Tuesday, July 18, 2017

Ruler : Master Of The Mask Ep 35

Sebelumnya...


Episode ini dibuka dgn Dae Mok yang berencana membuat daftar kematian. Siapapun yang menentang Pyunsoo-hwe, akan dilibasnya tanpa ampun. Tetua Pyunsoo-hwe mengancam, jika rencana Dae Mok gagal, maka nama Dae Mok lah yang akan berada di urutan pertama dalam daftar kematian itu. Dae Mok juga meyakinkan mereka kalau Seja asli tidak akan bisa mengambil alih tahta.


Seja akhirnya mengunjungi makam Hwa Gun, ditemani Chung Woon dan Gon. Ingatan Seja seketika melayang pada semua pengorbanan Hwa Gun.

Flashback…


Saat tengah berada di kapal, dalam perjalanan kembali dari Jepang menuju ibukota, Hwa Gun meminta Seja untuk tetap mempercayainya dalam situasi apapun.


Saat Hwa Gun membujuknya untuk bergabung dalam Pyunsoo-hwe, demi menyelamatkan dirinya. Hwa Gun berkata, menjadi Ratu ataupun wanita Seja, bukanlah tujuannya. Yang dia inginkan hanya lah satu, memberikan Pyunsoo-hwe pada Seja.

Flashback end…


Seja menatap lirih makam itu. Ia merasa bersalah karena tidak bisa membalas semua pengorbanan Hwa Gun.


Seja kemudian ingat saat Hwa Gun langsung memeluknya dan bersyukur haru karena dirinya masih hidup. 


Seja juga ingat saat Hwa Gun menyuruh dirinya bergegas pergi dari ladang poppi.


Tangis Seja pun pecah. Ia berharap, Hwa Gun tidak lagi merasakan sakit karena dirinya.


Woo Jae tiba-tiba muncul dibalik pohon, menatap Seja dengan sorot mata dingin. Gon terkejut melihat Woo Jae, namun Woo Jae pergi begitu saja. Gon mengejar Woo Jae dan mengatakan bahwa Seja membutuhkan resep penawarnya. Woo Jae kecewa Gon berpihak pada Seja. Gon pun menjelaskan, kalau semua itu keinginan Hwa Gun. Woo Jae tersenyum pahit. Ia tidak menyangka, Hwa Gun terus membela Seja sampai akhir.


Ga Eun marah pada Sun yang menjadikannya sebagai Ratu. Sun pun dengan santainya mengingatkan apa yang pernah ia ucapkan pada Ga Eun, bahwa dirinya tidak akan pernah menjadikan Ga Eun sebagai selirnya. Sun juga mengaku sudah memulihkan kehormatan ayah Ga Eun.

“Sudah memulihkan kehormatan ayahku, terima kasih. Tapi menjadi Ratu, aku tidak bisa.” jawab Ga Eun.

“Bukan tidak bisa…” ucap Sun. Sun lalu melepas topengnya dan menatap tajam Ga Eun.

“… hanya saja kau tidak ingin menikahiku. Bila Seja asli yang meminta, kau tidak akan keberatan?” ucap Sun.

“Kenapa kau seperti ini? Apa kau sungguh Lee Sun yang aku kenal?” tanya Sun.


“Lee Sun yang aghassi kenal itu, memang seperti apa dia? Layaknya anjing atau babi, seorang anak dari keluarga miskin yang menerima setiap kali harus dipukuli? Bila seorang bangsawan seperti aghassi menyuruh, dia harus menurut sekalipun nyawa taruhannya? Tidak peduli betapapun lapar dirinya, ia hanya bisa memakan yang diberikan majikannya. Dia itu manusia rendahan!!!”

Suara Sun pun mulai meninggi.

“Apa aghassi tahu, betapa berharganya dirimu bagi anak itu?” tanya Sun.

“Kau berdiri di hadapanku sekarang, Raja seperti apakah dirimu? Kau menggenggam tangan musuh dari ayahmu, menyiksa rakyat, menipu serta mengkhianati teman lamamu. Kau palsu!” jawab Ga Eun.


Ga Eun yang kecewa, ingin pergi namun Sun buru2 mencengkram lengannya.

“Lalu? Si asli, apa memangnya yang sudah dia lakukan untukmu? Si asli itu telah membunuh Gyu Ho Eureushin tanpa perasaan. Namun aku!!! Membersihkan nama serta memulihkan kehormatan Gyu Ho Eureushin. Si asli itu!!! Hanya memberikanmu rasa sakit. Kenapa kau tidak bisa melupakannya?”

“Lee Sun-ah…”

“Aku akan memenuhi apapun permintaan aghassi. Sebab itu, tetaplah di sisiku. Aku tidak bisa menjamin apa saja yang sanggup aku lakukan untuk memiliki aghassi. Sebab itu, jangan pernah meninggalkan aku.” ancam Sun.

Ga Eun syok dengan ancaman Sun. Ia kemudian pergi meninggalkan Sun dengan wajah kecewa.


Di rumah kaca, Sun bertengkar dengan ibunya. Sang ibu tak setuju dengan Sun yang mengangkat Ga Eun menjadi Ratu. Sun kesal dengan ibunya dan membanggakan dirinya yang sudah memulihkan kehormatan Tuan Han. Sang ibu hendak protes, namun Sun berkeras ingin menikahi Ga Eun.

“Lee Sun-ah, seekor cacing harus hidup di atas dedaunan. Berpura-pura menjadi Raja, sudah keterlaluan dan kau masih ingin memiliki Ga Eun Aghassi?”

“Kenapa aku tidak boleh memilikinya! Karena Seja asli masih hidup, menjadi alasan untuk takut?” tanya Sun.


Ibu Sun lantas membujuk Sun untuk kembali ke kehidupan mereka yang dulu. Sun marah karena tidak ada yang mau mendukungnya. Dengan wajah kesal, Sun pun pergi meninggalkan ibunya. Ibu Sun menangis keras. Ia terluka anaknya berubah sedrastis itu.


Seja geram saat mendengar berita pernikahan Sun dan Ga Eun yang akan segera dilaksanakan. Ia menyesal membiarkan Ga Eun kembali ke istana. Woo Bo berkata, mereka hanya punya waktu 11 hari. Kwang Ryul yakin, istana membutuhkan waktu lebih dari 11 hari untuk mempersiapkan pernikahan. Dan Moo Ha menyuruh Seja kembali sebelum hari pernikahan tiba.

“Jeoha, ada seseorang yang dapat membantu Jeoha. Maukah anda bertemu dengannya?” tanya Mae Chang.


Ga Eun menyamar sebagai dayang dan menyusup ke rumah hijau. Ia tak sadar, Hyun Seok mengawasinya. Hyun Seok bergegas pergi untuk melaporkannya pada Sun. 




Kepala Kasim yang juga  melihat pun heran kenapa Ga Eun menyusup malam2 ke rumah hijau. Mae Chang yakin, Ga Eun tengah mencari sesuatu yang dapat membantu Seja mengakusisi tahta.


Ga Eun menggali tanah, mencari tabung plasenta itu namun ia tidak menemukannya. Ga Eun berpikir keras, dimana kira2 Selir Lee menyembunyikan tabung plasenta itu. Pandangan Ga Eun seketika mengarah pada pot2 yang berjejer di rak. Namun sial, saat Ga Eun hendak menuju ke pot itu, Sun memergokinya.

“Aku sudah merasa aneh. Padahal sudah bertemu Seja yang asli.” Ucap Sun.

“Kau tahu Seja masih hidup?” tanya Ga Eun.

“Kau berharap aku tidak mengetahuinya?” tanya Sun balik sambil tersenyum evil.

“Lee Sun-ah, ini belum terlambat. Kenapa tidak sekarang saja kau kembalikan tahta Raja pada Seja.” Bujuk Ga Eun.


Suara Sun pun langsung meninggi.

“Kalau kukembalikan tahta Raja, Aghassi mau menjadi milikku? Aku tidak masalah hidup sebagai kurir air asalkan memiliki aghassi disampingku.” Ucap Sun.

Ga Eun terdiam mendengarnya. Sun tersenyum pahit. Ia masih berharap Ga Eun akan menatapnya sebagai seorang pria. Sun lalu menegaskan kalau dirinya akan menjadi Raja yang sesungguhnya dan Ga Eun akan menjadi miliknya. Ga Eun yang mulai ketakutan mengaku bahwa ia tidak mencintai Sun. Namun Sun sama sekali tidak peduli dengan perasaan Ga Eun.

“Lee Sun-ah, apa yang bukan milikmu, tolong kembalikan.” Tegas Ga Eun dengan tatapan tajam.


“Mengembalikannya? Agar aku memiliki kehidupan berbeda, kau memberiku nama Lee Sun. Nama itulah yang menghantarkanku menjadi Raja. Sebelumnya, kau menyuruhku memiliki impian, namun sekarang kau ingin aku melepaskannya?” tanya Sun.

Ga Eun mulai menangis. Sun pun berkata lagi, kalau Ga Eun lah yang sudah membuatnya menjadi Raja.


Sun kemudian mencengkram tangan Ga Eun dan menyeret Ga Eun keluar. Ia menyuruh Hyun Seok mengurung Ga Eun di kamar sampai hari pernikahan tiba. Ga Eun pun pergi dengan wajah kesal. Setelah Ga Eun pergi, Sun bertanya-tanya apa yang sebenarnya dicari Ga Eun di rumah hijau.


Seja menunggu seseorang dgn cemas. Ia takut orang itu tak datang. Tak lama kemudian, Mae Chang datang mengantarkan Kepala Kasim. Ternyata Kepala Kasim lah orang yg ditunggu2 Seja sedari tadi. Setelah mengantarkan ayahnya, Mae Chang lantas meninggalkan mereka berdua. Seja berterima kasih atas kedatangan Kepala Kasim. Kepala Kasim memuji Seja sebagai seseorang yang gigih.

“Sebelumnya, aku ingin berterima kasih karena kau sudah menyelamatkan nyawaku dan juga guruku.” Ucap Seja.


Seja lantas menundukkan kepalanya sebagai ungkapan terima kasih sekaligus rasa hormatnya.

“Kenapa seorang Seja Jeoha menunjukkan rasa hormat seperti itu pada pelayan rendahan sepertiku? Apa kau merasa bagaikan seseorang yang akan tenggelam dan hanya berpegangan pada sebuah sedotan?” sindir Kepala Kasim.

“Itu benar. Kudengar, Kepala Kasim telah lama berada di istana dibanding siapapun. Kali ini, aku ingin bertemu karena ingin meminta tolong.” jawab Seja.


“Aku hari ini kemari, hanya sekedar ingin mengatakan bahwa lebih kau menyerah atas semua impianmu. Jangan melakukan apapun. Jeoha merasa berbeda dari para pejabat serakah di sana, jangan berpikir seperti itu. Jika Jeoha mengambil langkah yang salah, hanya akan ada pertumpahan darah lain di istana. Kami tidak akan memihak siapa-siapa. Kami pun tidak akan mengambil keuntungan dari siapa-siapa.” Ucap Kepala Kasim.

“Aku tidak bermaksud mengambil keuntungan dari kalian. Aku hanya memberi kalian kesempatan untuk memilih. Seperti yang sudah diketahui, aku adalah putra dari seorang pria yang melakukan kudeta. Namun aku masih ingin menjadi Raja. Kesalahan ayahku, ketika aku menjadi Raja, akan kuperbaiki. “ jawab Seja.

“Agar kau bisa menjadi Raja, kau meminta dukunganku untuk mewujudkannya?” tanya Kepala Kasim.

“Aku berjanji kepada Kepala Kasim, melayani rakyat akan menjadi tujuanku satu2nya menjadi Raja.” Jawab Seja.

“Maka lakukanlah.” Ucap Kepala Kasim dingin.


Seja pun mulai kesal. Ia bertanya, mau sampai kapan Kepala Kasim terus menonton dan tidak melakukan apa-apa?

“Kapan kau akan mengambil tindakan? Kau mematuhi semua perintah. Kau tidak berusaha mengoreksi yang salah. Satu-satunya yang kau lakukan hanya menunggu dalam ketakutan. Bencana dalam istana, kau juga turut andil menyebabkannya karena tidak mencoba melakukan sesuatu. Saat negeri ini dalam kesulitan, ketika Raja bersama rakyatnya mati, kau tidak melakukan apa-apa! Ini juga kesempatanmu untuk bertobat. Apakah sekali lagi, kau hanya akan diam dan tidak mengambil tindakan? Atau demi masa depan Joseon, kau akan bertarung bersamaku? Demi masa depan Joseon, tolong bergabunglah dan bertarung bersamaku.” Pinta Seja.

“Di ladang poppi, kudengar kau menyelamatkan anak-anak itu.” ucap Kepala Kasim.

“Itu benar.” jawab Seja.


“Kau mengklaim dirimu sebagai Raja seluruh rakyat, namun hanya demi menyelamatkan segelintir anak-anak, kau mempertaruhkan nyawamu. Bila sekali lagi kau menghadapi situasi yang sama, apakah kau akan mengambil keputusan yang sama?” tanya Kepala Kasim.

Namun Seja diam saja. Kepala Kasim bertanya lagi, jika Seja mengalami kejadian itu sekali lagi, manakah yang Seja pilih. Menyelamatkan anak2 itu atau kembali ke istana menjadi Raja demi seluruh rakyat Joseon.

“Menyelamatkan nyawa2 anak itu, sama halnya dengan menyelamatkan nyawa rakyat negeri ini. Bila seorang Raja menyepelekan nyawa anak2, dan tidak melakukan apa2, lalu bagaimana dia menjadi seorang kaisar yang mengabdikan diri untuk melayani rakyatnya? Segelintir anak2 itu pun memiliki ayah dan ibu.” Jawab Seja.

“Apakah kau memiliki keyakinan besar dapat bertarung dengan Pyunsoo-hwe hingga akhir?” tanya Kepala Kasim.


Seja cukup tercengang dengan pertanyaan Kepala Kasim itu, namun ia memberikan jawabannya dengan menganggukkan kepalanya. Kepala Kasim pun langsung bertanya, apa yang bisa ia bantu.


Dayang barunya Daebi Mama cemas dan takut karena Kepala Kasim hendak menyusupkan seseorang ke ruangannya Daebi Mama. Kepala Kasim pun berkata, itulah alasan dirinya menugaskan dayang itu sebagai dayangnya Daebi Mama. Dayang itu pun terpaksa setuju dan mengantarkan Seja yang menyamar sebagai Kasim ke ruangan Daebi Mama.


Sontak, Daebi Mama terkejut melihat Seja yang masih hidup. Sambil menatap lirih Daebi Mama, Seja perlahan-lahan memasuki ruangan Daebi Mama dan mendekati Daebi Mama. Daebi Mama pun bersikap seolah-olah dia tidak tahu identitas Seja, namun Seja langsung memotong kata-katanya dengan mengatakan bahwa ia tahu semuanya.

“Baiklah. Seja, apa yang membuatmu datang kemari? Kau ingin melihat penderitaanku yang tengah diasingkan di dalam istana?” tuduh Daebi.

“Ladang poppi sudah habis terbakar, itu artinya tidak akan ada lagi pil poppi. Kecuali kami bisa menghasilkan penawarnya, anda dan yang lainnya yang setia akan meninggal dalam waktu 10 hari. Jumlah mereka yang akan kehilangan nyawa mencapai 75 orang.” Jawab Seja.

“Aku akan mempercayainya, kau pikir begitu?” tanya Daebi sinis.

“Saya tidak punya alasan membohongi anda.” Jawab Seja.


“Aku…” tatapan Daebi berubah tajam,”… pernah mencoba membunuhmu.”

“Saya tahu. Pertama kali, saat saya baru terlahir ke dunia. Lalu yang kedua, ketika saya tengah menunggu anda.” Jawab Seja sedih.

“Meski begitu, kau masih mencoba menyelamatkanku? Sekali pun itu benar, dan akhirnya kau menyelamatkanku, kau ingin aku berterima kasih padamu?”


Suara Daebi mulai meninggi, Tidak! Aku lebih mati…

“Omamama!” teriak Seja.

Daebi terkejut Seja memanggilnya omamama.


“Seorang anak…” mata Seja mulai berkaca-kaca, “… menyelamatkan ibunya, mengapa memerlukan alasan?”

“Aku bukan ibumu.” Jawab Daebi juga dengan mata yang berkaca-kaca.

“Bila bukan anda, siapalagi yang akan saya anggap orang tua? Di dunia ini, orang tuaku tinggal… Omamama. Anda satu2nya yang tersisa.” Ucap Seja.

“Tidak! Aku tidak punya anak. Sebab itulah, hakku sebagai istri mendiang Raja direnggut. Aku tidak bisa memiliki anak. Namun aku mencoba menahan perasaanku selama bertahun-tahun. Kau tidak tahu betapa berat rasanya.” Jawab Daebi.


Tangis Daebi mulai jatuh, Omamama? Hanya jika kau tidak pernah terlahir, hanya jika ibumu tidak pernah ada…!


Seja mulai menangis. Ia memegang tangan Daebi. Daebi berusaha menarik tangannya, namun Seja semakin memegang tangannya dengan erat. Seja berusaha menyentuh hati Daebi. Ia meminta maaf atas rasa sakit yang dirasakan Daebi selama ini. Daebi mulai melunak. Ia penasaran, kenapa Seja mendatanginya padahal ia sudah tidak punya kekuatan apa-apa lagi.

“Di negeri ini, anda adalah satu2nya Ibu Suri. Saya mohon, bantu saya, Omamama.” Pinta Seja.

Pandangan Daebi pun mulai berubah. Ia menatap Seja dengan lembut.


Keesokan harinya, di hadapan para pejabat, Sun berkata akan melepas topengnya. Ia berencana menunjukkan wajahnya pada dunia untuk menjegal Seja. Ia yakin, dengan cara itu rakyat akan mengingat wajahnya sebagai Raja karena tidak ada satu pun yang pernah melihat wajah Seja asli.


Kepala Kasim pun langsung memberitahukan rencana Sun itu pada Seja. Tentu saja, mereka semua cemas. Seja pun mengungkapkan rencananya. Ia berencana kembali ke istana di hari Sun akan melepaskan topengnya. Ia muncul di istana, di depan semua pejabat dan akan membuktikan bahwa dirinya lah Raja Joseon yang sebenarnya.

No comments:

Post a Comment