Lies of Lies Ep 1 Part 3

Sebelumnya...


Eun Soo duduk memeluk bayinya di halaman penjara.


Lalu kemudian, dia mendongak. Menatap langit.


Setelah itu, dia kembali menatap wajah putrinya.


Lalu dia melihat teman se-sel nya yang punya bayi juga menangis.

Teman se-sel nya yang lain datang.

"Dia mengirim anaknya pergi."

"Apa artinya?"

"Bandingnya ditolak. Dia akan segera diseret ke penjara lagi.  Dia tidak akan membawa anaknya kesana. Dia mengirim anaknya ke panti asuhan."

Mendengar itu, Eun Soo cemas. Dia takut dirinya bernasib sama dengan temannya itu. Bandingnya ditolak dan harus mengirim anaknya ke panti asuhan.


Sidang banding dimulai.

Eun Soo duduk di kursi terdakwa, bersama pengacaranya.

Ji Min datang dan menatap Eun Soo. Ia masih yakin Eun Soo tidak bersalah.


Ji Min mulai duduk di kursi penonton.

Orang-orang yang hadir bertanya-tanya, bagaimana wanita seperti Eun Soo bisa membunuh suaminya sendiri. Eun Soo bahkan sedang hamil. Mereka lalu menduga Eun Soo punya pria lain.

Mendengar itu, Ji Min sewot. Ia menyentak orang2 yang membicarakan Eun Soo.

"Jaga mulut kalian!"

Orang2 yang membicarakan Eun Soo langsung diam.


Ponsel Ji Min berdering. Ji Min pergi sembari menjawab ponselnya.

Eun Soo menoleh, menatap kepergian Ji Min.


Ji Min menjawab telepon dari Kepala Tim Seo diluar.

Dia kaget, kecelakaan besar?

"Pimpinan Kim Seong Cheol ketahuan menggunakan narkoba! Dia menyerahkan diri secara sukarela hari ini. Kau harus pergi ke Kantor Kejaksaan Seoul sekarang."

Belum sempat Ji Min menjawab, Kepala Tim Seo sudah memutus panggilannya.

Ji Min pun kesal tapi mau tak mau ia harus pergi.


Hakim meminta pengacara Eun Soo membawa saksi mereka.

Tapi saksi Eun Soo belum datang.

Hakim tanya, apa mereka tidak membawa saksi.

Pengacara : Tunggu sebentar.


Pengacara meraih ponselnya. Eun Soo menatap pengacaranya.

Pengacara Eun Soo memberitahu hakim bahwa ia baru saja menerima pesan teks dari saksi Eun Soo. Saksi Eun Soo menolak datang.


Tuan Ji terkejut.


Presdir Kim dan Seketaris Yoon saling bertatapan. *Njiir, ulah mereka nih kayaknya.

Hakim hendak membacakan putusan karena pihak Eun Soo tidak bisa membawa saksi.

Tuan Ji marah, tidak!

Hakim tak peduli dan terus membaca putusannya.

Presdir Kim tersenyum senang.

Ji Min yang baru selesai dengan urusannya di Kantor Kejaksaan, menelpon Ketua Tim Seo. Ia tanya, hasil banding kasus Eun Soo. Ia terkejut bandingnya ditolak.

Eun Soo datang membawa bayinya menemui ayahnya.

Tuan Ji menangis. Tuan Ji minta maaf karena dia lemah.

Eun Soo : Appa, jangan katakan itu. Kau sudah melakukan yang terbaik.

Tuan Ji : Tidak. Aku tidak tahu apa-apa. Aku pikir kau bahagia. Aku tidak tahu apa yang kau alami. Aku tidak khawatir sama sekali.

Eun Soo : Appa, aku minta maaf. Aku menyesal sudah menyakiti ayah.

Tuan Ji : Apa yang akan kau lakukan? Setidaknya untuk bayinya...

Eun Soo terdiam. Dia nangis menatap putrinya.

Tuan Ji : Aku bisa berada disana untukmu.


Putri Eun Soo menangis. Tangis Eun Soo tambah deras melihat putrinya menangis.


Waktu kunjungan habis. Sipir membawa paksa Eun Soo pergi.

Tapi Eun Soo balik lagi ke ayahnya. Ia memberitahu ayahnya kalau ada wartawan yang menyuratinya. Eun Soo memberitahu nama wartawan itu dan menyuruh ayahnya mencari Ji Min.

Eun Soo pergi.

Tuan Ji kaget, wartawan?


Ji Min ke penjara lagi. Dia mau menemui Eun Soo, tapi sipir bilang Eun Soo tidak mau menemui Ji Min.

Ji Min heran Eun Soo menolaknya lagi.

Ji Min : Bisakah kau mengatakannya sekali lagi? Aku reporter dari Channel A.

Sipir : Dia bilang tidak ingin menemui siapa pun.

Ji Min bingung.


Ternyata itu ulah Presdir Kim. Seketaris Yoon sedang berbicara dengan Kepala Sipir.

Seketaris Yoon : Pastikan dia tidak bicara dengannya.

Seketaris Yoon juga membuat saksi Eun Soo tidak datang.


Seketaris Yoon menemui Presdir Kim. Dia memberitahu soal reporter yang datang lagi menemui Eun Soo. Presdir Kim tanya siapa nama reporternya.


Seseorang menghubungi kantor Ji Min. Dia mencari Ji Min. Rekan Ji Min yang menjawab. Rekan Ji Min mengatakan bahwa Ji Min sedang tidak ada di tempat.


Ji Min yang baru kembali ke kantornya, dipanggil resepsionis. Resepsionis bilang ada surat untuk Ji Min.


Surat itu ternyata dari Tuan Ji.

Dalam suratnya, Tuan Ji menyebut Eun Soo adalah korban salah tuduh.

"Aku ingin memberitahumu betapa tidak adilnya ini untuk putriku. Itulah mengapa aku datang menemuimu. Aku sangat berharap bisa bertemu denganmu."

Usai membaca surat dari Tuan Ji, Ji Min langsung pergi.


Tuan Ji menunggu Ji Min di Terra Cafe. Seseorang datang, tapi bukan Ji Min.


Karena setelahnya Ji Min datang tapi Tuan Ji sudah tidak ada.

Ji Min menghubungi nomor Tuan Ji yang ada di surat.

"Apa kau Kang Ji Min...."

Belum sempat Ji Min menjawab, telepon terputus.

Ji Min berusaha menghubungi Tuan Ji lagi tapi tidak dijawab.


Tuan Ji berusaha meraih ponselnya yang dibuang ke tengah jalan. Ia bertekad menyelamatkan Eun Soo nya. Tapi saat berhasil meraih ponselnya, Tuan Ji tertabrak mobil! *Omo


Ji Min masih menunggu Tuan Ji di kafe.

Karena Tuan Ji tak kunjung datang, ia akhirnya beranjak keluar.

Ji Min kesal. Apa itu? Apa orang-orang di keluarganya suka berdiri tegak?


Ji Min kemudian melihat korban kecelakaan yang sedang ditolong paramedis. Tapi ia tak tahu itu Tuan Ji.


Saat Tuan Ji dimasukkan ke ambulance, Ji Min dihubungi Kepala Tim Seo.

Kepala Tim Seo bilang mengerikan.

Ji Min mengerti dan langsung pergi. Sementara ambulance membawa Tuan Ji.


Ji Min kembali ke kantor. Ia tanya, apa maksud kata-kata Ketua Tim Seo di telepon tadi.

Ketua Tim Seo bilang, Ji Min ditunjuk sebagai koresponden khusus.

Ji Min merasa heran kenapa dia tiba-tiba ditunjuk sebagai koresponden khusus.


Ternyata itu ulah Presdir Kim. Presdir mengucapkan terima kasih pada direktur tempat Ji Min bekerja.

Presdir Kim bilang ia dan Ji Min tidak saling mengenal, tapi ia hanya mau memberikan kesempatan pada reporter yang baik seperti Ji Min.


Seketaris Yoon masuk sambil berlari. Kali ini wajahnya terlihat panic.

Seketaris Yoon : Pimpinan...


Eun Soo menerima kiriman paket. Sebuah selimut cantik berwarna pink yang memiliki mainan boneka.

Eun Soo : Appa...

Eun Soo lalu menyelimuti putrinya dengan selimut itu.


Kemudian sipir datang menyuruh Eun Soo keluar. Sipir menyuruh Eun Soo mengambil 'cuti'.

Eun Soo bingung, cuti?

Sipir memberitahu Eun Soo bahwa Tuan Ji mengalami kecelakaan dan ada di rumah sakit.


Saksi Eun Soo berlari membawa kantung darah.

Tim dokter berusaha menolong Tuan Ji.


Sampai malam harinya, izin cuti Eun Soo belum keluar.

Eun Soo gelisah, sampai mondar mandir.

Kepala Sipir datang, memberitahu Eun Soo bahwa cuti Eun Soo ditolak. Alasannya, karena para polisi takut Eun Soo kabur.

Eun Soo bilang, ayahnya tak punya siapa-siapa selain dirinya. Ia juga meyakinkan Kepala Sipir kalau dia tidak akan kabur. Tapi Kepala Sipir tidak peduli dan menyuruh Eun Soo menyerah saja. Kepala Sipir pergi.


Eun Soo marah. Melihat itu, teman Eun Soo yang mengirim bayinya ke panti, mengambil bayi Eun Soo dari gendongan Eun Soo. Eun Soo berteriak, minta dibukain pintu.


Tim dokter masih berusaha menyelamatkan Tuan Ji, tapi Tuan Ji meninggal.


Ji Min sedang merayakan jabatan barunya di rumahnya, bersama Eun Se Mi.

Di belakang mereka, tergantung foto pernikahan mereka.

Se Mi mengucapkan selamat atas ditunjuknya Ji Min sebagai koresponden khusus.

Ji Min masih merasa aneh karena penunjukannya terlalu tiba-tiba.

Ji Min lalu tanya apa yang terjadi pada pekerjaan Se Mi.

Se Mi bilang dia akan berhenti bekerja saat mereka memulai proses bayi tabung.

Se Mi juga bilang bahwa dia sudah menemukan rumah sakit yang terkenal dengan proses bayi tabungnya.


Ji Min menggenggam tangan Se Mi. Dia bilang dia baik-baik saja meski mereka tak punya anak.

Tapi Se Mi ingin anak yang mirip dengan Ji Min.


Eun Soo tiba di rumah sakit. Dia menemukan ayahnya sudah tiada.

Tangis Eun Soo pecah.


Di ruangannya, Ji Min sedang memindahkan filenya dari dalam kardus ke atas meja.

Lalu dia memeriksa beberapa suratnya dan terdiam melihat surat dari Eun Soo.

Ji Min lalu duduk dan terus menatap surat dari Eun Soo.

Ji Min : Aku tidak bisa melihatnya pada akhirnya.

Ji Min lalu menyimpan surat Eun Soo ke dalam map kuningnya.


Paginya, Eun Soo duduk terdiam sambil mendekap putrinya.

Ia terus mencium selimut, hadiah dari ayahnya.

Sipir datang, memberitahu Eun Soo menerima kunjungan.


Eun Soo keluar membawa bayinya. Ia terkejut melihat Presdir Kim yang datang.

Eun Soo duduk sambil terus mendekap bayinya.

Presdir Kim menatap lirih Eun Soo.

Presdir Kim : Lama tidak bertemu. Kau terlihat kurus.

Eun Soo diam saja dan terus menatap bayinya.

Presdir Kim : Apa itu bayi Ki Bum?


Eun Soo tanya, apa alasan Presdir Kim datang mengunjunginya.

Presdir Kim : Kudengar kau akan segera dipindahkan ke penjara. Apa yang akan kau lakukan dengan bayinya?

Eun Soo bilang akan membawa bayinya.

Presdir Kim : Apa selanjutnya? Kau harus mengirimnya pergi saat dia berusia 18 bulan. Sudahkah kau memutuskan kemana akan mengirimnya?

Eun Soo menatap Presdir Kim.

Presdir Kim : Baik. Ayahmu satu-satunya keluarganya. Dia mati sia-sia.

Eun Soo : Apa yang mau kau katakan?

Presdir Kim : Berikan bayi itu padaku.


Eun Soo : Apa kau bilang? Kau pikir aku akan mengirim bayiku ke lubang yang membara itu?

Presdir Kim : Lubang api?

Eun Soo : Iya, lubang api. Yang aku ingat adalah aku dipukuli sampai mati. Dia memukulku saat aku memintanya menyelamatkanku. Saat aku lari, dia menemukanku dan memukulku. Dia memukulku bahkan ketika aku mengatakan aku hamil. Anakmu bukan manusia.

Presdir Kim : Itukah sebabnya kau membunuhnya?

Eun Soo : Aku berharap aku yang melakukannya, tapi aku tidak.


Presdir Kim : Jangan berbohong.

Eun Soo : Karena aku pasti ibu yang tidak bersalah bagi bayi ini.

Presdir Kim : Berhenti berbohong!

Eun Soo : Aku akan mengungkapkan kebenaran.

Presdir Kim : Tentu. Aku berharap kau melakukan itu. Tapi bagaimana dengan kehidupan bayi itu untuk sementara ini? Rumahku adalah lubang yang berapi-api? Tidak mungkin. Baginya kau lah lubang api itu! Putri dari seorang ibu yang membunuh ayahnya. Itu akan mengikuti seluruh hidupnya dan menyiksanya.

Eun Soo : Terus? Kepadamu aku hanyalah penyihir yang membunuh anakmu. Bahkan sekarang kau menyalahkanku tapi ingin membesarkan bayiku? Kenapa?

Presdir Kim : Darahku. Dia adalah yang terakhir dari darahku. Apapun yang orang katakan, aku adalah neneknya. Dia satu-satunya yang tersisa.


Eun Soo tidak percaya. Bohong.

Presdir Kim : Kau lah yang berbohong. Menurutku mudah bagiku mengambil keputusan ini? Tapi aku tidak bisa membiarkan satu-satunya darahku tumbuh di penjara. Aku tidak bisa membiarkan orang lain membesarkannya.

Eun Soo : Kau menginginkanku untuk percaya padamu sekarang?

Presdir Kim : Tetap saja lebih baik hidup sebagai pewaris D.O daripada putri seorang pembunuh.

Eun Soo : Tidak. Dia tidak butuh itu. Aku akan membesarkannya.


Eun Soo berdiri. Dia mau pergi.

Tapi Presdir Kim bilang siap mengabdikan hidupnya untuk bayi Eun Soo ketimbang Ki Bum.

Eun Soo pergi membawa bayinya.


Presdir Kim kesal.

Bersambung ke part 4...

0 Comments:

Post a Comment