetap sekolah.


Ibu2 pendukungnya Kyung Hoon, menghasut para ibu untuk membuat petisi agar Da Jung dikeluarkan dari Sekolah.

Bersambung....

0 Comments:

Post a Comment