Blind Eps 3

 All Content From tvN
Penulis : Catatan-Iza
Sinopsis Lengkap : Blind
Sebelumnya : Blind Eps 2
Selanjutnya : Blind Eps 4

Puluhan anak kerja rodi di bangunan tua.

Si anak kedua memberitahu Yoon Jae, bahwa anak nomor 11 tertangkap semalam.

Kamera menyorot tangan anak kedua. Ada bekas luka bakar di sana.

Yoon Jae : Lalu? Di mana dia sekarang?

Anak kedua menaruh telunjuknya di depan mulut Yoon Jae, agar Yoon Jae diam.

Anak kedua bilang, nomor 11 ada di gudang di halaman belakang pusat.

Yoon Jae : Tempat itu?

Anak kedua : Ya, tempat itu. Tempat eksekusi Kesejahteraan Harapan.




Lalu Pak Baek datang. Dia memukuli, juga menendangi anak kedua

Pak Baek : Sudah kubilang jangan bicara!


Anak pertama terbangun. Tubuhnya penuh luka. Kedua tangannya diikat tali yang digantung di langit2. Lalu Pak Baek datang bersama Pak Goo dan satu satpam lagi. Anak kedua langsung pura2 pingsan.

Pak Baek : Dia masih hidup?

Pak Goo : Ya, Pak. Harus kita apakan dia?

Pak Baek : Jika aku membunuh orang, tidak akan baik untuk bayinya, bukan?

Pak Goo : Apa?

Pak Baek : Istriku hamil.

Pak Goo : Selamat, Pak.

Pak Baek : Istriku terlihat gelisah karena ini kehamilan geriatri. Dia melarangku melakukan apa pun yang akan membawa sial.

Pak Goo : Pak, begitu merasakan dunia luar, mereka tidak akan bisa melupakannya. Kita harus mencegah masalah...

Pak Baek : Kupikir aku tidak akan pernah bisa punya anak. Kau tahu apa yang kupikirkan saat kami hamil setelah 10 tahun? Dewa selalu memihakku.


Pak Baek menyuruh Pak Goo melepaskan anak pertama.

Begitu mereka pergi, anak pertama menatapnya dengan tajam.


Yoon Jae masih terjaga, sementara ketiga kakaknya sudah tidur. Tak lama, dia mendengar petugas membuka pintu sel nya. Yoon Jae langsung pura2 tidur. Anak pertama dilemparkan masuk ke dalam. Begitu petugas pergi, Yoon Jae langsung mendekati kakaknya. Ketiga kakaknya yang lain juga ikut bangun dan mendekati kakak mereka.

Yoon Jae : Hyung, aku tahu kau akan kembali hidup-hidup.


Mereka lalu membantu anak pertama berdiri.

Anak pertama tersenyum.

Anak kedua : Kau bukan main. Bagaimana kau bisa tersenyum setelah luput dari maut?

Anak pertama : Aku yang diseret ke gudang, tapi kenapa kau yang babak belur? Pak Choi memukulimu lagi?

Anak kedua : Jangan membahasnya. Aku merinding memikirkannya.


Anak pertama lalu duduk, dia dikelilingi adik2nya.

Anak kedua tanya, kau pergi sampai mana? Kau bertemu seseorang?

Anak pertama : Aku beruntung dan berhasil ke kantor polisi. Aku menceritakan kisah kita kepada Kepala Polsek. Tapi mereka semua bersekongkol. Bahkan bedebah itu.


Anak ketiga : Bisakah kita kabur tanpa ketahuan Anjing Gila? Bagaimana jika kita minta bantuan lebih banyak orang?

Anak pertama : Tidak ada lagi orang di luar sana yang bisa membantu kita. Mulai sekarang, kita hanya bisa percaya pada diri sendiri.

Mereka semua kesal.


Anak keempat ketakutan.

Anak pertama langsung meyakinkan anak keempat kalau dia akan mencari jalan keluar.

Yoon Jae : Benarkah?


Anak pertama melirik Yoon Jae, bagaimana denganmu?

Yoon Jae : Aku ingin ikut denganmu.


Anak pertama menatap adik2nya yang lain.

Anak pertama : Bagaimana dengan kalian?

Mereka setuju dengan anak pertama.


Lalu mereka semua menyatukan tangan mereka.

- Episode 3, Anak-anak yang Dia Telantarkan -


*Sebelum lanjut, puyeng gak sih kalian?? Ada 5 anak.. Anak pertama (kemungkinan Sung Hoon), yang paling kecil (anak kelima), Yoon Jae. Anak ketiga dah tewas (yg kelindes mobil). Anak kedua dan keempat nih yang belum ketemu. Sementara, ada dua juri yang mencurigakan. Soon Gil si supir taksi sama Tae Ho. Mungkin gak sih mereka anak kedua dan keempat?

Sung Hoon membuka tirai. Sung Joon pun bangun karena sinar matahari membuatnya silau. Nyonya Na langsung menyudahi teleponnya. Dia lantas beranjak mendekati Sung Joon. Pak Ryu dan Sung Hoon juga.

Sung Joon : Kalian datang.

Pak Ryu memarahi Sung Joon, kau berlarian menembakkan senjata. Lihat dirimu sekarang. Berpikirlah sebelum bertindak, ya? Andai kakakmu, dia tidak akan bertindak gegabah.

Sung Joon kesal, apa yang akan kau lakukan jika hal buruk terjadi kepada wanita yang disandera?

Nyonya Na meminta Sung Joon pindah ke bagian perkantoran, seperti Departemen Inspeksi atau Departemen Intelijen.

Pak Ryu bilang pendidikan Sung Joon kurang untuk menduduki posisi di kedua departemen itu. Nyonya Na pun meminta Sung Joon berhenti dari kepolisian.

Sung Joon : Kenapa aku harus berhenti dari kepolisian?

Nyonya Na : Karena kau selalu membuat masalah. Sampai kapan kami harus mencemaskanmu?

Sung Joon menghela nafas.

Nyonya Na minta Sung Joon tidak marah. Dia mengklaim, itu semua mereka lakukan demi kebaikan Sung Joon sendiri.

Sung Joon yang kesal, menyuruh mereka keluar. Dia bilang dia lelah.

Nyonya Na : Pikirkanlah saat kau pulih.


Pak Ryu, Nyonya Na dan Sung Hoon beranjak keluar.

Pak Ryu bertanya pada Sung Hoon apa kata dokter, apa operasinya lancar? Sung Hoon bilang dia belum bicara dengan dokter. Dia akan menemui dokter dalam perjalanan keluar.

Nyonya Na : Ibu tahu kau pasti sibuk, tapi Sung Joon terus menyebabkan masalah seperti ini. Tidak ada yang bisa kulakukan.

Sung Hoon : Aku menonton sidang ibu.

Nyonya Na : Benarkah? Bagaimana penampilan ibu?

Sung Hoon : Ibu sangat hebat.

Nyonya Na : Ibu sangat bahagia saat dipuji putra sulung ibu.


Pak Ryu : Penilaiannya bagus. Jika Sung Hoon bilang kau hebat, artinya kau hebat. Bukan begitu? Kau begitu bahagia?

Nyonya Na : Tentu saja.

Mereka tertawa.

Sung Joon mendengar tawa mereka. Dia kesal, lalu bangun dan duduk di kasurnya.


Eun Ki ke RS Mooyoung. Dia datang untuk menjenguk Sung Joon, tapi perawat tidak mau memberitahu dimana kamar Sung Joon karena Eun Ki mengaku hanya kenalan Sung Joon.

Eun Ki memaksa, dia bilang dia harus bertemu dengan Sung Joon. Perawat kebingungan. Tepat saat itu, Sung Hoon datang.

Sung Hoon : Cho Eun Ki-ssi?

Eun Ki kaget melihat Sung Hoon, Hakim Ryu?


Mereka berdua bicara di taman. Sung Hoon mengatakan, bahwa Sung Joon adalah adiknya. Eun Ki bilang mereka tidak mirip. Sung Hoon lalu melihat plester di leher Eun Ki.

Sung Hoon : Seharusnya aku memberi peringatan lebih keras kepada para juri?

Eun Ki memegangi lehernya, kurasa itu tidak akan banyak mengubah hasilnya. Maksudku, kau tidak perlu merasa bersalah.

Sung Hoon memberikan saputangannya.

Sung Hoon : Tetap saja, lebih baik menyembunyikannya untuk sementara. Kau akan teringat insiden itu setiap kali melihatnya.

Eun Ki : Terima kasih.

Sung Hoon lalu memberitahu Eun Ki dimana kamar Sung Joon.


Eun Ki pun langsung ke kamar Sung Joon. Saat dia masuk, Sung Joon udah berdiri dan berusaha mengambil buah di dalam keranjang yang masih dibalut plastik.

Eun Ki berterima kasih pada Sung Joon karena sudah menyelamatkannya.

Sung Joon : Tidak masalah. Tapi kau sudah aman jika bepergian seperti ini?

Eun Ki : Tentu saja. Kau sendiri, bagaimana keadaanmu?

Sung Joon : Seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja.

Sung Joon sok menggerak-gerakkan kedua tangannya, tapi kemudian dia meringis kesakitan di bagian tubuhnya yang tertusuk pisau. Eun Ki melihat itu. Sung Joon pun beralasan, ototnya kram karena kelamaan berbaring.


Eun Ki lalu tanya, dimana dia harus meletakkan bawannya.

Ya, Eun Ki membawa oleh. Sepertinya itu minuman kesehatan.

Sung Joon menyuruh Eun Ki menaruhnya di meja.

Tapi di meja ada pisau. Sontak lah Eun Ki langsung teringat kejadian dia disandera. Itu membuatnya takut. Dia trauma.

Melihat itu, Sung Joon langsung mengambil pisau di atas meja. Eun Ki terkejut dan langsung memejamkan mata ketika Sung Joon mengulurkan tangan untuk mengambil pisau.

Sung Joon : Maaf, aku hendak menyingkirkan pisaunya.


Sung Joon lalu menyuruh Eun Ki menjalani perawatan.

Sung Joon : Ada pusat perawatan psikologis untuk korban yang dikelola oleh kepolisian. Sebaiknya kau segera ke sana dan menjalani perawatan.

Eun Ki : Baiklah. Hampir lupa. Ini kartu namaku. Silakan hubungi aku kapan saja jika kau butuh bantuanku. Aku selalu membalas budi dan rasa terima kasihku.

Sung Joon : Begitu rupanya. Kurasa aku tidak akan pernah meminta bantuanmu, tapi aku akan menerima ini karena menghargai tawaranmu.

Eun Ki : Aku akan membantu apa pun selain hal yang mengharuskanku menyerahkan nyawaku atau banyak uang.

Sung Joon : Apa pun? Pernyataan itu sangat berbahaya.


Nyonya Baek gila. Dia duduk di lantai dan menyanyikan lagu ulang tahun di depan kue ulang tahun Ji Eun. Pak Goo datang dan melihat Nyonya Baek. Lalu dia masuk ke kamar, menemui Pak Baek.

Pak Baek sendiri duduk di ujung kasur. Dia menghapus tangisnya dan menaruh foto Ji Eun di lantai. Pak Goo memberikan Pak Baek sebuah flashdisk.

Pak Goo : Seperti kata Jung Man Chun, ini ada di loker metro.


Polisi menjaga kamar Pak Jung. Lalu seorang wanita bermasker datang dan bertanya dimana ruangan rontgen.

"Di sebelah sana." jawab si polisi. Wanita itu menarik si polisi dan meminta si polisi menunjukkannya lagi.


Saat si polisi lengah, seorang bocah laki2 berseragam pasien masuk ke kamar Pak Jung. Kepala bocah itu diperban.

Ternyata bocah itu anak Pak Jung. Pak Jung bergegas menyembunyikan tangannya yang diborgol dibalik selimut. Bocah laki2 itu lari memeluk ayahnya.

Pak Jung : Won Woong-ah! Ayah akan melakukan apa pun untukmu. Jika harus melompat ke kobaran api, ayah akan melakukannya. Jika harus melompat ke air, ayah juga akan melakukannya. Ayah akan bertaruh nyawa agar kau tetap aman. Jangan mencemaskan apa pun dan tumbuhlah dengan sehat. Mengerti?

Won Woong mengangguk.


Sung Hoon ke kamar Sung Joon saat Sung Joon hendak meminum minuman kesehatan yang dibawa Eun Ki tadi.

Sung Joon : Hyung, kau masih di sini?

Sung Hoon bilang dia mau memastikan sesuatu.

Sung Joon tanya soal apa.

Sung Hoon : Bagaimana Jung Man Chun bisa tahu alamat Cho Eun Ki? Kau sudah bertanya?

Sung Joon : Soal itu? Detektif Kang menyelidikinya, tapi dia juga tidak menjawab pertanyaan kali ini. Orang seperti dia tidak boleh dianggap manusia. Apa karena Detektif Kang lulusan Akademi Kepolisian? Dia terlalu lembut.

Sung Joon menatap Sung Hoon, apa? Kaumendapat firasat?

Sung Hoon : Setelah persidangan, sebagian Daftar Alamat Juri hilang. Nama Cho Eun Ki ada di sana.

Sung Joon : Kalau begitu, apa Jung Man Chun memiliki daftar itu?

Sung Joon pun ingat saat dia membekuk Pak Jung di pengadilan, Pak Jung sempat merobek daftar alamat para juri.

Sung Joon : Aku mengerti. Bedebah itu sudah berencana untuk menjadikan Cho Eun Ki target. Makanya dia membentak para juri. Dia bilang, "Kalian semua akan mati" dan semacamnya.

Sung Hoon : "Kalian semua akan mati karena perbuatan kalian hari ini."

Sung Joon : Ya, itu. Pria ini sangat teliti.

Tapi Sung Hoon tetap aja menatap Sung Joon dengan tatapan curiga.


Eun Ki pulang ke rumah atapnya. Tapi melihat sekeliling rumahnya berantakan, dia teringat lagi kejadian penyanderaan itu. Sontak lah, dia ketakutan.

Lalu dia meyakinkan dirinya kalau itu bukan apa-apa. Dan dia hanya kurang beruntung dan semua itu sudah berlalu.

Eun Ki : Kau akan masuk dengan tenang dan mengambil barangmu. Itu saja.

Tapi tetap saja dia tak berani masuk. Seorang wanita setengah baya keluar dari rumah Eun Ki, dia membawa kantung sampah dan meletakkan sampah itu diluar. Dia lalu melihat Eun Ki. Sontak lah dia langsung memeluk Eun Ki. Di pelukan wanita itu, tangis Eun Ki pecah.

Eun Ki : Eomma!

Ternyata eomma nya!


Eun Ki dibantu eomma nya melipat baju.

Nyonya Cho : Pemilik apartemenmu menolak mengembalikan depositmu sampai ada penyewa baru. Karena keadaannya seperti ini, pulanglah dengan ibu. Carilah pekerjaan lain.

Eun Ki : Aku harus kembali bekerja besok. Aku menghabiskan semua cutiku untuk ini.

Nyonya Cho : Eun Ki-ya!

Eun Ki : Aku juga merindukan anak-anak. Aku memikirkan keadaan Yu Na. Ada gadis bernama Yu Na yang datang ke pusat. Dia terus kehilangan arah dan terlibat masalah. Dia mengingatkanku pada diriku yang dahulu. Aku ingin membantunya agar lebih baik. Sejujurnya, aku tidak tahu harus membantunya sejauh apa.

Nyonya Cho : Apa ini saatnya kau mencemaskannya? Kau hampir mati belum lama ini!

Eun Ki : Tapi aku selamat. Aku memutuskan untuk menginap di pusat untuk sementara. Aku sudah mendapat izin dari bosku hari ini.

Nyonya Cho nangis, kenapa kau terlahir sebagai putri ibu?

Eun Ki : Ada apa?

Nyonya Cho : Ibu tahu putri tunggal ibu tinggal di kamar atap yang pintunya bahkan tidak layak. Kau terlahir dari ibu yang bahkan tidak bisa memberimu rumah layak.

Eun Ki memegang tangan ibunya.

Eun Ki : Astaga. Kau mulai lagi, Bu Cho. Ibu. Sebentar lagi usiaku 30 tahun. Mencari rumah, bekerja, dan menjalin hubungan adalah tanggung jawab orang dewasa, bukan orang tua mereka. Sama dengan ini. Aku kebetulan terpilih sebagai juri. Karena itulah ini terjadi. Bukan karena aku tinggal di kamar atap ini. Ini bukan salah Ibu. Berhentilah menyalahkan diri sendiri. Berhentilah menangis.


Hari sudah malam. Eun Ki sudah berada di pusat komunitas anak. Dia mengunci jendelanya dan memastikan jendela terkunci dengan baik karena takut kejadian itu terulang lagi.

Eun Ki tidur di ruang kelas anak-anak. Lalu dia tiba2 berpikir, benarkah dia hanya kurang beruntung sehingga kejadian itu terjadi kepadanya.

Eun Ki lalu berkata pada dirinya jangan memikirkan hal itu lagi dan bergegas tidur.


Pak Baek, Pak Goo dan Kepala Yeom ketemuan di pinggir sungai.

Kepala Yeom marah, kau sudah lupa? Aku sudah memberitahumu, sebaiknya kita tidak bertemu lagi.

Pak Baek : Kau belum berubah sama sekali, Kepala Polsek Yeom.

Kepala Yeom : Apa? "Kepala Polsek"?

Pak Baek : Benar juga. Sekarang kau Kepala Polsekta. Maafkan aku, Kepala Polsekta Yeom.

Kepala Yeom : Langsung ke intinya saja.

Pak Bek : Bantu aku mencari seseorang.

Kepala Yeom : Seseorang? Siapa?

Pak Baek : Dua puluh tahun lalu, ada lima anak terakhir yang mencoba kabur dari pusat. Dia salah satunya. Jung Yoon Jae.

Kepala Yeom : Kenapa kau mencarinya sekarang?

Pak Baek : Kurasa bedebah itu membunuh putriku.

Pak Baek lalu mendengarkan rekaman suara Joker dengan Pak Jung.

Pak Jung : Apa? Kau ingin membayarku untuk membunuh seseorang?

Joker : Tidak. Kau hanya perlu memerankan orang yang dijebak atas pembunuhan. Aku sendiri yang akan menyingkirkan putri Pak Baek.

Pak Jung : Siapa kau? Dendam apa yang kau miliki sampai membunuh putri Pak Baek?

Joker : Kau ingin tahu siapa aku? Namaku Yoon Jae. Jung Yoon Jae.

Kepala Yeom kaget, bagaimana kau tahu dia membunuh putrimu berdasarkan ini?

Pak Baek : Kau sudah melupakan gadis di vila itu?

Kepala Yeom : Aku tidak tahu maksudmu.

Pak Baek : Kau takut masa lalumu akan terungkap?

Pak Baek pun ingat apa yang terjadi 20 tahun lalu.

Flashback...


Seorang gadis kecil tengah melamun di sebuah vila. Tak lama, Kepala Yeom datang. Dia berusaha menyentuh atau mengambil sesuatu dari leher gadis itu. Sontak lah gadis itu langsung menyingkirkan tangan Pak Baek dari lehernya dan berlari ke jendela. Dia berusaha membuka jendela. Tapi Kepala Yeom keburu menangkapnya. Kepala Yeom membekapnya dari belakang, lalu menyeretnya. Kalung di lehernya terjatuh ke lantai.

Flashback end...


Kepala Yeom : Kau mengancamku? Pusat kesejahteraan itu sudah ditutup 20 tahun lalu. Semua catatan di sana juga sudah dibakar. Meski anak itu, Yoon Jae, adalah pelakunya, bagaimana kita bisa menemukannya sekarang? Sungguh nahas putrimu meninggal, tapi lupakanlah.

Pak Baek : Ji Eun adalah orang paling berharga dalam hidupku. Siapa orang yang seperti itu dalam hidupmu?

Mendengar itu Kepala Yeom panic.


Joker bersiul, sambil berjalan menuju kelas di sekolah TK. Dia mengintip sebuah kelas, tapi tak menemukan anak yang dia cari. Lalu dia melihat kelas lain. Dan satu anak memperhatikannya.


Kepala Yeom datang dan mencari Min Ho, cucunya. Tapi Min Ho tak ada di kelas. Kepala Yeom panic dan langsung mencari Min Ho. Guru Min Ho juga bahkan kebingungan Min Ho tiba2 menghilang dari kelas.

Kepala Yeom mencari Min Ho keluar. Tak lama, Min Ho datang membawa sebungkus kresek hitam.

Kepala Yeom langsung memeluk Min Ho. Dia lega Min Ho baik2 aja.

Kepala Yeom lalu menatap Min Ho.

Kepala Yeom : Kau pergi ke mana tanpa berpamitan?

Min Ho : Pak Joker memberiku ini.


Kepala Yeom memeriksa isi kresek. Isinya, susu pisang dan beberapa roti.

Sontak lah Kepala Yeom ingat saat dia memberikan hal yang sama pada si anak pertama di masa lalu.

Kepala Yeom : Karena tidak tahu seleramu, aku membeli semuanya. Makanlah.

Kepala Yeom lalu bertanya pada Min Ho siapa yang memberikan itu.

Min Ho bilang Pak Joker.

Min Ho : Dia mengenakan jaket bertudung dan memakai topeng Joker.

kepala Yeom kaget dan membuang roti juga susu pisang itu.


Lalu guru Min Ho lari keluar, Pak Kepala Yeom, apa ada masalah?

Kepala Yeom marah, ke mana ibu Min Ho pergi? Kenapa tidak menjawab teleponku?

Min Ho : Ibu ada tugas juri, dan belum pulang, Kakek.

Kepala Yeom : Apa? Ibumu ada tugas juri?


Di ruangannya, Sung Hoon menatap alamat para juri. Yong Ki, Chul Ho, In Sung, Kyung Ja, Tae Ho, Charles, Soon Gil dan Eun Ki sudah berhasil dia hubungi.

Tapi Hye Jin tidak.

Sung Hoon lalu mengambil ponselnya dan menatap kontak Hakim Kang Chan Sik dan Jaksa So Jin.

"Hakim Kang Chan Sik, Jaksa So Jin"


Kita diperlihatkan kejadian tiga hari lalu.

Hye Jin dikejar-kejar seseorang! Dia berlari masuk ke hutan dan menjatuhkan ponselnya tanpa ia sadari.

Hye Jin sembunyi di dalam semak2. Tapi, dia mendengar bunyi ponselnya. Dia melihat ponselnya terjatuh agak jauh di depannya.

Sung Hoon lah yang menghubungi Hye Jin.


Hye Jin yang ketakutan, merangkak keluar untuk mengambil ponselnya. Tapi saat mau menjawab telepon dari Sung Hoon, Joker muncul.

Joker pun menendang Hye Jin.


Setelah itu, dia menyeret Hye Jin menuju suatu tempat.

Sekarang, Hye Jin duduk di kursi dengan tangan diikat ke belakang. Hye Jin nangis memanggil2 ayahnya. Dia takut luar biasa.

-Tanggal 15 April 2022, penculikan Yeom Hye Jin-


Di ruangannya, Kepala Yeom meninggalkan pesan suara di ponsel Hye Jin. Dia marah.

Kepala Yeom : Berapa lama kau akan menjadi juri? Sebagai ibunya, kau tidak mencemaskan Min Ho? Bagaimana bisa seorang ibu meninggalkan anaknya dan bepergian berhari-hari? Ada pria mencurigakan yang berkeliaran. Akhiri perjalananmu dan pulanglah! Astaga!

Kepala Yeom melemparkan ponselnya ke atas meja.


Detektif Kang Chang Wook datang.

Kepala Yeom : Bagaimana? Kau sudah melacak ponselnya?

Detektif Kang : Ya. Kami tahu keberadaan putrimu.

Kepala Yeom : Benarkah? Di mana dia?


Para polisi berlarian ke hutan, tempat jasad Hye Jin ditemukan.

Kondisi jasad Hye Jin, sama seperti Ji Eun.


Ajumma pemilik kedai membawakan bubur untuk Sung Joon.

Sung Joon : Kau tidak perlu repot. Kenapa membawakanku ini? Bagaimana dengan kedaimu? Kau harus menghasilkan uang, mencetak selebaran, dan mencari putramu yang hilang.

Ajumma bilang terlalu banyak yang terjadi, aku tidak ingin bekerja hari ini.

Sung Joon : Kenapa? Ada masalah?

Ajuma cerita bahwa putri Kepala Yeom ditemukan di dekat danau.

Ajumma : Pipinya disayat seperti gadis lain. Aku kasihan pada Pak Kepala.

Sung Joon kaget, kau yakin pipinya disayat?

Ajumma : Ya, aku yakin. Para detektif bergegas pergi saat sarapan. Aku penasaran apa yang terjadi. Mereka melarangku memberitahumu.

Mendengar itu, Sung Joon langsung melepas infusnya dan mengambil bajunya di lemari.


Kepala Yeom masuk ke kamar jenazah.

Tangisnya pecah melihat jasad Hye Jin.


Para detektif berkumpul di depan kamar mayat.

Detektif Na menunjukkan SNS Hye Jin pada Detektif Oh.

Detektif Na : Kapten, lihat ini. Ini swafoto terakhir yang diunggah Yeom Hye Jin di media sosial. Tagarnya "Juri" dan "Kasus Joker".

Detektif Oh : Kasus Joker? Itu kasus Baek Ji Eun.

Detektif Kim :  Kurasa putri Pak Kepala adalah anggota juri di persidangan itu.

Detektif Oh bingung, apa yang terjadi?


Lalu Sung Joon datang.

Detektif Oh langsung mengomelinya, kenapa kau disini? Kau belum boleh bergerak. Nanti lukamu akan terbuka.


Sung Joon lalu mendengar tangis Kepala Yeom. Dia pun langsung ke kamar mayat.

Sung Joon marah melihat kondisi jasad Hye Jin.


Sung Joon pun ke NFS. Jasad Hye Jin sudah selesai di autopsi.

Dokter menjelaskan, memar di bagian dalam lutut dan siku Hye Jin, panjang sayatan di kedua pipi, tepi sayatan yang rapi. Semuanya identik dengan Baek Ji Eun.

Sung Joon tanya penyebab kematian. Dokter bilang sesak napas.

Dokter : Tidak ada tanda kekerasan seksual, juga sama seperti Baek Ji Eun.

Sung Joon : Selain jejak kekerasan. Kenapa dia diserang? Apa dia sulit ditaklukkan?

Dokter : Kuku-kukunya patah. Dia jelas melawan.



Sung Joon melihat kuku Hye Jin.

Setelah itu, dia menatap dokter forensik.

Dokter : Kenapa? Apa lagi kali ini? Kau ingin menguji apa kukuku patah jika aku melawan?

Sung Joon : Bolehkah?


Dokter langsung mengeluarkan pisau bedahnya, dasar gila. Jangan coba-coba.

Sung Joon melihat kuku si dokter.

Sung Joon : Lupakan saja. Kukumu tidak seperti kukunya. Pelakunya sama?

Sung Joon : Berdasarkan tanda di tubuhnya saja, ada 99 persen kemungkinan pembunuhnya sama. Aku tidak mengerti. Jung Man Chun ada di rumah sakit. Bagaimana dia bisa membunuh Yeom Hye Jin? Kapan dia dirawat?

Dokter: Pada hari penyanderaan. Tanggal 15, sekitar pukul 6 pagi?

Sung Joon : Kalau begitu, mungkin saja. Waktu kematiannya antara tengah malam dan pukul 2 pagi tanggal 15.


Maka Sung Joon langsung mendatangi Pak Jung.

Dia menarik kerah Pak Jung, kau pelakunya. Kau membunuh Yeom Hye Jin, bukan?

Pak Jung : Siapa?

Sung Joon : Juri Yeom Hye Jin!

Polisi yang bertugas menjaga Pak Jung, berusaha menghentikan Sung Joon.

Sung Joon melepaskan Pak Jung, baiklah. Aku hanya akan bertanya.


Tapi kemudian, Sung Joon balik menarik kerah Pak Jung.

Sung Joon : Kau membunuh Yeom Hye Jin. Tanggal 15 sekitar tengah malam dan pukul 2 pagi. Kau menyayat pipinya dan membunuhnya, bukan?

Pak Jung : Benarkah? Benarkah dia dibunuh sekitar waktu itu? Aku punya alibi.

Sung Joon : Alibi?

Pak Jung : Ya. Wanita itu. Wanita itu adalah alibiku.

Sung Joon : Siapa wanita itu?


Sung Joon dan Detektif Kim menginterogasi Eun Ki.

Sung Joon : Pada hari kau disandera, pukul berapa kau melihat Jung Man Chun?

Eun Ki : Saat itu pukul 11.50 malam.

Sung Joon : Bagaimana kau tahu saat itu pukul 11.50 malam?

Eun Ki : Setelah sidang, semua juri makan bersama di luar. Di restoran Jepang milik salah satu juri.

Flashback....


Young Ki dan Chul Ho mabuk, mereka dibantu pelayan masuk ke mobil Young Ki.

Hye Jin dan Kyung Ja mengajak Eun Ki pulang bersama dengan taksi Soon Gil. Eun Ki awalnya menolak, tapi dia terpaksa ikut karena dipaksa.

Eun Ki : Pukul 11 malam lewat sedikit, Pak Choi mengantarku pulang dengan taksinya.

Dalam perjalanan, Hye Jin menunjukkan foto2 yang diambilnya tadi.


Akhirnya, Eun Ki tiba di persimpangan rumahnya. Dia turun dari taksi Soon Gil. Kyung Ja sudah turun duluan.

Eun Ki menyuruh Hye Jin hati2. Taksi pun mulai melaju.


Dalam perjalanan, dia menerima pesan dari Sung Hoon.

Eun Ki : Aku membaca pesan Hakim Ryu saat hampir tiba di rumah. Saat itu pukul 11.42 malam. Saat itulah aku tahu dia kabur. Aku takut dan bergegas pulang. Aku tiba di rumah dan...


Eun Ki berhenti bicara. Dia takut mengingat kejadian itu.

Sung Joon : Cho Eun Ki-ssi, kau baik-baik saja.

Eun Ki : Saat itu pukul 11.50 malam.

Sung Joon : Kau menelepon polisi setelah pukul 5 pagi. Lantas, apa yang dilakukan Jung Man Chun sampai saat itu?

Eun Ki : Tidak ada. Sepertinya dia memikirkan sesuatu.

Sung Joon : Dia pernah keluar antara tengah malam dan pukul 2 pagi?

Eun Ki : Tidak pernah. Kenapa kau menanyakan itu?

Sung Joon : Yeom Hye Jin dibunuh pada saat itu.

Eun Ki terkejut, tidak mungkin.


Para detektif kembali rapat membahas kasus Hye Jin.

Detektif Oh :  Seorang sandera menjadi alibi penyandera. Hidup ini memang ironi.

Detektif Kang : Selama Jung Man Chun punya alibi, kita harus mengusut kasus putri Pak Kepala Yeom dari awal.

Detektif Oh : Kurasa begitu.

Detektif Na : Bukan hanya "kurasa begitu". Menurut teoriku, kasus ini adalah ulah peniru.

Detektif Kang sewot dan melemparkan foto2 jasad Hye Jin.

Detektif Kang : Tapi bukankah modus operandinya terlalu mirip untuk peniru? Lokasi dan ukuran luka di mulutnya. Sama persis dengan Baek Ji Eun.

Detektif Kim : Kalau begitu, menurutmu pelakunya di antara mereka yang melihat foto Baek Ji Eun atau laporan autopsi?

Detektif Na : Hei, Seok Goo-ya. Itu masuk akal. Siapa saja yang melihat mayat Baek Ji Eun?

Detektif Kang : Tim penyelidikan kita, BFN, dan Tim Forensik?

Sung Joon datang. Dia bilang ada orang lain juga yang melihatnya.

Detektif Kang : Siapa itu?

Sung Joon : Orang-orang yang melihat mayat Baek Ji Eun dan bersama Yeom Hye Jin sampai sebelum dia meninggal. Para juri kasus pembunuhan Baek Ji Eun.


Charles lagi membuat ikan untuk sashimi. Lalu seseorang masuk. Charles minta maaf dan bilang mereka belum buka. Tapi orang itu tetap masuk. Dia Sung Joon.

Charles : Kau Detektif Ryu Sung Joon, bukan?

Sung Joon melihat2 restoran Charles.

Sung Joon : Bagaimana kau tahu namaku?

Charles : Penampilanmu mengesankan hingga aku ingat namamu. Aku juga suka melihat kesaksianmu.

Sung Joon : Ingatanmu tajam.

Sung Joon lalu menanyai Charles.

Sung Joon : Pada malam tanggal 14, para juri makan malam bersama di sini, bukan?

Charles : Ya.

Sung Joon : Setelah makan malam, antara tengah malam dan pukul 2 pagi, di mana dan apa kegiatanmu?

Charles : Aku membersihkan toko, lalu tidur. Aku tidur di sini agar bisa sadar.

Sung Joon : Aku tidak melihat tempat untuk tidur di sini.

Charles : Jika kursi disatukan, bisa menjadi ranjang darurat.

Sung Joon : Kau tidak tampak penasaran. Alasan detektif tiba-tiba datang dan mengajukan semua pertanyaan ini.

Charles : Aku sudah melihat berita. Kasus Coco Mom.


Sung Joon melihat Charles memegang pisau.

Sung Joon : Sudah berapa lama kau memakai pisau?

Charles : Termasuk empat tahun di Kanada dan belajar di Jepang, totalnya sekitar delapan tahun.

Sung Joon : Delapan tahun? Setelah delapan tahun, kau pasti lihai memakai pisau.

Charles : Kau mau lihat? Sehebat apa aku memakai pisau?


Charles lalu bilang ada kamera pengawas di luar toko.

Charles : Aku harus menunjukkan rekaman dari malam itu, bukan?

Charles ingin menunjukkannya. Sung Joon tanya, apa ada yang mencurigakan di malam itu saat makan malam.

Charles : Ada.

Flashback...


Hye Jin asik foto2.

Chul Ho terus memperhatikan Hye Jin dengan tatapan genit.

Flashback end...


Detektif Kang menemui Young Ki.

Young Ki bilang kalau Chul Ho sangat genit sampai wajahnya memerah melihat itu.

Detektif Kang : Bagaimana reaksi Nona Yeom?

Young Ki : Dia tidak tampak sangat kesal, tapi juga tidak terlalu senang. Dia sudah beristri.

Detektif Kang : Nona Yeom juga bersuami dan punya anak.

Young Ki : Begitukah? Dia tidak terlihat seperti seorang ibu.

Detektif Kang : Pukul berapa kau pulang malam itu?

Young Ki : Pukul berapa, ya?


Istri Young Ki datang membawa minum.

Istri Young Ki yang jawab,  suamiku pulang pagi-pagi sekali.

Detektif Kang : Sekitar pukul berapa?

Istri Young Ki : Sekitar pukul 3 atau 4 pagi. Dia merasa kesepian sejak pensiun dan kurasa dia bersenang-senang bersama orang-orang.


Detektif Kang : Makan malamnya berakhir pukul 11 malam. Di mana kau dan apa kegiatanmu sampai pukul 3 atau 4 pagi?

Istri Young Ki langsung menatap Young Ki.

Young Ki kebingungan menjawab. *Pasti seneng2 ama cewek nih.


Sung Joon menanyai Chul Ho.

Chul Ho : Pak Kang mengatakan itu? Astaga, pria itu. Bar hostes? Itu hanya bar biasa.

Sung Joon : Menurut Pak Kang, dia mabuk dan tertidur. Saat dia bangun, kau menghilang.

Chul Ho : Aku tidak menghilang. Aku tidak berniat mengatakan ini. Pak Kang, pria itu... Dia suka bermain kotor. Kurasa karena dia sudah lama bekerja di bagian penjualan. Dia terbiasa mentraktir makan dan minum anggur. Karena tidak tahan, aku menyerah dan pergi.

Sung Joon : Pukul berapa itu?

Chul Ho : Sekitar pukul 1 malam.

Sung Joon : Setelah meninggalkan bar pukul 1 malam, kau pergi kemana?

Chul Ho : Tentu saja pulang.

Chul Ho kemudian menatap Sung Joon, apa kau mencurigaiku? Aku memproduseri acara berita terkini. Produser dokumenter yang hanya mengejar kebenaran, mengerti?


Lalu stafnya, Soo In lewat.

Chul Ho : Soo In, aku menikmati acaramu. Komposisinya bagus dan pesannya jelas. Kau hebat.

Soo In : Baiklah.

Soo In lalu pergi dengan wajah kesal.

Chul Ho mengumpat, dasar kurang ajar.

Sung Joon melihat itu.


Detektif Na menginterogasi In Sung, sambil makan kue ditraktir In Sung.

Detektif Na : Malam itu, kau keluar dari taksi dan langsung pulang, bukan?

In Sung : Ya.

Detektif Na : Ada yang bisa membuktikan kau ada di rumah?

In Sung : Malam itu, aku menghabiskan malam bersama temanku.

Detektif Na : Begitu rupanya. Kau bersama seseorang. Kalau begitu, boleh aku minta informasi kontak temanmu?

In Sung menuliskan nomor kontaknya di catatan Detektif Na.


Sung Joon mendatangi Kyung Ja.

Dia terkejut mendengar bunyi lonceng Kyung Ja dan teriakan Kyung Ja.

Kyung Ja lalu melemparkan beberapa butir beras ke meja.

Kyung Ja : Mari kita lihat. Seorang wanita? Wanita yang sudah menikah.

Sung Joon : Kau hebat. Bagaimana kau tahu aku kemari karena wanita itu?

Kyung Ja : Para wanita Gangnam menunggu sebulan dan lebih lama untuk bertemu denganku. Menurutmu apa artinya?

Sung Joon : Aku tidak melihat orang lain menunggu selain aku.

Kyung Ja : Khusus reservasi.

Sung Joon : Begitu rupanya. Reservasi.

Kyung Ja kembali membunyikan loncengnya. Setelah itu, dia melemparkan beberapa koin ke atas meja.

Kyung Ja : Baiklah, mari kita lihat. Kau akan dipermalukan dan terlibat skandal. Kalian berdua tidak cocok. Putuskan dia sekarang juga.

Sung Joon : Satu bulan sepuluh hari? Yang benar saja.


Sung Joon menunjukkan kartu tanda pengenalnya sebagai polisi.

Sung Joon : Setelah makan malam dengan juri lain pada malam tanggal 14, kau dan Nona Yeom Hye Jin pergi naik taksi yang sama. Apa terjadi sesuatu di taksi?

Kyung Ja : Tidak terjadi apa-apa. Kenapa kau menanyakan itu?

Sung Joon : Dia dibunuh.

Kyung Ja kaget mendengarnya.

Sung Joon : Siapa orang terakhir yang terlihat bersamanya?

Kyung Ja : Kurasa... Mungkin Eun Ki.


Eun Ki sendiri keliaran di jalan mencari alamat. Dia mendapatkan informasi sebelumnya kalau Yu Na sering pergi ke klub dengan beberapa pria yang lebih tua. Bahkan hari ini pun, salah satunya menjemputnya pukul 5 sore. Dia terlalu sering ditipu.

Tak lama, Eun Ki melihat Yu Na mau pergi sama cowok naik motor.


Eun Ki bergegas Yuna, tapi gagal. Yang ada, dia malah nyaris tertabrak mobil. Si pemilik mobil memakinya.

"Kau sudah gila? Kau mau mati!"

Eun Ki minta maaf.


Tapi kemudian Eun Ki malah ingat malam itu, saat Soon Gil mengantar dia dan Hye Jin.

Soon Gil meneriaki pengendara motor disamping taksinya.

Soon Gil : Hei! Kau sudah gila? Jangan menyalipku seperti itu!


Kyung Ja meminum sebotol air untuk menenangkan diri. Sung Joon menanyainya lagi.

Sung Joon : Bagaimana dengan Pak Choi? Kau lihat ada yang mencurigakan?

Kyung Ja : Tidak ada. Dilihat dari wajahnya, dia tidak mungkin menyakiti orang. Jika ada perkelahian, dia yang akan dipukuli.

Sung Joon : Tugasku akan mudah jika setiap pelaku tampak seperti orang jahat. Kalau begitu, aku permisi.


Sebelum pergi, Sung Joon memberikan kartu namanya.

Sung Joon : Jika itu terjadi, hubungi aku di nomor ini.

Sung Joon beranjak ke pintu. Kyung Ja memegang kartu nama Sung Joon. Tapi tiba2, dia kerasukan habis memegang kartu nama Sung Joon.

Sontak Sung Joon kaget dan heran.

Kyung Ja menggonggong seperti anjing.

Sung Joon : Kau baik-baik saja?


Kyung Ja menyuruh Sung Joon pergi, kubilang pergi, Berengsek! Lancang sekali kau!

Kyung Ja tiba-tiba berbicara aneh.

Kyung Ja : Kau mungkin tidak tahu siapa dirimu yang sebenarnya. Lihat dirimu.


Sung Joon pun keluar.

Sung Joon : Ada apa dengan wanita itu?

Tapi kemudian Sung Joon kaget dan jatuh karena ada seekor anjing putih di depannya. Anjing itu menggonggong kepadanya. Sontak Sung Joon ketakutan dan teringat anjing yang menggonggonginya di masa lalu.


Tak lama, anjing itu pergi. Sung Joon lega setengah mati.

Ponsel Sung Joon berbunyi. Telepon dari Eun Ki.

Eun Ki : Orang yang terakhir terlihat bersama Hye Jin...


Kita diperlihatkan flashback malam itu, ketika Eun Ki dan Hye Jin masih di perjalanan. Eun Ki melihat dari spion, kalau Soon Gil terus menatap Hye Jin.

Sementara Hye Jin bicara di telepon sama putranya, Min Ho.


Hye Jin : Coco, kau belum tidur? Maaf. Ibu dalam perjalanan pulang. Ibu akan segera pulang, lalu menidurkanmu. Bermainlah dengan Bibi Pengasuh sampai ibu pulang, ya? Bisa berikan teleponnya kepadanya?

Hye Jin memarahi pengasuh Min Ho.

Hye Jin : Kenapa dia belum tidur? Berapa kali kubilang dia harus tidur sebelum pukul 10 malam agar hormon pertumbuhannya cukup? Kau pindah ke Korea lebih dari sepuluh tahun lalu. Kau masih tidak paham bahasa Korea? Baiklah. Tidurkan saja dia.

Hye Jin selesai menelpon.


Hye Jin : Eun Ki, jangan menikah. Meski kau menikah, jangan punya anak. Aku janda dan ibu tunggal. Jika tahu akan bercerai, aku tidak akan punya anak. Aku kasihan pada putraku.

Eun Ki : Kau bisa menjadi ibu yang baik baginya. Sesekali, aku memikirkan ayahku. Aku penasaran dan ingin bertemu dengannya. Tapi itu saja. Ibuku baik kepadaku dan membesarkanku dengan cinta.

Hye Jin : Kudengar anak yang tumbuh dengan orang tua tunggal sering dirundung di sekolah. Kau tidak mengalaminya?

Eun Ki : Aku dirundung berkali-kali.

Hye Jin : Lalu?

Eun Ki : Aku membalas mereka.

Hye Jin : Bagaimana caranya?


Hye Jin lalu tertawa, dia tertawa sampai air matanya keluar.

Hye Jin : Astaga. Lucu sekali. Lihat, aku menangis. Astaga. Aku pasti akan butuh bantuanmu kelak.

Eun Ki : Datanglah ke pusat dengan Min Ho kapan-kapan. Aku pengasuh profesional.

Hye Jin : Baiklah. Aku akan membawa banyak hadiah.

Eun Ki : Aku menghargainya.


Tiba2, seorang pengendara menyalip taksi mereka dan pergi.

Soon Gil marah dan langsung mengejar si pengendara. Si pengendara membonceng seorang wanita

Soon Gil : Hei! Kau sudah gila? Jangan menyalipku seperti itu! Apa? Apa masalahmu?


Soon Gil lalu bergumam, orang-orang gila itu minta dibunuh. Wanita yang keluar malam dengan berbaju minim harus ditembak mati.

Sontak lah Eun Ki dan Hye Jin terkejut mendengar itu.

Soon Gil melirik ke spion, melijat Eun Ki dan Hye Jin.

Soon Gil : Maaf. Kalian pasti terkejut. Sepeda motor itu tiba-tiba menyalipku.


Soon Gil lalu tanya siapa harus dia antar lebih dahulu.

Hye Jin bilang Eun Ki. Tapi Eun Ki bilang Hye Jin.

Hye Jin dan Eun Ki berbisik.

Eun Ki : Kau harus diantar lebih dahulu. Dia menatapmu diam-diam.

Hye Jin : Kurasa dia menatapmu. Kau bilang pintumu rusak. Pulang dan periksalah.

Soon Gil : Jika Eun Ki diantar lebih dahulu, kita harus memutar untukmu, Coco Mom. Kau tidak keberatan?

Hye Jin : Ya, tidak masalah.

Flashback end...


Eun Ki memberitahu Sung Joon, kalau pelakunya adalah Soon Gil.

Tapi benarkah Soon Gil? Atau dia cuma kaki tangan si Joker, pelaku pembunuhan?


Sung Joon dan Detektif Kim menemui Soon Gil.

Mereka memeriksa bagasi Soon Gil.

Sung Joon : Kenapa jas hujan ini ada di sini?

Soon Gil : Jas hujan ini akan berguna jika aku terjebak hujan mendadak.

Sung Joon : Kau membawa jas hujan, tapi tidak ada satu pun payung?

Soon Gil : Dahulu aku punya banyak payung, tapi kuberikan kepada penumpangku.

Detektif Kim : Dahulu dia punya kamera dasbor, tapi sepertinya ada yang mengambilnya.

Soon Gil : Sudah kubilang. Kamera dasbornya dicuri. Jika memilikinya, aku bisa membuktikan alibiku. Untuk apa aku berbohong?

Sung Joon : Entahlah. Mungkin rekaman itu berisi hal yang tidak boleh dilihat siapa pun.

Soon Gil : Sungguh bukan begitu. Coco Mom bilang, dia harus bertemu orang di taman, lalu kuturunkan di sana dan langsung pergi. Aku berkata jujur.

Sung Joon : Baik, terima kasih atas kerja samanya. Jaga dirimu.


Soon Gil menutup bagasinya. Sung Joon melihat sesuatu. Dia memegang tangan Soon Gil. Ada tato laba2 di lengan Soon Gil.

Sung Joon : Kau punya tato.

Soon Gil : Aku ditato saat masih muda, hanya karena penasaran. Aku berusaha menghilangkannya, tapi tidak mudah.

Sung Joon : Kau boleh pergi.


Soon Gil masuk ke taksi. Dia melajukan taksinya, sambil menatap kedua detektif dari spionnya.

Soon Gil pun pergi. Dalam perjalanan, dia melihat tatonya lalu mengusap2 tatonya.


Sung Hoon di ruangannya membaca artikel tentang kematian Hye Jin.

Di artikel itu juga ditulis, banyak orang yang yakin pelakunya adalah pembunuh peniru. Apa Jung difitnah... Modus operandi yang mirip...

Sung Hoon : Pembunuh peniru?

Sung Hoon kembali ingat kata2 Pak Jung.

Pak Jung : Aku tidak membunuh siapa pun. Percayalah, Yang Mulia. Juri, percayalah. Aku bukan pelakunya. Orang yang membunuh putri Pak Baek adalah Detektif Ryu Sung Joon dari Kepolisian Mooyoung. Dialah pelakunya.

Sung Hoon pun kembali mencurigai Sung Joon.


Di rumah, orang tua Sung Joon dan Sung Hoon membicarakan Pak Baek.

Nyonya Na : Setiap kali melihatnya, aku teringat tempat itu.

Pak Ryu : Kenapa kau harus membahasnya? Semua itu sudah berlalu.

Nyonya Na : Benar. Semua itu sudah berlalu, tapi aku tidak bisa melupakannya. Aku bahkan kesulitan. Bisakah dia melupakan apa yang terjadi? Aku masih tidak yakin. Saat itu, kita memutuskan untuk mengasuhnya. Tapi apa keputusan itu tepat?


Nyonya Na menatap foto kedua putranya.

*Siapa yang diasuh? Sung Joon? Wait... Nama asli Sung Joon kan Yoon Jae.. Lantas apa Yoon Jae yang bukan anak kandung? Atau dua2nya?


Sung Hoon menemui Pak Jung.

Sung Hoon : Ucapanmu hari itu, apa itu benar? Kau bilang tidak membunuh Baek Ji Eun. Apa itu benar?

Pak Jung : Apa gunanya menanyakan pertanyaan ini sekarang?

Sung Hoon : Polisi yakin pembunuh peniru membunuh Juri Yeom Hye Jin, tapi aku tidak setuju dengan mereka. Orang yang membunuh Baek Ji Eun juga membunuh Yeom Hye Jin.

Pak Jung : Apa yang sebenarnya ingin kau ketahui?

Sung Hoon : Putusanku benar atau salah. Itu yang ingin kuketahui.

Pak Jung : Bagaimana jika kau salah?

Sung Hoon : Aku akan membatalkan keputusan pengadilan. Tapi untuk melakukan itu, aku harus yakin kau bukan pembunuhnya dan tahu kau sungguh melihat wajah pembunuhnya malam itu.

Pak Jung : Aku memang melihat pembunuhnya, tapi tidak wajahnya.

Sung Hoon : Lalu, kenapa kau bilang Detektif Ryu Sung Joon adalah pelakunya?

Pak Jung : Itu... Jika sungguh ingin tahu pelakunya, kenapa kau tidak mencari tahu? Entah soal hal lain, tapi bisa kupastikan aku melihat pembunuhnya menculik putri Pak Baek.


Sung Hoon sudah di rumah sekarang.

Dia membuka pintu kamar Sung Joon dan melihat Sung Joon sudah tidur.


Sung Hoon kemudian menutup kembali pintu kamar dan mengambil kunci mobil Sung Joon.

Sung Joon pun bangun dan menatap ke pintu dengan tatapan sadis.



Sung Hoon memeriksa mobil Sung Joon.

Tak lama kemudian, dia menemukan sebuah anting di sana.

Sung Hoon langsung balik ke kantornya.

Sung Joon lagi memainkan lampu di kamarnya.


Sung Hoon memeriksa foto2 jasad Hye Jin.

Dia terkejut melihat anting Hye Jin sama persis dengan anting yang dia ditemukan di mobil Sung Joon.


Sung Joon masih mainin lampu. Tak lama kemudian, dia menatap kuku Hye Jin!

Apakah Sung Joon memang pelakunya? JANGAN tvN!!! WRITER-NIM, NOOOO!!!

0 Comments:

Post a Comment