Friday, September 7, 2018

Live Up To Your Name Ep 14 Part 2

Sebelumnya...


Direktur Ma menemui Kakek Choi di sel.

Kakek Choi berkata, bahwa Direktur Ma melakukan hal yang sama seperti 20 tahun yang lalu.

"Cuma itu yang aku bisa lakukan. Apalagi yang harus kulakukan?" jawab Direktur Ma.

"Kau memanfaatkan keahlian orang lain untuk mendapatkan uang dan kekuasaan. Kau telah melakukannya seumur hidupmu." ucap kakek.

"Heo Jun dan Heo Im muncul di hadapanku." jawab Direktur Ma.

"Waktu kau membawa Heo Jun, kau memanfaatkannya dan kau hidup dari namanya sebanyak itu. Tidakkah itu cukup? Bahkan saat umurmu bertambah tua sekarang, kau masih melakukannya?" tanya kakek tak habis pikir.


"Pada saat itu, Heo Jun kembali padamu ya kan?" ucap Direktur Ma.

"Jadi kau juga membuat rencana waktu itu? Kalau begitu kau tahu pilihan apa yang diambil Heo Jun?" tanya kakek.

"Karena pilihannya itu, kau berada dalam kesulitan. Kau sudah lupa?" balas Direktur Ma.

"Aku tidak keberatan dengan apa yang terjadi dulu. Kau memaksa menantuku keluar, dibandingkan dengan itu, ini tidak ada apa-apanya. Jadi jangan sentuh Heo Im!" ucap kakek.

"Kali ini tidak akan berakhir dengan masa percobaan." ancam Direktur Ma.

"Sekarang aku mengerti kenapa Heo Jun khawatir karena dirimu. Seperti yang Heo Jun katakan, kau hanyalah orang yang tamak." ucap kakek.


Jae Ha yang mengikuti kakeknya, sontak kaget mendengar pembicaraan mereka.

Di depan kantor polisi, Direktur Ma teringat saat ia mengancam Heo Jun di depan kantor polisi.


Flashback...

"Kalau kau membantuku kali ini, aku akan membantu membersihkan nama Chun Sool dan aku tidak akan pernah meminta apapun lagi darimu." ucap Direktur Ma.

"Aku sudah memenuhi permintaanmu sejauh ini. Bukan untuk memuaskan keinginanmu. Aku melakukannya karena aku berpikir, kalau mereka juga pasien." jawab Heo Jun.

"Aku juga tahu itu." ucap Direktur Ma.

"Kalau begitu kau seharusnya mengerti kenapa aku tidak bisa membantumu sekarang." jawab Heo Jun.

"Kau mau Chun Sool masuk penjara?" tanya Direktur Ma.

"Kalau begitu, Chun Sool dan aku akan bisa melakukan hal yang benar sebagai dokter. Dokter dikenal akan sikap dan pemikirannya, bukan kehormatan palsunya. Kau bisa mendapatkan banyak hal dengan resep yang aku berikan, tapi kau tidak pernah bisa mengalahkan Chun Sool." jawab Heo Jun.

Flashback end...


"Kau akan lihat, setelah semuanya ini. Orang yang namanya akan dikenang bukanlah Choi Chun Sool, tapi aku Ma Seong Tae." ucap Direktur Ma licik.


Direktur Ma lantas berjalan menuju mobilnya tapi ia seketika kaget saat melihat Jae Ha yang berjalan ke arahnya.


"Pada saat itu, 20 tahun yang lalu, kakek juga membuat rencana seperti ini? Mungkin ayahku berusaha menyelesaikan semuanya?" tanya Jae Ha.

"Kau sudah tahu semuanya. Kau juga harus tahu apa yang harus kau lakukan." jawab Direktur Ma.

"Kakek juga seorang dokter. Bagaimana bisa kakek melakukan itu pada tubuh manusia?" tanya Jae Ha.

"Lantas apakah ada yang mati? Mereka semuanya menginginkan sesuatu sebagai balasannya. Mereka melakukan sesuatu karena mereka mamu." jawab Direktur Ma.

"Lalu siapa Heo Im sebenarnya? Siapa dia harus melakukan semua ini?" tanya Jae Ha.

"Kalau kemampuanmu separuh saja dari kemampuannya, kakek tidak akan melakukan ini!" jawab Direktur Ma.

Direktur Ma lalu beranjak pergi. Jae Ha tak habis pikir dengan tindakan kakeknya.


Yeon Kyung menatap tajam Tuan Kim. Tuan Kim langsung gugup.

"Apa kau sedang merasa tidak sehat?" tanya Yeon Kyung.

"Aku baik-baik saja." jawab Tuan Kim.

"Kau punya tekanan darah tinggi. Benar, kan?" tanya Yeon Kyung.

Tuan Kim mengangguk.

"Kau meminum aspirin, kan?" tanya Yeon Kyung.

"Benar, tapi kenapa?"

"Berbahaya kalau hatimu tertusuk dengan kondisi seperti itu, apa kau tahu itu?"

Sontak, Tuan Kim kaget mendengarnya.


"Aspirin adalah obat yang mencegah darah membeku, jadi saat kau terluka, aspirin membuat pendarahannya sulit dihentikan. Kau bisa saja berada dalam masalah besar." ucap Yeon Kyung.


Tuan Kim sontak teringat saat Direktur Ma memberitahunya dimana ia harus menusukkan jarum ke tubuhnya untuk menjebak kakek. Saat itu, Direktur Ma berkata bahwa hal itu tidak akan membahayakan Tuan Kim dan pendarahan Tuan Kim akan segera berhenti.


"Orang yang memerintahkanmu, tidak mengatakan tentang itu. Benar kan?" tanya Yeon Kyung.

"Ka... kau ini siapa?"

"Kau tidak ingat aku? Di stasiun Seoul beberapa hari lalu, aku ada di sana bersama Heo Bong Tak. Dan Tabib Choi Chun Sool dari Klinik Haeminseo adalah kakekku." jawab Yeon Kyung.

Sontak, Tuan Kim kaget.


Im kembali ke kantor polisi. Ia meminta polisi menyelidiki sekali lagi kasus Kakek Choi.

Tapi polisi tidak mau.

Im tak menyerah. Ia membuktikannya pada polisi bahwa kakek tidak bersalah dengan menusukkan jarum akupunturnya ke titik zhongwan di tubuhnya.

"Lihatlah, kau tidak bisa menusuk hatinya sama sekali  kalau melakukan ini. Akan tetapi, pasien itu jarumnya tertusuk dalam sampai ke tubuhnya." ucap Im.


Im lantas melepaskan jarumnya.

"Lihat, aku baik-baik saja. Saat dokter menusukkan akupuntur, dia menempatkan pikiran ke dalam tangannya. Bagaimana bisa dia tidak bisa membedakan menusuk dinding perut atau hati pasien. Tabib Choi telah memegang jarum seumur hidupnya. Dia telah merawat dan menyelamatkan banyak orang dengan jarumnya. Kumohon bisakah kau memeriksanya sekali lagi?" pinta Im.


Kakek Choi tiba-tiba dibawa keluar. Polisi membebaskan kakek, tapi penyelidikan akan tetap berjalan dan polisi meminta kakek datang lagi dua hari lagi.

"Untungnya korban sudah sadar. Tapi kami punya kesaksian dari saksi." ucap polisi.

Polisi lantas meminta kakek bicara jujur.

Sontak Im marah tapi kakek langsung menghentikannya dan mengajaknya pulang.

Wajah kakek terlihat pucat!


Di klinik, Jae Sook marah-marah pada seseorang di telepon karena sudah menulis artikel buruk soal kakek.

Kakek Choi yang baru saja kembali ke rumah pun kaget mendengarnya.

Dada kakek sakit lagi. Kakek pun meminta Im diam.


Im mengantarkan kakek ke kamar. Ia juga membantu kakek berbaring.

Melihat tangan kakek bergetar, Im pun langsung memeriksa denyut kakek.

"Denyut jantungnya sangat berserak. Jantungmu melemah. Kau akan lebih sering merasakan sakit dan tanganmu akan lebih sering bergetar dengan parah." ucap Im.

"Sekarang kau tahu apa penyakitku." jawab kakek.

"Kenapa kau tidak memberitahu Yeon Kyung dan melakukan operasi?" tanya Im.

"Jika waktunya tiba, aku akan mengatakannya sendiri. Kau tidak boleh memberitahunya." jawab kakek.


Kakek lalu bertanya apa Yeon Kyung tahu apa yang terjadi padanya hari ini.

Im memberitahu kalau Yeon Kyung lah yang mengoperasi Tuan Kim. Kakek langsung cemas.

Im pun berkata, kalau Yeon Kyung tahu kakek tidak bersalah dan meminta kakek untuk fokus pada kesembuhannya.

"Kau tidak perlu mengkhawatirkan itu. Semua orang akan pergi jika waktunya tiba dan aku tidak akan pergi sebelum waktuku tiba." ucap kakek.

Im pun meminta izin kakek, untuk melakukan akupuntur pada kakek agar dapat mengurangi rasa sakit kakek.


Im memberikan akupuntur pada kakek.

"Aku bukan tipe orang yang akan mengulang perkataanku. Kau tidak seharusnya membuang-buang waktumu dengan mengulang perkataan pada mereka yang tidak akan pernah mengerti." ucap kakek.


Kakek lalu menggenggam tangan Im.

"Jangan lupakan apa yang kukatakan tadi." pinta kakek.

Im mengangguk.


 "Aku capek. Aku sudah jadi dokter oriental selama 50 tahun. Sekarang sudah waktunya aku pensiun dan istirahat." ucap kakek.

Kakek lantas memiringkan badannya. Im langsung membantu kakek. Kakek pun tertidur.


Im keluar dari kamar kakek. Bersamaan dengan itu, Yeon Kyung tiba di rumah.

"Bagaimana keadaannya?" tanya Im.

"Dia baik-baik saja. Syukurlah." jawab Yeon Kyung.

Yeon Kyung lalu menanyakan kondisi kakeknya.

"Kakekmu baru saja tidur." jawab Im.


Yeon Kyung lantas melihat kakeknya. Ia melihat kakek tidur tanpa selimut.

Yeon Kyung pun masuk pelan-pelan dan menyelimuti kakeknya.


Yeon Kyung keluar dari kamar kakeknya.

Ia berdiri di depan kamar kakeknya dan melihat tas bekal sang kakek.

Sontak, Yeon Kyung teringat saat ia menolak bekal pemberian kakeknya.


Teringat hal itu, air mata Yeon Kyung pun pecah.

Im terus memperhatikan Yeon Kyung.


Yeon Kyung lantas bercerita pada Im. Ia cerita, saat dirinya masih kecil, ia berpikir kakeknya sangat keren karena mampu mengobati orang-orang hanya dengan jarum saja.

"Aku membenci kakek karena tidak menyelamatkan ibuku. Aku memikirkan cara terbaik untuk menyakiti kakek dengan masuk sekolah kesehatan.  Tapi aku menyadarinya setelah menjadi dokter kalau ibuku sakit parah saat itu dan kakek melakukan yang terbaik untuk mengurangi rasa sakit ibu. Ini memalukan untuk dikatakan, tapi aku merasa aku dulu masih sangat kecil sampai aku perlu seseorang untuk melampiaskan kebencianku atas kematian ibuku. Baru-baru ini aku menyadari, kalau aku masih menyayangi kakek. Bahwa aku masih percaya padanya. Aku rasa aku tidak bisa hidup tanpa kakek." ucap Yeon Kyung.


Im pun memegang tangan Yeon Kyung. Ia meminta maaf.

"Untuk apa?" tanya Yeon Kyung.

Im hanya tersenyum menjawabnya.

"Kau menjadi bantuan besar hanya dengan berada disampingku." ucap Yeon Kyung.


"Aku ingin tinggal bersama mu dan tabib. Aku benar-benar menginginkannya." ucap Im lirih, dalam hatinya.


Sekarang, Im berdiri di depan klinik dan teringat saat kakek mengizinkannya menginap disana.


Lalu, ia duduk di halaman dan teringat kata-kata kakek saat mereka memberikan akupuntur pada teman-teman nenek bunga.

"Kau pikir disini kami cuma merawat pasien saja? Bagi mereka ini bukan sekedar tempat untuk mendapatkan akupuntur. Disini mereka menenangkan hati mereka dan berbagi penderitaan." ucap kakek.


Setelah itu, ia teringat kata-kata kakek tentang tugas dokter yang sebenarnya saat kakek mengajaknya pertama kali ke stasiun.


Lalu Im ingat kata-kata kakek tadi kalau kakek ingin pensiun setelah 50 tahun menjadi dokter.

Im juga ingat ancaman Direktur Ma kalau kakek akan membusuk di penjara jika ia tidak mengikuti perintah Direktur Ma.


Lalu Im melihat ke arah kamar kakek dan teringat kata-kata Yeon Kyung kalau Yeon Kyung tidak bisa hidup tanpa kakek.


Im juga ingat kata-kata Jae Ha. Ternyata Jae Ha sempat bicara dengan Im setelah tau identitas Im yang sebenarnya.

"Apa yang akan kau lakukan? Jika kau tetap disini, kakekku akan terus memanfaatkanmu. Itu akan membuang Yeon Kyung dan kakeknya menderita. Kau masih tidak mengerti?" ucap Jae Ha.


 Keesokan harinya, Im pun mulai bersiap-siap. Ia memakai jasnya dan teringat permintaan Direktur Ma.

"Ada pasien yang menderita saraf jantung. Yang harus kau lakukan hanyalah membuat pasien itu tertidur beberapa hari. Kalau kau melakukan itu, aku tidak akan mengganggu Chun Sool. Aku juga tidak akan meminta apapun lagi darimu." pinta Direktur Ma.

Im pun menghela nafasnya sambil menatap pantulan wajahnya di cermin.


Yeon Kyung yang baru keluar dari kamarnya terkejut melihat kasur Im sudah terlipat dengan rapi.

Yeon Kyung keluar karena mendengar suara ribut-ribut.


Nenek bunga dan teman-temannya protes karena klinik tutup. Byung Ki pun berkata, klinik mereka hari itu tutup karena tidak ada tabib yang bisa melakukan akupuntur.

Yeon Kyung pun mendekati Jae Sook. Ia menanyakan Im.

Jae Sook berkata, bahwa Im sudah pergi pagi-pagi sekali dengan mengenakan stelan jas.


Yeon Kyung langsung menemui kakeknya. Ia mau menanyakan dimana Im.

Tapi kakeknya sendiri sangat panic karena tahu Im pergi.

Yeon Kyung terkejut saat kakeknya bilang bahwa mereka harus menghentikan Im.


Yeon Kyung pun langsung masuk ke mobilnya sambil terus berusaha menghubungi Im.


Ia lalu melajukan mobilnya menuju suatu tempat sambil mengingat kata-kata kakeknya kalau Im tidak boleh melakukan hal buruk dengan akupuntur.

Kakek bilang, jika Im melakukan itu maka Im tidak akan bisa kembali lagi.

Ia juga ingat saat dirinya membaca buku biografi Im saat kakeknya mengatakan hal itu.


Sontak, Yeon Kyung cemas.

Yeon Kyung lantas menghubungi Jae Ha dan menanyakan keberadaan Direktur Ma.


Im dan Direktur Ma sedang menuju suatu tempat. Direktur Ma mengingatkan Im kalau Im tidak boleh melakukan kesalahan.

"Hidup Chun Sool bergantung padamu."


Ponsel Im berbunyi. Telepon dari Yeon Kyung. Im pun terpaksa me-reject nya.


Bersamaan dengan itu, Im berpapasan dengan mobil Yeon Kyung. Tapi Yeon Kyung tidak melihat Im dan terus melajukan mobilnya.


Im pun memejamkan matanya dan menghela nafas. Ya, ia tidak punya pilihan lain selain menuruti kemauan Direktur Ma.

Bersambung ke part 3.......

No comments:

Post a Comment