Thursday, July 27, 2017

The Legend Of The Blue Sea Ep 9 Part 2

Sebelumnya..


Jin Joo membawa anjingnya ke klinik. Di sana, Nam Doo sudah menunggu dengan berpura2 memeriksakan anjingnya.

“Omo, Goo Bek kita datang lagi. Ya, hidungnya kelihatan sedikit kering.” Ucap pegawai klinik pada Nam Doo.

Pegawai klinik lalu menegur Jin Joo.

“Oh Bek juga ada disini!” serunya.

Nam Doo pun mulai beraksi. Ia memulainya dengan mengenalkan anjingnya yang bernama Goo Bek karena ia menghabiskan 900 won untuk perawatan anjingnya.

“Aku sudah menghabiskan 8.500.000 Won untuknya bulan ini.” ucap Nam Doo.

“Apa yang kau lakukan untuk menghabiskan 9.000 Won padanya? Kami melakukan apapun yang kami butuhkan. Aku bahkan mengirimnya ke sekolah. Bukankah itu benar, Oh Bek?” ucap Jin Joo.

“Oh, anakku melakukan beberapa kegiatan setelah sekolah.” Jawab Nam Doo.


“Ahh, kegiatan setelah sekolah... Seperti apa?” tanyaa Jin Joo.

“Pada hari Senin, kami mengajarinya kepercayaan diri. Dia menyalak ke udara. Pada hari Jumat, dia belajar tentang adat sopan santun ala Inggris.” Jawab Nam Doo.

“Benarkah, sopan santun ala Inggris?” tanya Jin Joo.

“Kau tahu, kami banyak memberikan perintah di sini. Duduklah. Berbaring. Tunggu. Makan. Kami sangat senang memerintah. Mereka mengatakan adat Inggris adalah menunggu.” Jawab Nam Doo.

“Oh, jadi begitu. Aku belajar sesuatu hari ini, berkat kau.” ucap Jin Joo.

“Itu tidak penting.” Jawab Nam Doo, lalu pergi setelah pegawai klinik menyuruhnya masuk.


Tak hanya itu, Nam Doo juga menyewa seorang pria penggosip dan menyuruh pria itu datang di pertemuan yang sering dihadiri Jin Joo bersama wanita2 kaya lainnya.

Pria itu menginformasikan bahwa ada seorang pria bernama Kim Jae baru saja kembali ke Korea, saat berada diluar negeri, Kim Jae berkecimpung dalam dunia real estate. Pria itu juga menginformasikan bahwa Kim Jae memiliki bangunan 57 lantai di Dubai dan bermain golf dengan Mansour yang mereka kenal.Pria itu juga mengatakan bagaimana Nyonya Choi dari Konstruksi L ingin berinvestasi dan pergi ke Dubai dengan membawa tas berisi uang, namun Nyonya Choi kembali ke Korea karena tak bisa bertemu Kim Jae. Ia juga memberitahu bahwa Kim Jae tengah dalam project membangun kondominium tapi buru2 kembali ke Seoul untuk menemui tunangan yang dicintainya. Ia juga bilang Kim Jae banyak menghadiahi barang2 mahal untuk tunangannya yang ia beli di mall Gangnam setiap hari.


“Sekarang aku sudah meletakan umpan seperti ini, apa yang harus kita lakukan sekarang? Yang tersisa adalah bagi Kim Jae dan tunangannya untuk berkeliling mal selama seminggu.” Ucap Nam Doo pada Joon Jae.

“Siapa yang akan menjadi tunangannya?” tanya Joon Jae.


Nam Doo pun langsung memanggil Tae Oh yang sudah mengenakan wig, sepatu hak tinggi dan pakaian tangga. Joon Jae langsung protes dengan ide gila Nam Doo yang menjadikan Tae Oh sebagai tunangannya.

“Bagaimana kalau Chung?” tanya Nam Doo.


Joon Jae makin protes. Tapi Chung tiba2 datang dan bertanya dia akan pergi kemana. Nam Doo pun langsung meminta Chung mendengarkannya.

“Kau menyukai drama, bukan? Yang sebenarnya adalah, orang-orang di TV bukan orang kecil...” jelas Nam Doo.

“Aku tahu. Mereka ada di sebuah studio. Itu sebuah drama.” Jawab Chung.

“Chung kita ternyata sangat cerdas.” Puji Joon Jae sambil mengelus kepala Chung.

“Chung kita? Kita?” tanya Nam Doo pada Joon Jae sambil mengelus kepala Joon Jae.

“Aku hanya mengatakan kalau dia cerdas.” Jawab Joon Jae sambil menyingkirkan tangan Nam Doo.

“Jadi, kita akan syuting sesuatu seperti sebuah drama. Peran Joon Jae dalam drama ini adalah pria kaya dan keren. Dan peran Chung kita adalah tunangannya. Mereka akan menikah!” jawab Nam Doo.

“Aku suka itu.” ucap Chung tersipu malu.


“Chung, saat kau berada di sana, hanya ada tiga hal yang tidak perlu kau lakukan. Jangan bicara. Jangan tertawa. Jangan makan.” Jawab Joon Jae.

“Itu akan menjadi agak sulit.” Ucap Chung.

“Aku akan membelikanmu sesuatu yang lezat setelah itu.” jawab Joon Jae.

“Lebih tepatnya apa?” tanya Chung.

“Kau suka yang manis. Es krim? Kue?” ucap Joon Jae.

“Ditambah lagi...?” tanya Chung.

“Lagi?” Joon Jae kaget.

“Babi asam manis.” Jawab Chung.

“Sepakat.” Ucap Joon Jae. Dan Sim Chung pun berseru senang.


Sekarang… kita melihat Joon Jae berperan sebagai Kim Jae. Ia berpakaian mewah layaknya chaebol beneran, didampingi Chung yang berperan sebagai tunangannya dan dikawal dua bodyguard. Mereka berbelanja barang2 mewah serta perhiasan di mall. Hari berikutnya, Joon Jae dan Chung kembali berbelanja di mall itu sementara Jin Joo protes pada pegawai mall karena gagal menggunakan ruangan VVIP yang sudah ia pesan.


Tak lama, Joon Jae dan Chung datang dan mereka langsung disambut pegawai mall. Nam Doo juga ikut mendampingi mereka. Joon Jae sengaja menyebut kata2 Dubai agar Jin Joo mendengarnya. Melihat Chung, Jin Joo ingat Chung adalah wanita yang pernah ribut denganya soal pertengkaran kecil Elizabeth dan Yoon Ah. Jin Joo lantas melihat Nam Doo dan ia mengenali Nam Doo sebagai ayahnya Goo Bek.


“Goo Bek Appa!” seru Jin Joo pada Nam Doo.

“Oh, bukankah itu ibunya Oh Bek? Senang bertemu denganmu.” Ucap Nam Doo.

“Orang-orang yang baru saja datang... apa kau datang bersama mereka?” tanya Jin Joo.

“Ah iya. Aku menjalankan sebuah perusahaan investasi, dan beberapa tamu VIP datang dari luar negeri.” Jawab Nam Doo.

“Apa orang itu, mungkin, datang dari Dubai?” tanya Jin Joo.

“Kenapa?” tanya Nam Doo.

“Yang di Dubai, dia memiliki sebuah gedung 57 lantai dan jalur golf dan berteman dengan Mansour dan namanya adalah Kim Jae?” tanya Jin Joo.

“Darimana kau mendengar itu?” tanya Nam Doo.

“Aku hanya mengetahuinya.” Jawab Jin Joo antusias.


Nam Doo belagak panic. Ia meminta Jin Joo tidak memberitahu siapapun keberadaan Kim Jae karena akan menjadi masalah kalau orang2 tahu. Jin Joo mengerti. Nam Doo lalu masuk ke dalam.


Joon Jae dan Chung menjadi pusat perhatian seisi mall. Chung berbisik di telinga Joon Jae kalau ia lapar dan minta dibelikan kue beras pedas.

“standarmu seperti biasa tak tertandingi, baiklah, ayo kita juga membelinya.” Ucap Joon Jae sembari tersenyum.


Jin Joo lantas mendekati Nam Doo. Ia meminta Nam Doo mengatur makan malamnya dengan Joon Jae dan Chung. Jin Joo mengaku bahwa ia sangat tertarik berinvestasi.

“Sebenarnya, CEO Kim sudah lama pergi dari Korea dia memang mengatakan bahwa dia ingin memakan makanan rumahan Korea.” Ucap Nam Doo.

“Makanan rumah! Makanan rumah tergantung dari kokinya, makanan di tempat kami adalah yang juara!” jawab Jin Joo.


Setibanya di rumah, Jin Joo menceritakan pertemuannya dengan Kim Jae pada suaminya dengan antusias. Si Ah merasa kalau Jin Joo sudah kena tipu, tapi Jin Joo bersikeras kalau ia sudah mengkonfirmasi siapa Kim Jae lewat Nyonya Choi.


Dalam perjalanan pulang, Nam Doo memuji pekerjaan Chung. Chung yang tak tahu apa2 pun berkata kalau ia senang membantu Joon Jae dalam hal baik.

Saat melewati mesin pencapit boneka di tepi jalan, Chung memberitahu Joon Jae kalau pria yang bertanggung jawab dengan mesin itu adalah penipu.

Joon Jae kaget, apa? Siapa yang mengatakan itu?

“Aku terus berusaha untuk menarik satu boneka tapi aku tidak bisa mendapatkan apapun jadi aku bertanya dan orang-orang mengatakan kepadaku kalau dia seorang penipu. Dasar bajingan.” Jawab Chung.

Dan Joon Jae pun mulai merasa tidak enak dengan perkataan Chung.

“Tapi! Penipu tidak selalu orang jahat.” Ucap Joon Jae.

“Kadang-kadang, hanya ada bajingan yang menipu orang yang lebih bajingan.” Jawab Nam Doo.

“Tetap saja, mereka berbohong kepada orang-orang.” Ucap Chung.

“Chung, kau belum pernah melakukannya? Tidak sekali pun? Bahkan ingin melakukannya? Kau tidak memiliki rahasia yang tidak bisa diberitahu kepada kami?” ucap Nam Doo yang sukses membuat Chung diam.


Tak lama, Joon Jae dihubungi oleh Si A yang mengajaknya mengunjungi museum. Joon Jae pun menemui Si A sendirian. Si A berkata pada Joon Jae kalau ia belum melihat benda itu, tapi orang yang menemukannya mengatakan benda itu benar2 istimewa.

“Kau tidak bisa menemukannya dalam keadaan baik saat kau pertama kali menemukannya. Tapi yang satu ini, benar-benar dikubur dalam sebuah kotak tertutup.” Ucap Si A.

“Dikubur?” tanya Joon Jae.

“Ya. Seolah-olah, seseorang ingin itu bisa ditemukan.” Jawab Si A.


Mereka pun tiba di depan sebuah ruangan. Si A membuka ruangan itu, tapi Joon Jae ingin masuk sendirian. Si A pun mau tak mau terpaksa membiarkan Joon Jae masuk sendirian.

Joon Jae masuk ke ruangan itu sendiri. Di sana ia melihat banyak kumpulan benda antic. Joon Jae terus berjalan hingga akhirnya ia menemukan sebuah lukisan yang terpajang di dinding, namun tiba2 saja lampu di museum itu padam.

Joon Jae lantas mendekati lukisan itu. Ia menyalakan koreknya dan mengarahkannya ke lukisan itu. Dan, betapa kagetnya ia melihat lukisan yang ternyata lukisan Dam Ryung.


Epilog :


Dam Ryung berjalan mondar mandir sambil memikirkan apa yang harus ia lakukan agar seseorang yang ada di dalam mimpinya mempercayai keberadaannya. Dam Ryung kemudian mendapatkan sebuah ide.

Ia lalu memanggil seorang pelukis dan meminta pelukis itu melukis dirinya.

“Aku meminta agar kau teliti. Karena itu adalah bagian penting yang disimpan dalam waktu yang lama.” Perintah Dam Ryung.


Dan lukisan itulah yang kini dilihat Joon Jae.

No comments:

Post a Comment