Blind Eps 4

 All Content From tvN
Penulis : Catatan-Iza
Sinopsis Lengkap : Blind
Sebelumnya : Blind Eps 3
Selanjutnya : Blind Eps 5


Anak-anak sedang makan.

Anak pertama membagi dua bola nasinya, dan memberikannya pada anak keempat dan Yoon Jae (anak kelima).

Yoon Jae bilang tidak perlu dan menyuruh anak pertama makan.

Anak pertama : Ambillah. Jangan terbangun saat tengah malam karena lapar. Makanlah.




Anak pertama lalu bilang hari H-nya adalah hari pemeriksaan rutin mendatang.

Sontak lah keempat saudaranya langsung menatapnya.

Anak pertama : Jangan lihat aku dan teruslah makan. Saat fajar hari itu, kita akan meninggalkan tempat ini. Meski Anjing Gila tahu kita pergi, dia tidak akan bisa mengejar kita sebelum pejabat publik pergi setelah pemeriksaan. Saat dia mulai mengejar kita, kita sudah pergi jauh. Persiapkan diri kalian.


Kelima anak itu sudah berbaring di kasur mereka, tapi mereka belum tidur.

Anak ketiga bilang, saat keluar dari tempat itu, dia  ingin melakukan piknik keluarga. Dia mau membawa banyak makanan enak seperti gimbap dan roti lapis, membentangkan selimut di taman, makan dengan lahap, lalu naik sepeda dengan adiknya.


Anak pertama melirik anak kedua. Dia tanya bagaimana dengan si anak kedua.

Anak kedua : Aku tidak akan melakukan apa pun. Aku hanya akan bersantai dan bermain. Sampai aku mati.


Anak kempat bilang dia ingin menyantap makanan buatan ibunya.

Anak keempat : Nasi putih dengan lauk bulgogi.

Anak pertama : Kalau aku, aku ingin melakukan kegiatan anak seusiaku. Pergi ke sekolah, mengerjakan PR, dan bermain sepak bola.


Anak pertama melirik Yoon Jae.

Anak pertama : Bagaimana denganmu, Yoon Jae? Tidak ada yang ingin kau lakukan jika kita keluar dari sini?

Yoon Jae : Aku akan menunggu sampai dewasa.

Anak pertama : Apa yang ingin kau lakukan saat sudah dewasa?

Yoon Jae : Akan kuberi tahu nanti. Kau mungkin juga akan menyukainya.

Yoon Jae melihat ke atas, dan mengangkat tangannya tinggi2.


Sekarang, si pembunuh tengah menancapkan foto para juri pada boneka.

Hanya satu juri yang fotonya tidak ada. Soon Gil, si supir taksi.

-Episode 4, Masa Depan yang Sangat Tua-


Kepolisian Mooyoung menggelar konferensi pers. Dengan suara bergetar, Kepala Yeom mengumumkan di hadapan pers bahwa mayat yang ditemukan di Taman Mooyoung adalah putrinya. Menurut autopsi, waktu kematiannya antara tengah malam dan pukul 2 pagi pada tanggal 15. Penyebab kematiannya sudah dipastikan sesak napas.

Salah satu reporter bertanya, metode kejahatan pelaku diduga mirip dengan kasus pembunuhan Joker. Apa kasus ini juga perbuatan Jung Man Chun?

Kepala Yeom : Jung Man Chun memiliki alibi untuk perkiraan waktu kematian. Dia sudah dikecualikan dari daftar tersangka.

Reporter : Jika bukan Jung Man Chun, apa ini ulah peniru? Apa ada tersangka lain?

Kepala Yeom : Saat ini, kami berasumsi ini tindakan peniru. Mohon pengertiannya karena kami tidak bisa memberi detail lebih jauh terkait penyelidikan yang sedang berlangsung.

Konferensi pers selesai.


Sung Hoon menonton konferensi pers itu di ruangannya.

Lalu dia menatap anting Hye Jin yang ditemukannya di mobil Sung Joon.


Para detektif lagi rapat. Detektif Oh bertanya, siapa dari kedelapan juri yang tidak punya alibi.

Detektif Kang bilang bilang Choi Soon Gil si sopir taksi dan Ahn Tae Ho. Hanya mereka berdua. Ahn Tae Ho mengaku pulang sendirian setelah makan malam, tapi area tempat tinggalnya tidak dipasangi kamera pengawas, jadi, mereka tidak bisa memastikan pukul berapa dia pulang.


Sung Joon membaca tulisan di kertas. Dia terkejut.

Sung Joon : Seok Goo-ya,  Pak Baek Moon Kang, ayah Baek Ji Eun, adalah mantan petugas pasukan khusus, bukan?

Detektif Kim : Benar. Dari tahun 1986 hingga 1995, dia bertugas sebagai bintara di unit pengintaian. Kenapa kau menanyakan itu?

Sung Joon : Choi Soon Gil juga bertugas di unit yang sama.


Detektif Kang langsung merebut kertas yang dibaca Sung Joon. Dia membacanya, begitu juga yang lain.

Detektif Kang : Kalau begitu, artinya Choi Soon Gil dan Pak Baek saling mengenal. Menarik.

Detektif Oh :  Mungkin saja. Konon semua orang di dunia saling mengenal jika kita menghitung tiga atau empat tingkat pemisahan. Apa sebutannya? Ada unsur nama aktor terkenal.


Sung Hoon datang, Teori Kevin Bacon.

Sung Hoon mendekat, Enam miliar orang di dunia ini terbukti memiliki koneksi jika kita menghitung enam tingkat pemisahan. Karena kita hidup di zaman internet, tingkatnya bisa lebih kecil.

Detektif Oh : Siapa kau?

Sung Joon : Hyung.


Detektif Oh : Hyung? Kakakmu?

Mereka langsung berdiri. Sung Hoon mengenalkan diri sebagai hakim penanggung jawab sidang juri Jung Man Chun.

Sung Hoon : Aku membawa sesuatu yang mungkin bisa membantu memecahkan kasus pembunuhan Yeom Hye Jin. Pada malam Jung Man Chun menyandera korban, aku mengirim pesan teks kepada para juri. Kedelapan juri kecuali Yeom Hye Jin membalas pesan. Waktu respons mereka antara pukul 11.30 malam hingga 1 pagi.


Sung Hoon menunjukkan pesan yang dikirimkannya ke para juri.

Sung Joon : Jika waktunya antara pukul 11.30 malam hingga 1 pagi, itu waktu kematian Yeom Hye Jin. Jika melacak lokasi ponsel saat mereka mengirim pesan itu, kita akan tahu lokasi mereka saat itu.

Detektif Oh : Benar.

Sung Joon : Seok Goo-ya, kau mengerti?

Detektif Kim : Ya. Aku akan segera melacak nomornya.

Detektif Kim langsung pergi, diikuti Detektif Na.


Sung Hoon dan Sung Joon beranjak keluar. Dalam perjalanan, mereka mengobrol.

Sung Joon : Bagaimana kau tahu kami menyelidiki alibi para juri?

Sung Hoon : Aku kebetulan menonton konferensi pers pimpinanmu.

Mereka tiba di depan kantor polisi.

Sung Hoon : Jika Jung Man Chun bukan pelakunya, kalian pasti ingin tahu alibi orang-orang yang bersama Yeom Hye Jin sebelum dia tewas.

Sung Joon : Kurasa kau memang cerdas.

Sung Hoon menatap Sung Joon, dengan tatapan curiga.

Sung Joon : Apa? Ada sesuatu di wajahku?

Sung Hoon : Dimana kau saat itu?

Sung Joon : Aku berusaha mencari Jung Man Chun, mencari di setiap sudut Yeonju-dong. Lalu aku sadar, aku melewatkan Cho Eun Ki. Aku baru saja pergi saat Cho Eun Ki tiba naik taksi. Andai aku di sana semenit lagi, kami pasti bertemu.

Sung Hoon : Jadi, kau juga di Yeonju-dong saat itu?

Sung Joon : Ya.

Sung Hoon : Kau sendirian?

Sung Joon : Kadang aku sendirian dan kadang aku bersama Detektif Kim. Dia yang memotret ponselmu tadi. Dia rekanku, Detektif Kim Seok Goo. Dahulu dia ikut kompetisi judo. Dia memenangkan medali perunggu dalam Asian Games. Dia cukup bisa diandalkan.


Sung Joon lalu bertanya, apa Sung Hoon bawa mobil.

Sung Joon : Jika tidak, aku akan mengantarmu ke pengadilan. Lagi pula, aku mau menemui Pak Baek.

Sung Hoon : Baek Moon Kang? Kenapa kau mau menemuinya?

Sung Joon : Untuk bertanya soal Choi Soon Gil. Ternyata Choi Soon Gil dan Pak Baek...

Sung Joon gak jadi bicara lebih dalam. Dia bilang dia akan ngasih tahu Sung Hoon setelah dia balik.

Sung Joon : Kau akan ikut denganku, bukan?

Sung Hoon : Tidak perlu.

Sung Hoon pergi.

Sung Joon pun berteriak, mengucapkan terima kasih.


Sung Joon sudah di rumah Pak Baek sekarang. Dia menatap sekeliling rumah Pak Baek. Masih ada balon2 dan sisa2 perayaan untuk ulang tahun Ji Eun.

Lalu Sung Joon melihat Nyonya Baek duduk di ruang makan. Dia menyalakan lilin di kue ulang tahun dan menyanyikan lagu selamat ulang tahun untuk Ji Eun.


Pak Baek kemudian datang, membawakan minum. Dia meletakkan dua cangkir di atas meja. Pak Baek melihat Sung Joon menatap istrinya.

Pak Baek : Aku dan istriku terjebak dalam momen kematian Ji Eun.

Pak Baek mempersilahkan Sung Joon minum.


Sung Joon lalu melihat tato laba2 di lengan Pak Baek.

Sung Joon : Itu tato yang unik.

Pak Baek : Ini? Dahulu aku mengelola perusahaan keamanan kecil. Aku dan para pegawai membuat tato yang sama. Dahulu kami berpikir hal seperti ini keren.

Sung Joon : Apa Pak Choi Soon Gil juga salah satu pegawai itu?

Pak Baek : Ya. Tapi bagaimana kau mengenal Soon Gil, Detektif?

Sung Joon : Pak Choi adalah juri di persidangan Jung Man Chun.


Pak Baek pun ingat saat sidang Pak Jung sudah selesai. Hari sudah malam. Dia berdiri sendirian di depan gedung kejaksaan.

Lalu Soon Gil datang, memanggilnya.

Soon Gil : Lama tak berjumpa, Moon Kang.

Pak Baek berbalik, Soon Gil?

Soon Gil mendekat.

Soon Gil : Aku turut berduka soal putrimu. Kau membiarkan pria yang membunuh anak tunggalmu diadili. Ini tidak seperti dirimu.

Pak Baek : Seorang detektif kurang ajar terlibat terlalu cepat. Bagaimana kabarmu?

Soon Gil : Akan kuberi tahu nanti. Kau tahu siapa yang baru saja kulihat? Salah satu anak yang ada di sana saat itu.

Pak Baek : Yang mana?

Soon Gil : Soal itu, aku belum yakin. Aku akan meneleponmu saat sudah yakin.

Flashback end....


Pak Baek : Benarkah? Aku agak kurang fokus hari itu. Aku bahkan tidak tahu siapa jurinya. Soon Gil... Dia seharusnya menyapa jika melihatku di sana.

Sung Joon : Aku memahami alasanmu tidak menyapanya, tapi kenapa Pak Choi tidak menyapamu? Unit pasukan khusus yang sama, tempat kerja yang sama, dan jika punya tato yang sama, kalian pasti akrab.

Pak Baek : Kami tidak berkomunikasi sudah selama lebih dari 20 tahun. Hubungan kami renggang.

Sung Joon : Apa terjadi sesuatu saat itu?

Pak Baek : Soon Gil berhenti bekerja. Dia menjadi gila selama mencari istrinya yang kabur.

Sung Joon : Kenapa istrinya kabur?

Pak Baek : Setiap kali mabuk, dia memukuli istrinya habis-habisan. Bagaimana istrinya tidak kabur? Sejak istrinya meninggalkannya, perangai Soon Gil berubah.

Sung Joon : Berubah bagaimana?

Pak Baek : Begini...


Pak Baek mengingat saat Soon Gil memukuli anak kedua di masa lalu.

Flashback...

Ternyata Soon Gil lah yang memukuli anak kedua. Dia memukuli anak kedua lantaran si anak kedua cerita soal anak yang dihukum.

Flashback end...



Pak Baek : Haruskah kukatakan dia menjadi kasar?

Sung Joon : Cukup kasar untuk membunuh?

Pak Baek : Apa Soon Gil membunuh seseorang?

Sung Joon : Entahlah. Tapi kau tidak akan bilang dia bukan tipe orang yang membunuh. Omong-omong, kau tertarik soal keamanan, bukan? Petugas pasukan khusus tidak mungkin menjaga kompleks apartemen. Apa kalian pengawal seseorang?

Pak Baek : Tidak. Kami mengawasi gedung biasa.

Sung Joon : Gedung biasa?


Sung Hoon baru saja keluar dari kantornya saat Soon Gil datang menghampirinya. Singkat cerita, Soon Gil bilang dia mau ngomongin sesuatu dan mengajak Sung Hoon bicara di tempat yang tenang. Sung Hoon bilang, bicara saja disini.

Soon Gil : Jika orang mendengar, itu tidak akan menguntungkanmu.

Sung Hoon pun pergi dengan Soon Gil.


Pemakaman Hye Jin digelar. Min Ho mengambil apel yang ada di depan foto ibunya, lalu meniup lilin dupa.

Pengasuhnya datang dan membawanya keluar dari sana.

Pengasuh mendudukkan Min Ho di kursi, lalu menyuapinya.

Para juri menatap Min Ho. Kyung Ja merasa kasihan pada Min Ho.

Kyung Ja : Aku yakin anak itu belum tahu apa yang terjadi kepada ibunya.

Eun Ki : Anak-anak tidak tahu karena mereka masih kecil. Itu ilusi orang dewasa. Anak-anak tahu, berapa pun usia mereka.

Kyung Ja : Kurasa kau benar. Roh anak yang kulayani tahu segalanya.


In Sung menatap Eun Ki.

Kyung Ja lalu mengeluh kedinginan.

In Sung menawari Kyung Ja jasnya lagi. Kyung Ja bilang soju saja, itu akan menyembuhkan flu apapun.

In Sung menawari Eun Ki soju juga.

Eun Ki menunjukkan sebotol air putih yang dia bawa.

In Sung : Baiklah.


Charles membahas Young Ki yang tidak datang. Chul Ho bilang, putri Young Ki akan segera menikah. Jadi dia tidak bisa datang ke pemakaman karena takut akan membawa sial pada putrinya. Chul Ho juga bilang Young Ki sudah mengirimkan uang duka.

Charles : Kapan pernikahan putrinya?

Chul Ho : Entahlah, aku tidak bertanya. Dia akan mengirim undangannya saat waktunya tiba. Seseorang menikahkan anaknya yang sudah dewasa dan seseorang meninggal sebelum anaknya masuk sekolah. Hidup sangat tidak adil, bukan?



Eun Ki menatap Soon Gil.

Dia curiga.

Tae Ho tertawa.

Tae Ho : Sungguh menggelikan. Karena wanita yang hampir tidak kukenal, aku menjadi tersangka dan itu sangat menyebalkan. Aku tahu itu yang kalian pikirkan. Seorang ibu muda pergi untuk minum-minum, berpura-pura lajang. Itu membuatnya dibunuh. Itukah yang kau pikirkan?

In Sung mencoba menenangkan Tae Ho.

In Sung : Aku yakin polisi mewawancarai kita hanya sebagai formalitas. Bukan karena mereka mencurigai kita.


Charles : Awalnya kupikir begitu, tapi Jung Man Chun punya alibi. Eun Ki, kau alibinya, bukan?

Eun Ki : Ya. Dia bersamaku saat itu.

Kyung Ja : Apa maksudmu? Kenapa kau bersamanya?

Chul Ho : Dia menyanderanya.

Kyung Ja : Sandera? Astaga. Apa yang terjadi saat aku pergi untuk berdoa?

Chul Ho : Pantas saja. Makanya raut wajah detektif itu tidak menunjukkan seseorang yang mengajukan pertanyaan formal.  Lalu apa? Orang yang membunuh Coco Mom ada di antara kita?

Semua saling melirik.


Soon Gil lalu melihat pengasuh membawa Min Ho pergi.

Tepat setelah itu, dia pamit ke toilet.


Pengasuh membawa Min Ho ke toilet.

Pengasuh : Kau bisa sendiri?

Min Ho menyuruh pengasuhnya keluar.

Pengasuh menunggui Min Ho di depan pintu. Lalu Soon Gil datang.


Soon Gil : Kau dari Filipina?

Pengasuh : Ya.

Soon Gil pun menunjukkan foto seorang wanita.

Soon Gil : Kau kenal wanita ini?

Pengasuh bilang enggak. Lah Soon Gil nya malah marah dan mencengkram kuat tangan si pengasuh.

Soon Gil : Lihat baik-baik. Kau mengenalnya, bukan?

Pengasuh : Aku tidak mengenalnya. Aku tidak pernah melihatnya.

Soon Gil : Sial. Kau tidak melihat dengan benar! Lihat lagi!

Pengasuh : Apa maumu? Kau menyakitiku. Lepaskan.


Dan Eun Ki pun datang, ada apa?

Soon Gil langsung pergi.

Eun Ki menanyai si pengasuh, kau baik-baik saja?

Pengasuh : Ya.

Eun Ki : Dia bilang apa?

Pengasuh : Dia menunjukkan foto seorang wanita dan bertanya apa aku mengenalnya.

Eun Ki : Foto seorang wanita?


Eun Ki pun bergegas mencari Soon Gil.

Tapi dia tak menemukan Soon Gil.



Chul Ho menatap bangku Soon Gil.

Lalu dia bilang bukankah Soon Gil agak mencurigakan?

Kyung Ja : Apa yang mencurigakan darinya?

Chul Ho : Dia orang terakhir yang berpisah dengan Coco Mom. Bagaimana itu bisa terjadi?

Kyung Ja : Tetap saja, jika bersalah, dia pasti sudah ditangkap.

Chul Ho : Mereka pasti tidak punya bukti.

Chul Ho tanya ke Charles, apa Charles tahu soal Soon Gil.

Charles : Tidak juga. Dia hanya sopir taksi. Tapi sejujurnya, kita tidak tahu banyak tentang satu sama lain.

Tae Ho : Aku tidak mau tahu lagi atau terlibat lebih jauh lagi, jadi, jangan menghubungiku mulai sekarang.

Tae Ho pergi. Dia pincang!

Chul Ho merasa Tae Ho  juga mencurigakan.

Chul Ho : Kalian tahu? Selama makan malam setelah sidang, dia terus melirik Coco Mom.

Kyung Ja : Jika kita membahas lirikan, kau yang paling mencurigakan.

Chul Ho : Aku? Apa yang kulakukan?

Kyung Ja : Kau bersikap seolah ketahuan melakukan sesuatu. Reaksi itu membuatmu makin mencurigakan.

Chul Ho : Kau bisa membuat seseorang terlibat masalah. Sial.


Chul Ho melihat Kepala Yeom.

Dia terdiam dan mulai berpikir.


Kepala Yeom mencari udara segar diluar. Dia duduk di luar. Tiba2, ponselnya berbunyi. Ada pesan masuk, dari ponsel Hye Jin! Omo... Kepala Yeom membukanya. Isinya sebuah link. Kepala Yeom mengklik link itu. Sebuah video rekaman muncul. Video saat Hye Jin disiksa si pembunuh. Kepala Yeom terkejut. Hye Jin sudah babak belur. Si pelaku terus merekam Hye Jin.

Hye Jin : Kenapa kau melakukan ini kepadaku?

Joker : Jika kau ingin tahu alasanku melakukan ini, tanyakan kepada ayahmu, Pak Kepala Yeom Ki Nam.

Hye Jin : Entah apa yang dilakukan ayahku untuk menyakitimu, tapi aku minta maaf mewakilinya. Tolong maafkan dia. Putraku menungguku di rumah. Tolong ampuni aku.

Joker tertawa,  Pak Kepala Yeom, kau menonton ini? Putrimu memintaku mengampuninya.

Kepala Yeom marah, dasar brengsek! Siapa kau!

Joker : Pak Kepala Yeom. Perhatikan baik-baik. Perhatikan saat-saat terakhir putrimu mati dengan menyedihkan karenamu.



Joker menjambak Hye Jin.

Hye Jin berteriak memanggil ayahnya.

Hye Jin : Ayah. Ayah, tolong selamatkan aku. Ayah, tolong selamatkan aku!

Joker memegang wajah Hye Jin.

Joker : Kau harus tersenyum. Kau harus tersenyum agar terlihat cantik.

Joker lalu mengarungkan kepala Hye Jin dengan kantong kresek hitam.

Dan seketika, Hye Jin tak bernapas lagi.

Kepala Yeom berhenti menonton. Hatinya sakit.



Para detektif memberi penghormatan terakhir kapada Hye Jin.

Setelah itu, Detektif Oh menatap Min Ho. Hanya ada Min Ho dan pengasuhnya di sana.

Para detektif keluar. Tapi, Sung Joon mendekati Min Ho.

Sung Joon : Apa kau Min Ho?

Min Ho : Siapa kau?

Sung Joon : Aku detektif. Detektif kasus pembunuhan.

Min Ho : Detektif? Kau sudah menangkap penjahat yang membunuh ibuku?

Sung Joon : Maaf, kami belum menangkapnya. Jangan khawatir. Kami akan segera menangkapnya. Aku akan menangkap penjahat dengan ini.

Sung Joon menunjukkan borgolnya.

Min Ho : Keren, ini borgol. Boleh kusentuh borgolmu?


Kepala Yeom masuk dan melihat Min Ho lagi main sama Min Ho.

Min Ho asik dengan borgolnya Sung Joon.

Sung Joon : Jika kau melakukan ini, borgolnya berputar seperti ini. Begitulah cara kami menangkap penjahat. Mengerti? Cobalah seperti ini.

Min Ho pura2 menangkap Sung Joon.

Min Ho : Kau ditangkap sebagai penjahat!


Lalu Min Ho menjatuhkan borgol Sung Joon ke lantai.

Sung Joon memungut borgolnya. Saat itulah, kalungnya terjuntai keluar dari balik bajunya. Kepala Yeom terkejut melihat kalung Sung Joon.

Dia ingat itu kalung Yoon Jae.


Sung Joon beranjak keluar. Kepala Yeom mengikuti Sung Joon.

Sung Joon melihat Eun Ki lagi celingukan. Dia pun mendekati Eun Ki.

Kepala Yeom melihat Sung Joon dan Eun Ki bicara.

Lalu dia ingat permintaan Pak Baek.

Pak Baek : Bantu aku mencari seseorang. Jung Yoon Jae.


Sekarang, Eun Ki dalam perjalanan bersama Sung Joon.

Sung Joon : Apa kau bisa tidur?

Eun Ki : Tentu saja tidak.

Sung Joon : Kau menemui terapis?

Eun Ki : Belum.

Sung Joon : Kau tidak mendengarkan orang tuamu saat masih kecil, bukan?

Eun Ki : Haruskah aku berjalan saja?

Sung Joon : Tidak. Omong-omong, kau sedang apa di tempat parkir? Sepertinya kau mencari seseorang.

Eun Ki : Aku mencari Pak Choi.

Sung Joon : Kenapa kau mencarinya?

Eun Ki : Aku tidak yakin, tapi sepertinya Pak Choi terus melihat ke belakang lewat kaca spion. Kukira dia melihat Hye Jin, tapi Hye Jin bilang dia melihatku.

Sung Joon : Apa karena itu Bu Yeom menyuruhmu keluar lebih dahulu?

Eun Ki : Jika Hye Jin turun lebih dahulu dan aku turun setelahnya seperti rencana awal kami, menurutmu apa yang akan terjadi?

Sung Joon : Jika kau menyalahkan dirimu atas apa yang terjadi, jangan. Kau tidak pulang dan bersantai malam itu. Kau juga hampir mati malam itu.

Eun Ki : Kau menyelamatkanku malam itu, tapi tidak ada orang di sisi Hye Jin. Saat dia sangat membutuhkan bantuan seseorang, tidak ada orang di sana. Itu membuatku sangat sedih.



Pak Jung terbangun dari tidurnya karena mimpi buruk.

Lalu dia memanggil polisi diluar. Dia minta dipanggilan Sung Joon. Dia bilang, dia harus mengatakan sesuatu kepasa Sung Joon.


Detektif Kang memberikan catatan Sung Joon pada kepala Yeom.

Detektif Kang : Tidak ada catatan adopsi. Ayah Detektif Ryu adalah orang yang juga mendaftarkan kelahirannya.

Kepala Yeom : Lantas, kalung apa itu?

Detektif Kang : Kalung?

Kepala Yeom : Ada satu hal lagi yang harus kita selidiki tentang Ryu Sung Joon.


Para detektif makan siang seperti biasa di kedai ajumma. Detektif Kang terus menatap kalung Sung Joon.

Detektif Kang : Detektif Ryu. Di mana kau membeli kalung seperti itu?

Sung Joon : Ini? Aku tidak membelinya. Seseorang memberikannya kepadaku.

Detektif Kang : Siapa?

Sung Joon : Kakakku.

Detektif Kim : Kau punya kakak perempuan?

Detektif Na : Astaga. Dasar pengkhianat. Kau mengencani seseorang, bukan? Dia lebih tua?

Detektif Kim : Kau punya pacar?


Ajumma pemilik kedai juga penasaran.

Ajumma : Konon setiap pria punya keahlian sendiri. Kau selalu di kantor polisi. Kapan kau punya waktu untuk berpacaran? Wanita seperti apa dia? Ajak dia kemari. Pertemukan aku dengannya.

Sung Joon tersenyum, aku juga berharap bisa bertemu dengannya.

Ajumma :  Kenapa?

Sung Joon : Dia sudah lama meninggal.

Semua kaget.

Sung Joon : Kejadiannya sudah lama sekali. Makanlah.



Detektif Kang langsung melaporkan itu pada Kepala Yeom.

Mendengar itu, Kepala Yeom langsung ingat saat dia mendatangi dua kakak beradik sambil membawa berkas.

Ternyata berkas itu adalah formulis penerimaan Jung Yoon Jung. Yoon Jung datang bersama adik laki2nya setelah neneknya meninggal. Ada yang meminta mereka kedua anak itu dipindahkan ke Pusat Kesejahteraan Harapan.

Kepala Yeom : Kau cantik. Kau Yoon Jung?

Yoon Jae : Ya. Nama kakakku Yoon Jung. Aku adiknya, Jung Yoon Jae.


Flashback end...

Kepala Yeom akhirnya sadar bahwa Sung Joon adalah Yoon Jae.




Nyonya Cho ternyata seorang perawat. Dia bekerja di Rumah Sakit Perawatan Chamgoun.

Seorang pria memanggilnya, Perawat Cho.

Nyonya Cho pun terkejut karena dia mengenali suara itu. Dia berbalik perlahan dan orang yang memanggilnya adalah Pak Baek.

Mereka bicara diluar.

Pak Baek : Bagaimana kabar putrimu?

Nyonya Cho : Aku harus kembali. Sebentar lagi waktunya makan.

Pak Baek : Aku kecewa. Kita berdua pernah cukup dekat.

Nyonya Cho : Jika tidak ada yang ingin kau katakan, aku permisi.

Pak Baek : Baiklah. Aku akan langsung ke intinya. Aku mencari anak bernama Jung Yoon Jae. Kau tahu ke mana perginya anak itu, bukan?

Nyonya Cho : Aku tidak tahu.

Pak Baek : Sebelum pusat kesejahteraan tutup, aku yakin kau yang bertahan sampai akhir.

Nyonya Cho : Kejadiannya 20 tahun lalu. Di usiaku ini, aku lupa apa yang baru kubaca di buku. Bagaimana mungkin aku ingat kejadian 20 tahun lalu? Aku tidak tahu apa-apa. Jangan mengunjungiku lagi.

Nyonya Cho pergi. Pak Baek pun bilang, Yoon Jae membunuh putri semata wayangnya.

Pak Baek lantas mengancam Nyonya Cho.

Pak Baek : Kau tahu siapa aku, bukan? Sebaiknya kau ingat. Begitu menggigit, aku tidak akan melepaskan.

Nyonya Cho yang takut, lari.


Ponsel Pak Baek berbunyi. Telepon dari Kepala Yeom.

Kepala Yeom : Kurasa aku menemukan anak itu. Maksudku, Yoon Jae. Pria yang membunuh putrimu dan putriku. Jung Yoon Jae.



Yoon Jae lagi mengawasi Soon Gil. Tapi ponselnya mendadak berbunyi.

Sung Joon : Ini Ryu Sung Joon. Ya, Petugas Kang? Apa?



Pak Jung bersama polisi di atap gedung rumah sakit.

Tak lama, Sung Joon datang.

Sung Joon : Ini menggelikan. Pembunuh menyuruh polisi untuk datang dan pergi. Harus kuakui, penjahat Korea mendapat perlakuan terbaik di seluruh dunia.

Pak Jung bilang dia ingin bicara berdua dengan Sung Joon. Polisi yang bertugas tidak mau meninggalkan mereka.

Sung Joon : Tidak apa-apa. Aku baik-baik saja. Beristirahatlah. Kau pasti lelah mengawasi penjahat kejam.

Polisi : Kalau begitu, panggil aku begitu kalian selesai bicara.


Setelah polisi pergi, Sung Joon bilang cuacanya pas banget untuk mati.

Sung Joon lalu melongok ke bawah.

Sung Joon : Ketinggiannya juga pas untuk mati. Jadi, mau lihat siapa yang bisa mendorong lebih dahulu?

Pak Jung pun berlutut, meminta ampun.

Sung Joon : Kenapa kau tiba-tiba begini? Kau akan menyerangku?

Pak Jung : Aku punya seorang putra. Tahun ini usianya tujuh tahun. Suatu hari dia tiba-tiba pingsan, jadi, aku membawanya ke rumah sakit. Mereka bilang, dia mengidap tumor otak. Kami butuh uang untuk operasinya. Tapi aku tidak bisa mendapatkan gajiku dan aku merasa terpojok.


Kita ditunjukkan flashback, ketika Won Woong berada di ruangan ICU. Won Woong tak sadarkan diri. Nyonya Jung menemani Won Woong, sembari membaca hasil diagnosa Won Woong. Ya, Won Woong mengidap tumor otak.

Tak lama, Pak Jung datang.

Nyonya Jung : Bagaimana hasilnya? Kau sudah dapat uangnya?

Mengetahui suaminya tak dapat uang, dia pun tanya mereka harus gimana.

Nyonya Jung : Jika kita tidak punya uang, Won Woong akan dipulangkan besok.

Pak Jung : Aku menghubungi seseorang dalam perdagangan organ. Dia akan segera menelepon.

Nyonya Jung : Kapan? Bagaimana jika terjadi sesuatu kepada Won Woong sebelum itu? Kau harus mendapatkan uangnya sekarang juga!



Ponsel Pak Jung berdering.

Pak Jung : Ini Jung Man Chun.

Telepon dari Joker, si pembunuh!

Joker : Pak Jung Man Chun. Kau ingin menyelamatkan putramu?

Pak Jung menatap layar ponselnya, karena nomor yang digunakan di-private, akhirnya Pak Jung memencet tombol rekam.

Pak Jung : Siapa ini?

Joker : Jika kau menurutiku, aku akan membayar operasi putramu.

Pak Jung : Siapa kau dan kenapa memainkan lelucon berani ini?

Joker : Kau tidak ingin menyelamatkan putramu? Jika tidak, lupakan saja.

Pak Jung : Tunggu. Tugas apa itu? Kenapa kau memberiku semua uang itu?

Joker : CEO Baek Moon Kang dari Hope Foods. Ada utang yang harus kutagih dari pria itu.

Pak Jung : Entah seberapa besar utang itu, tapi menyerahlah. Bedebah itu bahkan tidak mau membayar gajiku yang sedikit. Dia lebih seperti lintah daripada manusia.

Joker : Apa aku pernah bilang akan menagih utang dalam bentuk uang?

Pak Jung : Jika bukan uang...

Joker : Putri Pak Baek...

Pak Jung kaget, maksudmu aku harus membunuh seseorang demi uang itu?

Joker : Tidak. Kau hanya perlu berperan sebagai pembunuh yang difitnah. Aku sendiri yang akan mengurus putri Pak Baek.

Pak Jung : Benarkah hanya itu yang harus kulakukan?

Joker : Tentu saja, ibu anakmu juga harus melakukan pengorbanan.


Pak Jung menatap istrinya. Nyonya Jung yang mendengar setiap kalimat yang diucapakan suaminya pun berkata, katakan mereka bisa mengambil organnya jika mau.

Pak Jung : Bagaimana aku bisa memercayaimu?

Joker : Begitu menerima tawaran ini, kau akan menemukan uangnya di rekeningmu. Namun, kau harus ingat ini. Jika kau mengkhianatiku, putramu akan menanggung akibatnya.

Terpaksalah Pak Jung menerima tugas itu, demi Won Woong.

Flashback end...



Tapi, Sung Joon tak percaya.

Sung Joon : Kau juga akan bilang sidang  juri dan penyanderaan itu juga idenya?

Pak Jung : Aku tahu kau tidak akan percaya, tapi semua itu idenya.

Sung Joon : Kau lihai dalam berbohong.

Pak Jung : Aku merekam panggilan teleponnya. Pak Baek punya rekamannya.

Sung Joon : Pak Baek?

Pak Jung : Dia datang ke rumah sakit dan mencoba membunuhku, mengatakan dia harus membalas kematian putrinya. Jadi, aku menceritakan semuanya. Jika kau tidak memercayaiku, dengarkan saja rekamannya.



Sung Joon marah dan mendorong Pak Jung.

Sung Joon : Semua ucapanmu bohong. Bagaimana aku bisa memercayaimu? Entahlah. Mungkin kau memanipulasi failnya.

Pak Jung : Aku tidak berbohong. Aku berkata jujur! Jika wanita lain tidak ditemukan tewas hari ini, aku akan merahasiakan ini sampai mati. Tapi dia bahkan membunuh wanita itu. Dia sangat kejam dan keji. Jika tahu aku memberikan rekaman itu kepada Pak Baek, dia akan menyakiti Won Woong. Kita harus menangkapnya sebelum dia menyakiti Won Woong.

Sung Joon : Semua ini hanya khayalanmu. Bagaimana aku bisa menangkap penelepon khayalan ini?

Pak Jung : Aku punya rekaman aslinya.

Sung Joon : Di mana rekaman itu?

Pak Jung : Nama putraku Won Woong. Berjanjilah untuk melindungi Won Woong, maka akan kuberi tahu tempatnya.

Sung Joon : Baiklah, tentu. Aku akan memercayaimu, meski tahu kau mungkin berbohong. Jika semua ucapanmu benar, aku akan melindungi putramu. Sekarang, katakan. Di mana rekamannya?


Pak Jung berbisik.

Sung Joon tersenyum, ada di sana?


Sung Hoon ke rumah sakit tempat Pak Jung dirawat.

Tapi baru saja langkahnya masuk ke dalam gedung, seseorang diluar jatuh dari atap. Orang2 menjerit ketakutan. Sung Hoon keluar lagi. Dia terkejut melihat siapa yang jatuh dari atap. Pak Jung!!

Sung Hoon mendongak, melihat ke atap. Sekilas, dia melihat seseorang berpakaian hitam.


Sung Hoon pun langsung ke atap. Tapi tak ada siapapun di sana.

Sementara, kamera menyorot mobil hitam yang pergi meninggalkan gedung rumah sakit. *Mobil Sung Joon!!

Sung Hoon menemukan seorang petugas tergeletak dengan kepala terluka.

Sung Hoon pun langsung meminta bantuan.


Detektif Oh dan Detektif Na langsung ke IGD.  Mereka ingin tahu keadaan Petugas Kang Soo Ho yang terluka.

Syukur lah Petugas Kang tidak terluka parah, tapi dia mendapat 20 jahitan di kepalanya.

Detektif Oh bertanya, apa yang terjadi.

Petugas Kang : Jung Man Chun bilang ingin bicara empat mata dengan Detektif Ryu. Jadi, aku turun ke lobi untuk membeli kopi. Sekitar sepuluh menit kemudian, aku mulai cemas karena meninggalkan mereka berdua di sana. Jadi, aku kembali ke atap. Entah apa yang mereka bicarakan, tapi mereka berdua tampak cukup tegang.

Flashback...


Sung Joon melihat Petugas Kang sudah datang.

Sung Joon : Kau sudah kembali?

Karena khawatir, Petugas Kang pun bertanya apa yang dikatakan Pak Jung.

Sung Joon : Tidak banyak. Dia hanya ingin mencari udara segar dan menjadikanku sebagai alasan. Aku membiarkannya menusukku, jadi, kurasa dia meremehkanku.

Sung Joon lantas beranjak pergi.


Petugas Kang mendekati Pak Jung.

Petugas Kang : Karena sudah naik, kita bisa tetap di sini sampai kopiku habis. Hari yang indah.

Tapi seseorang memukul kepala Petugas Kang dari belakang.

Flashback end...


Petugas Kang : Saat bangun, aku terbaring di IGD.

Detektif Oh : Kau tidak melihat siapa yang memukul kepalamu?

Petugas Kang : Tidak, Pak. Maaf.

Detektif Oh menyuruh Petugas Kang istirahat.


Diluar, Detektif Kim berusaha menghubungi Sung Joon.

Tapi tak bisa.


Detektif Kang menginterogasi Sung Hoon.

Detektif Kang : Kenapa kau pergi ke atap saat itu?

Sung Hoon : Begitu Jung Man Chun jatuh, aku melihat seseorang di atap. Aku ke sana untuk memeriksa dan menemukan seorang pria pingsan dengan berlumuran darah.

Detektif Kang : Kau tidak melihat orang lain, selain Petugas Kang?

Sung Hoon : Aku tidak melihat orang lain.

Detektif Kang : Adikmu tidak ada di sana?

Sung Hoon : Adikku ada di atap?

Detektif Kang : Apa yang kau lakukan di rumah sakit?

Sung Hoon : Aku hendak menemui Jung Man Chun. Aku baru-baru ini mengetahui bahwa salah satu juri, Choi Soon Gil, mengenal ayah Baek Ji Eun, si korban.

Kita lalu ditunjukkan apa yang dibicarakan Soon Gil dengan Sung Hoon malam itu.

Flashback...


Soon Gil : Di negara lain, saat hal seperti ini terungkap, mereka bisa membatalkan keputusan pengadilan. Tapi tentu saja, tidak akan terjadi di negara ini. Semua orang memujimu karena penilaianmu yang adil. Bagaimana jika ini merusak reputasimu? Aku sangat mencemaskanmu. Bayar saja aku dengan mahal, maka akan kupastikan reputasimu tidak rusak.

Sung Hoon : Terima kasih atas perhatianmu, tapi aku tidak butuh bantuanmu.

Soon Gil : Kalau begitu, aku tidak bisa tutup mulut.

Soon Gil tersenyum puas.

Sung Hoon : Bicaralah sesukamu. Stasiun TV, koran, dan media lainnya. Hubungi semua orang dan beri mereka informasi. Setujui permintaan wawancara juga. Jika mau, aku bisa menghubungkanmu dengan reporter kenalanku.

Flashback end...


Sung Hoon : Setelah tahu ada kesalahan, aku tidak bisa mengabaikannya. Aku ingin meminta Jung Man Chun mengajukan sidang ulang.

Detektif Kang : Terima kasih atas kerja samanya.

Sung Hoon : Tunggu, Detektif. Tadi kau bertanya apa aku melihat Sung Joon di atap. Bisa beri tahu aku alasanmu menanyakan hal itu?

Detektif Kang : Tepat sebelum Jung Man Chun tewas, dia bertemu dengan Detektif Ryu. Ada kemungkinan pria yang kau lihat adalah Detektif Ryu.

Sung Hoon tersentak.

Detektif Kang menatap Detektif Kim.

Detektif Kang : Kau sudah bicara dengan Ryu Sung Joon?

Detektif Kim : Belum.


Detektif Kang pun menghubungi seseorang.

Detektif Kang : Ini Inspektur Kang Chang Wook dari Kepolisian Mooyoung. Aku ingin kau melacak sebuah ponsel. Ini mendesak.


Sung Joon dalam perjalanan.

Ponselnya terus berdering, telepon dari Detektif Kim.


Petugas melakukan olah TKP di atap gedung.

Mereka menemukan satu kancing berwarna hitam.


Won Woong tengah berendam di bak mandi.

Nyonya Jung : Won Woong, pastikan kepalamu tetap kering.

Won Woong : Baiklah.

Nyonya Jung lalu duduk di kasur untuk melipat pakaian.

Kamera menyorot wajahnya. Bibirnya terluka, seperti korban Baek Ji Eun dan Yeom Hye Jin!


Bel berbunyi. Mengira itu ayahnya, Won Woong langsung lari ke pintu.

Nyonya Jung mengejar Won Woong, tapi Won Woong keburu membuka pintu.

Nyonya Jung terkejut melihat sosok di hadapannya.


Detektif Kang berhasil melacak lokasi ponsel Sung Joon.

Lokasi ponselnya saat ini di Motel Lips, Jicheon-ro 37-gil 9.

Detektif Kang masuk dan mencari Sung Joon. Melihat pintu salah satu kamar motel terbuka, dia langsung mengeluarkan pistolnya dan masuk ke dalam.

Dia melihat Nyonya Jung tewas tertusuk pisau dan Sung Joon yang memegang pisaunya.

Sung Joon langsung mengangkat tangannya ke atas.

Sung Joon : Aku mengerti jika kau salah paham, tapi aku bisa menjelaskan semuanya.

Tapi Detektif Kang tak mau mendengar.

Detektif Kang : Serahkan pistolmu. Cepat!

Sung Joon : Kita tidak punya waktu untuk ini. Pelakunya pergi beberapa saat lalu. Kita harus melacaknya sekarang! Mengerti?

Sung Joon mengatakan itu sambil menaruh pistolnya ke lantai.


Detektif Kang mendekati Sung Joon dan menyepak pistol Sung Joon.

Sung Joon : Apa yang kau lakukan? Kau akan menembakku? Kubilang kau salah paham!

Sung Joon pun dengan cepat mengarahkan pistol Detektif Kang ke atas. Pelatuk tertarik.

Sung Joon : Ini peluru asli. Kau sudah gila!

Mereka baku hantam, sebelum akhirnya Sung Joon melarikan diri.


Tapi tiba2 aja, sebuah mobil muncul di hadapan mobil Sung Joon saat dia berusaha kabur.

Sung Joon kaget dan menginjak rem nya. Tapi kemudian, seseorang mengarungkan kepalanya dari belakang.



Detektif Oh dan Detektif Kang menghadap Kepala Yeom.

Kepala Yeom : Kudengar Jung Man Chun bilang di ruang sidang bahwa Ryu Sung Joon yang membawa Baek Ji Eun. Jika dia membunuh Baek Ji Eun dan putriku, lalu membunuh Jung Man Chun juga untuk membungkamnya selamanya...

Detektif Oh : Itu tidak masuk akal, Pak Kepala.

Kepala Yeom : Lalu kenapa dia meninggalkan rumah sakit tepat setelah Jung Man Chun jatuh dan muncul di TKP pembunuhan istri Jung Man Chun? Aku tidak peduli apa katamu. Tangkap dia!

Detektif Oh : Beri kami sedikit waktu lagi. Semua orang mencarinya. Kami akan segera menangkapnya.

Kepala Yeom : Kau berusaha melindunginya. Tapi jika ternyata semua itu perbuatannya, bukan hanya dia yang akan dipenjara!

Detektif Oh : Detektif Ryu sudah seperti adikku, Pak Kepala. Aku menjaganya sejak dia baru menjadi polisi. Meski mudah marah dan sering menyebabkan masalah, dia selalu melawan ketidakadilan. Dia tidak mungkin membunuh orang, Pak Kepala.

Kepala Yeom : Aku melakukan ini bukan karena aku kejam. Aku berusaha mencegah terjadi masalah yang lebih besar!

Detektif Oh : Masalah yang lebih besar? Seperti apa?

Kepala Yeom terkejut dengan pertanyaan Detektif Oh. Dia keceplosan, tapi kemudian dia mengelak.

Kepala Yeom : Menurutmu apa? Orang benci saat melihat kita berusaha melindungi sesama polisi! Kau tidak mematuhi perintahku? Cepat tangkap Ryu Sung Joon!


Pak Ryu mengucapkan selamat kepada istrinya. Dia juga memberikan bunga.

Nyonya Na : Menyenangkan sekali. Setelah sekian lama, ini kali pertamaku menerima bunga darimu.

Pak Ryu : Omong-omong, apa aku harus menghadiri upacara pengangkatanmu?

Nyonya Na : Tentu saja. Aku tidak mungkin berada di posisiku sekarang jika bukan karenamu, Hakim Ryu Il Ho.

Pak Ryu : Tidak ada yang membuatku lebih bahagia daripada dipuji. Tunggu. Kalau begitu, apa yang harus kupakai?

Nyonya Na : Kau harus membuat setelan baru. Semua setelanmu sudah lama.

Pak Ryu : Tidak, aku punya yang itu. Aku akan memakai setelan itu.

Pak Ryu menunjuk setelan yang dia pakai di foto keluarga.

Nyonya Na : Setelan itu? Sung Hoon membelikannya untukmu saat dia mendapat gaji pertamanya.

Pak Ryu : Benar. Itu setelan favoritku. Aku harus memakainya di acara spesial ini.

Nyonya Na : Kau jelas menunjukkan lebih menyayangi putra sulungmu.

Pak Ryu : Kau pun begitu. Kau  juga jelas menunjukkan dia anak kesayanganmu.

Nyonya Na : Itu karena Sung Joon sangat berbeda dari Sung Hoon. Mari berhenti membahasnya. Aku sangat kesal setiap kali memikirkan Sung Joon.



Bel berbunyi.

Mereka membuka pintu. Ternyata teman2nya Sung Joon datang.

Pak Ryu : Detektif Oh, ada perlu apa kau kemari?

Detektif Oh : Apa Sung Joon ada di sini?

Pak Ryu : Sung Joon? Kenapa kau mencarinya di sini?

Detektif Oh bingung mengatakannya, tapi dia tetap mengatakan apa yang terjadi pada Sung Joon sekarang.

Detektif Oh : Mereka memasukkannya ke DPO.


Eun Ki tengah bekerja saat dia menerima pesan dari group chat nya soal kematian Pak Jung. Dan yang lebih mengejutkannya lagi, pelakunya adalah Sung Joon.

Sung Hoon masuk ke kamar Sung Joon.

Dia melihat2 kamar Sung Joon tapi tidak menemukan apa-apa.


Tak lama kemudian, orang tuanya datang.

Nyonya Na : Di mana Sung Joon? Kau dengar apa yang terjadi?

Sung Hoon : Ya.

Pak Ryu : Kau sudah bicara dengannya?

Sung Hoon : Dia belum meneleponku.

Nyonya Na : Kenapa dia harus melakukan ini sekarang? Upacara pengangkatan ibu dua hari lagi. Kenapa sekarang?

Pak Ryu : Tenanglah. Kita bahkan tidak yakin apa Sung Joon benar-benar melakukannya.

Nyonya Na : Polisi sedang mencarinya. Mereka tidak akan memasukkan rekan mereka ke DPO tanpa alasan! Sung Hoon, mari temukan dia dahulu. Kita harus mencari tahu apa yang terjadi untuk menyusun rencana. Di mana dia sekarang?

Sung Hoon : Aku tidak tahu.

Nyonya Na : Kau tidak tahu? Teman dekatnya pasti tahu, bukan? Kau sudah menelepon teman-temannya? Jangan bilang kau  bahkan tidak tahu dia dekat dengan siapa. Apa yang kau tahu? Apa kalian berdua sama sekali tidak menduga ini?

Sung Hoon kemudian berkata, dia sudah menduga hal ini.

Orang tuanya kaget.



Sung Joon sendiri ada di bangunan, tempat dia dikurung saat masih kecil.

Kepalanya dikarungi karung hitam.

Sung Joon mendengar siulan si Anjing Gila.

Sung Joon : Suara ini. Apa ini mimpi lagi? Anjing Gila. Dia datang.

Kita diperlihatkan flashback, ketika seseorang mengarungkan kepala Sung Joon di dalam mobil.

Dan orang itu, Pak Goo!


Penutup kepalanya dibuka. Wajahnya babak belur. Dia melihat Pak Baek duduk di hadapannya.

Pak Baek : Detektif Ryu Sung Joon.  Tidak. Aku harus memanggilmu Yoon Jae.

Sung Joon : Bagaimana kau tahu nama itu?

Pak Baek : Kau mengatakannya sendiri saat bertelepon dengan Jung Man Chun.

Sung Joon : Apa?

Pak Baek : Aku hampir menganggap pembunuh putriku adalah orang yang aku berutang nyawa padanya. Kenapa kau membunuhnya? Kau membalas dendam atas perbuatanku kepadamu? Pada hari ulang tahunnya ke-20?

Pak Baek lantas melihat kalung Sung Joon. Dia semakin marah.

Sung Joon tak mengerti, apa maksudmu?

Pak Baek : Jika ingin membalas dendam, seharusnya kau membunuhku. Aku, bukan putriku! Ya. Sejak kecil, tatapanmu berbeda.

Sung Joon : Kau menculik dan menyiksa seorang polisi. Kau tahu ini kejahatan besar?

Pak Baek : Hidupmu akan berakhir. Orang di luar mencari ke mana-mana untuk menangkapmu. Selagi menyamar sebagai detektif, kau membunuh putriku, putri Pak Kepala Yeom, serta Jung Man Chun dan keluarganya. Pembunuh berantai Jung Yoon Jae. Tapi polisi tidak akan bisa menemukanmu. Sebelum mereka menemukanmu, di hadapanku, kau akan dicabik hidup-hidup. Kau akan menghilang tanpa jejak.

Pak Jung mengeluarkan pisau. Dia berusaha menusuk mata Sung Joon, namun Sung Joon melawan. Dia menendang semuanya. Setelah itu dia kabur ke hutan.

Anak buah Pak Baek menembakinya, tapi dia berhasil menghindar.

Dalam pelarian, dia menggigit tali yang mengikat tangannya.



Tapi sayangnya, dia menemui jalan buntu. Di depannya ada jurang.

Pak Baek dan anak buahnya datang.

Sung Joon tak punya pilihan lain, selain melompat ke bawah.


Pak Baek menyuruh anak buahnya turun ke bawah mencari Sung Joon.

Sung Joon sendiri tak sadarkan diri usai berguling2 ke bawah.

Bersambung......

Next episode :

Sung Joon menghubungi Eun Ki, dia meminta bantuan Eun Ki.

0 Comments:

Post a Comment