Tuesday, June 19, 2018

Ruby Ring ep 42

Sebelumnya...


Roo Na membuka laptop Roo Bi. Ia terkejut membaca proposal Roo Bi.

"Roo Bi amnesia tapi dia bisa memikirkan ini? Jeong Roo Na seorang murid yang mengerikan, tapi meskipun Roo Bi tidak ingat apapun, dia berani memikirkan hal ini? Dan dia menyembunyikan ini dariku?" ucapnya heran.


In Soo dan Roo Bi bertemu di kafetaria. In Soo merasa ada sesuatu yang disembunyikan Roo Bi karena Roo Bi banyak berubah dan Roo Bi juga berusaha menghindarinya.

Roo Bi pun berkata, ia hanya stress menyiapkan proposalnya dan ia tidak punya alasan menghindari In Soo.

Roo Bi lalu bertanya, apa In Soo sudah membaca e-mailnya? In Soo pun mengangguk dan memuji proposal Roo Bi. Ia yakin, proposal Roo Bi yang akan terpilih.

"Kau menyanjungku." jawab Roo Bi malu.

"Aku serius." ucap In Soo.

"Jadi, kau dan aku baik-baik saja, kan? Meskipun pernikahannya ditunda, tidak akan ada yang berubah diantara kita, kan?" tanya In Soo.


Roo Bi pun mengangguk. In Soo lantas menggenggam tangan Roo Bi dan meminta Roo Bi tidak menanggung beban sendirian. Roo Bi mengangguk, matanya nampak berkaca-kaca.

"Dan, pakaian itu tidak cocok untukmu." ucap In Soo.


Lalu ponsel In Soo berdering. Selagi In Soo menelpon, Roo Bi pun menatap In Soo.

"Wae? Bukankah kau menyukai Jeong Roo Na yang berpakaian seperti ini? Bukankah seharusnya kau lebih mencintaiku? In Soo-ssi, kau tahu atau tidak?" batin Roo Bi.


Selesai menelpon, In Soo pun tersenyum pada Roo Bi. Roo Bi berusaha mengendalikan dirinya dan membalas senyum In Soo.


Sekembalinya ke ruang ganti, Roo Bi terkejut melihat laptopnya sudah tidak ada di meja.


Roo Na berjalan di lorong sambil membawa laptop Roo Bi. Tak lama kemudian, ponsel Roo Na berdering. Telepon dari Roo Bi tapi Roo Na malas menjawabnya. Lalu, ponsel Roo Na kembali berdering. Kali ini telepon dari Gyeong Min dan Roo Na menjawabnya dengan senang hati.


"Aku tahu itu kau. Kau mengambilnya Jeong Roo Na. Jangan mendorongku. Semua yang ingin aku katakan dan tanyakan, aku hampir tidak bisa menahan diriku." ucap Roo Bi kesal.


Roo Bi lalu beranjak dari ruang ganti. Di lorong, dia bertemu Gyeong Min.

"Cheo-je, kau masih bekerja?" tanya Gyeong Min.

"Aku mau keluar sekarang." jawab Roo Bi.

"Jaga dirimu." ucap Gyeong Min.

"Hyeong-bu." panggil Roo Bi menahan langkah Gyeong Min. Roo Bi pun meminta Gyeong Min mentraktirnya makan malam.


Roo Na kesal karena Gyeong Min mengajak Roo Bi ikut serta makan malam dengan mereka. saat makan malam, Gyeong Min menanyakan perkembangan proposal Roo Bi. Roo Na pura2 terkejut.

"Roo Na tidak memberitahumu?" tanya Gyeong Min.

"Aku malu menceritakannya." jawab Roo Bi.

"Idenya menarik. Dia memiliki kesempatan besar untuk menang." ucap Gyeong Min.

"Kau tahu semua tentang Roo Na yang tidak aku ketahui. Ini aneh." jawab Roo Na.

"Aku baru tahu setelah kecelakaan, saat aku dalam perjalanan kembali ke kantor untuk mengambil ponselku yang ketinggalan." ucap Gyeong Min.


"Tapi aku rasa aku tidak bisa ikut kontes itu. Laptopku hilang." jawab Roo Bi.

"Laptopmu hilang? Kapan?" tanya Gyeong Min.


Dan Roo Bi pun menanyakan laptopnya pada Roo Na. Roo Na pura-pura tidak tahu. Lalu, dia mencoba bersikap mesra pada Gyeong Min dengan menyuapi Gyeong Min.

Roo Bi tambah kecewa melihatnya.


Gyeong Min lantas mengungkit soal Se Ra. Roo Na beralasan, dia tidak bisa membantu Se Ra karena sibuk. Roo Na juga menceritakan soal J Entertainment yang ingin bekerja sama dengannya.

"Tapi dia meminta bantuanmu." ucap Gyeong Min.

"Se Ra menceritakannya padamu. Menyedihkan." jawab Roo Na kesal.

"Roo Bi-ya." ucap Gyeong Min.

"Arraseo, aku akan menikmati makananku." jawab Roo Na.


Roo Bi terus menatap Gyeong Min. Roo Na pun heran melihat cara Roo Bi menatap Gyeong Min.


Di rumah, nenek menyuruh Geum Hee bicara pelan-pelan. Nyonya Park juga berkata, suka kaget dengan suara Geum Hee yang terlalu keras. Geum Hee pun berusaha mencari pembelaan.


Dia bertanya pada Tuan Bae, apakah suaranya sangat mengganggu. Nenek marah dan meminta Geum Hee tidak mengganggu Tuan Bae.


Ponsel Geum Hee berdering. Geum Hee pun langsung berlari ke dalam untuk menjawab teleponnya.

Nenek dan Nyonya Park curiga Geum Hee menyembunyikan sesuatu. Tuan Bae yakin, Geum Hee sedang jatuh cinta. Nenek khawatir. Nenek bilang, pria baik mana yang mau memacari Geum Hee.

Tuan Bae membela Geum Hee. Tuan Bae bilang, Geum Hee punya pesona dan semua pria pasti akan jatuh cinta padanya.


"Jadi kau menyukai wanita yang penuh pesona?" tanya Nyonya Park.

"Oh tidak, aku hanya mencintai Park Gyeongsuk seorang." jawab Tuan Bae.

"Aku hanya menanyakan pendapatmu tapi kau memberikan jawaban yang berputar-putar." ucap Nyonya Park.

"Berputar-putar? Aku jujur hanya mencintaimu. Bagaimana berputar-putar." jawab Tuan Bae.

"Jangan berputar-putar. Katakan padaku, kau menyukai pesona Geum Hee?" tanya Nyonya Park.

"Apakah itu penting?" jawab Tuan Bae.

"Cukup, kalian berdua. Apa kau ingin menunjukkan padaku bagaimana sepasang kekasih bertengkar?" ucap nenek.

Nyonya Park dan Tuan Bae pun tertawa.


Geum Hee janjian ketemu dengan Daepung. Baru saja menutup teleponnya, nenek datang membuatnya kaget. Nenek menyuruh Geum Hee ke kamarnya.

"Dia pria, kan?" tanya nenek.

"Dia bukan pria." sangkal Geum Hee.

"Kalau begitu, dia seorang wanita?" tanya nenek.

"Aku tidak tertarik padanya." jawab Geum Hee.

"Berhati-hatilah terhadap pria." peringat nenek.

"Apakah seorang pria pernah mengecewakanmu? Aku melihat kesedihan yang mendalam di matamu." jawab Geum Hee.

"Apa maksudmu?" tanya nenek.

"Mereka bilang, pria seperti sebuah bis. Ketika yang satu pergi, datang lah yang lain." jawab Geum Hee.

"Bagaimana dengan bus terakhir hari itu? Apakah bus berlari sepanjang malam?" tanya nenek.

"Aku tidak pernah memikirkan tentang hal itu." jawab Geum Hee.

"Yang mau kukatakan padamu, kau harus waspada terhadap para pria. Aku mengerti kau butuh pria untuk menyembuhkan lukamu setelah perceraian, tapi kalau kau tidak berhati-hati kau akan terluka lagi." ucap nenek.


Dongpal, Gilja, Chorim dan Soyeong sudah mau pulang. Tapi Dongpal dan Chorim masih sempatnya adu mulut. Chorim enggan mengucapkan selamat malam pada Dongpal, tapi setelah dipaksa Gilja, dia pun mengucapkan selamat malam dengan nada ketus.


Saat hendak pulang, tiba-tiba saja Gongnam muncul. Gongnam menawari mereka tumpangan. Gilja menolak, ia berkata rumah mereka tidak jauh. Tapi Gongnam bersikeras mengantar mereka dengan mobilnya. Soyeong pun antusias dan langsung menarik Gilja ke mobil Gongnam.


Chorim tak bisa menolak. Tapi saat dia hendak ke mobil Gongnam, Dongpal memegang tangannya.

Chorim sedikit senang, tapi Dongpal hanya ingin mengatakan salam perpisahan.


Gongnam mengajak Dongpal juga, tapi Dongpal menolaknya dengan ketus. Dongpal berkata, dia bukan gelandangan dan tidak mau semobil dengan orang asing.


Sepanjang perjalanan, Chorim diam saja. Gongnam pun bertanya, apa yang ada di pikiran Chorim. Chorim langsung memasang tampang jijik saat Gongnam memuji dirinya sendiri sebagai calon suami idaman.

Gongnam lalu berjanji, akan memperlakukan Chorim sebagai ratu setelah mereka menikah nanti.

"Kau sudah makan malam?" tanya Chorim.

"Pertanyaan macam apa itu. Tentu saja sudah." jawab Gongnam.

"Kau sudah membersihkan gigimu?" tanya Chorim.

"Komo." tegur Gilja.


Sekarang, Chorim sudah berada di kamarnya. Ia memikirkan ajakan menikah Gongnam. Beberapa detik kemudian, ia pun memutuskan untuk menerima ajakan Gongnam menikah.


Gyeong Min dan Roo Na masih di jalan. Roo Na senang karena bisa menyupiri Gyeong Min dengan mobilnya.

Lalu, mata Gyeong Min tak sengaja melihat laptop Roo Bi.

Sontak ia teringat ucapan Roo Bi yang mengaku tidak bisa mengikuti kontes itu karena laptopnya hilang.


"Aku tidak pernah melihat laptop itu?" tanya Gyeong Min.

"Aku membutuhkannya jadi aku membelinya." jawab Roo Na.

"Aku melihatmu dengan laptop lain belum lama ini." ucap Gyeong Min.

"Wakil Presdir Bae, aku ini selebriti. Aku bisa memiliki lusinan laptop jika aku mau." jawab Roo Na.


Setelah memastikan Gyeong Min berada di kamar mandi, Roo Na pun menyimpan laptop Roo Bi di lacinya. Setelah itu, ia mengunci lacinya dan menyembunyikan kuncinya di dalam sebuah guci kecil di atas meja.


Di kamarnya, Gilja sedang melihat buku tabungannya. Gilja berkata, ia menyiapkan uang itu untuk pernikahan Roo Bi dan ia merasa Chorim bisa menggunakannya.

Gilja lalu keluar dari kamar dan mematikan TV yang masih menyala.

Saat hendak kembali ke kamar, ia mendengar seseorang menangis dari arah dapur.


Gilja pergi ke dapur untuk memeriksanya. Ia menemukan Chorim sedang menangis di dapur.

"Eonni, semuanya menjadi begitu rumit." ucap Chorim.

"Apanya yang rumit? Kau bilang kau menyukainya. Dia akan menjadi suami yang baik. Dia punya rumah sendiri, punya mobil, serta peralatan rumah tangga. Yang dia butuhkan hanyalah pengantin wanita. Ditambah lagi, dia pegawai pemerintahan. Kau beruntung bertemu seseorang sepertinya." jawab Gilja.

"Aku tahu, karena itulah aku mau menikah. Tapi... tapi..."

"Karena Chef No?"


Chorim pun menyangkal. Ia bilang, bahwa hubungannya dengan Dongpal sudah berakhir.

"Lalu apa masalahnya?" tanya Gilja.

"Aku tiba-tiba merindukan orang tuaku." jawab Chorim.

Tapi dalam hati, Chorim berkata semua itu karena Dongpal.

"Kau tidak pernah mengatakan kau rindu orang tuamu selama ini." ucap Gilja.


Gilja lalu bertanya, apa Chorim sudah yakin akan menikah. Chorim pun berkata, selama Gongnam bisa memenuhi kebutuhannya, ia tidak masalah.

"Jadi kenapa kau menangis seperti anak kecil?" tanya Gilja.

Tangis Chorim pun tambah kencang. Dalam hati, ia memaki Dongpal.


Dongpal sendiri tak bisa tidur karena memikirkan Chorim. Daepung menyuruh Dongpal mengatakan semuanya. Dongpal menolaknya. Ia berkata, bahwa Chorim tidak mau menikah dengan pria yang sudah memiliki anak.


Diam-diam, Jihyeok yang masih terjaga, mendengarkan pembicaraan mereka dengan wajah kesal.


Keesokan paginya, Roo Na dan Se Ra ribut. Roo Na berkata, ia kecewa karena Se Ra mengatakan pada Gyeong Min apa yang mereka diskusikan kemarin.

"Aku sudah berniat membantumu. Aku meminta manajemenmu melakukan dengan baik tapi kau salah jalan. Jadi aku tidak punya alasan untuk bekerja di sana lagi." ucap Roo Na.

Se Ra pun kesal tapi Roo Na malah beranjak pergi meninggalkan Se Ra.


Se Ra kembali ke kamarnya sambil memikirkan kata-kata Roo Na. Ia pun tersadar, Roo Na tidak mau membantunya karena kecewa tidak bisa memiliki JM Homeshopping. Kesal, Se Ra pun menghubungi Nona Yoon dan meminta Nona Yoon menarik acara Roo Bi dari program mereka.


Di kantor, Nona Yoon minta penjelasan kenapa Se Ra ingin menghentikan acara Roo Na. Nona Yoon bilang, program Roo Na mendatangan keuntungan yang besar untuk perusahaan mereka. Nona Yoon khawatir, jika acara itu dihentikan, perusahaan akan menderita kerugian besar.

Se Ra pun berkata, mereka tidak boleh bergantung pada Roo Na. Menurut Se Ra, menawarkan produk yang berkualitas dan melayani pelanggan dengan baik, akan lebih menguntungkan bagi mereka. Nona Yoon tetap ingin mempertahankan Roo Na. Tapi Se Ra sudah kekeuh dengan keputusannya.


Di rumah, nenek berteriak memanggil Geum Hee. Nenek menyuruh Geum Hee membuatkannya mie dengan kuah kaldu ikan teri. Tapi yang datang malah Nyonya Park. Nyonya Park memberitahu nenek kalau Geum Hee tidak di rumah.

"Padahal aku sudah menyuruhnya berhati-hati." ucap nenek.


Daepung mengajak Geum Hee melihat sebuah ruko.

"Bagaimana menurutmu? Bukankah tempatnya strategis untuk Jangderella Bakery?" tanya Daepung.

Geum Hee pun tersentuh, ia tidak menyangka Daepung ingin membuatkannya sebuah toko roti.

Tapi Geum Hee merasa, bangunannya terlalu kecil. Daepung pun berkata, kalau Geum Hee tidak boleh serakah di usahanya yang baru saja mau dimulai.

Daepung lantas pura-pura marah. Ia berkata, sudah bekerja keras untuk mewujudkan impian

Geum Hee membuka toko roti sendiri. Ia berusaha mendapatkan ruko dengan biaya sewa yang lebih murah.

"Bukan aku tidak menyukainya." ucap Geum Hee membela dirinya.


Pada Roo Na, Jin Hee berkata bahwa mereka harus memilih sebuah keluarga dan sponsor bulan depan. Roo Na pun bertanya, bukankah Jiyeon sudah terpilih? Jin Hee bilang, Jiyeon adalah panutan mereka dan tidak ada alasan bagi mereka menolaknya.

"Jiyeon pasti akan senang." ucap Roo Na.

Mendengar itu, Seokho pun memuji Roo Na. Seokho bilang, kadang kala Roo Na terlihat dingin dan kadang2 Roo Na bisa terlihat hangat.


Se Ra memberikan pengarahan pada timnya. In Soo pun heran melihat Se Ra. Ia bertanya pada sutradara, kenapa Se Ra ada di sana. Sutradara bilang, itu karena penjualan mereka menurun.

"Aku tidak mengerti kenapa dia tidak mengambil jalan pintas saja."

"Jalan pintas?" tanya In Soo.

"Nona Jeong Roo Bi."


Selesai memberikan pengarahan, Se Ra menyapa In Soo. In Soo pun berjanji akan melakukan yang terbaik.

"Cuma kau satu-satunya yang mengerti apa yang kulakukan saat ini." ucap Se Ra sambil menatap In Soo penuh harap.

Setelah mengatakan itu, Se Ra beranjak pergi.


Di lorong, Se Ra bertemu dengan Roo Na. Roo Na tampak kesal bertemu Se Ra.

"Kau benar-benar tidak ingin membantuku?" tanya Se Ra.

"Aku tidak melihat alasan kenapa aku harus membantumu. Sampai kapan kau mau bergantung padaku?" jawab Roo Na.

"Bagaimana bisa kau mengatakan hal itu? Siapa yang membuatmu seperti sekarang ini?" kesal Se Ra.

"Mereka bilang, JM Homeshopping bisa menghasilkan uang karena diriku. Karena itulah aku mengundurkan diri. Kau ingin semua orang di JM mengatakan, JM nomor satu karena diriku?" jawab Roo Na.

"Meskipun kau keluar, ada banyak protokol yang harus kau taati!" ucap Se Ra.

"Aku tidak punya alasan membantumu! Apa aku salah!" jawab Roo Na.


"Hentikan, Roo Bi-ya." ucap Gyeong Min yang tiba-tiba datang.

"Gyeong Min, kau dengar sendiri kan? Jadi buatlah keputusan, bukan sebagai suaminya tapi sebagai Wakil Presdir!" ucap Se Ra.

Se Ra juga berkata, bahwa Roo Na bukan lagi bagian dari JM Homeshopping.

Setelah mengatakan itu, Se Ra pun pergi.


Roo Na mencoba menjelaskannya pada Gyeong Min, tapi Gyeong Min yang terlanjur kesal mengajak Roo Na membicarakan itu di rumah.


Roo Na kembali ke Departemen Pemasaran. Jin Hee terkejut melihat Roo Na. Roo Na berkata, dia bukan lagi bagian dari JM Homeshopping.

Jin Hee lalu menanyakan proposal Roo Bi. Jin Hee berharap, proposal Roo Bi lah yang terpilih.

"Dia bekerja keras menyiapkan proposalnya. Dia sangat tertarik pada pemasaran." ucap Jin Hee.

Jin Hee lantas berlalu meninggalkan Roo Na.


"Siapa yang akan membiarkanmu masuk ke Departemen Pemasaran?" ucap Roo Na sinis.


In Soo bertemu Roo Bi di lorong. In Soo menanyakan perkembangan proposal Roo Bi. Roo Bi pun cerita, kalau laptopnya hilang sementara proposalnya ada di sana.

"Bukankah kau mengirimiku proposalmu lewat email?" tanya In Soo.

"Benar, aku ingin meminta nasehatmu. Kenapa aku tidak ingat?" jawab Roo Bi.


In Soo pun langsung membuka e-mailnya dan membantu Roo Bi men-submit proposal itu.


Gongnam membantu Chorim melayani pelanggan. Dongpal menatapnya dengan kesal dari dapur. Soyoung pun memanas-manasi Dongpal. Dongpal langsung sewot. Dongpal tambah sewot saat melihat Gongnam menghapus keringat di wajah Chorim.


Proposal Roo Bi terkirim tepat waktu. Roo Bi pun berterima kasih karena In Soo sudah membantunya. Roo Bi bilang, jika In Soo tidak membantunya, ia tidak akan bisa mengikuti kontes itu.

Singkat cerita, In Soo keceplosan mengatakan marketing adalah bidang Roo Bi. Roo Bi langsung bertanya-tanya, apakah In Soo tahu dia bukan Roo Na.


Tapi In Soo langsung meralat ucapannya dengan mengatakan proposal Roo Bi yang akan terpilih.

"In Soo-ssi, mianhaeyo."

"Kau sudah cukup meminta maaf."

"Tapi aku masih bersalah."

"Aku juga minta maaf." ucap In Soo.

"Untuk apa?" tanya Roo Bi.

"Roo Na-ssi, aku akan menunggumu. Aku tidak tahu kenapa kau menunda pernikahan kita tapi aku akan menunggumu sampai kau siap menikah denganku." jawab In Soo.

Roo Bi pun berkaca-kaca menatap In Soo.

"Sebenarnya kau ini orang macam apa? Kau tahu atau tidak? Jika kau tidak tahu, aku minta maaf. Aku sungguh-sungguh minta maaf." batin Roo Bi.


Bersambung......

No comments:

Post a Comment