Blind Eps 5

 All Content From tvN
Penulis : Catatan-Iza
Sinopsis : Blind
Sebelumnya : Blind Eps 4
Selanjutnya : Blind Eps 6


Kelima anak sedang membersihkan kamar mandi. Si anak kedua yang tengah menyikat lantai, melihat selang di lantai. Dia pun langsung mengambil selang itu dan menyemprot adik-adiknya. Mereka tampak gembira bermain air. Si anak pertama yang berdiri di dekat pintu, terus menyikat pinggiran bak, sambil tertawa melihat adik-adiknya main. Tapi kemudian, dia melihat kehadiran petugas.

"Sersan Choi datang!" ucap si anak kedua, memperingatkan adik2nya.




Maka, mereka semua berhenti bermain dan kembali membersihkan kamar mandi. Soon Gil masuk dan menatap kelima anak. Lalu dia menyentuh pinggiran bak mandi yang masih berbusa dengan tangannya.

Tapi tiba-tiba, dia menenggelamkan kepala anak kedua ke dalam air. Selang beberapa detik, dia mengangkat lagi kepala si anak kedua. Lalu dia mengarahkan kepala si anak kedua ke pinggiran bak. Semua kaget melihatnya.

"Julurkan lidahmu sebelum kupecahkan kepalamu."

Terpaksalah si anak kedua menjulurkan lidahnya.

"Benar. Mulai sekarang, bersihkan semuanya dengan lidahmu, bukan kain lap. Lantai kamar mandi, wastafel, dan toilet. Mengerti? Sekarang."


Si anak kedua tak mau. Soon Gil malah mendorong tubuh si anak kedua ke dinding.

"Beraninya kau membangkang terhadap sersan pelatihmu!"

Soon Gil lalu menginjak tangan si anak kedua.

Anak ketiga marah, dia mau menolong anak kedua tapi dihentikan anak pertama.


Pak Baek pun datang, Sersan Choi, sudah kubilang akan ada tamu dua hari lagi.

Soon Gil membuat alasan, kalau si anak kedua tidak bersih-bersih dengan benar.

Soon Gil : Aku tidak suka sikapnya.

Pak Baek menatap kesal Soon Gil.

Soon Gil pun mengerti dan menyuruh anak-anak membersihkan kamar mandi. Setelah itu, dia beranjak keluar.


Pak Baek memperingatkan anak-anak. Dia bilang sekitar tiga tahun lalu di hari inspeksi rutin, salah satu anak memberi catatan kepada tamu yang datang.

Pak Baek : "Tolong aku." "Aku terkurung di sini." Menurut kalian, apa tindakan tamu itu? Dia mendatangiku dengan catatan anak itu. Kurasa anak itu berusia 13 tahun saat itu. Sayang sekali. Andai tidak bertindak bodoh, dia tidak akan dipukuli sampai mati di usia 13 tahun. Jangan bertindak bodoh, kecuali kalian ingin mati seperti anak itu.

Pak Baek kemudian menatap Yoon Jae yang berada di depannya. Dia melihat kalung Yoon Jae. Pak Baek merebut kalung Yoon Jae.

Yoon Jae melawan dan minta kalungnya dikembalikan. Dia bilang, kalung itu dari kakaknya.

Pak Baek : Nomor 13. Kau mau ke gudang?

Anak pertama yang melihat itu, langsung mendorong Yoon Jae ke dinding dan meminta maaf pada Pak Baek. Dia berjanji, hal seperti itu takkan terulang lagi. Pak Baek pun pergi.


Anak pertama mendekati Yoon Jae.

Anak pertama : Yoon Jae-ya, sakit bukan? Maafkan aku.

Yoon Jae marah, kenapa kau melakukan itu? Seharusnya kamu kejar Anjing Gila dan merebut kalungku. Kenapa kau memukulku?

Anak pertama : Karena aku harus melindungimu. Aku berjanji kepada Yoon Jung untuk melindungimu. Apa pun yang terjadi, aku akan menjagamu. Kau percaya padaku, bukan?

Anak pertama lalu memberikan kalungnya kepada Yoon Jae. Itu kalung Yoon Jung.


Joker tengah menatap foto Yoon Jung, Yoon Jae dan si anak pertama.

-Episode 5, Sebuah Janji-


Sung Joon dengan terseok2 menyusuri jalanan. Tubuhnya penuh luka.

Dia lalu melihat ada telepon umum di depannya.


Eun Ki sedang melihat artikel tentang Sung Joon di internet. Artikel2 itu berjudul,  "Tersangka Pembunuh Istri dan Putra Jung Man Chun adalah Detektif", "Dua Wajah Pahlawan Kamar Atap", "Putra Calon Menteri Na Guk Hee, Tersangka Pembunuhan dan Buron", "Suami Na adalah Hakim Agung Ryu Il Ho..."

Eun Ki terkejut, tunggu. Hakim Ryu?

Eun Ki memperbesar foto Pak Ryu.


Kita diperlihatkan flashback, saat Eun Ki yang masih berseragam sekolah duduk di bangku terdakwa sepuluh tahun yang lalu. Pak Ryu lah yang menjadi hakim nya.

Eun Ki sewot, wanita itu yang memulainya.

Eun Ki menunjuk temannya yang duduk di bangku pengunjung.

Eun Ki : Wanita itu melempar nampan makanannya ke wajahku, memenuhi lokerku dengan sampah, menaruh kantongnya di tasku, dan menjebakku sebagai pencuri. Aku melakukan hal yang sama kepadanya. Kenapa aku harus dihukum? Kenapa hanya melakukan ini kepadaku?

Pak Ryu marah, kau pikir ini di mana? Sopanlah saat bicara! Jika mengulanginya, kau dianggap menghina pengadilan. Selain itu, Cho Eun Ki. Kau tidak sekadar melakukan hal yang sama kepadanya. Jika merasa difitnah, seharusnya mintalah bantuan guru atau orang dewasa lain. Meski begitu membencinya, kenapa kau melempar kotoran anjing ke wajah seseorang?

Eun Ki : Orang dewasa apa?

Pak Ryu kesal dan menyuruhnya minta maaf. Eun Ki gak mau. Dia bilang, lebih baik dia masuk penjara remaja ketimbang harus minta maaf sama temannya itu. Tapi Pak Ryu bilang bukan Eun Ki yang dia suruh minta maaf, tapi temannya Eun Ki. Eun Ki kaget.


Pak Ryu beranjak keluar dari Pengadilan Mooyoung. Eun Ki mencegatnya.

Eun Ki : Kenapa kau melakukan itu?

Pak Ryu : Kenapa kau belum pulang?

Eun Ki : Orang dewasa selalu berpamrih. Kau menginginkan sesuatu, bukan? Apa itu? Kau menginginkanku?

Pak Ryu : Dasar berandal, beraninya kau mengatakan hal seperti itu. Di mana kau belajar sopan santun?

Eun Ki : Lalu apa? Tadi kau membelaku. Kau juga memberiku masa percobaan. Kenapa?

Pak Ryu : Kau membentakku sepanjang sidang agar aku membantumu. Aku menganggapnya begitu. Anak muda ini meminta tolong kepadaku. Sebagai orang dewasa, bagaimana aku bisa mengabaikannya?

Pak Ryu pergi.

Flashback end...


Eun Ki :  Kalau begitu, putra Hakim Ryu...

Eun Ki melihat foto Sung Joon.


Sung Joon mau menghubungi seseorang, tapi baru memencet satu nomor, dia ingat kata2 Pak Baek tadi kalau semua orang kini mencarinya.

Pak Baek : Selagi menyamar sebagai detektif, kau membunuh putriku, putri Pak Kepala Yeom, serta Jung Man Chun dan keluarganya. Pembunuh berantai Jung Yoon Jae.

Sung Joon pun batal menghubungi nomor yang ingin dia hubungi.


Detektif Kim dan Detektif Kang di mobil, di depan gedung pengadilan. Tak lama kemudian, Sung Hoon keluar dari sana. Detektif Kang langsung membangunkan Detektif Kim yang sudah tidur pulas. Mereka melihat Sung Hoon pergi. Begitu Sung Hoon pergi, mereka langsung turun dari  mobil.

Ponsel Detektif Kim berbunyi, tapi Detektif Kim meninggalkan ponselnya di mobil.


Itu telepon dari Sung Joon. Sung Joon menyudahi panggilannya karena Detektif Kim tak menjawab.

Sung Joon lalu teringat kata2 Eun Ki saat Eun Ki datang menjenguknya di rumah sakit. Eun Ki memberi Sung Joon kartu nama dan menyuruh Sung Joon menelponnya kapan saja jika butuh bantuan.

Sung Joon pun merogoh sakunya, mengambil kartu nama Eun Ki.


Eun Ki tak bisa tidur. Dia gelisah. Tak lama, ponselnya berbunyi.

Dia menjawab, tapi tak ada suara di seberang sana. Eun Ki menatap layar ponselnya, melihat nomor si penelpon. Lalu dia kembali menjawab telepon.

Eun Ki : Siapa ini?

Barulah Sung Joon bersuara, ini aku...

Eun Ki langsung duduk, apa ini Detektif Ryu?

Sung Joon : Tawaranmu untuk membantu soal apa pun, boleh kuterima itu sekarang?


Eun Ki pun langsung pergi dengan mobil kantornya.

Sung Joon bilang jika Eun Ki mencari nomor telepon itu di internet, Eun Ki akan tahu dia dimana. Sung Joon juga minta Eun Ki datang sendiri dan tidak bilang siapapun soal dia.

Eun Ki tiba di lokasi Sung Joon. Dia terkejut melihat darah di telepon umum.

Eun Ki pun bergegas mencari Sung Joon. Dia terkejut dan sedikit berteriak setelah menginjak sesuatu. Dia pun menengok ke bawah dan melihat sesuatu dibawah kain hitam besar bergerak-gerak. Dia menyibak kain itu dan menemukan Sung Joon.

Sung Joon : Kau benar-benar datang. Aku tidak menyangka.

Eun Ki : Tunggu. Kurasa kita harus ke rumah sakit dahulu. Kau sanggup berdiri?


Eun Ki membawa Sung Joon ke mobilnya.

Tapi kemudian, Sung Joon melihat sebuah mobil datang. Dia terkejut.


Mobil itu mobil Pak Baek. Pak Baek turun dari mobil bersama Pak Goo. Mereka berpencar menjadi Sung Joon. Tak lama, Pak Baek melihat ada darah di telepon umum.

Pak Baek mengedarkan pandangan dan melihat mobil kantor Eun Ki.

Pak Baek dan Pak Goo bergegas memeriksa. Di kursi depan, mereka tak menemukan siapapun. Tapi di kursi belakang, mereka menemukan seseorang di bawah selimut. Pak Baek mengeluarkan pisaunya dan membuka pintu. Dia menyibak selimut dan siap menusuk Sung Joon yang dia pikir dibawah sana. Tapi ternyata itu Eun Ki. Eun Ki pura2 bangun tidur.

Eun Ki : Sial. Kau sopir yang mereka kirim? Kunci mobilnya...

Eun Ki merogok sakunya sambil turun dari mobilnya, pura2 nyariin kunci.

Eun Ki : Tunggu, akan kuambilkan kuncinya.


Pak Baek dan Pak Goo pun akhirnya pergi.

Eun Ki : Kuncinya ada di suatu tempat.

Setelah memastikan Pak Baek dan Pak Goo pergi, Eun Ki pun mendekati bangkai mobil di dekat telepon umum. Sung Joon bersembunyi di sana.


Di ruang makan, Nyonya Na tengah membaca petisi yang menolaknya sebagai Menteri Kesehatan dan Kesejahteraan. Petisi itu sudah diitandatangani oleh 24.023 orang.

Pak Ryu mendekati Nyonya Na. Dia membawa secangkir minuman dan mengambil tablet dari tangan Nyonya Na.

Pak Ryu : Berhentilah membaca hal seperti ini dan tidurlah.

Nyonya Na : Bagaimana aku bisa tidur sekarang?

Pak Ryu : Apa kata Presiden?

Nyonya Na : Belum ada pernyataan. Dia pasti ingin aku mengundurkan diri. Apa Sung Joon benar-benar... Tidak. Tidak mungkin. Itu pasti tidak benar. Aku bekerja keras untuk bisa sampai sejauh ini.

Pak Ryu : Mari kita tunggu. Kebenaran akan terungkap. Aku mengkhawatirkan Sung Hoon. Dia akan dikritik atas putusannya terhadap Jung Man Chun.

*Lah, emaknya ngawatirin diri sendiri karena gagal jadi menteri. Bapaknya ngawatirin Sung Hoon. Gk ada satu pun yang ngawatirin Sung Joon...


Orang2 berdemo di depan kantor Sung Hoon. Mereka menuntut Sung Hoon mundur sebagai hakim karena salah memvonis Pak Jung. Mereka juga menyebut Sung Hoon sebagai hakim yang tak adil.

Sung Hoon baru saja keluar dari ruang atasannya. Dia memikirkan kata2 atasannya tadi.

"Menurut mereka, kau menghukum orang yang tidak bersalah untuk menutupi kejahatan adikmu. Beberapa orang bahkan menuntutmu karena melalaikan tugas. Bagaimana jika kau rehat sampai situasi mereda?"


Pak Goo berdiri di dekat mobil Kepala Yeom.

Sementara Kepala Yeom memarahi Pak Baek karena gagal membunuh Sung Joon.

Kepala Yeom : Kau selalu ceroboh dalam menyelesaikan tugas. Dasar bodoh.

Pak Baek menatap kesal Kepala Yeom.

Kepala Yeom : Dia pintar, jadi, dia dia tidak akan muncul.

Pak Baek : Dia tidak akan bertahan lama sendirian. Dia akan meminta bantuan seseorang. Siapa kenalanmu yang bisa dia mintai bantuan?

Kepala Yeom : Jika aku memberitahumu, kau akan menculik orang itu dan menyiksa mereka juga? Jangan ikut campur dan memperburuk keadaan. Kau harus waspada. Aku akan meneleponmu saat Ryu Sung Joon muncul.

Kepala Yeom turun dari mobil Pak Baek dan beranjak ke mobilnya.


Pak Goo langsung masuk ke mobil Pak Baek.

Pak Baek : Ajak anak buah dan cari jejak mulai dari tempat Ryu Sung Joon menghilang.

Pak Goo : Tapi Bos, menurutmu Ryu Sung Joon menumpang mobil yang lewat? Mobil itu.

Pak Baek teringat mobil Pusat Komunitas Anak Mooyoung semalam yang parkir di dekat telepon umum benoda darah.


Kita ke Pusat Komunitas Anak Mooyoung sekarang. Eun Ki menyembunyikan Sung Joon di gudang. Sung Joon tak sadarkan diri dan terus gelisah. Tak lama kemudian, dia membuka matanya dan samar-samar melihat Eun Ki yang tengah merawatnya.


Sung Hoon masuk ke ruangannya. Dia melihat ada sebuah paket di mejanya dan beberapa surat di atasnya. Dia melihat surat2 itu. Di amplop surat, tertulis "NFS".  Setelahnya, Sung Hoon melihat paket itu. Pengirimnya Pak Jung. Sung Hoon membukanya. Dia menemukan sebilah pisau yang dibalut dengan kertas yang ditulisi tinta merah.

Sung Hoon memegang pisau itu. Para staf nya yang melihat itu dari luar jendela, terkejut.

Sung Hoon lalu membaca tulisan di kertas itu.

"Pembunuh yang membuat orang tidak bersalah menjadi bersalah"


Para juri berkumpul di restoran Charles.

Kyung Ja lagi meramal peruntungan seseorang bernama 'Kang Han Na'.

Young Ki : Kau bilang mereka punya keinginan mengembara.

Kyung Ja : Tidak, bukan keinginan mengembara. Mereka merusak peruntungan...

Lalu Eun Ki datang, kalian berkumpul di sini?

Kyung Ja : Pak Kang memintaku meramal peruntungan putrinya.

Young Ki : Biasanya aku tidak percaya hal seperti ini, tapi aku bermimpi aneh.

Chul Ho : Aku datang untuk minum dengannya.

In Sung : Aku datang karena Charles menelepon. Bagaimana denganmu?

Eun Ki : Aku ingin makan sushi. Bisa bungkuskan untukku?

Charles : Tentu. Kau datang di akhir pekan? Aku merasa terhormat.

Eun Ki lalu membahas dengan Sung Joon dengan hati2.

Eun Ki : Kudengar salah satu pelangganmu adalah seorang detektif. Kau sudah mendengar kabar tentang Detektif Ryu?

Young Ki : Ya, aku ingin tahu. Bagaimana situasinya? Dia ditangkap?

Charles : Tidak, dia masih buron. Semua orang bersiaga dan detektif berhari-hari tidak pulang, tapi jejaknya belum ditemukan.

Young Ki : Menurutmu mereka berpura-pura belum bisa menangkapnya, padahal sebenarnya mereka menyembunyikannya?

Charles : Para detektif sudah saling mencurigai dan cukup bersitegang.

In Sung : Eun Ki, kau tidak berpikir dia pembunuh, bukan?

Eun Ki : Apa?

In Sung : Aku juga tidak. Seberapa besar kemungkinan orang yang bertaruh nyawa demi menyelamatkan sandera adalah pembunuh berantai?


Chul Ho : Entahlah. Tidak ada pekerjaan yang seideal polisi untuk menyembunyikan identitas pembunuh berantai mereka.

Kyung Ja : Anjing. Detektif itu takut anjing.

Chul Ho : Aneh sekali. Anjing apa?

Kyung Ja : Saat bertemu detektif itu tempo hari, aku melihat masa kecilnya. Ada anjing pemburu sebesar ini dan dia ketakutan. Dia gemetar dan bilang, "Pergilah."

Chul Ho : Kau melihat hal lain selain anjing?

Kyung Ja : Yeobseyo...? Kami juga punya peraturan dan moral. Kami tidak membocorkan rahasia klien kami.

Chul Ho : Kau sudah menceritakan semuanya. Peraturan dan moral apa?

Young Ki : Jadi, bisa kita lanjutkan? Ceritakan sisanya.

Kyung Ja : Tidak. Bukankah kita kemari untuk membahas putrimu?

Young Ki : Baiklah.


Para detektif tengah rapat. Detektif Kang yang memaparkan kronologi kasus Sung Joon.

Detektif Kang : Aku akan memulai pengarahan soal pembunuhan keluarga Man Chun.

Detektif Kang memutar CCTV, saat Sung Joon memasuki mobilnya dan meninggalkan rumah sakit setelah pembunuhan Pak Jung.

Detektif Kang : Pada pukul 1.40 siang, sesaat setelah Jung tewas terjatuh, Ryu Sung Joon meninggalkan tempat parkir basemen, menuju motel tempat istri dan putra Jung berada. Ryu Sung Joon tertangkap kamera pengawas di luar motel.

Dia lalu menunjukkan CCTV saat Sung Joon tiba di motel.

Detektif Kang : Ryu Sung Joon langsung masuk ke kamar dan membunuh istri Jung Man Chun, Yang Ji Rim, dan putranya, Jung Won Woong. Ini foto TKP saat mereka dibunuh.

Detektif Kang menunjukkan foto Nyonya Yang dan Won Woong, serta foto TKP.

Detektif Kang : Ryu Sung Joon masuk ke mobil dan meninggalkan motel. Dia meninggalkan mobil di terowongan sejauh 10 kilometer, lalu lari. Kami melakukan pencarian ekstensif di area tempat mobil itu ditemukan, tapi belum menemukan jejaknya. Kami tidak punya saksi atau catatan penggunaan kartu kreditnya.

Kepala Yeom : Bukankah putra Jung Man Chun berusia tujuh tahun? Apa motif di balik pembunuhan anak kecil itu?

Detektif Kang : Semuanya masih spekulasi saat ini, tapi teorinya adalah dia pelaku sebenarnya di balik Kasus Pembunuhan Joker. Di pengadilan, Jung Man Chun bersaksi bahwa Baek Ji Eun dibunuh oleh Ryu Sung Joon. Jika ini benar, Ryu Sung Joon menjebak Jung Man Chun atas pembunuhan dan saat tahu Jung Man Chun menyaksikan pembunuhan itu, dia berusaha menyingkirkan masalah untuk ke depannya.

Detektif Oh, Detektif Kim dan Detektif Na masih sulit percaya Sung Joon melakukan itu.

Kepala Yeom : Apa kalian mengawasi semua orang yang bisa dihubungi Ryu Sung Joon?

Detektif Kang : Ya, Pak. Tim Kejahatan Kekerasan bergantian mengawasi keluarga Ryu Sung Joon dan menyusun daftar kenalan untuk diinterogasi.


Eun Ki balik ke gudang usai membeli sushi. Dia melihat Sung Joon masih tidur. Eun Ki menaruh sushi nya di atas meja dan memeriksa Sung Joon. Dia menaruh ujung rambutnya di bawah hidung Sung Joon. Sung Joon tak bernapas! Sontak dia terkejut dan langsung menaruh telinganya ke dada Sung Joon. Dia mencoba mendengarkan detak jantung Sung Joon.

Sung Joon pun bangun, kau sedang apa?

Eun Ki kaget, astaga!

Sung Joon : Kau meniru adegan dalam "Misery"?

Eun Ki : Kenapa kau tidak bernapas? Kukira kau sudah mati. Tunggu. Apa maksudmu "Misery"?

Sung Joon melihat badan dan tangannya diikat.

Eun Ki menjelaskan, dia juga harus hidup. Bisa saja Sung Joon benar-benar pembunuh.

Eun Ki lalu mengeluarkan sushi dari dalam kantong dan menaruhnya di meja.

Sung Joon yang melihat itu tanya kenapa Eun Ki membeli sushi untuk orang yang mungkin pembunuh.

Eun Ki : Kurasa bisa dibilang ini semacam penyiksaan.

Sung Joon : "Penyiksaan"?

Eun Ki : Katakan apa yang terjadi. Apa berita itu benar? Apa benar kau membunuh semua orang itu? Lalu kenapa kau terluka dan siapa orang-orang semalam? Jika kau tidak jujur padaku, aku tidak akan memberimu makanan.

Sung Joon : Bisa lepaskan ikatanku dahulu?

Sung Joon bangun dan berkata, dia juga pengen tahu apa yang terjadi.


Eun Ki melepaskan ikatan Sung Joon.

Sung Joon heran, kenapa kau melepaskanku semudah itu? Bagaimana jika aku memang pembunuh?

Eun Ki : Aku juga sudah memikirkannya. "Haruskah aku melaporkanmu ke polisi?" "Kau akan pergi ke tempat lain setelah kondisimu membaik?" Tapi aku memutuskan untuk memercayaimu. Kau bukan hanya orang yang menyelamatkan hidupku, tapi juga putra Hakim Ryu Il Ho.

Sung Joon : Kau tahu ayahku?

Eun Ki : Tentu saja. Hakim Pemarah.

Sung Joon : Bisa berikan ponselmu? Aku ingin melihat berita.


Eun Ki meminjamkan ponselnya.

Sung Joon terkejut melihat berita dengan judul bahwa dia membunuh anak dan istri Pak Jung.

Sung Joon : Won Woong tewas?


Detektif Oh, Detektif Kim, Detektif Na dan Detektif Kang mengisir perut di kedai ajumma.

Tapi Detektif Oh tidak berselera makan dan menghela nafas.

Ajumma : Jangan menghela napas di depan makanan. Itu mengusir keberuntungan.

Detektif Oh : Aku memang tidak beruntung.

Detektif Oh lalu bertanya, apa ajumma sudah dengar kabar dari Sung Joon.

Detektif Oh : Belum bukan?


Ajumma : Jika dia menghubungiku, kau pikir aku akan memberi tahu kalian?

Lah Detektif Kang sewot, kurasa kau belum tahu hukumnya. Jika menyembunyikan penjahat, kau akan dihukum.

Ajumma marah dan mengambil makanan Detektif Kang.

Ajumma : Lakukan sesukamu. Aku tidak takut dengan hal seperti itu. Kau tidak pantas makan.

Ponsel Detektif Kim berbunyi.

Detektif Kim melihatnya. Hanya sebuah nomor di layar.


Detektif Oh memberikan nasinya pada Detektif Kang.

Detektif Oh : Kau tidak akan bisa mengintai jika lapar.

Detektif Kang memperingatkan Detektif Oh.

Detektif Kang : Kau juga harus berhati-hati. Kau pasti ingin percaya bukan Ryu Sung Joon pelakunya, tapi laporan identifikasi dan autopsi menunjuk Ryu Sung Joon sebagai pelakunya.

Detektif Oh : Aku mengerti. Duduk dan makanlah.

Detektif Kang diam saja.

Detektif Oh marah, makan makananmu, Berandal!


Detektif Na : Kenapa kau marah?

Detektif Oh : Aku memperhatikan timku!


Detektif Kim keluar untuk menjawab teleponnya.

Restoran si ajumma, bernama Restoran In Sung.

Detektif Kim : Aku Detektif Kim Seok Gu. Dengan siapa ini?

Sung Joon : Seok Goo-ya, ini aku.

Seok Goo kaget, sunbaenim?

Seok Goo melihat ke restoran, aman.

Seok Goo : Dimana kau?

Sung Joon : Mari bicarakan itu nanti. Benarkah putra Jung Man Chun ditemukan tewas?

Seok Goo : Ya. Dia ditemukan tewas di TKP.

Sung Joon : Apa penyebab kematiannya?

Seok Goo : Kau tidak melakukannya, bukan? Detektif Kang menyatakan kamu membunuh keluarga Jung Man Chun dan dalang di balik Kasus Pembunuhan Joker. Tapi itu tidak masuk akal.

Sung Joon : Apa penyebab kematiannya?

Seok Goo : Dia sesak napas karena penyumbatan hidung dan mulut.

Sung Joon menghela nafas mendengar itu.

Seok Goo : Di mana kau sekarang? Aku akan mendatangimu. Itu tidak akan mudah karena Detektif Kang selalu siaga, tapi aku akan berusaha semampuku untuk pergi. Katakan saja lokasimu, maka aku akan...


Detektif Kang datang dan merebut ponsel Seok Goo. Dia menyuruh Seok Goo diam.

Sung Joon curiga dan memutuskan panggilannya.

Seok Goo bilang itu pacarnya.

Detektif Kang tak percaya, nomornya tidak disimpan tapi itu pacarmu?

Seok Goo : Aku baru mengajaknya berpacaran beberapa hari lalu.

Detektif Kang menghubungi balik nomor itu dan Eun Ki menjawab.

Eun Ki : Seok Goo-ssi, teleponnya tiba-tiba terputus. Aku di dalam lift. Aku tahu kau sibuk. Kembalilah bekerja. Mari bicara lagi nanti.

Eun Ki mutusin panggilan Detektif Kang.

Detektif Kang menatap Seok Goo, patuhi orang yang tepat.

Detektif Kang mengembalikan ponsel Seok Goo dan beranjak.

Seok Goo mau mengirim pesan ke Detektif Kang tapi Detektif Kang memarahinya.

Detektif Kang : Kenapa kau tidak mengikutiku? Sekarang aku atasanmu. Tetap ikut bersamaku sampai Ryu Sung Joon tertangkap.


Sung Joon mondar mandir, dia mencoba berpikir. Tapi Eun Ki menyuruhnya makan dulu.

Eun Ki : Kau harus makan agar cepat pulih.

Sung Joon pun duduk.

Eun Ki : Dengarkan aku sambil makan. Tempat kau berada saat ini adalah gudang di halaman belakang pusat tempatku bekerja. Karena orang jarang kembali ke sini, kau tidak akan kesulitan bersembunyi di sini. Tapi untuk berjaga-jaga, cobalah untuk tidak keluar.

Sung Joon : Siapa yang ada di pusat komunitas sekarang?

Eun Ki : Hanya ada aku. Pegawai dan anak-anak datang selama sepekan pukul 9 pagi dan pergi pukul 6 sore.

Sung Joon : Kau tinggal di sini?

Eun Ki : Ya. Setelah apa yang terjadi, aku pindah dari kamar atap.

Sung Joon : Begitu rupanya. Aku sama sekali tidak ingat bagaimana aku bisa sampai di sini.

Eun Ki : Kurasa kau tidak ingin tahu bagaimana kamu bisa sampai di sini.

Sung Joon : Aku akan membayarmu setelah membersihkan namaku.

Eun Ki : "Membersihkan namamu?" Jadi, kau dijebak? Aku merasa jauh lebih baik setelah mendengarmu mengatakan itu.

Tapi Eun Ki kemudian tanya kenapa Sung Joon memilihnya.

Eun Ki : Apa hanya aku yang bisa membantumu?


Sung Joon : Kau menganggapku apa? Kau pikir aku tipe orang yang bergantung padamu dan mengandalkanmu selagi aku bersembunyi? Kebetulan saja ada kartu namamu di sakuku, jadi, aku terpaksa meneleponmu. Soal orang lain... Aku tidak ingat nomor telepon orang lain. Ponsel pintar yang bodoh merusak kemampuan kita mengingat. Bagaimana denganmu, Eun Ki? Katakan berapa nomor telepon yang kau ingat. Tidak ada, bukan?

Eun Ki tertawa mendengarnya, baiklah. Aku akan kembali nanti malam. Habiskan semuanya, ya? Hampir lupa. Bisa lepaskan pakaianmu?


Sung Joon kaget Eun Ki nyuruh dia buka baju.

Eun Ki : Aku akan mencucinya.

Eun Ki kemudian sadar dan berbalik, membelakangi Sung Joon.

Eun Ki : Aku tidak akan melihat.

Sung Joon memberikan bajunya yang bernoda darah.


Setelah itu, Eun Ki pergi.

Sung Joon bertanya2.

Dia bilang Won Woong jelas2 masih hidup saat dia meninggalkan motel.

Sung Joon : Apa yang terjadi?


Detektif Kim dan Detektif Kang di kafe. Detektif Kang sok ngebossy.

Detektif Kim bahkan memesankan minum untuknya.

Ternyata, mereka lagi mengawasi Sung Hoon. Sung Hoon di kafe itu, bertemu dengan si dokter forensik.

Dokter forensik memegang sebuah amplop.

Dokter forensik : Kau tahu aku tidak boleh melakukan ini, bukan?

Sung Hoon : Jika kau tidak mau, aku akan pergi.

Dokter forensik : Kau sangat berbeda dengan Sung Joon. Ini dilarang, tapi aku akan membuat pengecualian untukmu.

Dokter forensik memberikan amplopnya. Isinya laporan autopsi kasus Pak Jung.

Sung Hoon : Apa ada bukti langsung bahwa Sung Joon membunuh seseorang?

Dokter forensik : Ya. Sidik jarinya ditemukan pada senjata pembunuhan istri Jung. Rambutnya juga ditemukan pada pakaian anak yang tewas karena sesak napas itu.

Sung Hoon : Kurasa sehelai rambut tidak bisa menjadi bukti langsung.

Dokter forensik : Tetap saja, itu lebih baik daripada nihil. Kami melakukan tes DNA, tapi tidak membuahkan hasil karena anak itu basah. Mengingat ada air di usus dua belas jari dan perut anak itu, dia mungkin coba menenggelamkannya, tapi gagal dan membungkamnya dengan bantal sampai tewas. Jika seseorang tewas karena dibungkam dengan bantal, ada tanda pendarahan hipodermis di sekitar hidung dan mulutnya. Omong-omong, kau tidak terkejut?

Sung Hoon : Soal apa?

Dokter forensik : Sung Joon tidak mungkin meninggalkan bukti seperti ini. Dia tidak pintar sepertimu, tapi meninggalkan sidik jari, jejak kaki, bahkan sehelai rambut di TKP? Dia tidak sebodoh itu. Aku tidak heran jika dia melakukan kejahatan sempurna.

Sung Hoon :  Bagaimana dengan sisi Jung Man Chun? Kau dapat bukti di sana?

Dokter forensik : Di sisi itu, kami menemukan kancing dengan sidik jari Sung Joon di dekat pagar.

Sung Hoon pun ingat itu kancing Sung Joon.

Sebelumnya, Sung Joon yang lagi minum, melihat kancing jaketnya yang hampir lepas. Dia pun meminta benang pada Sung Hoon.

Teringat itu, Sung Hoon pun menyadari sesuatu.


Sung Hoon ke atap, tempat Pak Jung dibunuh.

Dia membayangkan saat Sung Joon berusaha mendorong Pak Jung ke bawah. Pak Jung melawan dan menarik kancing Sung Joon. Kancing Sung Joon lepas dan jatuh ke bawah. Sung Joon kemudian sekuat tenaga mendorong Pak Jung. Pak Jung jatuh dan tewas. Di bawah, Sung Hoon mendongak ke atas. Sung Joon yang melihat itu, kaget dan langsung menyembunyikan dirinya.

Sung Hoon : Orang yang kulihat saat itu... Mungkinkah itu Sung Joon?


Sung Joon yang tidur, bermimpi buruk tentang masa lalunya. Dia mendengar suara gonggongan anjing dan siulan si Anjing Gila.

Sung Joon mengigau, pergilah. Pergilah.

Eun Ki masuk membawa pakaian Sung Joon yang sudah dia cuci. Dia mendengar igauan Sung Joon.

Tapi tak lama, ponselnya berbunyi. Dia langsung menyingkir dari Sung Joon.

Eun Ki : Sudah lama Yu Na tidak datang ke pusat komunitas.


Soon Gil di pinggir jalan, mengawasi Yu Na di seberang jalan.

Dia ingat Yu Na adalah wanita yang dibonceng si pengendara motor yang menyalipnya.

Yu Na kemudian melihat taksinya.

Yu Na : Taksi!

Soon Gil tersenyum menyeringai dan mendekati Yu Na.


Tapi tepat saat Yu Na mau masuk ke taksi, Eun Ki pun datang menyelamatkannya.

Eun Ki : Yu Na-ya, mari bicara sebentar.

Yu Na gak mau dan memaksa masuk ke taksi.

Eun Ki : Ada yang ingin kukatakan. Sebentar saja.

Seorang wanita menerobos masuk ke taksi Soon Gil.

Yu Na kesal melihat itu. Eun Ki masih memaksa bicara dengan Yu Na. Yu Na mendorong Eun Ki dan kabur. Eun Ki langsung mengejar Yu Na sambil memegangi lututnya.

Soon Gil menatap penumpangnya, mau kemana?


Eun Ki masih mengejar Yu Na. Yu Na terus lari dari kejaran Eun Ki tapi kemudian dia jatuh. Eun Ki terkejut dan memeriksa apa Yu Na terluka atau tidak. Yu Na marah karena hak sepatunya patah gara2 Eun Ki mengejarnya.

Eun Ki : Sekolahmu menelepon tadi. Kau akan diskors jika melewatkan ujianmu lagi.

Yu Na : Biarkan mereka berbuat semau mereka! Diskors atau dikeluarkan, aku tidak takut.

Eun Ki : Kau tidak mau belajar, bukan? Ada yang ingin kau lakukan selain belajar? Jika ada yang ingin kau pelajari, beri tahu aku. Aku akan mencarikan kursus gratis untukmu. Pekan depan, kurasa akan ada tempat kosong di rumah perlindungan. Kau bisa tinggal di sana dan memikirkan apa...

Yu Na berdiri dan melarang Eun Ki ikut campur dalam hidupnya.

Yu Na : Kau pasti merasa dirimu sangat penting. Kau hanya pekerja sosial.

Yu Na mau pergi tapi ditahan Eun Ki. Eun Ki marah.

Eun Ki : Kwon Yu Na. Kau tahu hal apa yang sangat menakutkan? Dikeluarkan? Tentu, itu sama sekali tidak menakutkan. Hal yang sangat menakutkan adalah saat kau diperlakukan tidak adil dan kau berteriak sekuatmu, tapi tidak ada yang melihatmu. Juga tidak ada orang di sisimu. Kau sungguh menginginkan itu?

Yu Na berkaca-kaca mendengarnya.

Eun Ki : Kalau begitu, tatap mataku dan katakan. Jika kau benar-benar mau, aku akan melepaskan tangan ini.

Dari sorot mata Yu Na, jelas dia tidak mau ditinggalkan. Tapi dia tetap aja keras kepala dan melawan Eun Ki.

Yu Na : Apa aku memintamu memegang tanganku?

Eun Ki pun melepaskan tangan Yu Na.


Sung Joon mencoba mengingat-ingat masa lalunya.

Sung Joon : Mimpi apa ini? Rasanya seperti kenangan masa kecilku.

Sung Joon memikirkan kata2 Pak Baek.

Pak Baek : Bahkan saat kau masih kecil, matamu berbeda dari anak-anak lain.

Sung Joon : Pak Baek bicara seolah-olah dia mengenalku sejak aku kecil. Tapi kenapa aku tidak mengingatnya?

Dia mengingat kata2 Pak Baek yang lain.

Pak Baek : Kenapa kau membunuhnya? Kau membalas dendam atas perbuatanku kepadamu? Pada hari ulang tahunnya yang ke-20?

Sung Joon : Jika membunuh Baek Ji Eun adalah cara untuk membalas Pak Baek, bagaimana dengan Yeom Hye Jin?

Pak Baek : Kau membunuh putriku, putri Pak Kepala Yeom, serta Jung Man Chun dan keluarganya. Pembunuh berantai Jung Yoon Jae.

Sung Joon : Dia bilang nama pembunuhnya Yoon Jae. Seseorang membunuh orang dengan namaku?


Pak Baek dan Pak Goo ke Pusat Komunitas Anak Mooyoung! Omo... Dia melihat mobil kantor yang dipakai Eun Ki malam itu.

Di dalam, Sung Joon masih berusaha memikirkan apa yang terjadi di masa lalunya.

Pak Baek dan Pak Goo berkeliling. Mereka melihat gudang itu.

Sementara itu, Sung Joon mendekat ke arah pintu. Tapi kemudian dia sadar ada seseorang dibalik pintu.

Pak Baek membuka pintu. Tapi Sung Joon tidak ada.

Ternyata, Sung Joon bersembunyi di lantai atas. Dia mengintip Pak Baek.

Pak Goo memeriksa ruangan lain yang ada di gudang itu.


Tepat saat itu, Eun Ki datang. Dia langsung mengambil sekop melihat orang asing di gudangnya.

Eun Ki : Siapa kau? Kenapa kau menyelinap kesini?

Pak Baek ingat Eun Ki gadis yang ada di mobil malam itu di dekat telepon umum.

Pak Baek : Kau bekerja di sini?

Eun Ki : Aku bertanya lebih dulu!

Pak Baek : Aku mencari seseorang. Boleh aku melihat ke dalam gudang?

Eun Ki menghalangi, kenapa kau mencari seseorang di sini? Ini tempat kami menyimpan barang donasi.


Pak Baek mengeluarkan pisaunya.

Pak Baek : Aku harus melihatnya sendiri untuk memastikan itu benar atau tidak, Nona.

Eun Ki : Jangan bergerak!

Eun Ki menghubungi polisi, polisi? Aku menelepon dari Pusat Komunitas Anak Mooyoung. Ada pencuri di sini. Salah satunya memegang pisau. Cepat datang ke sini.

Pak Baek menyimpan pisaunya dan bertanya apa Eun Ki mengenal Sung Joon.

Eun Ki : Detektif Ryu Sung Joon? Siapa itu?

Mendengar itu, Pak Baek mengajak Pak Goo pergi.


Begitu mereka pergi, Eun Ki mengunci pintu gudang dan naik ke lantai atas.

Eun Ki : Pria yang tadi di sini adalah orang yang kulihat di depan telepon umum tempo hari. Kenapa dia mencarimu?

Sung Joon : Pria itu adalah ayah Baek Ji Eun. Maaf aku melibatkanmu dalam masalah. Aku akan pergi. Jika aku tetap di sini, keselamatanmu juga akan terancam.


Eun Ki menahan Sung Joon, kau akan pergi, lalu apa? Kau punya rencana?

Sung Joon : Aku tidak pernah punya rencana.

Eun Ki : Kau butuh bantuan sekarang. Kau bilang seseorang menjebakmu. Kau harus menangkap pembunuhnya untuk membersihkan namamu. Untuk itu, kau butuh mobil, uang, dan informasi. Maaf, tapi aku tidak bisa membantumu. Namun, aku tidak bisa membiarkanmu pergi sendirian dalam kondisi ini.

Sung Joon melihat tangan Eun Ki yang memegangnya.

Eun Ki pun langsung melepas pegangannya.

Eun Ki : Selain Detektif Kim Seok Gu, apa ada yang bisa membantumu?

Sung Joon : Tidak ada.

Eun Ki : Hidup apa yang kau jalani sampai tidak ada seorang pun yang bisa membantumu?

Sung Joon : Dahulu di sekolah, aku sibuk menghajar mereka yang membuatku kesal hingga aku tidak punya waktu untuk berteman. Aku juga sibuk menangkap penjahat sejak menjadi polisi, jadi, kini musuhku lebih banyak dan aku tidak punya teman.

Eun Ki : Bagaimana dengan keluargamu? Kenapa kau tidak memberi tahu keluargamu? Karena kau tidak mau mereka khawatir? Tapi mereka keluargamu. Jika bukan mereka, siapa yang...

Sung Joon : Aku diadopsi.

Sung Joon pun duduk dan menceritakan kisahnya.

Sung Joon : Sejak kecil, aku selalu gagal memenuhi ekspektasi orang tuaku. Tapi mungkin itu wajar. Aku bahkan tidak tahu siapa yang melahirkanku atau dari mana asalku. Satu-satunya keahlianku adalah memukuli orang. Sudah lama sekali sejak orang tuaku mulai menyesali keputusan untuk mengadopsiku.

Eun Ki : Bagaimana kau tahu mereka menyesal?

Sung Joon : Saat masih kecil, aku kebetulan mendengar mereka membicarakan soal itu.

Eun Ki : Itu pasti membuatmu sangat sedih. Tapi jika orang tuamu benar-benar menyesalinya, mereka pasti mengajukan pembatalan adopsi.

Sung Joon : Mereka terlalu memedulikan penilaian orang lain.

Eun Ki : Benar. Itu penting bagi orang dewasa.


Sung Joon menatap Eun Ki.

Sung Joon : Aku jarang membicarakan hal ini dengan siapa pun. Kau yang pertama. Kupikir kau tidak akan menyerah, kecuali aku memberitahumu rahasiaku.

Eun Ki : Terima kasih mengizinkanku menjadi orang pertama yang tahu rahasiamu, tapi aku tetap tidak akan menyerah. Bagaimana dengan kakakmu?

Sung Joon : Kakakku?

Eun Ki : Maksudku, dia hakim. Dia tidak akan membantumu?

Sung Joon : Kakakku mengutamakan hukum dan prinsipnya di atas segalanya. Jika tahu lokasiku saat ini, dia akan menjadi orang pertama yang melaporkanku ke polisi. Aku tidak mau melibatkan siapa pun dan menyulitkan mereka.

Eun Ki : Aku paham kau tidak mau melibatkan dia, tapi... apa kau takut? Bahwa dia akan menolak permintaan bantuanmu?

Sung Joon : Apa? Yang benar saja. Sejujurnya, kau tidak tahu seperti apa kakakku.

Eu Ki : Kalau begitu, bagaimana jika kita coba? Kau bilang tidak takut.


Besoknya, Eun Ki membawa anak2 TK ke pengadilan Mooyoung. Dia mencari Sung Hoon.

Sebelumnya, Sung Joon bilang kalau kakaknya seperti arloji canggih yang tidak pernah rusak.

Sung Joon : Setiap hari, dia bangun di waktu yang sama dan berolahraga. Dia selalu tiba di kantor di waktu yang sama. Aku yakin dia makan siang di waktu yang sama setiap hari. Sekitar pukul 12.30 hingga 12.40 siang.

Eun Ki melirik jamnya.

Tak lama keluar, Sung Hoon keluar. Eun Ki mengajak anak2 ke arah Sung Hoon.

Eun Ki menabrak Sung Hoon dengan sengaja. Dia menjatuhkan saputangan Sung Hoon, yang sebelumnya dipinjamkan Sung Hoon padanya. Eun Ki mengambilnya dan mengembalikannya ke Sung Hoon, lalu pergi membawa anak2. Sung Hoon ingat siapa Eun Ki, dia mau memanggil Eun Ki tapi Eun Ki keburu pergi.

Sung Hoon pun menyimpan saputangannya dan pergi ke toilet.


Dari kejauhan, Detektif Kang dan Detektif Kim mengawasi Sung Hoon.

Detektif Kang menyuruh Detektif Kim menyusul Sung Hoon.


Di toilet, Sung Hoon membuka saputangannya dan menemukan secarik pesan di sana.

Dia membacanya. Itu pesan dari Sung Joon.

Sung Joon : Hyung. Ada banyak yang ingin kukatakan, tapi biar kukatakan ini. Bukan aku pelakunya. Aku tahu prasangkamu tentangku, tapi percayalah padaku sekali ini saja. Aku sungguh butuh bantuanmu sekarang. Temui aku di sana pukul 7 malam hari ini.


Kita diperlihatkan flashback saat Sung Joon menuliskan pesan itu di sebuah buku catatan kecil. Setelah selesai menulis, dia merobek kertasnya dan memberikannya ke Eun Ki.

Sung Joon : Aku mencoba ini atas keinginanmu, tapi jangan terlalu berharap. Aku tahu aku benar soal ini.

Eun Ki : Baiklah. Jika dia tidak membantumu, jangan kecewa.


Sung Hoon dan Detektif Kim menghampiri Detektif Kang. Sung Hoon memberikan pesan itu pada Detektif Kang.

Sung Hoon : Adikku menghubungiku.

Detektif Kang langsung menghubungi Kepala Yeom.


Kepala Yeom menghubungi Pak Baek.

Kepala Yeom : Jangan membuat kesalahan kali ini. Mengerti?

Pak Baek lalu melihat istrinya yang masih sibuk dengan kue ulang tahun. Dia menyingkirkan kue ulang tahun itu dan menggantinya dengan yang baru.


Malamnya, para polisi mulai mengintai di sekitar Sung Hoon berdiri.

Rekan2 Sung Joon menunggu di dalam mobil di pinggir jalan.

Detektif Oh : Astaga. Mereka mengirim banyak polisi.

Detektif Na : Ini hanya tebakanku, tapi kurasa dia dan Sung Joon bukan saudara kandung.

Detektif Oh : Tidak semua saudara kandung akur. Beberapa orang merasa lebih nyaman dengan orang asing.

Detektif Kim : Kapten, menurutmu Sung Joon benar-benar mengirim catatan itu?

Detektif Kang sewot mendengar Detektif Kim masih memanggil Sung Joon sunbae.

Detektif Kang : Sunbae? Haruskah kau memanggil tersangka dengan akrab? Detektif Kim, kendalikan dirimu. Jika kau sengaja meloloskan Ryu Sung Joon,  aku akan membuatmu dipecat. Kau mengerti?

Detektif Oh : Baiklah. Karena kita sudah terlibat kekacauan ini, mari tangkap dia dengan tangan kita sendiri. Dia mungkin tersangka pembunuhan, tapi dia seperti keluarga kita. Aku tidak bisa membiarkan orang lain memborgolnya. Kalian mengerti?

Pak Baek dan anak buahnya juga menunggu dari kejauhan.


Tak lama, Sung Joon muncul. Dia lega melihat kakaknya datang.

Tapi Detektif Oh menjatuhkan ponselnya ke jalan dengan sengaja.

Sung Joon mendengar itu dan melihat para polisi berlari ke arahnya.


Sontak lah, Sung Joon langsung menatap kakaknya dengan tatapan kecewa.

Sung Joon pun langsung kabur.

Rekan2 Sung Joon menyebar.


Detektif Kim dan Detektif Na menemukan Sung Joon.

Sung Joon memegang bahu Detektif Kim dan lari. Mereka berdua membiarkan Sung Joon lari.


Tapi dia malah bertemu dengan Detektif Kang setelah itu.

Detektif Kang menodongkan pistol padanya.

Detektif Kang : Ryu Sung Joon. Kau berhak untuk tetap diam.

Tapi tiba2, ada yang menyiram Detektif Kang dengan air.

Kesempatan itu digunakan Sung Joon untuk kabur.


Lepas dari Detektif Kang, dia malah ketemu Pak Baek cs.

Sung Joon kabur lagi.

Dia berhenti sejenak karena perutnya terasa sakit.


Detektif Kang kesal karena kehilangan Sung Joon lagi.

*Kesel bgt liat Detektif Kang ini...


Sung Joon berhasil kembali ke gudang.

Dia kecewa.

Tak lama, Eun Ki datang.

Sung Joon : Sudah kubilang, kakakku tidak akan pernah membantuku.

Eun Ki : Aku yakin kau salah.

Eun Ki menolek ke belakangnya. Tak lama, Sung Hoon pun masuk.

Sung Joon menatap Sung Hoon dengan mata berkaca-kaca.

Sung Joon : Hyung.

Bersambung....

Next episode :

Sung Joon berusaha menyelidiki kasus pembunuhan Joker. Dia menatap salinan pesan teks yang dikirimkan para juri sebagai balasan atas pesan teks yang dikirimkan kakaknya.

Sung Joon : Laporan mengenai pesan teks dan lokasi para juri saat itu. Pada waktu kematiannya, hanya Choi Soon Gil yang ada di taman.

Joker membakar sebuah flashdisk. Sepertinya, itu flashdisk berisi rekaman pembicaraan Pak Jung dan dia.

Yu Na dalam bahaya! Soon Gil menangkapnya.

Cuma Detektif Kang yang menggebu2 banget pengen nangkep Sung Joon. Sementara rekan2nya yang lain ragu klo Sung Joon pembunuhnya.

Detektif Kang ini sepertinya jealous ke Sung Joon... Kayak Jaksa Kang di Defendant.. Dia tahu Jaksa Park gak bersalah tapi tetap menjarain Jaksa Park karena jealous Ji Soo yang dia sukai memilik Jaksa Park...

Btw, Sung Joon bilang Won Woong masih hidup pas dia ninggalin motel..

Dia ninggalin motel kan setelah digerebek Detektif Kang... Mungkinkah Detektif Kang membunuh Won Woong?

0 Comments:

Post a Comment