Friday, October 21, 2016

Fantastic Ep 14 Part 1

Sebelumnya...


Terakhir, giliran Joon Gi yang menyanyikan sebuah lagu. Joon Gi menyanyikan lagu itu sambil mengenang pertemuan pertamanya dengan So Hye, wanita yang amat dicintainya. Wanita yang mencuri hatinya sejak mereka pertama bertemu.

So Hye tampak tersenyum menikmati nyanyian Joon Gi.


Joon Gi tersenyum melihat rekaman So Hye. Lalu tiba2 saja, Joon Gi terjatuh. Sebelum kesadarannya mulai menghilang, Joon Gi sempat melihat rekaman yang memperlihatkan wajah So Hye. Kesadaran Joon Gi akhirnya hilang.

Sementara itu, rekaman terus berputar. Rekaman memperlihatkan Joon Gi yang bernyanyi bersama So Hye dan Hae Sung.


Tak lama kemudian, Jamie datang. Ia menangis dan berusaha membangunkan Joon Gi. Namun, Joon Gi tak kunjung bangun…..




Keesokan harinya, So Hye melakukan jogging seperti yang disarankan oleh Joon Gi. So Hye kemudian berhenti berlari ketika melihat Joon Gi di hadapannya. So Hye memanggil Joon Gi dan mengajak Joon Gi lari bersama. Joon Gi hanya tersenyum, kemudian melambaikan tangannya ke So Hye dan beranjak pergi.

“Dokter Hong, tunggu aku!” teriak So Hye dengan napas terengah2.


Tapi Joon Gi terus berlari. So Hye semakin sesak. Rasa sesak di dadanya, membuat ia kesulitan bernapas. Saat melihat ke depan, Joon Gi sudah menghilang. So Hye panik.

“Dokter Hong!” panggil So Hye.


So Hye pun terbangun dari mimpinya. So Hye bingung dan pucat. 


So Hye kemudian turun dari tempat tidurnya dan berlari keluar kamar. Diluar, ia menemukan Seol dan Mi Sun yang tengah sibuk di dapur. Seol bertanya pada Mi Sun, apa Pil Ho tidak protes karena hampir setiap hari Mi Sun datang ke tempat Hae Sung. Mi Sun tersenyum, lalu berkata kalau Pil Ho malah senang.

So Hye lantas memeluk kedua sahabatnya.

“Apa tidurmu enak?” tanya Seol.

So Hye mengangguk mengiyakan. So Hye kemudian menanyakan Hae Sung. Mi Sun berkata bahwa Hae Sung sudah pergi shooting. Mi Sun lantas heran melihat So Hye yang berkeringat begitu banyak. So Hye mengaku kalau ia baru saja bermimpi buruk. Seol langsung mengusap punggung So Hye.


“Kau lari pagi dengan Dokter Hong?” tanya Seol kaget.

So Hye mengangguk dengan wajah cemas. Mi Sun kemudian berkata, kalau mimpi So Hye artinya So Hye akan mencapai tujuan So Hye. Mi Sun berkata sambil melihat2 arti mimpi di ponselnya. So Hye pun menarik napas lega. So Hye lantas menanyakan Sang Wook. Seol mengaku bahwa ia masih belum yakin. So Hye membujuk Seol untuk menggunakan jasa Sang Wook sebagai pengacara. So Hye berkata, sangat sulit menemukan pengacara yang kompeten karena posisi Jin Tae yang sebagai wakil presiden dewan pengacara. Mi Sun setuju dengan perkataan So Hye.


Seol cemas. Ia takut orang2 akan berpikir kalau ia dan Sang Wook memiliki hubungan special. Seol berkata bahwa Sang Wook memiliki masa depan yang cerah, jadi ia tak mau menghancurkan karir Sang Wook. Ditambah lagi, ia harus menceritakan masa lalunya pada Sang Wook untuk menyiapkan gugatan.

“Itulah kenapa kau harus membiarkan dia melakukannya. Kau akan melihat bagaimana dia mampu melakukannya.” Jawab So Hye.

“Jangan berpikir berlebihan dan lakukan saja.” Ucap Mi Sun.

Mi Sun lantas pamit untuk mengambil selada….


“Lakukan apa yang dikatakan Mi Sun. Kalau kau bekerja dengannya, setidaknya kau bisa melihat wajah tampannya setiap hari.” Goda So Hye, membuat Seol tersipu malu.

“Bukankah kau ada janji makan siang dengan seseorang?” tanya Seol.

“Aku ada janji dengan Dokter Hong.” Jawab So Hye.


So Hye kemudian mengecek ponselnya dan heran karena Joon Gi tidak membalas pesannya. Tak lama kemudian, balasan sms dari Joon Gi pun datang. Joon Gi meminta maaf karena telat membalas pesan So Hye. So Hye lantas menelpon Joon Gi, tapi ponsel Joon Gi tidak aktif. So Hye pun akhirnya mengirimi pesan pada Joon Gi.

Kau bilang kau menyukai kue buatanku. Kau bilang kau akan membelikanku makan siang [So Hye]


“Kenapa?” tanya Seol.

“Dia bilang dia akan membelikan makan siang untukku. Aku pikir dia lupa.” Jawab So Hye kecewa.

“Mungkin dia sibuk.” Jawab Seol.


Joon Gi sendiri terbaring koma di rumah sakit. Hae Sung lah yang membalas pesan So Hye tadi. Usai membalas pesan So Hye, Hae Sung menghela napas dan menatap ke arah Joon Gi.

“Kau membuatku gila. Apa yang harus kukatakan padanya? Kau bilang kau akan memberitahunya sendiri. Kenapa begitu tiba2? Tolong bangunlah, jangan seperti ini!” teriak Hae Sung.


Tak lama kemudian, Jamie masuk dan berkata kalau Joon Gi tidak akan pernah bangun. Jamie mengaku bahwa mereka memberikan Joon Gi morfin dengan dosis maksimum dan hal itu akan menjadi pengobatan terakhir bagi Joon Gi. Hae Sung terkejut.

“Katakan pada So Hye. Dia harus mengucapkan selamat tinggal.” Ucap Jamie tegar.


Jamie lantas beranjak pergi. Setelah Jamie pergi, satu pesan masuk ke ponsel Joon Gi. Pesan dari So Hye. Dalam pesannya, So Hye bertanya apa mereka harus membatalkan janji makan siang mereka hari ini. Hae Sung hanya bisa terdiam membaca pesan So Hye.


So Hye duduk di meja yang sudah di depan Joon Gi. Tapi yang datang malah Hae Sung, bukanlah Joon Gi. So Hye pun heran dan bertanya bagaimana Hae Sung bisa tahu mereka janjian di sana. Hae Sung mengaku bahwa ia tahu semuanya.

“Dimana Dokter Hong? Apa kau datang bersamanya?” tanya So Hye.

“Kurasa dia akan datang terlambat.” Jawab Hae Sung.

Hae Sung lantas duduk di depan So Hye.

“Bukankah restoran ini memiliki pemandangan yang bagus?” tanya So Hye.

Wajah Hae Sung langsung tegang seketika.

“Kenapa Dokter Hong datang terlambat?” tanya So Hye, kemudian meminum tehnya.


Hae Sung menyeruput tehnya, sebelum memberitahu So Hye apa yang terjadi pada Joon Gi. So Hye tidak percaya saat Hae Sung berkata Joon Gi belum sadarkan diri hingga sekarang. Ia pikir Hae Sung bercanda, tapi tak lama kemudian ia menyadari sesuatu.

“Jadi pesan itu….” gumam So Hye.


“Aku yang mengirimnya. Aku tidak bisa memberitahumu lewat telepon. Sel kankernya sudah menyebar sampai ke otaknya. Pengobatannya sudah dihentikan. Mereka memberikannya morfin.” Jawab Hae Sung.

So Hye syok. Saking syok nya, ia sampai sesak napas.

“Jadi dia tidak memiliki kesempatan?” tanya So Hye.

“Aku rasa dia mau bertemu denganmu hari ini untuk menceritakan soal ini padamu.” Jawab Hae Sung.


So Hye pun langsung bangkit dari duduknya. Hae Sung mengajak So Hye ke rumah sakit untuk mengucapkan selamat tinggal pada Joon Gi. Tapi So Hye tidak mau ke rumah sakit. So Hye berkata, ia akan pergi meeting dengan Sang Hwa di studio. So Hye mengaku akan menjenguk Joon Gi nanti.


“So Hye, jangan seperti ini. Temui dia walau hanya sebentar.” Bujuk Hae Sung.

“Aku akan menemuinya nanti.” Jawab So Hye.

“Nanti kapan?” tanya Hae Sung.

“Saat dia menjadi sedikit lebih baik.” Jawab So Hye.

“Kita tidak punya banyak waktu.” Ucap Hae Sung.

“Aku sibuk. Aku pergi dulu.” Jawab So Hye, lalu beranjak pergi dengan terburu2.


Seol menemui Sang Wook di sebuah kafe dengan membawa berkas. Saat bertemu Sang Wook, hal pertama yang ditanya Seol adalah apa tidak masalah jika karir Sang Wook hancur karena dirinya.

“Aku sadar hal itu bisa saja terjadi. Meskipun aku tidak punya pengalaman yang cukup, tapi aku mengetahui teorinya lebih baik dari pengacara lain yang ada di Korea.” Jawab Sang Wook.


“Soal bayaran, karena kau tidak membicarakannya jadi biar aku yang mengatakannya. Kalau kita menang…”

“Soal bayaran kita bicarakan nanti setelah semuanya selesai.”  Jawab Sang Wook.

Seol mengangguk…

“Aku juga menuliskan komentarku. Tidak begitu bagus, tapi aku rasa kau harus tahu semuanya.” Ucap Seol.

“Kerja bagus. Kau harus menceritakan semuanya padaku. Jangan sembunyikan apapun dariku.” Pinta Sang Wook.

Seol mengangguk…


“Akan lebih menyenangkan jika semua bisa selesai tanpa harus pergi ke pengadilan. Tapi jika kesepakatan tidak bisa dicapai, aku akan mulai mempersiapkan semuanya. Ini akan menjadi pertarungan yang panjang dan sengit, tapi karena ini kasus pertamaku, aku akan melakukannya dengan baik. Kau harus percaya padaku.”

“Aku percaya padamu.”


Seol kemudian berkata, bahwa ia harus menyimpan salinan laporan medis dan bukti lainnya. Seol lantas menyesali dirinya yang begitu bodoh karena tidak bisa menyiapkan semuanya. Sang Wook hanya tersenyum mendengarnya. Sang Wook lantas memanggil Seol. Seol terkejut karena Sang Wook memanggilnya dengan nama aslinya, bukan lagi dengan Noona.

“Mulai sekarang, aku akan memanggilmu Baek Seol. Aku cemas bahwa aku akan memanggilmu Noona di pengadilan.” Jawab Sang Wook.

Seol pun tertegun…..

“Kalau kita tidak bisa mendapatkan bukti, kita akan membuat rencana lain dan mencari saksi. Aku akan membaca pernyataanmu terlebih dulu.”


Sang Wook lantas membuka amplop yang dibawa Seol tadi. Seol yang merasa malu menyuruh Sang Wook membacanya nanti. Sang Wook pun menenangkan Seol. Ia berkata, Seol hanya salah memilih jalan dan sekarang Seol akan berjalan keluar dari jalan yang salah itu. Seol pun langsung tersenyum.

“Ini adalah kasus yang serupa dengan kasusmu. Baca ini dan pikirkan apa yang akan kita katakan nanti. Dan juga pikirkan tentang apa yang harus kita lakukan tentang harta gono gini. Itu akan sedikit membantumu. Saat kau membaca itu, aku akan membaca pernyataanmu.” Ucap Sang Wook, kemudian memberikan berkas kasus yang serupa dengan kasus Seol.

“Gomawo.” Jawab Seol, kemudian mulai membaca berkas kasus yang diberikan Sang Wook.


Sang Wook memandangi Seol, tapi saat Seol memandanginya ia buru2 mengalihkan pandangannya pada pernyataan Seol. Sang Wook menahan tawanya membaca berkas Seol. Seol memandang Sang Wook dan tersipu malu. Tak lama kemudian, seorang pelayan datang menyodorkan daftar menu.

“Aku mau cappuccino.” Ucap Seol.


“Kau menyukai cappuccino? Aku juga. Tidak heran karena kita memiliki type golongan darah yang cocok.” Jawab Sang Wook.

Seol tertawa geli…. Tiba2, Sang Wook berhenti tertawa dan berkata kalau seorang pengacara bisa kehilangan kepercayaan kliennya jika terlalu banyak berbicara dengan kliennya. Seol lagi2 tersenyum geli. Sang Wook kembali serius menatap berkas Seol, tapi tak lama ia tersipu malu lagi.


“Ngomong2, bagaimana bisa kau menikah dengan Choi Jin Tae?” tanya Sang Wook.

“Ayahnya dan ayahku adalah teman semasa kuliah. Ayahku menyuntikkan dana politik untuk mereka dan keluarga kami menjadi dekat. Orang tua kami mulai membicarakan pernikahan kami, lalu kami menikah….”


“Lalu bagaimana dengan jejakmu?” tanya Sang Wook, membuat Seol bingung.

Sang Wook pun tertawa, membuat Seol ikut tertawa.

“Aku ingin membuatmu tersenyum dan merasa nyaman saat kita bicara.” Ucap Sang Wook.

“Baiklah Pengacara Kim. Aku akan berbicara dengan nyaman padamu.” Jawab Seol.


Tanpa mereka sadari, Jin Tae mengawasi mereka dari dalam mobil. Jin Tae menyuruh Seketaris Yang memotret mereka….

“Kau tidak tahu betapa besar cinta dan rasa peduliku terhadapmu? Bagaimana bisa kau menghancurkanku? Lihat saja, setelah aku bisa mengajukan gugatan kembali, kalian berdua akan mati.” Ucap Jin Tae penuh dendam.

Tak lama kemudian, ponsel Jin Tae berbunyi.


Jin Tae buru2 masuk ke ruangannya. Sampai di sana, ia langsung ditampar keras oleh Mi Do….

“Kau tahu betapa sulitnya mendapat undangan makan siang!” bentak Mi Do.

“Aku merasa terganggu. Sesuatu yang penting tiba2 terjadi. Aku minta maaf.” Jawab Jin Tae sambil memegangi pipinya.

Jin Tae tampak ingin menangis. LOL LOL


“Aku pikir aku terlalu berlebihan memujamu.” Ucap Mi Do.

Mi Do lalu mencium bau alcohol dari mulut Jin Tae dan tambah marah.

“Keluargaku kacau sekarang.” ucap Jin Tae.

“Kau bahkan tidak bisa mengontrol istrimu. Bagaimana bisa kau masuk dunia politik? Berhati2lah Choi Jin Tae. Kau berdiri di atas es. Jika es itu hancur, kau akan jatuh. Dan aku? Aku tidak bisa membantumu.”

“Mi Do-ya.”

“Bagaimana bisa kau menyebut namaku? Cepat selesaikan masalah keluargamu, jika tidak akan kuhancurkan es itu.” ancam Mi Do.

Mi Do lantas beranjak pergi. Jin Tae semakin panik.

Bersambung ke part 2

No comments:

Post a Comment