Monday, August 27, 2018

Hide and Seek Ep 1 Part 2

Sebelumnya...


Yeon Joo yang sedang menuju pulang, dihampiri seorang ahjumma. Ahjumma itu meminta Yeon Joo mengembalikan uangnya. Ia mengaku, kosmetik yang dijual Yeon Joo sudah membuat kulitnya rusak.

Yeon Joo pun membuka tutup kosmetiknya dan melihat kosmetik itu sudah habis dipakai si ahjumma.

"Produk ini sudah diuji coba untuk menerima hak paten." jawab Yeon Joon.

"Hati-hati dengan ucapanmu. Maksudmu aku menipu atau bagaimana? Lihat setua apa wajahku sekarang!" hardik si ahjumma.

Dia lalu menyerang Yeon Joo. Tepat saat itu ibu Yeon Joo lewat. Melihat putrinya diserang, ia tak terima dan langsung mendorong wanita itu. Beberapa ahjumma datang dan menonton perkelahian itu. Yeon Joo berusaha melerai perkelahian itu.


Yeon Joo membawa ibunya pulang. Sang ibu berkata, seharusnya ia menginjak-nginjak wanita itu.

Ibu Yeon Joo kemudian bangkit dari duduknya dan membuka pintu.

"Hei, dasar jalang menjijikkan Kalau kau menyentuh anakku lagi, kau akan mati! Dengar!" teriaknya.

"Ibu sudahlah." ucap Yeon Joo seraya menarik ibunya masuk.

Yeon Joo lalu memeluk ibunya.

"Aku sangat senang karena ibu adalah ibuku." ucap Yeon Joo.

"Ibu bahkan takut melihatmu. Beraninya dia menyentuhmu!" jawab sang ibu.


Di kamarnya, Tuan Moon lagi membaca majalah serta memeriksa kosmetik yang tadi ia sita dari pegawainya.

"Ini semua menghasilkan uang. Bagaimana Moon Tae San tidak mengetahui telur emas ini?" ucapnya kesal.

Tuan Moon lantas mencoba salah satu kosmetik ke wajahnya.

Tepat saat itu, Jae Sang masuk dan melihat ayahnya memakai kosmetik.


Ia pun langsung menghubungi Dokter Jang dan mengatakan kalau ayahnya perlu menjalani tes alzheimer.


Sekarang, kita melihat Jae Sang sedang bercinta dengan pacarnya di dalam mobil.

Tanpa mereka sadari, ada alat pelacak yang terpasang di bawah jok.


Eun Hyuk berdiri di tepi danau. Ia beberapa kali melemparkan batu ke arah danau, sebelum akhirnya mendengarkan pembicaraan Jae Sang dengan wanita itu.

"Kenapa melakukan di mobil, bukan hotel?"

"Kau tidak tahu seperti apa pimpinan? Hobinya membuntuti, dia spesialis pemeriksaan latar belakang Dia punya mata-mata di

mana-mana. Begitu dia tahu penerus Taesan Group sering mengunjungi hotel, dia tidak akan membunuhku karena aku keturunannya tapi ceritanya berbeda untukmu." jawab Jae Sang.

"Tapi aku akan melakukannya jauh lebih baik di hotel. Aku jamin aku bisa membuatmu kagum." ucap wanita itu.


Eun Hyuk yang mendengar itu tersenyum sinis.

Lalu ia mendengar si wanita bertanya, kapan Jae Sang akan menggunakan dana gelap yang diambil dari Presdir Moon.

"Jaga mulutmu. Jangan sebutkan dana gelap itu." jawab Jae Sang.

"Kenapa? Tidak ada orang lain yang bisa mendengar kita di sini. Hanya kau dan aku yang mengetahuinya." ucap wanita itu.

"Kau harus merahasiakannya." jawab Jae Sang.

Ponsel Eun Hyuk tiba-tiba berdering. Nama Yeon Joo tertulis di layar.


Yeon Joo sendiri sedang membeli daging saat bicara dengan Eun Hyuk di telepon.

"Bagaimana jika kita makan samgyetang malam ini? Ini akan meningkatkan energimu." ucap Yeon Joo.

"Terserah kau saja." jawab Eun Hyuk.

"Kau seharusnya berkata, "Kedengarannya enak. Aku tidak sabar". Itu yang harusnya kau katakan." ucap Yeon Joo.

"Kau tahu aku tidak akan mengatakannya." jawab Eun Hyuk.

"Aku tahu kau tidak romantis. Aku selalu melihatmu seperti bunga matahari. Kau sok jual mahal. Astaga, harga diriku terluka." ucap Yeon Joo.


Tiba-tiba, Eun Hyuk melihat seorang pria tengah memotret ke arah mobil Jae Sang. Sontak, pria itu langsung kabur. Eun Hyuk mengejarnya.


Yeon Joo terus berbicara.

"Aku bersedia menghadapinya meski harga diriku terluka. Orang yang lebih mencintai harus melakukannya."

Karena Eun Hyuk tak merespon perkataannya, ia pun melihat layar ponselnya dan melihat Eun Hyuk sudah memutuskan panggilan.


Eun Hyuk akhirnya berhasil mendapatkan pria itu. Setelah berhasil melumpuhkan pria itu, ia mengambil kartu memori di kamera pria itu.


Eun Hyuk mencetak foto2 di kartu memori itu dan menyerahkannya pada Presdir Moon.


Eun Hyuk duduk di kafe, melihat foto-foto Jae Sang dan wanita itu, juga mendengarkan percakapan mereka.

"Sayang. Kapan kita akan menggunakan dana gelap yang kau ambil dari pimpinan?"

"Jaga mulutmu. Jangan sebutkan dana gelap itu." jawab Jae Sang.

"Kenapa? Tidak ada orang lain yang bisa mendengar kita di sini. Hanya kau dan aku yang mengetahuinya."

"Kau harus merahasiakannya. Kau sudah mengurus dana gelap itu?" tanya Jae Sang.

"Tentu saja. "Kau mengambilnya dari pimpinan." jawab si wanita.

"Dana gelap yang bahkan tidak diketahui pimpinan." gumam Eun Hyuk.


Yeon Joo sedang makan malam bersama ibu, kedua adiknya dan Eun Hyuk. Dong Joo hendak menyendok ayam ke piringnya, tapi tangannya langsung kena pukul sang ibu. Sang ibu menyebutnya tidak tahu tata krama.

Lalu Nyonya Do bicara pada Eun Hyuk dan Yeon Joo.

"Seharusnya malam ini kalian pergi agar bisa berduaan, bukannya membawakan makanan seperti ini."

"Kita semua bisa puas makan malam seperti ini dengan uang itu." jawab Yeon Joo, seraya meletakkan ceker ayam di mangkuk Eun Hyuk.

"Nak, apa pun itu kau melakukannya dengan baik. Kita harus mengakuinya. Yeon Joo, kau nantinya akan hidup makmur." ucap sang ibu."

Melihat itu, Dong Joo pun protes. Dong Joo bilang, harusnya Yeon Joo memberikan ceker ayamnya pada ibu.

"Mian, Eomma." ucap Yeon Joo.

"Tidak apa-apa. Memang seperti itu. Air tidak mengalir ke atas." jawab Nyonya Do.


Nyonya Do lalu membicarakan pernikahan Eun Hyuk dan Yeon Joo. Menurutnya akan bagus jika diadakan tanggal 6 bulan depan. Eun Hyuk terkejut, pernikahan?

"Kenapa sangat terkejut? Kalian sudah menunda selama ini." ucap Nyonya Do.


Di kamar, Eun Hyuk dan Yeon Joo membahas pernikahan mereka. Eun Hyuk bertanya, apa mereka benar-benar harus

melakukannya?

"Kita melewatkan upacara pernikahan dan menunda pendaftarannya. Kita sama saja orang asing sekarang. Kau tidak menginginkannya?" jawab Yeon Joo.

"Bukan. Kita bisa melakukannya jika kau mau." ucap Eun Hyuk.

"Kau selalu mengatakan itu. Bisa kau bayangkan sesedih apa aku mendengarnya? Aku benar-benar membencinya, tapi aku akan berusaha menerimanya." jawab Yeon Joo.


Yeon Joo lantas mencium pipi Eun Hyuk.

"Sayang, konon zaman sekarang kehamilan pranikah adalah hadiah pernikahan terbaik. Menurutmu bagaimana jika kita menyiapkan hadiah itu dahulu?" tanya Yeon Joo.

"Aku tidak pantas menjadi orang tua. Aku paham benar seperti apa ayah yang tidak pantas dapat merusak kehidupan seorang anak. Orang yang tidak pantas tidak boleh menjadi orang tua." jawab Eun Hyuk.

"Tidak masuk akal. Tidak ada yang sepantas dirimu, Sayang. Jangan malu-malu lagi." ucap Yeon Joo, lalu mengajak Eun Hyuk melakukannya.


Do Hoon : Kudengar produk baru anda menerima ulasan bagus di industri dan penjualan anda mengalami peningkatan.

Presdir Min : Chae Rin sudah bekerja keras. Dia lebih kompeten daripada dugaanku. Dia sangat bersemangat dan yang terpenting, dia sangat mencintai perusahaan ini.

"Dia benar-benar mendukung anda dengan baik." ucap Do Hoon.

"Kau juga melakukan itu. Kau selalu membantuku dengan baik sebagai pengacara perusahaan." jawab Presdir Min.


Do Hoon minta diri, tapi Presdir Min memanggilnya lagi.

"Jika insiden itu tidak terjadi, mungkin kau sudah menjadi keluargaku, bukan hanya anak teman. Aku mungkin sudah menjadi ayah mertuamu. Aku tiba-tiba memikirkan hal-hal seperti itu saat melihatmu." ucap Presdir Min.

Do Hoon tersenyum pahit mendengarnya. Setelah itu, ia beranjak keluar dari ruangan Presdir Min.


Di depan, ia bertemu Chae Rin yang baru saja datang.

"Presdir Min senang produk baru itu mendapatkan tanggapan yang baik." ucap Do Hoon.

"Ayah sudah bekerja keras." jawab Chae Rin.

"Dia mengatakan dia menghargai upayamu. Kalian berdua terlihat cocok seperti ayah dan putri kandung." ucap Do Hoon.

Chae Rin pun langsung tidak nyaman mendengarnya. Ia bertanya, apa Do Hoon benci melihat kedekatannya dengan Presdir Min.

"Kau selalu seperti itu. Kau selalu menekankan bahwa ayah dan aku bukan keluarga kandung." ucap Chae Rin.

"Aku tidak mengatakan itu." jawab Do Hoon.

"Jangan berbohong, matamu mengatakannya. Aku tahu kau merasa berutang soal Soo A. Jangan melampiaskannya kepada orang lain. Kau terlihat seperti pengecut." ucap Chae Rin.

Chae Rin lantas masuk ke ruangan Presdir Min. Do Hoon tersenyum kesal dan teringat masa lalunya dengan Soo A.

Flashback...


Soo A menarik Do Hoon keluar rumah. Ia mengajak Do Hoon main petak umpet.  Soo A menyuruh Do Hoon mencarinya. Setelah

Do Hoon mulai menghitung, Soo A bergegas sembunyi. Ia bersembunyi di hutan dekat rumah mereka.


Tapi saat bersembunyi, seseorang menarik Soo A. Orang itu, Jo Pil Doo! Pita rambut Soo A jatuh saat Pil Doo menariknya.


Pil Doo sendiri yang duduk di penjara, juga tengah memikirkan saat ia membawa Soo A kabur.

Flashback end...


Do Hoon sudah berada di penjara sekarang. Sambil menunggu Pil Doo, ia teringat saat menemukan pita Soo A di tanah.

Do Hoon menangis sambil memanggil-manggil Soo A.


Pil Doo tidak mau menemui Do Hoon. Ia bilang, bukan Do Hoon lah yang seharusnya ia temui tapi orang lain.

Pil Doo lalu membaca artikel penculikan Soo A yang disimpannya dibawah selimutnya.

"Anak kecil itu seharusnya sudah cukup dewasa untuk menikah. Omong-omong, di mana dia bersembunyi hingga Do Hoon tidak menemukannya dan menggila seperti itu? Bagaimanapun juga, aku akan menemukan wanita itu. Aku akan mempersulit wanita itu seperti penderitaanku 20 tahun ini." ucap Pil Doo.


Nyonya Na dan Nyonya Park pergi ke kuil untuk mendoakan Soo A.


Dalam perjalanan pulang, Nyonya Park melihat gadis kecil yang berpenampilan seperti Soo A. Sontak, ia langsung menyuruh supirnya menghentikan mobil.

Nyonya Park langsung turun begitu mobil berhenti.

"Samonim, aku harus bagaimana?" tanya Kepala Pelayan Kim.

"Parkirkan saja dulu mobilnya." suruh Nyonya Park.


Nyonya Park mencari anak itu. Tak lama kemudian, ia melihat anak itu sedang menggapai-gapai ke atas, mencoba mengambil balonnya yang tersangkut di pohon. Melihat itu, Nyonya Park pun bergegas mengambilkan balon anak itu yang nyangkut di pohon.

Setelah mengembalikan balonnya, ia memeluk gadis kecil itu dan memanggilnya Soo A.

Sontak anak kecil itu menangis dan berteriak memanggil ibunya.


Sang ibu yang sedang membeli sesuatu di seberang jalan, langsung berlari begitu melihat orang asing memeluk anaknya.

"Permisi. Apa yang kau lakukan?" tanya ibu anak itu.

"Dia anakku! Beraninya kau menyentuh anakku!" teriak Nyonya Park.


Nyonya Park lantas menggendong anak itu dan melarikannya setelah sebelumnya mendorong ibu anak itu.

Ibu anak itu histeris.


Tepat saat itu, Nyonya Do dan Geum Joo lewat. Nyonya Do pun langsung mengejar Nyonya Park.


Singkat cerita, Nyonya Do berhasil mendapatkan anak itu.

Nyonya Park marah.

"Dia anakku! Lepaskan dia!"

"Dia bukan anakmu." jawab Nyonya Do.


Presdir Min dan Chae Rin sedang membahas sesuatu sambil tertawa.


Tak lama berselang, seketaris Presdir Min masuk membawa kabar buruk.

"Aku mendapat panggilan dari pabrik di Hwaseong. Youngjae Chemistry memutuskan berhenti memasok bahan baku."

Sontak, Presdir Min dan Chae Rin kaget.

"Apa maksudmu? Kenapa tiba-tiba?" tanya Presdir Min.

"Tuan Choi menyediakan bahan itu untuk perusahaan lain." jawab seketarisnya.

"Tuan Choi tidak akan melakukannya." ucap Chae Rin.

"Aku sudah menghubunginya, tapi tidak ada jawaban. Kurasa dia menghindari panggilan kita." jawab seketaris.

"Aku akan menemuinya langsung." ucap Chae Rin.

"Dia tidak datang bekerja beberapa hari terakhir ini. Kurasa dia bersembunyi." jawab seketaris.


Mereka pun langsung datang ke pabrik untuk mengecek bahan baku. Tidak banyak bahan baku yang tersisa.


Ternyata Tuan Moon lah dalang dibalik semua itu. Ia  sedang melihat ruang penyimpanannya dan menyuruh bawahannya untuk

terus membeli bahan baku dan membuang bahan yang tersisa.

Jae Sang tidak mengerti. Ia bertanya, untuk apa mereka membeli bahan-bahan itu jika mau dibuang.

"Untuk apa kai berusaha berpikir? Kau tidak punya otak." sentak Tuan Moon.

Tuan Moon lantas bertanya, apa Jae Sang tahu keinginannya.

"Keinginan anda adalah melihat reunifikasi negara kita dan pergi ke kampung halaman." jawab Jae Sang.

"Untuk apa aku pergi ke sana? Tidak akan hasilkan uang. Ini keinginanku. Aku ingin melihat 50 juta orang di seluruh negeri makan, tidur, dan hidup sepanjang hari dengan produk-produk Taesan Group." ucap Tuan Moon.

Tuan Moon lantas meminta Jae Sang menyebutkan apa saja afiliasi Taesan Group.


"Konstruksi, distribusi, telekomunikasi, dan jasa makanan." jawab Jae Sang.

"Kau tidak merasa ada yang kurang?" tanya Tuan Moon.

"Entahlah." jawab Jae Sang.

"Kau hanya memikirkan wanita, tapi kau bahkan tidak tahu apa yang disukai wanita." ucap Tuan Moon.

"Yang disukai wanita?" tanya Jae Sang seraya berpikir. Lalu ia teringat saat melihat ayahnya mengenakan kosmetik.

"Maksud anda kosmetik?" tanya Jae Sang.

"Kau paham sekarang? Bidang ini menghasilkan sekitar 13 miliar dolar setahun. Pasarannya ada di peringkat sembilan terbesar di dunia. " jawab Tuan Moon.


Kepala Pelayan Kim membebaskan Nyonya Park dari kantor polisi. Melihat itu, Nyonya Do pun berkata sinis.

"Jadi, uang bisa melakukan hampir apa saja. Dia dibebaskan dengan peringatan bahkan setelah menculik anak seseorang."

"Maaf karena merepotkanmu." jawab Kepala Pelayan Kim, lalu memberi Nyonya Do sejumlah uang.

"Kau menyulitkan ibu kandungnya, berikan saja kepadanya." tolak Nyonya Do.

"Kami sudah menawarkan permintaan maaf kami yang tulus dan kompensasi pada ibu itu." jawab Kepala Pelayan Kim.

"Bagus jika kau sudah menawarkannya." ucap Nyonya Do.

Kepala Pelayan Kim lalu memaksa Nyonya Do menerima uang itu.

"Kau tidak perlu membuang uang seperti ini untuk pamer. Beli saja makanan ringan dengan uang itu." jawab Nyonya Do, lalu mengajak Geum Joo pergi.


Di rumah, Nyonya Park menceritakan semuanya pada Presdir Moon. Presdir Moon pun menghela nafas dan memeluk istrinya.

"Soo A-ku. Dia tidak menjualnya untuk bekerja sebagai gadis bar, bukan? Bagaimana jika dia memanfaatkan Soo A  dan menghancurkan tubuhnya?" ucap Nyonya Park cemas.

"Tenanglah. Pikirkan saja hal-hal baik. Hanya itu yang akan membawa nasib baik untuk Soo A." jawab Presdir Min.


Nyonya Do yang sudah tiba di rumahnya, menyiapkan makanan untuk Yeon Joo. Yeon Joo lalu menunjukkan foto beberapa tempat di ponselnya. Sang ibu berkata, lebih setuju jika Yeon Joo menemukan tempat yang lebih baik.

"Kami tidak membutuhkan tempat yang mahal." jawab Yeon Joo.

"Kau ini mirip siapa hingga tidak egois begini? Ibu dengar anak-anak lain mempermasalahkan soal mendapatkan lebih banyak uang saat mereka menikah." ucap Nyonya Do.

"Ibu tidak tahu? Jelas aku mirip Ibu. Ibu melahirkanku. Mana mungkin aku mirip orang lain? Jangan konyol." jawab Yeon Joo.

"Astaga, kau benar-benar pintar bicara." ucap sang ibu.

Mereka pun tertawa.


Nyonya Park menyuruh Kepala Pelayan Kim menyingkirkan guci besar yang menghalangi tirai. Setelah itu, ia menyibakkan tirai itu dan ada sebuah pintu dibalik tirai.

Lantas, Nyonya Park membuka pintu itu dan masuk ke dalam. Itu kamar Soo A. Tangis Nyonya Park kembali pecah melihat barang-barang Soo A.

Nyonya Na datang. Ia berdiri di pintu dan menangis melihat kondisi putrinya.

Bersambung ke part 3......

No comments:

Post a Comment