Saturday, August 18, 2018

Live Up To Your Name Ep 10 Part 1

Sebelumnya...


Dalam perjalanan menuju rumah Ketua Yang, Im teringat saat di depan RS, mendengar si pengawal melaporkan Yeon Kyung pada Ketua Yang karena tidak mengizinkan si pria sakau keluar dari RS. Tak mau Yeon Kyung kena imbasnya, terpaksa lah Im mengatakan, kalau Yeon Kyung lah yang harus diobati lebih dulu.


Sementara itu, si pria sakau marah. Ia menuding Im sudah menerima bayaran dari ayahnya.


Begitu sampai di rumah, Ketua Yang langsung menyuruh para pengawal membawa anaknya ke kamar.

Im berniat memberitahu Ketua Yang kondisi anaknya, tapi Ketua Yang tidak mau mendengar.

"Kalau dia bisa dibawa ke rumah sakit, untuk apa aku memanggilmu? Dia anak tunggalku!  Aku tidak bisa membiarkannya seumur hidup dicap sebagai pemakai narkoba atau kriminal." ucap Ketua Yang.

Ketua Yang lantas melemparkan bayaran Im ke lantai dan menyuruh Im pergi.


Di apartemennya, Im termenung melihat barang-barang mewahnya yang ia dapatkan sebagai imbalan karena sudah mengobati para pejabat. Lalu, ia merasakan sakit di lengannya.


Im kemudian berdiri. Ia menatap ramennya lalu teringat saat Yeon Kyung mengajarinya cara masak ramen. Lalu, ia mulai memasak ramennya sendiri.


Byung Ki dan Jae Sook hampir tiba di Haeminseo.

"Apa bagusnya terlihat lebih baik dari luar, dia menjadi orang jahat." sewot Jae Sook.

"Sungguh ? Ia hanya melewatimu tanpa menyapa ?" tanya Byung Ki kaget.

"Sudah kubilang ! Ia tidak menyapaku sama sekali. Dasar tidak sopan. " jawab Jae Sook.

"Aigoo, bagaimana dengan nenek bunga ? Setiap hari dia selalu mencari Bong Tak. " ucap Byung Ki.

"Makanya itu, harusnya dari awal dia jangan memanggilnya "Ibu, ibu"". jawab Jae Sook.

Tanpa mereka sadari, Im berdiri tak jauh dari mereka dan mendengarkan obrolan mereka.


Yeon Kyung minum-minum di warung tenda sambil mengingat perkataan Im di RS tadi.


Tak lama kemudian, terdengar suara Byung Ki yang melarang Jae Sook minum-minum. Tapi Jae Sook malah sewot dan mengaku bisa mengurus dirinya sendiri. Byung Ki berkata, daripada minum lebih baik mereka makan sate ayam saja.

Mendengar suara mereka, Yeon Kyung pun berusaha menyembunyikan wajahnya dibalik jaketnya tapi Jae Sook sudah keburu melihatnya.

"Sedang apa di sini ? Harusnya makan malam di rumah.  Kenapa makan di sini ? Direktur memasak makanan ." ucap Jae Sook.

"Benar. Kenapa kau selalu makan mi sambil minum soda sendirian ?" tanya Byung Ki.

"Kalau di warung tenda harusnya minum soju." ucap Jae Sook.


Jae Sook lalu memesan sate ayam dan soju.

"Jae Sook ssi, Yeon Kyung tidak minum alkohol.  Yeon Kyung selalu bersiap diri untuk melakukan pertolongan darurat setiap bertemu dengan pasien.  Oh, Ia bahkan membawa peralatan medis di dalam tasnya.  Tapi, apa kau tidak minum soda kebanyakan ? Nanti bisa mabuk. Jae Sook ssi, harusnya belajar darinya." ucap Byung Ki.

"Aaah, kenapa laki-laki ini cerewet sekali ?!" sewot Jae Sook sambil membekap mulut Byung Ki.

"Dia dokter, tapi aku tidak. " ucap Jae Sook lagi.

"Apa aku layak menjadi dokter ?" tanya Yeon Kyung.

"Kau bicara apa ? Yang tak layak jadi dokter harusnya Heo Bong Tak.  Waah, manusia itu kok bisa berubah sekali ? Makanya itu, banyak yang bilang jangan sembarang membawa pulang orang asing ke rumah. " jawab Jae Sook.

Jae Sook lalu menyuruh Byung Ki yang dipanggilnya orang asing menuangkan soju untuknya.


"Dari awal orang itu sudah begitu." ucap Byung Ki.

"Awalnya dia tidak begitu. " jawab Yeon Kyung.

"Dia berubah. " ucap Jae Sook.

Byung Ki dan Jae Sook pun berdebat soal Im. Tidak hanya soal Im. Jae Sook juga marah karena Byung Ki terus saja melarangnya minum. Mereka baru berhenti berdebat saat Yeon Kyung mengambil botol soju itu dari tangan Jae Sook.


Di depan Haeminseo, Im bertemu salah satu temannya si nenek bunga (mulai sekarang, kita panggil gini aja ya.). Ia memberitahu Im, kalau nenek bunga pingsan di tengah jalan saat mencoba membelikan camilan untuknya.


Mendengar itu, Im pun langsung berlari mencari nenek bunga. Tak lama, ia menemukan nenek bunga yang terkapar di gang sempit.

Im menangis. Apalagi setelah melihat benzoar sapi di tangan nenek, membuatnya semakin merasa bersalah.


Im lalu memeriksa nadi nenek.

"Nadinya lemah. Detak jantungnya berhenti." ucap Im.


Im lantas ingin mengobati nenek, tapi ia baru ingat kalau ia sudah membuang jarum akupunturnya ke laut.

Tak ada yang bisa dilakukan Im selain menangis dan berteriak minta tolong.


Yeon Kyung berjalan sempoyongan menuju rumahnya. Lalu ia berhenti sejenak, berusaha membuat dirinya tenang. Barulah setelah itu, ia bisa berjalan normal menuju rumahnya.


Bersamaan dengan itu, Kakek Choi dan Byung Ki hendak pergi. Kakek Choi memberitahu Yeon Kyung soal nenek bunga yang pingsan di dekat rumah mereka.

"Aku saja yang pergi. Panggilkan ambulan. " jawab Yeon Kyung, lalu bergegas pergi.


Yeon Kyung langsung mencari nenek bunga. Tak lama, ia menemukan Im yang sedang menangisi nenek bunga.

Yeon Kyung pun mendekat. Melihat Yeon Kyung, Im langsung menyuruh Yeon Kyung menolong nenek bunga. Im memberitahu Yeon Kyung kalau nadi nenek bunga lemah dan detak jantungnya berhenti.

Yeon Kyung memeriksa nadi nenek bunga.

"Nadinya terlalu lemah. Kita harus membuat detaknya normal. " ucap Yeon Kyung, lalu memberikan suntikan pada nenek bunga.

Tak lama kemudian, nenek bunga sadar. Yeon Kyung memberitahu Im kalau yang terburuk sudah lewat, tapi mereka harus lekas membawa nenek bunga ke RS.


Im terus menangis sambil menggenggam nenek bunga. Sementara nenek bunga terlihat linglung.


Dan sekarang, nenek bunga sudah berada di RS. Yeon Kyung baru saja selesai mengoperasinya. Teman-teman nenek bunga yang menunggu di depan ruang operasi bersama Kakek Choi, langsung bersorak gembira dan memuji Yeon Kyung karena berhasil menolong nenek bunga.

"Dia dari kecil selalu bisa menyelamatkan nyawa orang." puji Kakek Choi bangga.

Yeon Kyung pun terharu mendengarnya.


Lalu, ia beranjak pergi mencari Im dan menemukan Im yang berdiri tak jauh dari ruang operasi.

"Operasinya berjalan lancar.  Syukurlah tidak ada masalah dengan jantungnya.  Ia mungkin bisa keluar rumah sakit  dalam beberapa hari. " ucap Yeon Kyung.

Yeon Kyung lantas menanyakan soal pasien yang dirawat Im.

"Seperti yang kubilang, kalau ia tidak dirawat bisa berbahaya. Sebaiknya bawa dia kembali ke rumah sakit segera. " ucap Yeon Kyung.

"Dia sudah bukan pasien Dokter Choi lagi." jawab Im.

"Kalau tidak percaya padaku, aku bisa rekomendasikan dokter lain.  Segera obati lenganmu sebelum infeksi. " ucap Yeon Kyung.


Yeon Kyung lalu beranjak pergi. Im pun meminta maaf. Ia sadar perkataannya sudah melukai hati Yeon Kyung. Yeon Kyung menggeleng. Ia mengaku, bahwa dirinya juga khawatir dengan kondisinya karena bisa saja ia kehilangan pasien di masa kritis.

"Barusan, kau menyelamatkan nenek. Kau selalu menjadi dokter yang hebat. Kedepannya akan tetap begitu." ucap Im.

Yeon Kyung lantas berbalik dan menatap Im.

"Aku tahu kau akan kembali. " ucap Yeon Kyung.

"Harusnya kau membenciku. Mengataiku dokter yang mengabaikan orang sekarat dan mengejar uang. Kau bisa berpaling dariku." jawab Im.

"Aku tidak akan berpaling. Aku percaya padamu dan menunggumu." ucap Yeon Kyung.


Bersamaan dengan itu, Kakek Choi muncul dan terdiam melihat mereka.

"Aku tahu orang seperti apa dirimu. Saat ayahku meninggal waktu aku masih kecil, seorang ajhushi memberiku permen.  Permen berbentuk aneh, tapi perasaanku terasa lebih baik setelah memakannya.  Sejak itu, saat aku sedih, atau perlu kekuatan, aku memakan permen. Permen ... gunanya seperti itu. " ucap Yeon Kyung, lalu meletakkan dua butir permen di tangan Im.

Di belakang, Kakek Choi terharu menatap mereka. Ketika, Yeon Kyung berbalik dan beranjak pergi, Kakek Choi buru-buru ngumpet.


Im keluar dari lift. Begitu keluar dari lift, ia langsung bertemu Kakek Choi. Ia pun panic, mau kabur tapi tak bisa.

"Kapan kau mau bayar 87 dolarku ?" tanya kakek.

"Hebatnya anda langsung mengingat itu. " jawab Im.

Im pun merogoh sakunya, mencari uang tapi ia meringis kesakitan saat merasakan sakit di lengannya.


Kakek Choi mengobati luka Im di ruangan Im sambil mengomel karena Im tidak bisa menjaga diri sendiri. Lalu, Kakek Choi melihat ke sekeliling ruangan Im dan bertanya, apa Im suka bekerja disitu. Dengan wajah menunduk, Im mengaku bahwa ia suka bekerja disana.


"Seorang dokter tidak boleh lupa tujuan awalnya ingin menjadi dokter. " ucap Kakek Choi. Lalu Kakek Choi menanyakan kotak akupuntur Im.

"Kau ada di sisi nenek bunga saat ditemukan, tapi kau tidak bisa apa-apa dan cuma menangis seperti anak kecil. " ucap Kakek Choi.

"Kata siapa aku menangis? Itu tidak benar." sanggah Im dengan wajah merona malu.

Kemudian, Im mengaku bahwa ia sudah membuang kotak jarumnya.

"Mana bisa tabib membuang perlengkapannya ? Itu sama dengan nyawanya sendiri.  Kenapa ? Karena bajumu berganti kau merasa tidak nyaman membawanya ?" ucap kakek.

Kakek lantas teringat janjinya pada Bok Man, kalau ia akan membuat nasi goreng.

Kakek lalu beranjak pergi, tapi sebelum pergi kakek bilang pada Im kalau Im boleh datang ke tempatnya kapan saja jika Im mau.


Setelah kakek pergi, Im pun tersenyum.


Sementara di luar, Kakek Choi berkata kalau kotak jarum akupuntur Im akan kembali meski Im telah membuangnya.


Di dasar laut, kita melihat gambar di kotak jarum Im yang menyala.


Sekarang, Im sudah kembali ke apartemennya. Ia teringat kata-kata Kakek Choi kalau seorang dokter tidak boleh lupa tujuan awal menjadi dokter.


Im lantas teringat masa kecilnya, saat pertama kali ia mempelajari akupuntur dan juga ingat alasannya belajar akupuntur untuk mengobati orang-orang yang berpenyakit seperti ibunya.


Keesokan harinya, seisi kamar tempat nenek bunga dirawat heboh gara-gara Bong Sik. Tak lama kemudian, Suster Jung datang karena mendengar ribut-ribut dan teman nenek bunga langsung menakut-nakuti Suster Jung dengan Bong Sik.

Sontak, Suster Jung ketakutan dan ngumpet dibalik tirai membuat para nenek disana tertawa terpingkal-pingkal.


Kemudian, Yeon Kyung datang dan menyuruh teman si nenek bunga membawa Bong Sik pulang karena takut mengganggu pasien lain.


Teman si nenek bunga menurut dan langsung membawa pulang Bong Sik. Di depan kamar nenek bunga, ia bertemu Im.

"Jangan lupa pulang ke rumah. Kami tunggu. " ucap teman si nenek bunga, lalu pergi.

"Jaga dirimu Bong Sik!" teriak Im sambil melambai-lambaikan tangannya.

Kemudian, ia berbalik dan mendapati Yeon Kyung sudah berdiri di belakangnya.


"Lukamu sudah diobati ? Kalau belum, akan kulakukan. " ucap Yeon Kyung.

"Aku bisa mengurus diriku sendiri. Aku bukan anak kecil." jawab Im.


Yeon Kyung lantas menyuruh Im menengok nenek. Tapi Im tidak berani masuk. Ia hanya berdiri di depan pintu, melihat nenek bunga yang sudah tertidur. Lalu, Im tertawa sendiri melihat nenek bunga.

Dari kejauhan, Yeon Kyung melihat tawa Im itu.


Yeon Kyung masuk ke lift. Di lift, dia mendapatkan pesan dari Ha Ra.

Dokter sedang apa ? [Ha Ra]

Kau mengikuti tindakan pencegahan, bukan? [Yeon Kyung]

Sudah lebih dekat dengan ahjushi ? [Ha Ra]

Kau rutin minum obat? [Yeon Kyung]

Kalian sedang bertengkar ? [Ha Ra]

Ahjushi bilang begitu ? Sedang bertengkar denganku ? [Yeon Kyung]

Ternyata benar. Aku cuma memancing. [Ha Ra]

Jangan datang ke rumah sakit. [Yeon Kyung]

Disuruh pun aku tak mau . [Ha Ra]


Jae Ha menitipkan sesuatu untuk Yeon Kyung pada Suster Jung. Disaat bersamaan, Im datang mencari Yeon Kyung.

"Di jam kerja begini apa boleh berkeliaran seperti ini ?" tanya Jae Ha.

"Lalu Dokter Yoo bagaimana?" tanya Im balik.

"Aku datang karena pasienku membatalkan janji. " jawab Jae Ha.

"Pasien itu membuat janji temu denganku. " ucap Im.

"Sore nanti kau ada waktu ? Kami belum kumpul makan malam untuk menyambut kedatanganmu Dr. Heo.  Hari ini kita kumpul makan malam. Ini perayaan bergabungnya dirimu di rumah sakit. Aku senang jika kau hadir. " jawab Jae Ha.

"Baiklah. " ucap Im.


Jae Ha pun beranjak pergi. Setelah Jae Ha pergi, Im bertanya pada Suster Jung apa itu kumpul makan malam. Suster Jung pun langsung  menatap sebal Im.


Jae Ha masuk ke lift sambil memikirkan aduan orang suruhannya kalau tidak ada tim sukarelawan bernama Heo Bong Tak di luar.

Saat pintu lift hendak tertutup, tiba-tiba Im datang dan membuka paksa pintu lift. Lalu, Im berdiri disamping Jae Ha sambil berjinjit agar tinggi mereka sejajar.

"Kalau membuka sembarang pintu bisa terluka. " ucap Jae Ha.

"Apa ada pintu yang tak bisa dibuka dengan kekuatan." jawab Im.

"Ada pintu yang tidak seharusnya dilewati. " ucap Jae Ha.

"Kalau tidak boleh tinggal keluar saja. " jawab Im.

"Itu akan terjadi padamu sebentar..."


"Ah, sorry!" Im memotong kalimat Jae Ha karena bunyi ponselnya. Im memperlihatkan nama si penelpon pada Jae Ha.

"Ya Direktur?" Im menjawab telepon yang ternyata dari Direktur Ma. Setelah menerima telepon dari Direktur Ma, Im bergegas pergi.

Jae Ha pun gondok setengah mati.

*Sumpah, sy ngakak liat scene ini.


Direktur Ma dan Im berjalan di luar. Direktur Ma memberitahu Im, kalau putra Ketua Park meminta perawatan lanjutan dari Im.

"Pasien memang tahu yang terbaik dari efektifnya akupunturmu.  Aku sempat cemas rencana kita bisa berantakan.  Jika bisnis ini sukses, masa depanmu akan sesuai rencana. " ucap Direktur Ma sambil menepuk pundak Im.

Dari kejauhan, Jae Ha memandangi mereka sambil bicara di telepon dengan seseorang kalau ia akan mengirimkan sebuah lokasi.


Direktur Shin dan Prof. Hwang sedang membahas penyakit putranya Ketua Park.

"Mereka bilang itu endokarditis."  ucap Prof. Hwang.

"Ketua Park memintaku menghapus semua salinan pemeriksaan daruratnya. Pasti ada sesuatu." jawab Direktur Shin.

Tak lama kemudian, Direktur Shin pun sadar endokarditis adalah penyakit paling umum dalam penyalahgunaan obat-obatan terlarang.

Lalu, Direktur Shin bertanya apa Prof. Hwang menghapus salinannya. Prof. Hwang pun mengaku bahwa ia sudah mengamankan salinan itu. Direktur Shin senang dan memuji kerja Prof. Hwang.


Kondisi putra Ketua Park sudah mulai membaik. Im pun berkata, kalau hari itu adalah hari terakhir putra Ketua Park menerima akupunturnya. Putra Ketua park lantas mengatakan, kalau ia tahu pengobatannya belum selesai dan mengaku akan berusaha.

Sontak, Im teringat kata-katanya pada putra Ketua Park hari itu.


Flashback...

Im dalam perjalanan membawa putra Ketua Park pulang. Tapi di tengah jalan, putra Ketua Park menyuruh mereka menghentikan mobilnya. Im pun memerintahkan para pengawal agar menghentikan mobil. Setelah mobil berhenti, Im menyeret paksa putra Ketua Park. Kedua pengawal pun langsung menghalangi Im.

"Kalau ingin menolong pasien ini. Menyingkir." ucap Im. Kedua pengawal pun langsung menyingkir.

Putra Ketua Park marah dan menyuruh pengawalnya menyingkirkan Im tapi pengawalnya diam saja.

"Kau tak bisa melakukannya sendiri ? Mau sampai kapan?  Sampai kapan, kau akan membiarkan orang lain mengendalikan tubuh dan pikiranmu ? Kalau kau tidak bisa melepaskan diri sekarang,  seumur hidup kau akan seperti ini.  Kau tidak akan bisa menemui orang yang kau rindukan.  Kau tidak akan bisa memenuhi janjimu.  Kalau kau hanya mengandalkan obat-obatan,  tanpa melakukan apa-apa, kau hanya akan mati perlahan-lahan.  Kau ingin hidup dan menyesali perbuatanmu di masa lalu ? Alasanmu hidup.  Pikirkan baik-baik alasan itu. " ucap Im.

Flashback end...


Im tersenyum mendengarnya. Lantas putra Ketua Park menyuruh Im memanggil ayahnya.


Im pun keluar. Sambil terus berjalan menuruni tangga, Im mendengar perdebatan Ketua Park dengan sang anak.

"Aku tidak ingin hidup begini lagi.  Lepaskan aku ayah. Ayah kira uang adalah segalanya?  Saat ini aku tak bisa melindungi orang yang kucintai! Aku rindu sekali sampai rasanya bisa gila.  Apa bagusnya uang itu ? Tolong, ayah. Percayalah padaku." pinta putra Ketua Park.


Di depan rumah Ketua Park, Im dapat sms dari seseorang.  Ia pun gembira dan langsung pergi sambil menghubungi si pengirim pesan.

Bersambung ke part 2............

No comments:

Post a Comment