Blind Eps 1 Part 2

 All Content From tvN
Penulis : Catatan-Iza
Sinopsis Lengkap : Blind
Sebelumnya : Blind Eps 1 Part 1
Selanjutnya : Blind Eps 1 Part 3

Sung Joon dan Detektif Kim ke klub. Mereka mencari si pelanggan VIP gila yang dimaksud temannya Ji Eun.

Si pelanggan VIP gila lagi melakukan hal yang sama seperti yang dia lakukan pada Ji Eun, pada wanita lain. Dia menaruh obat ke dalam minuman wanita itu, lalu mengeluarkan uang dan memaksa wanita itu meminum miras yang sudah dia campur obat. Si wanita menolak dan berniat pergi. Si pelanggan VIP tidak membiarkan wanita itu pergi gitu aja. Dia menjambak rambut wanita itu dan mencekik lehernya, sambil mengarahkan pisau ke wajah wanita itu.

Tepat saat itu, Sung Joon datang dan langsung menendanng si pelanggan gila. Si pelanggan gila marah dan ingin tahu siapa Sung Joon. Sung Joon menunjukkan identitasnya sebagai polisi. Si pelanggan gila kesal, lalu mengumpat. Dan tanpa memperdulikan Sung Joon, dia menendang wanita itu. Lalu menarik kepala wanita itu dan membenturkannya ke meja.

"Dasar wanita kurang ajar! Beraninya kau menolakku! Kau mau mati!" teriak si pelanggan gila.

Sung Joon emosi. Dia mendorong teman si pelanggan gila yang menahannya, lalu memukuli si pelanggan gila.




Sekarang, Sung Joon sudah di kantornya. Dia lagi membaca catatan kriminal si pelanggan gila.

Tapi kemudian, dia melihat wanita itu mau pergi.

Sung Joon bergegas mengejar.

"Kau mau kemana?"

Wanita itu bilang mau ke toilet.

"Toiletnya di sana. Ikuti aku." ucap Sung Joon.

Sung Joon memegang tangan wanita itu, tapi wali wanita itu datang. Dia salah paham.

"Kenapa kau memegang tangannya dan memaksanya mengikutimu? Di kantor polisi. Berani sekali kau."

Sung Joon pun menunjukkan kartu PNS nya sebagai polisi. Melihat itu, wali wanita itu langsung merubah sikap menjadi lebih manis.

"Bukan begitu. Aku yakin kau punya alasan. Bukan begitu, Detektif Ryu?"

"Siapa kau?" tanya Sung Joon.

"Halo. Aku wali Kwon Yu Na."

"Apa hubunganmu dengannya?"

"Begini, aku..." Wali Yuna mau menjelaskan, tapi Yu Na langsung memotong kata2 walinya.

Yu Na : Waliku datang. Aku boleh pergi, bukan?


Sung Joon mengejar Yu Na.

Yu Na sewot, apa lagi kali ini?

Sung Joon : Dengarkan aku baik-baik. Jika bertemu orang gila lagi seperti hari ini, pukul dia dengan sikumu seperti ini. Lalu selama 15 detik, dia akan pening seperti ini. Manfaatkan itu, tendang selangkangannya dengan lutut. Jika itu tidak berhasil, gunakan sisi tanganmu dan pukul lehernya, lalu tendang selangkangannya lagi. Maka dia akan seperti ini.

Sung Joon mengajari Yu Na cara melindungi diri. Tapi Yu Na melengos pergi.

Sung Joon : Hei, jangan lupa! Tapi kalau bisa, hindari tempat itu. Mengerti?


Wali Yu Na meminta Sung Joon menceritakan apa yang terjadi pada Yu Na.

Sung Joon tanya, apa dia benar wali nya Yu Na. Yu Na tidak terurus.

Sung Joon : Hal buruk hampir terjadi saat dia bertemu pencandu di kelab. Karena kau walinya, awasi dia dengan baik agar kejadian ini tidak terulang.


Yu Na menunggu walinya diluar. Tak lama, walinya datang.

Yu Na tanya, bagaimana walinya tahu dia akan di kantor polisi.

Wali : Kenapa kau ingin tahu? Yang penting aku datang, bukan?

Si wali lalu mengendus tubuh Yu Na.

Wali : Kau minum? Mau menghilangkan pengar?

Yu Na : Kenapa kau seperti ini kepadaku? Orang tua dan wali kelasku tidak berkomentar. Apa hakmu mencampuri hidupku? Kau hanya pekerja sosial.

Wali : Itu tugasku. Melindungimu meski orang tua dan gurumu menyerah mengurusmu.

Yu Na : Menjijikkan.

Wali : Tugasmu melayani masyarakat masih panjang. Jika kau tidak mau bersekolah, jangan berkeliaran tanpa tujuan dan datanglah ke pusat. Bagaimana jika kau tinggal di rumah perlindungan? Ide bagus. Aku akan mencari tahu apa ada kamar kosong. Kau juga harus memisahkan diri dari kru pelarian.

Yu Na : Kau pikir aku akan berubah jika kau melakukan ini?

Wali : Entahlah. Terserah kau mau berubah atau tidak.

Yu Na beranjak pergi. Si wali mengajak Yu Na makan.


Sung Joon menanyai si pelanggan gila. Dia menunjukkan foto Ji Eun.

Sung Joon : Kau bertemu wanita ini di kelab tanggal 5 Januari, bukan?

Pelanggan gila : Dia? Benar. Aku berniat mengajaknya bersenang-senang, tapi dia terus menolakku, jadi, aku membiarkannya pergi.

Sung Joon : Begitukah? Kau tidak tahan saat diremehkan, bukan? Saat Baek Ji Eun menjauhkanmu, kau marah, bukan? Kau sangat marah hingga mengejarnya untuk membunuhnya?

Pelanggan gila : Kau pikir aku punya waktu untuk itu? Ada banyak wanita di dunia ini.


Detektif Kim kemudian masuk dan berbisik pada Sung Joon.

Detektif Kim : Alibinya sudah diperiksa.

Mendengar itu, si pelanggan gila berdiri dan menertawakan Sung Joon.

Pelangan gila : Tamatlah riwayatmu. Ayahku sangat kaya. Pamanku seorang pengacara di firma hukum besar. Aku akan memenjarakanmu karena melakukan ini kepadaku.


Sung Joon kesal dan memukul meja. Dia lalu mendekati si pelanggan gila dan berkata kalau ayahnya seorang hakim. Hakim Mahkamah Agung. Si pelanggan gila jinak kembali. Dia mau duduk, tapi kursinya ditendang Sung Joon. Dia jatuh, tapi tidak berani marah.

Sung Joon beranjak ke pintu. Tapi sebelum pergi, dia menatap tajam si pelanggan gila dan berkata kalau kakaknya juga hakim.


Kita ke Hakim Ryu Sung Hoon sekarang. Dia kakaknya Sung Joon. Sung Hoon lagi makan sendirian di kantin. Lalu koleganya melihatnya dan ingin makan dengannya. Tapi Sung Hoon lebih suka makan sendiri. Alasannya karena semua korupsi dimulai dengan makan. Itu upaya Sung Hoon untuk menghindari orang-orang meminta bantuannya tentang sidang. Itu sebabnya orang bilang dia akan menjadi calon Ketua Mahkamah Agung.


Selesai makan, Sung Hoon kembali ke ruangannya. Asistennya bilang Sung Hoon kedatangan tamu.

"Dia mantan hakim Mahkamah Agung..."

Sung Hoon bilang tidak perlu menyajikan teh.


Sung Hoon masuk ke ruangannya. Si mantan hakim bilang dia kebetulan lewat jadi dia memutuskan mampir untuk minum teh dengan Sung Hoon.

Sung Hoon : Maafkan aku. Aku ada rapat dengan hakim lain sebentar lagi.

Mantan Hakim : Begitukah? Kalau begitu, kita minum teh lain kali saja. Aku akan langsung ke intinya hari ini. Entah ini kebetulan atau aku beruntung, tapi kasus pertamaku setelah membuka firma hukumku ditugaskan kepadamu.

Sung Hoon : Begitu rupanya. Kasus apa itu?

Sung Hoon siap mencatat.

Mantan Hakim : Bukan kasus besar. Soal narkoba. Dia mahasiswa kedokteran. Dia pintar dan anak yang baik. Tapi sepertinya, dia tidak tahan godaan dan melakukan kesalahan.


Mendengar itu, Sung Hoon menekan pensilnya dan patah.

Sung Hoon menutup kembali catatannya.

Mantan Hakim : Kau tahu anak muda seperti apa.

Sung Hoon : Sekali adalah kesalahan, tapi setelah kali kedua, itu kebiasaan. Mahasiswa kedokteran yang kau bilang anak baik itu pernah dalam masa percobaan karena menjual dan memakai narkoba. Lalu dia mengulangi kejahatan itu sebelum masa percobaannya berakhir. Jadi, jelas dia akan mendapat hukuman tambahan.

Mantan Hakim : Aku juga tahu itu. Tapi jika kau menetapkan tanggal persidangan setelah masa percobaannya usai...

Sung Hoon : Ada alasan aku harus melakukan itu?


Mantan Hakim : Kau tahu Detektif Ryu Sung Joon? Dia memukuli klienku hingga dirawat selama lima pekan. Dia terus bicara soal menuntutnya, tapi jika kita bersepakat hari ini, aku bisa membatalkannya.

Sung Hoon : Tuntut dia.

Mantan Hakim : Bukankah Detektif Ryu Sung Joon itu adikmu?

Sung Hoon : Benar. Jika seseorang melakukan kesalahan, meski itu adikku, dia harus dihukum. Jika kau akan mempertimbangkan kekerabatan, regionalisme, koneksi sekolah, dan koneksi pribadi, kenapa kita butuh hukum dan peraturan? Lakukanlah sesuai hukum.

*Berarti klien si mantan hakim ini adalah si pelanggan gila yaa..



Sung Hoon lalu berdiri. Kemudian dia bilang dia kecewa pada si mantan hakim.

Sung Hoon : Kau pernah menyandang reputasi bergengsi sebagai hakim, tapi berusaha membuat kesepakatan seperti ini. Aku akan melaporkan kejadian hari ini ke Kantor Administrasi.

Mantan Hakim : Apa? "Membuat kesepakatan?" Dasar kurang ajar.

Si mantan hakim akhirnya pergi dengan wajah kesal.


Ponsel Sung Hoon berbunyi.

Telepon dari ayahnya.

Sung Hoon : Ya, ayah?


Sung Joon dan rekan2nya bersiap untuk makan siang. Detektif Kim bilang dia mau makan sup Bibi dengan nasi.

Tapi atasan mereka, Yeom Ki Nam, tiba2 datang.

Pak Yeom : Ryu Sung Joon! Aku menyuruhmu mengejar pembunuh. Kenapa salah menangkap orang?

Sung Joon membela diri, dia memukuli anak di bawah umur dan pencandu narkoba. Kenapa disebut salah orang? Meski upayanya gagal, dia juga mencoba meracuni Baek Ji Eun. Dia bedebah!

Pak Yeom : Akan lebih baik jika pencandu itu berhasil. Setidaknya dia tidak akan dibunuh secara brutal!

Detektif Oh berusaha nenangin Pak Yeom, Pak Kepala, itu agak...

Pak Yeom : Ryu Sung Joon, kau dituntut atas penyerangan!

Detektif Oh : Aku akan mengurus ulang kasus Detektif Ryu dengan baik.

Detektif Oh lalu mengajak Pak Yeom makan siang. Dia bilang dia yang bayar.


Rekan2 Sung Joon mengikuti Detektif Oh. Sung Joon berhenti berjalan. Ponselnya bunyi.

Sung Joon : Ya, hyung? Rapat keluarga?

Sung Hoon : Pulanglah sebelum pukul 6.30 malam.


Sung Joon sudah tiba di rumahnya. Tapi dia terdiam sejenak di mobilnya. Dia teringat pembicaraannya tadi dengan kakaknya di telepon.

Sung Joon : Hyung, aku menyelidiki kasus pembunuhan belakangan ini, jadi, aku sangat sibuk. Bisa bantu aku menyelesaikan masalah soal Ibu dan Ayah?

Sung Hoon : Lalu? Kau sungguh tidak akan datang? Bukankah kau anggota keluarga ini?

Flashback end...




Terpaksalah Sung Joon masuk. Begitu masuk, dia mendengar tawa ayah-ibu dan kakaknya. Hatinya makin berat. Tapi dia tetap bergabung dengan mereka.

Sang ibu melihat luka di tangan Sung Joon.

"Kau berkelahi lagi?"

 Tidak, ini karena menangkap tersangka."

"Pasti menyenangkan jika kau menjadi hakim seperti kakakmu."

Kata Pak Ryu, tidak semua orang bisa menjadi hakim.

Sung Joon makin tak nyaman.

Pak Ryu kemudian mengajak mereka bersulang. Untuk Bu Na Guk Hee, calon Menteri Kesehatan dan Kesejahteraan.

Sang ibu, Nyonya Na, tersenyum.

Sung Hoon : Selamat, Bu. Ibu bekerja sangat keras.

Nyonya Na memegang tangan Sung Hoon.

Nyonya Na : Meski ibu tahu kau harus repot karena ibu.

Sung Hoon : Kami berdua selalu bekerja lembur.

Pak Ryu : Dan adiknya satu-satunya selalu terlibat masalah seperti kuda liar. Kau sudah berusaha keras menjaga anak ini, Hakim Ryu. Tapi ini membuat ayah khawatir. Kurasa Sung Joon belum sadar. Apa yang harus kita lakukan dengannya?

Sung Hoon : Jika kalian menjelaskan kasus ini di sidang dengar pendapat, aku yakin komite akan mengerti. Untungnya, orang yang menuntut Sung Joon sangat dibenci masyarakat. Dia terdakwa di salah satu persidanganku.

Nyonya Na : Syukurlah kasus ini akan berakhir tanpa masalah. Tapi jika dia melakukan ini lagi...

Pak Ryu : Sung Joon-ah, jangan lakukan apa pun dan diam saja, ya? Dengan begitu, kau bisa membantu ibumu.

Nyonya Na : Nak, tolong bantu ibu.

Sung Joon tambah gak nyaman.


Selesai makan malam bersama ortu mereka, mereka pulang sama2 ke apartemen mereka. Begitu sampai di apartemen, Sung Hoon langsung masuk ke kamarnya. Sung Joon ke dapur, dia ingin bicara. Tapi Sung Hoon gak keluar juga. Akhirnya terpaksalah Sung Joon menjelaskan sambil menatap ke arah kamar kakaknya.

Sung Joon : Tentang pencandu itu. Aku sungguh akan melupakannya. Tapi berandal itu menghajar seorang gadis tepat di depanku. Bagaimana mungkin aku tidak bertindak? Kau mungkin tahu karena melihat catatannya, tapi aku tidak memukuli sembarang orang.


Sung Hoon keluar. Dia gak peduli sama penjelasan Sung Joon dan menawari Sung Joon minum.

Sung Joon pun memegang lengan kakaknya.

Sung Joon : Hyung, kau sungguh marah padaku?

Sung Hoon menatap tangan Sung Joon yang memegang lengannya. Sung Joon pun menurunkan tangannya.

Sung Hoon : Ryu Sung Joon. Kenapa kau menjadi polisi?

Sung Joon : Kenapa tiba-tiba menanyakan itu?


Sung Hoon : Saat kita masih sekolah, aku selalu gugup melihatmu memukuli anak-anak di gang. Kupikir jika terus begitu, kau bisa membunuh seseorang. Tapi saat kau berubah pikiran dan bilang ingin menjadi polisi, aku terkejut sekaligus lega. Aku tidak perlu khawatir lagi soal aku mungkin punya adik pembunuh. Tapi hari ini, aku terpikir sesuatu. Mungkin kau menjadi polisi untuk alasan yang berbeda.

Sung Joon : Alasan apa?

Sung Hoon : Kau lebih tahu jawabannya daripada aku.


Karena perkataan kakaknya, dia pun minum2 sendirian di sebuah kedai.

Ajumma pemilik kedai keluar dan melihat Sung Joon terus minum. Dia menghela nafas melihat Sung Joon.

*Kayanya nanti ajumma ini satu2nya orang yang percaya sama Sung Joon.


Di ruang kerjanya, Sung Hoon mengukir sebuah kayu. Dia melakukannya dengan hati2 dan teliti.

Ngeliat scene ini kok jadi curiga ama Sung Hoon yaa...

Bersambung ke part 3...

0 Comments:

Post a Comment