Wednesday, March 29, 2017

Defendant Ep 9 Part 1

Sebelumnya...


(HARI INSIDEN PEMBUNUHAN DI WOLHA-DONG, PUKUL 01:20 DINI HARI)

Joon Hyuk baru saja keluar dari apartemen Jung Woo langsung menuju mobilnya. Saat Joon Hyuk berjalan menuju mobilnya, lampu di apartemen Jung Woo tiba2 menyala. Kita lalu melihat Sung Gyu yang membawa Ha Yeon ke apartemennya. Ji Soo yang baru saja selesai mandi, mengira Ha Yeon tidur bersama Jung Woo saat mendapati kamar Ha Yeon yang kosong.  Saat hendak masuk ke kamarnya, Ji Soo merasa aneh melihat tirai jendelanya yang terbuka, padahal ia yakin sudah menutup tirainya tadi. Tak lama, Ji Soo menyadari seseorang tengah berdiri belakangnya.

"Si... siapa kau? Ju.. Jung Woo-ssi." panggil Ji Soo. Namun tiba2 Seok keluar dari kamarnya dan langsung memegangi Ji Soo. Seok melapor pada Min Ho kalau untuk sementara Jung Woo tidak akan bangun. Entah apa yang sudah ia berikan pada Jung Woo, sehingga Jung Woo tidak bangun2.

"Siapa kalian sebenarnya?" tanya Ji Soo takut.

"Wah, aku merasa kecewa. Bagaimana kau tidak bisa mengenali pria yang ingin sekali ditangkap oleh suamimu?" jawab Min Ho.

"Jadi kau...?"

"Benar sekali. Seon Ho lah yang mati, bukan aku. Sayangnya hanya Jaksa Park yang tidak percaya itu." jawab Min Ho.

Ji Soo lalu menyadari bahwa Ha Yeon sebenarnya menghilang.

"Di mana Ha Yeon? Di mana Ha Yeon kami?" tanyanya.

"Ha Yeon... dia baik-baik saja.. Tak ada yang perlu dicemaskan." jawab Min Ho.

"Jangan bunuh dia. Kumohon jangan bunuh dia." pinta Ji Soo.

"Sebenarnya, aku sudah menjadwalkan konfrensi pers untuk besok pagi. Sayang sekali harus dibatalkan." jawab Min Ho.

"Aku pastikan aku akan membujuk suamiku. Jangan bunuh suamiku." pinta Ji Soo.

"Jaksa Park tidak akan mati." ucap Min Ho.

Ji Soo bingung,  Apa?

"Itu karena dialah yang akan jadi tersangka karena membunuhmu." jawab Min Ho.

Ji Soo terbelalak, Yeobo! Yeobo!

Dan Seok pun langsung membekap mulut Ji Soo. Min Ho kemudian mengambil pisau dapur. Saat hendak menusukkan pisau itu ke perut Ji Soo, Min Ho baru ingat kalau Jung Woo kidal. Min Ho pun menikam Ji Soo dengan tangan kirinya. Ia menikam Ji Soo sebanyak dua kali. Ji Soo langsung rubuh. Seok terpaku melihatnya. Usai menusuk Ji Soo, Min Ho mengajak Seok pergi. Sebelum pergi, Seok menjatuhkan semua barang agar terlihat seolah2 mereka Jung Woo dan Ji Soo sempat bertengkar sebelum akhirnya Jung Woo menusuk Ji Soo.


Di saat Min Ho dan Seok sibuk menjatuhkan barang2 di rumah Jung Woo, Ji Soo yang sekarat menyalakan handycam nya yang terjatuh tepat di depannya untuk merekam semua kejadian itu.

Kemudian, terdengar suara Min Ho yang membangunkan Jung Woo. Jung Woo terbangun dan langsung memanggil Ji Soo. Tapi karena Ji Soo tak menyahut, Jung Woo pun turun dari tempat tidurnya dan beranjak ke pintu. Betapa terkejutnya ia melihat Ji Soo yang sudah tergeletak bersimbah darah. Jung Woo pun langsung memangku Ji Soo sambil memanggil2 nama Ji Soo.
"Jung Woo-ya." ucap Ji Soo dengan napas tersendat.

"Tunggu, kita harus menelpon 911." jawab Jung Woo.

"Yeobo, Ha Yeon... hilang." ucap Ji Soo.

Jung Woo terkejut dan langsung menatap kamar Ha Yeon yang kosong. Jung Woo lalu berteriak memanggil Ha Yeon. Tepat saat itu, Ji Soo menghembuskan napas terakhirnya. Tangis Jung Woo pecah. Ia pun berusaha membangunkan Ji Soo. Tak lama, terdengar suara Min Ho yang memanggil Jung Woo. Min Ho lalu mendekati Jung Woo dengan tangan masih memegang pisau.

"Cha Min Ho. Apa yang kau lakukan?" tanya Jung Woo pelan.

"Kaulah yang membunuhnya. Semua ini karena kau. Karena kau mencurigaiku." jawab Min Ho.

Jung Woo geram, Cha Min Ho...

"Kenapa juga kau harus mengekoriku ke mana-mana? Kenapa kau menggangguku? Kenapa? Cha Min Ho sudah mati. Dia sudah mati. Sudah kubilang dia sudah mati. Kenapa kau tidak mempercayaiku? Sejauh apa kau akan menyelidikinya?" ucap Min Ho.

"Harusnya kau bunuh saja aku." jawab Jung Woo.

"Oh, benar juga. Kalau kau kubunuh kakakku juga tidak perlu mati." ucap Min Ho.

"Cha Min Ho!" teriak Jung Woo.

"Cha Min Ho sudah mati. Kau bikin aku jadi gila. Dan akhirnya kaulah yang membunuh istrimu." jawab Min Ho.

Tangis Jung Woo pun kembali pecah saat menatap jasad Ji Soo. Jung Woo kemudian membaringkan tubuh Ji Soo kembali di lantai dan mau membunuh Min Ho dengan pisau itu tapi Min Ho langsung menanyakan dimana Ha Yeon membuat langkah Jung Woo terhenti. Min Ho mengancam, kalau Jung Woo membunuhnya, maka Ha Yeon akan mati. Dan jika Jung Woo mau Ha Yeon tetap hidup, maka Jung Woo harus ditangkap sebagai pelaku pembunuhan Ji Soo. Min Ho juga berkata, kalau tadi ia menusuk Ji Soo dengan tangan kiri.

"Brengsek kau!" maki Jung Woo tanpa bisa melakukan apapun.

Bersamaan dengan ingatan Jung Woo yang sudah kembali, Min Ho diantarkan masuk ke sel Jung Woo. Min Ho menatap Jung Woo sambil tersenyum mengejek. Sementara Jung Woo menatap Min Ho dengan tatapan penuh emosi. Tiba2 saja, Jung Woo merasa mual. Jung Woo pun langsung berlari ke kamar mandi.

“Cha Min Ho, ternyata kau. Kaulah orangnya, Cha Min Ho.” Ucapnya dendam.


Jung Woo lalu teringat kalau sebelum kejadian terbunuhnya Ji Soo, ia sedang berusaha menangkap Min Ho. Jung Woo pun emosi, tapi ia berusaha menahan dirinya karena ia tahu Min Ho sudah curiga kalau ingatannya kembali. Jung Woo lantas meletakkan kepalanya dibawah kran air yang menyala. Usai membasahi kepalanya, ia lalu menatap cermin dan memastikan kalau semuanya tidak akan berjalan sesuai dengan yang Min Ho rencanakan.

Jung Woo keluar dari kamar mandi dan Milyang langsung mendekatinya dengan cemas. Jung Woo mengaku kalau ia muntah karena makan malam yang ia santap semalam. Mendengar itu, Wooruk langsung berkata kalau tadi malam Jung Woo tidak makan. Tak mau membuat Min Ho curiga, Jung Woo pun bertanya pada Milyang apa yang ia makan hari ini.

“Kau makan ayam bakar dengan terburu-buru.” Jawab Milyang.

“Benar. Mungkin itu penyebabnya. Hampir saja aku mati.” Jawab Jung Woo.


Moongchi dan Wooruk mendekati Min Ho. Moongchi ingin tahu apa yang dimakan Min Ho. Wooruk menegur Moongchi. Ia meminta Moongchi tidak mengganggu Min Ho karena itu hari pertama Min Ho ada di sana. Tapi Moongchi gak peduli dan menyuruh Min Ho menjawabnya. Min Ho pun menatap Moongchi sambil tersenyum mengejek.

“Apa kau barusan tersenyum? Kau tersenyum?” tanya Moongchi kesal.

Wooruk pun ingin memukul Min Ho dengan kursi plastic, tapi gak jadi karena Min Ho menatapnya dengan tajam. Wooruk pun yakin kalau Min Ho punya bekingan yang kuat. Bangjang lalu bertanya pada Milyang, haruskah mereka memulai ritualnya untuk menyambut tahanan baru. Milyang melarang karena hari sudah malam. Moongchi lalu mengajak mereka semua tidur. Dan Min Ho, masih menatap Jung Woo dengan rasa penasaran.

Jung Woo tidur disamping Min Ho. Tak lama, Jung Woo bangun dan mencekik Min Ho. Tepat saat itu, Min Ho terbangun. Ternyata itu hanya mimpi Min Ho saja. Pada kenyataannya, Jung Woo tertidur lelap di sampingnya.

“Ada apa denganmu? Ini sama sekali tidak lucu. Aku sudah jauh-jauh datang ke sini. Kau benar tidak ingat aku?” batinnya sambil menatap Jung Woo heran.

Bangjang kemudian menegur Min Ho yang masih belum tidur juga. Karena ditegur Bangjang, terpaksa lah Min Ho kembali tidur. Setelah Min Ho memejamkan matanya, Jung Woo terbangun dan mengingat kembali tentang apa yang ia lakukan pada pisau yang Min Ho pakai untuk membunuh Ji Soo. Pisau yang digunakan Min Ho untuk membunuh Ji Soo, ternyata disembunyikan Jung Woo didalam sebuah plastic. Sedangan pisau yang diletakkan Jung Woo di lantai sebagai senjata pembunuhan ternyata pisau lain yang diambil Jung Woo.


“Darahmu ada di pisau itu yang kau gunakan untuk membunuh Ji Soo. Aku menyembunyikannya. Tunggu saja, Cha Min Ho.” Batin Jung Woo sambil menatap Min Ho penuh kebencian.


Keesokan harinya, saat sipir melakukan pengabsenan tahanan, Moongchi memberitahu Min Ho untuk mengatakan ‘enam selesai’ dengan keras dan penuh semangat. Tapi Min Ho lagi2 diam saja, membuat Moongchi kesal. Moongchi pun mengadu pada Bangjang. Bangjang hanya berkata, kalau mulut Min Ho dipenuhi lem. Saat pengabsenan, Min Ho pun berkata sesuai yang dibilangin Moongchi membuat semuanya terkejut.

“Astaga, dia bisa bicara.” ucap Wooruk.

Karena Min Ho anak baru, Wooruk pun mengajari Min Ho apa yang harus dilakukan setelah menerima air dari petugas. Wooruk bilang, Min Ho harus meletakkan air minum itu di sela2 seliimut kalau tidak mau airnya menjadi dingin. Dengan air itu, mereka bisa membuat kopi dan memasak mie. Tapi Min Ho cuek saja, membuat Wooruk kesal.

“Hei, kau! Lihat dan pelajarilah. Sebaiknya kau mempelajari semua ini. Sekarang ini adalah tugasmu. Aku tidak akan mengulanginya lagi.” Ucap Wooruk .

Bangjang pun menegur Wooruk . Ia meminta Wooruk tidak terlalu keras pada Min Ho. Bangjang pun mengingatkan Wooruk kalau dulu Wooruk membuat Sung Gyu menangis di hari pertama Sung Gyu menjadi tahanan.

“Kenapa kau bawa2 Sung Gyu?” tanya Jung Woo sambil menatap tajam Min Ho.

Min Ho pun langsung menatap ke arah Jung Woo. Tak mau Min Ho curiga, Jung Woo pun langsung tersenyum dan mengaku kalau ia sangat lapar. Milyang pun berkata, kalau sarapan akan datang beberapa menit lagi. Wooruk menyuruh Jung Woo makan yang banyak saat sarapan tiba.

Wooruk dan Moongchi kesal karena Min Ho menghabiskan jatah air panas mereka. Dengan entengnya, Min Ho berkata kalau ia tidak tahu. Bangjang yang mendengar itu pun setuju kalau Moongchi dan Wooruk  memberi Min Ho pelajaran. Wooruk pun langsung mencengkram kerah baju Min Ho. Tapi Milyang kemudian memberitahu mereka kalau Min Ho adalah Presdir Grup Chamyung sambil menunjukkan artikel Seon Ho yang dibacanya di koran. Mendengar itu, mereka pun terdiam.

“Kau harusnya memberitahu kami sejak awal.” Ucap Wooruk.

“Bahkan nomor tahanannya pun tak biasa. Ada 3 angka 7 di nomornya. Kulitnya bagus sekali. Dia terlihat berbeda dengan kita. Terutama kau.” jawab Moongchi.

“Mulai sekarang, kau bisa memperlakukan sel ini seperti rumahmu sendiri. Kenapa kau tidak berbaring saja? Mau itu di dalam atau di luar tahanan, orang yang punya uang paling banyak  adalah pemenangnya. Bukankah begitu?” ucap Wooruk.

Bangjang nyeletuk, Siapapun yang punya uang menang? Jadi kau senang sekarang?”

‘Yang kau lakukan hanyalah membeli ayam goreng. Kau harusnya melakukan sesuatu yang lebih dari sekadar membeli ayam goreng.” Jawab Moongchi.


Moongchi lalu bertanya, siapa yang setuju kalau boss di sel mereka diganti. Moongchi dan Wooruk mengangkat tangan. Bangjang pun langsung menimpuk mereka dengan handuk.

“Omong-omong kenapa mereka tidak memasukkanmu ke sel orang-orang kaya?” tanya Milyang sambil membaca artikel Seon Ho.

“Ada seseorang yang harus kutemui.” Jawab Min Ho sambil menatap Jung Woo.

“Tahanan 3866, apa kau tahu caranya berterima kasih pada seseorang? Dia memberikan kita kantong tidur yang baru, pakaian dalam dan juga sepatu.” Ucap Wooruk.

Jung Woo pun langsung berterima kasih pada Min Ho.

“Karena kita punya anggota baru kenapa kita tidak saling memperkenalkan diri?” tanya Bangjang.


Bangjang lalu menyuruh Moongchi membuatkan mereka cokelat panas. Moongchi pun protes karena lagi2 harus membuatkan mereka cokelat panas. Jung Woo memberikan beberapa cangkir pada Moongchi.  Moongchi pun berkata, kalau cokelat panas buatan Sung Gyu sangat lezat.

“Tahanan 3866, bukankah Sung Gyu mengunjungimu? Dia bilang apa?” tanya Bangjang.

Mendengar itu, Min Ho pun langsung menatap Jung Woo dengan rasa penasaran.

“Kata Sung Gyu, operasi adiknya berjalan lancar. Dia sangat senang bisa keluar dan mengurus adiknya. Dia datang untuk mengucapkan terima kasih padaku.” Jawab Jung Woo.

“Kalau kau tidak membantunya sebelum  dia menghadapi persidangan dia tidak akan bisa berada di samping adiknya sekarang.” ucap Bangjang.

“Dia bilang dia akan berkunjung lagi.” Jawab Jung Woo.


“Giliran kau, Moongchi!” suruh Banjang.

“Seperti yang kalian tahu aku dulunya ada di bagian keuangan.” Ucap Moongchi sambil menatap Min Ho.

“Lihat dirimu. Karena kedatangan Tahanan 777 seorang lintah darat berubah jadi ahli keuangan.” Ejek Wooruk.

“Diamlah. Omong-omong, aku divonis setahun yang lalu. Sekarang waktuku tinggal dua minggu lagi.” Jawab Moongchi.

“Meskipun begitu kau tetap saja mendesah terus. Apa kau tidak ingat hari pertamamu masuk ke sini?” tanya Bangjang.


Flashback…

Moongchi masuk ke sel dengan semangat dan langsung memperkenalkan dirinya.

“Halo. Aku tahanan 2114, Cheon Pil Jae. Kalian bisa memanggilku Moongchi. Aku adalah Moongchi. Senang bertemu dengan kalian.”

Flashback end…

“Kau sangat periang. Kau sepertinya bahagia sekali.” Ucap Bangjang.

“Benar. Selama 20 tahun aku ada dalam penjara baru pertama kalinya aku melihat ada tahanan  yang begitu bahagia, Moongchi.” Jawab Milyang.

“Kau seperti seekor anjing yang dilepaskan ke tengah salju.” Ucap Wooruk.

“Jangan bawa-bawa ibuku kali ini. Kau bahkan tidak tahu apa yang kurasakan. Tidak ada kebaikan yang akan kau dapat dari sini.” Semprot Moongchi.

“Ada apa?” tanya Milyang.


Moongchi pun mau bercerita tapi gak jadi. Ingatan Moongchi lalu melayang ke saat ia ditangkap dan dijebloskan ke sel, ia melihat pengumuman pemenang lotre di televisi di kantor polisi. Nomor yang keluar sebagai pemenang adalah nomornya.


Flashback…

Moongchi pun langsung berteriak memanggil ayahnya saat melihat nomornya keluar sebagai pemenang.

“Ayah. Ayah! Maafkan anakmu yang kurang ajar ini.  Aku tidak bisa menghadiri peringatan kematianmu!”

Flashback end…

“Tapi, hakim memberiku vonis setahun. Harusnya dia kurangi 3 hari saja. Aku hanya butuh 3 hari saja.” Rengek Moongchi.

“Dia bicara apa, sih? Kalau masa hukumannya bisa dikurangi 3 hari memangnya kenapa?” tanya Bangjang.

“Bukan apa-apa.” Jawab Moongchi.

“Baiklah. Kau yang selanjutnya, Tahanan 3866.” Suruh Bangjang.

“Kenapa emblem namanya warna merah?” tanya Min Ho.

“Dia mendapat vonis mati.” Bisik Wooruk.

“Aku tidak tahu. Maafkan aku.” ucap Min Ho sambil menatap Jung Woo.

“Tidak masalah.” Jawab Jung Woo sambil tersenyum pada Min Ho.


Berita Min Ho yang di penjara akhirnya sampai ke telinga CEO Cha. CEO Cha marah dan menganggap tim pengacaranya tidak becus melakukan apa2. Seketaris CEO Cha lantas membisiki CEO Cha tentang apa yang terjadi sebenarnya. Setelah mendengar itu, CEO Cha langsung menyuruh seketarisnya memanggil Yeon Hee.


Yeon Hee sendiri sedang melukis untuk melupakan semuanya. Namun suara teriakan Jennifer yang mau dibunuh Min Ho terus terngiang di telinganya. Tak dapat menahan lagi emosinya, Yeon Hee pun merusak lukisan yang sudah ia buat. Tak lama, ponselnya berdering. Telepon dari CEO Cha.

Yeon Hee pun pergi menemui CEO Cha dan baru masuk ruangan, Tuan Cha langsung melemparkan gelas ke dinding yang ada di sebelah Yeon Hee. Pecahan kacanya, nyaris saja melukai Yeon Hee.  CEO Cha menyuruh Yeon Hee menyerahkan diri secepatnya.

“ Seon Ho harus memimpin Chamyung Grup. Dia tidak pantas direndahkan karena kesalahan yang kau buat! Aku sudah mengembalikan keluargamu yang hampir hancur. Ini yang kau lakukan untuk membalasku?” ucap CEO Cha.

“Menyelamatkan keluargaku? Kau kira aku tidak tahu? Kaulah yang membuat keluargaku hancur!” balas Yeon Hee.

“Apa katamu? Apa kau sudah kehilangan akalmu?” ucap CEO Cha.

“Kalau bukan karena kau keluarga kami tidak akan ada dalam masalah. Kalau kau tidak memisahkan kami tidak ada hal buruk yang akan terjadi.” Jawab Yeon Hee.

“Berani sekali kau mengatakan itu?” marah CEO Cha.

“Apa yang harus kukatakan pada polisi? Apa kau mau aku mengatakan pada mereka bahwa anakmu yang membunuh kakaknya sendiri dan juga Jennifer Lee?” tanya Yeon Hee.

“Apa? Apa maksudnya itu?” tanya CEO Cha.

“Apa maksudmu kau tidak tahu itu? Yang kau pedulikan hanyalah Chamyung Grup. Makanya kau berpura-pura tidak tahu kalau Min Ho membunuh kakaknya sendiri. Kaulah yang membuat Min Ho melakukan semua itu!” teriak Yeon Hee.


Dan ternyata… semua itu hanyalah halusinasi Yeon Hee saja. Kenyataannya, Presdir Cha menyuruhnya duduk dengan lembut. Yeon Hee lantas melihat ke bawah, mencari pecahan kaca yang tadi melukanya, tapi tidak ada karena Presdir Cha memang tidak pernah melemparinya gelas.

“Kau pasti kaget. Kau tahu Seon Ho tidak akan melakukan sesuatu yang tak bertanggung jawab seperti itu.” ucap CEO Cha.

“Aku minta maaf.” Jawab Yeon Hee.

“Dia akan segera keluar. Jangan mencemaskan dia.” ucap CEO Cha lembut, lalu memegang bahu Yeon Hee.

“Eun Soo jangan sampai tahu soal ini.” pinta CEO Cha lagi.

Yeon Hee pun mengangguk lembut. Tak lama, Tuan Kim datang memberitahu CEO Cha tentang Nyonya Myung yang menghilang.

Para tahanan sedang berolahraga, namun Min Ho lebih tertarik pada Jung Woo yang duduk di tepi lapangan. Min Ho menghampiri Jung Woo dan berkata kalau cuacanya mendung. Jung Woo pun tersenyum pada Min Ho.

“Kau pasti merasa kesulitan karena ingatanmu yang hilang. Aku juga pernah mengalami hal yang sama. Aku mengerti perasaanmu. Adikku meninggal.” Ucap Min Ho.

Jung Woo hanya berkomentar seadanya.  Min Ho lalu menatap Jung Woo dan bertanya, apakah Jung Woo benar2 kehilangan ingatan.

“Aku tidak yakin.” Jawab Jung Woo.

“Astaga. Mengecewakan sekali. Kukira kita sudah cukup dekat.” Ucap Min Ho.

“Kita?” tanya Jung Woo.

“Omong-omong apa kau sedang berpura-pura tidak mengenalku?” tanya Min Ho.

“Apa aku punya alasan kenapa aku harus melakukan itu? Aku sama sekali tidak ingat apapun.” Jawab Jung Woo.

“Begitu, ya. Bukan apa-apa.” Ucap Min Ho lalu beranjak pergi.


Begitu Min Ho pergi, Cheol Sik langsung menghampiri Jung Woo. Cheol Sik bertanya, apa Jung Woo mau pergi sendirian. Cheol Sik berkata, Jung Woo tak boleh meninggalkannya sendirian di penjara itu. Min Ho yang belum berjalan terlalu jauh, bisa mendengar omongan Cheol Sik. Jung Woo pun langsung menyuruh Cheol Sik diam dan menunjuk Min Ho dengan gerakan wajahnya.

“Apa dia akan dipindahkan?” gumam Min Ho sambil tersenyum menyeringai.

Setelah Min Ho menjauh, Cheol Sik bertanya apakah Min Ho orang yang selama ini ingin ditangkap Jung Woo. Jung Woo pun berkata, kalau ia butuh bantuan Cheol Sik untuk menangkap Min Ho. Tahu Min Ho lah yang membuatnya harus mendekam di penjara, Cheol Sik pun kesal dan ingin menghajar Min Ho. Tapi Jung Woo langsung mencegahnya.


“Belum saatnya.” Ucap Jung Woo.

“Berjanjilah padaku. Kalau kau berhasil melarikan diri dari pernjara kau akan membebaskanku.” Pinta Cheol Sik.

“Baiklah.” Jawab Jung Woo.

Kepala Penjara lalu menghampiri Min Ho. Dan mereka pun pergi bersama. Sementara Kepala Sipir, mengawasi Min Ho dari ruangannya. Kepala Sipir berkata, kalau Min Ho satu sel dengan Jung Woo dan merasa kalau itu sangat menarik.

Kepala Penjara membawa Min Ho ke ruang kunjungan karena Seok ingin menemui Min Ho. Seok memberitahu Min Ho kalau ia sudah menyuruh orang mencari Sung Gyu. Min Ho pun kesal karena keberadaan Sung Gyu masih belum ditemukan.

“Bagaimana soal Park Jung Woo? Apa kau mau aku mencari seseorang untuk mengurusnya?” tanya Seok.

“Dia tidak ingat aku. Tidak akan seru kalau aku langsung membunuhnya sekarang.” jawab Min Ho.

“Tapi tepat setelah insiden itu, saat dia kehilangan ingatannya kau pernah menyelamatkan hidupnya.” Ucap Seok.

“Aku memang menyelamatkan hidupnya. Tapi kali ini akan berbeda. Aku akan membuat ingatannya tentangku kembali.” Jawab Min Ho.


CEO Cha  menemukan istrinya sedang menangis di rumah abu Seon Ho. CEO Cha meminta maaf tidak memberitahu istrinya soal anak2 mereka karena sang istri sedang sakit. Nyonya Myung pun semakin menangis. Ia bertanya pada suaminya, apa yang harus ia lakukan untuk Seon Ho nya yang malang. Nyonya Myung lalu bertanya, apa CEO Cha tahu Seon Ho lah yang meninggal. CEO Cha hanya menjawab kalau semuanya sudah berlalu sekarang.

“Bagaimana bisa kau mengatakan itu? Seon Ho meninggal. Bagaimana bisa kau...” Nyonya Myung memukul2 CEO Cha.

“Min Ho lah yang meninggal. Ingat itu baik-baik.” Jawab CEO Cha sambil memegang erat tangan Nyonya Myung.

“Bagaimana dengan Min Ho?” tanya Nyonya Myung.

“Aku tidak bisa kehilangan dua anak sekaligus.” Jawab CEO Cha.


“Kau sudah membunuh kedua anakku.” Ucap Nyonya Myung.

“Cha Min Ho yang sangat kau sayangi itu. Dialah yang membunuh Seon Ho. Dia memilih untuk hidup sebagai Seon Ho. Apa yang harus kulakukan? Kalau kau tidak mau kehilangan Seon Ho, pastikan kau tutup mulutmu. Jangan mengoceh dan membuat kekacauan.” Jawab CEO Cha.

Nyonya Myung seketika rubuh. Tak lama, Nyonya Myung menanyakan keberadaan Min Ho. CEO Cha tak mampu menjawabnya.


Jung Woo menemui dokternya dan ia berhasil menyusun permainan puzzle yang diberikan dokternya. Dokter pun tahu kalau ingatan Jung Woo sudah kembali seutuhnya. Dokter pun meminta Jung Woo berhati2 karena Jung Woo bisa saja kehilangan ingatan lagi.

“Kalau semua ingatanmu sudah kembali kau akan kehilangan itu lagi. Untuk melindungi dirimu dari ingatan yang menyakitkan itu. Itulah penyebabnya kenapa kau terus-terusan kehilangan ingatanmu selama 5 bulan ini. Sebentar lagi kau akan kehilangan ingatanmu lagi.” Ucap dokter
“Apa ada cara untuk menghentikannya?” tanya Jung Woo.

“Kau bilang kau selalu bermimpi sebelum kau kehilangan ingatanmu.” Tanya dokter.

“Ya. Anak dan istriku mencoba membangunkanku dalam mimpi.” jawab Jung Woo.

“Kau bermimpi ke saat-saat yang paling kau inginkan untuk kembali. Tepat sebelum kau kehilangan ingatanmu. Mungkin ada jawabannya dalam mimpi itu.” ucap dokter.

“Ada jawaban di dalan mimpiku?” tanya Jung Woo.


Di sel, Bangjang cs kembali mengikuti tarian Twice. Sementara Min Ho duduk di pojok sambil membaca buku. Kali ini, mereka menarikan lagu yang berjudul TT. Tapi karena telat menyalakan TV, jadi mereka hanya menari sebentar saja. Setelah Twice selesai bernyanyi, mereka kemudian menerima penghargaan bersama Kim Min Suk (pemeran Sung Gyu).

“Dia kelihatan mirip Sung Gyu, kan?” seru Wooruk.

“Sung Gyu seratus kali jauh lebih tampan darinya.” Jawab Bangjang, lalu menyuruh Wooruk mematikan TVnya.

Bangjang lalu mengajak mereka makan roti. Wooruk pun memberikan roti dan susu pada Min Ho. Min Ho yang sedari tadi mengisi waktu dengan membaca buku, akhirnya menutup bukunya dan memakan roti yang diberikan Bangjang. Tepat saat itu, Jung Woo kembali ke sel dan Bangjang ingin tahu apa yang dikatakan dokter.

“Ya. Dia bilang aku baik-baik saja.” Jawab Jung Woo sambil duduk disamping Min Ho.

“Apa kau bertemu dengannya lagi? Kau tidak cocok begitu.” protes Moongchi yang naksir si dokter.
Min Ho pun menatap Jung Woo dengan rasa penasaran. Bangjang mengoceh karena Min Ho yang masih belum memperkenalkan diri. Bangjang lantas menyuruh Min Ho melakukan sesuatu.

“Aku?” tanya Min Ho.

“Baiklah, kau memberikan ini pada kami jadi kau tidak perlu melakukannya. Tapi segalanya jadi membosankan di sini. “ jawab Wooruk.

Kami tidak perlu dengar soal kejahatan yang kau lakukan. Kalau kau merasa percaya diri,bernyanyilah untuk kami.” suruh Moongchi sambil menirukan gerakan TT.

“Jadi haruskah aku melakukannya?” tanya Min Ho.

“Dia liar juga. Apakah kau mau menyanyi?” tanya Moongchi.

“Aku pernah ikut teater dulu. Aku hanya ingat sedikit dari naskahnya.” Jawab Min Ho.

“Kalau begitu tunjukkan pada kami. Kapan lagi sampah seperti kami bisa menyaksikan teater?” suruh Bangjang.

Tanpa ragu, Min Ho mulai berpose, lalu berkata,  Jangan bunuh dia. Kumohon jangan bunuh dia.”

“Apa judul naskah ini?” Bangjang bertanya2.

“Aku pastikan aku akan membujuk suamiku. Kumohon jangan bunuh suamiku. Kumohon.” Ucap Min Ho.

Jung Woo pun terpengarah. Min Ho lantas membuka kacamatanya dan menatap Jung Woo.
“Suamimu tidak akan mati. Itu karena dialah yang akan menjadi tersangka atas kematianmu.” Ucap Min Ho.

Jung Woo terpancing. Dia langsung mendorong dan mencekik Min Ho.

“Akan kubunuh kau! Aku akan membunuhmu, brengsek! Aku pasti akan membunuhmu!” teriak Jung Woo.

Tahanan yang lain pun langsung menjauhkan Jung Woo dari Min Ho. Sementara Min Ho tersenyum senang mengetahui ingatan Jung Woo ternyata sudah kembali. Jung Woo akhirnya tersadar. Ia pun bingung bagaimana caranya untuk meyakinkan Min Ho kalau ia masih hilang ingatan. Tepat saat itu, Milyang berkata, kalau Min Ho sudah makan roti Jung Woo. Mendapat alasan kenapa ia mengamuk, ia pun meneruskannya. Ia mengamuk pada Min Ho yang sudah memakan rotinya.

“Kau salah memberikan rotinya.” Ucap Moongchi pada Wooruk.

Seperti anak kecil, Jung Woo pun merengek minta rotinya dikembalikan. Milyang pun bergegas memberikan rotinya pada Jung Woo.

“Tahanan 3866 marah karena rotinya. Dia benar-benar sudah beradaptasi dengan baik di sini.” Ucap Bangjang.


“Ini adalah tempat di mana seseorang bisa saling bunuh karena sepotong roti.” Jawab Wooruk pada Min Ho.

“Rotiku! Kenapa kau makan rotiku?” tanya Jung Woo galak pada Min Ho dengan mulut penuh roti.

Melihat itu, Min Ho pun kesal karena Jung Woo mengamuk karena roti, bukan karena sudah ingat padanya.

Bersambung ke part 2....

No comments:

Post a Comment